• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bacaan Sejarah Sulawesi Selatan

DENGAN ORANG PAMMANA

Kepala merekah, mulut tercabik, lidah terbelintang. Maka saya minta maaf untuk menuturkan raja-raja dahulu kala, karena mereka raja-raja keturunan dari kayangan, dan lagi kita dapat kena kutuk baginda.

Tersebutlah baginda Datu Cina - moga-moga saya tidak kena kutuk — yang bernama La Aji Pammana dalam keadaan sakit payah. Maka orang-orang negeri Cina pun disuruhnya datang berkumpul, lalu baginda mengumumkan, "Ketahui olehmu, hai orang-orang negeri Cina, kami ini dalam keadaan sakit payah. Bilamana kami meninggal besok lusa, namailah negeri ini menurut nama kami. Moga-moga dapat menjadi penyambung jiwa kita sepeninggalku."

Maka orang tua-tua pun menyetujuilah hai itu. Ada dua orang matowa (pemuka) yang menerima pesan, yaitu yang per- tama Matowa Topanennungi, yang kedua Matowa Tosijang. Dua orang watampanua (pendamping raja), yaitu yang pertama Watam- pannua Toapparewek, yang kedua Watampanua Topalinrungi. Dua orang suro libate (suruhan utama), yang pertama Suroé Towa- wi, yang kedua Suroè Togeang. Tiga orang macoa su (ketua), yang pertama Macoae di Limpo Majang yang bernama Topagorok, yang kedua Macoae di Sabbamparu yang bernama Topauji, yang ketiga Macoae di Lempa-Lempa yang bernama Toappuji. Mereka itulah yang disepakati orang banyak sebagai Jenang yang me- ríerima pesan-pesan dari raja.

Tidak berapa lama sesudah berpesan itu, maka meninggallah baginda Datu yang bernama To Aji Pammana. Maka bersepakat- lah orang tua-tua mengubah nama negeri Cina menjadi "Aji Pam- mana" (disingkat Pammana). Dan setelah itu bersepakatlah orang- orang Aji Pammana menyuruh Arung Cina Rilau yang bernama La Massarasa menjalankan pemerintahan. Selama meninggalnya Datu Pammana, selama itu pula orang Aji Pammana tidak meninggal-

kan balai kerapatan, bermusyawarah mencari ahli waris yang sah sebagai pelanjut kerajaan, karena telah menjadi ketetapan negeri Pammana tidak akan merajakan orang-orang yang bukan bangsa- wan tinggi.

Dalam pada itu ada lima orang püihan bakal raja. Yang pertama Datu Baringeng, yang kedua Arung Liwu, yang ketiga Arung Timurung, yang keempat Datu Bunne, yang kelima Datu Kawerang. Pada hakekatnya hanya ada empat orang bersaudara dan bersaudara sepupu yang berhak memilih, yaitu Tuanku Topanennungi, Tuanku Tosijang, Tuanku Toapparewek, Tuanku Topalinrungi. Adapun yang disepakati keempat orang bersaudara dan bersaudara sepupu itu ialah Arung Liwu — moga-moga saya tidak kena kutuk — yang bernama Tenrilallo yang akan meng- gantikan neneknya menjadi raja. Orang tua-tua dan orang banyak pun menyetujuinya.

Maka mereka itu pun menetapkanlah hari keberangkatannya ke Liwu. Setelah tiba hari yang ditetapkan, berangkatlah mereka beriring-iringan ke liwu. Setelah sampai, mereka pun menghadap Tuanku Tenrilallo.

Berkata tuanku yang berbahagia, "Apa maksudmu sekalian, hai orang Aji Pammana, datang beriring-iringan bersanak ber- saudara, tua muda?"

