SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Pola 10 Besar Penyakit di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2016
2. Penyakit Menular
2.1. Penyakit Menular Bersumber Binatang 1. Malaria
2.1.2. Demam Berdarah Dengue (DBD)
1
etaK lur hanEndemisMalaria
KotaPalangkaRaya ahun2014
Endemisitas M alaria ; Bebas M alaria ( API = 0) Endemis Rendah (API < 1) Endemis Sedang (API 1 - 5) Endemis Tinggi I (API 5-10) Endemis Tinggi II (API 10-50) Endemis Tinggi III ( API > 50
Gambar III.5
Peta Daerah Endemis Malaria Menurut Kelurahan Di Kota Palangka Raya Tahun 2016
2.1.2. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes Aepyty. Penyakit DBD cenderung meningkat dan menyebar luas dan seringkali disertai kejadian luar biasa (KLB), sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian. Penderita DBD di Kota Palangka Raya dalam beberapa tahun terakhir disertai dengan kematian, sebagaimana tabel III.2 berikut.
Tabel III.2.
Indikator DBD Kota Palangka Raya Tahun 2010 - 2016 Indikator DBD Tahun Standar 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Angka Kesakitan / IR (100.000 pddk) 10 89 40,9 97,8 111,8 84,7 50 Angka Kematian CFR (%) 4,5 1,5 3,2 0,4 1,1 0,9 < 1% Angka Bebas Jentik/ABJ (%) 85,6 85,2 86,7 85,6 85,1 - 95% Sumber : Bidang PMK
Tabel III.2. menunjukan bahwa kasus DBD sejak tahun 2012 menunjukan peningkatan, dan melonjak naik pada tahun 2014 kasus DBD sebanyak 239 kasus dengan angka kesakitan 97,8/100.000 penduduk,
dan tahun 2016 menurun menjadi 220 kasus dengan angka kesakitan mencapai 84,7/100.000 penduduk. Angka tersebut diatas standar yang ditetapkan yaitu 50/100.000 penduduk dengan angka kematian (CFR) sebesar <1%. Masalah justru pada kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) pada tahun 2016 tidak lagi dilaksanakan, sehingga monitoring terhadap pertumbuhan serta penyebaran nyamuk DBD tidak bisa dipantau. PJB juga membantu kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan masyarakat. Dengan angka Bebas Jentik yang rendah, memicu suatu lingkungan harus segera diadakan PSN, baik melalui partisipasi dengan masyarakat, maupun dengan mengendalikan pemberantasan nyamuk melalui fogging yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya
Faktor iklim pada tahun 2016 memberikan keuntungan yaitu menyebabkan penyakit DBD menurun namun tidak signifikan, seperti terjadinya musim hujan di sepanjang tahun 2016 sehingga air hujan melimpah/banjir dengan asumsi air hujan menghanyutkan sarang vektor. Hal ini menyebabkan perkembangbiakan nyamuk aides agypti mengalami gangguan. Namun kasus DBD masih ada pada awal tahun. Kemudahan transportasi dan tingkat mobilitas penduduk juga turut mempengaruhi penyebaran penyakit DBD karena di Kota Palangka Raya sebaran kasus umumnya terjadi di daerah perkotaan, sebagaimana terlihat pada gambar III.6 tentang daerah endemis DBD. Peran serta masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sangatlah rendah. Pengelolaan sampah belum berjalan sesuai ketentuan, hal ini terlihat dari sampah anorganik yang belum terkelola dengan baik akan berpotensi sebagai perindukan vektor. Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat sangatlah diperlukan, dengan metode yang tepat, sistematis, dan dengan frekuensi yang lebih gencar sehingga menciptakan suatu gebrakan di masyarakat dalam PSN, diharapkan akan berhasil menurunkan kasus DBD secara signifikan
Gambar III.6.
Kasus DBD telah menyebar di 23 kelurahan dari 30 kelurahan yang ada; terdiri 10 kelurahan endemis dan 13 kelurahan sporadis. Kelurahan yang berpotensi untuk tertular DBD pada tahun 2016 sebanyak 4 kecamatan. Penularan umumnya terjadi di daerah padat penduduk dengan mobilitas cukup tinggi.
