• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

C. Fokus dan Desain Penelitian

2. Desain Penelitian

Desain penelitian ini dirancang sesuai dengan tahapan pelaksanaan penelitian sebagai berikut :

D. Defenisi Operasional Variabel

Untuk memperjelas pengertian dari variabel–variabel yang sedang diteliti agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam menafsirkan variabel–

variabel tersebut, maka berikut dijelaskan defenisi operasional variabel penelitian ini didefinisikan sebagai berikut:

1. Proses pembuatan bakul yang dimaksud di sini ialah cara atau tahapan-tahapan yang dilakukan oleh siswa dalam pembuatan bakul dari bahan daun kelapa.

2. Untuk memperoleh data mengenai faktor–faktor yang menjadi penghambat dalam proses pembuatan kerajinan bakul.

3. Untuk memperoleh data mengenai faktor – faktor yang menjadi penunjang dalam proses pembuatan kerajinan bakul.

Pada penelitian ini, defenisi operasional variabel adalah bagaimana proses pembuatan kerajinan bakul, maksudnya kegiatan ini dilakukan mulai dari pengolahan bahan dengan cara memsahkan daun kelapa dengan lidi, memotong daun kelapa helai demi helai. Pengayaman dan pembentukan bakul dengan cara menganyam.

E. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Baraka Desa Pasui Kabupaten Enrekang, dengan jumlah 30 siswa yang terdiri atas 12 siswa laki – laki dan 18 siswi perempuan.

Berikut ini daftar siswa yang menjadi subjek dalam penelitian

22

Tabel 1. Daftar Subjek Penelitian

NO. NIS NAMA L/ P

23 15.069 Rahman L

Teknik observasi yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung (direct observation) terhadap para siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka. Selama pengamatan berlangsung, penulis mengamati proses pengolahan bahan dan pemilihan daun kelapa berkualitas yang dapat dibuat menjadi seni kerajinan bakul oleh para siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka.

Serangkaian dengan pengamatan langsung tersebut penulis menggunakan catatan lapangan untuk mencatat hal–hal yang diobservasi.

24

Menurut Arikunto (2007: 30), pengamatan (observation) adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.

2. Teknik wawancara

Teknik wawancara digunakan dalam mengumpulkan data dengan cara melakukan serangkaian pertanyaan langsung/ lisan terhadap siswa – siswi kelas VII A SMP Negeri 2 Baraka. Hal – hal yang ditanyakan dalam wawancara tersebut adalah yang menyangkut variasi penelitian seperti yang disebutkan di atas. Wawancara ini, penulis laksanakan seiring dengan berlangsungnya pengamatan.

Terkait dengan hal ini, maka teknik wawancara diperkuat oleh pendapat Arikunto, (2007: 30) wawancara atau interview adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan cara tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak, karena dalam wawancara ini responden tidak diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, pertanyaan hanya diajukan oleh subjek evaluasi.

Wawancara dapat dilakukan dengan cara:

1. Interview bebas, dimana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh objek evaluasi.

2. Interview terpimpin, yaitu interview yang dilakukan subjek evaluasi dengan cara mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu. Jadi dalam hal ini responden pada

waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan oleh penanya.pertanyaan itu kadang – kadang bersifat sebagai yang memimpin, mengarahkan dan penjawab sudah dipimpinoleh sebuah daftar cocok, sehingga dalam menuliskan jawaban, ia tinggal membubuhkan tanda cocok di tempat sesuai dengan keadaan responden.

3. Teknik dokumentasi

Dokumentasi yang dilakukan yaitu dengan mengadakan serangkaian pengambilan gambar atau pemotretan langsung terhadap objek–objek yang terkait dalam penelitian. Teknik ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat data yang ada sehingga penulis mendapat gambaran yang lebih jelas. Seperti telah disebutkan bahwa sumber data utama dalam penelitian kulaitatif ialah kata-kata dan tindakan, sebaiknya ada data tambahan seperti dokumen. Jenis datanya dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis dan foto.

