BAB II PENDIDIKAN KEAGAMAAN DAN PENDIDIKAN UMUM
C. Desentralisasi Pendidikan di Indonesia
57
oleh setiap murid/peserta didik sesuai dengan agama masing-masing.
6 UU No 2 tahun 1989
Sistem Pendidikan Nasional
Integrasi Pendidikan Islam ke dalam Sistem Pendidikan Nasional mendapatkan dasar hukum yang kuat. Hal ini berimplikasi dengan isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat pendidikan agama
7 UU No 20 tahun 2003
Sistem Pendidikan Nasional
Memperkuat dasar hukum pendidikan Islam di Indonesia
Dari uraian tabel di atas, diketahui bahwa pendidikan Islam diakui keberadaannya dalam sistem pendidikan nasional terbagi menjadi tiga hal. Pertama pendidikan Islam sebagai lembaga dengan diakui keberadaannya secara ekplisit. Kedua pendidikan Islam sebagai mata pelajaran dengan diakuinya sebagai salah satu pelajaran yang wajib diberikan pada tingkat dasar sampai perguruan tinggi,23 dan menjadi “core” atau inti kurikulum pendidikan di sekolah.24 Walaupun porsi
pendidikan agama Islam di sekolah memang hanya tiga jam pelajaran untuk SD dan dua jam pelajaran untuk SMP atau SMA/K.25 Ketiga pendidikan Islam sebagai nilai
(value) terdapat seperangkat nilai-nilai Islami dalam sistem pendidikan nasional.26
C. Desentralisasi Pendidikan di Indonesia
Mendiskusikan desentralisasi pasti tidak akan terlepas dengan otonomi daerah. Karena keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Otonomi
23 H. Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam Di Asia Tenggara (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009). 46-47.
24 Muhaimin, Rekontruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum Hingga Strategi Pembelajaran. 257.
25 Ibid. 257.
58
daerah merupakan konsekuensi dari azas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.27 Otonomi daerah adalah hak dan wewenang, dan kewajiban
daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.28
Untuk dapat mewujudkan keleluasaan dalam penyelenggaraan pemerintahan di Daerah, maka arah kebijakan otonomi daerah harus mengacu pada: (a) Self Regulating Power, yaitu kemampuan mengatur dan melaksanakan otonomi daerah demi kesejahteraan masyarakat di daerahnya. (b) Self Modifiying Power, yaitu kemampuan melakukan penyesuaian-penyesuaian dari peraturan yang ditetapkan secara nasional dengan kondisi daerah. (c) Local Political Support, yaitu menyelenggarakan pemerintahan daerah yang mempunyai legitimasi luas dari masyarakat, baik pada posisi Kepala Daerah sebagai unsur eksekutif maupun DPRD sebagai unsur legislatif. Dukungan politik lokal ini akan sekaligus menjamin efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. (d) Financial Recources, yaitu mengembangkan kemampuan dalam mengelola sumber-sumber penghasilan dan keuangan yang memadai untuk membiayai kegiatan-kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat yang segera menjadi kebutuhannya dan (d) Developing Brain Power, yaitu membangun sumberdaya
27 Aos Kuswandi, “Desentralisasi Pendidikan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah Di Indonesia,” Governance 2, no. 1 (2011): 69–98.
28 Faisal H. Basri, “Tantangan Dan Peluang Otonomi Daerah,” in Dialog Nasional Menyongsong Pelaksanaan Otonomi Daerah (National Dialogue on Regional Autonomy) (Malang: Center for Institutional Reform and the Informal Sector (IRIS) University of Maryland at College Park, 2001), 1–8.
