• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Deskripsi Fokus Penelitian

Penelitian ini diarahkan pada pembangunan masyarakat pasca terjadinya konflik. Bagaimana meredakan konflik dengan cepat, tepat dan solutif.

Masyarakat konflik cenderung lebih agresif terhadap setiap ancaman. Menghadapi mereka yang lentur akan sikap represif tidaklah mudah karena itu perlu penelitian dan pengkajian mendalam akan hal itu. Metode dan pendekatan harusnya berbaur dengan kondisi masyarakat agar mereka mau menerima usaha-usaha solutif. Salah satu tawaran solusi yang tepat adalah rekonsiliasi piha-pihak yang saling bertikai.

Dengan upaya seperti ini akan membawa masyarakat pada kondisi yang diharapakan dimana mereka dapat hidup berdampingan satu sama lain, saling menghargai karya pihak lain, dan mengkui kebebasan yang dimiliki oleh setiap orang.

Sebagaimana dimuat dalam rumusan masalah maka penelitian ini difokuskan pada dua konsep yang akan dijabarkan rinci pada bab hasil penelitian. Yaitu strategi pemerintah daerah merealisasikan amanat UU tentang Penangannan Konflik yang meliputi Pencegahan Konflik, Penghentian Konflik serta Pemulihan Konflik dan yang ke dua revitalisasi nilai sosial pada masyarakat pasca konflik.

Peneliti merincikan lagi secara spesifik mengenai masyarakat yang menjunjung nilai-nilai hak asasi manusia sebagai prinsip hidup dalam kedamaian. Egaliter akan selalu menjadi harapan semua penduduk bumi tanpa mengenal kelas sosial, semua setara sebagai makhluk ciptaan Tuhan Allah Subhanahu Wata’ala dari sumber yang sama. Di belahan dunia manapun, masyarakat adalah topik paling depan karena kehidupan tidak akan terjadi tanpa adanya individu yang

beraktualisasi ke dalam masyarakat.

Dalam banyak kasus di Tidore peneliti meenemukan masih lemahnya kesadaran masyarakat akan kesetaraan hidup dan rasa toleransi terhadap sesama.

Tendensitas kelemahan kesadaran ini memungkinkan terjadinya konflik secara terus menerus. Jika hal ini terus dibiarkan maka akan menjadi senjata pemusnah bagi masyarakat Kota Tidore Kepulauan. Sebagai putra daerah, peneliti tentu tidak ingin tinggal diam melihat kondisi yang amat brutal ini. Penelitian ini bermaksud memahami karakter masyarakat konflik terutama setelah kejadian konflik besar. Untuk itu masyarakat menjadi target man atas penelitian ini untuk menujukan eksistensi manusia sebagai makhluk yang hidup berdampingan satu sama lain dan menjunjung tinggi rasa kebersamaan dalam semua lini kehidupan.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah di wilayah Kota Tidore Kepulauan dengan objek penelitian terhadap masyarakat pasca konflik khususnya di Kecamatan Oba Utara.

Kota Tidore Kepulauan dipilih sebagai lokasi penelitian karena di wilayah ini merupakan salah satu daerah bekas konflik agama yang pecah pada tahun 2000 setelah setahun memisahkan diri dari provinsi Maluku. Pasca kerusuhan yang menelan ribuan korban jiwa, khususnya di Tidore Kepulauan masih sering terjadi pertikaian antar kelompok meskipun tanpa menimbulkan korban jiwa..

Perisitwa yang merasahkan ini benar-benar butuh kesadaran penuh baik individu maupun kelompok masyarakat itu sendiri agar kedepan gesekan sosial tersebut dapat tereduksi sehingga masyarakat dapat menikmati hidup dalam kedamaian demi ketenteraman dan kenyamanan. Peneliti menargetkan melakukan penelitian dalam kurun waktu maksimal dua bulan. Namun peneliti akan berupaya menggunakan waktu dengan efektif saat melakukan penelitian.

