BAB III. KONDISI UMUM PEMBANGUNAN MANUSIA KAB. GRESIK 2015 17
3.2. Kondisi Kesehatan
3.2.2. Derajat Kesehatan Masyarakat
Selain dari sarana kesehatan, derajat kesehatan masyarakat juga dijadikan sebagai indikator untuk melihat indeks pembangunan manusia di bidang kesehatan mengingat manusia sebagai obyek dari pembangunan itu sendiri. Pembangunan bidang kesehatan antara lain bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan untuk semua lapisan masyarakat (universal akses) demi tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik. Obyek yang dijadikan perhatian dalam
pembangunan dibidang kesehatan salah satunya adalah kesehatan pada balita. Keberhasilan dalam meningkatkan tingkat kesehatan pada balita dapat dilihat dari tingkat kematian bayi, penolong kelahiran, dan imunisasi pada balita.
Tingkat pesakitan atau banyaknya keluhan kesehatan menunjukkan seberapa besar kebutuhan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Semakin banyak keluhan kesehatan yang terjadi dalam masyarakat maka tingkat kesehatan masyarakat semakin rendah. Kesehatan pada masyarakat juga dipengaruhi oleh pola hidup sehat yang dilakukan. Salah satunya adalah sistem sanitasi dalam masyarakat. Penggunaan air bersih dan sistem pembuangan tinja dianggap sebagai hal yang perlu diperhatikan.
Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka kematian bayi seringkali dijadikan sebagai indikator derajat kesehatan suatu daerah. Untuk menghasilkan AKB yang akurat diperlukan data dasar yang baik seperti Sensus Penduduk. Namun bila data dasar tersebut sulit tersedia atau jaraknya terlalu jauh dengan tahun referensi maka dapat dilakukan dengan pendekatan lain. Salah satunya adalah AKB didekati dari data jumlah anak yang lahir hidup dengan jumlah anak yang masih hidup. Berdasarkan data Susenas 2015, rata-rata anak yang dilahirkan hidup per perempuan usia 15-49 tahun yang pernah kawin di Kabupaten Gresik tahun 2015 sebesar 1,76, sementara rata-rata anak yang masih hidup 1,71 jadi selisih dari keduanya sebesar 0,05 poin. Artinya rata-rata anak yang sudah meninggal per perempuan usia 15-49 tahun yang pernah kawin di Kabupaten Gresik tahun 2015 sebesar 0,05. AKB selama kurun waktu 2010-2014 terjadi penurunan dan seiring dengan itu AHH mengalami kenaikan.
Analisis Indikator Pembangunan Manusia Kabupaten Gresik 27
Kabupaten Gresik Tahun 2010-2015
10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 2010 2011 2012 2013 2014 2015 72,15 72,16 72,18 72,19 72,19 72,29 24,29 23,46 23,27 22,65 22,13 AHH AKB
Sumber : BPS Jawa Timur 2010-2015
Penolong Kelahiran
Indikator penting terkait dengan kesehatan adalah angka kematian bayi. Angka kematian bayi berpengaruh kepada penghitungan angka harapan hidup waktu lahir (
e
o) yang digunakan dalam salah satu dimensi pada indeks komposit penyusun indeks pembangunan manusia ditilik dari sisi kesehatan. Sementara itu salah satu aspek penentu besarnya angka kematian bayi adalah penolong kelahiran. Penolong kelahiran sebenarnya tidak hanya terkait dengan angka kematian bayi namun juga angka kematian ibu sebagai resiko proses kelahiran. Dalam proses kelahiran bayi tidak dapat dipisahkan antara probabilita keselamatan ibu atau anak yang dilahirkan. Keduanya harus diselamatkan dalam resiko besar sebuah kelahiran. Penolong kelahiran yang dilakukan oleh dokter atau tenaga medis lainnya selama ini dianggap lebih baik jika dibandingkan dengan dukun atau famili. Dalam analisis ini digunakan penolong terakhir pada kelahiran mengingat pada proses ini sangat mengandung resiko. Gambar 3.5 menunjukkan bahwa 100 persen penolong kelahiran balita dilakukan oleh petugas medis (dokter, bidan, dan tenaga paramedis lain), kondisi ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 98,53 persen.Sementara penolong kelahiran tenaga non medis sebesar 0 persen atau mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 1,47 persen. Masyarakat Kabupaten Gresik secara keseluruhan sudah memiliki kesadaran akan pentingnya menggunakan jasa tenaga kesehatan terlatih dibandingkan dengan penolong kelahiran tidak terlatih. Fenomena penolong kelahiran dengan bantuan dukun secara umum sudah jarang terjadi, dan pada tahun 2015 persentasenya sudah nol sehingga resiko kematian bayi maupun ibu dapat ditekan, dan tentunya akan menurunkan angka kematian bayi dan angka kematian ibu.
