• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING PADA SISWA KELAS V-C DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 JATEN TAHUN AJARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENINGKATAN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING PADA SISWA KELAS V-C DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 JATEN TAHUN AJARAN"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING

PADA SISWA KELAS V-C DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 JATEN TAHUN AJARAN 2009/2010

(Penelitian Tindakan Kelas)

SKRIPSI

Oleh: DHIASTUTI

K1206016

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

(2)

PENINGKATAN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING

PADA SISWA KELAS V-C DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 JATEN TAHUN AJARAN 2009/2010

(Penelitian Tindakan Kelas)

Oleh: DHIASTUTI

K1206016

Skripsi

Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2010

(3)

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, April 2010

Persetujuan Pembimbing,

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Swandono, M.Hum. Atikah Anindyarini, S.S., M.Hum. NIP 19470919 1968061 001 NIP 19710107 2006042 001

(4)

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada hari :………...

Tanggal :………...

Tim Penguji Skripsi:

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Dra. Raheni Suhita, M.Hum ………

Sekretaris : Kundharu Saddhono, S.S., M.Hum. ………. Anggota I : Drs. Swandono, M.Hum. ……….

Anggota II : Atikah Anindyarini, S.S., M.Hum ……….

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Dekan,

Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd NIP 196007271987021001

(5)

ABSTRAK

Dhiastuti. K1206016. Peningkatan Pembelajaran Menulis Puisi dengan Model Pembelajaran Quantum Learning Pada Siswa Kelas V-C di Sekolah Dasar Negeri 3 Jaten Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret.

Tujuan yang hendak dicapai adalah meningkatkan: (1) kualitas proses pembelajaran puisi yaitu keaktifan siswa saat apersepsi, keaktifan dan perhatian siswa saat mengikuti pelajaran, minat dan motivasi siswa saat mengikuti pelajaran; dan (2) kualitas hasil pembelajaran puisi dalam bentuk menulis puisi yang meliputi penguasaan ide, pilihan kata atau diksi, rima, dan bahasa kiasan melalui penerapan model pembelajaran quantum learning.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SD Negeri 3 Jaten dengan subjek siswa kelas V-C yang berjumlah 42 siswa. Adapun yang menjadi objek penelitian adalah pembelajaran puisi yang termasuk dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Proses penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus dan masing-masing siklus meliputi empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi, serta tahap analisis dan refleksi.

Tahap perencanaan tindakan, meliputi: (1) membuat skenario pembelajaran, (2) mempersiapkan sarana pembelajaran, (3) mempersiapkan instrumen penilaian, dan (4) mengajukan solusi alternatif berupa penerapan model quantum learning dalam pembelajaran puisi. Pada tahap pelaksanaan, peneliti mengadakan pengamatan mengenai tindakan yang telah dilakukan sudah dapatkah mengatasi permasalahan yang ada. Selain itu, pengamatan dilakukan dengan mengumpulkan data yang nantinya diolah untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Tahap observasi dilakukan peneliti dengan mengamati dan menginterpretasikan penggunaan model pembelajaran quantum learning dalam pembelajaran puisi serta mengolah data untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan proses dan hasil serta untuk mengetahui kelemahan yang muncul. Tahap analisis dan refleksi dilakukan peneliti dengan menganalisis data hasil observasi dan interpretasi sehingga diperoleh kesimpulan bagian yang sudah mencapai tujuan dan yang masih perlu perbaikan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kualitas pembelajaran menulis puisi yang meliputi: (1) Peningkatan proses ditandai dengan meningkatnya: (a) jumlah siswa yang aktif selama mengikuti apersepsi, (b) jumlah siswa yang menunjukkan keaktifan dan perhatian saat mengikuti pelajaran, (c) jumlah siswa yang menunjukkan minat dan motivasi saat pelajaran; (2) Peningkatan kualitas hasil pembelajaran ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa yang mencapai batas ketuntasan dalam menulis puisi, yaitu: (a) siklus I sebesar 45% atau 19 siswa, dan (b) siklus II sebesar 67% atau 28 siswa, dan (c) siklus III sebanyak 90% atau 38 siswa.

(6)

MOTTO

―Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.‖ (QS Al Insyiraah: 6-7)

(7)

PERSEMBAHAN

Karya ini dipersembahkan kepada: 1. Bapak dan Ibuku tersayang;

2. Kakak/Ipar serta keponakan-keponakan terkasih;

3. SEMPRE Ida (adek), Liana (bose), Risa (kakak), Dini (budhe), Mira (si mbah), Rika (pakdhe);

4. Mas Krist atas motivasi serta kesabarannya yang telah berbagi dan menjalin kisah.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang memberi kenikmatan dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret. Penulisan skripsi ini, tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karenanya, penulis ucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan persetujuan pengesahan skripsi;

2. Drs. Soeparno, M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni yang telah memberikan izin untuk penulisan skripsi;

3. Drs. Slamet Mulyono, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan izin untuk menyusun skripsi;

4. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., selaku pembimbing akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama menjadi mahasiswa di Program Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNS;

5. Drs. Swandono, M.Hum. dan Atikah Anindyarini, S.S, M.Hum., selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan arahan dengan sabar kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan lancar; 6. Hj. Endang Widowati, S.Pd., selaku Kepala SD Negeri 3 Jaten yang telah

memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK);

7. Ngadino, S.Pd., selaku guru kelas V-C SD Negeri 3 Jaten yang telah banyak membantu dan berpartisipasi aktif dalam proses penelitian;

8. Siswa-siswi kelas V-C SD Negeri 3 Jaten yang telah berpartisipasi aktif sebagai subjek penelitian dan membantu pelaksanaan penelitian;

9. Bapak, Ibu, adik, dan seluruh keluarga yang telah memberikan doa restu dan semangat untuk menyelesaikan skripsi;

(9)

10.Sahabat ―Sempre‖, Mas Krist, dan Mas irham, yang telah memberikan motivasi dan semangat dalam proses penulisan skripsi;

11.Mahasiswa BASTIND ‘06 yang telah memberikan semangat dalam proses penelitian;

12.Berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini dan tidak dapat disebutkan satu persatu.

Akhirnya, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Surakarta, April 2010

(10)

DAFTAR ISI Halaman JUDUL………... i PENGAJUAN SKRIPSI………... ii PERSETUJUAN………... iii PENGESAHAN………... iv ABSTRAK………... v MOTTO………... vi PERSEMBAHAN………... vii

KATA PENGANTAR………... viii

DAFTAR ISI………... x

DAFTAR GAMBAR………... xii

DAFTAR TABEL………... xiii

DAFTAR LAMPIRAN………... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….... 1

B. Perumusan Masalah………... 7

C. Tujuan Penelitian………... 7

D. Manfaat Penelitian………... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, PENELITIAN YANG RELEVAN, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Tinjauan Pustaka……….. 9

1. Hakikat Menulis Puisi……….………. 9

2. Hakikat Pembelajaran Menulis puisi………... 16

3. Hakikat Model Pembelajaran Quantum Learning………. 30

4. Penilaian dalam Menulis Puisi……… 47

(11)

C. Kerangka Berpikir……… 56

D. Hipotesis Tindakan………... 58

BAB 3 METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian………... 59

B. Subjek Penelitian……….. 60

C. Bentuk dan Strategi Penelitian...……….. 60

D. Sumber Data Penelitian……… 62

E. Teknik Pengumpulan Data……….. 63

F. Uji Validitas Data……… 64

G. Teknik Analisis Data……….. 65

H. Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran……… 66

I. Prosedur Penelitian……….. 68

BAB IV PEMBAHASAN A. Deskripsi Kondisi Awal……… 71

B. Deskripsi Hasil Penelitian………... 75

1. Deskripsi Siklus Pertama………... 76

2. Deskripsi Siklus Kedua………... 88

3. Deskripsi Siklus Ketiga……….. 100

4. Deskripsi Antarsiklus………. 109

C. Pembahasan Hasil Penelitian……… 111

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan……… 122

B. Implikasi……… 123

C. Saran………... 124

DAFTAR PUSTAKA……….... 126 LAMPIRAN

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Penilaian Proses Pembelajaran……….. 49