B. Dasar dan Tipe Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada penelitian kualitatif dengan menggunakan tipe penelitian deskriptif, yakni suatu penelitian yang pengumpulan data utama dilakukan di lapangan dan selanjutnya berusaha mendeskripsikan temuan-temuan atau faktor-faktor penelitian secara apa adanya.

37

C. Jenis dan Sumber Data

1. Data primer yaitu yang diperoleh secara langsung dari pengamatan melalui observasi di lapangan dan yang diperoleh pula dari hasil kuesioner yang bersumber dari responden.

2. Data sekunder yaitu data yang dimiliki dari sumber dokumen melalui berbagai sumber kajian yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, seperti melalui perpustakaan, laporan-laporan hasi penelitian serta dokumen lainnya.

D. Informan Penelitian

Informan adalah orang atau lembaga yang dimintai keterangan mengenai masalah yang akan diteliti. Informan disebut juga sebagai narasumber yang bertanggung jawab atas informasi dan hasil penelitian. Maka dari itu peneliti menetapkan para informan yang disebutkan dalam tabel di bawah ini :

NO INFORMAN JABATAN/STATUS

1. Ridwan Ali Kepala Kesbangpol dan Linmas

2 Idris Umar Marsaoly Staf Ahli Walikota Tidore

3. Asrul Samsudin Camat Oba Utara

4. Abdullah Abubakar Ketua AMOB

5. Haerudin Marsaoly Ketua IPPA

6. Samaun Ali Tokoh Masyarakat

7. Sadam Najamuddin Tokoh Agama

Dari sejumlah informan yang disebutkan di atas maka informan dalam penelitian ini adalah 7 orang.

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data-data yang relevan dengan tujuan penelitian maka, digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1. Observasi (pengamatan), dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung terdapat objek penelitian yang diteliti untuk memperoleh data yang konkrit di lokasi penelitian. Pengamatan dilakukan melalui observasi terbatas dengan berupaya mengumpulkan data primer dan data sekunder.

2. Interview (wawancara), dilakukan dengan wawancara langsung terhadap sejumlah informan yang dianggap mengetahui objek penelitian. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara.

3. Dokumentasi. Suatu cara pengumpulan data yang digunakan dengan malalui dokument atau laporan-laporan tahunan di kantor yang bersangkutan.

F. Keabsahan Data

Untuk melakukan penelitian dengan hasil penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya maka peneliti bermaksud mengungkap fakta sejarah yang terjadi di Kota Tidore Kepulauan. Beberapa peristiwa yang berkaitan dengan masalah penelitian akan dijabarkan berdasarkan fakta kejadian lapangan bukan reakayasa. Dari semua peristiwa konflik di Tidore, Kecamatan Oba Utara menjadi sorotan karena selain potensi konflik besar, peneliti juga bagian dari masyarakat setempat, dan kelak akan menjadi pusata Kota Provinsi Maluku Utara.

BAB IV

PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Letak dan Luas Wilayah Kota Tidore Kepulauan

Salah satu daerah bersejarah dan pusat perdagangan rempah-rempah pada masa kolonialisme Belanda adalah Tidore yang kini dikenal dengan Kota Tidore Kepulauan. Di wilayah ini masih menerapkan sistem kepemimpinan kerajaan atau kesultanan hingga pada saat ini. Kekayaan alam dan budaya sudah sejak dulu dimiliki oleh masyarakat Tidore.

Kota Tidore Kepulauan merupakan daerah otonom hasil pemekaran wilayah Kabupaten Halmahera Tengah yang secara yuridis diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Kabupaten Halmahera Timur dan Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.

Wilayah Kota Tidore Kepulauan meliputi sebagian daratan pulau Halmahera pada bagian Barat dan gugus Pulau Tidore yang secara astronomis berada antara 0°47´20´´ LU – 0°0´12´´LS dan 127°18´15´´ – 127°49´20´´BT. Berbatasan dengan 5 Kabupaten/Kota, yakni Kota Ternate, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Tengah dan Kabupaten Halmahera Selatan. Dengan luas wilayah ±2.793,686 km2 yang terbagi atas daratan ±1.680,295 km2 (60,15%) dan laut ±1.113,391 km2 (39,85%) dengan panjang garis pantai ±219,75 km.