G. Teknik Analisis Data

Semua data yang berasal dari sumber data dalam penelitian ini adalah subjek yang disebut informan yaitu orang–orang yang memberi informasi atau menjawab pertanyaan–pertanyaan peneliti berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Oleh karena penelitian ini adalah kualitatif, maka analisis datanya menggunakan metode kualitatif pula. Semua data yang telah terkumpul dianalisis disajikan secara deskriptif.

26

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang berasal dari observasi dan wawancara. Langkah berikutnya adalah melakukan reduksi data yang dilakukan dengan membuat abstrak yang jelas, yaitu dengan membuat rangkuman, satuan–satuan dan dikategorikan. Tahap akhir dari analisis data ini adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substansi.

Proses analisis data mengenai “Proses Pembuatan Bakul dari Bahan Daun Kelapa oleh Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang” dilakukan dengan cara yaitu, membaca, bertanya, mempelajari dan menelaah data yang bersifat umum yang ada dalam sumber kepustakaan mengenai proses pembuatan, teknik-teknik anyam yang diterapkan dan unsur–

unsur yang berpengaruh pada kerajinan anyam. Kemudian penulis mempelajari dan menelaah data yang berhasil dikumpulkan melalui observasi, wawancara mengenai hal–hal yang menyangkut proses pembuatan seni kerajinan membuat bakul dari bahan baku daun kelapa, dan selanjutnya data tersebut dibuat menjadi suatu rangkuman yang berisi tentang proses pembuatan bakul dari bahan baku daun kelapa yang meliputi:

1. Proses pengolahan bahan kerajinan bakul dan sarana yang digunakan.

2. Proses pengayaman kerajina bakul dan sarana yang digunakan.

3. Cara finishing atau akhir pembuatan kerajinan bakul, sarana yang digunakan.

Setelah data tersebut direduksi, kembali diperiksa keabsahannya, kemudian dikonfirmasikan kembali dengan responden terhadap data awal penelitian sampai dengan data akhir penelitian.

28

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini dimaksudkan untuk menguraikan secara objektif tentang proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang. Penelitian yang diperoleh di lapangan melalui prosedur yang digunakan dalam penelitian ini.

Penelitian ini tidak menggunakan data kuantitatif melainkan menggunakan data kualitatif. Data yang telah diolah dan disajikan dalam bentuk deskripsi, sesuai dengan indikator dalam fokus penelitian.

A. Hasil Penelitian

1. Proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang.

Bakul adalah wadah atau tempat yang terbuat dari anyaman bambu, rotan atau daun kelapa dengan mulut berbentuk lingkaran. Pada penelitian ini dalam proses pembuatan bakul siswa menggunakan bahan baku dari daun kelapa. Kerajinan bakul dari bahan daun kelapa dikerjakan langsung oleh siswa, setelah diberikan penjelasan dan pengarahan dari guru. Proses pembuatan kerajinan bakul dari bahan daun kelapa ini bersifat tradisional, yaitu pembuatannya masih menggunakan peralatan yang sangat sederhana.

Sebelum memulai prose pembuatan bakul terlebih dahulu kita mengetahui dan mengenal alat dan bahan yang digunakan siswa dalam memeperlancar kegiatan pembuatan bakul.

a. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Proses Pembuatan Bakul dari Bahan Daun Kelapa oleh Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang

1) Alat

Alat sangat penting dalam proses pembuatan bakul. Adapun alat yang digunakan dalam proses pembuatan bakul yaitu gunting dan pisau.

Gambar 4. 16 Gunting

(Dokumentasi foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

Gunting berfungsi sebagai alat untuk memotong ujung dari bahan daun kelapa sebelum dianyam. Gunanya untuk memudahkan saat proses menganyam.

30

Gambar 4. 17 Pisau

(Dokumentasi foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

Pisau ini berfungsi sebagai alat pemotong, dalam proses pembuatan bakul pisau ini digunakan untuk memisahkan helai daun kelapa dari lidi.

2) Bahan

Dalam pembuatan bakul ada beberapa bahan yang biasa digunakan yaitu bambu, rotan dan daun kelapa. Pada proses pembuatan bakul yang dilalukan oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 menggunakan bahan baku utama yaitu daun kelapa.

