• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE (TPS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE (TPS)"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM

PEMBELAJARAN BIOLOGI KELAS VIII E SMP NEGERI 16 SURAKARTA SKRIPSI Oleh : VINA YULIANTI NIM. X4306031

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2012 commit to user

(2)

ii

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM

PEMBELAJARAN BIOLOGI KELAS VIII E SMP NEGERI 16 SURAKARTA

Oleh : VINA YULIANTI

NIM. X4306031

Skripsi

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2012 commit to user

(3)

iii

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I

Harlita. S.Si, M.Si

NIP. 19690401 199802 2 001

Pembimbing II

Drs. Slamet Santosa M.Si NIP. 19591220 198601 1 001

(4)

iv

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada Hari : ………..

Tanggal : ………..

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Bowo Sugiharto, S.Pd, M.Pd ... Sekretaris : Riezky Maya Probosari, S.Si, M.Si ... Anggota I : Harlita, S.Si, M.Si ...

Anggota II : Drs.Slamet Santosa, M.Si ...

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Dekan,

Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatulloh, M.Pd NIP. 19600727 198702 1 001

(5)

v ABSTRAK

Vina Yulianti. PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR

SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM

PEMBELAJARAN BIOLOGI KELAS VIII E SMP NEGERI 16 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2009/2010. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, November 2010.

Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan motivasi belajar biologi dengan penerapan pembelajaran TPS (Think Pair Share) di kelas VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2009/2010.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action

Research) yang terdiri dari dua siklus dan tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu

perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII E SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 34 orang. Teknik pengumpulkan data meliputi angket, observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Peningkatan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran biolog dapat dilihat melalui hasil angket dan observasi. Rata-rata nilai persentase capaian setiap indikator dari angket motivasi belajar biologi siswa pada pra siklus sebesar 70,57%, pada siklus I sebesar 74,83%, dan pada siklus II sebesar 80,29%. Rata-rata nilai persentase capaian setiap indikator dari observasi motivasi belajar biologi siswa pada pra siklus adalah 51,10%, pada siklus I sebesar 69,85% dan pada siklus II sebesar 83,08%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran biologi.

(6)

vi MOTTO

”Allah meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang

diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”

(QS. Al-Mujadalah :14)

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh

jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh

mengetahui, sedang kamu tidak"

(QS. Al Baqarah: 216)

”Dan sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan...

(QS. Al Insyirah : 6)”

(7)

vii

PERSEMBAHAN

ALLaH Robbiku Yang Maha Pengasih dan Penyayang, syukurku untuk

setiap titik rahmat dan ampunan serta kasih sayang-Mu yang senantiasa

menyertai setiap langkahku.

Kupersembahkan karya ini untuk:

 Ibuku tercinta, wanita terhebat di dunia bagiku.. terima kasih tiada

terkira untukmu Ibu atas do’amu, kasih sayangmu dan pengorbananmu.

 Bapak, terima kasih atas do’amu, nasihatmu, pengertianmu,

pengorbananmu dan segala yang telah kau berikan untukku.

 Ayu Anggarwati, adik semata wayangku... pernahkah kau sadari bahwa

arti ikatan ini sungguh sangat indah dan takkan terganti.

 Wall,e ... pengertian dan pengorbananmu takkan terlupa.

 Pink, Lindut, terimakasih sobat... atas segala pengertian dan

pertemanan serta persaudaraan yang telah kalian berikan.

 Bu Harlita dan Pak Slamet terima kasih atas bimbingan, nasehat dan

kesabarannya.

 Biologi 2006, terima kasih atas kebersamaan dan perjuangan yang tak

akan terlupakan.

 Almamater.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Alloh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga skripsi yang berjudul "PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI KELAS VIII E SMP NEGERI 16 SURAKARTA” dapat diselesaikan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Selama penelitian hingga terselesaikannya laporan ini, penulis menemui berbagai hambatan, namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak akhirnya hambatan yang ada dapat teratasi. Oleh karena itu, atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ketua Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Harlita, S.Si, M.Si selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan.

5. Drs. Slamet Santosa, M.Si selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan.

6. Kepala sekolah SMP N 16 Surakarta yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.

7. Guru mata pelajaran biologi kelas VIIIE Surakarta yang senantiasa membantu kelancaran penelitian dan kerja samanya.

8. Siswa kelas VIIIE SMP N 16 Surakarta tahun pelajaran 2009/2010. commit to user

(9)

ix

9. Berbagai pihak yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu yang telah membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga karya ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Surakarta, Januari 2012

Penulis

(10)

x DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGAJUAN ii

HALAMAN PERSETUJUAN iii

HALAMAN PENGESAHAN iv

HALAMAN ABSTRAK v

HALAMAN MOTTO vi

HALAMAN PERSEMBAHAN vii

KATA PENGANTAR viii

DAFTAR ISI X

DAFTAR TABEL Xii

DAFTAR GAMBAR Xiii

DAFTAR LAMPIRAN Xiv

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Perumusan Masalah 4

C. Tujuan Penelitian 4

D. Manfaat Penelitian 5

BAB II. LANDASAN TEORI 6

A. Tinjauan Pustaka 6

1. Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share 6

2. Motivasi Belajar 10

B. Kerangka Berpikir 14

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 16

A. Tempat dan Waktu Penelitian 16

B. Metode Penelitian 16

C. Sumber Data 17

D. Teknik Pengumpulan Data 17

E. Indikator Keberhasilan 20

(11)

xi H. Analisa Data

I. Prosedur Penelitian

21 22 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 26

A. Deskripsi Pra Siklus 26

B. Deskripsi Siklus I 29

C. Deskripsi Siklus II D. Deskripsi Antar Siklus

36 42

E. Pembahasan 46

BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 50

A. Simpulan 50 B. Implikasi 50 C. Saran 50 DAFTAR PUSTAKA 52 LAMPIRAN commit to user

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Daftar Halaman

Tabel 1. Perbedaan empat model pembelajaran kooperatif 7

Tabel 2. Skor Penilaian Angket 19

Tabel 3. Daftar Presentase Target Capaian Masing-masing Variabel yang Diukur

20

Tabel 4. Persentase Capaian setiap Indikator Observasi Motivasi Belajar Biologi Siswa Pra Siklus

27

Tabel 5. Persentase Capaian setiap Indikator Angket Motivasi Belajar Biologi Siswa Pra Siklus

27

Tabel 6. Persentase Capaian Setiap Indikator Observasi Motivasi Belajar Biologi Siswa Siklus I

31

Tabel 7. Persentase Capaian Setiap Indikator Angker Motivasi Belajar Biologi Siswa Siklus I

32

Tabel 8. Persentase Capaian Setiap Indikator Observasi Motivasi Belajar Biologi Siswa Siklus II

38

Tabel 9. Persentase Capaian Setiap Indikator Angker Motivasi Belajar Biologi Siswa Siklus II

38

Tabel 10. Persentase Capaian Rata-rata Indikator Angket Motivasi Belajar Biologi Siswa Setiap Siklus

42

Tabel 11. Persentase Capaian Indikator Observasi Motivasi Belajar Biologi Setiap Siklus

44

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Daftar Halaman

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran 15

Gambar 2. Skema Triangulasi Sumber data 21

Gambar 3. Model Analisis Interaktif 21

Gambar 4. Skema Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Kemmis dan Mc Taggart

25

Gambar 5. Hasil Capaian Indikator Observasi Motivasi Belajar Biologi Siswa Siklus I.