2. Penilaian Hasil Pembelajaran………. 52

3. Pedoman Penskoran……… 52

4. Rincian Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian………... 58

5. Indikator Ketercapaian Hasil Belajar……….. 65

6. Nilai Siswa Siklus I………... 85

7. Nilai Siswa Siklus II………... 97

8. Nilai Siswa Siklus III... 107

9. Ketercapaian Indikator Hasil Belajar Saat Tindakan... 109

10.Rekapitulasi Perolehan Nilai Siswa Selama Tindakan……... 119

11.SK dan KD... 130

12.Silabus Pembelajaran... 132

13.Instrumen Penelitian... 133

14.Lembar Observasi Kinerja Guru Saat Mengajar... 134

15.Nilai Menulis Puisi Saat Survai Awal... 165

16.Lembar Observasi Kinerja Guru Saat Survai Awal... 171

17.Lembar Observasi Kegiatan Siswa... 198

19.Daftar Nilai Menulis Puisi Siklus I... 203

20. Daftar Penilaian Proses Siklus I... 205

21. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus I... 207

22. Lembar Observasi Kegiatan Siswa... 225

23. Daftar Nilai Menulis Puisi Siklus II... 231

24. Daftar Penilaian Proses Siklus II... 233

25. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus II... 234

26. Lembar Observasi Kegiatan Siswa... 253

27. Daftar Nilai Menulis Puisi Siklus III... 259

(13)

29. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus III... 263 DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Pemanfaatan Kedua Belahan Otak dalam Menulis... 16 2. Alur Kerangka Berpikir……….. 57 3. Alur Penelitian Tindakan Kelas………...… 67

(14)

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Pratindakan……….…………. 137 2. Siklus I………...………….. 182 3. Siklus II……….……… 213 4. Siklus III………... 240 5. Pasca Tindakan……… 269 6. Lain-lain

(15)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran sastra merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam kurikulum yang berlaku, yang memuat mata pelajaran bahasa Indonesia meliputi materi kebahasaan dan sastra. Pembelajaran sastra memang tidak dapat dipisahkan dari mata pelajaran bahasa Indonesia karena melalui pembelajaran sastra tujuan pembelajaran bahasa Indonesia dapat dicapai. Sebagaimana dalam materi kebahasaan dalam materi sastra pun siswa diarahkan agar dapat menguasai empat kemampuan yang meliputi menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Oleh karenanya, dalam pendidikan formal, pembelajaran sastra terdapat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Pembelajaran sastra yang dilaksanakan di sekolah bertujuan menumbuhkan suatu kemampuan untuk menghargai dan memahami sastra sebagai sesuatu yang bermakna dalam kehidupan. Pengajaran sastra sebenarnya tidak hanya bermanfaat dalam menunjang kemampuan berbahasa murid, mengembangkan kepekaan pikiran serta perasaan murid, tetapi juga bermanfaat dalam memperkaya pandangan hidup serta kepribadian murid. Hal tersebut selaras dengan pendapat Boen S. Oemarjati (2008) yang mengungkapkan bahwa pengajaran sastra selain dapat meningkatkan kemampuan berbahasa juga sebagai wahana yang efektif dalam mengembangkan dan membina watak serta karakter anak didik. Oleh karenanya, sastra merupakan sesuatu yang penting untuk dipelajari di sekolah. Salah satu jenis sastra yang diajarkan di sekolah, adalah puisi.

Puisi merupakan karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, diberi irama dengan bunyi yang padu, dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Walaupun puisi singkat dan padat namun bahasanya berkekuatan dan

(16)

khas (Herman J. Waluyo, 2002: 1). Kekhasan bahasa tersebut ditunjukkan dengan adanya ‖poetic license atau lisensia poetica‖ yakni suatu izin puitik yang memperbolehkan seorang penyair membuat ekspresi baru yang mempunyai efek puitik yang kuat. Adanya ”licentia puitica‖ tersebut membedakan bahasa puisi dengan jenis karya sastra lain sehingga tidak jarang adanya anggapan bahwa puisi merupakan kajian yang lebih rumit. Namun semua itu, dapat dipelajari dengan pembelajaran puisi yang diharapkan akan tumbuh kekaguman pada diri peserta didik terhadap karya sastra puisi. Oleh karenanya, pembelajaran puisi sudah mulai diajarkan pada siswa tingkat sekolah dasar.

Pembelajaran puisi di sekolah dasar merupakan sesuatu yang penting karena untuk mengenalkan dan menumbuhkan kesenangan anak didik terhadap karya sastra (puisi). Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Hasan Alwi (dalam Sarumpaet, 2002: 16) yaitu minat dan menulis pembaca hendaknya mulai dibangkitkan dan ditumbuhkan sejak dini, yaitu ketika pembaca masih berusia sekolah. Mutu dan tingkat pemahaman terhadap sastra yang telah dilalui oleh siswa di sekolah akan menjadi modal bagi perkembangan siswa lebih lanjut pada saat mereka nanti berada dalam lingkungan masyarakat. Hal ini dikarenakan melalui pembelajaran sastra dapat menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan meningkatkan kepekaan siswa terhadap lingkungan sekitar. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah karena dalam prakteknya pengajaran menulis puisi (sebagai salah satu bagian dari menulis puisi) di sekolah dasar masih menemui kendala.

Sebagaimana yang terjadi dalam pembelajaran menulis puisi di kelas V-C Sekolah Dasar Negeri 3 Jaten. Berdasarkan hasil observasi awal yang telah dilakukan peneliti menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran menulis puisi di kelas V-C Sekolah Dasar Negeri 3 Jaten masih kurang memuaskan. Hal ini dilihat dari nilai pretes dalam pembelajaran menulis puisi yang diperoleh siswa. Dari 42 siswa hanya ada 13 siswa (sekitar 31%) yang mendapatkan nilai 65 sedangkan 29 siswa (sekitar 69%) lainnya mendapatkan nilai di bawah 65 (kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan adalah  65).

(17)

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ngadino, S.Pd. selaku guru kelas sekaligus guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas V-C Sekolah Dasar Negeri 3 Jaten, diketahui bahwa rendahnya kualitas hasil pembelajaran puisi di kelas ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) kurangnya alokasi waktu yang disediakan dalam pembelajaran menulis puisi. Hal ini dikarenakan materi yang diajarkan cukup banyak dan guru kesulitan dalam mengalokasikan waktu; (2) kemampuan guru dalam pengajaran sastra masih terbatas, sehingga guru mengalami kesulitan dalam menentukan cara pembelajaran puisi yang tepat bagi siswa; (3) guru masih mengalami kesulitan dalam menentukan model pembelajaran yang cocok digunakan dalam pembelajaran sastra (termasuk dalam pembelajaran puisi); (4) kurangnya minat dan antusias siswa dalam mempelajari puisi. Hal tersebut terlihat saat pembelajaran puisi beberapa siswa melakukan aktivitas lain seperti berbicara dengan teman sebangku, bermain saat pelajaran, menopang dagu, dan melihat ke arah luar kelas. Selain itu, melalui angket yang telah dibagikan pada siswa di kelas V-C mengenai jenis materi sastra dalam pelajaran bahasa Indonesia yang disukai terlihat bahwa 48% ( 20 siswa) lebih menyukai materi dongeng atau cerita rakyat, 33% (14 siswa) menyenangi drama, dan sisanya sekitar 19% (8 siswa) menyukai puisi.

