• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETIKA ARUNG PALAKKA DIBURU OLEH RAJA GOWA

Bacaan Sejarah Sulawesi Selatan

KETIKA ARUNG PALAKKA DIBURU OLEH RAJA GOWA

Setelah 17 t-ahun lamanya sesudah kekalahan Pasémpe, dan sudah selama itu pula Tóbala, ñama sebenarnya Tenripakalaingi menjabat Wakil Raja Gowa di Bone, Tosenngeng yang jadi Arung Matowa di Wajo, dan La Tenribali jadi Datu di Soppeng Riaja. Tersebutlah Tóbala bersama-sama dengan Arung Pitué (Menteri Kerajaan Bone) beserta orang Bone pergi ke Mampu mengajak Datu Soppeng mempersaudarakan kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng. Mereka menjanjikan suatu kebajikan, yang disaksikan oleh Dewata Yang Mahaesa. Maka Datu Soppeng, Arung Bila, dan Wé Dimang menyetujui ajakan Tóbala itu. Mereka setuju karena Datu Mario (Arung Palaka) berkata kepada Datu Soppeng, "Tuan- ku, berjanjilah dengan orang Bone! Biarlah saya berdua dengan abangku Arung Bila yang menanggungkan beban ini. Karena Arung Bila adalah saudara dua pupu Arung Palakka, jadi senama saja keduanya."

Kita beralih kepada ceritera lain. Inilah ceritera tentang pertemuan Tuanku di Soppeng, Arung Tojpala, Arung Pitué, dan orang Bone di Attapang.

Tóbala berkata kepada Arung Mampu, ayahanda Datu Sop- peng, "Adapun maksud kedatangan kami kepada anakku Datu Soppeng, ialah menyampaikan kata sepakat kami seluruh orang Bone. Kami ingin mempersaudarakan kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng, bagai tali tersimpul mati, bergenggaman erat- erat, bergerak maju bergandengan, tegak sama berdampingan, membangkitkan keberanian Bone dan Soppeng menantang Raja Gowa dengan tombak dan perisai kerajaan. Sama lebur sama bina- sa, sama mujur sama beruntung."

Berkatalah Datu Soppeng kepada Arung Bila, Amanna Wé Dimang, "Kakanda, kita buat perjanjian dengan Bone!"

Arung Bila berkata, "Asalkan nanti orang Bone tidak me- nyalahi janji sampai kepada anak cucu kita, kita bersedia meng- ikat perjanjian dengan Bone. Karena sesungguhnya Soppeng belum sanggup menyalahi janjinya kepada Raja Gowa, apa lagi Raja

Gowa tidak pernah berlaku curang kepada kerajaan Soppeng." Berkatalah Tuanku di Mampu, ayahanda Datu Soppeng, "Hai, La Tenribali, jangan tergesa-gesa mengikat janji dengan Tóbala. Karena sedangkan Mampu tidak mau menurut kepada Arung Bila, apa lagi Soppeng."

Datu Soppeng berkata, "Tuanku, bukankah Arumpone ber- sanak saudara dengan Datu Soppeng, kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng!"

Berkata pula Tuanku di Mampu, "Saya tahu itu. Saya ber- kata demikian, karena kerajaan Bone sudah tenggelam. Raja Gowa dengan Raja Bone sudah sering saling mengingkari janji. Namun Raja Gowa tidak pernah menyalahi janji kepada Soppeng. Juga tidak pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan Soppeng sampai kepada Tuanku Puang Risamang. Sedangkan sejak nenekmu membentuk persekutuan Tellumpoc- coe (Tiga Besar) dengan mengikat perjanjian di Timurung, Raja Gowa tidak pernah menegur kerajaan Soppeng, karena beliau tetap menghormati adat kebiasaan negeri kita. Untunglah kalau Bone nanti memperoleh kebajikan, lalu teringat juga olehnya akan janjinya kepada kita."

