• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Deskripsi Daerah Studi

Kota Lhokseumawe merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kota Lhokseumawe ditetapkan statusnya dikota berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001 yang wilayahnya mencakup 4 Kecamatan yaitu: Banda Sakti, Blang Mangat, Muara Dua dan Muara Batu. Secara geografis Kota Lhokseumawe terletak pada posisi 54’- 18’ Lintang

Utara dan 20’- 21’ Bujur Timur dengan batas-batas wilayah: Utara Selat Malaka, Selatan Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara, Barat Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara, Timur Kecamatan Syamtalira Bayu Kabupaten Aceh Utara.

Pada tahun 2007 Kota Lhokseumawe membuat Reservoir Waduk Pusong seluas 60 hektar yang dibangun untuk mengurangi banjir di Lhokseumawe. Waduk tersebut dapat bermanfaat untuk pembangkit listrik tenaga air, sumber air irigasi, pencegahan banjir (flood controle), dan sebagai pengatur air.

Teluk pusong nantinya akan ditutup dengan tanggul penahan air pasang yang panjangnya sekitar 1,50 km dengan lebar atas tanggul antara 8,00-30,00 m dan akan melingkari desa pusong lama, pusong baru, mon geudong dan desa

Keude Aceh. Tanggul tersebut akan membentuk suatu reservoir (kolam) yang akan menampung semua limpasan air hujan dengan luas tampungan mencapai 60 ha dan mempunyai daya tampung sekitar 850.000 m3. Limpasan air hujan dari Kota Lhokseumawe akan dialirkan secara bebas dengan hanya mengandalkan perbedaan topografi dan elevasi muka air (sistem gravitasi) kedalam reservoir. Batas-batas area kegiatan untuk sistem reservoir dan sistem drainase:

Utara : Desa Lancang Garam Timur : Selat Malaka

Selatan : Muara Cunda Barat : Krueng Cunda

Gambar 3.1. Waduk Pusong hasil pencitraan Google Earth (2013) Waduk pusong

Tujuan pembangunan Waduk Pusong adalah bertujuan untuk mengendalikan banjir akibat genangan air hujan dan banjir dari air pasang laut diwilayah pusat Kota Lhokseumawe yaitu di Kecamatan Banda Sakti.Tujuan pembangunan proyek ini diharapkan akan dapat dirasakan dampaknya oleh Kota Lhokseumawe, diantaranya akan meningkatkan kualitas fisik kota sebagai akibat perbaikan sistem drainase dan untuk mengatasi banjir. Selain itu, kehadiran waduk ini akan menciptakan efek ganda bagi perekonomian masyarakat sekitar khususnya dengan banyaknya para wisatawan dalam maupun luar daerah yang berkunjung ke proyek Reservoir tersebut sebagai objek wisata alam dan bahari. Mamfaat Waduk Pusong adalah :

1. Secara fisik Kota Lhokseumawe (Kecamatan Banda Sakti) terbebas dari banjir dan meningkatnya kualitas sanitasi dan estetika lingkungan.

2. Peningkatan pendapatan bagi masyarakat sekitar lokasi proyek karena tersedianya lapangan kerja bagi tenaga kerja disekitar lokasi proyek selama pembangunan dan berkembangnya lapangan usaha pasca kegiatan konstruksi.

3. Pengembangan daerah wisata baru di Kota Lhokseumawe.

3.1.2. Kondisi Topografi

Posisi geografis Kota Lhokseumawe mempunyai potensi yang sangat strategis baik dari lintas darat, laut maupun udara, member dampak positif terhadap mengikatnya arus transportasi disana. Keadaan topografinya yang relatif datar dengan kemiringan antara 0-8% pada kawasan pusat kota serta 8-15% pada kawasan pinggiran, menunjukkan bahwa tidak ada hambatan untuk pengembangan fisiknya atau mempunyai kemampuan sebagai tempat yang ideal

untuk menampung perkembangan kegiatan kota seperti perumahan, sarana dan prasarana kota, dan lainnya. Lahan yang relatif datar dapat menekan biaya pembanguna fisik dan penyediaan utilitas.

3.1.3. Kondisi Hidrogeologi

Mengingat relatif datar dan rendahnya permukaan lahan kota dari permukaan air laut, maka perlu diperhatikan sistem penanganan jaringan drainase kota sebagai saluran pengendali banjir kota dan saluran limbah rumah tangga.

Dari segi hidrologi, Kota Lhokseumawe dialiri oleh aliran air laut berupa selat yang menjadi pembatas dengan daerah lainnya yaitu krueng cunda. Keberadaan sungai ini akan menjadi pembatas perkembangan fisik perkotaan. Sungai ini selain berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) juga mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat, yaitu dapat dimanfaatkan potensinya untuk kegiatan perikanan, dan sebagainya.

3.1.4. Kondisi Administrasi

Secara administratif, Kota Lhokseumawe dibagi kedalam 4 (empat) wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Banda Sakti, Muara Dua, Blang Mangat dan Muara Satu yang merupakan wilayah pemekaran dari Kecamatan Muara Dua sejak tahun 2006. Keempat kecamatan ini melingkupi 9 (Sembilan) kemungkiman, dan 68 (enam puluh delapan) gampong.

