BAB III PENYAJIAN DATA
B. Deskripsi Data Penelitian
Salah satu tahap paling penting dalam penelitian ini adalah kegiatan
pengumpulan data, yaitu menjelaskan kategori data yang diperoleh. Setelah itu data
dan fakta hasil penelitian empiris disusun. Diolah yang kemudian ditarik dalam
bentuk pernyataan atau kesimpulan yang bersifat umum. Untuk itu peneliti harus
memahami berbagai hal yang berkaitan dengan pengumpulan data, terutama
pendekatan dan jenis penelitian yang dilakukan.
Pengumpulan data ini dilakukan tidak hanya ketika rutinitas komunitas Bang
Bang Wetan Surabaya satu bulan sekali, namun juga dilakukan ketika diluar rutinitas
komunitas Bang Bang Wetan. Peneliti memperoleh data dari wawancara langsung
dengan jamaah dan penggiat maiyah mengenai makna Bang Bang wetan Surabaya
serta konstruksi identitas jamaah maiyah. Berikut ini hasil Interview (wawancara)
peneliti dengan Narasumber , peneliti turun lapangan dalam upaya mencari data yang
sesuai dengan rumusan masalah. Peneliti bertanya mengenai
1. Makna Bang Bang Wetan Surabaya Bagi Jamaah Maiyah Surabaya
Kehadiran komunitas Bang Bang Wetan di Kota Surabaya memiliki beragam
warna, karena berbagai lapisan tanpa sekat duduk bersilah di tempat yang sama
dalam kurun waktu yang cukup lama. Dari hal tersebut menarik untuk lebih dalam
digali mengenai makna Bang Bang Wetan Surabaya bagi Jamaah Maiyah Bang Bang
68
a. Oase di Tengah Kehidupan Metropolis
Bang Bang Wetan menjadi sebuah tempat berkumpulnya berbagai lapisan
masyarakat, suku, agama, dan ras. Bang Bang Wetan seolah menjadi suplemen baru
bagi masyarakat Surabaya. Sebagai masyarakat metropolis masyarakat Surabaya
sudah terlalu lelah dengan berbagai macam hiruk pikuk perkotaan, intrik, hingga
politik. Bang Bang Wetan hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai angin segar
untuk memberikan warna baru dari penatnya kehidupan kota.
Berdasarkan wawancara dengan Dahlan seorang pedagang di pasar berusia 56
tahun mengungkapkan makna dirinya mengikuti komunitas Bang Bang Wetan
Surabaya, menurutnya mengikuti komunitas Bang Bang Wetan merupakan suntikan
keyakinan dalam mengarungi peliknya kehidupan.
“Melok koyok ngene iki hasile luar biasa mas kanggo aku, istilahe ngunu iku, yoopo yo gak mek oleh dunyo tok, tapi juga dapat akhirat mas, karena Bang
Bang Wetan itu suntikan keyakinan mas bagi saya dalam menjalani ruwet’e
urip iki. Segala sesuatu yang awalnya dirasa tidak mungkin menjadi mungkin
”12
Dahlan juga menjelaskan Bang Bang Wetan seperti obat mujarab bagi berbagai
macam penyakit , bahkan tidak ada duanya di bagian dunia manapun, ratusan orang
dapat berkumpul bersama dalam kurun waktu cukup yang cuku lama, namun bisa
begitu enjoy dan menikmatinmya.
Muhammad Allan Edy Putra berusia 22 tahun juga mengatakan, di komunitas
Bang Bang Wetan Surabaya merupakan tempatnya berlabuh. Ia juga menjelaskan
12
Wawancara dengan Dahlan dilakukan pada 14 Maret 2017 pukul 21.14 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Balai Pemuda Surabaya.
69
Bang Bang Wetan baginya sudah seperti rumah sendiri yang mana ia bebas
melakukan apa saja.
