• Tidak ada hasil yang ditemukan

Depresiasi Rupiah dan Kontraksi Ekonomi Pada Bulan September

Dalam dokumen PROCEDING EKONOMI SYARIAH FEUM 2015 (Halaman 123-134)

Sandy Raharja Ipal

Jurusan Ekonomi Pembangunan FE UM

Abstrak : Pada Bulan September 2015, Indonesia mengalami depresiasi rupiah dan kontraksi

perekonomian. Depresiasi rupiah membuat nilai rupiah dari 13.400 menjadi 13.600 membuat semakin mahalnya impor modal, bahan baku, dan utang luar negeri. Kebijakan Bank Indonesia adalah meningkatkan BI Rate sebesar 5,2% untuk meningkatkan nilai SBI di pasar uang sehingga investasi asing banyak yang masuk dan menghimpun dana untuk kegiatan pembangunan. Intervensi tidak steril pemerintah dengan menjual rupiah di pasar valas membuat rupiah mengalami apresiasi. Dampaknya di pasar uang adalah volume transaksi mengalami peningkatan tetapi terjadi perlambatan kredit di sektor riil. Akibatnya ekspor Indonesia melemah dan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,7%. Permasalahan ekonomi diatas di sebabkan oleh perdagangan uang dan suku bunga yang menimbulkan perbedaan tinggi antara pasar uang dan pasar barang. Instrumen moneter syariah dapat menyeimbangkan sektor riil dan uang. Instrumen moneter islam adalah JIL BOR dan Repo syariah sehingga bank syariah mendapatkan imbalan hasil tinggi pada SBSN dan mendapatkan likuiditas dana dalam transaksi di PUAS. Instrumen moneter konvensional lebih unggul dari syariah karena fundamental ekonomi sudah kuat walaupun secara dampak normatif lebih baik syariah. Kelebihan Inklusi keuangan PUAS adalah kecukupan dana di GWM, pendanaan jangka pendek di SWBI, dan simpanan di Fesbi untuk meningkatkan market share. Solusinya adalah BI melembagakan zakat dengan menerapkan 7 prinsip, integrasi BMT dengan Bank syariah, bank waqaf, dan asuransi UMKM mampu meningkatkan sektor produktif.

Kata Kunci : Depresiasi Rupiah, Intervensi Tak Steril, PUAB, PUAS, SBSN, SBI, Repo, JILBOR.

Perekonomian Indonesia pada Bulan September 2015 mengalami depresiasi rupiah dan kontraksi perekonomian sehingga terja- dinya penurunan pertumbuhan ekonomi men- jadi 4,7%. Kontraksi perekonomian diaki- batkan oleh tingkat suku bunga kredit yang tinggi sehingga investasi di sektor riil rendah. Bank sentral melakukan intervensi dengan menjual/beli rupiah terhadap dolar untuk meningkatkan nilai mata uang rupiah (apresiasi rupiah). Permasalahan di atas di sebabkan oleh kegiatan manusia melakukan transaksi riba dan

perdagangan uang yang menyebabkan ketidak seimbangan sektor riil dan moneter. Oleh sebab itu, kita memerlukan sistem moneter islam untuk mengatasi masalah tersebut.

Permasalahan perekonomian Indonesia pada bulan September 2015 adalah depresiasi rupiah pada bulan Agustus 2015, Rupiah secara rata-rata melemah sebesar 2,9% (mtm) ke level Rp13.789 per dolar AS. Kredit yang disalurkan oleh perbankan pada Agustus 2015 tercatat sebesar Rp3.859,6 triliun, atau tumbuh 9,4% (yoy) dan mengalami penurunan karena

tingginya tingkat suku bunga BI Rate sebesar 7,5%. Faktor eksternal yang menyebabkan depresiasi rupiah adalah devaluasi mata uang china sehingga ekspor Indonesia melemah, peningkatan tingkat bunga The Feed, dan ketidak stabilan perekonomian global. Faktor Internal adalah pembayaran utang luar negeri dan belum efektifinya paket kebijakan ekonomi I & II pemerintah sehingga investasi belum meningkat.

