• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Antar Siklus

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Deskripsi Antar Siklus

Hasil deskripsi antara pra siklus, siklus I dan siklus II memenunjukkan adanya peningkatan yang berarti. Hal ini dapat dilihat pada saat proses belajar mengajar dilakukan observasi secara klasikal untuk mengetahui motivasi belajar biologi siswa. Pada tiap akhir siklus, siswa dibagikan angket untuk menggali informasi tentang motivasi belajar biologi dari sudut pandang siswa. Hasil observasi dan pengisian angket menunjukkan adanya peningkatan pada tiap akhir siklus. Uraian hasil peningkatan motivasi belajar biologi siswa dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Hasil Angket Motivasi Belajar Biologi

Nilai motivasi belajar biologi siswa dalam pemmbelajaran yang digali melalui angket motivasi belajar biologi mengalami fluktuasi dari kondisi pra siklus, siklus I hingga siklus II. Perbandingan antara hasil angket motivasi belajar siswa pra siklus dan pada setiap siklus yang diterapkan dapat dilihat pada Tabel 10:

Tabel 10. Persentase Capaian Rata-rata Indikator pada Angket Motivasi Belajar Biologi Siswa Setiap Siklus.

No Indikator Capaian Indikator % Pra Siklus Siklus I Siklus II 1. Adanya usaha untuk melakukan sesuatu

yang dapat meningkatkan prestasi belajar.

65,44 76,02 81,32 2. Mengikuti pelajaran dengan semangat. 76,02 80,44 82,20 3. Berusaha meniadakan atau mengelakkan

perasaan tidak suka.

74,11 79,11 82,79 4. Adanya kemauan untuk belajar. 69,85 75,44 79,11 5. Mempelajari kembali materi dari guru. 69,11 73,82 78,82 6. Bertanya pada guru jika merasa belum

jelas.

72,79 73,08 76,76 7. Semangat untuk memperhatikan pelajaran

dengan baik

74,70 75,29 81,17 8. Mempelajari biologi dari berbagai sumber 58,82 64,41 78,38 9. Mengerjakan ulangan tanpa bantuan orang

lain

74,26 75,88 82,05 Rata-rata commit to user 70,57 74,83 80,29

Berdasarkan data pada Tabel 10 di atas, tampak bahwa nilai motivasi belajar biologi siswa (pra siklus) sebelum diberi tindakan berupa penerapan pembelajaran kooperatif TPS masih rendah. Nilai motivasi belajar biologi siswa mengalami peningkatan secara bertahap setelah diterapkannya tindakan pada siklus I dan II. Pemberian tindakan pada siklus I mampu meningkatkan nilai motivasi belajar biologi siswa meskipun tidak secara signifikan.

Rata-rata capaian indikator motivasi belajar biologi pada siklus I mencapai 74,83 %. Pada siklus I target belum tercapai, target pada penelitian ini adalah rata-rata capaian indikator motivasi belajar biologi mencapai lebih dari atau sama dengan 75%. Nilai motivasi belajar biologi siswa meningkat setelah diberikannya tindakan pada siklus II. Persentase semua indikator yang diukur mengalami peningkatan yang berarti, yakni sebesar 80,29% pada siklus II. Tindakan yang diterapkan dalam kedua siklus tersebut sudah mampu memberikan perbaikan terhadap masalah yang terjadi di dalam kelas sehingga penelitian dapat dihentikan. Tindak lanjut dari guru biologi tetap diperlukan dalam meningkatkan proses pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pendidikan.

Hasil capaian indikator pada angket motivasi belajar biologi siswa setiap siklus dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Hasil Capaian Indikator pada Angket Motivasi Belajar Biologi Siswa Setiap Siklus

(Keterangan indikator dapat dilihat pada tabel 10).

65.44 76.0281.3276.0280.44 82.2 74.1179.11 82.79 69.85 75.4479.11 69.1173.82 78.82 72.7973.0876.7674.775.29 81.17 58.82 64.41 78.38 74.2675.88 82.05 0 25 50 75 100 Prosentase (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Indikator Pra siklus Siklus I Siklus II commit to user

2) Hasil Observasi Motivasi Belajar Biologi

Perbandingan antara hasil observasi motivasi belajar biologi siswa pada setiap siklus dilihat pada Tabel 11:

Tabel 11. Persentase Capaian Indikator pada Observasi Motivasi Belajar Biologi Setiap Siklus

No Indikator Capaian Indikator %

Pra Siklus Siklus I Siklus II 1. Adanya usaha untuk mengerjakan

tugas-tugas yang diberikan guru.

55,88 88,23 100 2. Aktif dalam diskusi kelompok 61,76 76,47 94,11 3. Mempelajari kembali materi yang

diberikan guru.

