SKRIPSI
Oleh :
ERRA DIAN HASANAH 160100070
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
GAMBARAN PASIEN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS YANG DITATALAKSANA MASTOIDEKTOMI DI RSUP HAJI
ADAM MALIK MEDAN PERIODE TAHUN 2015 - 2018
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
ERRA DIAN HASANAH 160100070
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Penelitian : Gambaran Pasien Otitis Media Supuratif Kronis yang Ditatalaksana Mastoidektomi di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Tahun 2015-2018
Nama Mahasiswa : Erra Dian Hasanah
NIM : 160100070
Program Studi : Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Telah berhasil dipertahankan dihadapan Komisi Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Ketua Penguji
dr. Almaycano Ginting, M.Kes, M.Ked (Clin Path), Sp.PK NIP. 197505242003121001
Anggota Penguji
dr. Wulan Fadinie, M.Ked (An), Sp.An NIP.198503062010122002 Pembimbing
dr. Adlin Adnan, Sp.THT-KL (K) NIP. 196007171987101001
Medan, 26 Desember 2019
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K)
NIP. 196605241992031002
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur atas rahmat dan karunia Allah SWT sehingga skripsi yang berjudul “Gambaran Pasien Otitis Media Supuratif Kronis yang Ditatalaksana Mastoidektomi di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Tahun 2015-2018” berhasil diselesaikan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya bantuan, dorongan dan motivasi dari berbagai pihak.Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Adlin Adnan, Sp. THT-KL (K) selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan banyak arahan dan masukan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
3. Seluruh staf rekam medis RSUP Haji Adam Malik Medan yang telah mengizinkan dan membantu peneliti dalam pengumpulan data penelitian.
4. dr. Almaycano Ginting, M.Kes, M.Ked (Clin Path), Sp. PK dan dr. Wulan Fadini, M.Ked (An), Sp. An selaku Dosen Penguji yang telah memberikan kritik dan saran terhadap penelitian ini.
5. Orangtua saya yang selalu memberikan dukungan, do’a dan ridhonya.
6. Teman-teman seperjuangan yang selalu ada untuk memberikan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Semua pihak yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh
karena itu dengan kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang berguna untuk memperbaiki kekurangan tersebut.
Semoga skripsi ini dapat meberikan manfaat untuk pembaca dan dapat mendorong penelitian selanjutnya.
Medan, 29 Desember 2019
Penulis
Erra Dian Hasanah
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iv
Daftar Gambar ... vi
Daftar Tabel ... vii
Daftar Singkatan ... viii
Abstrak ... ix
BAB I. PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.4.1 Bagi Penelitian ... 5
1.4.2 Bagi Pendidikan ... 5
1.4.3 Bidang Kesehatan &Pelayanan Kesehatan ... 5
1.4.4 Bagi Peneliti ... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Anatomi Telinga ... 6
2.1.1 Telinga Luar ... 6
A. Pinna ... 6
B. Meatus Akustikus Eksternus... 6
2.1.2 Telinga Tengah... 7
A. Membran Timpani ... 7
B. Kavitas Telinga Tengah... 8
C. Tulang Temporal ... 8
D. Tulang Pendengaran ... 9
2.1.3 Telinga Dalam... 11
2.2 Fisiologi Pendengaran ... 12
2.3 Definisi ... 13
2.4 Klasifikasi ... 13
2.5 Etiologi dan Faktor Resiko ... 14
2.6 Gejala Klinis ... 14
2.7 Patogenesis ... 14
2.8 Patofisiologi ... 14
2.9 Kolesteatoma ... 15
2.10 Pemeriksaan ... 16
A. Tes Garputala ... 16
B. Kultur Sensitivitas ... 16
C. Radiologi ... 17
D. Audiometri Nada Murni ... 18
E. Brain Evoked Response Audiometry ... 19
2.11 Tatalaksana ... 20
2.12 Komplikasi ... 21
2.13 Kerangka Teori ... 23
2.14 Kerangka Konsep ... 24
BAB III. METODE PENELITIAN ... 25
3.1 Jenis Penelitian ... 25
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian... 25
3.2.1 Waktu penelitian ... 25
3.2.2 Tempat penelitian... 25
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 25
3.3.1 Populasi ... 25
3.3.2 Sampel ... 25
3.4 Teknik Pengambilan Sampel ... 26
3.5 Kriteria Inklusi dan Esklusi ... 26
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 27
3.7 Metode Pengolahan dan Analisa Data ... 27
3.8 Defenisi Operasional ... 27
3.9 Ethical Clearance ... 28
BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29
4.1 Hasil Penelitian ... 29
4.2 Pembahasan ... 33
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 37
5.1 Simpulan ... 37
5.2 Saran ... 37
DAFTAR PUSTAKA ... 38
LAMPIRAN ... 45
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Anatomi Telinga ... … 6
2.2 Membran Timpani ... 7
2.3 Kavitas Telinga Tengah ... 8
2.4 Tulang Temporal ... 8
2.5 Tulang Pendengaran ... 10
2.6
Telinga Tengah ... 102.7 Tulang Labirin dan Membran Labirin ... 11
2.8 Axial CT Temporal dengan Kolesteatom ... 17
2.9 Audiometri ... 19
2.10 Kerangka Teori ... 23
2.11 Kerangka Konsep ... 24
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Perbedaan OMSK jinak dan ganas ... 13
3.1 Defenisi operasional ... 27
4.1 Distribusi frekuensi berdasarkan usia ... 29
4.2 Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin... 30
4.3 Distribusi frekuensi berdasarkan status kerja ... 30
4.4 Distribusi frekuensi berdasarkan jenis OMSK ... 31
4.5 Distribusi frekuensi berdasarkan komplikasi intrakranial 31
4.6 Distribusi frekuensi berdasarkan komplikasi ekstrakranial 32
4.7 Distribusi frekuensi berdasarkan hasil audiometri ... 32
4.8 Distribusi frekuensi berdasarkan jenis mastoidektomi 33
DAFTAR SINGKATAN
OMSK : Otitis Media Supuratif Kronis
Hz : Hertz
dB : Desibel
CHL : Conductive Hearing Loss SNHL : Sensorineural Hearing Loss MHL : Mix Hearing Loss
daPa : DecaPascal
ISPA : Infeksi Saluran Napas Bagian Atas
ABSTRAK
Latar belakang: Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah inflamasi persisten dari telinga tengah dan kavitas mastoid. Data dari WHO tahun 2013 menyebutkan 360 juta orang atau 5,2%
di seluruh dunia memiliki gangguan pendengaran. Kondisi ini sebagian besar terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah termasuk Indonesia.Otitis media supuratif kronis yang disertai dengan kolesteatom disebut juga tipe bahaya. Perforasi membran timpani letaknya marginal atau di atik. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK dengan kolesteatom ini. Dalam manajemen bedah kolesteatoma, dapat dipilih teknik operasi tertutup (mastoidektomi sederhana), operasi terbuka (radikal mastoidektomi) maupun operasi modifikasi mastoidektomi radikal dalam yang bertujuan mencegah kolesteatoma berulang atau residual bersamaan dengan pemeliharaan atau rekonstruksi anatomi dari telinga tengah untuk memperbaiki fungsi pendengaran. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pasien otitis media supuratif kronis yang dilakukan Mastoidektomi di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2015-2018.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskrisptif dengan desain penelitian cross- sectional,menggunakan data sekunder berupa data rekam medis penderita otitis media supuratif kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015-2018. Besar sampel dihitung berdasarkan rumus simple random sampling satu populasi. Hasil:106 pasien dari tahun 2015-2018 dijumpai paling banyak menderita OMSK tipe ganas (80,2%), umumnya berusia 11-20 tahun (31,1%), sekitar 56.6% laki-laki dan berstatus tidak bekerja (72,6%). Gangguan pendengaran berupa tuli konduktif (83%) dan pada umumnya dilakukan mastoidektomi radikal (87,7%).