“Bang Bang Wetan Surabaya itu mas, merupakan tempat berlabuh bagi saya, di
Bang Bang Wetan itu ada kenyamanan yang tidak bisa saya dapatkan ditempat
lain mas. Bang Bang Wetan itu rumah bagi saya, wes ngeneloh mas, sampean
pasti tau pas kita sedang dirumah sendiri, kita bisa bebas ngapain saja, bahkan
misuh, njungkir walek, yo sak karepmu, kate lapo wong omah-omahku, koyok ngunulah mas, tapi ibarat’e omah dewe yo keneh tetepn kuduk njogo biar
rumah tersebut biar tetap bagus. Bahkan omah iku tempat kita kembali, sejauh
apapun kita pergi, sesumpek apapun kita menjalani peliknya kehidupan, Bang
Bang Wetan adalah tempat yang tepat untuk singgah.”13
Muhammad Allan juga mengatakan sosok Emha Ainun Najib dan Sabrang
Mowo Damar Panuluhlah yang selalu memberikan elobarasi pemikiran dengan
berbagai alternatif serta perspektif menjadikannya memiliki tingkat kesadaran
terhadap diri, agama, dan negara. Kesadaran akan sejatinya manusia dan ditakdirkan
hidup di Indonesia.
Muchammad Aminullah yang juga menjabat sebagai Sekjen Bang Bang Wetan
Surabaya mengkungkapkan, Bang Bang Wetan Surabaya merupakan tempat untuk
berproses dirinya untuk lebih, mengenal Tuhan dan negara.
“Bang Bang Wetan Surabaya itu merupakan Oase bagi saya, untuk kembali
mendapatkan nilai – nilai luhut yang hilang di kehidupan perkotaan. Logika-
logika syariat yang bukan doktrinasi, namun mengena dan tertanam lekat di dalam alam bawah sadar kita memantik saya untuk lebih berfikir terkait jadi
diri kita, Tuhan kita, serta negara kita. Semisalekoyok ngenenek awakmu gak
sembahyang yo sak karepmu, tapi mosok yo awakmu gak sembahyang rek, opo gak sungkan. Nah logika-logika seperti itulah yang memang mampu
mempertajam kehidupan, syariat maupun pemikiran. .”14
13
Wawancara dengan Muhammad Allan dilakukan pada 19 Maret 2017 pukul 13.25 WIB di Warung Kopi Jemur
14
Wawancara dengan M. Amin pada 13 April 2017 pukul 03.45 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
70
b. Energi Lingkaran Cinta
Komunitas Bang Bang Wetan dilakukan dengan cara duduk bersilah dan terjadi
dialog dua arah, duduk bersilah sama rendah larut dalam diskusi dalam kurun waktu
yang cukup lama. Dari situ terciptalah sebuah atmosfer yang mampu memberikan
energi dalam sebuah lingkaran penuh cinta.
Mardiyah seorang yang berprofesi sebagai Guru di Sidoarjo mengatakan,
baginya Bang Bang Wetan memiliki nilai – nilai ketulusan serta semangat cinta dari
Cak Nun untuk mengasuh atau ngemong masyarakat bawah, menjadi sebuah energi
tersendiri yang mampu ia serap dan terima dengan setulus cinta.
“Di Bang Bang Wetan itu mas bagi saya punya banyak nilai lebih, terutama
nilai tentang kasih sayang yang tertanam lekat, dan nilai itu membentuk lingkaran cinta yang saling mengisi, dan menghargai, namun tetap berputar sesuai pada porosnya. Berada dalam energi lingkaran cinta tersebutlah yang merupakan pengerak dalam menemukan serta menguatkan posisi diri saya
sebagai manusia yang hidup di bumi Indonesia ”15
Setiawan yang berprofesi sebagai penjaga warung kopi mengatakan, baginya
di Bang Bang Wetan itu seperti proses transfer energi positif untuk membangun
pribadi yang lebih baik.
“Bang Bang Wetan merupakan energi alternatif bagi saya mas, yoopo yo, yo
koyok onok dorongan kekuatan ngunuloh. Ada sesuatu yang hilang ataupun kurang di dalam diri saya jika saya tidak hadir di komunitas Bang Bang Wetan Surabaya, bahkan meskipun hujan deras, dan sendirian pun saya tetap berangkat. Walaupun Bang Bang Wetan selesai sampai Subuh, dan paginya saya harus bekerja, namun disitu saya merasa lebih sehat, dan masih bisa bekerja seperti biasanya, entahlah, energi seperti apa, yang pasti ini energi cinta yang tidak hanya membuat kondisi pemikiran menjadi baik, namun juga
15
Wawancara dengan Mardiyah dilakukan pada 12 April 2017 pukul 20.25 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
71
aliran energi semangat dan positif tersebut juga membuat tubuh saya sehat.”16 c. Endapan Pengetahuan
Setiap Jamaah Maiyah yang hadir pada Bang Bang Wetan Surabaya selalu larut dalam nuansa khidmat sebagai pembelajar, menerima segala macam arus informasi yang disampaikan Cak Nun serta narasumber lain. Tidak hanya itu interaksi antar Jamaah Maiyah Bang Bang Wetan juga menjadi sebuah pengetahuan baru dalam ragam perspektif ilmu.