Berkata Matowa Topanennungi, "Kami ini, orang Aji Pam- mana datang mempersembahkan, bahwa api telah padam dan puntung perapian telah habis di Lau Bulu. Kini kami ingin ber- naung supaya tidak kepanasan, tetapi tak ada tempat kami ber- naung. Orang Pammana takut seperti padi yang hampa karena tidak ditunggui, dan kedinginan karena tidak disehmuti. Sudah tujuh bulan sepeninggal nenekmu, sudah sekian lama pula kami tidak meninggalkan balai kerapatan. Kami mencari orang yang sederajat dengan kamu, keturunan datu, yang cinta dan kasih kepada hambanya. Yang kami tahu hanya engkau satu-satunya, tidak dua tidak tiga. Maka engkaulah yang kami harapkan menjaga kami supaya tidak hampa, menyelimuti kami supaya tidak ke- dinginan, melayangkan kami menjauh mendekat, asalkan itu tidak menyalahi adat. Engkau menenggelamkan hambamu ke dalam ke-

binasaan, kalau hambamu memang bernasib buruk, dan engkau pun memang tidak mujur. Engkau membcngun negerimu menjadi sejahtera. Engkau dianugerahi rahmat Tuhan dan iradat dari Yang Mahakuasa. Diakhiri dengan kebaikan, dan disudahi dengan ke- selamatan."

Berkata tuanku yang berbahagia dan panjang pikiran, "Hai, orang Aji Pammana, sangat besar harapanmu padaku, tetapi sangat besar pula rasa malu saya kepadamu. Kamu sangat percaya kepadaku, saya sangat senang kepadamu. Sedangkan tuan mencari budak, lagi menggembirakan, konon budak mencari tuannya, akan lebih menggembirakan. Kamu mengaku mewarisi diperintah datu, saya mengaku ahli waris kedatuan. Ketahui olehmu sekalian, bahwa orang yang dapat menjaga kita bagai menunggui padi supaya tidak hampa, dapat menyelimuti kita supaya tidak ke- dinginan, ialah orang yang mendapat karunia dari Tuhan Yang Mahaesa, dan orang yang memiliki empat macam kekuasaan. Yang pertama orang yang menguasai harta benda, yang kedua menguasai kepandaian dan kebijaksanaan dalam segala tindakan dan ucapan. Yang ketiga memiliki kekuatan jasmani untuk menjalankan pe- merintahan. Yang keempat kuasa menghimpun daña dan daya, pemurah kepada rakyatnya dan penyayang kepada sesama manusia. Orang yang demikianlah yang pantas diserahi tugas ke- datuan."

"Adapun saya ini amat miskin, tidak berkuasa lagi bodoh. Ñama saja sebagai raja, hanya karena disebut keturunan yang baik dari kayangan. Tak ada sesuatu padaku. Lalu kamu mengharapkan saya menduduki pemerintahan di negeri ini."

Orang tua-tua itu berkata, "Kursemangat, janganlah kamu menyatakan kekurangan dan kelemahanmu, karena semua itu ada di dalam kekuasaan negeri Pammana. Mengialah kamu pindah ke Pammana. Kami beri kamu makan supaya kuat, supaya kaya, dan bijaksana. Janganlah kamu tidak setuju, janganlah tidak mengia, janganlah menolak, dan janganlah menampik kebaikan yang di-

sodorkan oleh negerimu."

Berkata tuanku yang berbahagia, "Hai, orang Aji Pammana. Saya tidak menolak dan tidak menampik kata sepakat orang

Pammana. Kamu ingin diwarisi, saya ingin mewarisi. Saya tah kamu teguh memegang adat kebiasaan, dan setia pada kata se- pakat. Pammana adalah negeri yang sakti, negeri tempat keturunan raja-raja yang turun dari langit. Adapun saya ini dikelilingi orang orang yang merasa diri perkasa. Akan bagaimanalah nanti bila saya atau orang-orang sekelilingku kfrilaf melanggar adat, maka binasalah saya. Karena saya tahu benar kamu memang diperintah Datu, tetapi bukan sebarang Datu. Kamu diwarisi, tetapi tidak di wariskan. Kalau saya tidak mengikuti kemauanmu, tentulah saya diturunkan dari takhta. Akibatnya saya tidak dipercaya lag sanak saudara sesamaku. Karena orang yang tercela karena adat keturunannya pun tidak akan dipercaya lagi. Dengan demikian anak cucuku nanti tidak akan diangkat lagi jadi raja, seperti saya ini yang mewarisi kedatuan di negeri Aji Pammana."