40

Wilayah administrasi pemerintahan Kota Tidore Kepulauan terbagi atas 8 kecamatan dan 72 kelurahan/desa, dimana sebanyak 52 kelurahan/desa merupakan desa pesisir.

Tabel 2. Luas Wilayah Daratan Kota Tidore Kepulauan Per Kecamatan

No. Kecamatan Luas Wilayah Jumlah Kel/

Desa (km2) (%) Pesisir Total

1 Tidore 21,814 1,30 7 11

2 Tidore Selatan 28,598 1,70 8 8

3 Tidore Utara 43,960 2,62 7 12

4 Tidore Timur 32,117 1,91 3 4

5 Oba Utara 237,609 14,14 9 12

6 Oba Tengah 705,841 42,01 4 9

7 Oba 377,619 22,47 9 9

8 Oba Selatan 232,737 13,85 5 7

Jumlah Total 1.680,295 100 52 72

Sumber : Hasil digitasi peta

Luas daratan wilayah Kota Tidore Kepulauan berdasarkan kecamatan adalah sebanyak 8 kecamatan yang berada di dua pulau yang berbeda yaitu pulau Tidore terdiri dari Kecamatan Tidore, Tidore Selatan, Tidore Utara, dan Tidore Timur sedangkan 4 Kecamatan Oba berada di pulau Halmahera tidak jauh dari Tidore tepatnya di depan pulau Tidore dan Ternate. Luas keseluruhan sebagaimana pada tabel tersebut di atas adalah 1.680,295 km2.

Tidore memiliki 11 buah pulau yang seluruhnya merupakan pulau-pulau kecil (Pulau Tidore, Maitara, Mare, Failonga, Sibu, Woda, Raja, Guratu, Tameng, Joji dan Taba).

Tabel 3. Luas dan Keliling Pulau-pulau Kecil di Kota Tidore Kepulauan

4 Failonga 0,008 0,8 0,363 Tidak berpenghuni

5 Sibu 0,073 7,3 1,179 Tidak berpenghuni

6 Woda 0,440 44,0 2,628 Tidak berpenghuni

7 Raja 0,188 18,8 1,926 Tidak berpenghuni

8 Guratu 0,198 19,8 1,732 Tidak berpenghuni

9 Tameng 0,381 38,1 2,742 Tidak berpenghuni

10 Joji 0,206 20,1 1,772 Tidak berpenghuni

11 Taba 0,299 29,9 2,419 Tidak berpenghuni

Jumlah Total 128,2531 12824,8 81,541 Sumber : Hasil digitasi peta

Luas wilayah Kota Tidore Kepulauan berdasarkan pulau terbagi menjadi dua yaitu pulau yang berpenghuni dan dan pulau yang tidak dihuni. Keseluruhan Pulau yang ada di wilayah Kota Tidore Kepulauan adalah 11 pulau, 2 diantaranya telah berpenghuni sedangkan 9 lainnya masih belum dihuni. Luas total pulau-pulau Tidore berdasarkan km2adalah 128,2531, luas total berdasarkan Ha adalah 12824,8 dan luas Keliling (km) adalah 81,541.

2. Keadaan Alam Kota Tidore Kepulauan

Iklim wilayah Kota Tidore Kepulauan tidak berbeda dengan iklim di daerah-daerah lainnya di Pulau Halmahera dan sekitarnya yaitu beriklim tropis, yang dipengaruhi oleh angin laut. Iklim daerah ini sangat dipengaruhi oleh laut Halmahera, laut Seram dan laut Maluku. Musim angin yang terjadi sangat dipengaruhi oleh angin Barat dan angin Timur/Selatan dan diselingi oleh dua kali masa transisi atau musim pancaroba yang merupakan transisi antara musim Barat ke musim Timur.

Curah hujan yang terjadi sebesar 2.570 – 3.050 mm/tahun, sehingga daerah ini termasuk dalam tipe iklim A atau beriklim basah yang dalam klasifikasi agroklimat termasuk dalam klasifikasi zona E1 dimana bulan basah terjadi dalam 3 bulan per tahun, sedangkan bulan kering berlangsung kurang dari 2 bulan.