Zayyin Ahmad mengatakan Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya itu merupakan tempat dimana ia memperoleh berbagai macam endapan pengetahuan. dari situ ada semacam proses dakwah yang berbeda dari cara dakwah-dakwah lainnya.
“Gimana ya mas, di Bang Bang Wetan itu merupakan endapan pengetahuan
bagi saya yang selalu menjadi stimulus baru dalam menjalani hari. Ibaratnya Bang Bang Wetan Surabaya ini bagaikan tanaman yang terus tumbuh, dan terkadang memang manfaatnya tidak bisa dirasakan langsung namun tak jarang juga bisa dirasakan secara langsung, seperti itulah yang saya rasakan, elaborasi serta loncatan pemikiran dari Cak Nun dan narasumber lain dengan berbagai sudut pandang dan jarak pandang mampu memberikan endapan
berharga dalam hidup saya ”17
Muchammad Fauzan mengatakan dirinya seperti dipaksa masuk untuk selalu
berfikir lebih dalam dan luas dalam menilai sesuatu, sehingga menjadikan dirinya
terbiasa untuk berfikir lebih dalam. Baginya Bang Bang Wetan merupakan sumber
endapan ilmu baru diluar bangku kuliah.
“Bang Bang Wetan merupakan sumber pengetahuan bagi saya, karena kita
16
Wawancara dengan Setiawan pada 12 April 2017 pukul 21.14 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
17
Wawancara dengan Zayyin Ahmad dilakukan 10 April 2017 pukul 19.30 WIB bertempat di warung kopi Ngagel
72
seolah dipaksa untuk menelaah fenomena dan dibawa untuk berfikir lebih panjang dan luas dalam menilai sesuatu. guyonan kritis juga menjadi selingan sebagai penetral dari kepenatan. Sehingga ilmu yang didapatkan
seakan tak ada paksaan untuk mengendapkannya.”18
Wahyu Widhi Wicaksono mengatakan di Bang Bang Wetan Surabaya dirinya
menemukan tempat yang tepat untuk belajar, belajar menjadi pembelajar serta dengan
berbagai macam perspektif keilmuan.
“Bang Bang Wetan bagi saya adalah tempat , tempat untuk belajar dan benar-
benar menjadi pembelajar. Ada pengetahuan lain yang bisa diserap dan bisa dibawa pulang agar kita benar-benar menjadi diri sendiri dan tidak mudah menvonis orang, tentunya juga dengan perspektif jarak pandang, dan sudut
pandang.”19
2. Konstruksi Identitas Jamaah Maiyah Bang Bang Wetan Surabaya
Bang Bang Wetan dihadiri oleh berbagai macam lapisan masyarakat, mulai dari
pejaba hingga tukang becak. Dengan berbagai ragam masyarakat tersebut tentunya
juga terdapat berbagai macam identitas yang ada pada Jamaah Maiyah Bang Bang
Wetan, sehingga patut kiranya untuk ditelaah lebih dalam terkait konstruksi identitas
Jamaah Maiyah Bang Bang Wetan Surabaya.
a. Tahap Pengenalan
Hadirnya Bang Bang Wetan Surabaya tentunya menarik perhatian
masyarakat untuk tau lebih dalam terkait Bang Bang Wetan Surabaya, berawal dari
18
Wawancara Fauzan dilakukan pada 10 Maret 2017 pukul 10.21 WIB
19
Wawancara Wahyu Widhi pada 12 April 2017 pukul 17.35 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
73
situlah tahapan pertama dalam konstruksi identitas Jamaah Maiyah Bang Bang Wetan
Surabaya terjadi yaitu proses pengenalan.
Zayyin Ahmad mengatakan dirinya mulai mengikuti Bang Bang Wetan karena
tertarik dengan pola transfer keilmuan serta dialog dua arah yang berbeda dengan
komunitas dakwah lain. Dari situlah ia mencoba memulai mengikuti rutinitas Bang
Bang Wetan Surabaya.