Berkatalah orang tua-tua itu, "Hai, Tuanku, kami sangat bergembira mendengar perkataanmu. Adapun karena banyaknya sanak saudaramu, dan banyak keluargamu yang sehina semalu dengan kamu, justeru itulah yang sangat kami harapkan dari- padamu. Setujuilah permintaan kami, janganlah kamu tampik janganlah kamu tolak. Persatukanlah negeri warisanmu ini. Jangan

khawatir, apa yang telah kami janjikan akan kami tambah ter- masuk adat dan kebiasaan yang diperuntukkan bagimu di negeri ini. Patah tiang barulah diganti, habis puntung perapian dan api padam barulah kami mencari gantimu. Kamu mewariskan per- janjian kita kepada anak cucumu. Dan kami pun mewariskan pula

perjanjian dan sumpah setia kami kepada anak cucu kami."

Berkatalah tuanku Tenrilallo, "Hai, orang Aji Pammana. Permintaanmu telah terkabul. Benarlah pada pikiranmu. Tuhan telah menurunkan rahmatnya kepada saya. Baiklah saya panggil- kan para Adek (pemangku adat) negeri Liwu, supaya mereka menyaksikan perjanjian kita."

Maka dipanggillah Matowa Liwu yang bernama Tosagena, Paddanreng Liwu yang bernama Toappemanu. Tidak berapa lama datanglah Matowa dan Paddanreng tersebut.

Berkatalah tuanku yang berbahagia, "Maksud saya me- manggil engkau, hai Matowa dan Paddanreng Liwu. Setelah tuanku

yang senama dengan negerinya meninggal dunia, datanglah ke mari orang Aji Pammana. Mereka sepakat agar supaya saya yang me- warisi kerajaan tuanku yang senama dengan negerinya. Maka saya rrienerima kebaikan yang disampaikan kepada saya oleh orang tua-tua kita. Dan ketahuilah oleh kamu sekalian, orang Aji Pam- mana menambah janjinya kepada saya, patah tiang baru diganti. Mereka menambah adat dan kebiasaan untuk saya. Kelak bila puntung perapian telah habis dan api telah padam, barulah mereka mencari penggantiku. Mereka mengucapkan janji yang dikukuh- kan dengan sumpah."

Matowa Liwu berkata, "Kami sangat bergembira dan ber- bahagia melihat kedatangan sanak saudaraku orang Aji Pammana mencari bakal raja yang berasal dari keluarga keturunan raja-raja dari kayangan. Selanjutnya saya bertanya kepada Matowa, bagai- mana pula kelak kalau tiang telah patah, puntung perapian telah habis dan api telah padam di Liwu? Apakah kami pergi pula ke Pammana mencari api?"

Matowa Topanennyngi berkata, "Bukan kami saja yang berhak mencari bakal raja yang berasal dari keturunan raja-raja dari kayangan. Kamu pun demikian, asalkan hubungan keluarga tuanku yang di barat sana dengan yang di timur sini tetap berasal dari Wawo Lonrong. Akan tetapi tuanku yang di timur tidak ber- tuan kepada yang bukan bangsawan tinggi."

Matowa Liwu berkata, "Kami orang l i w u pun tídak bertuan kepada yang bukan bangsawan tinggi." Maka makin teguhlah perjanjian negeri l i w u dengan negeri Pammana. Api padam di Pammana, mereka ke Liwu mengambii api. Api padam di liwu, mereka ke Pammana mengambii api.

Tuanku Tenrilallo berkata, "Hai, orang Aji Pammana. Telah ada kata sepakat Pammana dengan Liwu. Telah terkabul ke- hendakmu. Benarlah pikiranmu itu, Tuhan telah menurunkan rahmat-Nya kepadaku. Kembalilah ke negerimu memilih hari yang baik bulan yang baik, yang kita sepakati. Lalu sampaikanlah ke mari hari bulan yang baik itu. Kita berjalan seiring sebagai tanda saling mencintai, saling mengharapkan kepada kebaikan. Kita bertemu nanti di sebelah timur Sompek, di perkampungan

lama, di lingkungan pekuburan nenekku, Manurungé ri Wawo Lonrong (yang turun dari langit di Wawo Lonrong). Di sana kita mengikat perjanjian. Dan kita persaksikan kepada Tuhan Yang Mahaesa. Saya akan mengundang sanak saudaraku, dan kamu pun mengundang pula sanak saudara senegerimu, orang yang berpilin bagai kelindan bersatu erat dengan kamu, bersatu dalam susah dan senang. Di Wawo Lonrong nanti kita baharui peijanjian kita, kita kukuhkan dengan kata sepakat."

