• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. STRUCTURAL ADJUSTMENT PROGRAMS SEBAGAI

2. Pengalaman Penyesuaian Struktural di Negara

Program penyesuaian struktural sebagai mana telah dibahas sebelumnya, pada awalnya dimaksudkan sebagai paket reformasi untuk menangani krisis ekonomi yang menimpa negara berkembang. Sejak akhir tahun 1970-an, seiring dengan timbulnya krisis, berbagai negara di Afrika, Amerika Selatan, serta Asia mulai menerima paket tersebut. Berbagai paket reformasi di bidang sosial dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

75

ekonomi mulai diterapkan secara intensif selama dekade 1980-an hingga 1990-an, oleh pemerintahan negara-negara tersebut dengan ekspektasi yang tinggi beban krisis akan mampu dikurangi.

Negara-negara Afrika dalam pengalamannya melakukan penyesuaian struktural, seperti diungkapkan Olukoshi (2000), telah dimulai sejak akhir tahun 1970-an. Pemerintahan negara-negara tersebut menerima dan menerapkan penyesuaian struktural sebagai bagian dari saran manajemen penanggulangan krisis ekonomi. Melalui kebijakan-kebijakan di bidang sosial hingga ekonomi program-program penyesuaian struktural diadopsikan dengan mengikuti panduan dari IMF dan Bank Dunia.

Selama dua dekade implementasi program penyesuaian struktural di benua Afrika, sejumlah implikasi telah dihasilkan. Secara umum implikasi yang dihasilkan adalah mekanisme pasar semakin menguasai sektor-sektor ekonomi dan sosial masyarakat. Sektor-sektor perdagangan, keuangan, pertanian, kesehatan, pendidikan dsb. secara jelas mulai dikoordinasikan melalui mekanisme pasar yang menggantikan peran negara yang dominan diperiode sebelumnya.

Keadaan yang tidak jauh berbeda juga menimpa sebagian besar negara-negara Amerika Selatan serta negara-negara-negara-negara di Asia. Berkembang pada tahun 1980-an, penyesuaian struktural telah menjadi bagian integral dari mekanisme pengambilan kebijakan di negara berkembang. Liberalisasi di berbagai bidang terus menjadi agenda utama dari proses reformasi yang dijalankan oleh pemerintah. Selain itu deregulasi serta privatisasi juga terus digalakkan guna

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

76

mendukung proses investasi dan perdagangan di seluruh sektor-sektor sosial dan ekonomi masyarakat.

Sejumlah pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, apa akibatnya bagi sektor-sektor terkait yang masuk dalam agenda reformasi? Bagaimana implikasinya bagi kinerja ekonomi nasional? sejauh mana kemudian kegiatan reformasi tersebut dapat mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat? Serta sejumlah pertanyaan lain terus berdengung serta mengiringi proses reformasi yang dijalankan oleh negara-negara berkembang tersebut.

Bagi sebagian pengamat, (lihat misalnya, Yustika, 2004 atau SAPRI dan CASA, 2002), secara umum proses penyesuaian struktural yang berlangsung lebih banyak mendatangkan hasil yang negatif dibandingkan hasil positifnya. Menurut Yustika (2004: 5), kasus di banyak negara berkembang yang menerapkan proses reformasi ekonomi yang mengedepankan meminimalitas intervensi negara tidak menjamin dicapainya kinerja ekonomi secara lebih baik. Sebagai contoh, 48 negara berkembang yang menerima saran reformasi tersebut tidak menjadi lebih maju dibantingkan dengan periode sebelum menjalankan reformasi. Bahkan 32 dari 48 negara tersebut berubah menjadi lebih miskin.