Kesimpulan:Gambaran pasien OMSK di RSUP Haji Adam Malik Medan sesuai dengan gambaran pasien OMSK pada umumnya .
Kata kunci: kolesteatoma, mastoidektomi, otitis media supuratif kronis
ABSTRACT
Background: Chronic suppurative otitis media (CSOM) is a persistant inflammation of the middle ear and mastoid cavity. Data from WHO in 2013 said 360 million people or 5,2% worldwide had hearing loss.This condition mostly occur in low and middle incomes countries including Indonesia. Chronic suppurative otitis media accompanied by cholesteatoma is also called danger type. The perforation of the tympanic membrane located marginal or atticoantral. Most of dangerous or fatal complication arise from CSOM with cholesteatoma. In cholesteatoma surgical management, closed surgery techniques (simple mastoidectomy), open surgery (radical mastoidectomy) or modified radical mastoidectomy in order to prevent recurrent or residual cholesteatoma with maintenance or reconstruction anatomy of the middle ear to improve hearing function.Purpose:This study aimed to determined the description of chronic suppurative otitis media patients at the General Hospital of Haji Adam Malik in 2015-2018. Methods: This study is descriptive with cross-sectional research design, using secondary data from medical records of chronic suppurative otitis media patients at General Hospital of Haji Adam Malik Medan in 2015- 2018. The sample size calculated by simple random sampling formula of one population.
Result:106 patients in 2015-2018 were found suffer the malignant CSOM (80,2%),generally were aged 11-20 years old (31,1%), around 56,6% of male and not working (72,6%). Hearing impairments were conductive deafness (83%) and generally the radical mastoidectomy performed (87,7%). Conclussion:The description of CSOM patients at General Hospital of Haji Adam Malik Medan is similar with the other description of CSOM patients commonly .
Kata kunci: Cholesteatoma, mastoidectomy, chronic suppurative otitis media
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah inflamasi persisten dari telinga tengah dan kavitas mastoid (Morris, 2010). Rongga telinga tengah dan rongga mastoid berhubungan langsung melalui aditus ad antrum. Oleh karena itu infeksi kronis telinga tengah yang sudah berlangsung lama biasanya disertai infeksi kronis di rongga mastoid (Kodrat, 2011). Infeksi pada tulang mastoid dikenal dengan mastoiditis (Hospital Care for Children, 2016). Otitis media supuratif kronik ditandai dengan sekret telinga (otorea) berulang atau persisten dalam 2 – 6 minggu selama perforasi membran timpani (Farida &
Oktaria, 2016).
Data dari WHO tahun 2013 menyebutkan 360 juta orang atau 5,2% di seluruh dunia memiliki gangguan pendengaran. Kondisi ini sebagian besar terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah termasuk Indonesia.
Angka ini terus meningkat akibat akses ke pelayanan yang belum optimal.
Hasil Riskesdas pada tahun 2013 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas 2,6% mengalami gangguan pendengaran, 0,09%
mengalami ketulian, 18,8% mengalami sumbatan serumen dan 2,4% ada sekret di liang telinga. Dari data tersebut dapat kita ketahui bahwa gangguan pendengaran masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat (Kemenkes, 2018).
OMSK biasanya berkembang pada tahun-tahun pertama kehidupan
tetapi dapat bertahan selama dewasa. Penyakit ini menyerang 65–330
jutaorang di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Diperkirakan ada
31 juta kasus baru OMSK per tahun, dengan 22,6% pada anak-anak kurang
dari 5 tahun. Prevalensi populasi tertinggi yang dilaporkan dari OMSK adalah
Inuit di Alaska, Kanada dan Greenland, Indian Amerika, dan Aborigin
Australia (7–46%). Prevalensi menengah telah dilaporkan di Kepulauan
Pasifik Selatan, Afrika, Korea, India dan Arab Saudi, mulai dari 1 hingga 6%.
2
Sebuah studi kohort longitudinal prospektif berbasis populasi di antara anak- anak berusia 0 hingga 4 tahun menunjukkan tingkat kejadian kumulatif OMSK 14% di Greenland. Namun, penelitian sebelumnya telah melaporkan angka kejadian OMSK 19 dan 20% di antara anak-anak Greenland berusia 3- 8 tahun (Mittal et al., 2015).
Menurut penelitian sebelumnya didapati jumlah total penderita OMSK bagian THT RSUP H. Adam Malik sebanyak 97 orang dengan kelompok usia antara 31-40 tahun sebanyak 28 orang (28,9%) dan pasien terbanyak berjenis kelamin laki-laki berjumlah 51 orang (52,6%) serta pekerjaan paling sering adalah wiraswasta berjumlah 32 orang (33,0%). Diperoleh bahwa tipe OMSK maligna adalah yang paling sering dijumpai dengan gejala klinis telinga berair serta gangguan pendengaran konduktif (Perdana, 2016).
Faktor yang mempengaruhi kejadian OMSK yaitu usia dekade pertama kehidupan disebabkan oleh frekuensi serangan infeksi saluran pernafasan akut, radang telinga tengah pada tuba eustachius, mastoid dan komplikasinya, daerah kumuh, terlambat penanganan, ketidaktepatan penanganan, virulensi bakteri yang tinggi, resistensi tubuh yang lemah terhadap kuman, gizi yang jelek, tingkat kebersihan dan pengetahuan yang kurang sedangkan pada usia dewasa berhubungan dengan daya tahan tubuh yang rendah (Aguslia, 2016).
Pada stadium supurasi, bila penyakit berlanjut dan tidak dilakukan
miringotomi, maka membran timpani akan pecah sendiri, biasanya di kuadran
anteroinferior tetapi adakalanya di setengah bagian posterior membran
timpani. Cairan yang keluar biasanya serosanguinosa kemudian segera
menjadi mukopurulen. Proses ini terjadi pada saluran telinga tengah dan
mastoid, sehingga menyumbat sel-sel mastoid yang kecil-kecil. Kemudian
dapat menimbulkan mastoiditis dengan perluasan sekunder ke sinus venosus,
meningen atau labirin. Hal ini timbul karena drainase yang tidak adekuat
melewati aditus ad antrum akibat mukosa atik yang menebal. Akibatnya
mastoid yang terisi oleh mukosa granuler yang edem serta sekret mukopus
yang memiliki tekanan. Proses ini akan menyebabkan absorbs dinding tulang
mastoid yang tipis meluas sepanjang alur vena ke perifer dan merusak
periosteum mastoid. Proses pada stadium awal bersifat reversible, sedangkan yang lanjut memerlukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki drainase sebelum terjadi perluasan ke sinus lateral atau meningen (Ghanie, 2010).
