• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

5.2.2 Depresi Orang Tua di SDLB Muhammadiyah Jombang

Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa jumlah 27 responden berdasarkan tingkat depresi orang tua pada anak retardasi sebagian besar dari responden mengalami depresi ringan sejumlah 18 orang dengan persentase (66,7 %), sebagian kecil dari responden sejumlah 6 orang (22,2%) mengalami depresi sedang, 1 orang (3,7%) mengalami depresi berat, dan 2 orang (7,4%) tidak mengalami depresi.

Menurut peneliti, keadaan dimana depresi yang dialami orang tua anak retardasi mental dipengaruhi oleh perasaan sedih, menangis, dan perasaan bersalah mempunyai anak retardasi mental. Hal ini didukung oleh kuesioner depresi nomer 1, 5, dan 10 yang mengulas tentang dimensi emosi berupa perasaan bersalah , menangis, dan keadaan sedih. Yang kebanyakan responden menjawab pernyataan nomer 1, 2 dan sebagian responden menjawab nomer 5 yang artinya mengalami depresi ringan.

Sesuai teori bahwa orang yang mengalami depresi secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup, meskipun menjalani kegiatan yang menyenangkan sesuai hobi dan rekreasi tidak memberikan kesenangan (Frank J. Bruno, 1997). Merawat anak yang mengalami keterbatasan seperti retardasi mental melibatkan pengalaman emosional sebagai komponen penting dalam pengasuhan anak. Keadaan emosi pengasuh seperti depresi dan kemarahan akan

mempengaruhi perilaku mereka terhadap anak (Pianta et al, 1996). Banyak

62

Evaluate Psychological Status of Mother of Children with Cerebral Palsy and

Mother of Normal Children” bahwa telah menemukan bahwa ibu dari anak

dengan keterbatasan secara signifikan melaporkan berbagai keluhan fisik yang dialami ibu serta meningkatnya tingkat depresi dan masalah emosional daripada ibu dari anak normal. Depresi ibu dapat mengurangi rasa tanggung jawab ibu dalam mengurus anak dan mengurangi keterlibatan ibu terkait masalah pendidikan anak serta pemberian nutrisi yang tepat bagi anak (Olsson, 2001).

Tingkat depresi orang tua dengan anak retardasi mental dapat dipengaruhi dari beberapa faktor yaitu faktor umur pada tabel 5.8 menunjukkan bahwa hampir dari setengahnya berusia 30-34 tahun sejumlah 9 orang (33,3%), 1 orang (3,7%) responden tidak mengalami, 6 orang (22,2%) mengalami depresi ringan, 1 orang (3,7%) mengalami depresi sedang, dan 1 orang (3,7%) mengalami depresi berat.

Menurut peneliti, orang tua yang memiliki usia lebih muda dari 30 tahun memiliki emosi dan segi mental serta psikologis yang belum mencapai kematangan untuk bisa menghadapi suatu masalah yang membuat tertekan dan depresi jika tidak bisa mengatasinya. Berbeda dengan orang tua yang memiliki usia di atas 45 tahun akan lebih bisa menghadapi suatu masalah yang dihadapi dikarenakan dalam segi psikologi lebih matang dan lebih banyak pengalaman dalam hidup. Pendapat ini dikuatkan dengan Teori (Riwanti,2006) bahwa makin muda usia sesorang mendapatkan stressor kehidupan, maka kecenderungan untuk mengalami depresi lebih besar, meskipun sebenarnya mereka yang berusia lanjut mungkin lebih besar resikonya mengalami depresi. Hasil penelitian ini didukung oleh peneitian (Hendry dkk, 2011) bahwa diusia 29-45 tahun ibu-ibu sejumlah 35 orang yang memiliki anak retardasi mental yang bersekolah di YPAC Manado

63

mengalami depresi ringan karena di usia ini ibu-ibu lebih tertutup dalam menghadapi masalah yang dihadapinya serta menimbulkan percekcokan antara suami bahwa memiliki anak retardasi mental adalah kesalahan ibu.

Faktor yang mempengaruhi depresi selanjutnya adalah jenis kelamin. Tabel 5.9 menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan jenis kelamin hampir seluruhnya berjenis kelamin perempuan sejumlah 26 orang (96,3%).

