• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

H. DESKRIPSI BERDASARKAN JENIS MASTOIDEKTOMI

Berdasarkan data diperoleh hasil jenis mastoidektomi pada pasien otitis media supuratif kronis sebagai berikut.

Tabel 4.8. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis mastoidektomi

Jenis Mastoidektomi Frekuensi (n) Persentase (%)

Sederhana 3 2,8

Radikal 93 87,7

Modifikasi 10 9,4

Total 106 100,0

Berdasarkan tabel 4.8, diperoleh hasil bahwa penderita otitis media supuratif kronis dominan ditatalaksana dengan mastoidektomi radikal yaitu sebanyak 93 orang (87,7%), mastoidektomi modifikasi sebanyak 10 orang (9,4%) dan mastoidektomi sederhana sebanyak 3 orang (2,8%).

4.2 PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang didapat dari rekam medis pasien di Poliklinik THT RSUP Haji Adam Malik Medan terdapat 106 sampel penelitian selama periode tahun 2015-2018. Dari hasil penelitian gambaran kejadian otitis media supuratif kronis berdasarkan usia lebih sering terjadi padapasien kelompok usia 11-20 tahun (31,1%). Hal ini sejalan dengan penelitian di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali dalam periode Januari-Juni 2013 menunjukkan bahwa proporsi penderita OMSK kelompok umur antara 11-20 tahun (40,2%). Hasil ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya di RSUP Haji Adam Malik pada tahun Januari 2006 - Desember 2010 diperoleh hasil pasien OMSK tipe bahaya berdasarkan umur yaitu kelompok usia 11-20 tahun berjumlah 38 orang (31,93%) dan terendah berusia

≤10 tahun dan ≥41 tahun (7,56%) (Asroel et al, 2013 ). Pasien dewasa lebih umum terkena daripada anak-anak karena kemampuan mereka mentoleransi penyakit tersebut sampai mereka akhirnya mencari perawatan lebih lanjut karena kemungkinan permasalahan ekonomi. Dan penyebab keterlambatan diagnosis

34

akibat pasien tidak menyadari gejala autologis ringan sampai timbulnya rasa nyeri, sakit kepala dan perdarahan serta terlambatnya dokter umum dalam merujuk pasien yang sudah pada tahap kolesteatoma (Yulius et al, 2018).

Dari hasil penelitian didapati distribusi frekuensi pasien otitis media supuratif kronis berdasarkan jenis kelamin lebih sering terjadi pada laki-laki (56,6%) dibandingkan dengan perempuan (43,4%). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusuma et al dan Abraham et al, 2019 di Rumah Sakit Nasional Muhimbili, Tanzania. Penelitian tersebut menunjukkan prevalensi OMSK menurut umur dan jenis kelamin, dari 5591 pasien, 79 diantaranya menderita OMSK dan didominasi oleh pasien yang berjenis kelamin laki-laki (54,4%). Hal ini disebabkan oleh aktivitas laki-laki yang sering dilaksanakan di luar rumah sehingga lebih mudah dan sering terinfeksi dengan kontaminan lingkungan (Kusuma et al, 2016). Namun hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan di RSUP Dr. Moh Hussein Palembang pada tahun 2009-2012 yaitu didapatkan pasien OMSK banyak diderita oleh perempuan 27 orang (67,5%) sedangkan laki-laki 13 orang (32,5%) (Wilsen et al, 2014).

Kemudian didapati pula dari hasil penelitian bahwa otitis media supuratif kronis banyak diderita oleh pasien yang berstatus tidak/bukan pekerja yaitu sebanyak 77 orang (72,6%) dibandingkan dengan pasien yang bekerja 29 orang (27,4%). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pangemanan et al di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Januari 2014 hingga Desember 2016 dengan jumlah yang tidak/bukan pekerja 23 orang (28%), diikuti oleh profesi pelajar, ibu rumah tangga dan pekerja swasta masing-masing 15 orang (19%) dan PNS 6 orang (8%) serta buruh sebanyak 1 orang (1%).

Untuk distribusi frekuensi berdasarkan jenis otitis media supuratif kronis didapati hasil terbanyak yaitu pada tipe ganas (80,2%) dibandingkan tipe jinak (19,8%). Hasil ini sesuai dengan penelitian Laisitawati et al di RSUP Dr.

Mohammad Hoesin, Palembang pada 2014-2015, bahwa terdapat otitis media supuratif kronis tipe ganas (53,4%) lebih banyak dibandingkan dengan tipe jinak (46,6%). Pada penelitian yang dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar tahun

2014-2016 juga didapati persentase tipe ganas lebih tinggi daripada tipe jinak yaitu sebesar (68,3%).