Berkatalah Tóbala, Arung Tibojong, Arung Ujung, dan Arung Táñete, "Itulah yang kami persaksikan kepada Dewata Yang Esa, kalau kita nanti berhasil melawan Raja Gowa, lalu Bone dan Soppeng memperoleh kemakmuran, dan Bone lupa akan perjan- jian kita di Attapang, maka orang Bone beserta anak-anak cucu- nya kelak akan hancur binasa."

Berkatalah Arung Bila, Amanna Daeng Mabela, "Dengarkan olehmu, hai Tóbala serta orang Bone sekalian, kerajaan Soppeng memegang erat-erat perjanjian kita. Perjanjian yang kita sepakati dengan orang Bone di Attapang, yang disaksikan oleh Dewata Yang Esa, yaitu kita melawan Raja Gowa! Kita saling mencarikan kebajikan. Kalau kita nanti berhasil melawan Raja Gowa, lalu Bone dan Soppeng memperoleh kemakmuran, maka Bone dan Soppeng hidup sederajat. Negeri kita bersaudara dan sama besar, yang satu tidak membawahkan yang lain. Sama-sama abdi Dewata. Sama-sama bebas berjalan, sama-sama bebas tinggal sekehendak

hati masing-masing. Tidak saling mencarikan kebinasaan, tidak saling memandang remeh, tidak saling merebut hak milik masing- masing, tidak saling merusak karya masing-masing, dan tidak saling melanggar kekuasaan. Tidak saling memaksakan adat ke- biasaan masing-masing, saling menghormati adat kebiasaan masing- masing, dan masing-masing berjalan di atas garis ketentuan negeri- nya. Tidak saling menunggu kelengahan, dan tidak saling memper- dayakan. Saling mencarikan milik kita yang hilang, saling me- mulihkan harta kepunyaan masing-masing. Kalau Bone khilaf dan menginginkan harta yang banyak kepunyaan Soppeng, Bone harus memperingati dirinya sendiri. Bila Soppeng yang khilaf dan menginginkan harta yang banyak kepunyaan Bone, Soppeng harus memperingati dirinya sendiri. Barang siapa yang tidak mau memperingati dirinya sendiri, ia akan dibinasakan oleh Dewata." Berkatalah Matinroé ri Datunna (La Tenribali), "Ada dua hal yang dapat memisahkan persaudaraan Bone dengan Soppeng. Yang pertama ialah kalau Dewata memberikan kemenangan kepada Bone dan Soppeng, dan kedua kerajaan itu beroleh kemakmuran, lalu Bone lupa akan janjinya dan memaksakan kehendaknya yang bertentangan dengan adat kebiasaan Soppeng, maka pecahlah per- saudaraan kita, karena mereka tidak lagi memandang Soppeng sebagai negeri yang telah diredai oleh Dewata Yang Esa. Yang kedua bila Soppeng sudah lemah. Maka untuk kelangsungan hidup- nya, Soppeng harus berpisah dengan saudaranya, sesuatu hal yang tak dapat kita sesalkan. Dewata yang memisahkan kita, demi kebaikan negeri kita."

Maka Tóbala, Arung Pitué serta orang-orang Bone itu pun menyetujui hal tersebut. Maka jadilah Arung Bila membuat per- janjian dengan Tóbala di Attapang. Perjanjian Bone dengan Sop-

peng itu disebut Péncara Lopié ri Attapang (Ikrar Perahu Tambang di Attapang).

Kita beralih kepada ceritera lain. Setelah selesai sembahyang lohor, maka Raja Soppeng Matinroé ri Datunna berangkat ke Soppeng. Tiga malam dalam perjalanan, barulah tiba di Soppeng. Sekembali dari Attapang, Matinroé ri Datunna mengadakan per- temuan dengan Arung Pangépak (Menteri Kerajaan), Arung Pad-

danrenge (Pendamping Raja), Wanglipue (Menteri Pertama), Pabbicaraé (Hakim Pengadilan), Tana Sitolo dan raja-raja bawah- an.

