2 II. Perkembangan Inflasi Daerah
2.4 Dekomposisi dan Komoditas Penyumbang Inflasi
Berdasarkan pengelompokan inflasi (dekomposisi) dilihat dari sifat faktor yang mempengaruhi, terlihat bahwa tingginya tekanan inflasi pada triwulan I-2014 sebagai besar disebabkan oleh kenaikan harga kelompok volatile foods - yang didominasi oleh komoditas bahan makanan yang harganya bergejolak. Terhambatnya pasokan pada Desember-Januari akibat gelombang tinggi menyebabkan kontribusi inflasi kelompok volatile foods tercatat terus meningkat.
Selanjutnya, inflasi kelompok inti cenderung lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara konseptual, pergerakan inflasi inti (core) bersifat lebih permanen/persisten dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, yang dapat berasal dari aktivitas ekonomi internal maupun lingkungan eksternal (nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang). Analisis ini diperkuat dengan tinjauan inflasi (yoy) berdasarkan kelompok pengeluaran, dimana kenaikan tekanan inflasi inti lebih disebabkan oleh kenaikan harga-harga yang terjadi pada sub-kelompok pendidikan dan sub-kelompok biaya tempat tinggal yang terdapat pada kelompok perumahan. Kenaikan inflasi sub-kelompok pendidikan dipengaruhi oleh naiknya tarif kursus-kursus/pelatihan serta perlengkapan/peralatan pendidikan. Hal tersebut secara tidak langsung mengindikasikan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan terapan disertai dengan adanya upaya perbaikan prasarana di bidang pendidikan.
Inflasi komoditas volatile foods (VF) pada Maret cenderung menurun, namun kontribusi (andil) inflasi beberapa komoditas masih cukup tinggi. Informasi dari instansi terkait bahwa kenaikan harga beras pada Maret dipengaruhi oleh meningkatnya harga beras jenis siam (beras lokal) karena persediaan beras jenis tersebut menurun seiring dengan daerah produksi jenis beras tersebut baru memasuki periode masa tanam. Sementara beras jenis unggul, harganya cenderung menurun karena stok sudah cukup tinggi dan harga relatif stabil bahkan cenderung
20 menurun. Sementara itu, curah hujan yang cukup tinggi pada minggu akhir Maret menyebabkan stok ikan tangkapan menurun sehingga mempengaruhi harga ikan segar di pasar utama Kota Palangka Raya. Namun demikian, beberapa komoditas penyumbang inflasi lainnya seperti daging dan telur ayam ras dan beberapa jenis sayuran (wortel, bayam, kentang dan tomat sayur) cenderung mengalami penurunan harga. Informasi dari instansi terkait dengan harga komoditas daging dan telur ayam ras stok dalam kondisi stabil dan pengiriman telur dari Pulau Jawa cenderung lancar. Sementara daerah sentra penghasil sayuran seperti Kalampangan di Palangka Raya mulai panen dan lancarnya distribusi sayuran dari Pulau Jawa juga mempengaruhi tingkat harga komoditas tersebut pada periode laporan.
Tabel 2.4 Komoditas Penyumbang Inflasi/Deflasi Terbesar di Kota Palangka Raya
Sumber: BPS Prov. Kalimantan Tengah, diolah
Tekanan inflasi komoditas pada kelompok inti dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas pada kelompok makanan jadi antara lain mie dan nasi dengan lauk. Meningkatnya inflasi komoditas pada kelompok inti memberikan kontribusi mencapai 0,07% yang dipengaruhi oleh transmisi kenaikan harga bahan bakunya yaitu komoditas beras pada nasi dan lauk pauk sementara komoditas mie lebih dipengaruhi oleh meningkatnya harga bahan baku pelengkap komoditas tersebut. Selain itu, meningkatnya biaya sewa rumah juga turut menambah kontribusi inflasi pada kelompok inti.
Ekspektasi inflasi mereda. Hal tersebut tercermin dari ekspektasi inflasi konsumen dan pedagang yang mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Menurunnya ekspektasi inflasi tersebut dipengaruhi oleh kondisi permintaan di Maret relatif stabil akibat tidak adanya event tertentu yang menyebabkan peningkatan konsumsi.
Tekanan inflasi kelompok administered prices cenderung meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Meningkatnya tekanan inflasi administered prices disebabkan oleh
Jan Feb Mar
Palangka Raya Palangka Raya Palangka Raya
No Inflasi Inflasi Inflasi
1 Daging ayam ras Cabai rawit Mie
2 Rokok kretek filter Ketimun Angkutan Udara
3 Nasi dengan lauk Sate Nasi dgn Lauk
4 Mie Ikan asin peda Beras
5 Telur ayam ras Seng Ikan gabus
Deflasi Deflasi Deflasi
1 Kacang panjang Daging ayam ras Daging ayam ras
2 Angkutan udara Bawang merah Telur ayam ras
3 Bawang merah Angkutan udara Udang basah
4 Gula pasir Tomat sayur Wortel
21 kenaikan harga komoditas angkutan udara akibat dari penyesuaian tambahan biaya (surcharge) akibat naiknya harga bahan bakar pesawat (avtur) seiring dengan melemahnya nilai tukar. Kenaikan biaya tersebut dibebankan pada harga tiket pesawat mulai awal bulan Maret lalu.