Ekonomi Indonesia terintegrasi dengan ekonomi global menyebabkan Bank Indonesia menggunakan kebijakan moneter konvensional dari pada syariah. Alasannya market share pasar uang syariah rendah sekitar 8% dan Indonesia masih terjerat oleh satanic economy yaitu tingkat suku bunga, uang fiat, dan Giro Cada- ngan Minimum. Kebijakan bank konvensional adalah menjual SBI dengan tenor 3 bulan untuk menyerap dana/investasi, meningkatkan suku bunga untuk meningkatkan likuiditas di pasar keuangan/PUAB ON dan meningkatkan apresiasi dolar. Bank Sentral melakukan inter- vensi tidak steril dengan membeli dan menjual cadangan devisa sehingga membuat rupiah terapresiasi sebesar 13.400. Dampak negatif kebijakan suku bunga adalah terjadinya kekakuan kredit karena beban pengembalian kredit tinggi sementara ekspektasi keuntungan dari siklus bisnis menurun. Akibatnya terjadi penurunan produksi dan ekspor Indonesia membuat terjadinya penurunan pendapatan nasional.

Ekonomi moneter islam melarang dalam jual beli mata uang karena uang adalah alat tukar untuk kegiatan produksi dan mengganggu keseimbangan ekonomi sebab produksi output tidak bisa mengimbangi kecepatan sektor moneter (Adiwarman Karim, 2013;56-57). Ekonomi syariah melarang riba karena menyebabkan peredaran uang lebih tinggi dari produktivitas menghasilkan barang (buble economy) dan menyengsarakan masyarakat. Oleh sebab itu ekonomi islam menggunakan

prinsip bagi hasil dalam kegiatan investasi karena dengan bagi hasil akan meningkatkan produktivitas usaha (time value of money islam), menyeimbangkan sektor riil dan moneter sebab usahanya harus ada/meng- gunakan prinsip partnership sehingga apabila ada untung/rugi di tanggung bersama (Ali Sakti, 202,76).

Kebijakan moneter syariah yang sudah di lakukan oleh Bank Indonesia adalah pener- bitan obligasi syariah/SBSN yang bertujuan untuk menyerap dana masyarakat dan di gunakan untuk kegiatan investasi (tijarah) dan pembangunan infrastruktur (ijarah) dengan prinsip bagi hasil. Keuntungannya adalah masyarakat tidak perlu di kenakan pajak tinggi untuk membayar tingkat bunga ketika pemerintah menggunakan SUN/SBI sebab menggunakan sistem bagi hasil. Oleh sebab itu penulis tertarik menggunakan judul “Perban- dingan Efektifitas Kebijakan Moneter Konvensional Dan Syariah Dalam Meng- hadapi Depresiasi Rupiah dan Kontraksi Ekonomi Pada Bulan September 2015. “pada

penulisan karya tulis ini.

Pada karya tulis ini, penulis mempunyai tujuan penelitian sebagai berikut;

1. Untuk mendiskripsikan pengaruh kebija- kan moneter konvensional Bank Sentral dan untuk menghadapi depresiasi rupiah 2. Untuk mendiskripsikan pengaruh kebija-

kan moneter syariah Bank Sentral dan Bank Umum untuk menghadapi depresiasi ru- piah dan meningkatkan sektor riel

3. Untuk mendiskripsikan efektivitas perban- dingan pengaruh kebijakan moneter kon- vensional dan syariah terhadap pereko- nomian nasional

4. Untuk mendiskripsikan solusi mening- katkan kebijakan moneter islami dalam meningkatkan perekonomian Indonesia

Teori ekonomi moneter islam melarang riba’ dan perdagangan uang. Urgensi pelara-

ngan riba adalah riba mengeksploitasi perekonomian sehingga terjadi penumpukan kekayaan dan kekuasaan pada segelintir orang. Oleh sebab itu uang di gunakan untuk kegiatan investasi di sektor ritl dengan menggunakan sistem bagi hasil. Instrumen moneter islam mampu memperlancar arus uang ke sektor riil/ menekan uang yang menganggur untuk masuk ke sektor riil. Contohnya sertifikat investasi pemerintah.