Otitis media supuratif kronis dibedakan atas dua, yaitu OMSK tanpa kolesteatom dan OMSK dengan kolesteatom. Otitis media supuratif kronis tanpa kolesteatom disebut juga tipe aman. Pada tipe aman peradangan terjadi pada mukosa dan tidak mengenai tulang. Perforasi membran timpani terletak di sentral. Tipe ini jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Otitis media supuratif kronis yang disertai dengan kolesteatom disebut juga tipe bahaya. Perforasi membran timpani letaknya marginal atau di atik. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK dengan kolesteatom ini. Kolesteatom sendiri merupakan suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Deskuamasi ini terbentuk terus-menerus dan menumpuk sehingga kolesteatom semakin membesar. Kolesteatom dapat menyebabkan penekanan organ dan destruksi tulang di sekitarnya sehingga dapat terjadi komplikasi (Sari et al., 2018).
Dalam manajemen bedah kolesteatoma, dapat dipilih teknik operasi tertutup (mastoidektomi sederhana) atau operasi terbuka (radikal mastoidektomi). Mastoidektomi terbuka dengan rekonstruksi dinding posterior dan telinga tengah dalam satu operasi menggabungkan keuntungan dari kedua teknik yaitu, paparan bedah yang memadai, pemberantasan kolesteatoma dan rekonstruksi anatomi dari struktur telinga tengah (Blanco et al., 2014). Adapun teknik mastoidektomi yang dikembangkan oleh Bondy pada tahun 1910 yang dinamakan teknik modifikasi mastoidektomi radikal yang bertujuan mencegah kolesteatoma berulang atau residual bersamaan dengan pemeliharaan atau rekonstruksi mekanisme osikular untuk memulihkan pendengaran (Kumar et al., 2013).
Komplikasi dari OMSK terbagi menjadi intratemporal dan
ekstratemporal. Komplikasi yang terjadi pada intratemporal yaitu, mastoiditis,
labirinitis, paralisis saraf wajah dan petrositis. Sementara komplikasi seperti
meningitis, abses ekstradural, abses subdural, abses otak, abses Bezold,
4
hidrosefalusotitik, trombofeblitis sinus dan abses retroaurikular diklasifikasikan sebagai komplikasi ekstratemporal. Perawatan kasus-kasus dengan komplikasi memerlukan prosedur mastoidektomi disamping farmakoterapi (Desbassarie et al., 2011).
Berdasarkan data yang telah dipaparkan tersebut tentang penyakit OMSK yang pada umumnya menjadi penyebab tersering terjadinya gangguan pendengaran, maka peneliti ingin melakukan penelitian untuk melihat gambaran pasien OMSK di RSUP Haji Adam Malik Medan sekaligus melihat gambaran kejadian berdasarkan faktor resiko.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimana gambaran pasien OMSK di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2015-2018?
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran pasien otitis media supuratif kronis yang dilakukan Mastoidektomi di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2015-2018.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan tipe OMSK 2. Mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan usia
3. Mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin 4. Mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan hasil audiometri 5. Mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan komplikasi
6. Mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan jenis mastoidektomi
1.4 MANFAAT PENELITIAN 1.4.1 Bidang Penelitian
a. Dapat menambah wawasan peneliti.
b. Sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan untuk penelitian di masa yang akan datang.
1.4.2 Bidang Pendidikan
Sebagai bentuk upaya pengembangan ilmu pengetahuan mengenai Otitis media supuratif kronis.
1.4.3 Bidang Kesehatan Dan Pelayanan Kesehatan
a. Sebagai informasi kepada seluruh masyarakat dan menambah wawasan mengenai otitis media supuratif kronis tipe bahaya agar masyarakat yang menderita infeksi otitis media supuratif kronis dapat ditatalaksana dengan segera untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
b. Penelitian ini dapat menjadi data dasar khususnya di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok RSUP Haji Adam Malik tahun 2015-2018.
1.4.4 Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan pengalaman baru dan berharga bagi peneliti
sekaligus dapat memotivasi menumbuhkan minat tentang membuat karya
tulis ilmiah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI TELINGA 2.1.1 Telinga Luar
A. Pinna (Aurikula)
Berbentuk seperti huruf C dan terdiri dari jaringan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit. Struktur pinna terbentuk sesuai dengan tulang rawan yang mendasarinya, yang menghasilkan penampilan yang berbeda sebagai struktur dengan banyak lipatan dan resesus. Mengacu kembali ke struktur pinna, bagian lingkaran luar C disebut helix dan tepat di dalam helix adalah antihelix. Terletak superior di antara helix dan antihelix adalah alur yang disebut fossa scaphoid. Resesus terdalam dari pinna adalah concha yang mengarah ke pembukaan saluran telinga. Anterior dari choncha adalah flap pelindung yang disebut tragus dan dapat ditekan kedalam lubang telinga untuk berfungsi sebagai pelindung. Inferior dan posterior tragus disebut dengan antitragus (Musiek et al., 2011).
Gambar 2.1: Anatomi telinga Sumber: Handbook of Otolaryngology, 2018
B. Meatus Akustikus Eksternus
Kanal telinga membawa gelombang suara menuju gendang telinga.
Kelenjar-kelenjar ini menghasilkan lilin yang melapisi dan melindungi
kulit yang melapisi kanal. Kulit yang diatas tulang membentuk dua pertiga
bagian dalam kanal yang tidak memiliki kelenjar. Saluran telinga eksternal
memiliki panjang sekitar satu inci dan lebar sepertiga inci, yang merupakan diameter sempurna untuk resonansi frekuensi suara manusia.
Karena saluran telinga luar bengkok, ini membantu mencegah penyeka, pensil, dan benda keras lainnya mencapai gendang telinga. Gendang telinga menutup ujung dalam saluran telinga dan menandai awal dari telinga tengah (Balkany & Brown, 2017).
2.1.2 Telinga Tengah A. Membran Timpani
Gambar 2.2 : Membran timpani
Sumber: A Regional Atlas of Human Body sixth edition, 2011
Membran timpani memiliki bentuk kerucut tidak teratur, puncaknya
dibentuk oleh umbo malleus. Membran timpani terbentuk dari ectoderm,
endoderm dan mesoderm. Ini dapat dibagi menjadi pars flaccid superior
atau Sharpnell’s membrane, bagian atas prosesus pendek malleus dan pars
tensa inferior. Pars tensa adalah struktur trilaminar yang relatif kaku
karena memiliki tiga lapisan embriologi. Sedangkan pars flaccid tidak
memiliki lapisan tengah ini, karena hanya bilaminar sehingga lebih
lembek. Membran timpani melekat kuat pada malleus di prosesus lateralis
dan umbo. Plica mallearis menghubungkan membran timpani ke sisa
manubrium malleus (Adunka & Craig, 2011).
8
B. Kavitas Telinga Tengah
Gambar 2.3: Kavitas telinga tengah Sumber: Netter edisi 5, 2013
Kavitas telinga tengah terbentuk secara embriologis dari kantong cabang pertama. Terhubung ke nasofaring melalui tuba eustachius.
Posterior ke rongga telinga tengah adalah sel-sel udara mastoid, yang terhubung dengan bagian loteng rongga telinga tengah melalui aditus ad antrum. Rongga telinga tengah dan sel-sel udara mastoid dilapisi dengan epitel mukosa bersilia. Secara anatomis, ruang udara tengah dapat dibagi menjadi lima bagian berdasarkan hubungannya dengan annulus timpani, timpani mesotympanium, hypotympanium, loteng, protympanium dan tympanium retro. Pasokan darah telinga tengah dan mastoid berasal dari arteri karotis internal dan eksternal (Lalwani, 2011).