33

Gambar 6. Hasil Capaian Indikator Angket Motivasi Belajar Biologi Siswa Siklus I.

34

Gambar 7. Hasil Capaian Indikator Observasi Motivasi Belajar Biologi Siswa Siklus II.

39

Gambar 8. Hasil Capaian Indikator Angket Motivasi Belajar Biologi Siswa Siklus II.

41

Gambar 9. Hasil Capaian Indikator Angket Motivasi Belajar Biologi Siswa Setiap Siklus

43

Gambar 10. Hasil Capaian Indikator Observasi Motivasi Belajar Biologi Siswa Setiap Siklus

45

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Daftar Halaman

Lampiran 1 Instrumen Penelitian

a. Silabus 54

b. RPP Siklus I 57

c. RPP Siklus II 70

d. Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar Siswa 81 e. Angket Motivasi Belajar Siswa 82 f. Kisi–kisi Observasi Motivasi Belajar Siswa

g. Lembar Observasi Motivasi Belajar Siswa

85 86 h. Pedoman Wawancara Guru Prasiklus

i. Pedoman Wawancara Siswa Prasiklus j. Pedoman Wawancara Guru Pasca siklus

88 89 90 k. Pedoman Wawancara Siswa Pasca siklus 91 Lampiran 2 Data Hasil Penelitian

a. Presensi Siswa Siklus I dan Siklus II 92 b. Perbandingan Hasil Observasi Motivasi

Belajar Biologi Setiap Siklus

c. Perbandingan Hasil Angket Motivasi Belajar Biologi Setiap Siklus

d. Hasil Wawancara Guru Prasiklus e. Hasil Wawancara Guru Pasca Siklus I f. Hasil Wawancara Guru Pasca Siklus II g. Hasil Wawancara Siswa Prasiklus h. Hasil Wawancara Siswa Pasca Siklus I i. Hasil Wawancara Siswa Pasca Siklus II j. Hasil Pengisian Angket Pra Siklus k. Hasil Pengisian Angket Siklus I l. Hasil Pengisian Angket Siklus II

93 94 95 97 99 101 102 103 104 107 110 commit to user

(15)

xv Lampiran 3 Dokumentasi a. Dokumentasi Prasiklus b. Dokumentasi Siklus I 113 114 c. Dokumentasi Siklus II 115 Lampiran 4 Perijinan

a. Surat Permohonan Ijin Research 116 b. Surat Permohonan Ijin Menyusun Skripsi 117 c. Surat Pernyataan Telah Melaksanakan

Penelitian di SMP N 16 Surakarta

118

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang selalu mengalami perubahan karena adanya perkembangan di segala bidang kehidupan. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa). Interaksi yang dimaksud yaitu saling mempengaruhi antara pendidik dengan peserta didik. Salah satu fungsi pendidikan adalah membantu siswa dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya kearah yang positif, baik bagi diri maupun lingkungan. Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan atau nilai atau pelatihan ketrampilan. Pendidikan berfungsi mengembangkan apa yang secara potensi dan aktual telah dimiliki siswa. Peran guru dalam hal ini adalah mengembangkan lebih lanjut pengetahuan yang dimiliki siswa semaksimal mungkin serta mendorong siswa atau memotivasi siswa.

Proses pembelajaran biologi mencakup proses mengajar dan proses belajar. Proses mengajar dilaksanakan oleh guru sebagai pendidik dan proses belajar dilaksanakan oleh siswa sebagai peserta didik. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar biologi sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal dari siswa. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, antara lain motivasi belajar. Motivasi merupakan faktor pendorong seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya tujuan. Motivasi dalam kegiatan belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan, dan memberikan arah kegiatan belajar. Motivasi dapat berasal dari dalam diri siswa sendiri tanpa ada paksaan orang lain yang disebut motivasi intrinsik maupun yang berasal dari rangsangan pihak luar yang disebut motivasi ekstrinsik. Apabila motivasi belajar yang dimiliki siswa tinggi maka diharapkkan tujuan belajar dapat tercapai. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa atau berasal

(17)

dari rangsangan pihak luar. Faktor tersebut antara lain metode pembelajaran dan interaksi sosial siswa (Syah, 2006: 136-137).

Metode mengajar juga sangat mempengaruhi dalam pembelajaran. Pemilihan metode mengajar akan berpenngaruh terhadap kegiatan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Pemilihan metode mengajar harus disesuaikan dengan materi yang diajarkan dan kondisi siswa dengan harapan siswa dapat tertarik dan terdorong untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Seorang guru harus mampu memilih metode yang tepat agar mampu membawa peran serta siswa dan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

SMP 16 Surakarta merupakan salah satu sekolah negeri yang memiliki input siswa dengan prestasi belajar yang bervariasi. Prestasi belajar yang bervariasi disebabkan karena motivasi belajar siswa beraneka ragam. Hasil observasi terhadap proses kegiatan belajar mengajar mata pelajaran biologi kelas VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta, menunjukan perhatian siswa dalam pembelajaran kurang, siswa ada yang mengantuk, sibuk dengan aktivitas masing-masing yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran, mengobrol sendiri dengan teman, tidak mengerjakan tugas, jika diberi pertanyaan tidak bisa menjawab, ada yang mengerjakan tugas selain biologi, sebagian siswa ada yang tidak membawa buku panduan. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh kesimpulan sementara bahwa motivasi belajar siswa rendah.

Kesimpulan sementara dapat diperkuat dengan melakukan observasi lanjutan dengan menggunakan indikator motivasi belajar. Setelah dilakukan observasi diperoleh hasil bahwa jumlah rata-rata siswa yang mengumpulkan tugas 19 siswa (55,88%), siswa yang aktif dalam diskusi kelompok 21 siswa (61,76%), siswa yang mencatat ringkasan materi dan penjelasan dari guru 22 siswa (64,70%), siswa mengerjakan soal latihan sendiri tanpa diperintah 15 (44,11%), siswa bertanya mengenai materi pelajaran 4 siswa (11,76%), siswa memperhatikan saat guru menerangkan 21 (61,76%), siswa membawa buku pegangan dan referensi biologi 23 siswa (67,64%), siswa yang tidak menyontek pada waktu ulangan 14 siswa (41,17%). Hal ini terkait dengan ciri-ciri motivasi commit to user

(18)

rendah antara lain ada yang acuh tak acuh, ada yang tidak memusatkan perhatian dan ada yang bermain sendiri selama proses pembelajaran (Dimyati dan Mudjiono, 1994: 79).