Gambar 4. 18 Daun kelapa

(Dokumentasi foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

b. Teknik anyaman yang digunakan dalam proses pembuatan bakul dari lurus atau searah dengan si penganyam, sedangkan pakannya sejajar si penganyam.

2) Teknik anyam serong, yaitu anyaman yang lungsi dan pakannya lurus dengan sesamanya, tetapi keduanya terletak menyimpang 45 derajat ke kiri dan ke kanan terhadap si penganyam.

2. Faktor penghambat dan penunjang dalam proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang

Dalam proses pembuatan bakul terdapat beberapa hal yang menjadi faktor penghambat dan penunjang. Berikut ini faktor penghambat dan penunjang yang dialami siswa saat membuat kerajinan bakul dari bahan daun kelapa.

a. Faktor penghambat

Faktor penghambat dalam proses pembuatan bakul yang dialami oleh siswa, yang pertama yaitu pengambilan bahan baku yaitu daun kelapa.

Walaupun pohon kelapa banyak terdapat di sekitar pemukiman warga, tetapi saat pengambilan bahan baku ini menyulitkan siswa dikarenakan pohon kelapa yang tinggi. Sehingga siswa harus meminta bantuan kepada orang dewasa. Faktor pengambat yang kedua dalam proses pembuatan bakul yaitu

32

saat menganyam bagian sudut dari bakul. Banyak siswa yang kesulitan saat mulai menganyam bagian sudut dari bakul. Selain itu faktor penghambat yang lain yaitu saat proses terakhir/ finishing dalam pembuatan bakul, siswa kesulitan saat melipat ujung bakul.

b. Faktor penunjang

Faktor penunjang dalam proses pembuatan bakul adalah bahan baku yang masih mudah ditemukan karena pohon kelapa masih banyak tersedia di sekitar pemukiman warga, sehingga memudahkan siswa untuk mendapatkan bahan baku tersebut. Dan siswa tidak perlu membeli ataupun sampai keluar kampung untuk mencari bahan baku.

B. Pembahasan

1. Proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang

Sebelum memulai proses pembuatan bakul terlebih dahulu kita mengetahui tahapan awal yang dilakukan siswa sebelum masuk dalam proses penganyam. Dalam pembahasan tahapan dalam proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa dikelompokkan atas beberapa bagian yaitu:

a. Pembagian kelompok

Dalam bagian ini dipaparkan awal sebelum memasuki proses pembuatan bakul. Pertama-tama siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, dalam satu kelompok terdiri atas 2 orang siswa. Hal ini bertujuan untuk

memudahkan siswa saat proses pembuatan bakul, juga untuk membangun kerjasama dan saling membantu antara siswa yang satu dengan yang lain.

b. Persiapan alat

Adapun alat dan bahan perlengkapan yang digunakan dalam proses pembuatan bakul cukup sederhana yaitu:

1. Pisau 2. Gunting

Pisau digunakan untuk memisahkan daun kelapa dari lidi. Sedangkan gunting digunakan untuk menggunting ujung daun kelapa untyk emudahkan saat proses menganyam.

Gambar 4.19 Pisau dan gunting

(Dokumentasi foto: Anugerah, 21 Januari 2016) c. Persiapan bahan

Dalam pembuatan bakul yang harus diperhatikan adalah pemilihan bahan baku agar karya yang dihasilkan lebih bagus. Bahan baku utama yang digunakan siswa dalam pembuatan bakul yaitu daun kelapa, siswa memilih

34

bahan daun kelapa yang paling baik. Setelah pemilihan bahan baku, siswa lalu mempesiapkan jumlah helai daun yang akan dipakai dalam pembuatan bakul. Dalam proses pembuatan bakul siswa mempersiapkan 12 helai daun kelapa, yakni 6 helai daun kelapa sebagai pakan dan 6 helai daun kelapa sebagai lungsi.