C. Tulang Temporal
Gambar 2.4: (A) Tulang temporal kanan lateral (B) Tulang temporal dilihat dari posterolateral
Sumber: Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoma Tulang Temporal
Terdapat 5 bagian tulang utama pada tulang temporal, yaitu squamous, mastoid, petrous, tympani dan prosesus styloideus. Bagian squamous tipis, cembung lateral dan membentuk tulang anterior dan atas, membentuk dinding lateral fossa kranial medial. Bagian ini mendasari dan memberikan tempat perlekatan otot temporalis di sepanjang permukaan cembungnya.
Sepanjang permukaan cekung bagian dalam terdapat alur arteri meningeal berjalan. Di dalam alur terbesar terdapat arteri meningea media dan cabang arteri karotis eksterna. Bagian mastoid mengandung air cell mastoid dan memiliki proyeksi kerucut inferior dan prosesus mastoid pada orang dewasa. Prosesus mastoid menyediakan perlekatan otot sternocleidomastoid, splenius capitis dan otot longissimus capitis. Air cell mastoid terhubung dengan telinga tengah melalui tuba eustachius dengan nasofaring. Secara lateral tulang mastoid berbatasan dengan tulang parietal dan occipital. Bagian petrous membentuk mayoritas tulang temporal bagian dalam. Bagian ini berisi struktur telinga dalam, sebagian besar saraf utama dan struktur pembuluh darah, kanal pendengaran internal, kanal carotid dan fossa jugularis. Tulang timpani membentuk tulang kanal pendengaran eksternal dan telinga tengah. Fissura petrotympani memisahkan tulang petrosa anterior dan internal. Dari anterior dan eksternal, bagian ini dipisahkan dari squamous dengan sutura tympanosquamous. Prosesus styloideus adalah proyeksi osseus ke bawah dan depan tepat dibawah foramen stylomastoid (Chen et al., 2014).
D. Tulang Pendengaran
Terdapat tiga tulang pendengaran yaitu malleus, incus dan stapes.
Malleus memiliki kepala, leher, pegangan (manubrium), proses lateral dan
anterior. Kepala dan leher malleus terletak di attic. Manubrium tertanam di
lapisan fibrosa membran timpani. Prosesus lateral membentuk proyeksi
seperti tombol pada permukaan luar membran timpani dan memberikan
perlekatan pada anterior dan lipatan malleal posterior (malleolar). Incus
memiliki badan dan prosesus pendek, yang keduanya terletak di attic dan
10
prosesus panjang yang menggantung secara vertikal serta menempel pada kepala stapes. Stapes memiliki kepala, leher, crura anterior dan posterior, dan footplate. Footplate dipegang di jendela oval oleh ligamen annular.
Ossicles mengalirkan energi suara dari membran timpani ke jendela oval dan kemudian ke cairan telinga bagian dalam (Dhingra,2010).
Gambar 2.5: Tulang pendengaran
Sumber: Otology, neurotology, and lateral skullbase surgery, oliver adunka, 2011, George thieme verlag, Germany
Bagian Penting Lainnya
Tegmen timpani: piringan tulang pipih yang memisahkan fossa dura bagian tengah dari kavitas timpani.
Scutum: Dinding tulang lateral dari resesus timpani, sering terkikis oleh kolesteatom.
Gambar 2.6: Telinga Tengah
Sumber: Lalwani, Ani K. (2011). Stallof’s Comprehensive book of Otolaryngology.
Jaypee Brothers: New Delhi.
Prussak’s space: resesus superior membrane timpani dibatasi oleh lipatan malleal lateral
Promontorium: putaran basal koklea, lantai telinga tengah
Jacobson’s Nerve: nervus yang mempersarafi membran timpani saraf kranialis IX berlokasi di promontorium
Arnold’s Nerve: nervus yang mempersarafi auricular saraf kranialis X, melintasi celah tympanomastoid untuk menginervasi aspek posterior saluran telinga eksternal, menyebabkan batuk saat otoscopy
Sinus Timpani: Berlokasi di mesotympanium diantara ponticulus superior, subiculum inferior dan nervus fasialis lateralis.
Subiculum: Lengkungan tulang antara round window dan pyramidal eminence (Pasha & Golub, 2018).
2.1.3 Telinga Dalam
Gambar 2.7: (A) Tulang labirin (B) Membran labirin
Sumber: Snell’s Anatomy by regions, 10thedition, Philadelphia, wolters kluwer 2019.
Telinga bagian dalam terdiri dari bagian tulang dan membran labirin yang berfungsi dalam pendengaran dan keseimbangan. Membran labirin berisisaluran koklea, utricle, saccule, tiga duktus setengah lingkaran, endolymphatic saluran dan kantung.
Duktus koklearis terdiri dari membran basilaris yang berfungsi
mendukung organ of corti, membran reissner yang memisahkan skala
12
vestibule dan skala media serta stria vaskularis yang berfungsi menghasilkan endolymph.
Organ of corti, terdiri dari berikut komponen penting:
1. Tunnel of Corti: Terowongan ini, yang terletak di antarabatang dalam dan luar, mengandung cairan yang disebut kortilimf.
2. Sel Rambut: Sel-sel reseptor penting pendengaran ini mengubah energi suara menjadi energi listrik.
Selain itu telinga bagian dalam juga memiliki reseptor vestibular.
Reseptor ini terdiri dari cristae dan maculae. Cristae terletak diujung ketiga ampulla duktus semisirkularis dan berfungsi menanggapi percepatan sudut.
Maculae terletak di organ otolith (utricle dan saccule). Maculae pada utricle berfungsi menanggapi situasi di bidang horizontal sedangkan maculae saccule menanggapi situasi di bidang vertikal.
Perilymph mengisi ruang antara membran dan tulang labirin. Tulang labirin berisi vestibula, kanalis semisirkularis dan koklea (Bansal, 2013).
2.2 Fisiologi Pendengaran
Fungsi telinga sebagai alat pendengaran adalah menangkap dan mendengar
bunyi yang datang dari eksternal dan sebagai alat keseimbangan. Bunyi yang
datang berupa gelombang atau getaran dihantarkan udara dan ditangkap oleh daun
telinga. Getaran tersebut masuk melalui meatus akustikus eksternus dan
menggerakkan membran timpani, gelombang tersebut diteruskan ke telinga tengah
melalui tulang-tulang pendengaran yang akan mengamplifikasikan getaran
melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas
membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini
akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfe
pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang
mendorong endolimfe, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran
basilaris dan membran tektorial. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang
menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion
bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel
rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius atau saraf pendengaran yang melekat padanya. Lalu disinilah gelombang suara mekanis diubah menjadi energi elektrokimia agar dapat ditransmisikan melalui saraf kranialis VIII, dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran di lobus temporalis (Zanah, 2015).
2.3 Definisi Otitis Media Supuratif Kronis
Otitis media supuratif kronis adalah inflamasi kronis pada telinga tengah dan adanya membran timpani yang non-intact yang mengarah kepada seringnya ottorhea berulang (Preciado, 2015).