Gambar 3.5 Persentase Tenaga Penolong Kelahiran Terakhir Kabupaten Gresik Tahun 2015
Sumber: Susenas Jawa Timur 2013-2015
Imunisasi
Angka kematian bayi sangat berhubungan erat dengan proses kelahiran, setelah itu masih banyak tahap yang harus dilalui sesorang untuk tetap survive terutama selama tahap usia balita. Untuk menjamin kesehatan balita yang rentang dengan ancaman penyakit, sangat perlu diberikan imunisasi agar kekebalan pada tubuh balita dapat terbentuk. Imunisasi yang diberikan kepada balita diantaranya adalah imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak/morbili, dan Hepatitis B. Pemberian
Analisis Indikator Pembangunan Manusia Kabupaten Gresik 29
imunisasi sebagai salah satu cara untuk mencegah terserang penyakit dan menyebabkan kematian. Gambar 3.6 menunjukkan bahwa di tahun 2015, persentase balita yang mendapatkan imunisasi cukup tinggi untuk semua jenis imunisasi yaitu BCG (95,51%); DPT (99,34%); Polio (99,25%); Campak/morbili (79,10%); Hepatitis (98,82%); dan sebanyak 89,85 persen imunisasi lengkap.
Gambar 3.6 Persentase Penggunaan Imunisasi Pada Balita Kabupaten Gresik Tahun 2015
Sumber: Susenas Jawa Timur 2015
Tingkat kesadaran tertinggi terdapat pada jenis imunisasi DPT, sedangkan
kesadaran imunisasi terendah adalah pada jenis pengunaan imunisasi
campak/morbili. Kesadaran dalam mengimunisasi balita sangat penting perannya dalam tumbuh kembang balita. Sebenarnya tidak hanya kesadaran dalam mengimunisasi balita saja yang harus diperhatikan oleh para orang tua namun juga imunisasi dasar lengkap harus diperhatikan.
Imunisasi dasar lengkap adalah pemberian lima vaksin imunisasi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan untuk bayi dibahwa satu tahun. Imunisasi lengkap tersebut yaitu: (1) Hepatitis B, umur pemberian kurang dari 7 hari sebanyak satu kali; (2) BCG, umur pemberian satu bulan sebanyak satu kali; (3) DPT umur pemberian dua bulan, tiga bulan, dan empat bulan sebanyak tiga kali; (4) Polio, umur pemberian satu, dua, tiga, dan empat bulan sebanyak empat kali; (5) Campak, umur pemberian sembilan bulan sebanyak satu kali. Perlu diketahui bahwa balita yang
mendapatkan imunsasi secara lengkap perlu terus digalakkan agar tidak hanya sekedar diberikan imunisasi tetapi imunisasi dasar lengkap.
Morbiditas / Tingkat Pesakitan
Banyaknya keluhan kesehatan digunakan untuk mengukur derajat kesehatan pada penduduk. Penduduk dianggap memiliki derajat kesehatan yang semakin tinggi ketika keluhan kesehatan yang dialami semakin rendah. Pada tahun 2015, penduduk Kabupaten Gresik yang mengalami keluhan kesehatan sebesar 24,74 persen. Jika dilihat dari tahun 2013-2015 terjadi kenaikan persentase keluhan dari 21,08 ditahun 2013 menjadi 22,58 ditahun 2014. Hal tersebut menunjukkan semakin banyak penduduk yang mengalami keluhan kesehatan dikarenakan faktor makanan, gaya hidup, dan lingkungan. Informasi mengenai keluhan kesehatan dapat digunakan sebagai referensi dalam penyediaan dalam pelayanan kesehatan seperti persediaan obat-obatan dalam tenaga medis maupun para medis. Data susenas 2015 juga menunjukkan bahwa penduduk di Kabupaten Gresik mempunyai keluhan kesehatan dan terganggu kegiatan sehari-harinya sebesar 13,21 persen, mereka berobat jalan terbanyak kepraktek dokter/bidan, dengan rata-rata lama sakit 4-5 hari, jika yang rawat inap maka rata-rata 5-6 hari.
Penggunaan Air Bersih
Selain dilihat dari tingkat morbiditas, derajat kesehatan masyarakat juga dapat diamati dari pola hidup. Pola hidup mempengaruhi tingkat kesehatan, pola hidup bersih dan sehat tentunya lebih dapat menjamin kesehatan dibandingkan dengan pola hidup yang tidak bersih. Penggunaan air bersih baik itu sumber air minum maupun lainnya menentukan kondisi kesehatan masyarakat. Sumber air minum menentukan kualitas air minum. Hasil Susenas 2015 menunjukkan bahwa sebesar 81,45 persen rumah tangga di Kabupaten Gresik memiliki fasilitas air minum sendiri; 10,33 persen milik bersama; 8,22 persen fasilitas umum. Sebagian besar rumah tangga memperoleh air minum dengan cara membeli secara eceran. Perkembangan kondisi penggunaan air bersih mengalami-perbaikan kualitas, hal ini terlihat dari
Analisis Indikator Pembangunan Manusia Kabupaten Gresik 31
persentase penggunaan fasilitas air sendiri yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan persentase penggunaan fasilitas air minum milik bersama dan umum.
Sumber air minum tertinggi rumah tangga di Kabupaten Gresik tahun 2015 adalah air isi ulang dengan nilai 50,78 persen, sumber air untuk memasak tertinggi menggunakan air dari sumber sumur bor/pompa demikian sumber air untuk mandi dan cuci. Rumah tangga yang menggunakan pompa/sumur/mata air di Kabupaten Gresik tahun 2015 berjarak diatas 10 meter ke tempat penampungan kotoran/tinja terdekat sebesar 85,08 persen.
Gambar 3.7 Persentase Penggunaan Fasilitas Air Minum Kabupaten Gresik Tahun 2015
Sumber: Susenas Jawa Timur 2015