• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. STRATEGI PEMASARAN GERABAH GALOGANDANG

4.3. Penjualan Kepada Distributor

Gudang balango sebagai salah satu wadah untuk menyalurkan gerabah dari sebagian pengrajin di Galogandang, dahulunya gerabah hanya dijual di sekitar daerah Galogandang saja, tetapi seiringnya waktu bagi pemasaran gerabah semakin luas sehingga gudang balango sebagai distributor untuk menjual gerabah ke luar daerah. Pemasaran yang lain yaitu dengan cara pelanggan yang membeli gerabah langsung ke tempat gudang balango.

Foto 29

Gerabah yang Sudah Terkempul

Menurut cerita seorang pemilik gudang balango yaitu nenek Rasina. Nenek yang berumur sekitar 60 tahun ini memiliki empat orang anak satu laki-laki dan tiga anak perempuan, dahulu tiga anak perempuannya merantau tetapi karena sekarang sudah pulang kekampung, dan beliau memilih untuk membuat gerabah. Nenek Rasina bisa dikatan sebagai pengrajin yang sudah lama membuat gerabah, sudah dari turun-temurun, pekerjaan serta bakat yang dimilikinya sudah menurun kepada anak dan cucunya.

Anak-anak dari nenek Rasina sekarang sudah menjadi perempuan- perempuan yang mahir dalam membuat gerabah. Nenek Rasina dan ketiga anaknya tidak hanya sebagai pembuat gerabah tetapi juga sebagai penjual Salah seorang informan penulis menceritakan bahwa gudang balango sudah ada Pemasaran gerabah ini dilakukan keluarga besar nenek Rasina, mereka tidak hanya membuat gerabah tetapi juga sebagai pengumpul gerabah. Di tempat ini gerabah dikumpulkan, yang sebagian dibeli dari pengrajin sekitar daerah Galogandang dan sebagian lagi nenek dan ketiga anaknya yang membuat gerabah tersebut. Jadi, rumah nenek Rasina dijadikan sebagai luarga nenek Rasina membutuhkan Modal yang besar untuk membeli gerabah kepengrajin sekitar, sehingga keluarga nenek Rasina membutuhkan pinjaman modal dari PNPM Mandiri. Sebagai pengumpul mereka harus memiliki uang tunai untuk membeli gerabah kepada pengrajin-pengrajin gerabah yang lain disekitar daerah Galogandang.

Sebagaimana diketahui Menurut Home Affairs (dalam Suryana 2013:46) menjelaskan bahwa, Modal kelembagaan dan struktural merupakan modal yang diperlukan oleh industri kreatif yang berasal dari pemerintah dalam bentuk

kebijakan yang dapat mengakomodasi dan melindungi industri kreatif. Oleh karena itu, diperlukan departemen khusus yang membina industri kreatif di bawah kementrian yang membina perindustrian dan/atau perdagangan, yang mendorong, mengadvokasi, mematenkan, dan mempromosikan produk budaya (dalam Suryana 2013:46). Modal struktural atau kadang dikenal dengan modal infrastruktur oleh Howkins (dalam Suryana 2013:51) didefenisikan sebagai alat yang diperlukan dan dipandang sebagai modal sumber daya manusia bagi organisasi. Modal infrastruktur ini meliputi:

a. Kebijakan rekrutmen organisasi, b. Pelatihan dan remunerasi,

c. Sistem informasi manajemen dan sistem manajemen ilmu pengetahuan, d. Arahan kerja tim,

e. Sikap dalam pekerjaan,

f. Memanajemen hak kekayaan intelektual, g. Nama,

h. Perlindungan merek dagang, i. Lisensi,

j. Hak paten, dan

k. Perlindungan hak cipta.

Untuk menciptakan modal infrastruktur diperlukan modal institusional (kelembagaan) yang dapat melindungi, membina, mengarahkan, dan mengakomodasi, serta menciptakan iklim ekonomi kreatif. Kelembagaan ini merupakan domain pemerintah yang harus proaktif menciptakan program dan iklim usaha kreatif melalui kebijakan yang kondusif.