2.1.3. Rabies
Rabies merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan oleh hewan berdarah panas tersangka rabies seperti anjing, kucing dan monyet. Penyakit ini merupakan penyakit zoonosa yang terpenting di Indonesia karena bila sudah menunjukan gejala klinis pada manusia ataupun hewan yang selalu berakhir dengan kematian, sehingga menimbulkan rasa cemas dan ketakutan bagi orang-orang yang terkena gigitan dan kekhawatiran serta keresahan bagi masyarakat pada umumnya. Pemberian vaksin pada manusia secara dini pasca gigitan dapat mencegah kematian.
Kasus gigitan oleh hewan tersangka rabies dilaporkan oleh Puskesmas Bukit Hindu sebagai Rabies Center. Gambar III.7 menggambarkan specimen positif pada hewan tersangka rabies tahun 2016.
1 17
Peta Kelurahan Endemis DBD Kota PalangkaRaya Tahun 2016 D ae rah E n e m is D B D : E nd e m is S po rad is P oten s ial B eb a s
Gambar III.7.
Jumlah Spesimen Positif pada Hewan Penular Rabies Di Kota Palangka Raya Tahun 2010-2016
14 26 83 36 28 23 52 0 20 40 60 80 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 S p e si m e n ( + ) Sumber : Bidang PMK
Pada tahun 2016 dilaporkan 784 kasus gigitan Rabies (GHPR) dengan pemberian VAR kepada 384 kasus (48,98%) dan 52 kasus dinyatakan positif Rabies. Pada tahun 2015 dilaporkan 631 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), 2014 dilaporkan 247 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), dan tahun 2013 dilaporkan 862 kasus. Penderita yang mendapat vaksinasi tahun 2015 sebanyak 372 (59,11%). Gambar III.8 berikut menunjukan kasus gigitan hewan tersangka Rabies selama tahun 2010-2016.
Gambar III.8.
Korban Gigitan Hewan Penular Rabies Kota Palangka Raya Tahun 2010-2016
894 1143 862 247 631 784 676 613 372 384 744 112 527 421 0 300 600 900 1200 1500 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Ju m la h K a su s GHPR (Man) VAR(Man)
2.2. Penyakit Menular Langsung 2.2.1. TB. Paru
Tuberculosis atau sering disebut TB adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang terinfeksi basil TB. Umumnya menyerang organ paru, namun dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. Bersama dengan Malaria dan HIV / AIDS, TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs.
Penemuan penderita merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Upaya penemuan penderita dilakukan secara pasif dengan promosi aktif, artinya penjaringan penderita dilakukan di unit pelayanan kesehatan pada saat penderita datang untuk berobat didukung dengan penyuluhan aktif. Keberhasilan pengobatan TB Paru diukur antara lain melalui penemuan dan pengobatan penderita dan tingkat kesembuhan penderita yang diobati dengan menggunakan strategi DOTS.
Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalahCase Detection Rate (CDR) yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Target minimal CDR yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan adalah 70%. Berikut adalah penemuan kasus (CDR) sejak tahun 2010-2016.
Gambar III.9.
Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate) TB Paru Di Kota Palangka Raya Tahun 2010-2016
31,3 25,6 27,6 25 48 37,68 48,8 Target CDR; 70 0 10 20 30 40 50 60 70 80 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 P e rs e n ta se Sumber : Bidang PMK
Di Kota Palangka Raya jumlah penderita TB paru yang berobat di unit pelayanan kesehatan (UPK) serta mendapat pengobatan yang sesuai standar, pada tahun 2016 sebanyak 255 kasus dan yang mendapat pengobatan sebanyak 109 kasus. Dibandingkan dengan tahun 2015, kasus mencapai 113 kasus dan 83 kasus mendapatkan obat TB Paru. Tahun 2014 sebanyak 74 kasus (CDR 48%), dan pada tahun 2013 sebanyak 117 kasus (CDR 25%) dengan prevalensi 53,1/100.000 penduduk.