Berkatalah Arung Bila, Amanna Wé Dimang, "Apa pikiran orang Soppeng sekalian, orang-orang besar, dan Watanglipu ten- tang kedatangan Tóbala bersama Arung Pitue dan orang-orang Bone ke Mampu mengajak Datu Soppeng mempersaudarakan kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng. Mereka menjanjikan kebaikan kepada kita, yang dipersaksikan kepada Dewata Yang Esa, mereka membangkitkan keberanian untuk melawan, kita sama tegak maju berdampingan, menantang orang Makassar dengan tombak dan perisai kerajaan. Sama lebur sama binasa, sama mujur sama beruntung. Apakah kita setujui?"

Berkatalah Arung Pangepak-é, Arung Paddanrengé, Watang lipue, Pabbicaraé, Tau Tongengé (orang-orang besar), "Sekiranya Bone datang ke Soppeng menyampaikan maksudnya, kami akan kemukakan alasan Soppeng. Karena sesungguhnya Soppeng belum sanggup menyalahi janjinya kepada Raja Gowa, apa lagi Raja Gowa tidak pernah berlaku curang kepada kerajaan Soppeng. Juga tidak pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan negeri kita, sampai kepada Raja Soppeng dahulu. Da. ketahuilah orang Bone itu kuat kuasa. Sedangkan kepada Raja Gowa mereka berani menyalahi janji, apa lagi kepada kita yang lemah."

Berkatalah Arung Bila, Amanna Daeng Mabela, To Angke, "Kalau orang Bone kelak mengingkari janji yang telah kita se- pakati, yang disampaikan oleh Tóbala di Attapang, itu berarti mereka tidak lagi menghormati Soppeng sebagai negeri yang di- redai oleh Dewata Yang Esa, dan bukan pula Soppeng yang akan dibinasakan oleh Dewata."

Berkatalah Tau Tongenge, Arung Pangepak-é, Arung Pad- danrengé, "Binasalah kerajaan Soppeng, kalau engkau bersama Datu tergesa-gesa mengikut perkataan Tóbala. Karena dengan demikian berarti kamu mengingkari Singkerruk Ceppana (Ikatan Perjanjian) Tuanku Puang Risamang dengan Raja Gowa di Mallege. Gowa tidak memandang remah Soppeng, tidak akan membawa

masuk adat yang tak sesuai dengan adat kebiasaan Soppeng, yaitu adat kebiasaan dahulu kala yang dipelihara oleh Ponglipué (Datu Soppeng). Karena yang sangat kita takutkah ialah pesan Tuanku Matinroé ri Tanana (raja yang meninggal dalam kerajaan- nya) yang mengatakan bahwa akan hancur binasa anak cucu Arung Mangkaué (raja besar) yang mengingkari janjinya kepada sesama- nya raja. Adapun orang Bone kalau pun sekarang belum menyalahi janjinya, lihatlah nanti pada turunan berikutnya. Mereka akan

menyalahi janjinya pada turunan ketiga, atau pada turunan ke- empat. Orang yang kuat kuasa tidak takut kepada Dewata."

Berkatalah pamanda Babaé, "Mudah saja penyelesaiannya bagi orang yang mengingkari janji. Dengan bertudungkan perisai berselempangkan keris dan tombak, kita amuk dia tanpa peduli!"

Berkatalah Tau Tongengé, "Siapa bertudungkan perisai siapa bercerai kepala dengan badannya. Siapa mengamuk siapa kena tikam. Kalau demikian hancurlah Soppeng!"

