BAB I PENDAHULUAN
G. Penelitian Terdahulu
28
mengatur kerjasama antar lembaga pendidikan di daerahnya, termasuk mengontrol out-put dari lembaga-lembaga pendidikan didaerah dalam rangka meningkatkan mutu SDM di daerahnya. Sedangkan peran dan fungsi pemerintah pusat adalah untuk mengatur standar-standar pendidikan nasional dan tidak merecoki otonomi dan manajemen lembaga-lembaga pendidikan di daerah.38
G. Penelitian Terdahulu
Untuk mengungkap penelitian disertasi terdahulu, peneliti melakukan studi pendahuluan melalui perpustakaan baik online maupun offline di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. Adapun hasil penelitian terdahulu terkait dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:
Pertama, Husniyatus Salamah Zainiyati meneliti dengan judul Integrasi Pesantren ke dalam Sistem Pendidikan Tinggi Agama Islam (Studi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang). Penelitian ini merupakan Disertasi di Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2012. Hasil penelitian ini mengkaji tentang model integrasi dan latar belakang integrasi di Ma’had Al-Aly di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut: (1) Model integrasi Ma’had Al-Aly ke dalam sistem pendidikan UIN Maliki Malang, dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu, integrasi lembaga dan integrasi kurikulum. (2) Integrasi pesantren dan UIN Maliki Malang secara filosofis dilatar belakangi oleh pandangan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bersifat value-free, tetapi value-bond.
29
Bangunan ilmu yang telah terintegrasi tidak banyak berarti jika dipegang oleh orang yang tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab, maka perlu dibenahi pada aspek aksiologinya. Secara praktis, pendirian Ma’had Sunan Ampel al-Ali untuk merespon rendahnya pengetahuan agama Islam di kalangan mahasiswa UIN Maliki Malang yang salah satu sebabnya adalah lemahnya penguasaan bahasa Arab. Karena itu, pendirian Ma’had Sunan Ampel al-Ali bertujuan untuk menciptakan suasana kondusif bagi pengembangan kepribadian mahasiswa yang memiliki kemantapan akidah dan spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, kemantapan professional, dan pengembangan bahasa Arab dan Inggris.39
Kedua, Mutimmatul Faidah membuat penelitian dengan judul “Integrasi Pendidikan Seks dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Penelitian Pengembangan bagi Siswa SMA di Surabaya”. Penelitian disertasi di Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2011 ini menghasilkan penelitian sebagai berikut: (1) Pengintegrasian pendidikan seks ke dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam dilakukan dengan mengembangkan beberapa butir standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berpotensi pendidikan seks. Pengintegrasian tersebut mengikuti pola pembelajaran terpadu. (2) Perangkat pembelajaran pendidikan seks yang dihasilkan terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), buku ajar, lembar kerja siswa (LKS) media, dan alat evaluasi. Pengembangan silabus mencakup 7 butir standar kompetensi dan 21 butir kompetensi dasar, RPP, buku ajar, LKS, media dan alat evaluasi yang
39 Husniyatus Salamah Zainiyati, “Integrasi Pesantren Ke Dalam Sistem Pendidikan Tinggi Agama Islam (Studi Di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang)” (Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2012).