“Saya tertarik pada Bang Bang Wetan Surabaya karena ada hal unik yang tidak
dilakukan di komunitas pengajian atau keilmuan lain, disini tidak ada unsur pemberian dogmatis satu arah dengan salah satu jenis agama saja, namun disini
lebih luas dan bebas.”20
Mardiyah mengatakan dirinya ikut Bang Bang Wetan Surabaya sejak tahun
2010 bermula dari pasca Cak Nun memberikan pendampingan pada para korban
lumpur Sidoarjo, sehingga dari situ ia merasa menemukan kecocokan pada gaya Cak
Nun.
“Saya melihat ketulusan serta semangat cinta dari Cak Nun untuk mengasuh
atau ngemong masyarakat bawah, sehingga saya menjadi tertarik untuk
mengikuti di setiap komunitas Cak Nun, termasuk Bang Bang Wetan Surabaya ini.”21
Muchammad Aminullah mengatakan awal dirinya mengikuti Bang Bang
Wetan karena merasa penasaran saja dengan sosok Cak Nun karena karya-karyanya
serta sepak terjangnya dalam berbagai hal. Lalu secara tidak sengaja ia mendapati
komunitas Maiyah yang digelar di Surabaya, sehingga sampai saat ini ia rutin
20
Wawancara dengan Zayyin Ahmad dilakukan 10 April 2017 pukul 19.30 WIB bertempat di warung kopi Ngagel
21
Wawancara dengan Mardiyah pada 12 April 2017 pukul 20.25 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan
74
mengikuti setiap kegaitan Bang Bang Wetan.
“Sosok Cak Nun yang memang membuat saya mengikuti Bang Bang Wetan
Surabaya ini, ya kita taulah bagaimana sepak terjangnya beliau dalam berbagai hal, serta karya-karyanya yang sudah seabrek. Dan ketika itu secara tidak sengaja saya melihat ada komunitas Cak Nun di Balai Pemuda, dan dari
situlah bermula saya memulai mengikuti Bang Bang Wetan.”22
Muchammad Fauzan mengatakan dirinya mengikuti Bang Bang Wetan
karena sudah tertarik sejak lama, sejak ia masih di Mojokerto dalam setiap komunitas
yang diadakan Cak Nun. Karena ia kuliah di Surabaya maka ia memutuskan untuk
mengikuti setiap rutinitas Bang Bang Wetan di Surabaya.
“Saya sudah mengenal komunitas – komunitas Cak Nun sejak masih di Mojokerto, namun ketika itu saya masih belum mengikuti komunitas Cak Nun secara rutin, dan hanya beberapa kali saja, namun ketika saya di Surabaya dan ternyata ada komunitas Cak Nun juga yang bernama Bang Bang Wetan saya
bisa intens untuk mengikuti”23 b. Tahap Interaksi
Zayyin mengataan di Bang Bang Wetan Surabaya ada hal yang berbeda dalam
menyikapi segala sesuatu karena berisi muatan-muatan tentang keluasan dalam
berfikir, sehingga hal tersebut bisa terbawa dalam kehidupan sehari-hari.
“ketertarikan saya pada Bang Bang Wetan terbukti tidak mengecewakan, saya
melihat banyak hal yang begitu dinamis dalam memandang segala sisi kehidupan.”24
22
Wawancara dengan M. Amin pada 13 April 2017 pukul 03.45 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
23
Wawancara Fauzan dilakukan pada 10 Maret 2017 pukul 10.21 WIB
24
Wawancara dengan Zayyin Ahmad dilakukan 10 April 2017 pukul 19.30 WIB bertempat di warung kopi Ngagel
75
Muchammad Aminullah mengatakan meskipun di Bang Bang Wetan datang
dari berbagai macam latar belakang, agama, suku, dan ras, namun mereka semua mau
berinteraksi dengan baik dengan segala macam bentuk perbedaan.