64,70 85,29 91,17 4. Belajar biologi dengan sungguh-sungguh 44,11 55,88 73,52 5. Adanya kemauan untuk bertanya dan

meningkatkan kualitas belajar.

11,76 20,58 29,41 6. Semangat untuk memperhatikan pelajaran

dengan baik

61,76 85,29 85,29 7. Mempelajari biologi dari berbagai sumber 67,64 82,35 100 8. Mengerjakan ulangan tanpa bantuan

orang lain

41,17 64,70 91,17

Rata-rata 51,10 69,85 83,08

Berdasarkan data pada Tabel 11 di atas tampak bahwa nilai motivasi belajar biologi siswa (pra siklus) sebelum diberi tindakan berupa penerapan pembelajaran kooperatif TPS masih rendah. Nilai motivasi belajar biologi siswa mengalami peningkatan secara bertahap setelah diterapkannya tindakan pada siklus I dan II. Pemberian tindakan pada siklus I mampu meningkatkan nilai motivasi belajar biologi siswa meskipun tidak secara signifikan.

Rata-rata capaian indikator motivasi belajar biologi pada siklus I mencapai 69,85 % dan belum mencapai target yang diinginkan, dimana target pada penelitian ini adalah rata-rata capaian indikator motivasi belajar biologi mencapai lebih dari atau sama dengan 75%. Nilai motivasi belajar biologi siswa meningkat setelah diberikannya tindakan pada siklus II. Persentase semua commit to user

indikator yang diukur pada siklus II mengalami peningkatan yang berarti, yakni sebesar 83,08 %. Hasil capaian indikator pada observasi motivasi belajar biologi siswa setiap siklus dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 10. Hasil Capaian Indikator pada Observasi Motivasi Belajar Biologi Siswa Setiap Siklus.

(Keterangan indikator dapat dilihat pada tabel 11).

Berdasarkan Tabel 11 menunjukkan bahwa tindakan yang diberikan sudah cukup efektif dalam meningkatkan motivasi belajar biologi siswa. Presentase rata-rata aspek motivasi belajar siswa yang diukur berdasarkan data lembar observasi dan angket pada siklus II telah mencapai batas minimal pembelajaran yang berhasil yaitu ≥ 75 % aktif dalam proses pembelajaran. Tindakan yang diterapkan dalam kedua siklus tersebut sudah mampu memberikan perbaikan terhadap masalah yang terjadi di dalam kelas. Hal ini menunjukkan keberhasilan penerapan pembelajaran kooperatif TPS dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga penelitian dapat dihentikan akan tetapi tindak lanjut dari guru biologi tetap diperlukan dalam meningkatkan proses pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pendidikan.

55.88 88.23 100 61.76 76.47 94.11 64.7 85.29 91.17 44.11 55.88 73.52 11.76 20.58 29.41 61.76 85.2985.29 67.64 82.35 100 41.17 64.7 91.17 0 25 50 75 100 Prosentase (% ) 1 2 3 4 5 6 7 8 Indikator Pra siklus Siklus I Siklus II commit to user

E. Pembahasan

Penelitian Tindakan Kelas di kelas VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2011 ini dilakukan karena berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa tingkat motivasi belajar biologi siswa di kelas tersebut masih rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi belajar biologi siswa di kelas tersebut adalah dengan cara melakukan perbaikan dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai pendidik dan pengajar dituntut untuk mengembangkan potensinya, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang lebih inovatif sehingga motivasi belajar biologi siswa dapat meningkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif TPS

(Think Pair Share) dalam kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan motivasi

belajar biologi siswa. Peningkatan motivasi belajar biologi siswa dapat dilihat melalui pemberian angket, observasi serta wawancara dengan guru dan siswa tentang motivasi belajar siswa dalam pembelajaran Biologi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada akhir siklus 1 terdapat peningkatan motivasi belajar biologi siswa dilihat dari hasil pengisian angket dan kegitan observasi. Rata-rata persentase angket motivasi belajar biologi siswa meningkat sebesar 4,26% dari pra siklus sebesar 70,57% menjadi 74,83% pada akhir siklus I. Sedangkan rata-rata persentase observasi motivasi belajar biologi siswa meningkat sebesar 18,75% dari pra siklus sebesar 51,10% menjadi 69,85% pada akhir siklus I. Peningkatan rata-rata persentase motivasi belajar siswa dalam pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa ada perubahan tingkah laku siswa dalam kegiatan belajar mengajar menjadi lebih baik.

Akhir siklus II juga menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar biologi siswa. Rata-rata persentase angket motivasi belajar biologi siswa meningkat sebesar 5,46% dari akhir siklus I sebesar 74,83% menjadi 80,29% pada akhir siklus II. Sedangkan rata-rata persentase observasi motivasi belajar biologi siswa meningkat sebesar 13,23% dari akhir siklus I sebesar 69,85% menjadi 83,08% pada akhir siklus II.

