• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Data Penelitian

1. Deskripsi Data Penelitian

Statistik deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2008). Deskripsi data dalam penelitian ini terangkum dalam tabel berikut:

Tabel 7

Deskripsi Data Penelitian

KE PB SK

Jumlah Data (N) 50 ( L = 7, P = 43) 50 50 Rata-Rata (Mean) 169,12 83,54 120,82 Nilai Minimal (Minimum) 140,00 72,80 67,06 Nilai Maksimal (Maximum) 189,00 97,82 198,80 Standar Deviasi (SD) 11,50 4,69 26,91

Keterangan : KE (Kecerdasan Emosi), PB (Prestasi Belajar), SK (Situasi Kelas)

Data yang diperoleh peneliti keseluruhan berjumlah 50 untuk masing-masing variabelnya, dengan rincian variabel kecerdasan emosi diperoleh dari 7 guru laki-laki dan 43 guru perempuan. Rata-rata skor kecerdasan emosi guru yang menjadi subjek penelitian adalah 169,12 dengan standar deviasi 11,5. Berdasarkan perhitungan skor maksimal dan minimal diperoleh Mean teoritik data kecerdasan emosi sebesar 125, sedangkan nilai Minimum diketahui sebesar 140,00 dengan demikian data kecerdasan emosi subjek penelitian secara keseluruhan tergolong tinggi.

Untuk data prestasi belajar diketahui bahwa rata-ratanya adalah 83,54 dan standar deviasinya sebesar 4,69. Kategorisasi data berdasarkan distribusi normal diperoleh sebagai berikut; kategori rendah (X < 78,85) berjumlah 6 atau 12 % dari total data, kategori sedang (78,85 ≤ X ≤ 88,23) berjumlah 36 atau 72 %, sedangkan kategori tinggi ( X > 88,23) berjumlah 8 atau 16 %. Dengan demikian prestasi belajar siswa mayoritas berada pada kategori sedang.

Data situasi kelas diketahui rata-rata data mentahnya adalah 120,82 dan standar deviasinya sebesar 26,91. Kategorisasi data berdasarkan distribusi normal adalah sebagai berikut; kategori rendah (X < 93,91) berjumlah 6 atau 12 % dari seluruh data, kategori sedang (93,91 ≤ X ≤ 147,73) berjumlah 38 atau 76 %, sedangkan kategori tinggi (X > 147,73) berjumlah 6 atau 12%. Dengan demikian data situasi kelas mayoritas juga berada pada kategori sedang.

2. Uji Asumsi

Sebelum melakukan uji statistik dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian, perlu dilakukan beberapa uji asumsi untuk menentukan teknik statistik yang sesuai. Uji-uji asumsi dalam analisis regresi adalah uji normalitas, linearitas, homoskedastitas, dan no mulikolinearitas. Hasil analisis keempat uji asumsi tersebut dapat dilihat melalui tabel berikut :

Tabel 8

Hasil Uji Asumsi

Uji Asumsi Analisis Hasil

Statistik Syarat Kesimpulan Asumsi Normalitas Kolomogorov-Smirnov p (1,000) p > 0,05 Terpenuhi Linearitas Lagrange Multiplier Terpenuhi No Multi

Kolinearitas TOL dan VIF TOL (0,996)

VIF (1,004)

TOL > 0,1

VIF ≤ 10 Terpenuhi

Homoskedastitas Scatter Plot Lihat lampiran 5

Tidak membentuk pola

tertentu Terpenuhi

Melalui tabel tersebut dapat diketahui bahwa keempat uji asumsi terpenuhi, sehingga analisis parametrik dapat digunakan. Dengan terpenuhinya semua uji asumsi tersebut, peneliti menjadi yakin bahwa hasil uji hipotesis yang diperoleh merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya, dengan kata lain terhindar dari

overestimate atau underestimate (Santoso, 2010).

3. Uji Hipotesis : Analisis Regresi

Untuk menjawab keempat rumusan masalah dalam penelitian ini perlu dilakukan beberapa langkah uji hipotesis. Hipotesis pertama, kedua dan ketiga dilakukan dengan analisis regresi sederhana, sedangkan hipotesis keempat dapat dijawab setelah mengetahui hasil hipotesis pertama, kedua dan ketiga serta analisis tambahan yakni regresi berganda dengan kecerdasan emosi guru dan situasi kelas sebagai predictor. Adapun uraian lebih untuk masing – masing analisis adalah sebagai berikut:

a. Hipotesis I: Pengaruh Kecerdasan Emosi (KE) terhadap Prestasi Belajar (PB)

Pengujian ini dilakukan dengan analisis regresi sederhana antara Kecerdasan Emosi Guru dengan Prestasi Belajar Siswa. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel 9

Regresi Kecerdasan Emosi terhadap Prestasi Belajar Siswa

N Freg p

50 0,898 0,348

Dari hasil tersebut terlihat bahwa hubungan pengaruh kecerdasan emosi dengan prestasi belajar siswa terbukti positif namun tidak signifikan (F = 0,898, p

