• Tidak ada hasil yang ditemukan

fertilizers dan beranggotakan 6 dokumen. Jenis tumbuhan Enterolobium cyclocarp (sengon buto) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang dipakai

dalam kegiatan bioremediasi lahan (tanah) dan perairan yang tercemar logam berat (merkuri) dan sianida. Jenis ini mewakili jenis tanaman lainnya untuk fungsi bioremediasi lahan, selain tanaman sentro (Centrosema pubescens) dan Jati super (Tectona grandis). Adapun hubungan antara kedua faset ini (Enterolobium

cyclocarpum dan organic fertilizers) adalah pada saat proses bioremediasi

(pemulihan lahan), kompos organik yang sudah dicampur tanah dari penambangan emas dan yang sudah diberi inokulan mikroba (misalnya bakteri

pendegradasi sianida) dijadikan sebagai media tumbuh tanaman sengon buto, hasilnya diukur pertumbuhannya beserta kandungan kadar logam beratnya.

Terakhir adalah Gugus V adalah gugus terbesar dokumen hasil kegiatan penelitian pada tahun 2006 (yang dirangkum dalam Laporan Teknik tahun 2007). Gugus ini memiliki subjek Java, national parks, lowland areas. Subjek mengenai Pulau Jawa, taman nasional dan kawasan hutan dataran rendah menjadi subjek yang dominan di gugus ini disebabkan karena di tahun 2006 ini terdapat kelompok penelitian tentang valuasi keanekaragaman jenis biota dan fungsi ekosistem hutan dataran rendah Bodogol di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Kelompok penelitian ini menghasilkan banyak sekali kegiatan penelitian dan dituangkan dalam laporan teknik. Disamping itu, ada kegiatan di luar kelompok ini yang masih berkonsentrasi di pulau Jawa misalnya inventarisasi biota karst pegunungan Sewu dan hutan dataran rendah di Jawa Tengah dan penelitian mengenai jamur mikoriza Arbuskula pada Rozosfer Pandanus tectorius di Jawa.

tahun 2007, daerah sebaran dibagi menjadi empat kuadran seperti tampak pada peta. Terlihat adanya penggerombolan pada Gugus II (Irian Jaya, Pandanaceae,

diversity) terletak di kuadran IV, diikuti Gugus V (Java, national parks, lowland areas) terletak di kuadran I namun terlihat lebih menyebar dan tidak

begitu menggerombol, Gugus III (Kalimantan dan pandanaceae) terletak di kuadran I, Gugus IV dengan subjek Enterolobium cyclocarpum dan organic

fertilizers, terletak di kuadran I. Dan terakhir adalah Gugus I (genetic diversity

dan Indonesia) terletak di kuadran II.

Hasil Penggugusan dan Pemetaan Subjek Laporan Teknik tahun 2008

Pada Lampiran 3 berisi dendrogram hasil penggugusan subjek LapTek 2008, dapat dianalisis bahwa terdapat empat gugus kelompok dokumen berdasarkan subjek (deskriptor) nya. Gugus I meliputi Sumatra, Pandanaceae,

dan ethnobotany, terdiri dari 33 dokumen, gugus ini merupakan gugus terbesar

ke-dua. Gugus II meliputi subjek Java, national parks, dan karst soils. Gugus ini adalah gugus yang terbesar jumlah dokumennya, yaitu sebanyak 77 dokumen. Gugus II ini bisa dipecah lagi menjadi 4 subgugus, yaitu subgugus I dengan subjek Enterolobium cyclocarpum dan cyanides. Subgugus II dengan subjek

Java dan national parks. Subgugus III dengan subjek ecosystems (zoology), mangroves, Java. Subgugus IV dengan subjek Java dan karst soils. Disini

terlihat jelas, betapa kuatnya subjek pulau Jawa di gugus II ini. Selanjutnya adalah Gugus III meliputi subjek Picrasma, growth, storage, dengan jumlah dokumen 11. Dan terakhir adalah Gugus IV bersubjek Irian Jaya, dengan jumlah dokumen 24.

Pada lampiran dendrogram dapat dianalisis bahwa terdapat empat gugus kelompok dokumen berdasarkan subjek (deskriptor) nya. Gugus I meliputi

Sumatra, Pandanaceae, dan ethnobotany, terdiri dari 33 dokumen, gugus ini

merupakan gugus terbesar ke-dua. Revisi suku Pandanaceae di kawasan Malesia (kawasan yang hampir meliputi Asia Tenggara saat ini) tahun 2007 ini dipilih untuk dilakukan di pulau Sumatra, guna melengkapi koleksi specimennya di

Puslit Biologi, sekaligus mempelajari aspek etnobotani dari pemanfaatan tanaman dari suku pandan-pandanan ini.