Noer Tugiman (dalam Jabrohim, 1994: 2-3) mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan pembelajaran puisi selama ini kurang maksimal. Beberapa faktor tersebut yakni keterbatasan sarana, buku pelajaran sastra, kemampuan guru, metode yang digunakan, sistem ujian, siswa, dan faktor karya sastra. Selaras dengan pendapat tersebut, B. Rahmanto (dalam Kaswanti Purwo, 1991: 40-41) juga mengungkapkan bahwa pengajaran sastra (termasuk puisi) di sekolah memiliki tiga masalah, yakni (1) pengajaran menulis sastra selama ini cenderung menekankan pada hafalan, istilah, dan pengertian sastra daripada mengakrabkan diri dengan karya sastra; (2) kemampuan guru; dan (3) pilihan materi yang digunakan dalam pembelajaran sastra.

(18)

Pendapat di atas juga diperkuat oleh Sapardi Djoko Damono (dalam Herman J. Waluyo, Budi Setiawan, dan Handoko, 2007: 22) yang menyatakan bahwa di sekolah pembelajaran menulis sastra (termasuk puisi) sudah benar-benar menjadi pembelajaran ilmu bukan lagi pembelajaran seni. Dikatakan demikian, karena dalam pembelajaran sastra lebih banyak diberikan secara teoretis dan penilaiannya pun seringkali hanya didasarkan pada kemampuan kognitif siswa. Oleh karenanya, aspek kesenangan dan kekaguman siswa seringkali diabaikan.

Padahal sejatinya pembelajaran sastra sebaiknya tidak sekedar memberikan pengetahuan bagi siswa secara teoretis tetapi juga bermanfaat dan dapat menumbuhkan kesenangan siswa terhadap karya sastra. Sebagaimana yang dikemukakan Stegwig (dalam Burhan Nurgiyantoro, 2005: 4) bahwa alasan anak diajarkan sastra adalah agar mereka memperoleh kesenangan. Melalui sastra anak akan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan.

Di samping itu, kurang memuaskannya hasil pembelajaran menulis puisi di kelas V-C jika dilihat dari pihak siswa disebabkan oleh beberapa hal. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa (6 siswa) dan angket yang diisi siswa pada saat pratindakan lebih banyak siswa yang menyatakan kurang senang dengan pembelajaran puisi. Hal ini mengakibatkan dalam mempelajari materi puisi siswa kurang antusias dan menikmati pelajaran yang diberikan. Selain itu, dalam menulis puisi siswa masih merasa kesulitan karena belum adanya media atau obyek yang digunakan guru yang dapat membantu atau menginspirasi siswa dalam menulis puisi. Hal ini dikarenakan guru belum menerapkan cara/model pembelajaran yang tepat atau masih menggunakan model pembelajaran yang bersifat konvensional (ini didasarkan pada hasil wawawancara dengan guru).

Berpijak dari hal-hal yang telah diungkapkan di atas, maka diperlukan suatu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar pembelajaran menulis puisi di sekolah lebih menarik adalah dengan mengubah model pembelajaran yang digunakan oleh guru dengan lebih

(19)

melibatkan keikutsertaan siswa dalam proses pembelajaran yakni dengan menerapkan ”quantum learning”. Quantum learning merupakan suatu model pembelajaran yang dipopulerkan Learning Forum. Model pembelajaran ini lebih menekankan pada pembentukan suasana belajar yang menyenangkan sehingga membuat siswa nyaman dan aktif dalam pembelajaran yang dilakukan. Bobbi DePorter (2003: 3) mengungkapkan bahwa model pembelajaran quantum learning adalah penggubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya yang menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar karena model pembelajaran ini berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas dan interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar.

Selaras dengan pendapat tersebut, Herman J. Waluyo, Budi Setiawan, dan Handoko (2007: 2-3) juga mengungkapkan bahwa melalui model pembelajaran quantum learning interaksi yang efektif antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dapat diciptakan karena hal ini merupakan suatu proses untuk mengubah energi menjadi cahaya yang mewujudkan pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa. Energi yang dimaksud di sini adalah sarana dan prasarana yang menyebabkan situasi pembelajaran kondusif bagi pengembangan diri siswa. Pemanfaatan sarana pembelajaran khususnya dalam hal pemilihan media pembelajaran bukanlah sesuatu yang sulit diupayakan karena guru dapat mengunakan media berupa gambar tematik ataupun mnomenik yang sangat mudah didapatkan. Selain itu, dalam pelaksanaannya model pembelajaran ini dalam pelaksanaannya didasarkan atas lima prinsip, yakni (1) segalanya berbicara; (2) segalanya bertujuan; (3) pengalaman sebelum memberi nama; (4) akui setiap usaha; dan (5) jika layak untuk dipelajari maka layak pula dirayakan. Prinsip tersebut dijabarkan dalam kerangka pembelajaran yang penerapannya kemudian lebih dikenal dengan istilah TANDUR (tanamkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan).

Erman Suherman (2006) juga mengungkapkan bahwa model pembelajaran yang efektif dan dapat mengefektifkan siswa dalam mengikuti pembelajaran saat

(20)

ini adalah model pembelajaran quantum. Lebih lanjut diungkapkan bahwa melalui model pembelajaran quantum guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Hal tersebut dilakukan dengan penerapan strategi yang meliputi: tumbuhkan minat, alami dengan dunia realitas siswa, namai, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward berupa senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. Demikian pula, hasil penelitian Shelby Reeder (2003) yang menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan prestasi belajar, kepercayaan diri, dan sikap positif siswa di kelas dengan siswa heterogen. Oleh karenanya, model pembelajaran ini cukup efektif jika diterapkan di kelas karena dapat melibatkan partisipasi dan keaktifan siswa yang pada selanjutnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, peneliti memberikan alternatif pemecahan masalah kepada guru yakni dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa kelas V-C di Sekolah Dasar Negeri 3 Jaten. Setelah peneliti menjelaskan mengenai penerapan model pembelajaran quantum learning kepada guru serta kelebihannya guru pun menyetujui untuk menerapkan model pembelajaran quantum learning dalam pembelajaran menulis puisi. Melalui model pembelajaran quantum learning diharapkan dapat menumbuhkan minat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran menulis puisi. Ketertarikan dan minat tersebut akan menumbuhkan kesenangan siswa dalam pembelajaran yang pada akhirnya nanti dapat meningkatkan kemampuan dan hasil pembelajaran menulis puisi siswa di kelas V-C. Oleh karenanya, penelitian ini berjudul “PENINGKATAN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MODEL

PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING PADA SISWA KELAS V-C DI

(21)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.

1. Apakah model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan proses pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas V-C di SD Negeri 3 Jaten tahun ajaran 2009/2010?

2. Apakah model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan hasil pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas V-C di SD Negeri 3 Jaten tahun ajaran 2009/2010?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitan ini adalah:

1. Meningkatkan proses pembelajaran menulis puisi dengan model pembelajaran quantum learning pada siswa kelas V-C di SD Negeri 3 Jaten tahun ajaran 2009/2010.

2. Meningkatkan hasil pembelajaran menulis puisi dengan model pembelajaran quantum learning pada siswa kelas V-C di SD Negeri 3 Jaten tahun ajaran 2009/2010.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut. 1. Manfaat Teoretis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan, khasanah keilmuan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya dalam pembelajaran puisi.