Berdasarkan kajian terhadap hasil observasi dan diskusi dengan siswa dan guru biologi ditemukan beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya motivasi belajar siswa kelas VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta dalam pembelajaran Biologi. Faktor pertama, siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa lebih berperan sebagai penerima informasi pasif, bukan sebagai subjek yang melakukan aktivitas belajar, sehingga perhatian siswa sering teralih pada hal-hal lain di luar materi pelajaran walaupun penyediaan fasilitas kegiatan pembelajaran sudah baik misalnya laboratorium, perpustakaan, komputer, media pembelajaran audiovisual dan lain sebagainya. Kelengkapan fasilitas ini belum dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Faktor kedua, penggunaan metode pembelajaran yang digunakan belum mampu membangkitkan motivasi belajar siswa terhadap materi yang disajikan.

Guru sebagai pengajar perlu mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan mencoba strategi pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa agar dapat membangkitkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran biologi. Pemilihan pendekatan pembelajaran diharapkan dapat membantu meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran. Metode yang dapat digunakan sebagai alternatif adalah metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share.

Think Pair Share merupakan salah satu teknik pembelajaran yang

terdapat dalam model cooperative learning yang menganut sistem kerja sama atau belajar kelompok dengan tugas terstruktur merujuk pada pencapaian tujuan dalam memecahkan masalah. Metode ini diawali dengan pemberian pertanyaan/permasalahan dan siswa berfikir secara mandiri yang diharapkan dapat menumbuhkan motivasi dalam pembelajaran sehingga siswa akan lebih memperhatikan pelajaran. Kegiatan selanjutnya adalah siswa berdiskusi dengan pasangan. Pemilihan metode Think Pair Share karena pembelajaran kooperatif ini memberi kesempatan siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain serta mengoptimalisasikan partisipasi siswa. Sehingga diharapkan commit to user

(19)

siswa akan lebih terdorong dan termotivasi untuk lebih giat belajar dan mengikuti pembelajaran. Siswa dapat saling bertukar informasi dengan siswa lain untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama sehingga diharapkan akan meningkatkan motivasi belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan penelitian dengan judul sebagai berikut : “PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF

THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI

BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI KELAS VIII E SMP NEGERI 16 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011”

B. Perumusan Masalah

Berdasar latar belakang masalah, maka permasalahan yang menjadi pokok penelitian dapat dirumuskan yaitu apakah penerapan metode Think Pair

Share (TPS) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran

Biologi kelas VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2010/2011?.

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan di depan, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran Biologi VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2010/2011 melalui penerapan pembelajaran kooperatif

Think Pair Share (TPS).

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan mampu memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

a. Meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta dalam pembelajaran Biologi.

b. Memberikan suasana baru dalam pembelajaran agar siswa tidak jenuh/bosan sehingga lebih semangat dalam belajar.

(20)

2. Bagi Guru

a. Menyajikan sebuah alternatif bagi guru untuk mengatasi masalah pembelajaran yang membutuhkan penyelesaian melalui penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi.

b. Memberikan sumbangan pemikiran bagi guru dalam penggunaan metode Think Pair Share untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

3. Bagi Sekolah

a. Dapat menyusun program baru dalam peningkatan proses pembelajaran biologi dengan menggunakan metode Think Pare Share.

b. Hasil penelitian dapat digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran secara umum pada tahap berikutnya.

4. Bagi Peneliti

a. Memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran Biologi melalui metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share.

b. Mengembangkan wawasan dan pengalaman peneliti. c. Mengaplikasikan teori yang telah diperoleh.

(21)

6 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share

Pembelajaran kooperatif (Cooperativ learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kolompok kecil siswa untuk bekerja sama. Slavin (2009: 4) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pembelajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok – kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran. Jadi pembelajaran kooperatif menekankan pada kerja sama siswa dalam kelompok. Siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka miliki dan dapat mengatasai kesenjangan dalam pemahaman diantara siswa.

Isjoni (2009: 21) menyatakan “Tujuan utama dalam penerapan pembelajaran kooperatif adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok”.

Penggunaan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan pencapaian prestasi para siswa dan juga akibat-akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa harga diri. Alasan lain adalah tumbuhnya kesadaran bahwa para siswa perlu belajar untuk berpikir, menyelesaikan masalah dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan mereka (Slavin, 2009: 4-5).

Menurut Anita Lie (2008: 31) untuk mencapai hasil yang maksimal, terdapat lima prinsip pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan yaitu: a) saling ketergantungan positif; b) tanggung jawab perseorangan; c) tatap muka; d) komunikasi antar anggota; e) evaluasi proses kelompok. commit to user

(22)

Trianto (2007: 49-51) mengemukakan bahwa terdapat empat pendekatan yang seharusnya merupakan bagian dari kumpulan strategi guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif diantaranya yaitu STAD (Student Teams Achievement Divisions), Jigsaw, Investigasi Kelompok (Teams Games Tournaments atau TGT), dan pendekatan struktural yang meliputi Think Pair Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT). Perbedaan empat pendekatan dalam pembelajaran kooperatif tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

(23)

Tabel 1. Perbedaan Empat Model Pembelajaran Kooperatif.

STAD Jigsaw Investigasi Kelompok Pendekata n Struktural Tujuan Kognitif Informasi akademik sederhana Informasi akademik sederhana Informasi akademik tingkat tinggi dan keterampilan inkuiri Informasi akademik sederhana

Tujuan sosial Kerja kelompok dan kerjasama Kerja kelompok dan kerjasama Kerjasama dalam kelompok kompleks Informasi akademik sederhana Struktur tim Kelompok

belajar heterogen dengan 4 -5 orang anggota Kelompok belajar heterogen dengan 5-6 orang anggota menggunakan pola kelompok ‘asal’ dan kelompok ‘ahli’ Kelompok belajar heterogen dengan 5-6 anggota homogen Bervariasi, berdua, bertiga atau 4-6 anggota kelompok Pemilihan topik

Biasanya guru Biasanya guru Biasanya siswa Biasanya guru Tugas utama Siswa dapat

menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya Siswa mempelajari materi dalam kelompok ‘ahli’ kemudian membantu anggota kelompok asal dalam mempelajari materi itu Siswa menyelesaiakan inkuiri kompleks Siswa mengerjaka n tugas-tugas yang diberikan secara sosial dan kognitif

Penilaian Tes mingguan Bervariasi, dapat berupa tes mingguan Menyelesaikan proyek dan menulis laporan, dapat menggunakan tes essay Bervariasi Pengakuan Lembar pengetahuan dan publikasi lainnya

Publikasi lain Lembar pengakuan dan publikasi lainnya

Bervariasi commit to user

(24)

Think Pair Share merupakan salah satu teknik pembelajaran yang terdapat dalam model cooperatif learning yang menganut sistem kerjasama. Menurut Isjoni (2009: 112) Think Pair Share merupakan teknik yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Menurut Nik Azlina (2010) menyatakan bahwa: ”This technique involves sharing with

enables students to assess new ideas and if necessary, clarify or rearrange them before presenting them to the larger group. It allows the students to think individually, interact with their pair and share the information with all the students and their teacher. It educates the student to be more active and participate during the learning process rather than to be a passive learner”.