Gugus II meliputi subjek Java, national parks, dan karst soils. Gugus ini adalah gugus yang terbesar jumlah dokumennya, yaitu sebanyak 77 dokumen, sehingga kumpulan dokumen digugus ini bisa dipecah lagi menjadi 4 subgugus. Penulis mengkaji hal ini disebabkan oleh karena pada tahun 2007 ini banyak sekali kelompok penelitian yang menjadikan Jawa sebagai objek penelitiannya, kelompok penelitian tersebut adalah :

1. Valuasi keanekaragaman jenis biota dan fungsi ekosistem hutan dataran rendah di Bodogol, TN Gunung Gede Pangrango

2. Evaluasi dan karakterisasi biota yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove di Jawa

3. Revisi taxon terpilih (serangga, gastropoda dan Acai) di Jawa

4. Kajian zonasi kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai berdasarkan sebaran satwa

5. Inventarisasi dan karakterisasi biota karst : kajian di kawasan penelitian pegunungan dan hutan dataran rendah. Pada kelompok penelitian ini semua dikonsentrasikan di pegunungan Sewu, Kab Gunung Kidul Propinsi DIY.

Akibatnya disini terlihat jelas, betapa kuatnya subjek pulau Jawa (Java) di gugus II ini.

Selanjutnya adalah Gugus III meliputi subjek Picrasma, growth, storage, dengan jumlah dokumen 11. Picrasma javanica atau dikenal dengan tanaman ki pahit adalah satu jenis tumbuhan obat yang mempunyai potensi sebagai obat malaria. Tanaman ini menghasilkan kulit kayu berkhasiat obat malaria seperti kina. Untuk itulah, pada tahun ini, tanaman ini diteliti dari berbagai aspek dari mulai penyimpanan (storage) biji, daya pertumbuhan (growth) biji, sampai kepada aspek ketuaan biji, suhu dan lama penyimpanannya.

Terakhir adalah Gugus IV yang bersubjek Irian Jaya, dengan jumlah dokumen 24. Penguatan Irian Jaya pada gugus ini terjadi karena pada tahun 2007 sampai tahun 2008 dilakukan program eksplorasi biota Raja Ampat, Papua Barat, eksplorasi Widya Nusantara II (E-WIN Raja Ampat) saat ini memasuki tahun ke-dua dan memfokuskan pada studi taksonomi tumbuhan, studi etnobiologi, studi

mikrobiologi.

Gambar 13 mengilustrasikan sebaran dokumen artikel hasil penelitian pada tahun 2007, daerah sebaran dibagi menjadi empat kuadran seperti tampak pada peta. Terlihat adanya penggerombolan pada Gugus II (Java, national parks, dan

karst soils) yang terletak di garis pemisah antara kuadran II dan IV, diikuti oleh

Gugus I yang meliputi subjek Sumatra, Pandanaceae, dan ethnobotany terletak menggerombol berbaris memotong garis pemisah kuadran III dan IV. Gugus III dengan subjek Picrasma, growth, dan storage terlihat dalam gerombolan yang lebih kecil di kuadran I, begitu pula Gugus IV dengan subjek Irian Jaya juga terlihat dalam gerombolan yang lebih kecil di kuadran I.

Hasil Penggugusan dan Pemetaan Subjek Laporan Teknik tahun 2009

PadaLampiran 4 berisi dendrogram hasil penggugusan laporan teknik tahun 2009 dapat dilihat, terdapat delapan gugus dokumen hasil penelitian berdasarkan subjeknya. Gugus I (dengan subjek Java, national parks, dan mangroves) jumlah dokumennya adalah 33 judul artikel, gugus ini merupakan gugus dengan anggota dokumen terbanyak pada Laporan Teknik tahun 2009. Gugus II dengan subjek endophytes merupakan gugus kumpulan penelitian bidang mikrobiologi dengan jumlah dokumen 8 artikel. Gugus III adalah Pandanaceae, dengan jumlah dokumen 10 artikel. Gugus IV adalah Indonesia, Pandanus, reserved areas dengan jumlah dokumen sebanyak 12 artikel. Gugus V adalah gentic diversity dengan jumlah dokumen sebanyak 9 artikel. Gugus VI memiliki subjek

Kalimantan dengan jumlah dokumen sebanyak 14 artikel. Gugus VII bersubjek free radicals dan growth dengan jumlah dokumen sebanyak 10 artikel. Dan

gugus terakhir adalah Gugus VIII yang memiliki subjek mountain areas, karst

soils, photosynthetis, dan respiration dengan jumlah dokumen sebanyak 17

artikel dokumen.

Pada tahun 2008, terdapat delapan gugus kumpulan dokumen hasil penelitian berdasarkan subjeknya. Gugus I (dengan subjek Java, national parks, dan mangroves) jumlah dokumennya adalah 33 artikel, gugus ini merupakan gugus terbesar pada Laporan Teknik tahun 2009. Hal ini disebabkan karena adanya dua kelompok kegiatan yaitu revisi takson terpilih (serangga, gastropoda, dll) tahun ini ditentukan di kawasan pulau Jawa serta kelompok penelitian profil fauna mengkonsentrasikan pada berbagai tipe habitat di hutan pegunungan Slamet, Jawa Tengah.

Gugus II dengan subjek endophytes merupakan gugus kumpulan