Suhu udara rata-rata wilayah Kota Tidore Kepulauan berkisar rata-rata maksimum 31,3°C dan rata-rata minimum 21,2°C, kelembaban rata-rata 83,5%, penyinaran matahari rata-rata 67,5% per tahun, dan tekanan udara rata-rata 1001,9 Bar.

3. Keadaan Penduduk Kota Tidore Kepulauan

Jumlah penduduk berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing beragama Islam (86.696 jiwa atau 94,07%), Kristen (4.120 jiwa atau 4,47%), Katolik (89 jiwa atau 0,097%), Hindu (7 jiwa atau 0,008%), Budha (5 jiwa atau 0,005%), Kong Hucu (1 jiwa atau 0,001%) dan penganut kepercayaan sebanyak 1.246 jiwa atau 1,352%.

Tabel 4. Jumlah Penduduk Kota Tidore Kepulauan Per Kecamatan No. Kecamatan

1 Tidore 10.184 10.202 20.386 22,12 4.618

2 Tidore Utara 7.780 7.820 15.600 16,93 3.212

3 Tidore Selatan 7.068 7.256 14.324 15,54 3.157

4 Tidore Timur 3.827 3.650 7.477 8,11 1.749

5 Oba Utara 5.931 5.582 11.513 12,49 2.628

6 Oba Tengah 3.814 3.444 7.258 7,88 1.564

7 Oba 5.491 5.107 10.598 11,50 2.211

8 Oba Selatan 2.533 2.475 5.008 5,43 1.097

Jumlah 46.628 45.536 92.164 100 20.236 Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tidore Kepulauan

Jumlah penduduk Kota Tidore Kepulauan berdasarkan pendidikan terbagi atas belum sekolah, tidak/belum tamat SD, tamatan SD, tamatan SLTP, tamatan SLTA, Diploma Dua, Diploma Tiga, Sarjana, Magister, dan Doktoral.

Penduduk Kota Tidore Kepulauan bekerja atau berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI, Kepolisian, Pedagang, Petani Perkebunan, Peternak, Nelayan, Industri, Konstruksi, Transportasi, Karyawan Swasta, Karyawan BUMN/BUMD, Buruh, Tukang Batu/Kayu, Dosen, Guru, Dokter, Bidan, Perawat, Sopir, Wiraswasta, Pensiunan, Mengurus Rumah Tangga, Pelajar dan Mahasiswa, Belum bekerja dan lainnya.

B. Strategi Pembinaan Organisasi Kepemudaan Kota Tidore di Kepulauan Konflik yang terjadi di Tidore terasa sangat menganggu kenyamanan warganya dan terlebih lagi dapat merusak keutuhan negara Indonesia. Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara yang di mana konflik berkecamuk di wilayahnya. Untuk saat ini, Pemerintah Indonesia masih kurang baik menyelesaikan perselisihan di tengah-tengah masyarakat. Konflik terus meningkat dan bertambah banyak sertameluas hingga ke daerah-daerah meskipun beberapa kali pergantian periode kepemimpinan baik di tingkat pusat maupun di Daerah. Konflik pada tataran daerah, penulis tertarik dengan kejadian yang menggemparkan Indonesia secara keseluruhan bahkan sampai menjadi perhatian internasional yaitu konflik horizontal antar agama pada tahun 1999 di tanah Maluku yang terkenal dengan daerah berbudaya dan tinggi akan toleransi. Akan tetapi di sini penulis tidak membahas konflik tersebut melainkan impact dari konflik itu di Kota Tidore Kepulauan. Sangat terasa sampai saat ini masyarakat

masih terbuai oleh suasana konflik pada beberapa tahun silam. Sebagai putra daerah, penulis turut merasakan langsung fenomena komflik di Kota Tidore Kepulauan.

Wawancara penulis dengan Kepala Kesbangpol dan Linmas Kota Tidore Kepulauan RA, ia mengemukakan :

”Dalam upaya menangani konflik masyarakat di Tidore Kepuluan, kami menggandeng peran para pemuda yang ada di Tidore. Strategi yang kami lakukan yaitu dengan mengundang mereka bersama tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan pranata sosial lainnya melalui sosialisasi dan pembentukan forum pembauran kebangsaan di tingkat Tidore Kepulauan.”