Dari bentuan PNPM mandiri tersebut Gerabah dapat dibeli dari pengrajin- pengrajin disekitar daerah tersebut, setelah gerabah tersebut dibeli kemudian dikumpulkan di Gudang balango dengan jumlah yang tidak sedikit, terkadang bisa mencapai ribuan, karena biasanya satu kali penjualan gerabah ke daerah luar Galogandang, harus mencapai satu truk besar dengan muatan 1200 sampai dengan 1500 gerabah. Penjualan ke daerah luar Galogandang ini dilakukan sebanyak dua kali dalam satu tahun. Daerah tersebut adalah Medan, Pekanbaru, Jambi, Padang, Pariaman, Bengkulu, Lubuk Alung dan lain-lain di luar Galogandang.

Selain dengan pemasaran yang dijual langsung ke daerahnya ada juga dengan cara mendatangi langsung daerah Galogandang. Penulis bercerita kepada tetangga penulis tentang penelitian di Galogandang ternyata beliau berminat untuk membeli gerabah dan akan dibawa ke Jakarta. Didalam perjalanan, penulis pergi secara terpisah dengan tetangga penulis, dan ia pun tersesat dikarenakan beliau tidak begitu mengetahui jalan menuju daerah Galogandang. Susah payah penulis pun mengarahkan jalan menuju ke Daerah Galogandang tersebut. Penulis sudah sampai di tempat gudang balango, lama menunggu kemudian beliau sampai di lokasi.

Penulis sangat beruntung dalam situasi tersebut karena bisa memperhatikan langsung cara penjualan antara pengrajin dengan pembeli gerabah. Terjadi tawar- menawar antara keduanya, wawancara penulis kepada pembeli gerabah, menurut pembeli sebagai berikut:

“Ambo nio manjapuik ka siko dek alasan supayo mandapek harago yang murah, dek lah pai ka tampek gudang balango. Tu haragonyo pasti lai murah dibandiang di bali di daerah ambo”.

“saya menjemput kesini dengan alasan supaya mendapatkan harga yang murah, karena langsung mendatangi pergi gudang balango ini. Harganya lebih murah dibandingkan beli di daerah saya”.

Pemilihan dilakukan oleh pembeli. Pemilihan dilakukan supaya mendapatkan gerabah yang bagus. Pengrajin membantu memilihkan gerabah yang bagus, yaitu jika gerabah dipukul maka akan menghasilkan bunyi yang berdering, jika tidak berdering maka gerabah tersebut tidak bagus. Sebagai pengrajin beliau juga tidak mau jika pembeli kecewa dengan gerabahnya, makanya beliau membantu memilihkan gerabah yang bagus. Suasana semakin menegang saat penentuan harga, penawaran terus terjadi. Menurut pengrajin sebagai berikut:

“Uni kalau ambo nan mambuek, ambo agiah senyo tapi pariuk yang ado disiko banyak nan mambali ka urang lain disiko. Harago iyo indak bisa agak murah do, kami disiko tu ingin mandepek untuang pulo”.

“Uni jika saya yang membuatnya maka akan dikasih saja. Karena gerabah yang ada disini dibeli kepada pengrajin-pengrajin yang ada di daerah ini. Harga tidak bisa murah. Kami disini ingin mendapatkan untung juga”.

Foto 30

Pembeli dengan Penjual Gerabah di Gudang Balango

Sumber: Dokumentasi Pribadi 2016

Selain pemasaran ke gudang Balongo, gerabah di Galogandang juga cara memeliki cara pemasaran yang lain. Pemasaran gerabah di Galogandang berbeda- beda, berbagai macam pemasaran dilakukan di daerah tersebut. Sebagaimana menurut Suryana (2013:77) menjelaskan bahwa Kreasi dan gagasan untuk mengembangkan dan memperluas saluran, lembaga distribusi, dan wilayah pemasaran baru. Misalnya, dengan membuka jaringan pemasaran baru ( seperti Alfamart, Yomart, Circle K) dan mengembangkan agen-agen di beberapa daerah pemasaran. Demikian juga dengan pengrajin gerabah di Galogandang dimana mereka juga mengembangkan dan memperluas penujualan gerabah tersebut dengan menjual kepada pedagang-pedagang yang ada di daerah luar Galogandang. Menurut wawancara penulis dengan salah satu informan, adalah sebagai berikut:

“Manjua pariuk ko indak disekitar daerah Galogandang, tapi akan ado urang nan mambali untuak ka dijua di daerahnyo yaitu pariaman, urang pariaman ko punyo took

selain inyo punyo toko surang, urang ko malatak an gerabah ko ka toko-toko yang lain ado disitu. Jadi istilahnyo urang nan manjapuik ka siko agennyo, karano inyo manjapuik ka Galogandang.