30
dihasilkan fokus pada satu standar kompetensi, yaitu “Menghindari perilaku tercela” pada tema “dosa besar. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kevalidan dengan nilai rerata validitas RPP sebesar 4,76; nilai validitas buku ajar sebesar 4,78; nilai validitas LKS sebesar 4,71; nilai validitas media sebesar 4,79; dan validitas evaluasi sebesar 4,71. Dari sisi kepraktisan, perangkat pembelajaran dinilai sangat praktis sebagaimana dalam pelaksanaan uji coba di tiga sekolah. Selain itu, dari sisi keefektifan dinilai sangat efektif. Dengan demikian perangkat pembelajaran yang dikembangkan berkualitas. Pengembangan pendidikan seks dilandasi oleh dasar filosofis, teoritis, dan yuridis, sehingga penelitian ini menghasilkan karakteristik pembelajaran dan perangkat pembelajaran. Karakteristik pembelajaran pendidikan seks adalah: materi (preventif-kuratif), kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotorik), strategi (kritis, kreatif-reflektif) dan evaluasi (holistic). Karakteristik perangkat pembelajaran yaitu: silabus (integrative PS-PAI), RPP (pembelajaran kooperatif-Ghazalian), buku ajar (komunikatif-faktual), LKS (problem solving), media (audio-visual-faktual), dan evaluasi (multi instrument).40
Ketiga, Asnawi meneliti dengan judul “Integrasi ilmu agama dan ilmu umum”. Penelitian dari hasil disertasi pada Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2012 ini berhasil membuktikan bahwa integrasi ilmu di pesantren disebabkan karena adanya pergeseran pemaknaan terhadap konsep
40 Mutimmatul Faidah, “Integrasi Pendidikan Seks Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Penelitian Pengembangan Bagi Siswa SMA Di Surabaya” (Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2011).
31
tafaqquh fi al-din yang dapat berimplikasi pada bangunan kurikulum lembaga pendidikan dan proses pembelajaran.41
Keempat, Hartono meneliti dengan judul “Modernisasi Pendidikan Islam (Studi Kasus Sekolah Islam al-Azhar)”. Walaupun dalam judul tersebut tidak secara eksplisit mengurai tentang sinergitas pendidikan, namun penelitian dari hasil disertasi pada Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2012 ini menghasilkan penelitian bahwa sekolah al-Azhar mengembangkan kualitas pendidikannya dengan melakukan integrasi ilmu pengetahuan dan agama untuk mencapai nilai keunggulan. Selain itu, Al-Azhar juga melakukan kompromi dan negosiasi antara basis stakeholder sekolah dengan perkembangan sosial dan politik ketika sekolah itu tumbuh. Kompromi ini diwujudkan dalam bentuk menerima kebijakan-kebijakan yang bersumber dari pihak Kementerian Pendidikan Nasional dengan tetap menjaga latar belakang kepentingan sekolah didirikan. Adapun negosiasi, dimaksudkan dalam pengertian menyusun satu pola identitas secara objektif dan terintegrasi dalam satu paket reformasi pendidikan yang digulirkan oleh pihak Kementerian Pendidikan Nasional.42
Kelima, dalam kontek penelitian kebijakan, Choirul Mahfud meneliti tentang Politik Pendidikan Islam di Indonesia (Studi Analisis Pendidikan Islam Pasca Orde Baru). Penelitian yang mengkaji perkembangan regulasi pendidikan mulai tahun 2003 sampai dengan 2010 ini menyimpulkan bahwa kebijakan
41 Asnawi, “Integrasi Ilmu Agama Dan Ilmu Umum” (Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012), http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/6991.
42 Hartono, “Modernisasi Pendidikan Islam : Studi Kasus Sekolah Islam Al-Azhar” (Program
Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012),
32
pendidikan pasca Orde Baru memiliki lima tipologi kebijakan, yakni: tipologi adaptif, tipologi akomodatif, tipologi diskriminatif, tipologi integratif, dan tipologi reformatif.43
Dari hasil penelitian terdahulu tentang sinergitas pendidikan, dapat dipetakan bahwa penelitian yang dilakukan Husniyatus Salamah Zainiyati lebih menekankan kepada integrasi kelembagaan dengan menggali model integrasi pendidikan pesantren dengan perguruan tinggi. Sedangkan penelitian yang dilakukan Mutimmatul Faidah adalah mengungkap integrasi pendidikan di bidang kurikulum. Asnawi dalam penelitiannya mengkaji integrasi keilmuan di pesantren, Hartono mengkaji terkait dengan implementasi sekolah unggul yang merupakan bentuk integrasi antara kebijakan pemerintah dengan kurikulum di lembaga pendidikan umum. Sedangkan Mahfud mengkaji perkembangan kebijakan pasca orde baru yang dikeluarkan pada tingkat nasional.
