BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
C. Revitalisasi Nilai-Nilai Sosial Masyarakat
Pemerintah Kota Tidore Kepulauan di dalam merumuskan strategi penyelesaian konflik melalui pembinaan Organisasi Kepemudaan pada masyarakat pasca konflik di dasarkan pada mekanisme dan amanat aturan umum
oleh pemerintah pusat dan kreativitas Pemerintah Daerah sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat di Kota Tidore Kepulauan. Pada tanggal 26 Agustus 2015 Badan Kesbangpol dan Linmas Pemkot Tidore Kepulauan menggelar sosialisasi dan pembentukan forum pembauran kebangsaan tingkat Kota Tidore Kepulauan. Kegiatan ini sangat penting dilaksanakan karena untuk meningkatkan kerukunan dan persatuan untuk mendorong terwujudnya pembauran kebangsaan. Karena itu perlu yang baik antara masyarakat dan pemerintah.
Wawancara penulis dengan tokoh masyarakat Tidore Kepualauan SA, mengatakan bahwa:
“Diperlukan usaha serius pemerintah daerah mengembalikan nilai-nilai historis masyarakat seperti yang dicitakan-citakan Sultan Nuku. Karena sultan kita pada zamannya menjelajahi beberapa pulau hingga papua barat dan sebagian wilayah Afrika tidak lain hanya mengajak segenap manusia pada bingkai persaudaraan tanpa mengenal suku, pulau, bahasa, ras maupun, agamanya. Bayangkan saja hanya seorang sultan Nuku mampu manklukan dan menyatukan semua daerah yang ia jelajahi. Kita ini generasi penerus Nuku maka tidak tepat jika kita tidak melakukan apa yang dicita-citakan Sultan Nuku”
(S.A,21 Oktober 2015).
Apa yang disampaikan Samaun Ali menurut penulis sangatlahtepat bahwa usaha pengembalian nilai atau asas hidup orang Tidore harus dilakukan.
Masyarakat Tidore sebenarnya terjebak dengan konflik horizontal pada 14 tahun silam. Bagaimana mungkin, suku yang dikenal dengan keramahan berubah menjadi bringas dan menakutkan. Ini jelas-jelas akan merusak citra Tidore yang sudah dibangun para pejuang kita dahulu terutama Sultan Nuku.
Wawancara penulis dengan tokoh masyarakat Tidore Kepualauan SN, mengatakan bahwa:
“Untuk kembali menguatkan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam (adat se atorang) pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Semua unsur masyarakat harus dilibatkan. Cukup bagi pemerintah memfasilitasi semua komponen masyarakat Tidore untuk menghidupkan makna filosofi persaudaraan di dalam adat se atorang sebab nilai inilah yang sekarang sudah tidak dimiliki oleh kebanyakan masyarakat Tidore sehingga mudah memicu konflik pada kehidupan sosialnya akibatnya keadaan menjadi rapuh dan tidak berdaya” (S.N, 21 Oktober 2015).
Banyaknya masyarakat yang tidak memahami dan melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam “adat se atorang” akan memicu perpecahan kelompok maupun individu. Penguatan nilai ini tidak cukup berhasil dilakukan oleh Pemerintah sendiri tapi perlu menyertakan peran masyarakat agar lebih efekif.
Keterlibatan masyarakat dinilai berhasil karena adanya dukungan, dorongan dan ikut menghidupkan nilai-nilai sosialnya. Peran serta masyarakat dalam merevitalisasi nilai-nilai sosial dalam rangka menjadi partner sekaligus membantu dan memudahkan tugas pemerintah menangani konflik sosial juga diatur dalam Peraturan Pemerintah no. 2 tahun 2015 seperti penguatan kerukunan masyarakat, penguatan keserasian sosial. Pada Bab II pasal 7 menjelaskan bahwa Pemerintah dalam mengoptimakan penyelesaian konflik secara damai dapat melibatkan peran serta masyarakat. Masyarakat yang dimaksud adalah tokoh agama, tokoh adat, dan unsur masyarakat lainnya termasuk pranata ada dan pranata sosialnya. Dalam pelaksanaan damai dan penguatan kembali nilai-nilai sosial dilakukan dengan menghormati norma agama, norma kesusilaan, norma, adat, dan ketentuanperaturan perundang-perundangan.
