Ely Siswanto
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No. 5 Malang, Email : [email protected]
Abstrak : Perbankan syariah telah menjadi alternatif penting dalam melayani kebutuhan masyarakat akan
layanan perbankan. Prinsip syariah dalam perbankan syariah menawarkan praktek bisnis yang memenuhi bukan hanya kaidah-kaidah hukum, tetapi juga kaidah-kaidah etika. Seharusnya memang terjadi sinergi antara prinsip-prinsip operasional perbankan syariah dengan prinsip-prinsip etika dan moral yang dikembangkan oleh perbankan syariah. Paper ini bertujuan mendeskripsikan prinsip-prinsip operasional perbankan syariah dan menganalisis prinsip-prinsip tersebut dengan menggunakan perspektif etika bisnis. Hasil analisis menunjukkan bahwa prinsip-prinsip etika perbankan syariah identik dan sejalan dengan prinsip-prinsip etika bisnis. Pendekatan yang digunakan oleh perbankan syariah lebih menekankan pada aspek pemenuhan kewajiban sehingga lebih sesuai jika dianalisis dalam perspektif teori Deontologi.
Kata kunci : Perbankan Syariah, Prinsip-prinsip Etika
Perbankan syariah telah menjadi lembaga keuangan alternatif bagi masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan dan perbankan. Perkembangan kelembagaan keuangan ber- basis syariah juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Jumlah bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, koperasi syariah, surat berharga syariah meningkat cukup signifikan. Dibalik itu, pro-kontra di masya- rakat tentang implementasi prinsip-prinsip syariah pada produk-produk perbankan syariah juga semakin banyak terjadi. Beberapa produk perbankan syariah dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai produk yang tidak meme- nuhi rasa keadilan dan eksploitatif. Secara kelembagaan juga banyak terjadi penipuan yang dilakukan oleh oknum pengelola lembaga keuangan syariah. Paper ini bertujuan untuk mendeskripsikan prinsip-prinsip yang dikem-
bangkan dalam operasional perbankan dan lembaga keuangan syariah, prinsip-prinsip etis perbankan syariah, dan kaitan prinsip-prinsip etis perbankan syariah dengan prinsip-prinsip etis dalam literatur-literatur etika bisnis.
PEMBAHASAN
Prinsip Operasional Perbankan Syariah
Prinsip-prinsip operasional perbankan syariah mendasarkan dirinya pada prinsip dasar transaksi syariah. Produk-produk perbankan syariah baik produk penghimpunan dana, penyaluran dana maupun jasa-jasa perbankan lainnya didasarkan pada prinsip-prinsip operasional perbankan syariah. Beberapa prinsip operasional yang banyak digunakan dalam praktik perbankan syariah diantaranya : prinsip wadiah, prinsip mudharabah, prinsip
musyarakah, prinsip tijarah, prinsip ijarah, prinsip wakalah, prinsip hawalah, prinsip
kafalah, prinsip rahn, dan prinsip qardh
(Siamat, 2005: 420-434).
Wadiah atau prinsip titipan adalah prinsip transaksi dimana nasabah menitipkan keka- yaannya kepada bank baik dengan kebebasan untuk memanfaatakan titipan tersebut maupun tidak dimana titipan tersebut harus dijaga dan dikembalikan kapan saja bila nasabah menghendaki (Kasmir, 2014: 166). Bank tidak bertanggungjawab atas segala kehilangan dan kerusakan yang terjadi pada barang titipan selama hal itu bukan akibat kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam meme- lihara barang titipan. Terkait dengan barang titipan, bank sebagai pihak yang menerima titipan dapat memanfaatkan barang titipan tersebut untuk kegiatan yang menghasilkan manfaat ekonomi, tentunya dengan seizin penitip, yang dalam istilah syariah disebut dengan wadiah yadh-dhamanah (Kasmir, 2014:167). Produk perbakan yang mengguna- kan prinsip ini diantaranya adalah giro dan tabungan. Ketika bank tidak dapat meman- faatkan barang titipan tersebut untuk kegiatan ekonomi maka prinsip syariah yang digunakan adalah wadiah yadh-amanah, yang diterapkan dalam produk save deposits box.