“Bang Bang Wetan iku wong’e macem-macem, seng aneh sampek nyeleneh yo
onok. Tapi disana kita dapat menghargai dan menerima segala bentuk
perbedaan. Bang Bang Wetan menjadi sebuah lingkungan baru yang kondusif
meski dalam berbagai macam perspektif.”25
Dahlan mengatakan dengan duduk bersama serta berinteraksi dengan
berbagai latar belakang baru di Bang Bang Wetan Surabaya membuat mata Dahlana
terbuka lebar untuk melihat berbagai macam warna dalam hidup. Dari situ ia seolah
tersadar bagaimanapun sulitnya hidup, di Bang Bang Wetan ini bisa merasa terhibur
dan tidak sendirian.
“Dengan berkumpul bersama mereka Jamaah Maiyah Bang Bang Wetan
Surabaya saya merasa tidak sendirian dalam menjalani hidup ini, nek e aku
wong mlarat, ndk Bang Bang Wetan aku dikuatno, sopo seng ngarani aku mlarat wong aku duwe tangan lengkap, sikil lengkap koyok ngunu, serasa bisa
memandang hidup dari sudut pandang berbeda.”26
c. Tahap Penilaian
Kehadiran Jamaah Maiyah pada Bang Bang Wetan memang menimbulkan
penilaian baru terhadap Bang Bang Wetan atau dirinya sendiri.
25
Wawancara dengan M. Amin pada 13 April 2017 pukul 03.45 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
26
Wawancara dengan Dahlan dilakukan pada 14 Maret 2017 pukul 21.14 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Balai Pemuda Surabaya.
76
“Sejak megikuti Bang Bang Wetan Penilaian baru dari orang lain tentunya pasti ada semenjak mengikuti Bang Bang Wetan yang pasti tapi adalah penilaian positif, terkait pola fikir serta perilaku dalam kehidupan sehari- hari.”27
Mardiyah juga mengatakan sejak ikut Bang Bang Wetan memang ada penilain
baru dari orang lain ter
masuk keluarga, namun tidak diomongkan secara langsung, ia mendengar dari
orang lain.
“Tentunya pasti ada penilaian baru terhadap saya, ada yang bilang sejak ikut
Bang Bang Wetan saya menjadi lebih tenang dalam menghadapi segala fenomena, tidak mudah menyalahkan, dan lebih dapat memaknai nilai
kesejatian hidup.”28
Setiawan mengatakan meskipun dirinya baru mengikuti Bang Bang Wetan
Surabaya baru sejak 2016 kemarin, namun ia mengaku sudah cukup banyak
mempelajari nilai-nilai yang ditanamkan pada Bang Bang Wetan melalui Youtube.
“Pastinya ada penilain baru terhadap dirinya semenjak ikut Bang Bang Wetan
Surabaya, entah itu dari keluarga, maupun teman. Aslinya saya suka debat dan ngeyelan namun setelah mengikuti Bang Bang Wetan Mbah Nun selalu memberikan pesan kehidupan tentang keluasan berfikir dan sudut pandang dalam menilai sesuatu. Sebagai pribadi saya juga Lebih tenang, menyikapi sesuatu dapat berfikir lebih panjang tidak mudah memberikan penilaian pada
orang lain.”29
Muhammad Allan Edy Putra mengatakan dirinya mengikuti Bang Bang
Wetan karena tertarik pada Bang Bang Wetan, menurutnya ada nuanasa berbeda
yang disajikan di Bang Bang Wetan. Ia juga menuturkan sedikit banyak memang
27
Wawancara dengan Zayyin Ahmad dilakukan 10 April 2017 pukul 19.30 WIB bertempat di warung kopi Ngagel
28
Wawancara dengan Mardiyah pada 12 April 2017 pukul 20.25 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
29
Wawancara dengan Setiawan pada 12 April 2017 pukul 21.14 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
77
mempengaruhi perilaku, dan pemikiran pada dirinya, karena secara tidak langsung
dalam setiap komunitas Bang Bang Wetan ia mendapat tambahan wawasan dengan
berbagai perspektif, sehingga hal tersebut kemudian diendapkan lalu menjadi sebuah
ilmu baru yang akan berdampak langsung pada perilaku sehari-hari.
“Meskipun ya secara penampilan saya juga tidak terlalu meniru gaya dari Cak
Nun yang sederhana sak onok’e, namun disitu saya seolah mendapat cerminan
baru, bahawasannya dengan pakaian sederhana pun tidak masalah, karena
yang terpenting adalah sikap kita pada Tuhan, dan pada sesama manusia.”30
Fajar mengatakan dirinya mulai mengikuti Bang Bang Wetan Surabaya
karena diajak temannya, daripada hanya cangkruk di kos lebih baik ikut Bang Bang
Wetan, dari keiukutsertaan tersebut Fajar kemudian tertarik untuk mengikuti setiap
kegiatan Bang Bang Wetan.