Wawancara penulis dengan kepala Kesbangpol dan Linmas RA, mengatakan bahwa:
“Berdasarkan sasaran dan arah kebijakan program pembangunan Pemerintah Tidore Kepulauan, kami merumuskan revitalisasi nilai-nilai sosial yang antara lain Program revitalisasi nilai-nilai adat se atorang, program revitalisasi nilai-nilai budaya daerah, pengelolaan dan penguatan keragaman budaya” (RA, 21 Oktober 2015)."
Ketiga program Pemerintah Kota Tidore Kepulauan tersebut di atas bertujuan mengembalikan nilai-nilai sosial yang telah luntur dari kepribadian masyarakat Tidore pasca konflik tahun 1999 serta menguatkan kembali kebersamaan yang sudah dibangun ribuan tahun. Program-program tersebut dirincikan sebagai berikut:
1. Program Revitalisasi nilai-nilai "Adat se Atoran"
Program ini bertujuan untuk menguatkan nilai-niai kearifan lokal (local wisdom) "Adat se Atoran" yang selama ini terpendam dan hanya menjadi wacana nilaitradisional saja tanpa terealisasi dalam kehidupan nyata.Program ini dilakukan untuk menumbuhkan pemahaman dan penghargaan masyarakat terhadap nilai-nilai tradisional masa lalu yang masih memilikirelevansinya di masa sekarang.
Adapun kegiatan-kegiatan pokok program ini antara lain :
(1) Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai "adat se atoran" dalam kehidupan individu dan sosial;
(2) Mengembangkan nilai-nilai tradisional "mayae" atau "ma bari" sebagai kearifan lokal (local wisdom) dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah;
(3) Meningkatkan pembinaan masyarakat dalam tata krama dan kesantunan sosial keseharian sebagai cermin warga Kota yang berbudaya;
(4) Meningkatkan penataan pemukiman, penegakan disiplin hidup bersih, tertib dan sehat serta penegakan hukum;
(5) Merevitalisasi peran institusi-institusi adat (Soa) sebagai perekat masyarakat (social glue) dan pendorong pembangunan Kota Tidore Kepulauan;
(6) Meningkatkan kuantitas dan kualitas aparat penegak hukum;
(7) Meningkatkan pengawasan dan pencegahan terhadap kejahatan narkotika dan psikotropika;
(8) Meningkatkan kesadaran moralitas di lingkungan masyarakat dalam rangka mengurangi pelanggaran hukum;
(9) Memberdayakan Organisasi Kepemudaan, lembaga keagamaan, lembaga adat, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam mencegah dan mengoreksi ketidakadilan, diskriminasi dan ketimpangan sosial untuk membangun masyarakat sipil yang toleran dan demokratis;
(10) Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar kelompok masyarakat dalam wadah kegiatan yang konstruktif;
(11) Menerapkan komunikasi dan penyebarluasan informasi sesuai dengan asas-asas keterbukaan dan pemerataan akses informasi.
2. Program Revitalisasai Kebudayaan Daerah
Program ini bertujuan untuk menguatkan nilai dan norma dasar kebudayaan daerah. Program ini dilakukan untuk menumbuhkan pemahaman dan penghargaanmasyarakat terhadap warisan budaya leluhur sehingga tercipta ketahanan budaya, terbinanya kerukunan dan kerekatan sosial yang kokoh sehingga dapat menghindari kembali terjadi konflik sosial di masyarakat.