Inilah asal muía keruntuhan kerajaan Soppeng, yang di- hancurkan oleh Tóbala. Bone memasang jebak yang berselubung dengan janji-janji dan harapan yang baik kepada Soppeng, lalu Soppeng mempercayainya. Dengan demikian tanpa musyawarah dengan para Pangepak, Paddanreng, Watanglipu, Pabbicara, Datu Soppeng meninggalkan perjanjiannya dengan Raja Gowa, yang intinya: Gowa tidak akan memaksakan adat yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan Soppeng dahulu. Namun demikian, karena mengharap janji-janji yang baik, akhirnya Datu Soppeng menye- tujui mengikat perjanjian dengan Bone di Attapang.

Itulah sebabnya para Pangepak, Paddanreng, Watanglipu, Pabbicara merasa tidak ikut bertanggung jawab, karena pada hakekatnya Matinroé ri Datunna sendiri tidak berwenang berbuat demikian.

Raja Gowa tahu sebab kejadian itu, yaitu pada saat Datu Soppeng datang mengunjungi orang tuanya di Mampu. Dengan tidak memberitahukan orang Soppeng, Tóbala bersama Arung Pitué serta orang Bone pergi ke Mampu mengajak Datu Soppeng mempersaudarakan kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng. Itu- lah sebab Raja Gowa segera datang menyerang Lamuru untuk

memperingatkan Soppeng dan menghukum Tobala.

Tidak lama datanglah utusan Bone menyampaikan kepada Datu Soppeng, "Sekarang Raja Gowa sudah ada di Lamuru. Mari kita menyerang mereka! Tujuh hari lagi jatuhnya pernyataan perang Bone." Hari jatuh itu tiba pada saat pasukan Bone sedang berada di Matango dalam perjalanan ke Lamuru.

Pada hari yang ditentukan, berangkatlah pasukan Soppeng ke Lamuru. Setiba di Lupperencongaé, mereka mengatur per- tahanan dan mengibarkan panji perang Bakkae di sebelah selatan Wawowai.

Belum lagi lepas lelah pada waktu lohor, datanglah utusan Raja Gowa, berkata, "Hai, Arung Bila! Saya dititahkan Raja Gowa menyampaikan kepada Datu Soppeng bersama rakyatnya, kem- balilah ke negerimu, makan dan minum semaumu. Darahmu tidak keluar, kalau bukan karena lintah, jiwamu tidak melayang, kalau bukan karena Dewata, engkau hidup dalam ketenteraman dan kemuliaanmu, karena tidak ada perselisihan antara kita. Kami hanya mengejar Tobala, karena ia telah membelok. Kami kejar sampai tertangkap."

Berkatalah Arung Bila, Amanna Wé Dimang, "Raja Gowa mengatakan bahwa tak ada perselisihan Soppeng dengan Gowa. Kami ini pun datang berjaga-jaga di perbatasan negeri kami untuk menunjukkan kesetiakawanan kepada saudara kami, seperti yang tersebut dalam perjanjian Tellumpoccoé (Tiga Besar) di Timu- rung."

Maka marahlah Datu Soppeng Matinroé ri Datunna, lalu berkata, "Hai, Suruhan Gowa, pulanglah! Begitulah janji per- saudaraan kami dengan Bone."

Suruhan itu pun kembalilah.

Raja Gowa berkata, "Celakalah Soppeng. Seolah-olah ia dibukakan peti mayat, dan dengan mendengar janji-janji yang mulük menyuruklah ia ke dalamnya. Dalam waktu yang tidak lama, pastilah Bone meninggalkan Soppeng sendirian, karena orang Bone tidak takut kepada Dewata, dan akhirnya Soppeng akan dicampakkannya."

orang Bila tewas. La Panyanya dapat direbut musuh. Sisa dua buah panji perang Arung Bila yang belum direbut musuh. Raja Gowa kemudian dikepung oleh pasukan Bone dan Soppeng. Raja Gowa dalam bahaya. Kemudian datanglah pasukan Wajo menyerang Soppeng. Maka bahklah orang Soppeng bertempur melawan orang Wajo. Orang Soppeng kalah, lalu menyerah. Arung Bila anak ber- anak berangkat meninggalkan Soppeng. Wé Dimang pergi ke Let- tak. Daeng Mabela Toangke menyingkir ke arah timur. Mereka bersama ayah bundanya ditemani oleh Arung Apanang. Orang Angke juga pergi meninggalkan Soppeng. Orang Bone menarik diri dan meninggalkan medan perang.

