HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Hasil Penelitian
4. Deskripsi Antarsiklus
Hasil pelaksanaan pembelajaran menulis puisi setiap siklus tindakan di atas dapat digambarkan secara rinci pada tabel rekapitulasi di bawah ini.
Tabel 9. Hasil Tindakan Berdasarkan Indikator Ketercapaian
No Aktivitas dalam Pembelajaran
Persentase
Siklus I Siklus II Siklus III
1
Siswa aktif selama apersepsi (indikator: mau menyanyikan lagu dan merespon pada saat apersepsi)
2
Siswa aktif dan memperhatikan saat mengikuti pelajaran (indikator: memperhatikan atau fokus terhadap pelajaran, ikut merespon, aktif mengerjakan tugas)
50% 67% 90%
3
Siswa berminat dan memiliki motivasi saat kegiatan pembelajaran (indikator: semangat, antusias, dan menunjukkan kesungguhan)
43% 62% 83%
4.
Siswa mampu menulis puisi dengan baik (ketuntasan hasil belajar dalam menulis puisi mendapat nilai
65). 45% 67% 90%
Berdasarkan tabel di atas, dapat dinyatakan bahwa telah terjadi peningkatan pada indikator yang telah ditetapkan dari hasil siklus I, II, dan III. Peningkatan terjadi dari siklus I ke siklus II pada indikator 1 sampai dengan 5 cukup signifikan. Demikian juga, peningkatan yang terjadi pada siklus II ke siklus III pada indikator-indikator tersebut mencapai 21 % - 26%.
Pada siklus II ke siklus III persentase keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa tingkat keaktifan siswa pada saat apersepsi mengalami peningkatan 26%, keaktifan dan perhatian siswa saat mengikuti pembelajaran meningkat sekitar 23%, dan minat serta motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pun meningkat sebesar 21%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan proses pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas V-C SD Negeri 3 Jaten.
Selain itu, pada siklus ini persentase peningkatan keberhasilan juga terjadi pada ketuntasan hasil belajar siswa dalam menulis puisi, berupa kemampuan
siswa dalam menulis puisi yang meningkat sekitar 21%. Peningkatan tersebut tampak pada puisi hasil karya siswa yang pada setiap siklusnya menunjukkan semakin adanya perbaikan baik dalam pengungkapan ide, pemilihan kata, rima, maupun bahasa kiasan. Pada siklus III nilai rata-rata siswa lebih tinggi dibanding pada saat survai awal dan siklus-siklus sebelumnya (siklus I dan II). Siklus III nilai rata-rata siswa menjadi 76,4 atau mengalami peningkatan sekitar 15,3 poin dibandingkan pada saat survai awal (nilai rata-rata siswa 61,1). Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa penerapan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan proses pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas V-C SD Negeri 3 Jaten.
Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan proses dan hasil pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas V-C SD Negeri 3 Jaten.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tindakan yang dilakukan pada siklus I sampai dengan siklus III dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan kualitas pembelajaran, baik pada proses maupun hasil kemampuan menulis puisi dengan penerapan model pembelajaran quantum learning di kelas V-C Sekolah Dasar Negeri 3 Jaten. Dengan demikian, penelitian ini telah berhasil menjawab rumusan masalah yang dikemukakan peneliti.
Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus, dengan uraian kegiatan sebagai berikut: Sebelum dilaksanakan siklus I, peneliti terlebih dahulu melakukan survai awal untuk mengetahui permasalahan yang terjadi sebenarnya di lapangan. Berdasarkan hasil kegiatan pada survai awal, peneliti menemukan bahwa kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis puisi di kelas V-C SD Negeri 3 Jaten masih kurang memuaskan. Oleh karenanya, peneliti melakukan kolaborasi bersama dengan guru kelas untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning dalam pembelajaran menulis puisi.