Mudharabah merupakan prinsip bagi
hasil dimana pihak pertama (bank atau nasabah) menyediakan seluruh dana dan pihak lain (bank atau nasabah) menjadi pengelola. Keuntungan maupun kerugian usaha kemudian dibagi berdasarkan nisbah bagi hasil yang telah disepakati di awal perjanjian kecuali kerugian akibat kelalaian pihak pengelola (Kasmir, 2014: 170). Mudharabah sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni mudharabah mutlaqah dan
mudharabah muqayyadah. Mudharabah
mutlaqah adalah akad mudharabah dimana terdapat kebebasan bagi mudharib untuk memilik jenis proyek sedangkan dalam
mudharabah muqayyadah jenis proyek harus
ditentukan dan disepakati bersama antara mudharib dan sihibul maal. Produk perbankan syariah yang menggunakan prinsip mudha- rabah ini diantaranya adalah deposito, sehingga sering bank syariah mencantumkan produknya sebagai deposito mudharabah.
Musyarakah adalah kerjasama dua pihak dimana kedua belah pihak baik nasabah maupun bank menyediakan dana. Kemudian dan salah satu pihak diantara bank dan nasabah bertindak sebagai pelaksana proyek. Keuntu- ngan dari proyek tersebut dibagi diantara keduanya berdasarkan nisbah bagi hasil yang disepakati bersama diawal dan modal kembali kepada masing-masing pihak sesuai propor- sinya. Tidak banyak produk perbankan yang menggunakan prinsip musyarakah. Beberapa bank menggunakan prinsip tersebut pada produk-produk pembiayaan khusus.
Tijarah adalah prinsip dimana diantara pihak-pihak yang bertransaksi melakukan kegiatan jual beli barang yang pembayarannya bisa dilakukan seketika maupun ditunda, dengan tunai maupun dengan cicilan. Jenis tijarah sendiri ada tiga yakni murabahah, salam
dan istisna’. Murabahah adalah prinsip dimana bank menjual barang kepada nasabahnya dengan pembayaran cicilan tanpa tambahan bunga. Harga barang ditetapkan dengan harga dasar ditambah margin keuntungan tertentu. Produk perbankan yang menggunakan prinsip murabahah ini diantaranya pembiayaan pro- perti, barang-barang kebutuhan rumah tangga, kendaraan dan barang elektronik.Salam
merupakan jual beli barang pesanan dimana pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli dan pengiriman ditangguhkan oleh penjual. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut
salam paralel. Aplikasinya pada pembiayaan industri agribisnis dan sejenisnya. Sedangkan
Istisna’ adalah prinsip jual beli antara pembeli dan produsen yang juga bertindak sebagai penjual. Cara pembayarannya dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu. Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi: jenis, spesifikasi teknis, kualitas, dan kuantitasnya. Dalam prinsip ini bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara istishna maka hal ini disebut istishna’ paralel. Aplikasinya pada pembiayaan manufaktur dan UKM.
Ijarah adalah sewa murni dimana bank dapat menyewakan barang modal kepada nasabah dan nasabah kemudian membayar biaya sewa tertentu. Sedangkan Ijarah wa Iqtina’ merupakan penggabungan sewa dan beli, dimana si penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa. Aplikasinya pada finance lease.
Wakalah adalah prinsip transaksi dimana bank mewakili nasabah untuk melakukan kegiatan penarikan dana, pembayaran maupun penagihan terhadap klien bisnis nasabah, aplikasinya pada arranger, L/C, transfer dan inkaso. Hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya, aplikasinya pada anjak piutang/factoring. Kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung, aplikasinya pada bank guarantee.
Kesesuaian dan Ketidaksesuaian Perspektif: Literatur-literatur Ekonomi Syariah dan Etika Bisnis
Baik buruknya suatu kegiatan bisnis, dari literatur-literatur etika bisnis, dapat dilihat dari beberapa sudut pandang diantaranya dari sudut pandang ekonomi, hukum dan etika (Boatright,
1993: 1-26) dalam Bertens, 2013: 9-29). Dari sudut pandang ekonomi, kegiatan bisnis yang baik adalah yang memberikan keuntungan terbesar (Bertens, 2013: 16). Sehingga pelaku bisnis yang menggunakan perspektif ini akan berusaha meningkatkan keuntungan bisnis yang dijalankannya dengan sebanyak-banyaknya. Tolok ukur bisnis yang baik dari sudut pandang ekonomi adalah nilai laba yang nampak jelas pada laporan keuangan perusahaan.