Apabila sistem ekonomi menggunakan dual economy system maka akan terjadoi trade off antara ekonomi syariah dan ekonomi konvensional. Contohnya adalah menghindari capital outflow, Bank sentral menentukan kebijakan tingkat suku bunga yang melebihi tingkat bagi hasil di perbankan syariah (padahal bagi hasil merupakan refleksi tingkat keuntungan di sektor riel). Hal ini membuat kontraksi yang cukup berarti di penghimpunan dana perbankan syariah (kecuali ketika nasabah bank syariah semakin tidak sensitif dengan fluktuasi tingkat suku bunga/nasabah tergoda dengan tingkat bunga tinggi). Pada negara muslim yang menerapkan dual economy, pengembangan keuangan islam merupakan mimikri dari keuangan konvensional sehingga menyangsikan sejauh mana orisinialitasnya dan efektifitas kebijakan moneternya.

Teori Kebijakan Moneter Konvensional Bank Sentral

Kebijakan Moneter adalah kebijakan

dari otoritas moneter dalam bentuk pengen- dalian agregat moneter (seperti uang beredar, kredit, dan suku bunga) untuk mencapai perkembangan ekonomi yang di inginkan. Kebijakan moneter dalam jangka pendek di gunakan untuk tujuan stabilisasi perekonomian terkait dengan aktivitas bisnis (The Cycle of Buisiness). Tujuan Bank Indonesia adalah menstabilkan rupiah terhadap kurs/nilai tukar dan inflasi atas kenaikan harga. Kebijakan

moneter konvensional yang dilakukan Bank Indonesia adalah;

(a) Operasi Pasar Terbuka. OPT dilaksana-

kan untuk mempengaruhi likuiditas rupiah di pasar uang, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat suku bunga. OPT dilakukan melalui dua cara, yaitu melalui penjualan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Intervensi Rupiah. Penjualan SBI dilakukan melalui lelang sehingga tingkat diskonto yang terjadi benar-benar mencer- minkan kondisi likuiditas pasar uang. Sedangkan kegiatan intervensi rupiah dilakukan oleh BI untuk menyesuaikan kondisi pasar uang, baik likuiditas maupun tingkat suku bunga.

(b) Penetapan Cadangan Wajib Minimum.

Kebijakan ini mewajibkan setiap bank mencadangkan sejumlah aktiva lancar yang besarnya adalah persentasi tertentu dari kewajiban segeranya. Saat ini, kebijakan ini tertuang dalam ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 5% dari dana pihak ketiga yang diterima bank, yang wajib dipelihara dalam rekening bank yang bersangkutan di BI. Apabila BI meman- dang perlu untuk mengetatkan kebijakan moneter maka cadangan wajib tersebut dapat ditingkatkan, demikian sebaliknya

(c) Cadangan devisa merupakan posisi bersih

aktiva luar negeri. Pemerintah dan bank- bank devisa, yang harus dipelihara untuk keperluan transaksi internasional. Dalam mengelola cadangan devisa yang optimal, Bank Indonesia menerapkan sistem diversifikasi, baik berdasarkan jenis valuta asing maupun berdasarkan jenis investasi surat berharga. Dengan cara tersebut diharapkan penurunan nilai dalam salah satu mata uang dapat dikompensasi oleh jenis mata uang lainnya atau penempatan lain yang mempunyai nilai yang lebih baik.

(d) Kebijakan Nilai Tukar. Dengan diberla-

tukar rupiah sepenuhnya ditentukan oleh pasar sehingga kurs yang berlaku adalah benar-benar pencerminan keseimbangan antara kekuatan penawaran dan permin- taan. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI pada waktu-waktu tertentu melakukan sterilisasi di pasar valuta asing, khususnya pada saat terjadi gejolak kurs yang ber- lebihan.