Teknik ini menyertakan kegiatan dengan seorang patner yang memungkinkan siswa untuk menaksir ide baru dan jika perlu, menjelaskan atau menyusun ide-ide itu kembaali sebelum mempresentasikan kepada kelompok yang lebih besar. Hal itu membuat siswa berpikir secara individual , berinteraksi dengan pasangannya, dan membagi informasi dengan semua siswa dan guru. Hal tersebut mendidik siswa untuk menjadi lebih aktif dan berpartisipasi selama proses belajar daripada menjadi pelajar yang pasif.

Menurut Anita Lie (2008: 57) metode Think Pair Share memberikan kesempatan siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Pemilihan metode ini merupakan salah satu cara untuk memotivasi siswa dari luar yang biasa dikenal dengan motivasi ekstrinsik. Kelemahan dari metode ini adalah metode pembelajaran Think-Pair-Share belum banyak diterapkan di sekolah, sangat memerlukan kemampuan dan ketrampilan guru, waktu pembelajaran berlangsung guru melakukan intervensi secara maksimal, menyusun bahan ajar setiap pertemuan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan taraf berfikir anak dan mengubah kebiasaan siswa belajar dari yang dengan cara mendengarkan ceramah diganti dengan belajar berfikir memecahkan masalah commit to user

(25)

secara kelompok, hal ini merupakan kesulitan sendiri bagi siswa. Setiap metode memiliki keunggulan dan kelemahan, untuk meminimalisir dari kelemahan tersebut perlu adanya usaha yang maksimal dan pemilihan materi pelajaran yang sesuai dalam menggunakan metode ini. Tipe ini memberikan kepada para siswa waktu untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain (Kunandar: 345).

Langkah-langkah dalam menerapkan pendekatan struktural Think Pair

Share sebagai berikut : Thingking (berfikir) yaitu guru memberikan pertanyaan

atau masalah yang berhubungan dengan pelajaran dan meminta siswa untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara mandiri. Pairing (berpasangan) yaitu guru meminta siswa untuk berpasangan dengan siswa yang lain dengan mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada langkah pertama. Sharing (berbagi) yaitu guru meminta pasangan-pasangan siswa tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka diskusikan dengan cara bergantian pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai beberapa siswa telah mendapat kesempatan untuk melapor, paling tidak sekitar seperempat pasangan, tetapi disesuaikan dengan waktu yang tersedia (Arends, 2001: 325-326).

Langkah-langkah metode Think Pair Share Menurut Agus Suprijono (2009: 91) seperti namanya Thinking, pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawabannya. Selanjutnya pairing pada tahap ini guru meminta peserta didik berpasang-pasangan. Memberi kesempatan kepada pasangan-pasangan itu untuk berdiskusi. Diharapkan diskusi dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkan melalui inter subjektif dengan pasangannya. Hasil diskusi inter subjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Tahap ini dikenal dengan sharing dalam kegiatan ini diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengonstruksian pengetahuan secara integratif. Peserta didik dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajari.

(26)

2. Motivasi Belajar a. Motivasi

1. Pengertian Motivasi

Menurut Uno (2008: 3) istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterprestasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.

Menurut Sardiman (1992: 73) kata “motif” diartikan sebagai upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas terteterntu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak.

Dimyati & Mudjiono (1999: 80) berpendapat bahwa motivasi sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia. Dorongan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita sedangkan perilaku yang dimaksud adalah perilaku belajar.

Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu (a) kebutuhan, terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang dimiliki dan yang ia harapkan; (b) dorongan, merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapain tujuan yang merupakan inti motivasi; (c) tujuan, merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh seorang individu. Tujuan inilah yang mengarahkan perilaku individu (Dimyati dan Mudjiono, 1999: 80-81).

Davies (1986: 214) menyatakan bahwa motivasi ialah kekuatan tersembunyi di dalam diri kita, yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas. Kekuatan itu terkadang berpangkal pada naluri,

(27)

kadang juga berpangkal pada suatu keputusan yang rasional, tetapi lebih sering perpaduan dari kedua proses tersebut.

Sardiman (1992: 73-75) menyatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya ”feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Pengertian yang dikemukakan ini mengandung tiga elemen penting. Elemen yang dimaksud adalah bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia, motivasi ditandai dengan munculnya feeling, dan motivasi dirangsang karena adanya tujuan. Motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Motivasi merupakan faktor pendorong seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motivasi dalam kegiatan belajar dapat dikatakan sebagai daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan, dan memberikan arah kegiatan belajar. Motivasi sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar, karena seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, maka hasil belajar yang dimiliki tidak optimal.

2. Jenis Motivasi

Menurut Muhibbin Syah (2006: 136) motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keaadan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi intrinsik siswa bisa ditumbuhkan dengan cara menyenangi materi dan membutuhkan materi tersebut, yang nantinya materi itu akan berguna bagi masa depan siswa yang bersangkutan. Sedangkan motivasi ekstrinsik sendiri bisa dilakukan dengan memberikan pujian, memberikan hadiah, suri teladan orangtua, guru, dan sebagainya. commit to user

(28)

3. Peranan motivasi dalam pembelajaran

Uno (2008: 27) menyatakan ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran, antara lain dalam (a) menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar, (b) memperluas tujuan belajar yang hendak dicapai, (c) menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar, (d) menentukan ketekunan belajar.

Motivasi memang sangat di perlukan dalam pembelajaran, untuk itu ada cara tersendiri dalam memotivasi siswa. Menurut Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi (1991: 11) menyatakan bahwa beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi adalah melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru misalnya melalui pertanyaan kepada peserta didik, memberi kesempatan peserta didik untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian peserta didik seperti gambar, foto, diagram. Cara tersebut diharapkan dapat merangsang dan memotivasi siswa dalam belajar.

Seseorang itu akan berhasil dalam belajar kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Inilah prinsip dan hukum pertama dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Keinginan atau dorongan belajar inilah yang disebut dengan motivasi motivasi dalam hal ini meliputi dua hal yaitu: mengetahui apa yang akan dipelajari, dan memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari (Sardiman 1992: 39).

b. Belajar

Belajar merupakan cara seseorang yang tadinya belum mengetahui sesuatu menjadi tahu. Menurut Slameto (2003: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalamannya sendiri dengan lingkungannya.

Menurut Sukmadinata (2004: 155) belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik atau pun yang kurang baik, direncanakan atau tidak. Hal lain yang juga selalu terkait dalam belajar adalah pengalaman, pengalaman yang berbentuk interaksi dengan orang lain atau lingkungannya. commit to user

(29)

Belajar dalam pengertian luas dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Relevan dengan ini maka ada pengertian bahwa belajar adalah penambahan pengetahuan (Sardiman 1992: 22-23).

Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi didalam belajar. Menurut Sardiman (1992: 38) dari sekian banyak faktor yang berpengaruh, secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor intern (dari dalam) diri si subjek belajar dan faktor ekstern (dari luar) diri si subjek belajar. Faktor intern ini menyangkut aspek jasmaniah (kondisi kesehatan jasmani dari individu) maupun rohaniah (menyangkut kondisi kesehatan psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, social, psikomotor). Sedangkan faktor eksternal menyangkut faktor fisik maupun sosial-psikologis yang berada pada lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

c. Motivasi Belajar

Motivasi sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar, apalagi jika motivasi tersebut timbul dari dalam diri siswa (intrinsik) tanpa adanya paksaan atau dorongan dari orang lain maka hasil belajar juga akan optimal. Menurut Uno (2008: 23) motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling memenuhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara efektif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dan praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.

Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: adanya hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan keinginan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya keinginan yang menarik dalam belajar, adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, adanya commit to user

(30)

lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik (Uno, 2008: 23).

Sardiman (1992: 83) berpendapat bahwa seseorang yang termotivasi akan mempunyai ciri-ciri yaitu : (1) Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama dan tidak berhenti sebelum selesai), (2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa), (3) Menunjukkan minat terhadap berbagai masalah, (4) Lebih senang bekerja mandiri, (5) Cepat bosan pada tugas-tugas rutin, (6) Dapat mempertahankan pendapat (kalau sudah yakin akan sesuatu), (7) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini, (8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

B. Kerangka Berpikir

Pencapaian tujuan pendidikan sebagian besar ditentukan oleh keberhasilan proses belajar mengajar di kelas. Keberhasilan proses belajar mengajar di kelas dipengaruhi oleh berbagai faktor misal motivasi siswa dalam belajar. Jika seorang siswa tidak memiliki motivasi belajar maka siswa tidak akan berhasil dalam proses belajar mengajar. Penggunaan metode pengajaran yang tepat dan sesuai akan sangat membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Penggunaan metode pengajaran yang kurang menarik dan kurang bervariasi dapat menimbulkan rendahnya motivasi belajar siswa, sehingga siswa cepat bosan dan tidak belajar sungguh-sungguh.

Terkait dengan permasalahan diatas, maka perlu adanya variasi metode yang diharapkan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa dan juga mendorong siswa untuk lebih berpartisipasi saat pembelajaran berlangsung. Salah satu metode yang dapat diterapkan yakni pembelajaran kooperatif Think Pair

Share. Metode Think Pair Share merupakan suatu metode dalam pembelajaran

kooperatif yang memberi kesempatan siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain serta mengoptimalisasikan pertisipasi siswa, dengan begitu harapannya siswa akan terdorong untuk belajar, khususnya pada permasalahan yang dibebankan siswa tersebut. Penerapan metode pembelajaran kooperatif Think Pair Share diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar commit to user

(31)

biologi siswa. Kerangka pemikiran dalam pelaksanaan penelitian ini secara sederhana dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

memotivaswa dalam belajar Guru masih menggunakan model konvensional sehingga pembelajaran terpusat pada guru PROSES INPUT

Proses belajar di kelas

Metode pembelajaran kurang bervariasi

Siswa merasa bosan dan jenuh Penerapan pembelajaran kooperatif TPS Motivasi belajar siswa rendah Motivasi belajar siswa meningkat OUTPUT commit to user

(32)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1) Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 16 Surakarta pada kelas VIIIB semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011 yang beralamat di Jl. Kolonel Sutarto No. 188 Surakarta.

2) Waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu : a. Tahap Persiapan

Tahap persiapan meliputi observasi, identifikasi masalah, penentuan tindakan, pengajuan judul skripsi, penyusunan proposal, penyusunan instrumen penelitian, seminar proposal, dan pengajuan perijinan penelitian. Tahap ini dilaksanakan pada bulan Desember 2009 sampai Juni 2010.

b. Tahap Penelitian

Tahap penelitian meliputi kegiatan yang berlangsung di lapangan, yaitu pengambilan data yaitu pelaksanaan pembelajaran kooperatif Think Pair

Share. Tahap ini dilaksankan pada bulan Agustus 2010.

c. Tahap Penyelesaian

Tahap penyelesaian meliputi analisis data dan penyusunan laporan. Tahap ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2010 sampai dengan selesai.

B. Metode Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau

Classroom Action Research (CAR). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif

yang bertujuan untuk memperbaiki dan mencari solusi dari persoalan nyata dan praktis dalam meningkatkan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar. Penelitian tindakan kelas terdiri dari 4 tahapan dasar yang saling terkait dan berkesinambungan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing) dan

17

(33)

refleksi (reflecting). Namun sebelumnya, tahapan ini diawali oleh suatu tahapan Pra PTK.

Adapun rancangan solusinya adalah tindakan berupa penerapan model pembelajaran kooperatif, yaitu metode TPS (Think Pair Share). Dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share) tersebut digunakan tindakan siklus dalam setiap pembelajaran, artinya cara menerapkan metode pada pembelajaran pertama sama dengan yang diterapkan pada pembelajaran kedua, hanya refleksi terhadap setiap pembelajaran berbeda, tergantung dari fakta dan interpretasi data yang ada. Hal ini dilakukan agar diperoleh hasil yang maksimal mengenai cara penggunaan metode TPS untuk meningkatkan motivasi belajar biologi siswa.

C. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data informasi tentang keadaan siswa dilihat dari aspek kualitatif. Aspek kualitatif berupa catatan lapangan tentang pelaksanaan pembelajaran, hasil observasi berdasarkan lembar observasi, wawancara dengan guru dan siswa serta memberikan angket yang menggambarkan kegiatan pembelajaran oleh siswa di dalam kelas. Data penelitian dikumpulkan dari berbagai sumber meliputi:

a. Informasi siswa dan guru.

b. Tempat dan proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran.

c. Dokumentasi atau arsip, yang antara lain berupa silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan buku referensi mengajar.

D. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, observasi, angket, dan dokumentasi.

1. Metode Wawancara

Metode wawancara di antaranya digunakan untuk mengetahui informasi dan kondisi sekolah maupun kondisi pembelajaran di kelas dari guru Biologi yang bersangkutan. Wawancara dilakukan dengan guru dan siswa yang bertujuan untuk commit to user

(34)

mengadakan informasi balikan terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan dan untuk mendapat masukan yang mendalam setiap proses pembelajaran yang dapat dijadikan refleksi untuk perbaikan pada proses pembelajaran selanjutnya. Wawancara yang dilakukan sadalah wawancara bebas dan dilakukan secara informal kepada guru dan siswa yang dianggap mewakili.

2. Metode Observasi

Metode observasi dilaksanakan ketika proses pembelajaran materi pertumbuhan dan perkembangan manusia di kelas VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta. Observasi dilakukan terhadap siswa dan guru beserta proses pembelajaran yang menyertainya. Kegiatan observasi yang dilakukan adalah observasi terfokus dalam rangka mengetahui motivasi belajar biologi siswa sesuai dengan kriteria pada lembar observasi beserta observasi kejadian-kejadian yang menyertainya selama proses pembelajaran berlangsung.

3. Metode Angket

Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur atau responden (Suharsimi Arikunto, 2002:28). Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian adalah bentuk cek-list, yaitu suatu bentuk angket dimana pengisi angket memberi tanda cek (V) pada kolom yang telah disediakan. Pemberian angket dilakukan pada awal penelitian dan di setiap akhir siklus pada pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia. Informasi yang diperoleh dari angket dijadikan bahan evaluasi peningkatan motivasi belajar biologi siswa dengan adanya tindakan pada tiap siklus. Ada atau tidak peningkatan motivasi belajar biologi siswa serta besar kenaikannya dapat diketahui dalam proses pembelajaran biologi pokok bahasan Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia dengan menggunakan angket.