Berdasarkan sudut pandang hukum, praktek bisnis yang baik adalah yang taat pada peraturan dan hukum yang berlaku. Ia mungkin tidak menuntut keuntungan maksimal tetapi yang terpenting praktek bisnisnya tidak melanggar hukum dan peraturan yang berlaku. Ukuran yang digunakan bahwa suatu praktek bisnis tidak melanggar hukum adalah bahwa perusahaan tidak tersangkut masalah hukum atau tidak menerima tuntutan hukum dari pihak lain seperti pelanggan, karyawan, pemasok, debitur, pemerintah dan masyarakat umum.
Dari perspektif moral, kegiatan bisnis yang baik adalah yang sesuai dengan nilai-nilai moral disamping menguntungkan dan tidak melanggar hukum. Terdapat hubungan yang erat antara perspektif hukum dan etika/moral. Sesuatu yang tidak melanggar hukum belum tentu sesuai etika, tetapi sesuatu yang etis dapat dipastikan tidak melanggar hukum karena norma hukum dibuat memang untuk menegak- kan norama-norma moral. Norma hukum memang lebih jelas dan tegas dibanding norma moral, sebab norma hukum pada hakekatnya adalah kristalisasi dari nilai-nilai moral (Bertens, 2013: 20).
Sementara itu, dari sisi teori ekonomi syariah, baik buruknya suatu kegiatan, perilaku, sikap dan lain sebagainya secara umum dapat dilihat dari perspektif keyakinan (aqidah), disamping, aspek hukum (syariah) dan aspek etika (ahklaq) (Karim, 2004: 2). Akidah adalah ajaran Islam yang mengatur tentang perilaku hati dan perasaan manusia sebagai mahluk
terhadap penciptanya (kholiq). Akidah merupa- kan persaksian atau pengakuan secara sadar mengenai keyakinan, keimanan dan keper- cayaan, bahwa ada suatu Zat yang Esa yang telah menciptakan seluruh alam dan isinya, yang maha kuasa, yang segala sesuatu ber- gantung kepada-Nya (Karim, 2004: 3). Syariah adalah peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang berisi perintah dan larangan yang pokok- pokok dan prinsip-prinsipnya telah digariskan oleh Allah Swt kepada manusia. Syariah kemudian ditafsirkan oleh para ulama agar syariah tersebut dapat diterapkan secara lebih operasional. Akhlak merupakan merupakan nilai-nilai baik buruk yang menyangkut perilaku dan sikap hidup manusia (Karim, 2004: 13). Akhlak sebenarnya merupakan tujuan dilaksanakannya syariah oleh manusia. Dengan melaksanakan syariah, manusia akan dapat menerapkan akhlak yang terkandung dari penerapan syariah tersebut.
Ketika syariah ditafsirkan oleh para ulama menjadi hukum-hukum dan peraturan- peraturan yang ditransformasi kedalam hukum
figh, maka muncul 5 (lima) kategori hukum syara’ yakani wajib (harus dilaksanakan),
sunnah (sebaiknya dilaksanakan), mubah
(boleh dilaksanakan), makruh (kurang baik dilaksanakan) dan haram (tdak boleh dilak- sanakan) (Zahrah: 1999: 30). Ilmu fiqh atau hukum Islam sendiri secara umum terbagi dalam dua wilayah, yakni fiqh ibadah dan fiqh muamalah. Prinsip fiqh ibadah adalah bahwa segala sesuatu tidak diperbolehkan kecuali ter- dapat dasar hukum atau dalil yang mengaturnya baik dari Qur’an, Hadits, Ijma’ Ulama’ maupun
Qiyas. Sedangkan prinsip fiqh muamalah adalah segala sesuatu diperbolehkan asalkan tidak melanggar larangan baik dari Qur’an, Hadits, Ijma’ Ulama’ maupun Qiyas. Sehingga, dalam fiqh muamalah, aturan dan hukumnya lebih ditekankan kepada hal-hal yang dilarang atau tidak diperbolehkan yang secara ilmu fiqh disebut haram. Haram dalam kegiatan
muamalah disebabkan paling tidak oleh tiga sebab : a) haram zatnya; b) haram selain zatnya; dan c) tidak sah (lengkap) akadnya (Karim, 2004: 30).