(22)

b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan quantum learning.

c. Sebagai pengembangan bahan ajar menulis puisi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

2. Manfaat Praktis a. Bagi siswa

1) Menumbuhkan kesenangan siswa pada karya sastra khususnya puisi; 2) Memberikan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa; 3) Meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran puisi;

4) Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menulis puisi siswa. b. Bagi guru

1) Dapat meningkatkan kinerja guru dalam mengajar khususnya dalam mengatasi kesulitan guru dalam pembelajaran menulis puisi;

2) Dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengajarkan materi pembelajaran puisi.

c. Bagi sekolah

1) Penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam upaya dalam menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran bagi guru-guru yang lain;

2) Memberikan kontribusi dalam pengembangan kurikulum sekolah berdasarkan indikator-indikator pembelajaran menulis puisi yang telah ditentukan;

3) Meningkatkan kualitas pembelajaran puisi baik proses maupun hasil. d. Manfaat bagi peneliti

1) Menambah pengalaman peneliti dalam penelitian mengenai pembelajaran terutama dalam pembelajaran menulis puisi;

2) Peneliti dapat melakukan kajian-kajian lebih lanjut untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran menulis puisi dengan model

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. TINJAUAN PUSTAKA

1. Hakikat Menulis Puisi a. Pengertian Puisi

Istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti ‗membuat‘ atau poeisis yang berarti ―pembuatan‖, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut sebagai poem atau poetry. Reeves (dalam Herman J Waluyo, 1995: 22), menyatakan bahwa puisi merupakan jenis karya sastra yang bersifat imajinatif. Bahasa yang digunakan bersifat konotatif karena di dalam puisi banyak digunakan makna kias dan makna simbol atau lambang (majas) sehingga timbul kemungkinan banyak makna. Hal ini disebabkan terjadinya pengkonsentrasian atau pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Effendi dalam buku yang sama juga mengungkapkan bahwa di dalam puisi terdapat pengimajian, pelambangan, dan pengiasan. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan dalam puisi adalah bahasa konotatif yang multiinterpretable, yakni makna yang dilukiskan dalam puisi dapat berupa makna lugas, namun lebih banyak makna kias melalui lambang dan kiasan.

Slamet Mulyana (dalam Atar Semi, 1993: 93) memberi batasan puisi dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik karena puisi merupakan karya seni yang tidak hanya berhubungan dengan masalah bahasa, tetapi juga berhubungan dengan masalah jiwa. Dengan pendekatan tersebut Slamet Mulyana menyimpulkan bahwa puisi adalah sintesis dari berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan berbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan korespondensi dalam salah satu bentuk.

Puisi merupakan bagian dari kritik kehidupan yang disampaikan dengan kata-kata terbaik dan dalam susunan terbaik sebagai suatu luapan gelora

(24)

perasaan yang bersifat imajinatif (Atar Semi, 1993: 93-94). Oleh karenanya, puisi dapat menggambarkan problema kehidupan manusia yang bersifat universal, yang berhubungan dengan hakikat manusia, ketuhanan, dan juga kematian. Selaras dengan pendapat tersebut Situmorang (1983: 11-12) mengemukakan bahwa puisi merupakan sesuatu yang penting karena puisi diciptakan atas dasar pengalaman yang besar maupun yang kecil, banyak atau sedikit bersumber dari perbendaharaan harta karun pengalaman penyairnya. Oleh karenanya, puisi berhubungan dengan semangat manusia. Puisi merupakan kekuatan yang menyadarkan orang akan dirinya sendiri dan dunianya untuk mengamati, mengagumi, memikirkan sesuatu atau dengan singkat menjadikan seseorang menjadi lebih lengkap sebagai manusia.

Tarigan (dalam Herman J. Waluyo, 1995: 24), menggungkapkan bahwa pengalaman yang diungkapkan penyair dalam sebuah puisi di samping bersifat emosional juga harus imajinatif sehingga pembaca dapat menikmati keindahan dalam puisi. Senada dengan pendapat tersebut, Herman J. Waluyo (1995: 25) berpendapat bahwa puisi adalah suatu bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah suatu bentuk karya sastra yang di dalamnya menggunakan pilihan bahasa yang indah dan bersifat imajinatif yang dapat mewakili perasaan dan sebagai ungkapan gelora atau kondisi batin penyairnya yang di dalamnya terdiri atas unsur-unsur yang bersifat padu.

b. Unsur-unsur Pembangun Puisi

Puisi terdiri atas unsur-unsur yang bersifat saling berkaitan antara satu dengan lain dan bersifat fungsional. Herman J. Waluyo (1995: 28) membagi unsur pembangun puisi menjadi dua yakni unsur fisik (struktur sintaksis) dan unsur batin (struktur tematik).

(25)

1) Unsur batin puisi adalah sesuatu yang hendak diungkapkan penyair dengan perasaan dan suasana. Ada empat unsur batin dalam puisi, yaitu:

a). Tema

Tema merupakan gagasan pokok atau subject matter yang dikemukakan oleh penyair. Seorang penyair dalam menulis puisi tentu ingin mengungkapkan sesuatu yang dirasakan dan dipikirkannya pada pembaca. Tema dalam sebuah puisi dapat bersifat lugas, objektif, dan khusus sesuai dengan konsep yang terimajinasikan penyair. Tema dalam sebuah puisi dapat berupa protes atau kitik sosial, ketuhanan, percintaan, patriotisme, dan sebagainya.

b). Perasaan (Feeling)

Perasaan merupakan suasana batin yang dirasakan oleh penyair yang terekspresikan dalam puisinya sehingga dalam memahami puisi diperlukan suatu pemahaman atas perasaan pengarang. Rasa atau feeling ”the poet’s attitude toward his subject matter‖ yaitu sikap sang penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisi (Henry Guntur Tarigan, 1984: 11). Setiap penyair belum tentu memiliki perasaan atau sikap yang sama jika berada dalam satu keadaan. Oleh karenanya, dalam penciptaan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan dapat dihayati pembacanya seperti perasaan sedih, kekaguman, marah, gembira, kekecewaan, penyesalan, dan sebagainya. c). Nada dan Suasana

Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat sastra. Nada dapat bersifat menggurui, menasehati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca.

(26)

Amanat merupakan sesuatu yang mendorong penyair untuk mencipta puisi. Dengan kata lain, amanat merupakan maksud yang ingin disampaikan penyair pada pembaca melalui karya sastra yang dibuatnya. 2) Unsur fisik puisi adalah unsur estetik yang membangun struktur luar dari

puisi, unsur tersebut meliputi: a). Diksi (Pemilihan Kata)

Diksi adalah pilihan kata yang digunakan penyair dalam menulis suatu karya puisi yang di dalamnya mengandung perkembangan-perkembangan makna, perkembangan-perkembangan estetis, maupun perkembangan-perkembangan bunyi kata. Bahasa yang digunakan dalam puisi tidak hanya bermakna denotatif tetapi juga konotatif untuk menggambarkan maksud penyairnya. Ada beberapa faktor yang sebaiknya dipertimbangkan dalam memilih kata yakni makna kias, lambang, dan persamaan bunyi. Pemilihan kata-kata dalam bahasa puisi yang tepat akan memberi kekuatan dan menumbuhkan suasana puitik yang akan membawa pembaca pada penikmatan dan pemahaman secara menyeluruh.

b). Pengimajian

Pengimajian atau imagery adalah penggambaran sesuatu sesuai yang dimaksud oleh penyair sehingga pembaca seolah-olah dapat membayangkan dan menjelmakan sesuatu itu menjadi gambaran yang nyata. Pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.

c). Kata Konkret

Kata konkret adalah kata-kata yang dapat menyarankan kepada pembaca arti yang menyeluruh. Melalui kata-kata yang diperkonkret pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan penyair. Kata-kata konkret ini digunakan untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca. Pada dasarnya kata-kata

(27)

yang dikonkretkan berhubungan erat dengan penggunaan kiasan, pengimajian, dan pelambangan.

d). Bahasa Figuratif

Bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa yakni tidak langsung mengungkapkan makna. Penggunaan bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi ‘prismatis‘ artinya menimbulkan banyak makna atau kaya akan makna.