Orang Wajo bersama-sama dengan Raja Gowa pergi me- nyerang Bone. Tóbala akhirnya mati dipenggal. Peristiwa itu ter- kenal dengan Betaé ri Tóbala (Kekalahan Tóbala). Namun Arung Palakka yang bernama Tounruk masih bersedia meneruskan per- lawanan. Arung Palakka berkata, "Perang kita sudah selesai, Karaeng, tetapi perang saya dengan orang Wajo belum selesai! Kembalilah, Karaeng, saya akan menyusul kemudian!"

Selang beberapa lama kemudian. Arung Palakka bersama dengan orang Bone kembali mengajak Soppeng mempersiapkan perang melawan Wajo. Raja-raja dan para bangsawan Soppeng tidak ada lagi yang mau ikut. Hanya orang-orang pemberani yang bersedia ikut menemaninya.

Satu tahun sesudah Tóbala mati terbunuh, Arung Palakka bangkit meneruskan perlawanan. Orang Bone dan orang Soppeng menyerang Wajo. Pasukan Wajo bertemu dengan pasukan Bone dan Soppeng di Sarasa. Dalam pertempuran itu pasukan Wajo dapat dikalahkan. Maka orang Wajo menyingkir ke Kera di Mawoi- wa. Lalu Wajo dibakar oleh pasukan Bone dan Soppeng. Setelah itu pasukan Soppeng kembah ke negerinya. Pasukan Bone be- rangkat ke daerah-daerah sebelah barat.

Maka bertemulah pasukan Bone dengan pasukan Makassar (Gowa) di sebelah utara hutan lebat di perbatasan Paria dengan Ladakka. Pasukan Bone lalu berpindah ke negeri Lisu. Di Lisu bertemu lagi kedua pasukan itu, lalu bertempur. Pasukan Bone hampir semua tewas, sedang Arung Palakka sendiri dalam keada-

an bahaya. Esok paginya Arung Palakka segera menyingkir masuk gua batu di Maruala, di sebelah timur Lisu. Hanya karena tipu muslihat orang Tanete, maka Arung Palakka tidak tertangkap musuh, karena orang Tanete masih mengingat adanya perjanjian persahabatan terdahulu Datu Mario yang, bernama La Makkaterru digelar Karaeng Enjeng dengan Raja Tanete yang bernama La Marnala digelar Daeng Lempa.

Selang tiga hari Datu Mario (Arung Palakka) di Maruala, lewat tengah hari tiba-tiba ia jatuh pingsan. Para pengiringnya bingung melihat beliau seperti orang kemasukan. Maka datanglah suruhan Pabbicara Tanete membawakan beras, dan berkata, "Tinggalkanlah Maruala nanti malam. Orang-orang Palluddaé yang akan menjadi penunjuk jalan bagimu. Kalau malam nanti belum juga kautinggalkan tempat ini, besok tak ada kemungkinan lagi untuk lepas, karena pasukan Gowa sudah tiba di Lisu. Besok pasti mereka menyerang ke mari."

Malam harinya turunlah hujan dan angin topan. Berangkat- lah Datu Mario meninggalkan Maruala. Malam itu beliau diantar oleh orang-orang dari Palluddaé. Datu Mario dengan para peng- iringnya dapat terlepas dari bahaya maut berkat tipu muslihat orang Tanete, dan yang selalu mengantarkan makanan selama dalam persembunyian.