Oleh karena itu, menurut hemat penulis, tidak ada perbedaan perspektif antara teori-teori ekonomi syariah (Islam) dengan teori-teori etika bisnis, kecuali dari perspektif ekonomi dan perspektif keyakinan (akidah). Dengan kata lain terdapat equivalensi antara perspektif syariah dan akhlaq dalam literatur ekonomi syariah dengan perspektif hukum dan etika dalam literatur etika bisnis dalam memandang permasalahan bisnis.
Perspektif ekonomi menjadi perspektif utama kegiatan bisnis sedangkan perspektif akidah atau keyakinan menjadi perspektif utama dalam kegiatan keagamaan (baca: ibadah). Karena dari perspektif ekonomi kegiatan bisnis (perbankan) yang baik adalah yang menguntungkan secara ekonomis, maka tidak demikian dengan perspektif ekonomi syariah, bahwa kegiatan ekonomi (ma’isyah)
adalah kegiatan yang “diperbolehkan” atau
mubah sebagai bentuk ikhtiar dalam menerima rizki dari Allah Swt, sebab pada hakikatnya, rizki tiap manusia sudah ditetapkan oleh Allah Swt, selain ajal dan jodoh. Dari perspektif ini, keuntungan bukan menjadi ukuran keber- hasilan kegiatan bisnis, tetapi ibadah adalah motivasi utama orang melakukan kegiatan bisnis, termasuk perbankan. Demikian juga dengan perspektif akidah menjadi ciri utama kegiatan ibadah. Keyakinan (aqidah) adalah sesuatu yang bersifat pemberian (given) dari Allah Swt dan merupakan hak prerogatif Allah Swt (baca: hidayah). Diantara manusia yang satu dengan yang lain tidak dapat memaksakan keyakinan pada diri masing-masing. Keyakinan tentang adanya Allah Swt, malaikat, nabi dan rasul, kitab suci, hari akhir, takdir tidak dapat ditransfer oleh satu pihak kepada pihak lain karena hal itu bersifat given. Sehingga antara prinsip-prinsip kebaikan perspektif ekonomi
dan perspektif keyakinan (aqidah) tidak dalam posisi yang dapat diperbandingkan. Unsur yang dapat diperbandingkan adalah prinsip-prinsip pada dua perspektif yang lain yakni perspektif hukum (syariah) dan perspektif etika (akhlaq). Beberapa alasan bahwa perspektif moral/ etika (akhlaq) tidak kalah penting disamping pendekatan hukum (syariah) dalam transaksi bisnis diantaranya : 1) bahwa banyak hal dalam bisnis yang kurang etis atau kurang baik dari sisi akhlaq tetapi tidak melanggar hukum (syariah); 2) proses terbentuknya hukum mela- lui proses yang cukup lama, sehingga masalah baru tidak bisa diselesaikan secara hukum; 3) hukum sering kali bisa disalahgunakan, sebab perumusan hukum tidak pernah sempurna, sehingga orang yang beriktikad buruk bisa memanfaatkan celah-celah dalam hukum; 4) hukum mungkin sudah dirumuskan dengan baik, tetapi terkadang sulit diterapkan karena terhalang kondisi-kondisi tertentu; 5) hukum sering menggunakan pengertian yang dalam konteks hukum itu sendiri tidak didefinisikan dengan jelas dan sebenarnya diambil dalam konteks moral (Bertens, 2013: 20-23).
Prinsip-prinsip/Nilai-nilai Etika dalam Transaksi Perbankan Syariah
Perbankan syariah merupakan praktek bisnis yang dapat dimasukkan kedalam wilayah fiqh muamalah dari sisi syariah Islam. Tran- saksi dalam fiqh muamalah yang termasuk kedalam transaksi yang baik adalah yang mengandung unsur-unsur “An-Taradin Min- kum” atau “kerelaan kedua belah pihak” dan
“La Tadhlimuna wa la Tuzhlamuna” atau “Tidak saling mendholimi.