Instrumen Moneter Islam Bank Indonesia (a)Giro Wajib Minimum (GWM) adalah

Simpanan minimum bank umum dalam giro ditetapkan BI dengan % untuk kendalikan penawaran uang dan kehati- hatian. 5% dari rupiah dan 3% valas. Dana pihak ke-3 rupiah ; giro wadiah, tabungan mudharabah, deposito investasi mudha- rabah, kewajiban lainnya. Dana pihak-3 valas ; Giro wadiah, deposito investasi mudharabah, kewajiban lain.

(b) Sertifikat Investasi Mudaharabah Antar Bank Syariah (SIMA). Instrumen dalam

OMO untuk bank syariah punya kelebihan likuiditas sebagai pinjaman jangka pendek. Nilai nominal 500 juta dlm 1 minggu. Pembayaran dan pelunasan dengan debit/ kredit rekening giro oleh Bank Indoensia.

(c) Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.

Sertifikat kelebihan dana penyedia dana jangka pendek di bank kekurangan dana. Sertifikat berjangka 90 hari dengan pindah- tandatanganan bank 1. Pembayaran bank syariah penerbit nilai nominal+imbalan bagi hasil

Pasar Uang Antarbank Berdasarkan Prinsip Syariah

Instrumen yang digunakan oleh pelaku pasar dalam transaksi Pasar Uang Antarbank Berdasarkan Prinsip Syariah (PUAS) selama ini adalah Sertifikat Investasi Mudharabah

Antarbank (SIMA). Dalam rangka mendorong

pengembangan PUAS, BI telah melakukan penyempurnaan ketentuan terkait PUAS dan SIMA, antara lain mencakup penyempurnaan peserta PUAS yaitu menambahkan Bank Asing, peran pialang pasar uang dalam transaksi PUAS, mekanisme pengalihan kepemilikan instrumen PUAS sebelum jatuh waktu, dan pengenaan sanksi. Sedangkan ketentuan terkait SIMA menambahkan syarat pencantuman informasi jenis aset yang menjadi dasar penerbitan SIMA pada saat penerbitan SIMA. Ketentuan terkait SIMA tersebut memung- kinkan bank untuk memilih aset mana yang akan digunakan sebagai underlying ketika akan menerbitkan SIMA, sehingga memudahkan bank untuk menentukan nisbah bagi hasil dari aset yang telah ditetapkan (bukan pooling

pembiayaan). Selain itu, BI mengeluarkan ke- tentuan tentang Sertifikat Perdagangan Komo- diti Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiKA). SiKA adalah sertifikat yang diterbitkan berdasarkan Prinsip Syariah oleh BUS atau UUS dalam transaksi PUAS yang merupakan bukti jual beli dengan pembayaran tangguh atas perdagangan komoditi di bursa. SiKA ini diterbitkan dengan akad murabahah,

METODE

(a) Rancangan dan Objek Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah pene- litian deskriptif kualitatif karena penulis men- jabarkan permasalahan yang terjadi meng- gunakan data penelitian, landasan teoritis dan deskripsi penulis sehingga pembaca seolah- olah mengetahui peristiwa tersebut dengan de- tail. Penulis menggunakan data sekunder dari laporan triwulan yang di keluarkan oleh bank Indonesia dan di bahas menggunakan referensi buku. Objek penelitian adalah Kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia menggunakan sistem syariah yaitu SBSN dengan sistem konvensional yaitu SBI, BI Rates, dan intervensi valas.