Esok paginya beliau tiba di Uaé Pelleng. Kemanakan Babaé berkata kepada Datu Mario, "Cepat-cepat berangkat ke Wum- pungeng! Musuh sudah dekat, biar saya yang menunggu di sini untuk mengamuk."

Setelah itu Arung Palakka masuk ke hutan mengikuti jalan ke Wumpungeng. Setelah tiba di Sokkangeng Tedongè, jalan men- daki ke Wumpungeng, kemanakan Babaé bersama tujuh orang temannya termasuk seorang pembantunya mati dipenggal musuh.

Selang tiga hari Datu Mario berada di Kaddene, datanglah suruhan Raja Gowa di Soppeng, berkata, "Hai, orang Soppeng, kiranya Datu Mario masuk ke Wumpungeng! Cari sampai ter- tangkap dan bawa kepada Raja Gowa!"

Arung Wumpungeng berkata kepada Datu Mario, "Lebih baik Tuanku berpindah tempat ke daerah Barru. Dengan demikian

dapatlah nanti saya mengangkat sumpah menyatakan, bahwa Tuanku benar-benar tidak ada di Wumpungeng!"

Setelah itu berangkatlah Arung Palakka ke Liang Titti. Arung Wumpungeng dipanggil pergi menemui suruhan Raja Gowa di Soppeng.

Suruhan Gowa berkata, "Arung Palakka sekarang ada di Wumpungeng?"

Arung Wumpungeng menjawab, "Arung Palakka tidak ada di Wumpungeng sekarang."

Suruhan Raja Gowa berkata, "Yang jelas Arung Palakka pergi ke Wumpungeng setelah berhasil melepaskan diri tadi malam dari Maruala. la tidak tertangkap besoknya, karena ada beberapa orang sanak saudaranya dan seorang pembantunya yang bersedia menjadi umpan peluru di Uaé Pelleng."

Arung Wumpungeng berkata, "Kami tidak menyangkal hal itu, dia mencari jalan sendiri."

Suruhan Raja Gowa berkata, "Nah, ke mana dia sekarang, hal Arung Wumpungeng?"

Arung Wumpungeng menjawab, "Kami tidak tahu ke mana lagi perginya. Dia menghilang ke arah timur melalui Gattareng." Berkatalah suruhan Gowa, "Bersumpahlah demi negerimu, bahwa Arung Palakka benar-benar tidak ada di Wumpungeng!"

Berkatalah Arung Wumpungeng, "Saya bersumpah demi negeriku, sesungguhnya Arung Palakka tidak ada di Wumpungeng pada hari ini, entahlah besok atau lusa."

Setelah itu kembalilah suruhan Raja Gowa melaporkan tugas yang disuruhkan padanya itu.

Sejak Datu Mario dalam pelarian itu, beliau tidak pernah lagi datang ke Mario dan Soppeng. Beliau tetap tinggal di Wum- pungeng. Pada waktu malam hari barulah ada kebebasan bergerak. Akhirnya beliau berangkat ke Bone. Oleh karena itulah beliau menanam pohon beringin di Wumpungeng dan bernazar hendak menyembelih kerbau.

Dalam pada itu Datu Mario bersama dengan Datu Citta, Arung Apanang, dan Arung Bila mengadakan pertemuan di Ponna Cuce, di sebelah timur Pole Lolo. Mereka berempat bersama-sama

mengucapkan janji dan sumpah setia. Dan sama-sarna hendak berlayar ke pulau Jawa, karena mereka berempat pasti dibunuh kalau kedapatan oleh Raja Gowa.

Setelah itu Arung Palakka pergi menemui Datu Soppeng. Arung Palakka berkata kepada Datu Soppeng, "Adapun saya ini tak ada lagi bumi tempatku berpjjak di Tanah Bugis. Karena tak ada lagi orang Bone yang setia, dan tak ada lagi yang mau melawan musuh. Mereka mengira dirinya hanya untuk dijadikan perisai belaka. Oleh sebab itu berikanlah saya emas kepunyaan Soppeng untuk bekal ke Jawa. Orang Soppeng harus menean ke- baikan dirinya sendiri."