2.4 Klasifikasi
OMSK terbagi menjadi dua, yaitu tipe jinak/benign dan tipe bahaya/maligna. Perbedaan ini ditandai dengan melihat proses peradangan, ada atau tidaknya kolesteatom dan letak perforasi membran timpani dan dapat dilihat keterangannya pada tabel berikut.
Tabel 2.1: Perbedaan OMSK jinak dan ganas Sumber: Al-Maidin, 2017.
Karakteristik OMSK Jinak OMSK Ganas
Sifat Aman, Tubotimpani Bahaya, Attikoantral
Otorea
Bau Tidak berbau Berbau busuk
Banyak cairan Umumnya banyak Umumnya sedikit
Tipe Umumnya mucoid Umumnya purulent
Periodisitas Hilang-timbul Terus-menerus
Perforasi Sentral Atik atau Marginal
Polip Pucat Merah seperti daging
Kolesteatoma Tidak ada Ada
Komplikasi Intrakranial Tidak pernah Tidak jarang
14
2.5 Etiologi dan Faktor Resiko
Insiden otitis media supuratif kronis banyak terjadi di negara berkembang khususnya pada kelompok sosial dan ekonomi yang rendah, malnutrisi, padat penduduk, higien rendah, pelayanan kesehatan yang tidak adekuat dan infeksi berulang saluran napas bagian atas (Kumara et al, 2015).
2.6 Gejala Klinis
Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair, berbau busuk, kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip, maka sekret yang keluar bercampur dengan darah. Gangguan pendengaran pada OMSK tipe bahaya sebagian besar adalah konduktif, tetapi dapat pula bersifat campuran (Asroel et al., 2013).
2.7 Patogenesis
Ini dapat dibagi ke dalam kondisi yang menyebabkan peningkatan produksi lendir atau penurunan pembersihan produksi lendir secara normal, terkait dengan peningkatan produksi, infeksi bakteri yang dapat merusak mekanisme transport silia, peran biofilm infektif dan disfungsi tuba eustachius yang mungkin disebabkan oleh konfigurasi anatomi spesifik seseorang atau obstruktif akibat pembesaran adenoid (Hussein, 2016).
2.8 Patofisiologi
Formasi jaringan granular pada telinga tengah dimulai saat pecahnya
membran basal dari sel epitel permukaan. Sel-sel inflamasi di lamina propria yang
mendasarinya melintas melalui membran basement yang rusak dan memasuki
lumen ruang telinga tengah. Rupturnya membran basement dan sel epitel pelapis
akibat dari toksin bakteri, mediator inflamasi diproduksi oleh liposom dan
akumulasi cairan subepitel dan vakuola, yang semuanya memberikan tekanan
pada permukaan epitel. Pembentukan jaringan granulasi terjadi ketika potongan
kecil herniasi dari lamina propria mengekstrusi melalui area yang pecah antara
sel-sel epitel. Awalnya, lamina propria yang terbuka mendorong ke telinga tengah
tanpa penutup epitel. Jaringan granulasi membentuk sekresi kedua kalinya faktor pertumbuhan angiogenik yang memicu pertumbuhan kapiler, hiperpermeabilitas vaskular,dan fibroblast. Jaringan granulasi yang tumbuh dengan cepat itu kemudian dapat menyebabkan polip (Brackmann, 2016).
2.9 Kolesteatoma
Pada koleostoma kongenital, teori yang sering digunakan ialah teori kegagalan involusi dan teori metaplasia. Pada teori pertama kegagalan involusi, penebalan epitel ektodermal pada bagian proksimal ganglion genikulatum terjadi selama masa perkembangan fetus. Involusi yang seharusnya terjadi pada waktu 33 minggu intrauterin tidak terjadi. Epitel ini berasal dari jaringan ektodermal yang terbentuk pada minggu ke 10 intrauterin tanpa fungsi khusus. Bila tidak diresorbsi, maka struktur ini akan tertinggal dan diperkirakan dapat membentuk kolesteatoma. Teori kedua berpijak pada metaplasia yang terjadi dalam kavum timpani. Terdapat beberapa teori mengenai terbentuknya kolesteatoma didapat, yaitu:
1. Metaplasia dari lapisan epitel telinga tengah akibat infeksi: teori ini melibatkan perubahan atau transformasi dari epitel selapis kubis menjadi epitel berlapis gepeng berkeratin akibat dari otitis media kronik atau rekuren. Beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan metaplasia, yaitu merokok, vitamin A, progesteron, serta variasi kadar CO2 dan O2.
2. Retraksi atau kolaps membran timpani sehingga terjadi invaginasi akibat
disfungsi tuba Eustachius. Teori ini didasarkan pada adanya kantung epitel
gepeng yang berasal dari retraksi membran timpani pars flasida. Reaksi
peradangan pada ruang Prussack yang biasanya akibat ventilasi buruk dapat
menyebabkan kerusakan membran basal sehingga terjadi pertumbuhan dan
proliferasi tangkai sel epitel ke dalam. Terbentuk kantong atau kista epitel
skuamosa dalam telinga tengah kemudian terbentuk lapisan deskuamasi
epitel dengan kristal kolestrin mengisi kantong. Matriks epitel kemudian
meluas ke ruang-ruang dalam telinga tengah dan mastoid. Kantung retraksi
ini dapat berkembang karena akumulasi debris, infeksi, inflamasi, dan
16
akhirnya terbentuk kolesteatoma. Perkembangan kolesteatoma bermula dari pars flasida.
3. Invasi hiperplasia dari lapisan basal kulit liang telinga ke dalam telinga tengah melalui perforasi marginal atau atik membran timpani.
4. Implantasi: pembentukan kolesteatoma yang berkembang dari implantasi kulit secara iatrogenik di dalam telinga tengah atau membran timpani akibat proses pembedahan, benda asing, atau trauma akibat ledakan.
Perkembangan kolesteatoma dibagi menjadi dua fase yaitu fase aktif dan pasif. Fase aktif ditandai dengan penetrasi dan proliferasi sel-sel basal epidermis ke jaringan ikat subepitelial. Fase pasif ditandai dengan terjadinya pembesaran kantung kolesteatoma yang tergantung luas permukaan deskuamasi dari matriks.
Patologi kolesteatoma menyebabkan terjadinya erosi tulang yang progresif dari osikel dan tulang sekitarnya (Pelealu, 2012).
2.10 Pemeriksaan A. Tes Garputala
Agar dapat mengetahui seseorang terkena gangguan pendengaran atau tidak maka harus dilakukan tes laboratorium dengan menggunakan dua cara yaitu menggunakan uji garputala dan audiometri. Garputala yang terbaik adalah garputala Riverbank 512 Hz. Uji garputala dasar adalah uji Rinne, Weber dan Schwabach. Uji Rinne digunakan untuk membandingkan lamanya hantaran tulang dengan hantaran udara. Uji Weber digunakan untuk menentukan apakah kerusakan pendengaran monoaural bersifat hantaran atau saraf dan membandingkan hantaran tulang pada kedua telinga. Sedangkan uji Schwabach dibandingkan untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dan pasien (Prasetyawati, 2010).
B. Kultur sensitivitas
Untuk manajemen OMSK yang lebih baik, klasifikasi medis dari uji
sensitivitas obat sangat diperlukan untuk memastikan antimikroba mana yang
tepat dan efektif untuk memberantas patogen (Prakash, 2013).