An-Taradin Minkum atau “kerelaan
kedua belah pihak” menunjuk pada suatu nilai- nilai etika bahwa dalam transaksi bisnis khususnya perbankan, harus didasari dengan kerelaan kedua belah pihak baik pihak bank maupun nasabah. Kegiatan bisnis yang tidak
sesuai dengan prinsip “An-Taradin Minkum”
atau “kerelaan kedua belah pihak” adalah tadlis. Tadlis adalah mengambil keuntungan dengan melakukan kecurangan melalui informasi yang tidak lengkap, atau kondisi dimana satu pihak tidak mengetahui informasi yang diketahui pihak lain. Menurut teori etika bisnis, kegiatan
tadlis ini muncul karena tidak adanya trans- paransi antara pengelola dengan investor, antara pedangan dengan pembeli, antara bank dengan nasabah dan sebagainya. Jika ketidakseim- bangan informasi tersebut secara sengaja dimanfaatkan oleh satu pihak, atau bahkan satu pihak tersebut dengan sengaja “menyembunyi- kan” informasi demi untuk mengambil keuntu- ngan sepihak, ini yang termasuk dalam tadlis
(penipuan). Jadi dalam bahasa etika bisnis, An- Taradin Minkum dapat diidentikan dengan prinsip transparansi.
Sedangkan prinsip La Tadhlimuna wa la Tuzhlamuna” atau “Tidak saling mendholimi menunjuk pada suatu kondisi ketidakadilan. Seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil berarti ia telah didholimi oleh pihak lain. Keadilan sendiri menurut menurut Ulpianus mengutip istilah Celsus dalam Bertens (2013: 83) adalah “tribuere cuique suum” yang berarti
“to give verybody his own”. Tipe keadilan ini adalah termasuk dalam keadilan komutatif
(commutative justice).
Sedangkan transaksi yang melanggar nilai-nilai “La Tadhlimuna wa la Tuzhlamuna”
diantaranya taghrir, ikhtikar, bai’ najasy, riba,
maisir dan risywah (Karim, 2004: 31-32).
Taghrir/gharar adalah situasi dimana terjadi ketidakpastian tentang kondisi yang akan terjadi akibat informasi yang tidak lengkap yang dialami oleh kedua pihak yang melakukan transaksi bisnis. Gharar dalam bahasa bisnis sering disebut dengan spekulasi. Diantara pihak yang melakukan transaksi tidak selayaknya me- manfaatkan ketidakpastian untuk menggapai keuntungan secara sepihak dan pada akhirnya merugikan pihak lain. Pihak yang dirugikan
akibat ketidakpastian akan merasa diperla- kukan tidak adil oleh pihak meraup keuntu- ngan.
Sementara itu, ikhtikar adalah rekayasa pasar dalam supply yang dilakukan produsen untuk mengambil keuntungan diatas normal dengan cara mengurangi supply agar harga produk yang dijualnya naik. Rekayasa supply
ini bisa terjadi jika terjadi monopoli atau kartel. Pihak yang menjadi korban praktik monopoli akan merasa dirugikan dan diperlakukan tidak adil. Bai’ Najasy atau rekayasa pasar dalam demand yang terjadi ketika seorang pembeli menciptakan permintaan palsu seolah-olah ada banyak permintaan terhadap suatu produk sehingga harga jual produk tersebut akan naik. Perilaku ini termasuk dalam kategori pem- bentukan opini atau “penggorengan” dalam istilah pasar modal. Riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut (Srakhsi dalam Karim, 2004: 38). Dalam bahasa etika mungkin adalah pengenaan bunga atau biaya dana yang terlalu tinggi. Riba merupakan bentuk ketidakadilan pihak pemilik modal (kreditor) terhadap pihak yang membutuhkan dana (debitor). Debitor,
dengan tambahan yang relatif besar akan merasa diekspoitasi oleh kreditor dan sebalik- nya, kreditor akan sangat diuntungkan berlipat ganda tanpa adanya usaha. Maysir atau per- judian adalah permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak lain akibat permainan tersebut. Risywah
adalah memberi sesuatu kepada pihak lain untuk mendapat sesuatu yang bukan haknya yang sering disebut dengan istilah suap. Dari sudut pandang literatur etika bisnis, semua perilaku tersebut termasuk pelanggaran terha- dap prinsip-prinsip keadilan.