Komplikasi yang paling banyak ditemukan adalah komplikasi ekstrakranial yaitu mastoiditis (83%), diikuti oleh yang mengalami palsy saraf wajah sebesar (15,1%) dan petrositis (1,9%). Sedangkan untuk komplikasi intrakranial berupa abses serebral (5,7%). Hasil ini sejalan dengan penelitian di RSUP Haji Adam Malik sebelumnya pada tahun 2011-2012 dimana terdapat komplikasi terbanyak adalah mastoiditis (78,3%), diikuti abses retroaurikular-facialis parese dan retroaurikular-facialis parese masing-masing satu subjek (4,3%) dan komplikasi intrakranial berupa meningitis satu subjek (4,3%). Hasil ini didapati pula pada penelitian Al-Maidin di RSUP DR. Wahidin Sudirohusodo Juli 2016-Juni 2017 yang mendapati komplikasi ekstrakranial pada pasien OMSK lebih banyak (23,8%) dibandingkan komplikasi intrakranial (0%) dan selebihnya merupakan pasien tanpa komplikasi. Mastoiditis akut dapat menyebar ke periosteum dan menginduksi terjadinya periostitis yang dapat menyebabkan destruksi tulang. Infeksi tersebut dapat berkembang melalui tulang yang berdekatan atau melalui vena yang menghubungkan sistem vena ekstrakranial dengan vena sinus intrakranial di luar air cell mastoid dan dapat timbul sebagai abses subperiosteal atau komplikasi intrakranial (Kumar, 2018).

Hasil pemeriksaan audiometri pada pasien OMSK di RSUP Haji Adam Malik Medan didapati menderita tuli konduktif (83%), tuli sensorineural (12,3%) dan tuli campuran (4,7%). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Syaiful Anwar, Malang, periode Maret-April 2013. Pada penelitian tersebut didapati hasil pemeriksaan audiometri pasien OMSK berupa pasien dengan tuli konduktif (59%) diikuti oleh tuli campuran (27%) serta tuli sensorineural (8%). Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Toari et al di RSUP Dr. Kariadi, Semarang dari bulan Agustus-September 2017 yang mendapatkan pasien OMSK dengan tuli konduktif dengan jumlah 52 orang (61,2%) dan sisanya tuli campuran 33 orang (38,8%). Keparahan gangguan dengar tergantung pada ukuran dan lokasi perforasi memberan timpani. Di samping edema lapisan mukosa dan adanya jaringan granulasi dapat

36

mempengaruhi mekanisme konduktif. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh OMSK biasanya tuli konduktif parah karena diskontinuitas tulang pendengaran (Hayati et al, 2018). Menurut sebuah studi oleh Paparella et al, OMSK juga dapat menyebabkan tuli sensorineural yang disebabkan oleh agen inflamasi yang masuk melalui oval window dari telinga tengah, posisi anatomi maupun karakteristik oval window (S. G, Smitha, 2018).

Berdasarkan hasil penelitian didapati distribusi frekuensi berdasarkan jenis mastoidektomi yang dilakukan pada pasien OMSK di RSUP Haji Adam Malik dengan jenis mastoidektomi sederhana (2,8%), mastoidektomi radikal sebanyak (87,7%) dan mastoidektomi modifikasi (9,4%). Hal ini sesuai dengan penelitian Abraham yang dilakukan di Lady Reading Hospital Peshwar, Pakistan pada Januari 2009 hingga Desember 2011 yang menyatakan bahwa komplikasi OMSK dapat dikelola dengan mengobati komplikasi pertama diikuti dengan menatalaksana sumber infeksi melalui pembedahan. Pada penelitian tersebut didapati tindakan bedah mastoidektomi radikal (79,5%) dan (15,9%) dilakukan mastoidektomi modifikasi. Literatur menyatakan bahwa indikasi mastoidektomi secara klinis adalah otorea yang menetap atau berulang, otalgia yang menetap atau berulang, gangguan pendengaran konduktif, perforasi membran timpani dengan atau tanpa kolesteatoma, mastoiditis akut dengan osteitis, neoplasma pada tulang temporal, fraktur tulang temporal dengan kebocoran likuor serebrospinalis serta kelumpuhan saraf wajah yang menimbulkan dekompresi. Pada kasus ini, indikasi mastoidektomi adalah untuk eradikasi sumber infeksi, serta otorea yang berulang (Adriana et al, 2015). Mastoidektomi radikal masih populer dipakai di negara berkembang karena kelebihan teknik ini yaitu akses bedahnya lebih besar ke telinga tengah terutama dengan keadaan kolesteatoma yang luas, jarang memerlukan pembedahan kedua dan tingkat kekambuhannya sangat rendah (Irwan et al, 2019).

BAB V

Dokumen terkait