“Menjual gerabah tidak hanya di daerah Galogandang, tetapi ada juga pembeli di luar daerah Galogandang, dimana kemudian gerabah tersebut dijual didaerahnya, yaitu Pariaman. Orang Pariaman ini memiliki toko, kemudian dia menjual di tokonya dan menjual kepada toko-toko yang lain. Jadi istilahnya orang Pariaman sebagai agennya, karena dia yang menjemput gerabah ke Galogandang”.

Cara pemasaran gerabah bagi pengrajin sangat beragam, dengan semakin berkembangnya zaman maka semakin banyak juga gerabah yang dipasarkan. Keesokan harinya penulis melakukan penelitian lagi, hari yang sangat cerah sehingga mendukung untuk melakukan penelitian pada saat itu. Setibanya disana penulis ternyata bertemu dengan sekumpulan ibu-ibu yang sedang duduk-duduk didepan rumah, ternyata diantara kumpulan ibu-ibu tersebut ada seorang ibu yang sedang mempersiapkan dagangannya. Ibu ini berasal dari daerah Turawan, yaitu daerah yang berada diluar Galogandang. Beliau membeli gerabah ke pengrajin gerabah di Galogandang, kemudian menjualnya menggunakan rotan yang diletakkan diatas kepala.

Rotan tersebut diikat menggunakan tali dan meletakkan daun pisang yang kering, supaya gerabah bisa dibawa dengan baik sehingga tidak membuat gerabah tersebut retak. Jika diberi daun pisang kering hal tersebut bisa terhindar. Setelah itu baru gerabah diletakkan di atas rotan tersebut. Gerabah yang ditata ada sekitar 20 mulai dari yang kecil sampai yang besar. Gerabah tersebut di jual ke daerah Solok, dengan menjajakan keliling kampung. Ibu tersebut membawanya ke daerah Solok sudah sejak lama, meskipun masih banyak saingan dari orang lain beliau masih tetap berjualan sampai sekarang.

Foto 31

Penjual Gerabah Menggunakan Rotan

Sumber: Dokumentasi Pribadi 2016

Berbagai cara dilakukan dalam proses penjualannya, dilakukan didalam daerah maupun ke luar daerah Galogandang. Keluar daerah Galogandang biasa dilakukan yaitu ke Medan, Pekanbaru, Payakumbuh, Padang, Jambi dan lain-lain. Penjualan gerabah dijual ke daerah Medan biasanya dengan jumlah yang sangat banyak, menurut informan penulis bahwa sebagai berikut:

“ kalau yang ada di gudang balango ko tampek mangumpuaan balango yang ado didaerah galogandang, beko dari siko banyak dijua ka daerah Medan, dibaok pakai oto truk gadang, yang muatannyo sebanyak 1500 pasang, biasonya dilakuan sakali 6 bulan , kemudian oto yang dibaok kasinan beko disewa Rp 3.000.000, pai manggalehnyo indak lamo-lamo, cuman sabanta, yo lamo mangumpuan barang yang akan dibaok ka medan ko. “Kalau yang ada di gudang balango yaitu tempat untuk mengumpulkan gerabah yang ada di galogandang, dari sini banyak di jual ke daerah Medan, dibawa menggunakan mobil truk besar yang muatannya sebanyak 1500 pasang. Biasanya dilakukan sekali 6 bulan, kemudian mobil yang dibawa yaitu mobil yang disewa Rp 3.000.000, pergi menjualnya tidak perlu lama, yang lama yaitu mengumpulkan gerabah yang akan dibawa ke Medan.”

Pemasaran ke tempat-tempat yang lain, selain Medan yaitu ke daerah Pekanbaru, untuk rumah sakit yang ada disana, gerabah tersebut berguna untuk meletakkan ari-ari bayi dari ibu-ibu yang melahirkan, dimana ari-ari tersebut akan dikuburkan.