C. Radiologi
Pemeriksaan Multi Slice Computed Tomographyresolusi tinggi (HRCT) irisan tipis 0,625mm dapat menilai pneumatisasi mastoid dan struktur osikel lebih rinci dan CT scan preoperatif memiliki angka sensitifitas hampir 100%
serta spesifisitas 89%, sehingga dijadikan pemeriksaan standar emas sebelum dilakukan tindakan pembedahan.
Derajat destruksi tulang pada kasus OMSK disertai kolesteatoma berdasarkan CT scan dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Derajat ringan, terdapat erosi pada skutum (dinding lateral dari epitimpani) dan sebagian osikel.
b. Derajat sedang, terdapat destruksi pada tegmen timpani dan seluruh osikel.
c. Derajat berat, terdapat destruksi pada seluruh osikel, labirin, kanalis fasialis dan liang telinga luar (Nilasari, 2016).
Pada perforasi marginal, kulit dari saluran telinga dapat bermigrasi ke telinga tengah, ruang dan ke atap yang mengelilingi ossicles dan ke mastoid.
Kulit ini melepaskan sel-sel permukaannya yang tetap berada di ruang telinga tengah, tampak seperti bahan putih mutiara. Jika ini menjadi basah atau terinfeksi struktur tersebut membengkak dan dapat menghasilkan banyak kerusakan di telinga dan struktur di sekitarnya seperti otak dan saraf wajah (Hamd, 2017).
Gambar 2.8: A&B menunjukkan Axial CT Temporal dengan Kolesteatom
18
D. Audiometri Nada Murni
Audiometri nada murni adalah alat ukur yang umumnya digunakan untuk mengukur sensitivitas pendengaran. Sinyal dihantarkan melalui udara dan tulang. Nada murni adalah nada yang ditimbulkan oleh sebuah alat elektroakustik yang menghasilkan energi akustik yang bervariasi sebagai fungsi dari siklus per detik/hertz (Hz). Tes yang tergolong subjektif dan non- invansif ini menghasilkan grafik rekaman tingkat pendengaran secara kuantitatif maupun kualitatif. Nada yang dihasilkan oleh audiometri memiliki intensitas yang dapat dinaikkan atau diturunkan 5 desibel (dB). Alat ini sangat terkalibrasi sehingga kemampuan mendengar orang normal berada pada level 0 dB. Batas ambang konduksi udara yang diukur biasanya untuk nada berfrekuensi 250, 500, 1000, 2000, 4000 dan 8000 Hz. Batas ambang konduksi pada tulang yang diukur untuk nada berfrekuensi 25, 500, 1000, 2000 dan 4000 Hz. Jangkauan frekuensi berbicara berkisar antara 500-2000 Hz.
Rerata nada murni: Rata-rata dari batas ambang konduksi udara berada pada frekuensi 500, 1000 dan 2000 Hz frekuensi bunyi.
Air-bone gap: Batas ambang konduksi pada tulang digunakan untuk mengukur fungsi dari koklea. Selisih antara batas ambang konduksi udara dan konduksi tulang disebut air-bone gap, terjadi pada kurang pendengaran tipe CHL (Conductive Hearing Loss).
Interpretasi hasil dari audiometri nada murni :
Normal: Batas ambang konduksi udara dan konduksi tulang berada pada range 0-25 dB. Pada level ini seseorang mendengar dalam batas normal
Conductive Hearing Loss (CHL): Konduksi udara normal, konduksi udara mengalami penurunan (teruma pada nada berfrekuensi rendah).
Sensoneural Hearing Loss (SNHL): Konduksi udara dan konduksi tulang mengalami penurunan terutama pada nada berfrekuensi tinggi.
Mix Hearing Loss (MHL): Konduksi udara dan tulang mengalami
penurunan tetapi konduksi udara lebih berkurang karena adanya air-bone
gap (Toari, 2018).
(A) (B)
Gambar 2.9: (A) Hasil audiometri sebelum operasi didapatkan tuli konduktif sedang berat dengan ambang 61,25 dB. (B) Audiometri setelah operasi, dengan hasil tuli konduktif sedang berat 46,25
dB.
(Munilson, 2015)
E. Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA)
BERA adalah cara yang efektif dan non-invasif menilai status fungsional saraf pendengaran dan jalur sensorik pendengaran batang otak. BERA dihasilkan oleh saraf pendengaran dan selanjutnya struktur dalam jalur batang otak pendengaran. Informasi mengenai asal komponen gelombang individual dari BERA disediakan oleh Moller dan Janetta.
Gelombang I, ini adalah representasi dari senyawa potensial aksi di bagian distal saraf kranial VIII. Respons tersebut diyakini berasal dari aktivitas aferen serabut VIII saraf kranialis saat meninggalkan koklea dan maskanal pendengaran internal.
Gelombang II ini dihasilkan oleh saraf VIII proksimal seperti itu memasuki batang otak.
Gelombang III dihasilkan terutama di inti koklea (neuron urutan kedua).
Gelombang IV ini muncul dari neuron orde ketiga pontine. Sebagian besar terletak di nukleus olivari superior, tetapi tambahan kontribusi dapat berasal dari nukleus dan nukleus koklea lemniskus lateral.
Gelombang V, generasi gelombang V mencerminkan aktivitas berbagai
struktur anatomi pendengaran. Tajam puncak positif gelombang V muncul
20
terutama dari lemniscus lateral, berikut gelombang negatif lambat merupakan potensi dendritik dalam colliculus inferior.
Gelombang V adalah komponen yang paling sering dianalisis dalam aplikasi klinis dari BERA.
Gelombang VI dan VII. Gelombang ini tampaknya dihasilkan dalam colliculus inferior, mungkin dalam geniculate medial (Soni et al., 2016).
2.11 TATALAKSANA
Prinsip terapi OMSK tipe bahaya ialah pembedahan, yaitu mastoidektomi.
Jadi bila terdapat OMSK tipe bahaya maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan.
Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe aman atau bahaya, antara lain mastoidektomi sederhana, mastoidektomi radikal, mastoidektomi radikal dengan modifikasi, miringoplasti, timpanoplasti, pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty) (Soepardi et al., 2017).
Menurut Balfas (2017) teknik operasi yang dapat dilakukan antara lain:
a. Mastoidektomi Sederhana
Mastoidektomi sederhana adalah tindakan membuka korteks mastoid dari arah permukaan luarnya. Pada mastoidektomi sederhana untuk OMSK, jarang sekali dibutuhkan mastoidektomi simple lengkap, cukup hanya membuang jaringan patologik dan membuka aditus ad antrum jika tersumbat, sedangkan sel pneumatisasi mastoid yang masih utuh tidak perlu dibuang.
b. Mastoidektomi Radikal dan Modifikasi mastoidektomi radikal
Mastoidektomi radikal adalah tindakan membuang seluruh sel-sel mastoid
di rongga mastoid, meruntuhkan seluruh dinding belakang liang telinga,
membersihkan seluruh sel-sel mastoid yang memiliki drainase ke liang telinga
dan kavum timpani serta membersihkan seluruh sel-sel mastoid di sudut sino-
dura. Malleus dan Incus dibuang dan muara tuba eustachius ditutup dengan
ditandur jaringan lunak dan tulang rawan. Namun, sulit sekali membersihkan seluruh mukosa telinga tengah sehingga jika masih ada sisa sel-sel matoid akan meninggalkan kavitas operasi yang basah sehingga rentan terjadi proses peradangan. Maka dari itu, dikembangkan teknik operasi mastoidektomi radikal modifikasi. Bedanya dengan mastoidektomi radikal adalah mukosa kavum timpani dan sisa tulang pendengaran dipertahankan setelah proses patologis dibersihkan dengan baik. Tuba eustachius tetap dipertahankan dan dibersihkan agar terbuka. Kemudian kavitas operasi ditutup dengan fascia musculus temporalis serta dilakukan rekonstruksi tulang pendengaran.