Orang Aji Pammana menyetujui ucapan-ucapan tuanku yang berbahagia. Setelah itu orang Pammana kembalilah ke negerinya. Tujuh hari sesudah pertemuan orang Aji Pammana dengan Tuanku Tenrilallo barulah ada hari yang baik dan bulan yang baik yang di- sepakati itu. Lalu diutuslah Suroé Towawing dan Suroe Togiang menyampaikan waktu yang baik itu. Dan orang Pammana pergilah mendirikan bangsal upacara di Wawo Lonrong. Setelah bangsal upacara selesai dibangun, tiba pula hari baik yang telah mereka sepakati itu. Maka berangkatlah Watampanuaé Toapparewek mengantar orang Pammana pergi menjemput Tuanku di Liwu. Datanglah Datu dengan segala perlengkapan istana. Segala harta benda yang indah-indah dan berharga disimpan di sebelah timur Sompek, di dalam sebuah rumah yang disiapkan untuk itu. Setelah itu tuanku menyuruh sampaikan hai itu kepada keempat sanak saudaranya, yaitu Arung Timurung, Datu Kawerang, Datu Bunne, dan Datu Baringeng. Dan orang Pammana pun memberitahukan hai itu kepada kaum kerabat negeri Pammana, yaitu mereka yang bersatu berpilin bagai kelindan, dan senasib sepenanggungan dalam susah dan senang.

Setelah tiba hari yang ditentukan, orang Pammana segera- lah membangun tanah bangkalak (tempat pelantikan). Panjang tiga depa, lebar tiga depa, sepenggalah tingginya. Sembilan hari lamanya mereka berjaga-jaga di bangsal upacara. Empat ekor kerbau camara (kerbau hitam, kepala, ekor dan kakinya putih) dipotong. Maka berdatanganlah kaum keluarga kerajaan dan kaum kerabat Datu. Masing-masing menjamu tamunya menurut derajat kedudukan masing-masing. Tiga hari lamanya mereka menyabung ayam dan bermain sepak. Begitu nian kebesaran kerajaan Pamma-

na dan kemuliaan Datu. Setelah sampailah pada hari wisyaka bulan purnama, Datu pun naiklah ke atas tanah bangkalak, lalu diucapkanlah perjanjian dan adat kebiasaan yang telah melembaga di negeri itu. Watampanuaé Topalinrungi membimbing Datu duduk berhadapan dengan para Adek. Orang Timurung duduk di samping timur tanah bangkalak, orang Baringeng duduk di samping selatan tanah bangkalak, Patampanuaé duduk di samping barat tanah bangkalak, dan orang Aji Pammana duduk di samping utaranya. Watampanuaé Toapparewek, ayah La Bucu yang meng- ucapkan kata adat itu.

Kata-kata adat yang diserukan oleh Watampanuaé, "Dengar- kan olehmu, hai sekahan kaum kerabat Datu, yang berada di samping timur dan barat, di samping selatan dan utara, kaum kerabat kedua belah pihak negeri ini, akan janji Pammana kepada rajanya demi untuk kebaikan, yaitu adat kebiasaan yang telah melembaga di negeri ini."

Berkatalah Watampanuaé Toapparewek, "Hai, Matowa, keraskan suaramu mengucapkan janji kepada Datu, supaya ter- dengar oleh mereka yang belum mendengarnya, dan supaya di- ketahui oleh mereka yang belum mengetahuinya!"

Adapun janji yang mula-mula diserukan oleh Matowa Topa- nennungi di atas tanah bangkalak berbunyi, "Hai, Sang Pemberi Perintah, langit menyetujuimu, bumi membenarkanmu, Tuhan Pencipta Alam memperhatikanmu, Tuhan Yang Mahakuasa me- rahmatimu, dan atas kehendak-Nya kamu mewarisi kemuliaan nenekmu, kamu menerima kedatuan Pammana, kamu menjaga kami bagaikan menjaga padi supaya tidak hampa, kamu menyeli- muti kami supaya tidak kedinginan, engkau kami pertuan, kami engkau perhamba, kami penuhi seruanmu, kami jawab panggilan- mu, kami memenuhi undanganmu, kami laksanakan perintahmu, asalkan itu sesuai dengan adat kebiasaan, engkau laksanakan angin dan kami laksanakan daun kering, ke mana kamu bertiup, ke sana kami melayang, sesuai dengan adat kebiasaan. Di bukit-bukit kamu berdiri, di bukit-bukit kami mengelilingimu, di lembah- lembah kamu berdiri, di lembah-lembah kami mengelilingimu, sesuai dengan adat kebiasaan. Engkau bawa rakyatmu ke dalam

