STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN OKU TIMUR
3. Desa Mandiri Gotong Royong Bidang Pendidikan Non Formal
Desa mandiri gotong royong dibidang pendidikan baik di pendidikan formal, nonformal, dan informal.
Bidang pendidikan nonformal dan informal perlu diciptakan kesetaraan dalam beberapa hal antara lain :
I. Informal
Perlu terciptanya kesadaran masyarakat dalam menumbuhkan karakter terciptanya pembelajaran dan pendidikan di lingkungan keluarga. Contoh:
a. Membawa anak ke dunia kerja sehari-hari para orang tua
b. Memperkenalkan lingkungan kepada anak melalui nasihat, dorongan, dll II. Nonformal
Perlu terciptanya kesadaran masyarakat dalam menumbuhkan karakter terciptanya pembelajaran dan pendidikan di lingkungan antara lain
a. Mengadakan pembelajaran yang sifatnya rutin di masyarakat yang ditambah dengan pemberantasan buta aksara seperti pengajian dan majlis talim
b. Menciptakan dunia pendidikan yang mengarah wajar diknas untuk mencapai setara SD/paket A, setara SMP/paket B.
4.2.2.5. Sasaran Pendidikan Berbasis Desa Mandiri Gotong Royong
Sasaran pembangunan pendidikan berbasis Desa Mandiri Gotong Royong dalam jangka waktu lima tahun kedepan adalah AMH dan RRLS dan dilaksanakan dengan titik berat pada hal-hal berikut :
1. Penurunan Angka Drop Out (DO) dan Buta Aksara
Penurunan Angka DO dan Buta Aksara diwujudkan dengan adanya kemitraan antara masyarakat desa yang peduli terhadap pendidikan dengan SKPD lingkup Pendidikan, sehingga diharapkan tidak ada lagi siswa putus sekolah pada usia sekolah (7 – 15 tahun). Siswa yang rawan putus sekolah tersebut diidentifikasi permasalahannya, apabila masalahnya adalah ekonomi maka SKPD Pendidikan wajib membebaskan semua biaya termasuk biaya untuk penyediaan buku, sementara untuk ongkos sekolah dapat dibantu dari masyarakat desa melalui dana talangan pendidikan dari kas APBD Desa dan bantuan Pemerintah kabupaten sebagai stimulan untuk sumbangan peduli pendidikan, apabila permasalahannya adalah budaya maka perlu adanya pendekatan persuasif kepada orang tua tersebut dan tidak ada lagi buta huruf pada usia produktif (15—45 tahun).
2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Untuk anak di bawah usia SD, terdapat pelayanan pendidikan berupa TPA, PAUD atau TK. Selain itu siswa SD wajib mengikuti pendidikan keagamaan di sekolah madrasah melalui SD Plus, pagi digunakan untuk sekolah formal dan siang digunakan untuk sekolah madrasah. 3. Kesetaraan
Untuk penduduk yang lewat usia sekolah dan masih buta huruf maka PKBM Paket A, B dan C harus dioptimalkan dalam mengatasi permasalahan tersebut.
4. Life Skill
Selain capaian yang bersifat formal, bidang pendidikan akan terus berupaya meningkatkan kewirausahaan siswa melalui pendidikan kewirausahaan di sekolah-sekolah sehingga kedepan lulusan sekolah memiliki alternatif lain selain melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Seiring dengan itu pula Dinas Tenaga Kerja akan berupaya meningkatkan pelatihan-pelatihan yang berorientasi pasar guna memenuhi bursa kerja dalam menghadapi peningkatan investasi di Kabupaten OKU Timur.
