BAB 4. HASILDAN PEMBEHASAN
A. Deskripsi Data Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data Tingkat Kemandirin dan Hasil Belajar Mahasiswa
Seperti telah dibahas di Bab 3, tingkat kemandirian belajar mahasiswa program PJJ PGSD dari Kabupaten Batang diukur menggunakan rubrik skala kemandirian belajar. Data sekundertingkat hasil belajar mahasiswa diperoleh dari daftar nilai program PJJ Batang. Komputasi data menggunakan program SPSS for Windows ver.17. Deskripsi statistik hasil pengukuran kemandirian belajar mahasiswa dirangkum dalam Tabel 2.
Tabel 2
Deskripsi Statistik Tingkat Kemandirian dan Hasil Belajar Mahasiswa PJJ Batang
Statistics
Kemandirian Hasil belajar
N Valid 34 34 Mean 75,94 82,88 Median 78,00 86,50 Mode 76 93 Std. Deviation 7,290 11,895 Variance 53,148 141,501 Minimum 56 50 Maximum 83 95
Tabel 2 memberikan informasi bahwa data statistik mean, median, mode, std deviation, variance, skor minimal dan maksimal kemandirian belajar mahasiswa berturut-turut mencapai 75,94, 78, 76, std deviation = 7,290 dan variance sebesar 53,148. Skor bergerak antara 56 sampai 83. Angka ukuran tendensi sentral dan variabilitas data menunjukkan bahwa penyebaran tingkat kemandirian belajar mahasiswa relatif homogen. Simpulan ini didasarkan pada data SD (7,290) dan varian data (53,148) lebih kecil dari tendensi sentralnya.
Pada variabel hasil belajar nampak bahwa mean = 82,88, median = 86,50,
mode = 93, std deviation = 11,895, variance = 141,501, skor minimal = 50 dan maksimal = 95. Agak berbeda dengan skor kemandirian belajar mahasiswa,skor
21
hasil belajar bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yaitu 50 sampai 95. Dilihat dari ukuran tendensi sentral dan variabilitas data menunjukkan bahwa penyebaran tingkat hasil belajar mahasiswa relatif homogen, meskipun homogenitas variansinya tidak sehomogen penyebaran skor kemandirian belajar. Simpulan ini didasarkan pada varian data (141,501) lebih besar dari tendensi sentralnya. Untuk melihat lebih detail distribusi skor kemandirian belajar dan hasil belajar mahasiswa dapat dicermati dalam Tabel 3.
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Tingkat Kemandirian Belajar Mahasiswa PJJ Batang No Interval skor Variabel Kategori Kemandirian Belajar Hasil Belajar f % f % 1 Sangat Tinggi ≥ 90 0 0% 15 44,1% 80 - 89 13 38,2% 9 26,5% 2 Tinggi 70 -79 16 47,1% 6 17,6% 60 - 69 3 8,8% 2 5,9% 3 Cukup 50 - 59 2 5,9% 2 5,9% 40 - 49 0 0% 0 0% 4 Rendah 30 - 39 0 0% 0 0% 20 - 29 0 0% 0 0% 5 Sangat Rendah 10 - 19 0 0% 0 0% < 10 0 0% 0 0% Total 34 100% 34 100%
Tabel 3 memberikan informasi bahwa variabilitas skor hasil belajar mahasiswa lebih heterogen dibandingkan skor kemandirian belajar mahasiswa. Pada pengukuran kemandirian belajar, ditemukan 2 mahasiswa (5,9%) memperoleh skor antara 50-59,berada pada kategori cukup. Terdapat 3 mahasiswa (8,8%) memperoleh skor antara 60-69 berada pada kategori tinggi. Terdapat 16 orang mahasiswa (47,1%) memperoleh skor 70-79 dalam kategori tinggi, dan 13 mahasiswa (38,2%) memperoleh skor antara 80-89, berada pada kategori sangat tinggi.
22
Pada pengukuran hasil belajar ditemukan 4 mahasiswa (11,1%) memperoleh skor antara 60-69, 25 orang mahasiswa (69,4%) memperoleh skor 70-79, dan 7 orang mahasiswa (19,5%) memperoleh skor 80-89. Artinya ada peningkatan 19,5% mahasiswa yang memperoleh skor pada kategori sangat tinggi, yang tidak ditemukan pada pengukuran awal. Visualisasi distribusi kemandirian belajar mahasiswa dapat dicermati pada Gambar 2.