susah dan senang, asalkan itu sesuai dengan adat kebiasaan. Engkau layangkan rakyatmu jauh dekat, asalkan itu sesuai dengan adat kebiasaan. Engkau tenggelamkan rakyatmu ke dalam ke- binasaan atau engkau mengangkat mereka ke alam kesejahteraan, asalkan sesuai dengan adat kebiasaan. Engkau maharaja tunggal di negerimu. Engkau tidur lelap semaumu, hanya Adek yang dapat membangunkan kamu.

Selanjutnya kita berjanji, engkau tidak akan berlaku se- wenang-wenang kepada rakyat. Adat negeri kita tidak membenar- kan saling mendustai antara hamba dengan tuannya, tidak saling membuka kesalahan masing-masing.

Selanjutnya kita berjanji, engkau tidak menakut-nakuti rakyatmu, engkau tidak menyiksa rakyatmu, engkau tidak meng- ancam dan tidak mendendam kepada rakyatmu.

Kita berjanji juga, engkau tidak menggalikan lubang rakyat- mu, engkau tidak menyembunyikan jalan bagi rakyatmu. Kami pun tidak menutup jalan bagimu. Engkau Datu tunggal di negeri- mu. Kami tidak menghalang-halangi kamu di dalam kedatuanmu. Engkau persilakan, kami masuk; engkau tegah, kami keluar. Asalkan itu sepengetahuan Adek. Karena segala perkara di negeri Pammana besar kecil, semuanya adalah wewenang Adek.

Kita berjanji juga, engkau tidak saling merebut wewenang dengan para Adek, engkau tidak saling menghalang-halangi me- lakukan adat kebiasaan yang telah melembaga. Engkau tak usah tahu dan tak usah khawatir apa yang telah dijanjikan kepadamu oleh adat kebiasaan negerimu. Engkau tahu adanya saja, yang tidak ada di luar tahumu. Engkau boleh tidur lelap semaumu dalam kebesaranmu.

Adapun yang menjadi hak kebesaranmu ada empat macam. Pertama kami bangun istana untukmu, kedua kami mengusahakan pertanian untukmu, ketiga kami menjadi pengiringmu yang di- biayai, keempat kami akan mempersuamikan engkau atas biaya kami bersama.

Ada enam sumber penghasilan kerajaanmu. Pertama orang yang jelas-jelas menipu didenda dua real. Kedüa orang yang tidak melakukan perintah Adek didenda empat real satu suku bagi orang

bangsawan, dua real satu tali bagi orang kebanyakan. Ketiga orang yang melakukan pelanggaran adat kebiasaan didenda 10 real, baik bagi orang bangsawan maupun orang kebanyakan. Keempat orang yang jelas-jelas merombak adat dan perjanjian, dirampas segala harta bendanya, baik milik sendiri maupun milik keluarga- nya. Keenam orang yang padanya kedapatan barang curian, di- rampas harta bendanya bersama harta benda orang serumahnya dan harta benda orang yang bersekutu dengan dia. Tetapi anak- anak yang belum lepas menyusu dan anak-anak orang merdeka yang sudah jelas mengikuti ayah atau ibunya tidak boleh dirampas hartanya.

Kita berjanji juga, engkau tidak akan mengambil sendiri barang sesuatu karena kedatuanmu. Setelah kami berikan barulah kauambil, setelah kami suapkan barulah kaumakan. Makanan yang matang sekali pun, kalau kauambil sendiri, mentah juga nama- nya. Namun makanan itu mentah, kalau Adek yang menyuapkan, matang juga namanya. Kami memeriksa duri dan tulang-tulang makananmu, supaya engkau tidak mati ketulangan. Kami me- ngipasimu supaya engkau tidak mati kepanasan. Begitulah yang menjadi kemuliaan dan kebesaranmu menurut adat yang telah melembaga. Kami menjaga kamu siang malam.

