dari SFA. Pada fase inilah dilakukan pembuatan detil secara umum dari masing- masing lokasi berdasarkan masterplan yang ada serta ilustrasi pendukung proses pengembangan tapak. Pada Tabel 12 dijelaskan tugas dan hasil yang dikerjakan oleh mahasiswa magang pada fase 4. Tabel 12 Tugas dan Hasil dari Fase 4-Design Development (DD) (Planning Application-Tennis Court) Tugas Hasil * Studi pustaka standar lapangan tenis di UK Data standar lapangan tenis UK Lawn TennisAssociation (LTA) *** Menyiapkan CAD lokasi pengembangan lapangan tenis Gambar CAD lokasi pengembangan *** Membuat gambar ilustrasi proses pelaksanaan pembuatan lapangan tenis Gambar ilustrasi proses pelaksanaan pembuatan lapangan tenis *** Menyiapkan existing site survey (lapangan tenis) Gambar kerja 274-PA-01A Skala 1:200 @A1 ** Gambar kerja 274-PA-01A Gambar kerja 274-PA-01A (draft) Skala 1:200 @A1 * General layout A,B,C Gambar general layout A,B,C (draft) Skala 1:200 @A1 *** Menyiapkan dan revisi seating detail-tenis court Gambar seating detail-tenis court (draft) Skala 1:200 @A1 Keterangan: * : pekerjaan tim, ** : pekerjaan staf, *** : pekerjaan mahasiswa magang Dalam tahapan ini SFA memilih bekas lokasi awal pembangunan lapangan tenis sebagai lokasi yang dinilai cocok dan terbaik untuk mengembalikan fungsi awal dari sisa taman sebagai lapangan tenis yang baru (Gambar 62). Beberapa pohon yang ada di dalamnya akan ditiadakan dan lain akan dilindungi. Menurut Dahl dan Donald (2003), standar dari orientasi lapangan tenis tegak lurus terhadap arah matahari dengan menuju ke arah utara-selatan sehingga akan mengurangi dampak dari silau matahari terhadap aktivitas permainan. Pengaturan arah dari penempatan lapangan tenis ini sesuai dengan standar yang ada (Gambar 63). SFA menetapkan luas standar lapangan tenis dengan sesuai acuan standar peraturan resmi LTA (Lawn Tennis Association) di UK. Standar yang dipakai standar lapangan tenis outdoor dengan ukuran (23.77x 10.97) m. Gambar 62 Area Pengembangan Tennis Court (SFA, 2010) Gambar 63 Orientasi Standar Lapangan Tenis SFA membagi beberapa tahapan untuk pelaksanaan pembangunan dua lapangan tenis yang setiap tahapannya diilustrasikan (Gambar 66) untuk mempermudah klien dalam mengetahui arah pengembangan. Perubahan yang dilakukan dalam pembangunan tennis court adalah sebagai berikut: 1. Membongkar pohon yang berada di area pengembangan lapangan tenis dengan tetap memproteksi tanaman di luar lokasi pengembangan. 2. Membuat level permukaan lapangan sehingga area pengembangan tinggi dari area sekitar. 3. Membuat konstruksi retaining wall, yang akan menjadi fungsi penahan dan penyokong level permukaan tennis court. 4. Pembangunan pagar batas pinggir yang menarik. 5. Menambahkan tempat duduk yang menarik. 6. Menambahkan lighting untuk menerangi setiap individu di lapangan. Spesifikasi yang digunakan untuk pagar (Gambar 64) dari Jacob Inox Line (100mm dia circular steel, Webnet robe Ø 2.0mm, mesh aperture 50mm) dan untuk lampu penerangan dalam lapangan menggunakan lampu standar yang ditetapkan LTA. Berbeda dengan lampu untuk penerangan di luar lapangan digunakan model lampu (urban lamp) fer nadez (Gambar 65). Detail mengenai struktur lampu secara lebih lanjut diserahkan kepada engineer. Semua spesifikasi teknis dijelaskan dalam gambar kerja detail plan/274-061-B (Gambar 69) dan outline specification/274-060 (Gambar 70). Pada gambar kerja detail plan memuat tentang spesifikasi material berupa kode yang memudahkan dalam penyusunannya. Sebagai contoh kode E2 (Edging/Steps) mempunyai spesifikasi material berupa conservation edging- marshalls concervations straight edging units 63x150x950mm. Perubahan mengenai spesifikasi tergantung rapat hasil antara pihak SF UK dengan klien. Setiap adanya perubahan pihak SF UK langsung mengirim info perubahan tersebut ke SFA. Produk lain dari fase ini yaitu berupa gambar kerja mengenai detil struktur retaining wall (Gambar 71), general layout yang berisi gambar potongan dan tampak elevasi A (Gambar 72), B (Gambar 73), C (Gambar 74), dan cost plan-budget review (dibuat oleh SF UK) (Lampiran 7). Selain itu dilakukan pengembangan detil dengan membuat gambar ilustrasi detil tempat duduk (Gambar 75) dan pintu masuk (Gambar 77) dari berbagai sudut pandang untuk memberikan gambaran secara nyata bentuk 3D desain yang akan diterapkan. Gambar 64 Contoh Pagar Jenis Webnet dari Jacob Inox Line 6.1 Faktor Pendukung Faktor-faktor pendukung selama kegiatan magang di SFA mempunyai peran mempermudah menyelesaikan setiap tahapan dari proses perancangan suatu proyek dan menentukan keberhasilan dari produk hasil rancangan serta memberikan nilai lebih terhadap keberadaan SFA sebagai konsultan ahli bertaraf internasional. Faktor pendukung selama kegiatan magang di SFA yaitu: 1. Fasilitas kerja Tersedianya fasilitas-fasilitas penunjang kegiatan perancangan lanskap di kantor SFA (fasilitas peralatan kerja) yang lengkap sehingga memudahkan mahasiswa dalam mengikuti proses perancangan. 