c. Miringoplasti
Miringoplasti adalah prosedur otologis umum yang diindikasikan pada otitis media kronis mukosa dan bertujuan untuk menutup perforasi membran timpani untuk mencegah otorrhea berulang, dan membuat sebuah penghasil konduksi suara dalam aerasi yang baik berlapis mukosa pada rongga telinga tengah (Hosny, 2014).
d. Timpanoplasti dan Timpanoplasti pendekatan ganda
Tympanoplasti dapat didefinisikan sebagai prosedur untuk memberantas penyakit di telinga tengah dan merekonstruksi mekanisme pendengaran dengan atau tanpa pencangkokan membran timpani. Tympanoplasty melibatkan perbaikan cacat membran timpani dan rekonstruksi rantai ossicular yang rusak (Kumar, 2015).
Timpanoplasti dengan pendekatan ganda dilakukan untuk membersihkan kolesteatoma atau jaringan patologik lain baik di rongga mastoid maupun kavum timpani dengan mempertahankan dinding belakang liang telinga (Balfas et al., 2017).
2.12 Komplikasi
Menurut Corbridge (2011) komplikasi dapat terjadi ketika infeksi menyebar
dari telinga tengah.Ini dapat terjadi karena keterlibatan atau erosi tulang atau
ketika ada tromboflebitis dari pembuluh darah yang berkomunikasi yang
22
menularkan infeksi. Komplikasi ini dapat dibagi menjadi ekstrakranial dan intrakranial.
Komplikasi ektrakranial yang dapat terjadi adalah:
1. Mastoiditis
Sel-sel udara mastoid diisi dengan nanah. Erosi tulang dapat menyebabkan pembengkakan di belakang telinga dan penebalan jaringan postauricular, yang menyebabkan pinna terdorong keluar. Abses subperiosteal dapat terbentuk di belakang telinga ketika infeksi telah menembus tulang.
2. Palsy saraf wajah
Ini disebabkan oleh peradangan dan pembengkakan pada saraf VII di kanal tulangnya.
3. Labirinitis
Penyebaran infeksi ke telinga bagian dalam dan akan menyebabkan vertigo parah.
4. Petrositis
Penyebaran infeksi ke tulang petrous dan dapat melibatkan saraf kranial V dan VI.
Komplikasi intrakranial yang dapat terjadi adalah:
1. Abses lobus temporal 2. Abses serebelar
3. Trombosis sinus sigmoid 4. Meningitis
5. Trombosis vena jugularis
6. Hidrosefalus otitik
2.13 Kerangka Teori
Gambar 2.10: Kerangka teori
Usia
Jenis Kelamin OtitisBerulang
Higienitas rendah Telinga berair
Cairan telinga berbau busuk terkadang
bercampur darah
Tuli konduktif
Kolesteatoma
OMSK
Jinak Ganas
Mastoidektomi
Sederhana Radikal Kombinas
i
24
2.14 Kerangka Konsep
Gambar 2.11: Kerangka konsep
Usia
Jenis Kelamin
Komplikasi Ekstrakranial
Komplikasi Intrakranial
Hasil Audiometri
Mastoidektomi
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pasien otitis media supuratif kronis di RSUP Haji Adam Malik periode tahun 2015-2018.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik, Medan.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Desember 2019.
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien otitis media supuratif kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2015-2018.
3.3.2 Sampel
Sampel penelitian ini adalah seluruh data pasien yang terdapat di RSUP Haji Adam Malik periode tahun 2015-2018. Menurut Sastroasmoro (2018), rumus besar sampel minimal yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
𝑁 = 𝑍
𝑎2𝑃𝑄 𝑑
2N =
1,962×0,50×0,50,102
= 97
26
Keterangan:
N : Jumlah populasi
𝑍
𝑎: derivat baku alfa (biasanya 95%=1,96)
P : Proporsi kategori variabel yang diteliti ditetapkan 50% (0,5)
d : Presisi/derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan 10%
(0,10) Q : 1-P
Berdasarkan rumus besar sampel diatas, maka jumlah sampel minimum yang dibutuhkan untuk penelitian ini adalah 97.
3.4 TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling terhadap 592 pasien di poliklinik THT RSUP Haji Adam Malik dari tahun 2015-2018 dan didapati 106 pasien menderita OMSK.
3.5 KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI 3.5.1 Kriteria Inklusi
Pasien Otitis Media Supuratif Kronis tipe bahaya dan jinak yang sudah terdiagnosa di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorokan di RSUP Haji Adam Malik Medan.
Informasi telinga pada pasien Otitis Media Supuratif Kronis tipe bahaya dan jinak tercatat di rekam medik.
Telinga pasien Otitis Media Supuratif Kronis yang dilakukan Mastoidektomi sederhana, radikal dan modifikasi.
3.5.2 Kriteria Eksklusi
Data rekam medik pasien yang tidak lengkap dan sulit dibaca.
Pasien dengan riwayat operasi mastoid sebelumnya.
Disfungsi tuba eustachius yang diakibatkan oleh selain OMSK.
Riwayat kurang pendengaran kongenital atau sebelum menderita
OMSK.
3.6 METODE PENGUMPULAN DATA
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data rekam medis pasien otitis media supuratif kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan periode tahun 2015-2018.
3.7 METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Data yang diperoleh dari rekam medik dikelompokkan berdasarkan kelompok variabel yang telah ditentukan, selanjutnya akan diolah dengan menggunakan program komputer berupa aplikasi statistik.
3.8 DEFINISI OPERASIONAL
Tabel 3.1: Defenisi operasional
No Variabel Definisi Alat
Ukur
Cara Ukur
Hasil Ukur Skala Ukur 1. Usia Lama waktu hidup
sejak dilahirkan dalam tahun hingga ditentukannya telah menderita otitis media supuratif kronis. (Perdana, 2016)
Rekam Medis
Observasi 1 = 0-10 2 = 11-20 3 = 21-30 4 = 31-40 5 = >40
Interval
2. Jenis Kelamin Perbedaan bentuk, sifat dan fungsi biologi seseorang.
Rekam Medis
Observasi 1= laki-laki 2= perempuan
Nominal
3. Pekerjaan Suatu pekerjaan atau aktivitas sehari-hari
responden.
Rekam Medis
Observasi 1= bekerja 2= tidak bekerja
Nominal
4. Komplikasi Intrakranial
Sebuah perubahan tak diinginkan dari penyakit OMSK, kondisi kesehatan
Rekam Medis
Observasi 1= Abses serebelar 2= Meningitis 3= Trombosis Vena Jugularis
Nominal
28
atau terapi terkait dengan OMSK pada bagian intrakranial.
4=Hidrosefalus otitik 5= Trombosis sinus Sigmoid
6= Abses lobus temporal
5. Komplikasi Ekstrakranial
Sebuah perubahan tak diinginkan dari penyakit OMSK, kondisi kesehatan atau terapi terkait dengan OMSK pada bagian ekstrakranial.