Selain itu cara pemasaran yang lain dari pengrajin gerabah yang ada di Galogandang yakni yang dilakukan oleh seorang informan penulis, beliau juga sebagai pembuat dan sebagai penjual gerabah. Beliau memasarkan gerabahnya yaitu ke daerah Padang dan Lubuk Alung, beliau membawa gerabah dalam jumlah yang banyak mencapai 1000 pasang gerabah. Gerabah tersebut dimasukkan ke dalam karung kemudian dibawa menggunakan truk, dengan sewa sekitar Rp 500.000. Penjualan dilakukan sekali dalam dua bulan, memang penjualan dilakukan agak lama karena beliau harus mengumpulkan gerabah terlebih dahulu, apalagi pada zaman sekarang gerabah sudah sedikit ditemukan karena tidak banyak lagi pengrajin gerabah di Galogandang. Menurut wawancara penulis dengan informan, sebagai berikut:

“Etek mambuek gerabah dan manjua iyo pulo, pariuk ko dibuek , dikumpuan sampai banyak, lah banyak beko baru di baok ka Padang. Di Padang manjuanyo indak di encer tapi dimasuak an ka toko-toko yang ado disinan”.

“Etek membuat dan menjual gerabah. Gerabah dibuat kemudian dikumpulkan sampai dalam jumlah yang banyak, setelah itu dijual ke Padang. Menjual di Padang tidak secara ecer tapi memasukkan ke toko- toko yang ada disana.

Pemasaran gerabah di Galogandang yang beragam bisa membuat gerabah bisa dikenal serta bisa menghasilkan uang kepada pengrajin, sehingga pengrajin

mendapat keuntungan yang lebih dari hasil penjualan tersebut. Penjualan yang dibawa ke daerah luar Galogandang biasanya bisa mahal ketimbang di jual di daerah Galogandang sendiri.

Keesokan hari penulis melakukan penelitian dengan tidak sengaja bertemu dengan ibu penjual gerabah. Beliau mengatakan kalau dia masih berjualan di pasar, tetapi teman-temannya tidak ada lagi, sudah banyak yang merantau dibawa oleh anak, menurut informan penulis mengatakan bahwa:

“Amak manjua pariuk ko lah dari lamo, manjuanyo ka balai-balai dilua Galogandang ko, jauh-jauh pai manjuanyo. Biasonyo amak manjua ka balai sanayan di Sungayang, balai Ju’mat di Tanjuang, amak labiah suko manjuanyo dari pado mambuek sambia manjua pulo. Bialah amak mambali ka urang habis itu pai manjuanyo karano kalau mambuek sambia manjua lamo karajonyo, karano proses mambueknyo tu lamo, jadi indak dapek- dapek pitih jadinyo. Amak manggaleh di Balai Sanayan tu dakek urang manjua pisang, pariuk tu amak baok ado banyak macam, jumlahnyo sakaruang lah ,beko dapeklah amak jubali Rp 200.000, kadang sakaruang tu lai abih kadang ado lo balabiah”.

“Amak menjual periuk ini sudah lama, menjual ke pasar- pasar di luar Galogandang, ke tempat yang jauh-jauh. Biasanya Amak menjual ke pasar Sanayan di Sungayang, pasar Ju’mat di Tanjuang, Amak lebih suka menjual dari pada membuat sambil menjualnya. Biarlah Amak membeli kepada orang lain setelah itu pergi menjualnya, karena kalau membuat sambil menjual akan membutuhkan waktu yang lama. Karena proses membuatnya itu lama, jadi tidak memperoleh uang. Amak berjualan di pasar senin dekat orang menjual pisang, Periuk itu Amak ada beberapa macam, jumlahnya satu karung, nanti dapatlah uang Rp 200.000, kadang satu karung habis, terkadang ada juga tidak habis”.5

Beliau seorang penjual gerabah yang memasarkan gerabah ke pasar-pasar tradisional, beliau melakukan pekerjaan ini sudah lama. Beliau lebih suka menjual dari pada membuat gerabah, alsannya jika membuat gerabah bakal lama untuk

5

mendapatkan uang, karena kalau membuat gerabah harus dikumpulkan baru bisa dijual. Sebagai penjual bisa membeli gerabah kepada pengrajin yang lain, kemudian membawanya ke pasar-pasar tradisional, sehingga uangnya bisa di dapatkan dengan cepat.

Dokumen terkait