2. Struktur organisasi SFA mempunyai struktur organisasi perusahaan yang cukup baik dengan berbagai multidisiplin ilmu di dalamnya sehingga spesialisasi dari setiap bidangnya menjadikan produk dari rancangan yang berkualitas. 3. Manajemen kerja Pembagian tugas yang jelas dalam manajemen perusahaan dibagi menjadi dua yaitu studio dan administrasi memudahkan dalam mengikuti instruksi atau arahan bagi mahasiswa dalam mengikuti kegiatan perancangan proyek- proyek selama magang, khususnya Proyek Larkhall Park. 4. Sistem filling (pendataan) SFA mempunyai sistem filling (pendataan) yang baik sehingga memudahkan dalam penamaan dan pelacakan data yang sudah dikerjakan. 5. Teknologi Teknologi yang diterapkan di SFA diaplikasikan bagi semua staf dalam pengerjaan setiap proyek cukup baik dan ter-update. 6. Standarisasi tahapan perancangan Standarisasi tahapan perancangan yang telah ditetapkan SFA memudahkan mahasiswa dalam mengikuti proyek-proyek yang ada. Secara umum proses dan metode perancangan yang dilakukan oleh pihak SFA sesuai dengan teori yang didapat oleh mahasiswa selama dibangku kuliah sehingga tidak memerlukan waktu yang lama bagi mahasiswa untuk memahami metode perangcangannya. Perancangan proyek regenerasi atau perancangan kembali Larkhall Park dilakukan melalui beberapa fase yang berdasarkan kesepakatan antara pihak SFA dengan klien. Fase-fase tersebut merupakan pengembangan dari standar proses perancangan yang diterapkan oleh SFA. Proses perancangan yang diterapkan SFA secara teori tidak persis sama dengan proses perancangan yang dikemukakan oleh Simonds. Standar tahapan yang diterapkan SFA merupakan modifikasi dari standar proses perancangan lanskap seperti yang telah dikemukakan Simonds (1983) (Gambar 78). Dalam praktek dan aplikasi standar yang ditetapkan di SFA tidak jauh berbeda dengan aplikasi teori Simonds yang dapat dilihat dari alokasi tahapan kerja serta produk yang dihasilkan dari masing-masing tahapan tersebut. Gambar 78 Kaitan Standar Perancangan SFA, Proyek Larkhall Park, dan Simonds (1983) Standar Perancangan SFA Proses Perancangan Proyek Regenerasi Larkhall Park Standar Proses Perancangan Lanskap Menurut Simonds (1983) A. Tahap Persiapan (Inception) B. Tahap 1 Riset dan Analisa (Research and Analysis/RA) C. Tahap 2 Desain Konsep (Concept Design/CD) D. Tahap 3 Pengembangan Desain (Design Developmen /DD) E. Tahap 4 Pembuatan Gambar Kerja (Production Documentation/PD) F. Tahap 5 Pelaksanaan (Implementation) FASE 1 - Inception (Persiapan) FASE 2 - Site Appraisal (Penilaian Tapak) FASE 3 - Masterplan Review FASE 4 - Design Development (Planning Application-Tennis Court) FASE 5 - Production Documentation (Detailed Design, Tender) FASE 6 - Implementation (Start on Site) Commision Research Analysis Syntesis Construction Operation Selain itu metode yang diterapkan di SFA juga mendekati dengan metode yang dikemukakakan oleh Booth (1983) yang terdiri dari tahap penerimaan proyek, riset dan analisis, desain, gambar konstruksi, pelaksanaan, evaluasi setelah konstuksi, dan pemeliharaan. SFA sebagai pihak konsultan lanskap secara umum mengerjakan suatu proyek sampai tahap pembutan gambar kerja, sedangkan untuk tahap berikutnya akan dilanjutkan oleh pihak engineer yang terlibat dalam proyek. Namun pihak SFA juga berperan sebagai pengawas dalam mengontrol hasil implementasi gambar kerja ke tapak dan apabila terjadi kendala saat proses implementasi di tapak dapat segera diselesaikan dengan cepat. 7. Project Leader (PL) Setiap proyek memiliki Project Leader (PL) bertugas untuk mempertegas tanggung jawab dan sebagai pemegang keputusan pada masing-masing proyek. 8. Suasana kerja Suasana kerja yang menyenangkan memberikan motivasi yang lebih dalam setiap pekerjaan di studio. 9. Lingkungan Lingkungan sekitar kantor SFA yang berada di Kebun Raya Bogor cukup tenang dan nyaman memudahkan mahasiswa magang berkonsentrasi dalam mengikuti kegiatan magang. Dalam dokumen Pendalaman proses perancangan Larkhall Park, Lambeth, London Selatan, United Kingdom melalui kegiatan magang DI PT. Sheils Flynn Asia, Bogor (Halaman 106-124)