Hasil wawancara dengan guru menyatakan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif Think Pair Share dapat membuat siswa lebih tertarik dalam pembelajaran biologi pada materi Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia dan dapat digunakan pada materi lain. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa diketahui bahwa pembelajaran Think Pair Share cukup efektif untuk Kegiatan Belajar Mengajar dan siswa merasa lebih tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran telah memenuhi rata-rata indikator capaian minimal 75%. Berarti telah terjadi peningkatan kualitas proses pembelajaran seperti yang dijelaskan oleh Mulyasa (2006: 101) bahwa suatu pembelajaran dapat dinyatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Terpenuhinya rata-rata indikator capaian minimal 75% membuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran kooperatif Think Pair

Share mendapatkan respon yang positif dan dapat meningkatkan motivasi belajar

siswa yang ditunjukkan pada peningkatan hasil angket, observasi dan wawancara siswa dalam proses pembelajaran biologi.

Pembelajaran kooperatif Think Pair Share dalam penerapannya yaitu masing-masing siswa harus memecahkan masalahnya sendiri sebelum berdiskusi dengan kelompoknya dan sebelum mempersentasikan di depan kelas bersama kelompoknya sehingga siswa lebih antusias dalam memahami permasalahan dan jawabannya, dan guru akan menunjuk kelompok tertentu tanpa memberi tahu terlebih dahulu kelompok yang akan maju ke depan. Cara tersebut menjamin keterlibatan total semua siswa dan dapat meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok, mau mendalami materi dan diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan Sutrisno (2007) bahwa keistimewaan pembelajaran Think Pair Share yaitu siswa mampu mengembangkan kemampuan individu serta kemampuan dalam bekerja kelompok.

Anita Lie (2008: 57) mengemukakan kelebihan metode Think Pair Share yaitu memberikan kesempatan siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Hasil penelitian Nik Azlina (2010) menyatakan bahwa Think Pair Share menyertakan kegiatan dengan seorang patner yang memungkinkan siswa untuk menaksir ide-ide baru dan jika perlu, menjelaskan atau menyusun ide-ide itu kembaali sebelum mempresentasikan kepada kelompok yang lebih besar. Hal itu membuat siswa berpikir secara individual , berinteraksi dengan pasangannya, dan membagi informasi dengan semua siswa dan guru. Hal tersebut mendidik siswa untuk menjadi lebih aktif dan berpartisipasi selama proses belajar daripada menjadi pelajar yang pasif, mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok. Pembelajaran yang dilakukan juga mengajarkan siswa menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman kelompok, berdiskusi dan menghargai pendapat teman lain. Hal ini dapat berdampak positif terhadap hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan Rosmaini (2004) bahwa penerapan pembelajaran Think Pair Share meningkatkan hasil belajar, daya serap dan ketuntasan belajar siswa.

Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share, mampu mengubah perilaku dan sikap siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan sikap pada siswa antara lain siswa dapat berperan aktif dalam kegiatan kelompok, munculnya keberanian siswa dalam mengeluarkan pendapat, ide dan gagasan. karena pada penerapan pembelajaran Think Pair Share siswa memiliki dua tanggung jawab yaitu tanggung jawab secara individu dan tanggung jawab dalam kelompoknya. Hal tersebut sesuai dengan Ariyanti (2008) bahwa dengan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) siswa dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap dan nilai.

Kerjasama yang terjalin juga membimbing siswa untuk saling menghargai temannya. Hal ini sesuai dengan Wang (2009) yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan temannya serta meningkatkan kemampuan mendengar dan mengemukakan pendapat. Pernyataan tersebut sesuai dengan Suprijono (2009) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share merupakan pembelajaran yang mempengaruhi pola interaksi siswa. Pembelajaran tersebut dapat menambah kepercayaan diri siswa dalam mengemukakan pendapatnya kepada orang lain.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Septriana dan Handoyo (2006) bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Pada pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share fungsi guru hanya sebagai fasilitator yaitu memberikan pengarahan seperlunya pada siswa. Keaktifan siswa siswa lebih ditekankan pada pembelajaran ini. Dengan adanya keaktifan tersebut akan menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi pada siswa dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar. Hal tersebut sejalan dengan Sudarmanto (2006) yang menyatakan hasil belajar mahasiswa meningkat setelah penerapan pembelajaran kooperatif Think Pair Share. Adanya tahapan berpikir pada pembelajaran ini merupakan langkah awal yang baik untuk memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran selanjutnya. Hal ini sesuai dengan yang dilakukan dalam penelitian ini bahwa dengan penerapan pembelajaraan kooperatif TPS (Think Pair Share) dapat meningkatkan motivasi belajar biologi siswa.

BAB V

Dokumen terkait