• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Peralatan Data Pendukung Data Pendukung

Dalam dokumen PROTOTYPE PLANT GAS SINTESIS DARI BATUBARA (Halaman 43-51)

diatas loop seal dan tekan tombol blower 2, sehingga bed material tersirkulasi kembali ke reaktor

4) Penanganan Tar dengan metoda Catalytic Cracking

5.3. Pembuatan cold model proses gasifikasi batubara sistem fluidized bed

5.3.1 Desain Peralatan Data Pendukung Data Pendukung

 Desain cold model didasarkan pada pembuatan gas sintesis kapasitas 1 ton/hari atau 42 kg/jam batubara.

 Dari hasil perhitungan diperoleh kebutuhan udara untuk fluidisasi sebesar 949,01 m3/jam.

Desain Reaktor (Riser)

 Kecepatan linear pada reaktor circulating fluidized bed 4 – 7 m/detik, untuk perancangan diambil 5 m/detik.

 Luas penampang reaktor dihitung dari udara fluidisasi dan kecepatan linear, sehingga diperoleh luas penampang 0,053 m2. Diameter dalam reaktor sebesar 25,6 cm.

 Tinggi reaktor dihitung berdasarkan kecepatan linear dan residence time bahan bakar, sehingga diperoleh tinggi reaktor 7,5 m.

37 Gambar 5.1. Penampang riser

Desain Siklon

 Desain siklon berdasarkan kecepatan linear masuk gas, diameter dan bulk density partikel, untuk menghitung diameter siklon. Dimensi lain dari siklon dihitung dari diameter siklon.

Bc = Dc / 4 = 7,5 cm De = Dc / 2 = 15 cm Hc = Dc / 2 = 15 cm Lc = Dc * 2 = 60 cm Sc = Dc / 8 = 3,7 cm Zc = Dc * 2 = 60 cm Jc = Dc / 4 = 7,5 cm

38 Gambar 5.2. Skema siklon

Desain Loop Seal

 Dleg = Djc (siklon) = 7,5 cm  Dls = 2,5 Dleg = 18,75 cm  Hls = Dleg = 7,5 cm

39 Gambar 5.3. Skema loop seal

Desain Alat Pendukung

a. 4 buah blower dengan spesifikasi masing-masing  Tipe: Double suction high pressure centrifugal fan  Kapasitas: 700 – 1500 m3/jam

 St. Pressure: 11 – 9 kPa  Power: 10 – 15 kW  Rpm: 2500 – 3000

b. 4 buah inverter dengan spesifikasi masing-masing  Kapasitas: 15 kW

c. 4 buah pressure gauge dengan spesifikasi masing-masing  Dapat digunakan untuk udara yang mengandung debu  Range tekanan: 0 – 15 kPa

40 5.3.2 Ujicoba Cold Model

Hasil uji coba ditunjukan oleh tabel berikut:

Tabel 5.9. Hasil percobaan cold model

No.

Skala Rpm Blower

Kondisi fluidisasi Blower

1 Blower 2 Blower 3 Blower 4

1. 0 (on) Of 0 (on) 0 (on) Belum ada aliran udara 2. 0,5 Of 0,5 0,5 Ada aliran udara, belum ada

fluidisasi

3. 0,75 Of 0,75 0,75 Fluidisasi minimum 4. 1,0 Of 1,0 1,0 Fluidisasi minimum 5. 1,3 Of 1,3 1,3 Bubling fluidized bed 6. 2,4 Of 2,4 2,4 Bubling fluidized bed 7. 3,0 Of 3,0 3,0 Circulating fluidized bed 8. 3,5 Of 3,5 3,5 Circulating fluidized bed 9. 3,5 Of 3,5 3,5 Valve loop seal dibuka

10. 3,5 1,0 3,5 3,5 bed material tidak tersirkulasi dengan baik

11. 3,5 2,0 3,5 3,5 bed material tidak tersirkulasi dengan baik

12. 3,5 3,0 3,5 3,5 bed material tidak tersirkulasi dengan baik

13. 3,5 5,0 3,5 3,5 bed material tidak tersirkulasi dengan baik

14. 3,5 7,0 3,5 3,5 bed material tidak tersirkulasi dengan baik

15. 3,5 9,0 3,5 3,5 bed material tidak tersirkulasi dengan baik

41

Hasil ujicoba cold model menunjukan bahwa cold model dapat beroperasi cukup baik. Kondisi fluidisasi minimum, bubling fluidized bed dan circulating fluidized bed dapat dilakukan dengan cara mengatur rpm masing-masing blower. Hasil pengamatan visual juga menunjukan bahwa bed material terdistribusi secara merata pada riser. Siklon juga menunjukan unjuk kerja yang baik, yaitu dapat memisahkan bed material dari output gas.

