BAB IV. STRATEGI PEMASARAN GERABAH GALOGANDANG
Foto 28. Teko dengan Menggunakan Motif Bunga
Teko dengan Menggunakan Motif Bunga
Sumber: Dokumentasi Pribadi 2016
Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam menghasilkan suatu karya baru. Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam membuat suatu karya yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Dalam hal ini pengrajin gerabah menciptakan berbagai macam bentuk kerajinan gerabah dengan ide-ide baru yang dimilikinya maupun yang mendapatkan bentuk contoh dari tempat lain. Ide yang tercipta akan membuat suatu bentuk kerajinan, sehingga dapat menarik minat dan kemampuan konsumen untuk membelinya.
Hasil dari kreativitas adalah produk kreatif yang didefenisikan sebagai barang-barang dan jasa-jasa yang memiliki nilai ekonomi yang dihasilkan dari kreativitas (Howkins, 2001: X). Hasil dari kreativitas bisa diamati dari segi produk, proses, strategi, metode, usaha, modal, dan desain baru yang dihasilkan.
Hal ini sesuai dengan gerabah yang terdapat di Galogandang, dimana gerabah dapat dikatakan memiliki nilai ekonomi yang dihasilkan dari kreativitas
oleh perempuan-perempuan masyarakat setempat. Gerabah yang dihasilkan sebagai bentuk kreativitas yang dilakukan oleh pengrajin gerabah, seperti terdapat pada motif-motif.
Sebagaimana diketahui menurut Home Affairs, Suryana (2013:46) menjelaskan bahwamodal budaya dimiliki oleh setiap bangsa bahkan perusahaan secara turun-temurun. Modal itu terdiri dari nilai-nilai, orientasi, kebiasaan, adat- istiadat, dan bentuk lain dari budaya. Modal budaya juga bisa berupa kesenian, pertunjukkan, film, drama, lukisan, dan bisa dalam bentuk hasil karya atau dalam bentuk cagar budaya-heritage. Modal budaya adalah modal dasar yang sudah dimiliki oleh industri, terutama industri kecil dan industri lokal yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.
Keanekaragaman-kebinekaan, seperti etnis, suku, adat, nilai-nilai, warisan budaya, dan bahasa yang tersebar diberbagai daerah merupakan dasar ekonomi kreatif. Semua modal budaya dan kebinekaan ini masih perlu dikelola (manage) secara kreatif sehingga dapat menciptakan kakayaan batu, seperti kesempatan kerja, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakatnya. Supaya bernilai ekonomi tinggi, modal dasar budaya dan kebinekaan perlu dikolaborasikan, dikombinasikan, dipelihara, dan dikembangkan. Untuk mengelola dan mengembangkannya, selain diperlukan pendidikan, kecakapan, dan pengalaman, juga diperlukan pemahaman tentang pentingnya kebinekaan sebagai modal dasar ekonomi kreatif yang bernilai ekonomi tinggi, bernilai nasionalisme, dan bernilai kesejahteraan.
Modal budaya yang digunakan oleh pengrajin gerabah adalah kretivitas. Menurut salah seorang informan penulis, kreativitas itu merupakan kemampuan
seseorang dalam membuat suatu karya baru atau dengan kata lain, kreativitas adalah kemampuan seseorang dalam membuat suatu karya yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya sehingga menjadi terlihat lebih baru. Dalam hal ini beliau membuat berbagai macam bentuk kerajinan gerabah dari tanah liat dengan ide yang beliau miliki agar lebih lebih menarik konsumen4
4
. 4.2. Nilai keuntungan
berdasarkan nilai seni, usaha gerabah yang dibuat dengan menggunakan pasir dan tanah liat yang sebagian tanah liat tersebut dapat diminta dari masyarakat setempat, modalnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan usaha lainnya yang dibuat dari bahan yang dibeli di toko. Prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa “dengan modal yang sekecil-kecinya, menghasilkan untung yang sebesar-besarnya”. Menurut ibu Rina, yakni:
“Tanah yang digunoan untuk mambuek pariuk ko tanah sawah dan tanah bukit, untuak mandapek an tanah sawah bis, jadi Etek indak paralu mambalinyo do. Urang tu buliah mambiak tanah ko, karano sawah yang lah diambiak tanah liat akan rancak tumbuah padi sasudahnyo”, modal yang Etek kaluan lai indak terlalu banyak, cuman untuak mambali pasia nyo se lain”.
“Tanah yang digunakan untuk membuat gerabah merupakan tanah liat yang ada di sawah dan di bukit, tanah liat yang ada di sawah tersebut bisa langsung didapatkan dengan tidak menggunakan uang. Tanah tersebut bisa diminta saja kepada masyarakat setempat. Karena keuntungan pada orang punya sawah, yakni bisa membuat padi di sawah tersebut tumbuh subur, karena tanah liatnya tidak ada lagi. Jadi modal yang dikeluarkan tidak terlalu banyak untuk pembuatan gerabah ini.
Hal yang sama juga dijelaskan oleh ibu Yurnalis yang mengatakan bahwa nilai keuntungan gerabah terdapat pada modal yang dikeluarkan yang tidak terlalu banyak, hasil wawancara penulis dengan beliua sebagai berikut:
“Pasia nyo memang dibali , saharogo Rp 270.000, pasia dibali ka urang Padang Panjang, beko inyo yang mantaan ka siko. Kalau tanah lai indak mambali do masalahnyo tanah ado yang baminta samo urang punyo sawah yang sawah alah manyabik, tapi kini ado lo tanah ko yang babali tapi haragonyo lai murah. Kalau yang indak babali tu, dek lataknyo jauh palingan hargo sewa ojeknyo se babayia”.
“Pasirnya memang dibeli, seharga Rp 270.000, pasir dibeli pada orang Padang Panjang, nanti orang itu yang mengantarkan kesini. Kalau tanah tidak dibeli masalahnya tanah ada yang diminta dengan orang yang punya sawah yang padi sudah panen. Tapi kini sudah ada tanah yang dibeli tetapi harga murah. Kalau yang tidak dibeli, terkadang letaknya jauh maka harga sewa ojek yang membawa yang dibayar”.
Nilai keuntungan dalam strategi pemasaran gerabah terdapat pada modal yang sedikit. Dengan demikian, nilai keuntungan yang diperoleh dari pengrajin gerabah yakni modal yang kecil mereka masih bisa memproduksi gerabah setiap hari. Sehingga usaha kerajinan gerabah semakin berkembang dengan seiiring waktu
4.3. Penjualan Kepada Distributor
Gudang balango sebagai salah satu wadah untuk menyalurkan gerabah dari sebagian pengrajin di Galogandang, dahulunya gerabah hanya dijual di sekitar daerah Galogandang saja, tetapi seiringnya waktu bagi pemasaran gerabah semakin luas sehingga gudang balango sebagai distributor untuk menjual gerabah ke luar daerah. Pemasaran yang lain yaitu dengan cara pelanggan yang membeli gerabah langsung ke tempat gudang balango.