Menurut peneliti, perempuan lebih cenderung menggunakan perasaan dan emosinya dalam menghadapi suatu masalah. Sehingga perempuan resiko mengalami depresi lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Serta berkaitan dengan hormone, perempuan lebih mudah tersentuh hatinya dan mudah menangis jika tidak mampu menghadapi suatu masalah. Berbeda dengan laki-laki yang lebih santai menghadapi masalah yang sedang dialami oleh karena itu laki-laki beresiko lebih kecil terjadi depresi dibandingkan perempuan. Dilain sisi orang tua yang lebih dekat dengan anak adalah ibu karena setiap hari yang lebih banyak melakukan interaksi dengan anak adalah ibu kemungkinan karen ayah bekerja dan tidak mempunyai banyak waktu dengan anak.

Hal ini didukung oleh Teori bahwa estrogene dan progesterone (hormone

reproduksi) pada perempuan telah ditunjukkan mempengaruhi neurotransmitter,

neuroendokrin, dan siklus tubuh yang terlibat dalam gangguan suasana hati

(Kaplan, 2005). Sedangkan menurut Nevid ed al (2005), mengungkapkan bahwa

perempuan cenderung lebih peduli dan sensitif terhadap pendapat orang lain, sementara laki-laki cenderung untuk mengembangkan kesadaran yang lebih besar terhadap penguasaan dan kemandirian dalam kehidupannyayang artinya wanita cendereung penggunakan perasaan dalam mengahdapsi suatu hal sedangkan laki-

64

laki lebih santai dalam menghadapi suatu masalah, sehingga tingkat depresi pada perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki. Sejalan dengan Teori bahwa sosok ibu telah menjadi fokus perhatian dalam banyak studi. Ibu memiliki peran yang lebih

banyak memiliki waktu untuk berinteraksi dengan anak daripada ayah (Perera et

al, 2007).

Faktor lain yang meningkat faktor terjadinya depresi adalah pendidikan. Tabel 5.10 menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan pendidikan hampir dari setengahnya berpendidikan SMA sejumlah 13 orang (48,1%).

Menurut peneliti, tingkat depresi yang dialami orang tua yang memiliki anak retardasi mental dengan pendidikan tinggi juga mempengaruhi pemikiran orang tua tentang bagaimana penerimaan orang tua mempunyai anak retardasi mental. Dapat dibuktikan pada tabel 5.11 bahwa orang tua anak retardasi mental yang berpendidikan SMA sejumlah 13 orang (48,1%) mengalami depresi ringan.

Hal ini didukung oleh Teori Pramono (2000) bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin meningkat tingkat pengetahuan dan pemahaman terhadap segala sesuatu masalah yang sedang dan akan dihadapi dengan segala faktor yang mempengaruhi. Hal ini didukung oleh Teori (Asmuni, 2003) bahwa seseorang dengan kemampuan kognitif tinggi akan mempunyai kemampuan untuk memodifikasi stress baik secara internal maupun eksternal, hal tersebut yang memicu timbulnya stress yang akhirnya dapat mengarah ke kondisi depresi berat apabila kemampuan koping dan adaptasi terhadap stress tidak adekuat.

Faktor lain yang meningkat faktor terjadinya depresi adalah pekerjaan. Tabel 5.11 menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan pekerjaan

65

sebagian dari responden tidak bekerja sejumlah 16 orang (59,3%), dimana 2 orang (7,4%) tidak mengalami depresi, 10 orang (37,0%) mengalami depresi ringan, 3 orang (11,1%) mengalami depresi sedang, dan 1 orang (3,7%) mengalami depresi berat.

Menurut peneliti, orang tua anak retardasi mental yang tidak bekerja lebih sering berinteraksi dengan anak sehingga mengikuti perkembangan anak disekolah karena sebagian besar orang tua juga menunggu anak di sekolah sampai jam pulang sekolah. Pada orang tua yang tidak bekerja, sebagian besar waktunya akan dilalui dan dihabiskan dirumah, sehingga akan sering terpapar dengan anak retardasi mental, masalah perilaku anak retardasi mental seperti agresivitas dan hiperaktivitas menjadi penyebab tersering ibu mengalami depresi (Gerkensmeyer dkk, 2008).

5.2.3 Hubungan Anak Retardasi Mental Dengan Depresi Orang Tua Di SDLB

Dokumen terkait