Datu Soppeng Matinroé ri Datunna bertanya, "Siapa di antara sanak saudaramu orang Soppeng yang mau menemani- mu?"

Datu Mario berkata, "Kakanda Arung Apanang, kemanakan- da Arung Bila, dan iparku Datu Citta. Karena kakanda Amanna Wé Dimang sudah berangkat ke Lettak. Saya tidak dapat me- nemuinya lagi." Datu Mario memperoleh lima macam perangkat perhiasan yang terbuat dari emas. Ada 100 kati beratnya emas kepunyaan Soppeng Riaja yang diberikan kepada Arung Palakka untuk bekal ke pulau Jawa.

Berkatalah Datu Soppeng Matinroé ri Datunna kepada Datu Mario, "Emas itu ialah pusaka kita dari Tuanku La Pawi- seang, yang membuatkan Tuanku La Pasamnoi semacam benda- benda mainan."

Berkatalah Arung Palakka kepada Datu Soppeng, "Saya sampaikan pula kepada Tuanku, bahwa saya tidak memperoleh emas dari daerah lain, karena hampir habis dirampas oleh pasukan Makassar. Hanya dari Mario saya memperoleh emas 20 kati."

Malam berikutnya Arung Palakka berangkat ke Bone. Selang semalam datang pula Arung Apanang, Datu Citta, dan Arung Bila menemui Datu Soppeng.

Berkatalah Daeng Mabela kepada Datu Soppeng, "Tidak cukup 100 orang dari Soppeng Riaja yang menemani saya. Lebih banyak orang yang menemani kakak kita yang pergi ke Lettak." Daeng Mabela berkata lagi, "Adapun kakanda Wé Dimang

saya antar ke Mampu. Karena ibunda pun ada juga di sana."

Berkatalah Datu Soppeng kepada Arung Bila, "Sekali pun mukamu sampai terbentur di pinggir langit, jangan berpisah dengan Datu Mario. Jangan juga kembali ke Tanah Bugis sebelum kauperoleh orang yang sanggup melawan Raja Gowa!"

Setelah itu mereka itu memperoleh juga emas. Malam itu juga Arung Bila, Arung Apanang, dan Datu Citta berangkat mening- galkan Soppeng. Selang 10 hari setelah keberangkatan Arung Bila, Arung Apanang, dan Datu Citta meninggalkan Soppeng, maka datanglah Raja Gowa bersama pasukan Wajo menean orang- orang yang masih melawan di Soppeng. Orang Soppeng dapat dikalahkan. Maka Datu Soppeng bersama anak isterinya ber- kumpul di Lamangile bersama dengan penduduk di sana.

Setelah Arung Berru Rilau mengetahui bahwa Datu Soppeng akan dipenggal kepalanya di istananya, bergegas-gegaslah Arung Berru Rilau pergi duduk di tangga istana. Behau berteman empat orang pangeran yang pemberani.

Raja Gowa berkata, "Biarlah kita pancung Datu Soppeng!" Karaeng Karunrung berkata, "Kita telah menerima sumpah setia Datu Soppeng. Apa lagi Arung Berru Rilau sekarang ada duduk di tangga istana."

Karaeng Katapang berkata, "Kita serang dia!"

Berkatalah Karaeng Karunrung, "Kalau mereka tak bersedia dijadikan tawanan perang."

Orang Soppeng pun ditanyailah. Mereka bersedia dibawa ke Gowa. Barulah Raja Gowa bersama pasukan Wajo pergi menye- rang Bone. Bone dapat dikalahkan. Setelah itu, orang Bone, orang Wajo, dan Raja Gowa mengejar Arung Palakka ke Pallette. Arung