Sebelum melaksanakan siklus I peneliti bersama dengan guru kelas sebagai kolaborator menyusun rencana pembelajaran (RPP). Siklus I ini merupakan tindakan awal untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran menulis puisi di kelas tersebut. Berdasarkan kesepakatan antara guru dan peneliti pada siklus I ini tema yang digunakan dalam materi menulis puisi adalah ―Pahlawan‖. Oleh karenanya, lagu yang dinyanyikan pada saat apersepsi dan puisi yang digunakan sebagai contoh disesuaikan dengan temanya. Demikian juga, dengan tugas menulis puisi yang harus dikerjakan siswa juga mengenai pahlawan dan puisi hasil karya siswa dapat didasarkan pada gambar-gambar pahlawan yang dilihatnya pada dinding kelas. Kemudian beberapa siswa juga ditugaskan untuk membacakan hasil karya yang telah dibuat di depan kelas dan siswa yang lain memberikan penilaian. Pada siklus ini pembelajaran menulis puisi dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning yang didasarkan pada prinsip ―TANDUR‖ dilaksanakan sesuai dengan RPP yang telah dibuat.
Dari pelaksanaan siklus I tersebut diperoleh deskripsi hasil pembelajaran menulis puisi yang menyatakan bahwa masih terdapat beberapa kekurangan-kekurangan di dalam pelaksanaan tindakan. Kekurangan tersebut berasal dari guru dan siswa. Kekurangan dari pihak guru, yakni: (1) guru kurang dapat memantau siswa secara keseluruhan karena karena posisi guru lebih banyak di depan dan pada titik tertentu saja (dekat meja guru) pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran; (2) guru masih terkesan agak kaku dan terlalu tegas dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sehingga siswa terkesan takut untuk beraktualisasi terhadap materi; (3) guru belum dapat membangkitkan semangat siswa secara optimal khususnya untuk memberikan pendapat atau menanggapi sehingga stimulus yang diberikan guru kurang direspon dengan baik oleh siswa, dan (4) guru belum banyak memberikan balikan atau penguatan khusunya pada tahap evaluasi. Sedangkan, kelemahan yang terdapat dari pihak siswa, yakni: (1) beberapa siswa kelihatan kurang berkonsentrasi saat menyimak rekaman puisi; (2) sebagian siswa terlihat belum sepenuhnya fokus saat pembelajaran berlangsung
(melakukan aktivitas lain, seperti menolah-noleh, berbicara dengan teman satu meja, dan sebagainya); (3) sebagian siswa mampu belum menggunakan pilihan kata yang sesuai, sedikit sekali bahasa kiasan, dan rima dalam puisi.
Kekurangan-kekurangan yang ditemukan dalam pelaksanaan tindakan pada siklus I ini merupakan faktor penyebab kurang memuaskannya hasil tes kemampuan menulis siswa. Hal ini didasarkan pada jumlah siswa yang telah memperoleh nilai 65 (dinyatakan tuntas) dalam menulis puisi hanya 19 siswa atau sekitar 45% dari jumlah keseluruhan. Selanjutnya, kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam siklus I tersebut dievaluasi oleh peneliti dan guru hingga menghasilkan perencanaan pembelajaran baru. Melalui perencanaan ini diharapkan dapat mengatasi kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan tindakan I.
Tindakan pada siklus II dilaksanakan untuk mengatasi kekurangan yang terdapat dalam siklus I. Pada siklus II ini guru juga menerapkan model pembelajaran quantum learning yang didasarkan pada prinsip ―TANDUR‖ dalam pembelajaran menulis puisi. Berbeda dengan siklus I, pada siklus ini tema yang diambil adalah ―profesi atau pekerjaan‖. Adapun tugas yang dikerjakan siswa pada siklus II sama dengan tugas pada siklus I yakni menulis puisi dan membacakannya. Namun puisi yang dibuat pada siklus ini didasarkan pada gambar acak (yang telah disediakan guru mengenai petani). Meskipun tugas menulis puisi ini bersifat individu namun tempat duduk siswa dibuat berkelompok seperti diskusi. Hal ini bertujuan agar siswa dapat saling bertukar pikiran dan mengetahui segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya terutama dalam menulis puisi.