(R.A,19 Oktober 2015)

Dari hasil wawancara tersebut di atas penulis menganalisis bahwa keterlibatan peran pemuda dan juga komponen masyarakat lainnya sangat perlu dan penting dalam membantu pemerintah Kota Tidore Kepuluan meyelesaikan konflik di wilayah Kota Tidore Kepulauan.Pemerintah merasa bahwa Keresahan, dan ancaman akibat konflik haruslah ditindak cepat oleh pihaknya terutama lembaga yang secara khusus menangani masalah konflik dalam hal ini Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol.Sebagaimana yang dikatakan oleh kepala Kesbangpol dan Linmas bahwa peran pemuda dan para tokoh masyarakat adalah yang paling urgen untuk menangani kelompok-kelompok yang bertikai karena mereka inilah yang punya hubungan yang kuat dengan masyarakat secara langsung. Oleh karena itu dengan adanya keterlibatan para pemuda dan tokoh masyarakat dalam usaha damai Pemerintah melalui forum kebangsaan akan lebih terbantu proses pencegahan dan penyelesaian konflik.

Upaya dan kesungguhan yang terus dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepualauan melalui badan Kesbangpol tidak serta merta melenyapkan

konflik dalam masyarakat. Konflik ini telah berlangsung lama dan merambat hingga hampir ke semua kampung di Tidore. Keadaan konflik yang begitu kompleks nampaknya menyulitkan Pemerintah menangani konflik di tengah-tengah masyarakat. Kepala Kesbangbol sendiri mengungkapkan bahwa masyarakat Kota Tidore Kepulauan masih minim kesadaran mengenai nilai-nilai budaya adat se atorang. Kesadaran itu timbul jika mereka dapat memahami eksistensi kebudayaan positif yang telah lama hidup di Negeri berpulau itu. Upaya untuk membangun masyarakat dan mendorong kesadaran kepada masyarakat tidak cukup untuk dilakukan sekali atau dua kali. Oleh karena itu, badan Kesbangpol optimis tetap mengawal masyarakat dengan melakukan pembinaan agar paling tidak masyarakat bisa menghindari perilaku-perilaku yang sangat tidak berperikemanusiaan. Bahkan beberapa kali Pemerintah melakukan terobosan dengan soslialisasi secara langsung dengan masyarakat. Dialog antara masyarakat bersama Pemerintah ini diharapkan membangun sinergitas yang cukup kuat untuk kemudian bersama-sama menciptakan lingkungan kondusif bagi masyarakat.

Betapapun upaya Pemerintah bekerja secara serius dan sungguh-sungguh menangani konflik, agak mustahil usaha itu memperoleh hasil yang diharapkan.

Karena permasalahannya timbul dari atas sehingga yang harus dibenahi adalah dari atas. Penulis memberikan analogi sederhana seperti seseorang yang diberi petunjuk atas alamat yang dicarinya namun ia malah mendatangi ke arah yang tidak berdasarkan petunjuk, ya tentu kesasar dan mustahil bisa menemukan apa yang dicari. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Pemerintah terhadap masalah

di daerahnya. Sungguh ironis apabila Pemerintah menyelesaikan konflik sementara dia sendiri yang melahirkan konflik bagi masyarakatnya. Kenapa penulis menganalisa bahwa pemerintahlah sebagai pemicu lahirnya konflik ? karena ketimpangan sosial akibat kurangnya pemenuhan hak sosial.

Penduduk masyarakat Kota Tidore Kepulauan adalah mayoritas berpenghasilan menengah ke atas. Sebagian besarnya juga berprofesi sebagai Petani dan Nelayan. Hak petani dan nelayan wajib dipenuhi oleh Pemerintah.