Dari data penelitian terdahulu, maka penelitian terkait dengan integrasi pendidikan dalam perspektif kebijakan publik pada suatu daerah sebagai bagian dari implementasi otonomi pendidikan masih belum pernah ada, atau setidaknya sampai saat ini peneliti masih belum dapat menemukannya.
43 Choirul Mahfud, “Politik Pendidikan Islam Di Indonesia (Studi Analisis Kebijakan Pendidikan Islam Pasca Orde Baru)” (IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2013).
33 Tabel 1.5 Penelitian Terdahulu No Peneliti dan Tahun Terbit Tema dan
Tempat Penelitian Temuan Penelitian
(1) (2) (3) (5) 1 Husniyatus Salamah Zainiyati (2012) Integrasi Pesantren ke dalam Sistem Pendidikan Agama Islam (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
Hasil penelitian ini mengkaji tentang model integrasi dan latar belakang integrasi di Ma’had Al-Aly di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut: (1) Model integrasi Ma’had Al-Aly ke dalam sistem pendidikan UIN Maliki Malang, dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu, integrasi lembaga dan integrasi kurikulum. (2) Integrasi pesantren dan UIN Maliki Malang secara filosofis dilatar belakangi oleh pandangan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bersifat value-free, tetapi value-bond.
2 Mutimmatul Faidah (2011) Integrasi pendidikan seks dalam kurikulum pendidikan Agama Islam
Adapun hasil penelitian ini secara ringkas adalah sebagai berikut: (1) Pengintegrasian pendidikan seks ke dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam dilakukan dengan mengembangkan beberapa butir standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berpotensipendidikan seks. Pengintegrasian tersebut mengikuti pola pembelajaran terpadu. (2) Perangkat pembelajaran pendidikan seks yang dihasilkan terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), buku ajar, lembar kerja siswa (LKS) media, dan alat evaluasi. Pengembangan silabus mencakup 7 butir standar kompetensi dan 21 butir kompetensi dasar, RPP, buku ajar, LKS, media dan alat evaluasi yang dihasilkan focus pada satu standar kompetensi, yaitu “Menghindari perilaku tercela” pada tema “dosa besar. 3 Asnawi
(2012)
Integrasi ilmu agama dan ilmu umum
Hasil penelitiannya adalah integrasi ilmu di pesantren disebabkan karena adanya pergeseran pemaknaan terhadap konsep
34
tafaqquh fi al-din yang dapat berimplikasi pada bangunan kurikulum lembaga pendidikan dan proses pembelajaran. 4 Hartono (2012) “Modernisasi Pendidikan Islam (Studi Kasus Sekolah Islam al-Azhar)
Hasil penelitian ini adalah sekolah Al-Azhar mengembangkan kualitas pendidikannya dengan melakukan integrasi ilmu pengetahuan dan agama untuk mencapai nilai keunggulan. Selain itu, Al-Azhar juga melakukan kompromi dan negosiasi antara basis stakeholder sekolah dengan perkembangan sosial dan politik ketika sekolah itu tumbuh dengan diwujudkan dalam bentuk menerima kebijakan-kebijakan yang bersumber dari pihak Kementerian Pendidikan Nasional / Kemdiknas dengan tetap menjaga latar belakang kepentingan sekolah didirikan. 5 Mahfud (2013) Politik Pendidikan Islam di Indonesia (Studi Analisis Pendidikan Islam Pasca Orde Baru)
Kebijakan pendidikan pasca orde baru (mulai tahun 2003 sampai dengan 2010) memiliki lima tipologi kebijakan, yakni: tipologi adaptif, tipologi akomodatif, tipologi diskriminatif, tipologi integratif, dan tipologi reformatif.