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan siklus II terlihat bahwa terjadi peningkatan proses dan hasil pembelajaran menulis puisi dari siklus I. Peningkatan proses dapat dilihat dari meningkatnya keaktifan siswa pada saat apersepsi, keaktifan dan perhatian siswa pada saatguru menyampaikan materi pembelajaran, serta minat dan motivasi siwa saat mengikuti kegiatan
pembelajaran, sedangkan peningkatan hasil dilihat dari meningkatnya jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar dalam menulis puisi. Pada siklus I siswa yang dinyatakan telah tuntas dalam menulis puisi sekitar 45% (19 orang) dan pada siklus II ini terjadi peningkatan menjadi 67% (28 orang). Meskipun dalam siklus II ini telah ada peningkatan baik dari proses maupun hasil namun dalam pelaksanaannya masih ditemukan kekurangan-kekurangan, seperti guru masih terlihat kurang dalam pengelolaan kelas dan mengkondisikan siswa agar tidak gaduh, beberapa siswa masih terlihat belum sepenuhnya fokus dalam kegiatan pembelajaran, dan belum semua siswa yang merespon stimulus yang diberikan guru.
Selanjutnya, peneliti bersama-sama dengan guru berdiskusi untuk merancang rencana pembelajaran baru yang bertujuan untuk mengatasi segala kekurangan yang masih terdapat dalam pelaksanaan siklus II. Pada siklus III ini guru dan peneliti berusaha untuk memperkecil segala kelemahan yang terjadi selama pelaksanaan pembelajaran menulis puisi. Hal ini dikarenakan siklus III merupakan perencanaan siklus terakhir dalam penelitian ini. Pada pelaksanaan siklus III guru juga menerapkan model pembelajaran quantum learning yang didasarkan pada kerangka prinsip ―TANDUR‖ dalam pembelajaran menulis puisi. Tema yang diambil pada siklus ini adalah ―Lingkungan Sekolah‖. Berbeda dengan siklus-siklus sebelumnya, agar kegiatan pembelajaran lebih bervariatif maka pada siklus ini ditengah-tengah proses pembelajaran siswa diberikan waktu untuk mengamati dan mendaftar obyek-obyek yang ada di sekitar lingkungan sekolah yang siswa anggap menarik, seperti halaman sekolah, laboratorium, perpustakaan, lapangan, ruangan kelas, dan sebagainya. Dari obyek yang telah didaftar siswa tersebut siswa ditugaskan untuk menulis sebuah puisi sesuai dengan imajinasi atau pun kreativitas masing-masing siswa. Siswa dalam siklus ini juga diberi kesempatan untuk membacakan hasil karya yang telah dibuat.
Dari pelaksanaan siklus III terlihat bahwa terjadi peningkatan proses dan hasil pembelajaran menulis puisi dari siklus II. Peningkatan proses dapat dilihat dari meningkatnya keaktifan siswa pada saat apersepsi, keaktifan dan perhatian
siswa pada saatguru menyampaikan materi pembelajaran, serta minat dan motivasi siwa saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Sedangkan, untuk peningkatan hasil dilihat dari meningkatnya jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar dalam menulis puisi yang berupa puisi yang telah dibuat siswa pada siklus ini mencapai 90% (pada siklus II sebesar 67%). Dalam siklus III kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus-siklus sebelumnya sudah dapat teratasi dan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan pun juga telah tercapai. Oleh karenanya, dalam penelitian ini hanya dilaksanakan sampai pada siklus III.
Berdasarkan tindakan-tindakan yang telah dilakukan, dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran quantum learning dalam pembelajaran menulis puisi di kelas V-C Sekolah Dasar Negeri 3 Jaten telah berhasil. Keberhasilan model pembelajaran quantum learning dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis puisi dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut.
1. Peningkatan kualitas proses pembelajaran menulis puisi
Penentuan persentase kualitas proses dihitung dari jumlah siswa yang telah mendapatkan kriteria ―sangat baik dan baik‖ pada masing-masing indikator selama kegiatan pembelajaran per seratus dikalikan jumlah siswa dalam kelas tersebut (42 orang). Adapun bentuk keaktifan yang diamati adalah sikap siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, keaktifan dalam merespon, kesungguhan dalam mengerjakan tugas, dan semangat serta antusias dalam mengikuti pembelajaran.