Cold model masih memiliki kelemahan pada loop seal. Loop seal tidak tidak dapat beroperasi sempurna, yaitu tidak dapat melakukan sirkulasi bed material ke riser dengan baik. Hal ini terjadi karena desain loop seal yang kurang sempurna, sehingga ada tekanan balik dari riser dan menyebabkan bed material tidak dapat tersirkulasi dengan baik. Untuk meningkatkan kinerja loop seal diperlukan modifikasi desain loop seal.

42 VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

 Terdapat teknologi komersial untuk pemurnian gas dari pengotornya: yaitu: Cyclone filters, Barrier filters, Electrostatic filters, Wet Scrubbers, Wet Scrubber, Wet Electrostatic precipitator, Penanganan Tar dengan metoda Catalytic Cracking,

 Kajian awal lingkungan

Berdasarkan keg

iatan kajian lingkungan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan kondisi/ kualitas lingkungan pada lokasi rencana batubara adalah sebagai berikut:

1. Kualitas udara ambien pada saat ini masih dibawah baku mutu lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Tingkat kebisingan belum mencapai batas yang diperkenankan mengacu kepada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan Menteri Negara Lingkungan Hidup di daerah Industri. Secara teori kedua kondisi menunjukkan daya dukung lingkungan yang masih memadai untuk menunjang pelaksanaan kegiatan gasifikasi batubara.

2. Kualitas air di dua titik yaitu air IPAL dan sungai menunjukkan hasil yang berbeda. Kualitas air IPAL secara umum dapat dikatakan baik, sedang kualitas air sungai mengalami penurunan, dapat dikatakan sungai tersebut tercemar.

3. Sikap dan persepsi masyarakat terhadap pembangunan Pilot Plant Gasifikasi PT KICK cukup baik.

 Cold model telah berhasil dibuat dan direkayasa dengan cukup baik selain komponen loop seal. Ujicoba cold model menunjukan loop seal tidak dapat beropersi dengan baik. Disarankan dilakukan modifikasi desain loop seal.

43 6.2 Saran

Mengingan kegiatan ini mempunyai arti strategis bagi Indonesia dalam meningkatkan pemanfaatan batubara dan menyiapkan bahan baku alternatif bagi industri kimia, maka dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun dunia usaha, untuk bekerjasama dalam pembangunan prototype plant gas sintesis sehingga aplikasi pada skala komersial segera terwujud.

44 DAFTAR PUSTAKA

Setiawan, B., 2008. Indonesia Coal Policy, dipresentasikan pada APEC Clean Fossil Energy Technical and Policy Seminar in conjunction with 7th Coaltech, Jakarta 17 November.

Elliot, M.A. (ed.), 1981. Chemistry of coal utilization. Second Suppl. Vol., John Wiley & Sons, New York.

Kubota, N., 2006. Development of Novel Low Rank Coal Gasifier “TiGAR”, dipresentasikan pada Seminar on Low Rank Coal Gasification, Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 16 Mei.

Nowacki, P. (ed.) 1981. Coal gasification process. Noyes Data Corporation, New Jersey. Suprapto, S., T. Rochman & Y. Basyuni, 1995. Gasifikasi batubara peringkat rendah dengan

pereaksi udara. Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengembangan Bidang Fisika Terapan, Bandung 2 – 3 Oktober.

Suprapto, S., 1999. Gasifikasi sistem unggun-tetap, alternatif pemanfaatan batubara untuk industri kecil. Prosiding Kolokium dan Pameran Pertambangan’99, Bandung, 3 – 5 Nopember.

Suprapto, S, D. Heryadi dan Y. Basyuni, 2002. Pemanfaaatan Batubara Untuk Pengeringan Teh Hijau Menggunakan Lemari Pengering Sistem Berkala dan Reaktor Gasifikasi Unggun Tetap. Makalah Ini Disampaikan Pada Seminar Nasional Kimia II – Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia, Jogyakarta, 23-24 Juli.

Dalam dokumen PROTOTYPE PLANT GAS SINTESIS DARI BATUBARA (Halaman 43-51)

Dokumen terkait