Pemerintah memberikan penyuluhan pertanian, menyediakan lahan pertanian, menyediakan bibit pertanian, memfasilitasi transaksi dan lain sebagainya. Begitu juga dengan nelayan, Pemerintah menciptakan iklim transaksi yang tidak memberatkan masyarakat nelayan apalagi soal menyangkut pelayaran mencari ikan itu masyarakat berhadapan dengan maut. Hal-hal seperti ini jarang diperhatikan oleh Pemerintah sehingga ketimpangan sosial terjadi di masyarakat.

Ada ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat. Semakin hari keadaan mereka seakan tidak dipedulikan. Pada beberapa kasus seperti kebakaran pasar Sari Malaha yang menjadi tempat strategis bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas ekonomi. Pasar tradisional ini menurut masyarakat banyak bahkan sebagian kaum elit meyakini bahwa kebakaran tersebut mengandung unsur politis.

Menurutpersepsi beberapa sebagian orang ada kepentingan terselubung di balik kebakaran pasar Sari Malaha. Lebih tepatnya penulis menggunakan istilah

“dibakar” bukan terbakar. Asumsi-asumsi yang dibangun berdasarkan fakta bahwa sesaat setelah kejadian itu Pemerintah dengan cepatnya mendirikan bangunan-bangunan pasar modern. Bukankan pemerintah seharusnya lebih

berempati kepada nasib masyarakatnya pasca kebakaran pasar? Fakta ini menunjukan ketidakpedulian masyarakat oleh Pemerintah bahkan cenderung berpihak kepada golongan elit sebab pasar modern hanya diperuntukan terhadap mereka.

Seperti yang diungkapkan Kepala Kesbangpol, Ridwan Ali bahwa masyarakat Tidore terkenal dengan masyarakat yang sangat toleran. Masyarakat Tidore Kepulauan adalah masyarakat yang tinggal di tengah-tengah kemajemukan yang amat sangat. Oleh karenanya, masyarakat Tidore sejak zaman dahulu sudah terpola dengan perilaku toleransi, ini sudah menjadi budaya orang-orang Tidore.

Penulis menganalisis bahwa masyarakat tidore sendiri sudah menunjukan sikap toleransi namun lagi-lagi pemerintah tidak memcerminkan sikap tidak tolerannya kepada masyarakat. Pemerintah seharusnya sadar dengan sikapnya masih jauh dari keberpihakan kepada masyarakat. Jangan menjadi arogan dan egois dalam setiap pengambilan kebijakan politik, masyarakat juga perlu disertakan perannya karena masyakat adalah bagian dari pembangunan jika mengharapkan pembangunan daerah Tidore. Di sini pemerintah lupa bahwa masyarakatlah sebagai unsur utama pembangunan dan masyarakat merupakan salah satu dari 3 aktor ekonomi. Pemerintah hanya mau melibatkan swasta tanpa mengajak masyarakat tentu hal ini sangat sarat dengan kepentingan, orentasinya adalah keuntungan semata. Mengorbankan pihak lain demi kesenangan pribadi atau kelompok.

Wawancara penulis dengan Kepala Kesbangpol dan Linmas Kota Tidore Kepulauan RA, ia mengatakan bahwa:

“Selain gerakan penyatuan persepsi oleh berbagai pranata sosial yang ada, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dalam menangani konflik di masyarakat, dilakukan dengan menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran tentang nilai-nilai sosial yang telah lama hidup di Daerah Tidore yang dikenal dengan sebutan nilai “Adat Se Atorang”. Peran lembaga-lembaga kepemudaan adalah mitra kerja pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sebab sasarannya adalah masyarakat itu sendiri.”(R.A, 19 Oktober 2015).