a. Siswa lebih aktif saat mengikuti apersepsi
Selama pelaksanaan penelitian pada siklus I hingga III, tampak bahwa siswa antusias dalam mengikuti apersepsi. Keantusiasan ini ditunjukkan dengan kemauan siswa untuk menyanyikan lagu yang diminta guru dengan penuh semangat dan respon siswa terhadap stimulus yang diberikan guru pada saat apersepsi. Keaktifan siswa saat apersepsi ditunjukkan dengan ―kriteria sangat baik dan baik‖ yang diindikatori adanya kemauan siswa
untuk mengikuti apersepsi (ikut menyanyikan lagu dan memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan guru). Dari siklus I hingga siklus III mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari persentase keaktifan siswa antar siklus, yaitu 57% atau sebanyak 24 siswa (siklus I) menjadi sekitar 71% atau sebanyak 30 siswa (pada siklus II) dan mencapai 97% atau sebanyak 41 siswa (pada siklus III).
b. Siswa terlihat lebih aktif dan perhatian saat mengikuti pelajaran
Keaktifan dan perhatian siswa pada saat mengikuti pelajaran di setiap siklus semakin menunjukkan adanya peningkatan. Indikator yang menunjukkan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran adalah kemauan siswa untuk memperhatikan atau fokus terhadap kegiatan pembelajaran serta kemauan dan keaktifan siswa untuk merespon stimulus yang diberikan guru (bertanya/menjawab/menanggapi/menamai). Peningkatan keaktifan siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran pada siklus I hanya 50% atau sebanyak 21 siswa, siklus II sekitar 67% atau sebanyak 28 siswa, dan siklus III menjadi 90% atau sebanyak 38 siswa.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada saat survai awal, beberapa siswa terlihat kurang fokus pada saat kegiatan pembelajaran. Selain itu, keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga belum begitu terlihat, karena saat pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan dan sebagian siswa kurang aktif dalam merespon stimulus yang diberikan guru. Setelah adanya tindakan melalui penerapan quantum learning sebagai model pembelajaran dalam menulis puisi keaktifan siswa semakin meningkat.
c. Minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi Pada mulanya, pembelajaran yang dilakukan di kelas tampak monoton dan membuat siswa menjadi jenuh dan bosan. Hal ini dikarenakan model pembelajaran yang digunakan guru kurang menarik. Saat pembelajaran guru lebih banyak memberikan penjelasan yang menitik beratkan pada
aspek kognitif dan keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran pun juga belum tampak, kemudian dilanjutkan dengan tugas menulis puisi yang hanya sekedar membayangkan tanpa memanfaatkan suatu media sehingga dalam mengerjakan pun siswa tampak kesulitan dan bingung.
Dikarenakan kurang bervariasi dan monoton mengakibatkan siswa kurang bersemangat dan kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Namun setelah diterapkannya model pembelajaran quantum learning siswa mulai menunjukkan adanya ketertarikan saat mengikuti pembelajaran. Hal ini dilihat dari kesungguhan siswa saat mengerjakan tugas, antusias dan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Siswa menjadi termotivasi karena dalam kegiatan pembelajaran siswa tidak lagi hanya diam dan mendengarkan tetapi dibuat untuk lebih aktif. Selain itu, siswa juga tampak termotivasi karena dalam menulis puisi siswa dibuat seolah seperti kompetisi yang mana usaha siswa akan diberikan penghargaan sehingga setiap siswa berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakan tugas yang diberikan.
Tindakan yang dilakukan dengan menerapkan model pembelaran quantum learning membuat siswa tampak lebih berminat dan termotivasi saat mengikuti pembelajaran menulis puisi. Hal ini didasarkan pada pengamatan peneliti dari jumlah siswa yang mendapatkan kriteria sangat baik dan baik di setiap siklusnya. Pada siklus I siswa yang siswa yang tampak berminat dan memiliki motivasi saat mengikuti pembelajaran sekitar 43% dan pada siklus II meningkat menjadi 62%. Pada siklus terakhir terjadi peningkatan yang cukup signifikan yakni sebesar 83% atau sebanyak 34 siswa tampak berminat serta termotivasi pada pembelajaran menulis puisi.