Gambar 4.20 Daun kelapa

(Dokumentasi foto: Anugerah, 21Januari 2016)

d. Teknik anyaman

Sebelum memasuki proses pembuatan bakul, penulis terlebih dahulu menjelaskan tentang teknik anyaman yang digunakan dalam proses pembuatan bakul. Dimulai dari anyaman dasar pada bakul, teknik anyaman yang digunakan pada dasar bakul adalah teknik anyaman tegak, yaitu anyaman yang letak lungsinya tegak lurus atau searah dengan si penganyam, sedangkan pakannya sejajar dengan si penganyanm.

Gambar 4.21 Anyaman tegak

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

Teknik anyaman yang kedua adalah teknik anyam serong, yaitu anyaman yang lungsi dan pakannya tegak lurus dengan sesamanya, tetapi keduanya terletak menyimpang 45 derajat ke kiri dan ke kanan terhadap si penganyam.

Gambar 4.22 Anyaman tegak

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016

36

e. Proses menganyam bakul

Sebelum penulis membahas tentang proses pembuatan bakul terlebih dahulu perlu diketahui, bahwa dalam proses pembuatan bakul tidak melalui proses pewarnaan. Hal ini disebabkan karena bakul merupakan suatu kerajinan tradisional yang bersifat turun-temurun. Adapun langkah-langkah yang dtempuh oleh siswa dalam proses pembuatan bakul, yaitu:

1. Langkah awal dalam menganyam bakul siswa mengatur helai daun kelapa yang berfungsi sebagai lungsi berjajar dalam jumlah genap dan pakan yang berjumlah genap pula.

Gambar 4.23

Mengatur helai daun kelapa

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

2. Kemudian lungsi-lungsi yang ada di sebelah kemudian diangkat kemudian ditahan dengan jari-jari tangan kita.

Gambar 4.24 Proses awal menganyam

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

3. Sehelai pakan disisipkan dengan anyaman beselang satu, maksudnya helai daun kelapa yang berfungsi sebagai pakan menumpangi dan di tumpangi satu buah lungsi atau singkatnya angkat satu turun satu.

Gambar 4.25 Proses awal menganyam

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016

38

4. Setelah anyaman dasar selesai maka anyaman dirapikan atau dirapatkan dengan menggunakan tangan, kemudian barulah lembaran tersebut dibentuk dengan membuat sudut dari bakul.

Adapun proses kerjanya yaitu mula-mula mulai dari lungsi telebih dahulu, ambil bagian tengah dari lungsi kemudian anyam menyerong dengan pola yang sama yaitu anyaman satu. Pada pakan juga dengan proses yang sama.

Gambar 4.26

Proses menganyam sudut bakul

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

Gambar 4.27

Proses menganyam sudut bakul

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

5. Setelah keempat sudut telah tebentuk barulah lungsi dan pakan dianyam agar semua sisi dari bakul berbentuk lingkaran.

Gambar 4.28 Proses menganyam bakul

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

40

6. Proses terakhir adalah penyelesaian tepi bakul yang disamping memperkuat hasil anyaman juga memperindah bakul.

Gambar 4.29

Proses penyelesaian tepi bakul

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

f. Finishing

Prosesnya yaitu ujung dari anyaman bakul dilipat bersilang lalu diselipkan ke dalam anyaman agar terlihat lebih rapi juga untuk memperkuat anyaman.

Gambar 4.30

Proses melipat pinggiran bakul

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

Gambar 4.31

Proses melipat pinggiran bakul

(Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

g. Hasil karya

Adapun hasil akhir dari “Proses Pembuatan Bakul dari Bahan Daun Kelapa oleh Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang”

yaitu:

Gambar 4.32

Hasil akhir dari proses pembuatan bakul (Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

42

Dari hasil karya siswa tersebut di atas masih terdapat kekurangan.

Yaitu pada bagian sisi bakul masih terlihat lubang-lubang kecil, itu artinya saat proses menganyam siswa tidak terlalu memperhatikan kerapatan anyaman. sedangkan pada bagian atas bakul yang berbentuk lingkaran, meskipun tekniknya sudah benar akan tetapi kerapian dari karya siswa masih harus diperhatiakan.