“ Banyak hal yang saya dapat dari Bang Bang Wetan, seperti songkok Maiyah
atau baju Maiyah, kalau saya sudah memakai songkok atau baju Maiyah saya
tidak berani berbuat yang neko-neko. Ada rasa sungkan dan energi baru untuk
menjaga setiap sikap kita. Padangan baru terhadap saya sejak mengikuti Bang
Bang Wetan tentunya pasti ada, pandangan luwih nyeleneh seng iyo, karena
orang Maiyah kan minoritas, dan dimasyarakat kaum minoritas dianggap nyeleneh. Karena terkadang saya juga memiliki penilaian tersendiri dalam memandang segala sesuatu yang berbeda dari pandangan orang umum lainnya.”31
Wahyu Widhi Wicaksono mengatakan dirinya mulai mengikuti Bang Bang Wetan karena merasa terpanggil untuk mengikuti kegiatan-kegiatan seperti yang dilakukan di Bang Bang Wetan.
“Dulu saya adalah orang yang temperamental namun setelah mengikuti
30
Wawancara dengan Muhammad Allan dilakukan pada 19 Maret 2017 pukul 13.25 WIB di Warung Kopi Jemur
31
78
komunitas Bang Bang Wetan lebih bijak lagi dalam menilai orang. Ada penilaian baru pastinya dari orang lain. Banyak teman saya yang memberikan penilaian baru pada diri saya, ngaji dimana kamu sekarang kok sikap,dan
gayamu sudah seperti orang yang sering ikut ngaji, omongan seperti itu
memang kerap ditujukan pada saya, karena sejatinya memang dulu saya tidak mondok sehingga pengetahuan agama saya tidak begitu dalam. Namun di Bang Bang Wetan sebenarnya tidak hanya belajar syariat, namun juga belajar,
ma’rifat, bahkan tarekat.“32
3. Bang Bang Wetan Surabaya sebagai representasi ruang publik Jama’ah Maiyah
Bang Bang Wetan sudah dianggap sebagai rumah bagi Jamah Maiyah, layaknya
sebuah rumah tidak ada keraguan maupun kesungkanan dalam bertindak dan
bertutur, sehingga Jamaah merasa bebas berkata apapun berucap apapun karena
berada di dalam rumah sendiri. Sebagai Ruang Publik Bang Bang Wetan memang
memiliki representasi yang berbeda-beda dari setiap jamah Maiyah Bang Bang
Wetan.
a. Ruang Ekspresi Komunikasi
Sebagai ruang publik Bang Bang Wetan telah menjadi sebuah wadah baru bagi
berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya yaitu sebagai ruang ekspresi
komunikasi, dimana para Jamaah Bang Bang Wetan Surabaya dapat melakukan
suatu ungkapan, pernyataan, perasaan, atau bahkan sinyal-sinyal yang disampaikan
seseorang dalam bentuk terbuka pada komunitas Bang Bang Wetan Surabaya.
Setiawan yang berprofesi sebagai penjaga warung kopi mengatakan Bang Bang
32
Wawancara Wahyu Widhi pada 12 April 2017 pukul 17.35 WIB ketika Komunitas Bang Bang Wetan Surabaya di Halaman Gedung Kesenian Cak Durasim.
79
Wetan Surabaya memang menjadi ruang publik yang sesungguhnya bagi masyarakat.
Menjadi tempat tercurahnya uneg-uneg dengan berbagai macam sudut pandang dalam
memaknai kehidupan.
“Rasanya itu tidak ada tempat yang paling tepat untuk membicarakan negara, agama, bahkan keluarga selain Bang Bang Wetan, dari hanya sekadar
curhatan hingga berdiskusi untuk kemajuan bangsa.”33
Muchammad Aminullah mengatakan baginya Bang Bang Wetan ini memang
sebagai ruang publik, ruang bagi khalayak umum untuk berbincang tentang hal
apapun yang memang ingin diperbincangkan dengan tambahan berbagai perspektif.
“Bang Bang Wetan Surabaya itu adalah sejatinya ruang publik yang