(b) Analisis Data

Model analisis ini memiliki 3 tahapan, yaitu tahap pertama reduksi data, tahap kedua display data, tahap ketiga penarikan kesim- pulan. (1) Pengumpulan data adalah mengum- pulkan data tentang laporan BI bulan Septem- ber 2015, Laporan Triwulan 2 dan Laporan Neraca Pembayaran untuk mendapatkan data yang lengkap. (2) Reduksi Data adalah menggolongkan hasil penelitian yang fokus penelitian tentang perbandingan kebijakan moneter konvensional dengan syariah dalam mengatasi depresiasi rupiah dan penyaluran kredit. (3) Display Data adalah proses penyusunan informasi secara sitematik, peneliti menggunakan untuk memperoleh kesimpulan dan pengambilan tindakan. (4) Kesimpulan/ Vertifikasi adalah fokus penelitian dan hasil penelitian tentang perbandingan kebijakan moneter syariah dan konvensional yang dilakukan bank sentral untuk menghadapi depresiasi rupiah dan peningkatan kredit.

PEMBAHASAN

Permasalahan Perekonomian Bulan Sep- tember 2015.

Permasalahan perekonomian Indonesia adalah depresiasi rupiah dan kontraksi perekonomian sehingga pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan. Depresiasi rupiah terjadi karena faktor eksternal yaitu devaluasi Yuan untuk meningkatkan ekspor dan kebijakan The Feed menaikkan tingkat suku bunga. Pada sisi domestik adalah permintaan dolar AS yang tinggi untuk membiayai utang luar negeri. Pada bulan Agustus 2015, rupiah secara rata-rata melemah sebesar 2,9% (mtm) ke level Rp13.789 per dolar AS dari bulan sebelumnya sebesar Rp13.382 per dolar AS. .

Perlambatan perekonomian di sebabkan oleh faktor; (a) Tingginya tingkat kredit bank dengan BI rate 7,5% menyebabkan perlambatan pada kredit mencapai Rp3.859,6 triliun, atau

tumbuh 9,7% (yoy) lebih rendah dari bulan sebelumnya yaitu 10,42% (yoy). Perbankan berhati-hati (prudential) menyalurkan kredit karena menghindari resiko kredit macet /NPL karena kegagalan usaha dan moral hazard pengusaha akibat kelesuan ekonomi (kontraksi ekonomi). Akibatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di perkirakan 4,7-5,1 % pada tahun 2015. (b) Tekanan pada neraca finansial yang diakibatkan oleh rendahnya investasi di sektor usaha karena ketidakpastian perekonomian glo- bal. Akibatnya devisa pada akhir Agustus 2015 tercatat sebesar 105,3 miliar dolar AS karena banyaknya arus modal keluar. Dampak negatif tingkat kredit yang tinggi adalah terbatasnya produksi untuk menghasilkan barang. Akibatnya penawaran barang lebih rendah dari permintaannya sehingga terjadinya inflasi tinggi.

Efektifitas Kebijakan Bank Sentral Menga- tasi Depresiasi Rupiah dan Meningkatkan Pasar Uang Antar Bank (PUAB O/N) Kebijakan Bank Indonesia

(1) Kebijakan SBI dengan Tenor 3 bulan.

Bank sentral menjual obligasi pemerintah untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk pembangunan sektor riil dan dapat merubah peredaran uang yang beredar secara cepat dari pada tingkat suku bunga. Kelebihan SBI adalah semakin meningkatnya arus masuk investasi portofolio dari investor asing (efek delevera- ging) mengakibatkan meningkatnya neraca modal/finansial sehingga dolar USD banyak yang masuk ke cadangan devisa dan mening- katkan cadangan internasional dan menye- babkan apresiasi rupiah dari Rp 13.900 menjadi Rp 13.600.

(2) Peningkatan Discount Windows 7, 5%.

Peningkatan BI rates sebesar 7,5% meningkatkan ekspektasi imbal hasil mata uang

domestik karena dapat meningkatkan harga SBI, SUN di pasar PUAB ON sehingga likui- ditas perbankan menjadi terjaga. Namun dampak negatifnya adalah berkurangnya kredit yang di salurkan kepada masyarakat sebab hukum permintaan uang semakin tinggi suku bunga maka permintaan sedikit. Alasannya keuntungan rendah karena beban utang yang di bayar dan kelesuan ekonomi menyebabkan keuntungan investasi rendah. Akibatnya bank melakukan restrukturisasi kredit dan kehati- hatian dalam menyalurkan dana.