2. Peningkatan kualitas hasil pembelajaran menulis puisi
Peningkatan kualitas hasil dapat dinilai dari hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan dari satu siklus ke siklus berikutnya. Peningkatan
hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis puisi didasarkan pada ketuntasan siswa dalam menulis puisi yang penilaiannya didasarkan pada beberapa kriteria, yakni:
a. Pengungkapan ide
Siswa telah mampu mengungkapkan ide dengan baik sesuai dengan obyek tertentu yang dilihat dan dirasakannya. Pada saat pretes siswa membuat puisi hanya berdasarkan pada imajinasinya tanpa ada suatu media yang mendukung. Hal ini menyebabkan sebagian besar siswa merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas tersebut karena siswa tidak memiliki gambaran.
Berbeda dengan saat adanya tindakan. Model pembelajaran quantum learning mengoptimalkan segala hal yang terdapat di sekitar lingkungan pembelajaran, termasuk pemanfaatan media dan lingkungan sekitar. Oleh karenanya, pada saat tindakan guru menggunakan media gambar tematik (baik yang ditempel didinding maupun gambar berseri yang telah dipersiapkan guru) dan mengamati obyek-obyek menarik yang ada di sekitar lingkungan kelas. Dengan adanya media tersebut siswa memperoleh gambaran atau inspirasi serta dapat mengimajinasikannya kemudian mengungkapkan apa yang dilihat dan dirasakannya menjadi sebuah puisi. Pada setiap siklus, aspek ini mengalami peningkatan yang signifikan.
b. Diksi
Berdasarkan hasil pekerjaan siswa tampak bahwa siswa telah mampu menggunakan pilihan kata atau diksi yang tepat meskipun masih sederhana. Sebagian besar siswa dalam menulis puisi telah mampu memilih padanan kata yang sesuai untuk mengungkapkan suatu obyek tertentu, misalnya mentari, angkasa, dan sebagainya. Berbeda saat pretes, yang mana sebagian besar puisi karya siswa masih menggunakan pilihan kata yang kurang sesuai. Hal ini menyebabkan unsur keindahan pada puisi
dirasa sangat kurang dan masih seperti cerita biasa. Namun setelah adanya tindakan dapat dilihat pada karya siswa hal tersebut dapat diminimalkan. c. Rima
Salah satu karakteristik puisi anak adalah adanya perulangan bunyi atau sajak disetiap barisnya. Setelah dilakukan tindakan antara peneliti dan guru dalam setiap puisi karyanya siswa telah mampu memilih kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi sehingga puisi tersebut terlihat lebih harmonis. Lagu yang dinyanyikan guru dan siswa pada saat apersepsi tidak sekedar bertujuan untuk menarik minat siswa saat mengikuti pembelajaran tetapi juga untuk memberikan contoh bagi siswa mengenai rima yang digunakan pada lagu tersebut. Dari siklus ke siklus siswa mulai dapat mempergunakan rima dengan cukup baik sehingga puisi karya siswa juga terlihat semakin indah dan harmonis.
d. Kata Kiasan
Sebagian siswa sudah terlihat menggunakan kata kiasan dalam puisinya (meski hanya beberapa siswa yang mendapatkan kriteria baik). Hal ini diindikatori oleh penggunaan beberapa kata yang bermakna konotasi yang sesuai dengan puisi siswa. Meski jumlahnya masih terbatas dan sederhana namun penggunaan bahasa kiasan membuat puisi siswa lebih indah dan menarik untuk dibaca.
Adanya peningkatan pada setiap kriteria penulisan tersebut menjadikan nilai siswa dalam menulis puisi juga mengalami peningkatan. Pada saat pretes, terlihat bahwa kemampuan menulis puisi siswa masih kurang memuaskan. Hal tersebut tampak pada jumlah siswa yang telah mendapatkan nilai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan (65). Persentase ketuntasan belajar yang dicapai siswa pada saat pretes hanya sekitar 31% (13 siswa dari jumlah siswa keseluruhan 42) dengan nilai rata-rata 61,1.