SAPRI (the Structural Adjustment Participatory Review Initiative) dan CASA (the Citizens’ Assessment of Structural Adjustment) (2002) telah melakukan penelitian terhadap sejumlah negara, seperti Ekuador, Filipina, Bangladesh, Zimbabwe, serta beberapa negara lain. Dalam penelitianya terhadap negara-negara yang telah melaksanakan penyesuaian struktural, memaparkan sejumlah data yang senada dengan pernyataan Yustika tersebut. Dalam hal

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

77

liberalisasi perdagangan misalnya, walaupun terjadi peningkatan perdagangan export namun kegiatan import jauh lebih tinggi bahkan mengakibatkan defisit neraca perdagangan. Sebagai contoh, perbandingan antara rata-rata pertumbuhan import dengan rata-rata pertumbuhan export pertahun Ekuador adalah sebesar 15% berbanding 5.6%. Nilai import Ekuador memang tumbuh dengan impresif, yakni dari 1,6 miliar dollas AS pada tahun 1990 menjadi 5,1 miliar dollar AS pada tahun 1998.

Dalam penelitian tersebut, juga dipaparkan bahwa reformasi ekonomi dengan berorientasi pasar justru telah membuat pasar tenaga kerja menjadi menyusut. Zimbabwe yang sejak 1991 menerapkan reformasi ekonomi, menunjukkan fakta bahwa penyerapan tenaga kerja pada sektor formal terus-menerus menyusut. Sehingga dari fakta tersebut dapat diartikan bahwa, penyesuaian struktural telah menyebabkan informalisasi ekonomi menjadi meningkat. Laurell (2000) juga menegaskan kenyataan ini dalam tulisannya tentang implikasi penyesuaian struktural di amerika latin. Deregulasi hubungan kerja telah memfasiltasi perubahan atau menggantikan lapangan kerja sektor-sektor formal menjadi informal, bahkan menurut ILO 84% pekerjaan yang tumbuh pada tahun 1990 adalah sektor informal (Laurell, 2000: 311).

Ketimpangan pendapatan juga menjadi salah satu persoalan dasar yang diakibatkan adanya penyesuaian struktural. Ketimpangan pendapatan per kapita antara kelompok masyarakat paling miskin dengan yang paling kaya terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketimpangan pendapatan yang terjadi Hungaria meningkat dari 4-4,5 kali sebelum tahun 1990 menjadi 8-9 kali pada tahun 1999,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

78

sehingga pertumbuhan pendapatan yang tinggi yang didapat oleh kalangan paling kaya harus berjalan beriringan dengan pemiskinan yang tragis di kalangan berpendapatan rendah (SAPRI dan CASA, 2002: 54).

Reformasi sektor keuangan di negara berkembang juga menunjukkan suatu persoalan tersendiri. Penelitian SAPRI dan CASA (2002: 67-68) menunjukkan beberapa indikasi bahwa:

1. Liberalisasi tidak meningkatkan level efisiensi ekonomi pada umumnya dan sektor finansial pada khususnya.

2. Liberalisasi sektor finansial secara langsung maupun tidak langsung telah ikut meningkatkan kegiatan spekulasi di pasar finansial serta investasi pada sektor non produktif.

3. Melemahnya negara dengan segala aturan-aturanya telah membuat perekonomian justru berada pada bingkai oligopoli atau bahkan monopoli suatu kelompok.

4. Reformasi keuangan telah membuat aset-aset finansial semakin terkonsentrasi pada beberapa pengusaha swasta saja, dibandingkan dengan membantu mengembangkan investasi produktif yang akan menstimulasi perekonomian secara nasional.

5. Sektor-sektor penting dalam ekonomi dan kelompokkelompok masyarakat menjadi tidak bisa mengakses kredit secara mudah. Perusahaan-perusahan kecil dan menengah, produsen-produsen lokal dan pedesaan serta perempuan hanya mempunyai akses yang sangat terbatas pada sistem finansial formal dikarenakan adanya suku bunga yang tinggi sebagai hasil

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

79

dari liberalisasi dan hambatan-hambatan seperti persyaratan-persyaratan kelayakan untuk peminjaman.

Hasil dari penelitian tersebut tentunya menjadi suatu ironi. Sebab mengacu dari ide atau gagasan yang digembar-gemborkan oleh para penganjur reformasi ekonomi bahwa liberalisasi sektor keuangan adalah untuk menghidupkan dunia usaha. Dengan demikian, fakta tersebut seolah-olah membantah dengan sendirinya bahwa cita-citanya kegiatan seperti deregulasi perbankan dan pasar finansial adalah untuk mendorong kegiatan dunia usaha menjadi lebih maju.