0 0 0 0 0 2 3 16 13 0 0 0 0 0 0 2 2 6 9 15 < 10 10 - 19 20 - 29 30 - 39 40 - 49 50 - 59 60 - 69 70 -79 80 - 89 ≥ 90
Distribusi Frekuensi Kemandirian dan hasil belajar mahasiswa PJJ Batang
Kemandirian belajar Hasil belajar
Gambar 2. Grafik Distribusi Frekuensi Tingkat Kemandirian dan Hasil Belajar Mahasiswa PJJ Batang
2. Data Hasil Analisis Faktor dominan Kemandirian Belajar Mahasiswa
Data tingkat kemandirian belajar mahasiswa secara keseluruhan seperti telah dipaparkan di atas, selanjutnya diperinci berdasarkan data setiap komponen/faktor, yaitu komponen orientasi pada tujuan, belajar aktif, motivasi diri, dan bekal pengetahuan yang dimiliki. Tabel 4 memaparkan deskripsi data faktor-faktor tingkat kemandirian belajar mahasiswa.
23
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Faktor-faktor Kemandirian Belajar Mahasiswa
Faktor-faktor kemandirian Belajar Mahasiswa
Kate-gori
Motivasi diri Orientasi pada tujuan Belajar secara aktif Berbekal pengetahuan awal Int. f % Int. f % Int. f % Int. f %
ST > 20 4 11,8 > 11 0 0 > 41 0 0 > 5 19 55,9 T 18 -20 14 41,2 10 -11 22 64,7 36 - 41 23 67,6 5 10 29,4 C 15 -17 11 32,4 8 -9 8 23,5 30 - 35 6 17,6 4 3 8,8 R 12 -14 5 14,7 6 - 7 4 11,8 24 - 29 4 11,8 3 1 2,9 SR < 12 0 0 < 5 0 0 < 24 1 2,9 < 3 1 2,9 Jumlah 34 100 34 100 34 100 34 100
Ket. ST = Sangat Tinggi, T = Tinggi, C = Cukup, R = Rendah, dan SR = Sangat Rendah
Tabel 4 memberikan informasi bahwa pada faktor motivasi diri, ada 18 (4+14) orang mahasiswa (53%) memiliki motivasi diri tinggi dan sangat tinggi dalam mencapai kesuksesan belajar. Ada 11 mahasiswa (32,4%) memiliki motivasi diri cukup, dan 5 mahasiswa memiliki motivasi diri rendah dalam mencapai kesuksesan belajar.
Pada faktor berorientasi pada tujuan, tidak satupun mahasiswa (0%) yang memiliki orientasi pada pencapaian tujuan mengikuti perkuliahan pada kategori sangat tinggi. Ada 22 orang mahasiswa (64,7%) memiliki orientasi tinggi dalam mencapai tujuan perkuliahan. Ada 8 mahasiswa (23,5%) memiliki orientasi kategori cukup dan 4 mahasiswa (11,8%) memiliki orientasi rendah dalam pencapaian tujuan.
Pada faktor belajar aktif, tidak satupun mahasiswa (0%) yang memiliki keaktifan belajar kategori sangat tinggi dalam mengikuti perkuliahan. Ada 23 orang mahasiswa (67,6%) memiliki keaktifan belajar yang tinggi dalam mengikuti perkuliahan. Ada 6 mahasiswa (17,6%) memiliki keaktifan belajar pada kategori cukup, ada 4 mahasiswa (11,8%) memiliki keaktifan belajar pada kategori rendah, bahkan ada 1 orang mahasiswa (2,9%) memiliki keaktifan belajar sangat rendah.