Angket yang diberikan kepada siswa kelas VIIIB SMP Negeri 16 Surakarta dalam hal ini adalah angket motivasi belajar biologi siswa. Hasil informasi angket ini memiliki kontribusi yang besar dalam mengevaluasi semua segi dalam penerapan pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share) untuk meningkatkan motivasi belajar biologi. commit to user

(35)

Jenis angket yang digunakan adalah angket langsung dengan alternatif jawaban tersedia. Angket disusun dengan terlebih dahulu membuat konsep alat ukur yang mencerminkan isi kajian teori. Konsep alat ukur berisi kisi-kisi angket. Konsep selanjutnya dijabarkan dalam variabel dan indikator yang disesuaikan dengan tujuan penilaian yang hendak dicapai, selanjutnya indikator digunakan sebagai pedoman dalam menyusun item-item angket.

Penyusunan item-item angket berdasarkan indikator yang telah ditetapkan sebelumnya. Responden atau siswa hanya dibenarkan dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan untuk menjawab pertanyaan. Kriteria penilaian item soal angket dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Skor Penilaian Angket

Alternatif jawaban Skor

(+) (-)

Sangat setuju/selalu Setuju/sering

Tidak berpendapat/jarang

Tidak setuju/hampir tidak pernah Sangat tidak setuju/tidak pernah

5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 (Sumber : Nana Sudjana, 2005: 81)

4. Metode Dokumentasi

Kajian dokumen dilakukan terhadap berbagai arsip yang digunakan dalam proses pembelajaran, misalnya dalam penelitian ini adalah silabus, presensi siswa dan buku ajar yang digunakan.

E. Indikator Keberhasilan

Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa peserta didik terlibat secara aktif baik fisik ataupun mental dalam proses pembelajaran (Mulyasa, 2006:101). Penelitian dapat dihentikan apabila rata-rata capain indikator yang diukur sudah commit to user

(36)

mencapai target yang ditentukan, sebaliknya jika masing-masing variabel yang diukur belum memenuhi target capaian maka dilanjutkan siklus berikutnya untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Daftar target dari masing-masing variabel yang akan diukur dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Daftar Persentase Target Capaian Masing-Masing Indikator pada setiap Variabel Diukur.

Variabel Target yang harus dicapai Kategori

Angket Motivasi Belajar ≥ 75 % Baik

Observasi Motivasi Belajar ≥ 75 % Baik

F. Validitas Data

Suatu informasi yang digunakan sebagai data penelitian perlu diperiksa validitasnya sehingga data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dapat mewakili atau mencakup aspek-aspek yang ingin diteliti yang nantinya dapat dijadikan sebagai dasar yang kuat dalam menarik suatu kesimpulan. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu data. Teknik yang digunakan dalam menjaga validitas data dalam penelitian adalah teknik triangulasi.

Menurut Moleong (2002:178) teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding data. Triangulasi dalam penelitian ini adalah triangulasi metode. Jenis triangulasi metode dilakukan dengan pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dari beberapa teknik pengumpulan data. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode pengumpulan data yang berupa wawancara, observasi selama KBM berlangsung dan angket. Adapun skema triangulasi dapat dilihat pada Gambar 2 (Sutopo, 2002: 81).

(37)

Gambar 2. Skema Triangulasi Metode Penelitian

G. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dimulai sejak awal sampai berakhirnya pengumpulan data. Data-data dari hasil penelitian di lapangan diolah dan dianalisis secara kualitatif. Teknik analisis kualitatif mengacu pada model analisis menurut Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan.

Reduksi data meliputi penyeleksian data melalui ringkasan atau uraian singkat dan penggolongan data ke dalam pola yang lebih luas. Penyajian data dilakukan untuk mengorganisasikan data yang merupakan penyusunan informasi secara sistematik dari hasil reduksi data dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi pada masing-masing siklus. Penarikan simpulan merupakan upaya pencarian makna data, mencatat keteraturan dan penggolongan data. Data terkumpul disajikan secara sistematis dan perlu diberi makna.

Adapun tahapan analisis data secara skematis menurut Miles dan Huberman (1992: 16-21) dapat dilihat pada Gambar 3

Wawancara

Data Angket Siswa

Observasi Sajian Data Verifikasi (Penarikan Simpulan) Pengumpulan Data Reduksi Data

(38)

H. Prosedur Penelitian

Prosedur dan langkah-langkah penelitian yang digunakan mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Robin MC Taggart yang berupa model spiral. Perencanaan Kemmis menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, perencanaan kembali merupakan suatu dasar untuk pemecahan masalah. Langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan, perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting). Tahap pelaksanaan dapat diuraikan sebagai berikut :

Tahap Persiapan

1. Permintaan izin kepada kepala sekolah dan guru biologi SMP Negeri 16 Surakarta.

2. Observasi untuk mendapatkan gambaran awal mengenai keadaan kegiatan belajar mengajar.

3. Identifikasi permasalahan dalam proses belajar mengajar pelajaran biologi. Setelah mengetahui permasalahan dalam proses belajar mengajar pelajaran biologi maka akan direncanakan pada tahap selanjutnya, yaitu pelaksanaan siklus.

1. Siklus I a. Tahap Perencanaan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

1. Menentukan materi pembelajaran yakni pada sub pokok bahasan Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia, sekaligus menyusun perangkat mengajar berupa Satuan Pengajaran dan Rencana Palaksanaan Pembelajaran.

2. Menyusun instrumen penelitian berupa: a) Angket motivasi belajar siswa.

b) Lembar observasi motivasi belajar siswa.

c) Pedoman wawancara tentang penerapan model pembelajaran pembelajaran kooperatif TPS dan motivasi siswa.

(39)

b. Tahap Tindakan

Pada tahap ini dilakukan implementasi penerapan pembelajaran kooperatif TPS untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran. Tahap ini terdiri dari 2 kali tatap muka dengan alokasi waktu 3 x 40 menit. Pembelajaran dilakukan dengan mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I dan II (terlampir).

1). Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pertemuan ke-1 (2 x 40 menit) dengan penerapan pembelajaran kooperatif TPS. Materi pembelajaran pada pertemuan 1 yaitu: Tahapan perkembangan dan pertumbuhan pada manusia. 2). Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pertemuan ke-2 (1 x 40 menit) dengan

penerapan pembelajaran kooperatif TPS. Materi pembelajaran pada pertemuan 2 yaitu: Tahapan perkembangan dan pertumbuhan pada manusia c. Tahap Observasi dan Evaluasi

Tahap observasi dan evaluasi dilaksanakan dengan bantuan angket dan lembar observasi motivasi belajar siswa.

d. Tahap Analisis dan Refleksi

Tahap analisis dan refleksi meliputi kegiatan mengulas perubahan yang terjadi pada motivasi belajar siswa dalam pembelajaran sebagai bahan perencanaan pada siklus II.