Demikian pula halnya dalam sebuah puisi, seorang penyair akan menggunakan gaya bahasa sehingga puisinya memiliki makna yang dalam. Adanya bahasa kiasan (figurative language) menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa figuratif dalam puisi meliputi imaji visual (penglihatan), imaji audio (pendengaran), dan imaji taktil (perasaan).

e). Verifikasi

Verifikasi dalam sebuah puisi meliputi rima, ritma, dan metrum. Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Ritme (irama) merupakan rangkaian alunan suara atau pengulangan bunyi yang berulang-ulang dan tersusun rapi, ritme biasanya dihubungkan dengan pengulangan bunyi, kata, frase, dan kalimat. Pengulangan bunyi yang berulang-ulang itu tersusun rapi sehingga tidak terdengar membosankan. Metrum adalah pengulangan tekanan kata yang tetap dan statis.

f). Tata Wajah (tipogafi)

Tipografi merupakan tata wajah yang menjadi pembeda penting antara puisi dengan prosa maupun drama. Tipografi dalam sebuah puisi digunakan untuk mendapatkan bentuk yang menarik agar indah dilihat

(28)

pembaca, juga untuk mementingkan arti kata-kata frase serta kalimat yang disusun sehingga dapat memberikan sugesti terhadap makna puisi. c. Pengertian Menulis Puisi

Salah satu bentuk ekspresi jiwa seseorang adalah dalam bentuk tulisan karena melalui tulisan seseorang dapat menuangkan ide, gagasan, serta kreativitas lainnya. Kemampuan mengekspresikan diri tersebut dapat berupa artikel, esai, atau karya sastra seperti cerpen, novel, komik, puisi, dan sebagainya. Dari kegiatan tulis menulis ini seorang penulis akan menyampaikan ide dan gagasannya kepada pembaca sehingga akan tahu maksud dan tujuan tulisannya. Dengan menulis seseorang akan mampu berkomunikasi dengan orang lain walaupun berbeda generasi dan zaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Henry Guntur Tarigan (1993: 3) yang menytakan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.

Hal yang sama diutarakan The Liang Gie (2002 : 3), yang menyatakan bahwa mengarang – walaupun dengan bahasa yangberbeda yaitu mengarang, namun maksudnya sama dengan menulis – adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang yang mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis yang dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca.

Sebagai bentuk keterampilan berbahasa menulis merupakan kegiatan yang bersifat mengungkapkan, maksudnya mengungkapkan gagasan, buah pikiran dan perasaan kepada pihak lain atau orang lain. Oleh karena itulah menulis merupakan kegiatan produktif dan ekspresif, (Henry Guntur Tarigan, 1993 : 4). Sebagai kegiatan produktif dan ekspresif, keterampilan menulis sebenarnya merupakan ekspresi pengalaman terhadap lingkungan yang dialami penulis untuk kemudian disalurkan ke dalam media tulis sehingga pengalaman terhadap lingkungan sekitar baik langsung maupun melalui membaca buku amat diperlukan.

(29)

Yant Mujiyanto (2000 : 63)menyatakan menulis merupakan menyusun buah pikiran atau data-data informasi yang diperoleh menurut organisasi penulisan sistematis, sehingga tema karangan atau tulisan yang disampaikan sudah dipahami pembaca. Jadi menulis dapat diartikan juga sebagai cara berkomunikasi antarmanusia dengan bahasa tulis. Tulisan dapat dirangkai ke dalam susunan kata dan kalimat yang runtut dan sistematis, sehingga informasi yang disampaikan dipahami pembaca.

Bobbi DePorter (2003 : 179) menyatakan bahwa menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Hal ini mengandung maksud bahwasannya dalam kegiatan menulis seseorang tidak dapat hanya menggunakan satu belahan otak saja. Yang merupakan bahasan logika adalah perencanaan, outline, tata bahasa, penyuntingan,penulisan kembli, penelitian, dan tanda baca. Sementara itu yang termasuk bagian emosional adalah semangat, spontanitas, emosi, warna, imajinasi, gairah, ada unsur baru, dan kegembiraan. Hal itu dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 1. Pemanfaatan Kedua Belahan Otak dalam Menulis (Sumber: Bobbi DePorter, 2003: 179).

Perencanaan semangat

Outline spontani-

Tata bahasa tas

Emosi

Penyuntingan Warna

Penulisan kem- imajinasi

bali Gairah

Penelitian Tanda baca kegembiraan

(30)

Pelaksanaan pembelajaran yang terjadi pada pembelajaran tradisional yang tampaknya mengabaikan sebuah kebenaran bahwa menulis merupakan aktivitas seluruh otak dan bukan hanya otak kiri saja. Pada kenyataan peran otak kanan harus didahulukan, karena di sanalah muncul ide dan gagasan kreatif. Teknik-teknik yang membentuk tulisan sistematis yang menggunkan otak kiri dilaksanakan seterlah gagasan kreatif tersebut dilaksanakan.

Berdasarkan uraian mengenai pengertian menulis dan puisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa menulis puisi adalah segenap rangkaian kegiatan produktif dan ekspresif yang melibatkan belahan otak kiri dan otak kanan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya dalam bahasa tulis dalam bentuk puisi yang di dalamnya mengandung keindahan sehingga pembaca dapat mengerti maksud atau ungkapan hati penyairnya.

2. Hakikat Pembelajaran Menulis Puisi a. Pengertian Pembelajaran

Menurut Saiful Sagala (2007: 61) pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari sesuatu kemampuan dan nilai yang baru. Dalam proses pembelajaran seorang guru dituntut untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki siswa baik meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang sosial ekonomi, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan kesiapan seorang guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indikator suksesnya pelaksanaan pembelajaran.

Oemar Hamalik (2001: 57), mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Oleh karenanya, dalam pembelajaran seorang guru senantiasa berupaya untuk membuat siswa belajar dengan cara mengaktifkan faktor intern dan ekstern dalam kegiatan belajar.

(31)

Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses belajar mengajar dilakukan oleh seorang guru terhadap siswanya untuk membuat siswa belajar dengan mengaktifkan faktor intern dan eksten sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran.

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yakni intern dan ekstern. Faktor intern merupakan faktor-faktor yang terdapat di dalam pembelajaran sedangkan ekstern adalah faktor-faktor yang beasal dari luar yang juga berpengaruh dalam pembelajaran. Faktor intern dalam pembelajaran, misalnya guru, siswa, materi, dan sebagainya sedangkan lingkungan merupakan contoh faktor ekstern yang juga berpengaruh dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran melibatkan berbagai komponen. Komponen-komponen tersebut, yakni:

1) Guru

Guru merupakan seseorang yang bertindak sebagai pendidik dalam proses belajar mengajar. Oemar Hamalik ( 2001: 9) mengungkapkan bahwa guru merupakan salah satu komponen yang penting dalam kegiatan pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan. Lebih lanjut diuraikan bahwa sebagai tenaga profesional yang memiliki kualifikasi, peranan guru dalam pendidikan adalah sebagai fasilitator, sebagai pembimbing, sebagai evaluator, sebagai inovator, dan sebagainya.

Peran guru di atas juga selaras dengan pendapat Hadi A. Soedomo (2005: 23) yang secara ringkas mengelompokkan tugas seorang guru pada dasarnya meliputi tiga hal, yakni: (1) tugas edukasional (mendidik), (2) tugas instruksional (mengembangkan kemampuan afektif, kognitif, dan psikomotorik), dan (3) tugas managerial (mengelola kelas dan kegiatan belajar).

(32)

2) Siswa

Siswa adalah seseorang yang bertindak sebagai penerima, pencari, dan pelaksana dalam pembelajaran. Siswa dituntut beperan lebih aktif dalam proses pembelajaran dan tidak diharapkan hanya sekedar menerima, menurut, dan pasrah terhadap segala materi yang diberikan.

3) Materi

Materi adalah bahan pembelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Materi dalam pembelajaran berhubungan dengan isi yang tercantum dalam kurikulum yang berlaku. Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan jiwa anak dan diharapkan mampu mengarahkan perkembangan jiwa sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai.

4) Metode

Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Swandono (1995: 50) mengungkapkan bahwa dalam memilih metode, guru juga harus mempertimbangkan beberapa faktor, yakni: tujuan yang ingin dicapai, tingkat perkembangan siswa, situasi dan kondisi siswa, kualitas dan kuantitas fasilitas belajar, dan pribadi serta kemampuan profesional guru yang berbeda-beda.