Pada hasil wawancara penulis dengan kepala Kesbangpol dan Linmas Kota Tidore Kepulauan, ia menyebutkan bahwa sasaran strategi pembinaan oraganisasi kepemudaan di Tidore untuk menangani konflik adalah:

1. Pengembangan nilai-nilai "adat se atoran" dalamlingkup kehidupan kehidupan individu dan kemasyarakatan;

2. Peningkatan peran lembaga/tokoh adat dan agama sebagaiperekat masyarakat;

3. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilaipluralitas, toleransi dan demokratisasi;

4. Peningkatan kesadaran hukum dalam lingkup individu dan sosial kemasyarakatan;

5. Revitalisasi nilai dan norma dasar "adat se atoran"sebagai salah satudasar pengembangan etika pergaulansosial;

6. Membina dan melihara kesenian daerah sebagai bagiandari kesenian nasional;

7. Meningkatkan motivasi masyarakat untuk lebihmempelajari, meningkatkan wawasan budaya sertapraktek nyatanya dalam kehidupan sehari-hari dalamrangka meningkatkan kerekatan sosial tanpa memandang perbedaan;

Wawancara penulis dengan Kepala Kesbangpol dan Linmas Kota Tidore Kepulauan RA, ia juga menceritakan :

“Pemerintah Daerah Tidore Kepulauan dalam menyelesaikan konflik memeiliki 3 hal pokok dalam pelaksanaan penanganan konflik yaitu pencegahan konflik, penghentian konflik, dan pemulihan konflik. Meskipun belum ada Perda tentang konflik tapi kemi berpedoman pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 2 tahun 2015 tentang peraturan pelaksanaan peraturan Undang-Undang no. 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial” (R.A, 19 Oktober 2015).

Berdasarkan ungkapan Kepala Kesbangpoltersebut di atas bahwa ada 3 komponen utama yang digunakan untuk menyelesaikan konflik yaitu pertama melakukan pencegahan konflik, maksudnya adalah upaya menghindari diri dari proses konflik sebelum terjadinya konflik. Kedua, melakukan penghentian konflik yaitu, tindakan meyelesaikan konflik dengan cara mendamaikan pihak yang terlibat konflik agar tidak terus berlangsung lama, dan yang ketiga pemerintah melakukan upaya pemulihan konflik denga maksud agar konflik yang telah terjadi tidak kembali pecah.

Pemerintah Daerah Tidore Kepulauan mempunyai strategi dalam manajemen konflik tidak di luar aturan yang telah Undang-undangkan oleh Pemerintah Pusat. Jika diundang-undangkan seperti apa harus dijalankan sesuai yang diamanatkan. Tanpa Perda bukan berarti pelaksanaan penanganan konflik tidak maksimal. Maksimal tidaknya, berhasil tidaknya dinilai dari tingkat kesungguhan Pemerintah Daerah menginterpretasi UU yang sudah ada dalam tindakan nyata. Bahkan tanpa adanya UU yang mengatur penyelesaian konflik sekalipun, konflik dapat diredakan apabila para pimpinan bangsa ini punya niat tulus mengabdi sepenuhnya kepada rakyatnya sebagai bentuk kepedulian sesama umat manusia, bukan pemisahan antara penguasa dengan rakyat.

Maksud dibentuk sebuah Undang-Undang adalah agar tata cara pelaksanaan suatu perkara dalam bidang tertentu lebih terarah, teratur, dan jelas. Undang-Undang no. 7 tahun 2012 yang mengatur tentang penanganan konflik sosial diperjelas oleh Peraturan Pemerintah no. 2 tahun 2015 yang penjelasannya lebih spesifik. Kejelasan Undang-Undang ini membuat Pemerintah Kota Tidore Kepulauan merasa terbantu menangani konflik tanpa harus menerbitkan Perda tentang penyelesaian konflik. Akan tetapi pada tahun 2016 nanti mereka berniat merumuskan Perda yang secara khusus meyelesaikan konflik panjang di Tidore Kepulauan. Kalaupun perda sudah dirumuskan sekaligus diterbitkan oleh Pemerintah Daerah, sedangkan mereka sendiri tidak punya kepedulian terhadap nasib dan masa depan masyarakatnya, penulis yakin penerbitan Perda mungkin hanya sebagai pelengkap administrasi lembaga semata. Sekali lagi rakyat tidak butuh kejelasan Undang-Undang tetapi kejalasan tindakan.

1. Pencegahan Konflik

Pencegahan Konflik adalah strategi utama yang dilakukan oleh Pemerintah

Pencegahan Konflik adalah strategi utama yang dilakukan oleh Pemerintah

Dokumen terkait