Selain CDR, sejak tahun 2014 terdapat satu indikator lagi untuk mengetahui penganggulangan kasus TB Paru, yaitu Case Notification Rate (CNR) yaitu angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat di antara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini bila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun atau kecenderungan (trend) meningkat atau menurunnya penemuan pasien di wilayah tersebut. Pada tahun 2016 dengan CNR seluruh kasus mencapai 98,13 dan CNR kasus baru sebesar 41,94. Mengalami peningkatan jika dibanding dengan tahun 2015 CNR seluruh kasus mencapai 78,54%, dengan CNR kasus baru sebesar 37,68%. Tahun 2014 CNR seluruh kasus TB mencapai 62,99/100.000 penduduk, dan CNR untuk kasus baru mencapai 30,27/100.000 penduduk.
Keberhasilan pelaksanaan penanggulangan TB diukur dari pencapaian angka kesembuhan penderita. Angka kesembuhan ini menunjukan persentase pasien baru TB dengan BTA (+) yang telah berhasil menyelesaikan pengobatan baik sembuh maupun pengobatan lengkap (success rate/SR). Angka kesuksesan tahun 2015 sebesar 33%.
Gambar III.10.
Succes Rate (SR)TB Di Kota Palangka Raya
Tahun 2010-2016 86,2 89,3 69,5 76,6 79,07 19,28 33 Target SR; 85 0 20 40 60 80 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 P e rs e n ta se
Gambar III.10 memperlihatkan trend angka keberhasilan (success Rate/SR) pengobatan TB Paru di Kota Palangka Raya. SR pada tahun 2016 mencapai 33% dan mengalami kenaikan jika dibanding dengan tahun 2015 mencapai 19,28%, namun masih rendah jika dibandingkan SR pada tahun 2014 yaitu 79,07%. Ada beberapa penyebab yang dimungkinkan, salah satunya adalah terjadinya resistensi obat TB Paru pada pasien. Resistensi obat disebabkan beberapa hal antara lain; pasien tidak mematuhi anjuran dokter/ petugas kesehatan, tidak teratur menelan OAT sesuai paduan, menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum waktunya, dan gangguan penyerapan obat TB Paru.
Pemegang program TB Paru diharapkan untuk lebih meningkatkan komitmen dalam pelaksanaan program “Pengendalian TB Resistan Obat” sesuai tatalaksana Pengendalian TB yang berlaku saat ini dengan mengutamakan berfungsinya jejaring diantara fasilitas pelayanan kesehatan. Titik berat manajemen program meliputi: perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana).
2.2.2. Kusta
Kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Penyakit ini dapat menyebabkan stigma sosial di masyarakat akibat cacat yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Upaya pelayanan
Sumber : Bidang PMK
terhadap penderita penyakit kusta antara lain pemeriksaan intensif penderita yang datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan atau pernah kontak erat dengan penderita.
Tahun 2016 kasus baru type Multi Basiler sebanyak 1 kasus dan typePausi Basilersebanyak 2 kasus, denganNewly Case Detection Rate (NDCR) 1,15 /100.000 penduduk. Mengalami penurunan jika dibanding dengan tahun 2015 ditemukan kasus baru type Multi Basiler 7 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NDCR) sebesar 2,78/100.000 penduduk. Mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2014 yaitu kasus baru type Multi Basiler sebanyak 2 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NDCR) sebesar 0,82/100.000 penduduk. Tahun 2013 kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NDCR)sebesar 0,44/100.000 penduduk.
Tingkat penularan di masyarakat menggunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) diantara pederita baru. Di Kota Palangka Raya kusta ditemukan pada penderita usia ≥ 15 tahun. Sedangkan keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru diukur dari proporsi cacat tingkat II yang pada tahun 2016 sebesar 0%.
Gambar III.11
Penderita Kusta Selesai Berobat Di Kota Palangka Raya Tahun 2016
14 63 0 10