5) Media

Media adalah alat atau bahan yang digunakan untuk menyampaikan materi kepada siswa. Media tersebut dapat berupa media elektronik maupun nonelektronik. Media yang digunakan oleh guru bisa audio, visual, maupun audio-visual. Media pada umumnya berfungsi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi komunikasi dalam proses belajar mengajar. Selain itu, dengan adanya penggunaan media diharapkan akan menarik minat siswa dalam belajar.

(33)

Evaluasi adalah cara yang digunakan untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa. Oemar Hamalik (2001: 30) mengungkapkan bahwa aspek-aspek yang dinilai dalam evalusi didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai dan kemampuan apa yang hendak dikembangkan (pengetahuan, sikap, dan keterampilan).

Tujuan pembelajaran merupakan sesuatu yang ingin dicapai siswa dalam suatu proses pembelajaran. Untuk memenuhi tujuan tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti unsur-unsur yang terkait dalam proses pembelajaran. Unsur-unsur tersebut, antara lain berupa (1) motivasi siswa; (2) bahan belajar; (3) alat bantu belajar; (4) suasana belajar; (5) kondisi subyek belajar. Kelima unsur ini berpengaruh terhadap proses pembelajaran.

Agar terbina pembelajaran yang efektif sudah selayaknya antara guru dan siswa saling bekerja sama sehingga tujuan akhir pembelajaran dapat tercapai. Hal ini dikarenakan, dalam suatu pembelajaran guru dan siswa merupakan satu kesatuan. Guru tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya siswa dan siswa pun tidak dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik tanpa adanya bimbingan guru. Oleh karena itu, sudah seharusnya di antara guru dan siswa tercipta hubungan yang selaras, serasi, serta harmonis sehingga pembelajaran dapat berjalan lancar.

Berdasarkan hal tersebut jadi pengertian pembelajaran adalah suatu proses kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pengevaluasian program pembelajaran yang melibatkan komponen-komponen pembelajaran (baik intern maupun ekstern) guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. b. Pembelajaran Bermakna

Belajar dikatakan sebagai suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk melakukan perubahan terhadap diri manusia, dengan maksud memperoleh perubahan dalam diri baik berupa pengetahuan, keterampilan, ataupun sikap. Kegiatan belajar yang terjadi di sekolah merupakan upaya yang telah dirancang

(34)

berdasarkan teori-teori yang dipandang relevan dengan jenjang dan tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Faktor intern dan faktor ekstern pada dasarnya akan berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Oleh karenanya, seorang guru seharusnya menguasai dan memahami kedua faktor tersebut untuk mengatur strategi pembelajaran yang lebih bermakna, menarik, dan menyenangkan bagi peserta didik. Proses belajar adalah membangun makna/pemahaman, oleh si pembelajar terhadap pengalaman informasi yang disaring dengan persepsi, pikiran, dan perasaan. Belajar membangun makna dilakukan melalui proses mengalami langsung, komunikasi, interaksi, dan refleksi sehingga peserta didik dapat memperoleh gagasan yang bermakna. Belajar adalah memproduksi gagasan bukan mengkonsumsi gagasan. Oleh karenanya, siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pikiran, mengungkapkan pendapat, dan proses (Syaiful Sagala, 2009: 166-168).

Witig (dalam Muhibbin Syah, 2009) mengemukakan bahwa proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu acquasistion (tahap perolehan informasi), storage (penyimpanan informasi), (retrieval/mendapatkan kembali informasi). Pertama, tahap acquasistion (tahap perolehan informasi) yakni pembelajar mulai menerima informasi sebagai stimulus dan memberikan respon sehingga ia memiliki pemahaman atau perilaku baru. Tahap ini merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan siswa tidak dibantu maka ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapi pada tahap selanjutnya. Kedua, tahap storage (penyimpanan informasi) yakni pemahaman dan perilaku baru yang diterima oleh siswa secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut shorterm atau longterm memori. Ketiga, tahap retrieval (mendapatkan kembali informasi), bila seorang siswa mendapat pertanyaan mengenai materi yang telah diperolehnya maka ia akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapinya.

Sebagaimana yang telah dikemukakan, bahwa pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antaranak dengan anak, anak dengan sumber belajar, dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan

(35)

menjadi bermakna bagi anak didik jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberi rasa aman bagi anak. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar yang ditandai oleh terjadinya hubungan aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep atau fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar tercipta pembelajaran bermakna maka guru harus mengetahui atau mengali konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang diajarkan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar akan lebih bermakna jika dapat membangun pengalaman informasi anak daripada hanya sekedar mendengarkan guru menjelaskan dan kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana yang nyaman.

c. Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

Seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah mulai tahun 2006, pembelajaran di semua jenjang pendidikan (dari tingkat SD - SMA) mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sebagaimana yang telah diketahui bahwa aspek-aspek yang terdapat dalam pembelajaran di sekolah dasar berdasarkan KTSP meliputi latar belakang, tujuan, dan ruang lingkup. Adapun uraian mengenai hal-hal tersebut, sebagai berikut.

1). Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan pengetahuan, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Melalui pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu peserta didik untuk lebih mengenal dirinya; budayanya dan budaya daerah atau bangsa lain; mengemukakan pendapat dan perasaan; berhubungan dengan masyarakat melalui pemakaian bahasa

(36)

yang santun dan sesuai kaidah; dan mengembangkan kreativitas atau potensi kebahasaan yang ada pada dirinya.

2). Tujuan

Mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

a). Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.

b). Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.

c). Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.

d). Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.

e). Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

f). Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

3). Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencangkup aspek-aspek berikut ini: (a) mendengarkan; (b) berbicara; (c) membaca; dan (d) menulis. Di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di kelas V sekolah dasar mencangkup aspek bahasan sebagai berikut.

(a).Mendengarkan : memahami penjelasan narasumber secara lisan dalam kegiatan wawancara, pelaporan, pembacaan berita dari berbagai media; cerita tentang suatu peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar; dan memahami isi pembacaan berbagai karya sastra berbentuk cerita rakyat, puisi, dan drama.

(37)

(b).Berbicara : menggunakan wacana lisan untuk menggungkapkan pikiran, pendapat, perasaan, dan fakta dengan menanggapi persoalan; menceritakan hasil pengamatan atau berwawancara, serta dalam berbagai bentuk karya sastra seperti cerita rakyat, puisi, dan drama.

(c).Membaca : Menemukan informasi yang terdapat dalam berbagai bentuk wacana tulis, dan berbagai bentuk kaya sastra yang berupa cerita pendek, puisi, dan drama.

(d).Menulis : Melakukan berbagai kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman, dalam bentuk karangan, surat undangan, laporan, dan dialog, serta berbagai karya sastra yang berbentuk pantun dan puisi.

d. Pembelajaran Menulis Puisi di Sekolah Dasar

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang telah diajarkan di sekolah mulai dari jenjang bawah (SD) sampai jenjang atas (SMA) karena termasuk salah satu materi dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Hal ini berarti pembelajaran apresiasi puisi merupakan bagian dari pembelajaran apresiasi sastra yang diajarkan di sekolah.

Burhan Nurgiyantoro (2005: 36-47) mengemukakan bahwa pengajaran sastra anak di sekolah (termasuk puisi) merupakan hal penting karena dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan berbagai pengalaman (baik rasa, emosi, dan bahasa), personal (kognitif, sosial, etis, spiritual), eksplorasi dan penemuan, serta petualangan dalam kenikmatan. Pengajaran sastra anak memberikan kontribusi pada anak yang sedang pada taraf pertumbuhan dan perkembangan yang secara garis besar dikelompokkan ke dalam nilai personal dan nilai pendidikan. Secara rinci kontribusi atau manfaat pengajaran sastra bagi seorang anak adalah, sebagai berikut.