2. Siklus II a. Tahap Perencanaan

Perencanaan untuk siklus II ini disusun berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi pada siklus I. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menyusun rencana pengajaran siklus II, serta menyiapkan instrumen-instrumen penelitian seperti angket motivasi belajar siswa, dan lembar observasi motivasi belajar siswa.

b. Tahap Tindakan

Pada tahap ini dilakukan implementasi penerapan pembelajaran kooperatif TPS untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran. Tahap ini terdiri dari 2 kali tatap muka dengan alokasi waktu 3 x 40 commit to user

(40)

menit. Pembelajaran dilakukan dengan mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I dan II (terlampir). .

1). Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pertemuan ke-3 (2 x 40 menit) dengan penerapan pembelajaran kooperatif TPS. Materi pembelajaran pada pertemuan 3 yaitu: Masa pubertas dan menstruasi.

2). Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pertemuan ke-4 (1 x 40 menit) dengan penerapan pembelajaran kooperatif TPS. Materi pembelajaran pada pertemuan 4 yaitu: Masa pubertas dan menstruasi.

c. Tahap Observasi dan Evaluasi

Tahap observasi dan evaluasi dilaksanakan dengan bantuan angket dan lembar observasi motivasi belajar siswa.

d.Tahap Analisis dan Refleksi

Tahap analisis dan refleksi meliputi kegiatan mengulas perubahan yang terjadi pada motivasi belajar siswa selama pembelajaran berlangsung pada siklus II. Kegiatan selanjutnya pada tahap ini adalah menganalisis proses dan dampak pelaksanaan tindakan, serta melihat ketercapaian indikator. Hasil dari tahap ini dapat digunakan untuk memutuskan antara melanjutkan tindakan selanjutnya atau berhenti karena masalah telah terpecahkan dan tujuan telah tercapai.

3. Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan diharapkan guru bidang studi Biologi tempat penelitian (SMP Negeri 16 Surakarta) bersedia melakukan perbaikan kualitas pembelajaran secara terus menerus serta mengembangkan strategi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa serta mencapai kompetensi pembelajaran yang baik. Adapun prosedur penelitian secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4.

(41)

Gambar 4. Skema Prosedur Penelitian Tindakan Kelas model spiral (Sumber: Sukardi, 2001: 215) Tindakan Pelaksanaan pembelajaran kooperatif TPS siklus2 Pengamatan proses belajar mengajar dan motivasi belajar siswa.

Tindak lanjut dari guru Biologi setelah penelitian. Tindakan Pelaksanaan pembelajaran kooperatif TPS siklus1 Pengamatan Pengamatan proses belajar mengajar dan motivasi belajar siswa Perencanaan Menyiapkan instrumen dan perangkat mengajar untuk pembelajaran pada siklus I Refleksi Menganalisis proses dan dampak pelaksanaan tindakan, jika indikatorbelum tercapai diteruskan siklus kedua Perencanaan Menyiapkan instrumen dan perangkat mengajar untuk pembelajaran pada siklus II Refleksi Menganalisis proses dan dampak pelaksanaan tindakan, serta melihat ketercapaian indikator. commit to user

(42)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal (Pra Siklus)

Kondisi awal siswa dalam proses pembelajaran biologi digali melalui kegiatan observasi pra siklus. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi nyata yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan observasi dilaksanakan di kelas VIIIE SMP Negeri I6 Surakarta. Kegiatan penelitian diawali dengan observasi dan diskusi dengan guru biologi kelas VIIIE untuk mengetahui kondisi awal kelas terutama yang berkaitan dengan pembelajaran biologi.

Hasil observasi diketahui bahwa guru menggunakan metode mengajar yang kurang bervariasi walaupun sudah menggunakan media pembelajaran. Semangat siswa untuk memperhatikan pelajaran masih rendah, kesadaran siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh masih rendah sehingga banyak siswa yang mengerjakan ulangan bekerja sama dengan siswa lain, usaha untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru juga masih rendah ini dilihat dari banyaknya siswa yang mengumpulkan tugas tidak tepat waktu. Dari hasil tersebut maka diperoleh kesimpulan sementara bahwa motivasi belajar biologi siswa rendah. Sebagai penguat data hasil observasi awal, untuk mengetahui dan mengukur seberapa besar motivasi belajar biologi siswa sebelum diberi tindakan, digunakan lembar observasi. Item-item lembar observasi yang diberikan masing-masing mewakili indikator-indikator motivasi belajar biologi siswa yang akan diukur dan dilihat perubahan dan perkembangannya pada setiap siklus.

Hasil capaian setiap indikator motivasi belajar biologi siswa dalam kegiatan pembelajaran (pra siklus) yang diperoleh melalui lembar observasi motivasi belajar biologi siswa dapat dilihat pada Tabel 4.

27

(43)

Tabel 4. Persentase Capaian Setiap Indikator pada Observasi Motivasi Belajar Biologi Siswa Pra Siklus

No Indikator Capaian Indikator %

1. Adanya usaha untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.

55,88

2. Aktif dalam diskusi kelompok 61,76

3. Mempelajari kembali materi yang diberikan guru.

64,70 4. Belajar biologi dengan sungguh-sungguh. 44,11 5. Adanya kemauan untuk bertanya dan

meningkatkan kualitas belajar.

11,76 6. Semangat untuk memperhatikan pelajaran

dengan baik

61,76 7. Mempelajari biologi dari berbagai sumber 67,64 8. Mengerjakan ulangan tanpa bantuan

orang lain

41,17

Rata-rata 51,10

Nilai motivasi belajar biologi siswa dari Tabel 4 yaitu setiap indikator yang diukur sebelum tindakan berkisar antara 11,76% - 67,64%, dengan nilai rata-rata sebesar 51,10%. Selain dengan observasi juga digunakan angket tertutup. Item-item angket yang diberikan masing-masing mewakili indikator-indikator motivasi belajar biologi siswa yang akan diukur dan dilihat perubahan dan perkembangannya pada setiap siklus. Berikut merupakan hasil capaian setiap indikator motivasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran yang diperoleh melalui angket motivasi belajar biologi siswa dapat dilihat pada Tabel 5

Tabel 5. Presentase Capaian Indikator pada Angket Motivasi Belajar Biologi Siswa Pra Siklus

No Indikator Capaian Indikator %

1. Adanya usaha untuk melakukan sesuatu yang dapat meningkatkan prestasi belajar.

65,44 2. Mengikuti pelajaran dengan semangat. 76,02

(44)

Lanjutan Tabel 5.

3 Berusaha meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka.

74,11

4 Adanya kemauan untuk belajar. 69,85 5 Mempelajari kembali materi dari guru. 69,11 6 Bertanya pada guru jika merasa belum jelas. 72,79 7 Semangat untuk memperhatikan pelajaran dengan

baik.