Berikut ini adalah contoh hasil karya yang sudah ada sebelumnya.

Karya ini dibuat oleh siswa kelas lain yang dusah lebih dulu mengetahui tentang cara membuat bakul dari bahan daun kelapa. Adapun contoh karyanya yaitu:

Gambar 4.33

Contoh hasil karya kerajinan bakul (Dokumentasi Foto: Anugerah, 21 Januari 2016)

Perbedaan hasil karya dari kelas VII dengan karya kerajinan yang sudah ada sebelumnya sangat terlihat jelas. Pada hasil karya di atas sudah tidak terdapat celah pada sisi bakul dan juga terlihat rapi.

h. Perbedaan bahan baku basah dengan bahan baku kering

Dalam pembuatan bakul dari bahan daun kelapa, ada dua jenis daun kelapa yang biasa digunakan yaitu daun kelapa yang masih basah dan daun kelapa yang sudah kering. Masing-masing bahan memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.

1. Daun kelapa basah

Dengan menggunakan bahan baku daun kelapa yang masih basah, tidak memerlukan proses pengeringan telebih dahulu dan dapat langsung digunakan untuk membuat anyaman bakul. Tapi kekurangan dari menggunakan bahan daun kelapa yang masih basah yaitu saat menganyam akan sedikit lebih sulit karena bahan yang masih basah akan kaku saat dilipat, dan kerajinan yang sudah jadi lama-kelamaan akan mengkerut dikarenakan daun kelapa menjadi layu. Karena itu menyebabkan kerajinan bakul akan terlihat tidak rapi dan akan terlihat celah pada sisi bakul.

2. Daun kelapa kering

Dengan menggunakan bahan baku daun kelapa yang sudah kering lebih mudah saat menganyam dibandingkan dengan daun kelapa yang masih basah, karena daun kelapa yang sudah kering sudah lentur sehngga memudahkan saat dianyam. Hasil kerajinan tetap akan seperti semula tidak sama halnya dengan menggunkan bahan baku daun kelapa yang masih basah.

Dan bakul yang terbuat dari bahan baku daun kelapa keing akan lebih tahan lama dan lebih kuat jika digunakan sebagai wadah.

44

2. Faktor-faktor penghambat dan penunjang dalam proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang

Setelah penulis menguraikan secara khusus mengenai kegiatan proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang, maka berikut ini duaikan penghambat dan penunjang yang dialami oleh siswa.

a. Faktor penghambat

Faktor penghambat dalam proses pembuatan bakul yang dialami oleh siswa, yang pertama yaitu pengambilan bahan baku yaitu daun kelapa.

Walaupun pohon kelapa banyak terdapat di sekitar pemukiman warga, tetapi saat pengambilan bahan baku ini menyulitkan siswa dikarenakan pohon kelapa yang tinggi. Sehingga siswa harus meminta bantuan kepada orang dewasa. Faktor pengambat yang kedua dalam proses pembuatan bakul yaitu saat menganyam bagian sudut dari bakul. Banyak siswa yang kesulitan saat mulai menganyam bagian sudut dari bakul. Selain itu faktor penghambat yang lain yaitu saat proses terakhir/ finishing dalam pembuatan bakul, siswa kesulitan saat melipat ujung bakul.

b. Faktor penunjang

Faktor penunjang dalam proses pembuatan bakul adalah bahan baku yang masih mudah didapat karena pohon kelapa masih banyak tersedia di sekitar pemukiman warga, sehingga memudahkan siswa untuk mendapatkan bahan baku tersebut.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasakan hasil penelitian tentang “proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang” maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Proses pembuatan bakul meliputi:

a. Pembagian kelompok e. Proses menganyam bakul

- Langkah awal menganyam bakul, siswa mengatur helai daun kelapa yang berfungsi sebagai lungsi berjajar dalam jumlah genap dan pakan yang berjumlah genap pula.

- Kemudian lungsi-lungsi yang ada di sebelah kemudian diangkat lalu ditahan dengan jari-jari tangan.