Pada faktor berbekal pengetahuan awal, sebagian besar mahasiswa, yaitu 29 (19+10) orang (85,3%) menyatakan memiliki bekal pengetahuan awal pada kategori
24
sangat tinggi dan tinggi dalam memecahkan masalah-masalah perkuliahan. Ada 3 orang mahasiswa (8,8%) memiliki keaktifan belajar yang tinggi dalam mengikuti perkuliahan. Ada 6 mahasiswa (17,6%) memiliki bekal pengetahuan awal pada kategori cukup, ada 1 mahasiswa (2,9%) memiliki bekal pengetahuan awal pada kategori rendah, bahkan ada 1 orang mahasiswa (2,9%) memiliki bekal pengetahuan awal pada kategori sangat rendah.
Berdasarkan uraian faktor-faktor kemandirian belajar, nampak bahwa berbekal pengetahuan awal (F4) merupakan faktor paling dominan. Kemudian berturut-turut diikuti oleh faktor belajar aktif (F2), faktor motivasi diri dan yang paling rendah faktor berorientasi pada tujuan. Data deskripstif faktor dominan ini sejalan dengan hasil tes Chi-Square (Friedman Test) seperti tertera dalam Tabel 5.
Tabel 5
Mean Ranks Faktor kemandirian belajar mahasiswa
Faktor Mean Rank
Berorientasi pada tujuan (F1) 1,84
Belajar aktif (F2) 2,74
Motivasi diri (F3) 2,01
Berbekal pengetahuan awal (F4) 3,41
Test Statistics N 34 Chi-Square 33,606 df 3 Asymp. Sig. ,000 a Friedman Test
3. Data Uji perbedaan Hasil Belajar Laki-laki dan Perempuan yang dimoderatori oleh Kemandirian Belajarnya
Seperti telah dibahas pada bagian teknik analisis data, sebelum melaksanakan uji
ANCOVA, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dan homogenitas dilaksanakan dengan bantuan SPSS
dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji Levene. Berikut dipaparkan hasil uji normalitas dan uji homogenitas hasil belajar dan tingkat kemandirian belajar mahasiswa. Dari pengujian normalitas One sample Kolmogorov-Smirnov Test diperoleh nilai Assymp. Sig
25
(2-tailed), dan berdasarkan kriteria pengujian normalitas data Kolmogorov-Smirnov Test, maka seluruh data yang meliputi skor hasil beljar dan skor kemandirian belajar semuanya berdistribusi normal. Keputusan kenormalan distribusi ini karena keseluruhan data Assym. Sig atau nilai signifikansi keseluruhan data > α = 0,05. Hasil uji Levene
dapat diketahui bahwa, kedua data nilai yaitu data hasil belajar laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki nilai signifikansi sebesar 0,23 dan 0,22 yang lebih besar dari pada 0,05. Hal ini berarti bahwa kedua data homogen.
Ringkasan uji ANCOVA seperti tertera dalam Tabel 6, memberikan informasi besarnya nilai F dan signifikansinya. Pada sumber varian corrected model, nampak bahwa F hitung sebesar 35,503 dengan taraf signifikansi hitung 0,000. Oleh karena 0,000 < α = 0,050, maka pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen signifikan. Maknanya bahwa model perkuliahan program PJJ bersama-sama dengan kemandirian belajar secara simultan memiliki dampak secara signifikan terhadap kompetensi hasil belajar mahasiswa.
Tabel 6
Ringkasan Uji ANCOVA Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: skor_belajar
Source Type III Sum
of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 3250,429(a) 2 1625,214 35,503 ,000
Intercept 269,362 1 269,362 5,884 ,021 skor_bm 127,148 1 127,148 2,778 ,106 jeniskelamin 722,183 1 722,183 15,776 ,000 Error 1419,101 31 45,777 Total 238232,000 34 Corrected Total 4669,529 33
a R Squared = ,696 (Adjusted R Squared = ,676)
Pada varian kemandirian belajar (skor_bm), diperoleh nilai F hitung sebesar 2,778 dengan signifikansi hitung 0,106. Oleh karena nilai 0,106 jauh lebih besar dari α = 0,050, maka nilai F tidak signifikan. Artinya bahwa tidak ada perbedaan pengaruh tinggi rendahnya kemandirian belajar secara parsial dengan hasil belajar mahasiswa.
Pada varian jenis kelamin, diperoleh nilai F hitung sebesar 15,77 dengan signifikansi hitung 0,000. Oleh karena nilai 0,000 lebih kecil dari α = 0,050, maka nilai
26
F signifikan. Artinya bahwa ada perbedaan signifikan antara jenis kelamin dengan hasil belajar mahasiswa.