Rekam Medis
Observasi 1 = Mastoiditis 2 = Labirinitis 3 = Petrositis 4= Palsy saraf wajah
Nominal
6. Hasil Audiometri sebelum dilakukan mastoidektomi
Hasil alat ukur yang umumnya digunakan untuk mengukur
sensitivitas
pendengaran pada pasien OMSK.
Rekam Medis
Observasi 1= Normal 2=Conductive Hearing Loss 3=Sensorineural Hearing Loss 4= Mix hearing loss
Nominal
7. Jenis
Mastoidektomi
Mastoidektomi adalah prosedur bedah untuk mengeluarkan sel udara mastoid sebagai pengobatan infeksi telinga tengah pada pasien OMSK.
Rekam Medis
Observasi 1= Mastoidektomi Sederhana
2 = Matoidektomi Radikal
3 = Mastoidektomi Kombinasi
Nominal
3.9 ETHICAL CLEARANCE
Penelitian ini telah mendapatkan izin Ethical Clearance dan disetujui oleh
Komisi Etik Fakultas Kedokteran USU. Penelitian ini menggunakan data
sekunder berupa rekam medis. Data yang didapat kemudian diolah dan disajikan
dalam tabel distribusi frekuensi terhadap variabel yang diteliti.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17 Km.12, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. RSUP Haji Adam Malik Medan merupakan Rumah Sakit Umum Kelas A, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.335/Menkes/SK/VII/1990 dan juga sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.502/Menkes/SK/IX/1991.Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rekam Medis RSUP Haji Adam Malik Medan.
A. DESKRIPSI USIA PASIEN
Variabel usia pasien otitis media supuratif kronis dalam penelitian ini dikategorikan antara lain usia 0-10 tahun, 11-20 tahun, 21-30 tahun, 31-40 tahun dan >40 tahun (Perdana, 2016). Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1.Distribusi frekuensi berdasarkan kelompok usia
Kelompok Usia Jumlah (n) Persentase (%)
0-10 9 8,5
11-20 33 31,1
21-30 32 30,2
31-40 17 16,0
>40 15 14,2
Total 106 100,0
Berdasarkan Tabel 4.1, kelompok usia yang paling banyak menderita otitis
media supuratif kronis adalah kelompok usia antara 11-20 tahun yaitu sebanyak
33 orang (31,1%), diikuti oleh kelompok usia antara 21-30 tahun yaitu sebanyak
33 orang (30,2%), kemudian kelompok usia 31-40 tahun sebanyak 17 orang
30
(16,0%), kelompok usia >40 tahun sebanyak 15 orang (14,0%), sedangkan kelompok usia 0-10 tahun sebanyak 9 orang (8,5%).
B. DESKRIPSI JENIS KELAMIN PASIEN
Berdasarkan data, diperoleh distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin penderita otitis media supuratif kronis di RSUP Haji Adam Malik pada tabel berikut.
Tabel 4.2. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)
Laki-laki 60 56,6
Perempuan 46 43,4
Total 106 100,0
Berdasarkan tabel 4.2, diperoleh hasil bahwa penderita otitis media supuratif kronis dominan diderita oleh laki-laki yaitu sebanyak 60 orang (56,6%), sedangkan perempuan sebanyak 46 orang (43,4%).
C. DESKRIPSI BERDASARKAN STATUS KERJA PASIEN
Berdasarkan data, diperoleh distribusi frekuensi berdasarkan status kerja pasien.Dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel 4.3. Distribusi frekuensi berdasarkan status kerja pasien
Status Kerja Frekuensi (n) Persentase (%)
Bekerja 29 27,4
Tidak bekerja 77 72,6
Total 106 100,0
Berdasarkan tabel 4.3, diperoleh hasil bahwa penderita otitis supuratif
kronis dominan diderita oleh pasien yang berstatus tidak/bukan pekerja yaitu
sebanyak 77 orang (72,6%) sedangkan yang bekerja sebanyak 29 orang (27,4%).
D. DESKRIPSI BERDASARKAN JENIS OMSK
Variabel jenis otitis media supuratif kronis dalam penelitian ini dikategorikan antara lain tipe ganas dan jinak. Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.4. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis OMSK
Jenis OMSK Frekuensi (n) Persentase (%)
Ganas 85 80,2
Jinak 21 19,8
Total 106 100,0
Berdasarkan tabel 4.4, dapat diperoleh hasil penderita otitis media supuratif kronis tipe ganas sebanyak 85 orang (80,2) dan tipe jinak sebanyak 21 orang (19,8).
E. DESKRIPSI BERDASARKAN KOMPLIKASI INTRAKRANIAL Berdasarkan data diperoleh distribusi frekuensi pasien otitis media supuratif kronis dengan komplikasi intrakranial, sebagai berikut.
Tabel 4.5.Distribusi frekuensi berdasarkan komplikasi intrakranial.
Komplikasi Intrakranial Frekuensi (n) Persentase (%)
Abses serebelar 6 5,7
Tidak komplikasi 100 94,3
Total 106 100,0
Berdasarkan tabel diperoleh hasil pasien otitis media supuratif kronis
dengan komplikasi intrakranial berupa abses serebral sebanyak 6 orang (5,7%)
dan yang tidak mengalami komplikasi intrakranial sebanyak 100 orang (94,3%).
32
F. DESKRIPSI BERDASARKAN KOMPLIKASI EKSTRAKRANIAL Berdasarkan data diperoleh distribusi frekuensi pasien otitis media supuratif kronis dengan komplikasi ekstrakranial, sebagai berikut.
Tabel 4.6.Distribusi frekuensi berdasarkan komplikasi ekstrakranial.
Komplikasi Ekstrakranial Frekuensi (n) Persentase (%)
Mastoiditis 88 83,0
Petrositis 2 1,9
Palsy saraf wajah 16 15,1
Total 106 100,0
Berdasarkan tabel 4.6, diperoleh hasil pasien otitis media supuratif kronis yang menderita mastoiditis sebanyak 88 orang (83,0 %), petrositis sebanyak 2 orang (1,9%) dan palsy saraf wajah sebanyak 16 orang (15,1%).
G. DESKRIPSI BERDASARKAN HASIL AUDIOMETRI
Berdasarkan data diperoleh hasil pemeriksaan audiometri pada pasien otitis media supuratif kronis, sebagai berikut.
Tabel 4.7.Distribusi frekuensi berdasarkan hasil audiometri.
Hasil Audiometri Frekuensi (n) Persentase (%)
Tuli konduktif 88 83,0
Tuli sensorineural 13 12,3
Tuli campuran 5 4,7
Total 106 100,0
Berdasarkan tabel 4.7, diperoleh hasil audiometri pasien otitis media
supuratif kronis dominan menderita tuli konduktif yaitu sebanyak 88 orang (83%),
tuli sensorineural sebanyak 13 orang (12,3%) dan tuli campuran sebanyak 5 orang
(4,7%).
H. DESKRIPSI BERDASARKAN JENIS MASTOIDEKTOMI
Berdasarkan data diperoleh hasil jenis mastoidektomi pada pasien otitis media supuratif kronis sebagai berikut.
Tabel 4.8. Distribusi frekuensi berdasarkan jenis mastoidektomi