(3) Kebijakan Pemerintah Intervensi Steril di Pasar Forward Untuk Menyeim- bangkan Pasar Spot.

Pemerintah menggunakan intervensi tidak steril saat periode overshooting exchange rate yaitu dalam jangka pendek perekonomian mengalami depresiasi rupiah dan merugikan ekonomi. Pemerintah melakukan intervensi di pasar spot dan forward. Kebijakan Pemerintah di Pasar Forward adalah meningkatkan imbal hasil dari deposit mata uang dengan mening- katkan tingkat suku bunga riil menyebabkan RET (Pasar Valas) bergeser ke kanan. Penu- runan uang riil meningkatkan tingkat bunga sehingga ekspektasi imbal hasil deposit mata uang akan naik. Akibatnya Pemerintah membeli mata uang domestik dengan menjual mata uang luar negeri akan mengurangi cadangan internasional bank sentral sehingga menurun- kan jumlah penawaran uang. Adanya pening- katan tingkat suku bunga menyebabkan terjadinya apresiasi rupiah sebab masyarakat membeli rupiah.

Dampak Kebijakan Moneter Konvensional Pada Pasar Uang (PUAB O/N)

(a) Kondisi likuiditas di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) dan perbankan relatif terjaga dan Terjadi Penurunan Kredit.

Terjaganya kondisi likuiditas mendorong penurunan suku bunga deposito dan suku bunga

kredit. Secara nominal, volume rata-rata PUAB total pada Agustus 2015 juga tercatat turun menjadi Rp9,33 triliun dari Rp11,02 triliun pada bulan sebelumnya. Penurunan suku bunga deposito untuk mendorong masyarakat meme- gang uang dan menurut Keynes akan di gunakan untuk investasi di pasar utang. Alasan bank adalah mencegah resiko likuiditas akibat tingkat return kredit rendah karena perlambatan ekonomi dari pada beban bunga simpanan. Terjaganya likuiditas uang menyebabkan manajemen aset perbankan (ROA) dan NPL nya terjaga. Adanya kelambatan perkreditan di sektor perdagangan adalah 23,1% dan dunia usaha adalah 0,9%. Solusinya OJK menggu- nakan paket kebijakan 12 di bank dengan melakukan restrukturisasi kredit dan pening- katan KUR dengan penurunan 50% jaminan. Akibatnya sektor swasta menjadi meningkat dan return bank meningkat.

(b) Suku bunga PUAB O/N meningkat seiring dengan penguatan operasi moneter dalam rangka stabilisasi nilai tukar.

Pada Agustus 2015, suku bunga PUAB O/N mengalami kenaikan menjadi 5,79% dari 5,63% pada bulan sebelumnya. Hal ini terjadi karena pelaksanaan lelang Fixed Rate Tender

dan penyesuaian suku bunga. Penyesuaian suku bunga menyebabkan keuntungan inves- tor dalam membeli SUN/SBI menjadi tinggi dari pada deposit di luar negeri sehingga menggeser pasar valas (RET) ke kanan dan bertambahnya cadangan. Adanya peningkatan penawaran uang mampu meningkatkan pendalaman keuangan (Inklusi Keuangan) sebab volume transaksi keuangan di perbankan menjadi tinggi dan meningkatkan GDP.

Kebijakan Instrumen Moneter Syariah

Ekonomi Moneter Islam melarang untuk melakukan perdagangan uang dan riba/bunga

karena dengan adanya perdagangan uang menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan antara pasar uang dan pasar barang, mening- katnya spekulasi yang membuat kekacauan perekonomian seperti krisis multidimensional tahun 1998, kekayaan hanya di miliki oleh pemilik modal/kapitalis. Perkembangan instru- men moneter syariah di bank syariah sudah mengalami kemajuan seperti; Giro wajib mini- mum (GWM), Sertifikat Investasi Mudaha- rabah antar Bank Syariah (SIMA), Sertifikat Wadiah Bank Indonesia, SBIS (Sertifikat Bank Indonesia Syariah). Kebijakan Bank Indonesia meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah melalui PUAS (Pasar Uang Antar Bank Syariah) sehingga volume transaksi dan likuiditas keuangan tinggi.