Hasil analisis kovariat ini disamping menggambarkan perbedaan pengaruh jenis kelamin terhadap hasil belajar, juga memberikan informasi tentang hubungan linier antara kemandirian belajar sebagai variabel kovariat dengan hasil belajar mahasiswa sebagai variabel bebas. Gambaran hubungan linier kovariat dengan variabel bebas dapat diamati dari Tabel 7.
Berdasarkan parameter estimasi dalam Tabel 6 dan formula umum persamaan regresi sederhana Y = a + bX, dimana a adalah konstanta (α) dan b adalah koefisien regresi (β), maka garis regresinya adalah Y = 54,764 + 0,110*Kemandirian belajar.
Persamaan ini dapat digunakan untuk memprediksi kompetensi hasil belajar mahasiswa berdasarkan tingkat kemandirian belajarnya.
Tabel 7
Ringkasan Parameter Estimates Hubungan Linier antara Kemandirian belajar dengan Kompetensi Hasil Belajar
Parameter Estimates
Dependent Variable: skor_belajar
Parameter B Std. Error t Sig. 95% Confidence Interval Partial Eta Squared Intercept 53,764 19,900 2,702 ,110 13,178 94,349 ,191 skor_bm ,423 ,254 1,667 ,106 -,095 ,941 ,082 [jeniskelamin=1] -20,445 5,147 -3,972 ,000 -30,944 -9,947 ,337 [jeniskelamin=2] 0(a) . . . . . .
a This parameter is set to zero because it is redundant.
Misalnya, dari persamaan Y = 54,764 + 0,110*Kemandirian belajar, kita dapat memprediksi skor kompetensi hasil belajar mahasiswa (Ŷ) apabila diketahui kemandirian belajar = 70; Maka dapat dihitung Ŷ = 54,764 + 0,110*70 = 62,464. Artinya bahwa skor kemandirian belajar mahasiswa sebesar 70 dapat memprediksi hasil belajar mahasiswa tersebut 62,464.
Secara visual, rata-rata hasil belajar yang menjadi parameter prediktor dapat diamati dari Gambar 3.
27
Gambar 3. Grafik estimasi dampak Kemandirian belajar terhadap Hasil Belajar Mahasiswa
4. Deskripsi Hasil FGD
Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri 15 orang mahasiswa dan 3 orang dosen berhasil mengkonfirmasi permasalahan seperti uraian berikut. Pada permasalahan diskusi “Kalau kita gunakan angka persentase 1 sd 100%, seberapa tinggikah tingkat kemandirian belajar kita dalam mengikuti keseluruhan program perkuliahan PJJ?” Hampir 90% mahasiswa yang hadir dalam FGD mengatakan bahwa mereka merasa memiliki kemandirian belajar yang tinggi. Mereka menambahkan bahwa disela-sela tugas mereka sebagai guru SD, mereka menyiapkan tugas-tugas perkuliahan.
Pada topik diskusi “Apakah tingkat kemandirian belajar tersebut dapat digunakan untuk memprediksi hasil belajar kita? Semua peserta diskusi menyatakan bahwa mereka merasakan bahwa jikalau mereka berdaya upaya untuk belajar dan mengerjakan tugas dengan baik, mereka akan memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Sebaliknya mereka akan memperoleh hasil belajar yang rendah jika kurang berupaya dalam mengikuti perkuliahan.
Pada topik diskusi hasil penelitian Reio & Davis (2005) “bahwa orang yang berusia 30 - 54 tahun memiliki tingkat kemandirian belajar lebih tinggi dari siswa SMA”. Mereka menyetujui bahwa justru pada usia mereka sekarang (usia antara 26 sd
28
31 tahun) mereka menyadari pentingnya belajar. Bahkan mereka kurang aktif belajar semasa SMA.
Pada pertanyaan diskusi “Benarkan terdapat perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita berkaitan dengan kemandirian belajarnya?” Para peserta FGD pria semua
menyatakan bahwa teman-teman perempuan memiliki kemandirian belajar lebih tinggi darinya. Semantara para mahasiswa perempuan sebagian besar menyatakan hal yang sama.