74,70

8 Mempelajari biologi dari berbagai sumber. 58,82 9 Mengerjakan ulangan tanpa bantuan orang lain. 74,26

Rata-rata 70,57

Nilai motivasi belajar biologi siswa dari Tabel 5 dalam pembelajaran menunjukkan setiap indikator yang diukur sebelum diberi tindakan. Pada tabel tersebut terlihat bahwa nilai indikator motivasi belajar biologi siswa berkisar antara 58,82% - 76,02%, dengan nilai rata-rata sebesar 70,57%. Capaian rata-rata indikator masih tergolong rendah, untuk itu perlu ditingkatkan agar kualitas pembelajaran menjadi lebih baik. Hasil perhitungan rata-rata motivasi belajar menunjukkan adanya perbedaan persentase antara lembar observasi dan perhitungan angket pra siklus. Perbedaan hasil dapat terjadi karena perbedaan sudut pandang dalam mencari informasi mengenai motivasi belajar siswa. Kegiatan observasi dilakukan secara objektif terhadap motivasi belajar siswa selama proses pembelajaran, sedangkan angket diberikan kepada siswa untuk mengetahui motivasi belajar siswa yang diisi secara subjektif menurut sudut pandang siswa sendiri.

Berdasarkan hasil observasi awal dan data yang digali melalui angket pra siklus, maka diberikan tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan motivasi belajar biologi siswa kelas VIIIE SMP Negeri 16 Surakarta. Tindakan diberikan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share). Pemilihan tindakan didasarkan pada asumsi bahwa motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan melalui inovasi pembelajaran yang dapat membuat siswa termotivasi dalam pembelajaran serta mengoptimalisasikan partisipasi siswa. Hasil observasi dan

(45)

angket motivasi belajar biologi siswa pra siklus digunakan sebagai pembanding untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa melalui tindakan yang diberikan.

Pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share) mempunyai struktur yang sederhana sebagai salah satu dasar dari perkembangan kelas kooperatif, memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa lebih banyak waktu untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Pembelajaran kooperatif ini membuat para siswa diam-diam memikirkan dan memecahkan sebuah masalah secara independen, kemudian berpasangan dan membagi pemikiran atau solusi dengan pasangannya. Siswa dilatih bernalar dan dapat berpikir kritis untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Guru juga memberikan kesempatan siswa untuk menjawab dengan asumsi pemikirannya sendiri, kemudian berpasangan untuk mendiskusikan hasil jawabannya kepada teman sekelas untuk dapat didiskusikan dan dicari pemecahannya bersama-sama sehingga terbentuk suatu konsep. Metode ini juga mendorong siswa meningkatkan semangat kerja sama siswa dan diharapkan motivasi belajar biologi meningkat.

Untuk mengetahui adanya perubahan dalam setiap siklus yang dilakukan, maka evaluasi dilakukan melalui observasi motivasi belajar dan pengisian angket motivasi belajar biologi siswa, serta wawancara terhadap guru dan siswa.

B. Deskripsi Siklus I

Penelitian dilakukan untuk menyelesaikan dan menjawab permasalahan yang terjadi di dalam kelas dari hasil observasi awal. Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam rangkaian siklus yang berkelanjutan sampai mendapatkan perbaikan untuk motivasi belajar biologi siswa. Penelitian yang dilakukan terdiri atas dua siklus, masing-masing mencakup 4 tahapan yakni: (1) tahap perencanaan tindakan, (2) tahap pelaksanaan tindakan, (3) tahap observasi dan evaluasi, dan (4) tahap analisis dan refleksi. Pembahasan dari tiap-tiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut:

(46)

1. Perencanaan Tindakan Siklus I

Pada tahap perencanaan yang dilakukan adalah menyusun beberapa instrumen penelitian yang akan digunakan dalam tindakan dengan pembelajaran kooperatif Think Pair Share dengan 2 kali pertemuan. Instrumen penelitian yang disusun antara lain adalah:

a) Silabus mata pelajaran biologi sesuai kurikulum sekolah yaitu KTSP dengan materi pokok tahapan perkembangan dan pertumbuhan pada manusia.

b) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang meliputi pertemuan 1 dan 2. Penyusunan RPP sesuai dengan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif Think Pair Share. Urutan tahapan pelaksanaan secara lengkap dapat dilihat dalam RPP pertemuan 1 dan 2 pada lampiran.

c) Angket motivasi belajar siswa.

d) Lembar observasi motivasi belajar siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Pelaksanaan tindakan I, guru menggunakan pembelajaran kooperatif Think

Pair Share yang terdiri dari 2 kali tatap muka. Pertemuan pertama (2 x 40 menit)

dengan membahas materi tahapan perkembangan dan pertumbuhan pada manusia presensi kehadiran 100% (hadir semua). Pertemuan kedua (1 x 40 menit) masih melanjutkan materi tahapan perkembangan dan pertumbuhan pada manusia dengan presensi kehadiran siswa 100% (hadir semua). Kegiatan pembelajaran lebih dipusatkan pada kegiatan diskusi dan pada saat presentasi serta tanya jawab.

Pertemuan pertama (2 x 40 menit) diawali dengan apersepsi guru mengenai perkembangan dan pertumbuhan pada manusia. Adanya apersepsi dapat merangsang siswa berpikir sebelum dimulai pelajaran. Setelah itu dilanjutkan dengan motivasi yaitu berupa pertanyaan yang mengarah ke materi yang akan di ajarkan. Setelah itu dilanjutkan tahap pertama dari pembelajaran kooperatif Think

Pair Share yaitu persiapan yang dimulai dengan pembagian pasangan. Tahap

selanjutnya adalah pelaksanaan yang dimulai dengan membagikan soal atau permasalahan kepada siswa untuk dijawab/dipecahkan sendiri (Think). Selanjutnya siswa mendiskusikan jawaban dengan kelompoknya (Pair), hasil commit to user

Gambar

Tabel 1.  Perbedaan  Empat Model Pembelajaran Kooperatif.
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran
Tabel 2. Skor Penilaian Angket
Tabel  3.  Daftar  Persentase  Target  Capaian  Masing-Masing  Indikator  pada  setiap  Variabel Diukur
+7

Referensi

Dokumen terkait

Organisasi artikel hasil penelitian tipe kepemilikan dan harga saham untuk PT Bukit Asam ini adalah sebagai berikut, profil PT Bukit Asam dan peraturan- peraturan tentang

Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran Produk, Harga, Lokasi………..Bambang Sarjono faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian adalah bauran pemasaran yang terdiri dari : produk,

Adanya perbedaan hasil penelitian terdahulu dan maraknya praktik penggelapan pajak mendorong minat untuk melakukan penelitian dengan faktor-faktor pemahaman

Dengan memperhatikan faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan tipe bangunan dan menganalisis tiap jenis struktur atas jembatan serta berdasarkan dengan kondisi lapangan

Dengan memahami kepuasan konsumen atas kualitas pelayanan yang diterimanya berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan kepada perusahaan penyedia jasa

Selain itu terdapat beberapa hal utama yang harus diperhatikan dalam melakukan umpan yaitu kecepatan bola, sasaran umpan, ketepatan waktu melakukan umpan, teknik

ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NONFORMAL, DAN INFORMAL.. NOMENKLATUR, LOKASI, DAN

Upaya pengolahan biji nyamplung menjadi biodiesel dan pemanfaatan hasil ikutannya dirasakan perlu dilakukan karena terkait dengan kebijakan pembangunan pemerintah dalam hal