Adapun adat kebiasaan yang telah melembaga di negeri ini ada empat macam. Yang pertama kalau seseorang meninggal dunia, lalu keluarganya menyembelih kerbau, paha kerbau itu di- persembahkan kepada Datu bagi keluarga orang merdeka. Bagi keluarga orang bangsawan mempersembahkan daging yang telah dimasak. Yang kedua kami memberikan hasil pertanian apa pun yang kami peroleh. Yang ketiga kami mencarikan kamu ikan di danau sekali setahun. Yang keempat kami berburu ke hutan untukmu sekali setahun.

Adapun hak kemerdekaan orang Pammana yang dikukuhkan oleh adat empat macam juga. Yang pertama engkau merajai mereka, namun tidak bersimaharajalela atas mereka. Yang kedua engkau mewarisi mereka, namun engkau tidak mewariskan mereka. Artinya engkau kami rajakan karena adat, dan kami berhamba kepadamu juga karena adat. Yang ketiga bagai kerbau

yang meringkuk tidak diusik-usik, ke mana pun kami pergi tidak dihalang-halangi. Yang keempat engkau tidak menghalangi kami mengadakan persepakatan antara sesama orang merdeka. Pintu Pammana terbuka bagi mereka untuk keluar, tetapi juga terbuka untuk masuk. Kaki mereka yang membawanya keluar, kaki mereka yang membawanya masuk.

Selanjutnya kita berjanji, kelak kalau api telah padam, pun- tung perapian telah habis, tiang telah patah, barulah kami mencari penggantimu, yang kami pilih dari ahli warismu. Kelak yang akan diangkat jadi raja, hanyalah orang yang dapat meneruskan kebesar- an kedatuanmu, dan yang dapat memakmurkan kerajaanmu.

Kita berjanji pula, kita bersatu erat-erat, berpilin bagai ke- lindan, antara tuan dengan hamba tidak saling mencurigai. Tuan mengakui hambanya, hamba mengakui tuannya. Kalau tuan yang beroleh kebaikan, ia mencari hambanya; kalau hamba yang ber

roleh kebaikan, ia mencari tuannya.

Kita berjanji juga, engkau dengan Adek rebah saling me- negakkan, hanyut saling mendamparkan, khilaf saling mem- peringati dan saling menerima peringatan, ber ka ta saling mem- percayai. Datu percaya akan ucapan Adek, Adek percaya akan ucapan Datu. Dan bila Datu dengan Adek saling berbuat kekeliru- an, hendaklah sama-sama mengusut kembali sampai berbaik.

Adapun yang menyatakan bahwa kami adalah hamba Datu, ialah bila engkau membenarkan kami dalam kebenaran dan engkau menuntun kami kepada jalan keselamatan.

Adapun kemerdekaan orang Pammana ditandai empat hal. Yang pertama engkau tidak menghalangi sesama rakyat merdeka mengikat perjanjian. Yang kedua engkau tidak menghalangi rakyat merdeka mengadakan persepakatan sesamanya. Yang ketiga tidak dirampas harta pusakanya. Keempat tidak dirugikan dalam berjual beli, namun tidak menarik keuntungan daripadamu.

Sebagai tanda pengabdian diri orang Pammana kepada raja, ialah kalau Datu dalam peristiwa senang atau pun susah dan harus menyembelih hewan, maka pintu kandang hewan mereka terbuka bagimu. Kalau kerbau peliharaan harganya empat real. Kalau kerbau belian, wang pembelinya digantikan. Bila tidak ada kerbau

pada orang banyak, maka orang-orang bangsawanlah yang menye- diakannya. Kerbau peliharaan orang bangsawan harganya satu tahil. Kalau kerbau belian, wang pembelinya pun digantikan.

Dengarkan pula, hai sanak saudara Datu serta sanak saudara kerajaan Pammana, kamu sekalian saksikanlah akan segala per- janjian Pammana yang telah meiern baga sejak dahulu kala. Tidak

saling mendustai antara tuan dengan hambanya. Tidak saling ber- pura-pura, dan tidak saling menyalahi janji dalam perkara yang benar.

Engkau adalah maharaja tunggal dalam kerajaanmu. Kelak kalau api telah padam, puntung perapian telah habis, tiang telah patah, barulah dicari gantinya. Putus tah pengikat kuk, patah kuk di tengkuk kerbau, tidak saling mencurigai antara tuan dengan hamba sahaya sekali pun. Tuan mengakui hambanya, hamba mengakui tuannya. Bila tuan memperoleh kebaikan, ia mencari hambanya; bila hamba yang memperoleh kebaikan, ia mencari