Gambar 3.2. Peta Administrasi Kota Lhokseumawe

Kecamatan Muara Dua merupakan kecamatan yang memiliki wilayah paling luas. Kecamatan ini memiliki luas 57,80 km2 atau hampir 31,92% dari keseluruhanluas wilayah kota ini, Kecamatan Blang Mangat memiliki luas wilayah seluas 56,12 km2 atau 31 % dari luas Kota Lhokseumawe. Sementara Banda Sakti adalah kecamatan paling kecil luas wilayah nya, yaitu hanya 11,24 km2 atau 6,21% dari total luas daerah ini. Kecamatan Muara Satu, sebagai wilayah pemekaran dari Kecamatan Muara Dua memiliki luas 55,90 km2 (30,87%).

3.1.5. Sedimentasi Reservoir dan Drainase

Aliran air drainase biasanya mengandung kotoran atau sampah padat dan muatan sedimen sehingga dapat berpengaruh pada volume reservoir dan pendangkalan drainase itu sendiri. Daya tampung reservoir dan drainase akan semakin berkurang akibat terakumulasinya material padat tersebut. Laju

sedimentasi ini diperkirakan cukup besar mengingat daerah tersebut adalah daerah perkotaan dengan perilaku masyarakat dalam hal membuang sampah yang biasanya cukup buruk sehingga dampak ini nilailai negatif besar dan penting.

3.1.6. Hidraulik Pantai Aceh a. Gelombang

kondisi gelombang normal untuk pantai barat di dominasi oleh gelombang besar dari arah barat daya. Pantai banda aceh dan aceh timur terlindung dari gelombang besar. Pada pantai ini mempunyai tinggi gelombang yang rendah.

Sumber : kajian dasar pantai aceh dan nias laporan utama strategi dan pedoman,

Sea Defence consultants Mei 2007

b. Elevasi Muka Air

Elevasi muka air ditentukan oleh aksi pasang surut (pasut) dikawasan Aceh. Hasil dari kisaran pasut dapat dilihat sesuai table berikut :

Tabel 3.1 Elevasi Mauka Air

Wilayah Kisaran Pasut

LLWS-HHWS

Pantai barat aceh Pantai banda aceh Pantai timur aceh

0,85 – 1,05 m 1,60 – 1,70 m 1,80 – 2,70 m

Sumber : kajian dasar pantai aceh dan nias laporan utama strategi dan pedoman, sea defence consultants mei 2007

c . Arus

Pantai utara bercirikan oleh perbedaan slope elevasi yang cukup besar terkait dengan elevasi muka air pasut yang juga besar. Pulau-pulau yang berada di utara banda aceh bertindak sebagai sebuah penahan pergerakan gelombang pasang surut. Sehingga hasilnya arus yang relatif kuat akan dihasilkan diantara pulau-pulau dan daratan (kombinasi pasut dan sisa arus). Arus pasut maksimum pada saat pasang tinggi (spring tide) diantara pulau-pulau mencapai 1,8 m/s. untuk pantai timur dan barat arus pasang surut dan arus laut sangat kecil.

3.1.7. Drainase Lingkungan

Secara umum, system drainase dapat didefinisikan sebagai sarangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi atau membuang kelebihan air dari satu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal.Bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran pengumpul (collector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk (main drain), dan badan air penerima (receiving waters). Di

sepanjang sistem sering di jumpai bangunan lainnya seperti gorong-gorong, jembatan air (aquaduct), pelimpah, dan pintu-pintu air.

Dalam rangka pengembangan dan penataan kawasan permukiman dan peningkatan taraf hidup masyarakat di Kota Lhokseumawe, penanganan drainase merupakan salah satu prioritas yang perlu mendapatkan penanganan. Karena gangguan dan kerugian akan masalah banjir dan genangan telah mengakibatkan dampak penurunan kondisi sosial ekonomi masyarakat, kerusakan lingkungan pemukiman dan sektor-sektor ekonomi yang potensial.

Rencana pengembangan prasarana drainase disesuaikan dengan tingkat perkembangan kawasan terbangun dan prasana jalannya serta terintegrasi dengan pengendalian banjir dan program perbaikan jalan.Perencanaan sistem drainase Kota Lhokseumawe meliputi pembuatan sistem saluran primer, sekunder, dan tersier (kawasan permukiman), rehabilitasi saluran yang kondisinya buruk.Saluran pembuangan air yang direncanakan adalah krueng cunda dan krueng meuraksa serta alur-alur sungai lainnya. Saluran drainase primer mengikuti jalan utama (arteri primer, arteri sekunder dan kolektor primer), sedangkan saluran drainase sekunder mengikuti jalan kolektor sekunder dan jalan local, sementara saluran drainase tersier mengikuti jalan lingkungan permukiman penduduk.

3.1.7.1.Rencana Pengembangan Drainase

Sistem drainase yang direncanakan adalah system saluran terbuka dan tertutup. Untuk mengatasi masalah banjir dan genangan dikawasan pusat kota dan pemukiman disekitarnya, telah di buat reservoir diteluk pusong yang digunakan sebagai kolam penampungan air sebelum di alirkan ke laut. Reservoir ini dibuat

kota dapat mengalir ke reservoir. Saluran primer akan langsung terhubung dengan reservoir teluk pusong. Untuk saluran sekunder perlu direncanakan ulang secara keseluruhan agar dapat terkoneksi dengan saluran primer yang telah dibuat.

3.2. Data Teknis Reservoir Waduk Pusong

Dokumen terkait