1) Nilai Personal

a) Perkembangan emosional

Anak usia dini yang belum dapat berbicara atau baru berada dalam tahap perkembangan bahasa satu kata atau kalimat dalam dua — tiga kata, sudah ikut tertawa-tawa ketika diajak bernyanyi bersama sambil tepuk

(38)

tangan. Anak tampak menikmati lagu-lagu bersajak yang ritmis dan larut dalam kegembiraan. Hal ini dapat dipahami bahwa sastra lisan yang berwujud puisi-lagu tersebut dapat merangsang kegembiraan anak, merangsang emosi anak untuk bergembira. Demikian juga, dengan membaca buku-buku cerita maka anak baik secara langsung maupun tak langsung akan belajar bersikap dan bertingkah laku secara benar.

b) Perkembangan intelektual

Pembelajaran seni antara lain bertujuan untuk menanam, memupuk, dan mengembangkan daya apresiasi anak sejak usia dini, juga diyakini berperan besar dalam menunjang perkembangan kemampuan diri. Berdasarkan hasil penelitian anak-anak sekolah dasar yang diajar seni ternyata juga berdampak pada kemampuan siswa dalam bidang IPA, matematika, dan bahasa. Kemampuan anak yang diajar seni dalam tiga bidang tersebut lebih tinggi daripada kemampuan anak yang tidak diajar seni. Hal ini dikarenakan, pembelajaran apresiasi terhadap seni menunjang peningkatan kreativitas, dan aspek kreativitas merupakan sesuatu yang esensial dalam pembelajaran bidang apa pun.

c) Perkembangan imajinasi

Membaca sastra akan membawa anak keluar dari kesadaran ruang dan waktu, keluar dari kesadaran diri sendiri, dan setelah selesai anak akan kembali pada dirinya dengan pengalaman yang diperolehnya dan dengan kemampuan imajinasi secara lebih. Imajinasi akan memancing tumbuh dan berkembangnya kreativitas. Imajinasi dalam pengertian ini jangan dipahami sebagai khayalan atau daya khayal saja, tetapi lebih merujuk pada makna creative thinking (pemikiran yang kreatif).

d) Pertumbuhan rasa sosial

Bacaan cerita mendemonstrasikan bagaimana anak berinteraksi dengan sesama dan lingkungan. Bagaimana tokoh-tokoh saling berinteraksi untuk bekerja sama, saling membantu, bermain bersama, melakukan aktivitas keseharian bersama, menghadapi kesulitan bersama, membantu mengatasi kesulitan orang lain, dan lain-lain yang berkisah tentang

(39)

kehidupan bersama dalam masyarakat. Hal ini akan menimbulkan kesadaran untuk saling berhubungan dengan orang sekitar sehingga bacaan sastra yang ―mengeksploitasi‖ kehidupan sosial secara baik akan mampu menjadikannya sebagai contoh bertingkah laku sosial kepada anak sebagaimana aturan sosial yang berlaku.

e) Pertumbuhan rasa etis dan religius

Selain menujang pertumbuhan dan perkembangan unsur emosional, intelektual, imajinasi, dan rasa sosial, bacaan cerita sastra juga berperan dalam pengembangan personalitas yang lain, yaitu rasa etis dan religius. Demonstrasi kehidupan yang secara konkret diwujudkan dalam bentuk tingkah laku tokoh, di dalamnya juga terkandung tingkah laku yang menunjukkan sikap etis dan religius.

2) Nilai Pendidikan

a) Eksplorasi dan penemuan

Ketika membaca cerita, pada hakikatnya anak dibawa untuk melakukan sebuah eksplorasi, sebuah penjelajahan, sebuah petualangan imajinatif ke sebuah dunia relatif yang belum dikenalnya yang menawarkan berbagai pengalaman kehidupan. Petualangan ke sebuah dunia yang menawarkan pengalaman-pengalaman baru yang menarik, menyenangkan, menegangkan, dan sekaligus memuaskan lewat berbagai kisah dan peristiwa yang dasyat sebagaimana diperankan tokoh cerita. Pengalaman penjelajahan tokoh imajinatif berkaitan erat dengan pengembangan daya imajinatif. Dalam penjelajahan secara imajinatif anak akan dibawa dan dikritiskan untuk mampu melakukan penemuan-penemuan atau prediksi bagaimana solusi yang ditawarkan.

b) Perkembangan bahasa

Sastra adalah suatu bentuk permainan bahasa dan bahkan dalam genre puisi unsur permainan tersebut cukup menonjol, misalnya yang berwujud permainan rima dan irama. Berhadapan dengan sastra hampir selalu dapat diartikan sebagai berhadapan dengan kata-kata dan bahasa. Prasyarat untuk dapat membaca atau mendengarkan dan memahami

(40)

sastra adalah penguasaan bahasa yang bersangkutan. Bahasa dalam karya sastra dipergunakan untuk memahami dunia yang ditawarkan sekaligus berfungsi untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak, baik menyimak, membaca, berbicara, maupun menulis.

c) Perkembangan nilai keindahan

Sebagai salah satu bentuk karya seni, sastra memiliki aspek keindahan. Keindahan itu dalam genre puisi antara lain dicapai dengan permainan bunyi, kata, dan makna. Lewat permainan bunyi dan kata itu, ucapan repetitive dan melodis, dan sesekali digunakan untuk menyampaikan makna tertentu. Jadi, makna sengaja diekspresikan ke dalam kata-kata terpilih sehingga mampu menciptakan efek keindahan. Hal ini dikarenakan, rasa puas akan diperoleh setelah membaca puisi atau fiksi pada hakikatnya disebabkan oleh terpenuhinya kepuasan batin akan keindahan.

d) Penanaman wawasan multikultural

Berhadapan dengan bacaan sastra, anak dapat bertemu dengan wawasan budaya berbagai kelompok sosial dari berbagai belahan dunia. Lewat sastra dapat dijumpai berbagai sikap dan perilaku hidup yang mencerminkan budaya suatu masyarakat yang berbeda dengan masyarakat lain. Sastra merupakan sumber penting pembelajaran wawasan multikultural karena dapat memberanikan anak untuk mengidentifikasi dan mengapresiasi kemiripan dan perbedaan lintas budaya.

e) Penanaman kebiasaan membaca

Sastra diyakini mampu memotivasi anak untuk suka membaca, mampu mengembalikan anak kepada buku. Hal ini dapat diusahakan dan difasilitasi dengan baik. Misalnya, dengan penyediaan buku bacaan yang baik dan menarik di sekolah.

Guna tercapainya kontribusi atau manfaat pengajaran sastra (termasuk puisi) bagi seorang anak didik maka ada beberapa konsep yang harus diperhatikan dalam pembelajaran sastra. Hal ini sebagaimana diungkapkan

(41)

Imam Syafi‘ie (dalam Andayani, 2009: 70) bahwa ada 4 konsep yang harus diperhatikan dalam pembelajaran sastra, yakni: (1) pembelajaran sastra bukan proses pembentukan penguasaan terhadap pengetahuan tentang sastra, melainkan pembinaan untuk meningkatkan kemampuan mengapresiasi; (2) pengajaran mengapresiasi dilaksanakan dengan memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada murid untuk terlibat secara langsung dalam proses mengapresiasi karya sastra; (3) peranan guru bukanlah sebagai pemberitahu yang mendektekan catatan bagi anak didik, tetapi menciptakan situasi yang mendorong murid untuk mendapatkan kenikmatan dan kemanfaatan melalui membaca karya sastra; (4) pembelajaran puisi diarahkan untuk mengapresiasi karya sastra agar memperoleh pengalaman batin dan penghargaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalamnya.