Kebijakan Bank Indonesia di Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS)

(a) Penyempurnaan JILBOR.

Upaya Bank Indonesia untuk menyem- purnakan mekanisme suku bunga penawaran antarbank atau yang selama ini dikenal sebagai

Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR). Pembentukan suku bunga acuan pasar uang untuk tenor satu tahun ke bawah juga akan melengkapi imbal hasil (yield) Surat Utang Negara berjangka waktu 2 s. d. 30 tahun. Pasar keuangan Indonesia akan memiliki kurva imbal hasil (yield curve) yang lengkap, yaitu dari tenor overnight hingga 30 tahun. Adanya kurva imbal hasil yang mengandung faktor ekspektasi pasar terhadap arah inflasi, suku bunga, dan prospek ekonomi ke depan mampu mem- berikan pilihan bagi investor untuk melakukan diversifikasi portofolio, sehingga pada akhir- nya akan meningkatkan ketahanan sistem keuangan.

(b) Penyempurnaan Transaksi Repo Syariah Untuk Jual Beli Sukuk di PUAS

Penyempurnaan pengaturan PUAS dilakukan untuk menambah alternatif pemenu-

han kebutuhan likuiditas perbankan syariah. Hal ini dilakukan melalui transaksi surat berharga syariah dengan cara penjualan surat berharga syariah dengan janji membeli kembali (repurchase agreement) atau disebut juga dengan transaksi repo. Transaksi repo syariah wajib menggunakan underlying surat berharga syariah (SBSN/Sukuk Korporasi). Transaksi repo syariah dapat di lakukan dalam jangka waktu 1 tahun. Surat berharga bisa dijual saat pertama, kemudian dibelikan kembali sesuai harga yang di sepakati. Transaksi repo syariah menggunakan akad bai maal al wa’d bi-al syira’ yakni jual beli SBS outrignt, diikuti dengan janji untuk membeli kembali SBS dengan menyepakati terlebih dahulu harga dan waktu pembelian dan penjualan kembali SBS. Dokumen acuan dalam melakukan transaksri syariah yaitu mini master repo agreement (MRA) yang berisi kesepakatan repo syariah antar pihak yang melakukan transaksi repo.

Perbandingan Efektifitas Kebijakan Moneter Konvensional dengan Moneter Syariah Di Lapangan.

Perekonomian Indonesia menganut neoliberalisme ekonomi karena sektor moneter Indonesia sudah terintegrasi di pasar global. Akibatnya tindakan pihak luar negeri dapat mempengaruhi perekonomian dalam negeri. Instrumen syariah sedang berkembang di In- donesia dan belum di tetapkan sebagai regulasi utama kebijakan moneter BI karena volume/ pangsa pasar keuangan syariah rendah dan sebagai pelengkap (dual banking). Akibatnya kebijakan Bank Indonesia seperti melakukan intervensi valas dan menjaga pasar uang antar bank berdampak positif pada apresiasi rupiah. Penulis akan membandingkan efektifitas setiap kebijakan instrumen moneter syariah dan Konvensional.

(a) Kebijakan Pasar Terbuka dengan Pen- jualan SBI dan SBIS

(1) SBIS. Instrumen keuangan syariah

perhitungan suku bunga di gunakan JILBOR sebagai acuan pasar uang untuk tenor satu tahun ke bawah juga akan melengkapi imbal hasil (yield) Surat Utang Negara berjangka waktu 2 s.d. 30 tahun. Tingkat bunga rendah di tetapkan di awal untuk mengetahui prospek peramalan investasi di masa depan (sukuk selama 30

Dalam dokumen PROCEDING EKONOMI SYARIAH FEUM 2015 (Halaman 123-134)