59
manusia aparatur pemerintah dan masyarakat yang handal yang bertumpu pada kapabilitas intelektual dalam menyelesaikan berbagai masalah.29
Dalam kontek pendidikan, kebijakan otonomi daerah dapat menjadi momentum dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. M. Sirozi mengemukakan setidaknya ada empat peluang yang bisa dilakukan oleh para perancang dan praktisi pendidikan untuk meningkatkan kualitasnya, yakni: Pertama, memberikan peluang dalam pengembangan program-program pendidikan sesuai dengan kontek lokal yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat lokal. Kedua, dapat mengembangan sistem pendidikan inovatif dengan mengembangkan berbagai model-model pendidikan yang berhasil dari manapun datangnya sesuai dengan keunggulan lokalitas masing-masing. Ketiga, adanya kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan ini membuka peluang bagi pemerintah dan masyarakat daerah untuk mengoptimalisasikan peran institusi pendidikan dalam menunjang pembangunan daerah. Para perancang dan praktisi pendidikan dapat bekerjasama dengan para perancang dan praktisi pembangunan daerah untuk mendesain sistem pendidikan yang relevan dengan agenda pembangunan daerah di berbagai bidang. Keempat, dapat mengembangkan ide dan eksperimen baru sesuai dengan karakteristik dan keunggulan potensi daerah dengan kemampuan dan cara sendiri.30
29 Trilaksono Nugroho, “Reformasi Dan Reorientasi Kebijakan Otonomi Daerah Dalam Perspektif Hubungan Pemerintah Pusat-Daerah,” Jurnal Administrasi Negara 1, no. 1 (2000): 11– 18.
30 M. Sirozi, Politik Pendidikan; Dinamika Hubungan Antara Kepentingan Kekuasaan Dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 2010). 210-212.
60
Di samping memiliki peluang sebagaimana diungkapkan oleh M. Sirozi di atas, beberapa hasil studi menunjukkan bahwa kebijakan otonomi daerah juga memiliki kekurangan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sebastián Galiani dan Ernesto Schargrodsky di Argentina yang mengevaluasi secara empiris pengaruh desentralisasi sekolah menengah di Argentina pada kualitas pendidikan pada tahun 1992-1994. Hasil penelitian secara ringkas menunjukkan efek desentralisasi sangat tergantung pada karakteristik provinsi yang menyelenggarakan desentralisasi pendidikan. Apabila provinsi penyelenggara mengalami defisit fiskal yang signifikan, maka desentralisasi pendidikan mengalami efek negatif, begitu juga sebaliknya.31
Studi desentralsiasi pendidikan di Indonesia salah satunya dilakukan oleh Siti Irene Astuti Dwiningrum yang telah mempresentasikan hasil penelitiannya pada Diknas dan Komisi III DPR pada tahun 2000. Hasil studi menunjukkan bahwa dari enam wilayah di Indonesia memiliki respon yang variatif terhadap kesiapan kebijakan desentralisasi pendidikan. Untuk lebih mudahnya hasil laporan ini dapat dilihat dalam tabel berikut:32
Tabel 2.2
Respon Kesiapan Kebijakan Desentralisasi
No Kategori Respon Kesiapan Kebijakan
Desentralisasi
1 Pemda berkategori minus SDA (Lombok Barat, Lombok Timur)
Desentralisasi pendidikan sebagai tambahan beban yang cukup berat
31 Sebastian Galiani and Et Al., “Evaluating The Impact Of School Decentralization On Educational Quality,” Economia (2002): 275–314.
32 Siti Irene Astuti Dwiningrum, Desentralisasi Dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011). 47-48.
61
2 Pemda yang termasuk
surplus SDA-nya (Kutai Timur)
Siap melaksanakan desentralisasi pendidikan
3 Pemda yang terpencil (Manokwari)
Penerapan sistem desentralisaisi merupakan tantangan yang sangat berat dari segi pembiayaaan, sumberdaya manusia dan nilai budaya daerah.
4 Pemda yang berkategori sedang (daerah tanah datar)
SDA-nya, Komitmen
masyarakat terhadap pendidikan sangat tinggi
Mereka belum siap melaksanakan kewenangan desentralisasi pendidikan
5 Pemda yang berkategori sedang (daerah tanah datar) SDA-nya, dan Masyarakat
berlatar belakang
keagamaan Kristen Tinggi (daerah Minahasa)
Masih belum memandang desentralisasi pendidikan sebagai isu yang menuntut respon yang segera
6 Pemda yang berkategori sedang (daerah tanah datar) SDA-nya, dan Masyarakat
berlatar belakang
keagamaan Islam Tinggi (daerah Pati, banyak Ponpes-nya)
Ponpes memandang bahwa desentralisasi pendidikan bukan hal yang baru karena mereka telah terbiasa dengan pola pengelolaan lembaga pendidikan secara swadaya melalui manajemen “sambatan” tanpa mengharap bantuan pemerintah. Sementara lembaga di luar pesantren, ketersediaan dana yang minim dari pemerintah dan SDM yang memadai dirasakan menjadi kendala dalam melaksanakan desentralisasi pendidikan.