- Sehelai pakan disisipkan dengan anyaman berselang satu, maksudnya helai daun kelapa yang berfungsi sebagai pakan

46

menumpangi dan ditumpangi satu buah lungsi atau singkatnya angkat satu turun satu.

- Setelah anyaman dasar selesai maka anyaman dirapikan atau dirapatkan menggunakan tangan, kemudian barulah lembaan tersebut dibentuk dengan membuat sudut dari bakul.

- Setelah keempat sudut telah terbentuk baulah lungsi dan pakan dianyam agar semua sisi dari bakul berbentuk lingkaran.

- Proses terakhir adalah penyelesaian tepi bakul yang disamping untuk memperkuat hasil anyaman juga memperindah bakul.

f. finishing

2. a. Faktor penghambat dalam proses pembuatan bakul yang dialami oleh siswa, yang pertama yaitu pengambilan bahan baku yaitu daun kelapa. Walaupun pohon kelapa banyak terdapat di sekitar pemukiman warga, tetapi saat pengambilan bahan baku ini menyulitkan siswa dikarenakan pohon kelapa yang tinggi.

Sehingga siswa harus meminta bantuan kepada orang dewasa.

Faktor pengambat yang kedua dalam proses pembuatan bakul yaitu saat menganyam bagian sudut dari bakul. Banyak siswa yang kesulitan saat mulai menganyam bagian sudut dari bakul. Selain itu 44

faktor penghambat yang lain yaitu saat proses terakhir/ finishing dalam pembuatan bakul, siswa kesulitan saat melipat ujung bakul.

b. Faktor penunjang dalam proses pembuatan bakul adalah bahan baku yang masih mudah didapat karena pohon kelapa masih banyak tersedia di sekitar pemukiman warga.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas tentang “proses pembuatan bakul dari bahan daun kelapa oleh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Baraka Kabupaten Enrekang”, maka beberapa saran peneliti sebagai berikut:

1. Disarankan kepada guru mata pelajaran untuk tetap mengajarkan tentang proses pembuatan bakul agar siswa bisa mengetahui tentang bagamana proses pembuatan bakul yang merupakan kerajinan tradisional.

2. Mengharapkan kepada rekan-rekan mahasiswa ataupun para tenaga edukatif pada jurusan pendidikan seni rupa dan kerajinan khususnya yang menyangkut mata kuliah seni kerajinan anyam, agar dapat dijadikan sebagai tambahan literatur.

3. Kepada peneliti yang akan mengadakan penelitian lanjutan, agar penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya guna meningkatkan kualitas pembelajaran seni rupa.

48

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Angkasa.

Artono Ario, dkk. 2007. Kreasi Seni Budaya SMA X. Jakarta. Geneca Exact

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Cetakan ke 2. Jakarta: Balai Pustaka.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Garha, Oho. 1990. Berbagai Motif Anyam. Bandung: Angkasa Bandung.

Hermawan, Sani. 2013. Proses Pembuatan Anyaman Niru. Skripsi tidak diterbitkan: UNM

Salam, Sofyan. 2007. Metodologi Penelitian. Hand Out pada Jurusan Seni Rupa Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.

St, Sumiati, UUM, 1985. Berkreasi Dengan Bambu 2. Bandung: Remaja Karya.

Syamsuri. Sukri. A, dkk. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Makassar: FKIP UNISMUH Makassar.

W.J.S. Poerwadarminta, 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1991. Cetakan ke 2. Jakarta: Balai Pustaka.

Sumber Internet :

http://manfaat.co.id/Manfaat-pohon-kelapa. Diakses tanggal 20 Oktober 2015 http://id.m.wikipedia.org/wiki/Bakul. Diakses tanggal 20 Oktober 2015 http://eripurnamasari02.blogspot.com Diakses tanggal 4 Desember 2015

http://nurh4nim.tripod.com/anyamanbakul.htm Diakses tanggal 4 Desember 2015 http://tulisansebuahpensil.blogspot.com Diakses tanggal 4 Desember 2015

https://id.wikipedia.org/wiki/Bakul

48

http://kamus.cektkp.com/penunjang/

http://kamus.cektkp.com/penunjang/

Dokumen terkait