Dalam hal ini peran seorang guru bahasa sangat besar dalam mengajarkan puisi yang merupakan salah satu jenis sastra yang diajarkan di sekolah. Namun, dalam pelaksanaannya pengajaran puisi masih terdapat kendala. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Rahmanto (1988: 44 -45) bahwa terdapat dua hambatan dalam pembelajaran puisi, yaitu (1) adanya anggapan bahwa secara praktis puisi tidak ada gunanya lagi. Di zaman yang serba modern ini manusia hidup dalam dunia praktis yang banyak tergantung pada dunia IPTEK (mesin dan komputer), mereka beranggapan bahwa sastra (terutama puisi) hanya berkenaan dengan pengolahan kata-kata dan sudah tidak ada gunanya lagi. (2) adanya prasangka bahwa mempelajari puisi sering tersandung pada pengalaman pahit, maksudnya adalah siswa berusaha memahami sajak-sajak yang terkenal dari para penyair terkenal yang sering menggunakan simbol, kiasan, dan ungkapan-ungkapan tertentu yang sering membingungkan.

Dalam pembelajaran puisi, guru hendaknya memilih bahan ajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Selain itu, guru hendaknya juga memiliki referensi yang memadai mengenai puisi yang diajarkan. Agar siswa lebih bersemangat dalam pembelajaran puisi sebaiknya dalam pembelajaran guru dapat menciptakan suasana yang tidak menegangkan dan tidak kaku

(42)

sehingga pembelajaran puisi berlangsung dengan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan hakikat pembelajaran sastra yang tidak hanya bermanfaat tetapi juga menghibur.

Teknik pembelajaran puisi sangat menentukan keberhasilan dalam pembelajaran puisi. Menurut Rahmanto (1988: 48 – 52) terdapat beberapa teknik pembelajaran puisi, yaitu:

1. Pelacakan pendahuluan

Sebelum menyajikan puisi di depan kelas, guru perlu mempelajarinya terlebih dahulu unttuk memperoleh pemahaman awal tentang puisi yang akan disajikan sebagai bahan. Pemahaman ini sangat penting terutama untuk menentukan strategi yang tepat dan menentukan aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian khusus dari siswa.

2. Penentuan sikap praktis

Puisi yang akan disajikan di depan kelas, hendaklah diusahakan tidak terlalu panjang agar dapat dibahas sampai selesai pada setiap pertemuan. Hendaklah pula ditentukan lebih dahulu informasi yang seharusnya dapat diberikan oleh guru sastra untuk mempermudah siswa memahami puisi yang disajikan.

3. Introduksi atau pengantar

Banyak faktor yang mempengaruhi penyajian pengantar dalam pembelajaran puisi, termasuk situasi dan kondisi pada saat materi disajikan. Pengantar ini akan sangat tergantung pada setiap individu guru, keadaan siswa, dan karakteristik puisi yang diberikan.

4. Penyajian

Pesan dan kesan puisi baru akan menyentuh hati seseorang apabila puisi itu dibacakan atau dikutip secara lisan. Biasanya siswa akan merasa lebih mudah mengenal puisi untuk pertama kalinya dengan mendengarkan guru membacakannya daripada membaca sendiri.

(43)

5. Diskusi

Secara umum urutan diskusi dan jawaban yang diperbincangkan dapat mengikuti pola sebagai berikut.

Umum (Kesan awal) ______Khusus (rinci) _______Umum (kesimpulan) Masalah-masalah umum yang pertama-tama perlu didiskusikan antara lain: (a) siapa tokoh yang bicara pada puisi itu?; (b) Untuk siapa pesan itu diiungkapkan?; (c) Bagaimana situasinya?; dan (d) Bagaimana perasaan tokohnya?. Kemudian dibahas mengenai hal-hal rinci misalnya aspek penyusunan puisi, gaya bahasa, arti kias, dan sebagainya. Setelah itu diskusi dapat diarahkan ke kesimpulan yang mengandung unsur-unsur penilaian. 6. Pengukuhan

a) Lisan

Sedapat mungkin siswa mendapat kesempatan untuk membaca puisi itu secara lisan sehingga benar-benar dapat merasakan kualitas puisi yang dibacakan. Tetapi pembacaan puisi secara lisan ini akan berhasil jika siswa mempersiapkan diri terlebih dahulu.

b)Tertulis

Puisi dapat dihubungkan dengan berbagai aktivitas tulis menulis. Latihan menulis semacam ini akan lebih berarti jika dapat diarahkan untuk membuat kumpulan puisi dan bentuk-bentuk tulisan yang disertai minat mengembangkan seni menulis. Menulis puisi akan lebih mudah jika didasarkan pada pengamatan ataupun pengalaman. Sebagaimana yang dikemukakan Win Wenger (2003 : 137).

Cara terkaya, terkuat, dan tercepat untuk meningkatkan keterampilan berbahasa adalah dengan mendeskripsikan secara bermakna kepada pendengar pengalamannya. Pengertian ―mendeskripsikan secara bermakna‖ adalah mendeskripsikan dengan suatu cara sedemikian sehingga, secara harfiah membawa realitas dari sesuatu yang dideskripsikan ke pengalaman pendengar. Yang terbaik, ini biasanya dilakukan melalui detail-inderawi yang kaya: gambar dengan warna,

(44)

tekstur, bentuk, citarasa, ruang, ukuran, massa, gerak, dan sebagainya.

Sebagai suatu hasil karya seni, puisi memiliki karakterisktik sesuai dengan genre pengarangnya. Burhan Nurgiyantoro (2005: 313-314) mengungkapkan bahwa ada beberapa karakteristik puisi karya atau tulisan anak yang membedakannya dengan puisi karya orang dewasa, yakni:

1) Puisi anak intensitas keluasan makna tampaknya belum seluas puisi dewasa. Hal ini dikarenakan daya jangkau imajinasi anak dalam hal pemaknaan puisi masih terbatas.

2) Dilihat dari segi pendayaan berbagai bentuk ungkapan kebahasaan puisi anak masih lebih sederhana.

3) Dalam hal bahasa maupun makna dalam puisi anak diungkapkan lugas, apa adanya, serta masih polos.

4) Dilihat dari segi permainan bahasa, bahasa puisi anak lebih terlihat intensif. Hal ini terlihat dari pengutamaan kemunculan aspek rima dan irama atau berbagai bentuk pengulangan.

5) Dalam puisi anak aspek emosi selalu sejalan dengan serapan indera. Ini berarti bahwa luapan emosi anak dipengaruhi oleh tanggapan inderanya terhadap sesuatu yang ada di sekeliling karena daya jangkau imajinasi anak yang masih terbatas.

3. Hakikat Model Pembelajaran Quantum Learning a. Quantum Learning sebagai Model Pembelajaran

Guru (pendidik) merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran. Guru berperan sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar, sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif, mengembangkan bahan ajar, meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak, dan mengusai tujuan pendidikan (Moh. Zuber Usman, 1996: 2). Oleh karenanya,

Gambar

Gambar 1. Pemanfaatan Kedua Belahan Otak dalam Menulis  (Sumber: Bobbi DePorter, 2003: 179)
Tabel 1. Penilaian Proses Pembelajaran
Tabel 2. Penilaian Hasil Pembelajaran
Gambar 2. Kerangka Berpikir Guru menggajar dengan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Tindakan Kelas dengan rumusan masalah “ Apakah penerapan media Gambar Seri dapat meningkatkan keterampilan menulis dialog percakapan pada mata pelajaran bahasa

Kurikulum perkelas dijilid tersendiri sesuai kelas untuk dimiliki oleh guru Silabus semua mata pelajaran kelas I s.d kelas VI.. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran semua mata

Pembelajaran di sekolah dasar sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memuat 8 mata pelajaran termasuk didalamnya adalah Ilmu pengetahuan

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI METODE PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING SISWA KELAS V SD NEGERI SEKARJALAK 01 KECAMATAN

Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Sa- tuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku saat ini, ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) mencakup

Penelitian Tentang PENINGKATAN Hasil Belajar Membaca Puisi Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Penerapan Media Audio Visual Kelas V Sekolah Dasar Negeri 01

Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD kelas IV semester 2, salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai siswa dalam menulis

Dokumen ini berisi kisi-kisi penilaian sumatif untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat sekolah dasar sesuai dengan Kurikulum Merdeka tahun pelajaran