Tabel 2.5 Komoditas Penyumbang Inflasi/Deflasi Terbesar di Kota Sampit
Sumber: BPS Prov. Kalimantan Tengah, diolah
Jan Feb Mar
Sampit Sampit Sampit
No Inflasi Inflasi Inflasi
1 Daging ayam ras Jeruk Cabai rawit
2 Beras Cabai rawit Kacang panjang
3 Ikan tongkol Pemeliharaan/servis Rokok kretek filter
4 Telur ayam ras Es Ikan Nila
5 Ikan selar Mobil Angkutan udara
Deflasi Deflasi Deflasi
1 Udang basah Daging ayam ras Daging ayam ras
2 Bawang merah Bawang merah Telur ayam ras
3 Kacang panjang Ikan selar Mobil
4 Ikan gabus Bahan bakar RT Jeruk
22 Boks II
Rencana Aksi Pengendalian Inflasi 2014
A. Latar Belakang dan Asumsi Penyusunan Rencana Aksi
Rencana aksi pengendalian inflasi adalah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu lembaga dengan menggunakan sejumlah sumber daya pada kurun waktu dan lokasi tertentu dengan metode tertentu pula dalam rangka pengendalian inflasi yang bersinergi satu sama lainnya. Rencana aksi ini didasarkan pada hasil kajian tentang komoditas-komoditas yang memiliki andil inflasi/deflasi, nilai bobot komoditas pada kurun waktu tertentu terjadinya inflasi/deflasi. Dengan demikian diharapkan masing-masing kegiatan dalam rencana aksi mempunyai kontribusi dalam pengendalian inflasi. Pada waktu menjelang Hari Raya Lebaran misalnya, kebutuhan terhadap bahan makanan lebaran menjadi sangat tinggi sehingga harga-harganya cenderung naik. Hal ini berbeda dengan saat memasuki tahun ajaran baru dimana kebutuhannya adalah perlengkapan sekolah yang cenderung harganya meningkat yang dapat memicu inflasi.
B. Rencana Aksi Pengendalian Inflasi
Seperti dijelaskan diatas Rencana aksi pengendalian inflasi adalah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu lembaga dengan menggunakan sejumlah sumber daya pada kurun waktu dan lokasi tertentu dengan metode tertentu pula dalam rangka pengendalian inflasi yang bersinergi satu sama lainnya. Rencana aksi disusun dalam bentuk tabel yang menunjukkan rencana kegiatan dengan output dan input sumber dana dalam rangka mengendalikan inflasi sesuai rekomendasi dan isu strategis pada kurun waktu tertentu dan lokasi tertentu pula. Rencana aksi seluruh instansi pada tahun 2014. Rencana aksi selama 2014 telah disepakati beberapa rekomendasi antara lain, dalam rangka pengendalian inflasi di Kalteng dan mencapai target inflasi RPJMD Kalteng 2010 – 2015 sebesar 3% di 2014, maka seluruh anggota TPID Kalteng, yaitu instansi terkait, diminta untuk menyerahkan dan mengkompilasi rencana aksi pengendalian inflasi selama 1 tahun ke depan sebagai komitmen TPID melakukan pengendalian inflasi selama 2014. Adapun kegiatan dari rencana aksi merupakan turunan dari rekomendasi pengendalian inflasi yaitu
1. Menjaga kelancaran arus distribusi barang kebutuhan pokok di Kalteng. 2. Menjaga dan mengelola ekspektasi masyarakat terkait dampak inflasi. 3. Menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga bawang merah di Kalteng. 4. Menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga beras di Kalimantan Tengah. 5. Menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga cabe dan sayur di Kalteng. 6. Menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga daging sapi, ayam ras, di Kalteng. 7. Menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga ikan segar di Kalimantan Tengah. 8. Menjaga distribusi dan ketersediaan mitan dan gas elpiji.
23 KESIMPULAN
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Inflasi adalah salah satu indikator ekonomi yang sangat penting dan strategis sehingga harus dikendalikan melalui berbagai upaya/kegiatan secara terencana, bersinergi dan komprehensif. 2. Berdasarkan RPJMD Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2010-2015 diamanatkan bahwa target
angka inflasi untuk tahun 2014 adalah sebesar 3% dan angka ini menjadi target capaian dari TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota se Kalimantan Tengah.
3. Agar pengendalian inflasi dapat berjalan secara efektif dan efisien perlu dilakukan perencanaan yang matang melalui penyusunan rencana aksi dan melaksanakannya secara cermat yang dievaluasi secara periodik.
4. Rencana aksi adalah daftar kegiatan dari seluruh SKPD terkait yang dilaksanakan dengan menggunakan input untuk mencapai output yang terukur pada lokasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu pula. Semua kegiatan dimaksud adalah dalam rangka mengendalikan inflasi. 5. Mengingat banyaknya variabel-variabel yang tidak bisa diprediksi sebelumnya yang
24