Peningkatan mulai tampak pada siklus I. Dari 42 siswa 19 siswa (sekitar 45%) telah mencapai ketuntasan hasil belajar dan nilai rata-ratanya adalah
64,2. Pada siklus II kemampuan siswa dalam menulis puisi mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini tampak pada persentase ketuntasan hasil belajar siswa yang mencapai 67% (28 siswa). Pada siklus III persentase ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 90% (38 siswa dari jumlah keseluruhan) dengan nilai rata-rata 76,4.
Dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning dalam pembelajaran menulis puisi, kemampuan menulis puisi siswa dalam bentuk menulis puisi mengalami peningkatan yang dinyatakan dengan semakin banyaknya siswa yang telah mendapatkan nilai ketuntasan belajar.
Tabel 10. Daftar Nilai Siswa dari Siklus I sampai Siklus III
No Nama Siswa Siklus I Siklus II Siklus III Keterangan
1 Anshari Anjas H. 69 63 69 Tuntas
2 Aditya Resta P. 63 75 75 Tuntas
3 Awaludin S. 57 63 82 Tuntas
4 Aditya Indrawan 69 75 82 Tuntas
5 Arbian Ahmad 50 57 69 Tuntas
6 Annisa Nurlaily 69 75 82 Tuntas
7 Auliya Kunia P. 57 63 75 Tuntas
8 Anisa Nur R. 57 63 75 Tuntas
9 Anisa Nurjanah 69 63 69 Tuntas
10 Amelia Santriane 75 75 75 Tuntas
11 Arkhan Dicky U. 82 88 88 Tuntas
12 Belladina K. 69 75 88 Tuntas
13 Citra Kumbini 57 63 75 Tuntas
15 Danang Eko S. 57 63 63 Belum tuntas
16 Dandie Krisna A. 69 75 88 Tuntas
17 Dika Andini P. 57 63 82 Tuntas
18 Darwanti 50 57 57 Belum tuntas
19 Deby Viola Y. 75 75 88 Tuntas
20 Haris Sudarsono 69 69 82 Tuntas
21 Harya Faqih 57 57 82 Tuntas
22 Inten Wulan 57 63 88 Tuntas
23 Indah S. 75 75 75 Tuntas
24 Ikhsan Resa 57 75 75 Tuntas
25 Khofifah Amalia 75 82 88 Tuntas
26 Kurnia Yogi P. 50 63 88 Tuntas
27 M. Ihya M. 63 69 69 Tuntas
28 Nurdiyastanto C. 63 63 63 Belum tuntas
29 Mia Kusuma W. 63 69 69 Tuntas
30 M. Salman Alfaris 69 75 82 Tuntas
31 Nugroho Jati P. 63 69 82 Tuntas
32 Oktaviana Putri 75 75 82 Tuntas
33 Putra Ramadhani 69 75 82 Tuntas
34 Ranisa Amalia S. 69 75 75 Tuntas
35 Rosyta Arum P. 63 69 75 Tuntas
36 Rudi Setiawan 63 75 75 Tuntas
37 Sophia Indah P. 75 75 88 Tuntas
38 Yudhis Adhana 63 69 75 Tuntas
39 Yoga Dwi A. 63 63 63 Belum tuntas
40 Gilang Aji P. 69 75 75 Tuntas
42 Eko Firman Aji 63 75 75 Tuntas Rata-rata 64, 2 70,4 76, 4
Berdasarkan pemaparan di atas tampak bahwa penerapan model pembelajaran quantum learning dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas V-C sekolah dasar Negeri 3 Jaten dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Peningkatan proses didasarkan pada meningkatnya keaktifan dan perhatian siswa saat mengikuti kegiatan pembelajaran baik pada saat apersepsi maupun keaktifan siswa dalam merespon stimulus yang diberikan guru, kesungguhan dalam mengerjakan tugas, keantusiasan dan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Peningkatan hasil didasarkan pada meningkatnya hasil pekerjaan siswa dalam menulis puisi (jumlah siswa yang dinyatakan telah tuntas atau nilai
) 65
. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara pasca tindakan dengan guru dan siswa kelas V-C (8 siswa), semuanya menyatakan penerapan model pembelajaran quantum learning membantu dalam proses pembelajaran sehingga kualitas hasil belajar siswa kelas V-C SD Negeri 3 Jaten pun meningkat.
BAB V