Jika tolok ukur bisnis yang baik dari sisi ekonomi adalah laba, sedang bisnis yang baik dari perspektif hukum (syariah) adalah tidak adanya pelanggaran aturan hukum (baca: fiqh), maka tolok ukur bisnis yang etis dapat dilihat dari tiga hal yakni hati nurani, kaidah emas dan pandangan umum (Bertens, 2013: 25-30). Hati nurani dapat dipakai sebagai ukuran apakah suatu kegiatan bisnis tersebut etis atau tidak. Suatu kegiatan bisnis yang bertentangan dengan hati nurani dapat dianggap kegiatan tersebut memang tidak etis. Hati nurani dapat digunakan sebagai ukuran apakah praktek operasional suatu bank syariah, misalnya, melanggar nilai-
nilai keadilan. Apapun skema jasa perbankan syariah yang ditawarkan, kalau nasabah “merasa” tereksploitasi, maka jasa tersebut dapat dikategorikan tidak adil. Apapun prinsip operasional syariah yang diterapkan dalam produk perbankan, jikalau nasabah merasa ada ketidaktransparanan yang mengakibatkan nasabah “merasa tertipu”, dari perspektif etika (akhlaq), bank tersebut melakukan tindakan yang tidak etis.
Tolok ukur kedua disebut dengan Kaidah Emas. Kaidah emas menyebutkan bahwa “Hendaknya memperlakukan orang lain seba- gaimana Anda sendiri ingin diperlakukan”. Indikator etis ini harus ditanyakan kepada pihak perbankan syariah apakah seandainya ia menjadi nasabah bank syariah dan kemudian ia memperoleh jasa perbankan syariah, apakah ia merasa terbantu atau tidak. Kaidah emas juga bisa diterapakan dengan melihat sejauh mana pengelola bank-bank syariah juga mengguna- kan jasa-jasa bank sayriah baik dalam pem- biayaan maupun jasa lainnya.
Tolok ukur ketiga adalah pandangan umum. Suatu kegiatan bisnis tersebut baik secara moral jika memang menurut kebanyakan orang baik dan sebaliknya jika sebagian besar orang mengatakan kegiatan bisnis tersebut tidak baik atau tidak bermoral maka kegiatan tersebut memang tidak etis. Jika ditanyakan kepada kebanyakan orang bahwa praktik perbankan syariah memang memberi manfaat dan adil, maka dapat disimpulkan memang bank syariah telah memenuhi nilai-nilai keadilan. Sebaliknya jika ternyata sebagian besar masyarakat pengguna jasa bank syariah “merasa” layanan yang diberikan bank syariah tidak adil atau tidak transparan, maka boleh jadi benar bahwa bank syariah tersebut melanggar nilai-nilai akhlak dalam berbisnis.
Menilai Kualitas Etis Praktik Perbankan Syariah: Perspektif Toeri Etika
Justifikasi bahwa suatu kegiatan bisnis dikatakan baik ataupun tidak baik dapat dilihat dari empat pendekatan teoritis yang dikenal dengan pendekatan utilitarianisme, pendekatan
deontologi, teori hak, dan teori keutamaan. Dalam teori utilitarianisme, suatu produk per- bankan syariah dikatakan baik jika membawa manfaat bagi orang banyak. Semakin banyak manfaatnya bagi masyarakat semakin baik kegiatan tersebut. Dengan kata lain bahwa suatu produk perbankan syariah baik secara etika jika manfaatnya lebih besar dari keburukannya. Jenis transaksi dan produk perbankan syariah juga dapat dikatakan baik secara etika dan moral karena transaksi dan produk tersebut merupakan kewajiban dan memang dilarang oleh norma agama maupun norma hukum, sebab yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban (Bertens, 2013: 66). Immanuel Kant (1724-1804) dalam Bertens (2013: 67) menyebutkan suatu ber- buatan dikatakan baik jika dilakukan karena harus dilakukan.
Teori hak menyatakan bahwa baik buruk- nya suatu perbuatan atau kegiatan adalah yang dapat menunaikan hak orang lain (Velasques, 2005: 85). Dengan demikian kegiatan per- bankan syariah yang baik adalah yang tidak melanggar hak orang lain atau pihak lain. Hak didasarkan kepada martabat manusia, bahwa manusia memiliki hak yang sama dengan manusia yang lain. Dalam perspektif teori keutamaan (virtue) tidak ditanyakan “apa yang seharusnya dilakukan” tetapi lebih pada pertanyaan “orang seperti apa yang seharusnya melakukan” seperti kejujuran (honesty), kepercayaan (trust), keuletan dan sebagainya (Bertens, 2013: 71). Maknanya bahwa bukan hanya transaksi dan produk perbankan syariah
saja yang harus baik secara etika dan moral, tetapi juga pengelolan dan pelaku dalam