4.2.3. Simulasi Rencana Model Pembangunan Pendidikan berbasis Desa Mandiri Gotong Royong Bidang Pendidikan Menengah Umum dan Kejuruan (DIKMENUMJUR) 4.2.3.1. Rencana Alur Pengkondisian Desa Model
- Pada desa dikondisikan memiliki 30 orang petani tanaman pangan dan 10 orang petani tanaman perkebunan/kehutanan yang masing-masing memiliki 2 ekor sapi atau 10 ekor domba, 10 orang peternak sapi, 10 orang peternak kambing / domba, 100 orang peternak unggas (ayam kampung, itik, entog, angsa), 1 orang UKM Perbengkelan (sepeda motor, las), 5 orang teknisi bangunan, dan 10 orang pedagang eceran yang berpendidikan SMK. Di desa2 tertentu ditambah dengan 10 orang petani ikan, 1 orang UKM Pengolahan Hasil Pertanian, serta lebih dari 1 orang UKM Perbengkelan (sepeda motor, las).
- Kondisi tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem agribisnis terpadu berbasis organik karena setiap petani memproduksi sendiri pupuk organik dari limbah pertanian dan peternakannya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Dengan demikian mereka dapat diarahkan untuk memproduksi tanaman pangan (padi, palawija, sayuran) organik secara terorganisir. Pengembangan pertanian, perkebunan, dan kehutanan berbasis organik akan memperbaiki ekosistem, keanekaragaman hayati dan sumber daya lingkungan (hutan, tanah, air, dan udara).
- Perbaikan kondisi sumber daya lingkungan desa akan menumbuh-kembangkan keanekaragaman pangan sumber karbohidrat selain padi, jagung, dan singkong, yaitu suweg, iles2, garut, dan ganyong. Umbi2an ini merupakan bahan baku tepung organik yang sangat baik untuk mie, roti, dan kue. Selain untuk konsumsi sendiri tepung ini juga diperlukan oleh Jepang, Korea, dan China. Dengan demikian dapat mengurangi konsumsi terigu yang berbahan baku gandum dan dapat mengekspor tepung organik yang berbahan baku suweg, iles2, garut, dan ganyong.
- Selain itu para peternak juga akan menjadi produsen pupuk organik aktif yang akan digunakan untuk mengembangkan kebun-kebun rumput di sepanjang jalan, sepanjang
sungai, pinggir kebun, pinggir hutan sehingga tidak ada sapi yang digembalakan. Dengan demikian di desa tersedia hijauan pakan sapi yang berkualias dan dalam jumlah yang cukup sehingga tidak merusak tanaman lain untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi. Selain itu sapi memperoleh pakan yang berkualitas dan cukup sehingga pertumbuhan dan perkembagannya memenuhi syarat ekonomi dan kualitas dagingnya baik.
- Kondisi lingkungan pedesaan seperti tersebut di atas akan menumbuh-kembangkan biota tanah yang akan menyuburkan tanah dan sangat baik untuk pengembangan ternak unggas khususnya ayam kampung dan atau itik di setiap keluarga. Dengan demikian akan banyak dihasilkan telur ayam kampung dan daging ayam kampung yang 100% organik, sehingga memudahkan pengelolaannya secara agro-industri. Selanjutnya mereka akan diorganisir dalam suatu unit usaha terpadu yang dikelola secara profesional.
Bagaimana menyiapkan petani, peternak, petani ikan, petani perkebunan dan kehutanan, pedagang sarana produksi dan ritel, serta pengelola bengkel umum dan bengkel sepeda motor lulusan SMK? Bagaimana proses pembelajarannya dan bagaimana menumbuh-kembangkan kepedulian dan peran aktif masyarakat desa dalam proses pembelajaran?
- Sebagian besar mereka adalah pemuda yang kalau sekolah tidak bisa makan kalau bisa makan tidak bisa sekolah, serta terkendala oleh jarak, topografi dan kondisi jalan yang jelek. Untuk itu mereka harus sekolah sambil bekerja atau bekerja sambil sekolah tanpa harus meninggalkan desanya dan terdiri dari lulusan SLTP yang sudah 1—7 tahun lalu tidak sekolah yang ada di desa–desa.