= 0,348). Dengan demikian hipotesis I, yang menyatakan bahwa kecerdasan emosi guru berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar, tidak diterima.

b. Hipotesis II: Pengaruh Kecerdasan Emosi (KE) terhadap Situasi Kelas (SK)

Pengujian ini dilakukan dengan analisis regresi sederhana antara kecerdasan emosi guru terhadap situasi kelas. Hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 10

Regresi Kecerdasan Emosi terhadap Situasi Kelas

N Freg p

Dari hasil tersebut terlihat bahwa hubungan pengaruh kecerdasan emosi dengan situasi kelas terbukti positif namun tidak signifikan (F = 0,206, p = 0,652). Dengan demikian hipotesis II, yang menyatakan bahwa kecerdasan emosi guru berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap situasi kelas, tidak diterima.

c. Hipotesis III: Pengaruh Situasi Kelas (SK) terhadap Prestasi Belajar (PB)

Pengujian hubungan pengaruh antara situasi kelas dan prestasi belajar siswa juga dilakukan dengan analisis regresi sederhana. Hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 11

Regresi Situasi Kelas terhadap Prestasi Belajar Siswa

N Freg p

50 11,440 0,001

Dari hasil tersebut terlihat bahwa hubungan pengaruh situasi kelas dengan prestasi belajar terbukti positif dan signifikan (F = 11,440, p = 0,001). Dengan demikian hipotesis III, yang menyatakan bahwa situasi kelas berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa, diterima.

Karena terbukti signifikan, dapat dibuat sebuah persamaan regresi yang nantinya dapat digunakan untuk memprediksi. Penentuan persamaan regresi dan besarnya pengaruh antar kedua variabel dapat diperoleh melalui data berikut:

Tabel 12

Analisis Kelayakan Konstanta Situasi Kelas

Variabel Unstandardized Coefficient (B) Signifikansi R Square

(Constant) 74,300 0,000

0,192

SK 0,076 0,415

Diketahui bahwa konstanta = 74,300, dan koefisien SK = 0,076, maka untuk memperoleh Prestasi Belajar (PB) dapat digunakan persamaan regresi

. Sedangkan nilai R2 (0,192) memiliki arti bahwa situasi kelas memberikan pengaruh sebesar 19,2 % terhadap prestasi belajar siswa.

d. Hipotesis IV: Pengaruh Kecerdasan Emosi (KE) terhadap Prestasi Belajar melalui Situasi Kelas (SK)

Dalam pengujian hipotesis keempat ini diperlukan analisis regresi dengan variabel mediator. Situasi kelas berperan sebagai variabel antara (mediator) sedangkan variabel kecerdasan emosi guru merupakan variabel independen dan prestasi belajar adalah variabel dependen. Untuk menjawab hipotesis ini, variabel situasi kelas harus terbukti berperan sebagai mediator. Adapun syarat – syarat pembuktian peran mediasi adalah sebagai berikut: (1) variabel independen (Kecerdasan Emosi) berpengaruh langsung terhadap variabel dependen (Prestasi Belajar) secara signifikan atau sering disebut direct effect, (2)variabel independen terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap variabel mediator (Situasi Kelas), (3) variabel mediator terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen, serta (4) hubungan pengaruh variabel independen bersama-sama

dengan variabel mediator terhadap variabel dependen lebih kecil dari pada pengaruh langsung independen variabel terhadap dependent variabel (Ghozali, 2011; Baron & Kenny, 1986).

Syarat pertama, kedua dan ketiga dalam pembuktian mediasi telah terjawab melalui pengujian hipotesis sebelumnya sedangkan syarat keempat dilakukan dengan analisis regresi berganda sebagai berikut:

Tabel 13

Regresi Kecerdasan Emosi dan Situasi Kelas pada Prestasi Belajar Siswa

N Freg p

50 6,020 0,005

Dari hasil tersebut terlihat bahwa hubungan pengaruh kecerdasan emosi dan situasi kelas terhadap prestasi belajar terbukti positif dan signifikan (F = 6,020, p

= 0,005). Namun terlihat bahwa pengaruh kecerdasan emosi bersama-sama dengan situasi kelas terhadap prestasi belajar siswa lebih besar dibandingkan dengan pengaruh kecerdasan emosi sendiri terhadap prestasi belajar secara langsung (direct effect).

Melalui hasil tersebut terbukti bahwa syarat mediasi tidak terpenuhi seluruhnya hanya langkah ketiga saja yang terpenuhi, yakni situasi kelas berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar, sedangkan syarat pertama, kedua dan keempat tidak terpenuhi. Dengan demikian, variabel situasi kelas tidak terbukti memediasi hubungan pengaruh kecerdasan emosi dengan prestasi belajar, melainkan berperan secara independen dalam mempengaruhi prestasi belajar.

Dokumen terkait