Adapun kegiatan-kegiatan pokok yang akan dilaksanakan antara lain meliputi :
(1) Reaktualisasi nilai luhur budaya dan transformasi budaya melalui adopsi dan adaptasi nilai-nilai baru yang positif seperti orientasi pada peningkatan etos kerja, nilai kewirausahaan, budaya kritis, dan akuntabilitas;
(2) Peningkatan, pengembangan, dan pemanfaatan tradisi peninggalan sejarah;
(3) Penciptaan iklim yang kondusif bagi timbulnya kreasi sastra khususnya sastra tulisan. seni musik lokal, dan produk seni lainnya:
(4) Penelitian, pemetaan; dan pengembangan bahasa daerah dan cerita rakyat sebagai khasanah kebudayaan daerah untuk kepentingan perkuatan kebudayaan daerah;
3. Program Pengelolaan dan Penguatan Keragaman Budaya
Program ini bertujuan untuk menciptakan keserasian hubungan antarmasyarakat dan antarbudaya dalam rangka menurunkan ketegangan sosial, potensi kerawanan sosial.dan ancaman konflik.Adapun kegiatan-kegiatan pokok yang akandilaksanakan antara lain :
(1) Pelaksanaan dialog antarbudaya secara komunikatif, kreatif, dan demokratis;
(2) Pengembangan pendidikan multikultural ;
(3) Peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola kekayaan budaya;
(4) Pengembangan peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan kekayaan budaya:
(5) Pelestarian dan pengembangan ruang publik untuk memperkuat modal sosial;
(6) Pengembangan cerita rakyat sebagai khasanah budaya lokal.
D.
Meningkatnya rasa solidaritas dan toleransi antar kelompok Masyarakat Persatuan dan kesatuan ummat adalah tujuan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan merumuskan strategi pembinaan pemuda untuk mencegah konflik antar kelompok masyarakat pasca konflik horizontal yang berdampak hingga ke kalangan muda pada tahun 1999 hingga 2000.Kaum muda merupakan icon pembangunan suatu kelompok masyarakat ataupun dareah sehingga Pemerintah menguatkan peran pemuda melalui organisasi-organisasi kepemudaan. Pembinaan pemuda hingga ke daerah rawan konflik yang mana pemudalah yang menjadi pemicu konflik itu sendiri. Sejumlah kegiatan dilakukan bersama beberapa komponen masyarakat seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan para pemuda dalam “Katong Satu Dara”.Sejak tahun 2001 seusai konflik pada tahun 2000, Pemerintah daerah Kota Tidore memulihkan dan ganti rugi kerugian-kerugian fisik dan nonfisik akibat konflik hingga. Tahun 2003 kerusakan-kerusakan fisik seperti tempat tinggal dan rumah ibadah serta fasilitas lainnya dibenahi bersama oleh Pemerintah dan masyarakat setempat. Kerusakan nonfisik seperti trauma dan rasa tidak nyamanpun dipulihkan bersama dengan membangun sifat persaudaraan yang dilandasi dengan “Marimoi Ngone Futuru” yang artinya ayo bersatu/bersama kita kuat”. Kebersamaan itupun berlangsung hingga tahun 2010 Pemerintah bersama kalangan muda dan golongan tua merintis dialog tahunan yang mempertemukan bearbagai komponen masyarakat dalam dialog damai mempererat hubungan silarurahmi sesama ummat se-Kota Tidore Kepulauan khususnya dan Maluku Utara pada umumnya.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Konflik yang dialami masyarakat Tidore Kepulauan adalah imbas dari konflik horisontal yang terjadi pada akhir tahun 1999.Sebab dari konflik tersebut telah banyak menelan korban jiwa dari bayi sampai orang tua sehingga trauma, dendam, dan rasa sensitif masih membayangi pikiran masyarakat.Semula kehidupan masyarakat penuh dengan toleransi dan rukun lalu kemudian berubah menjadi brutal dan agresif. Konflik yang terus berlangsung ini harus dihentikan jika menginginkan kondisi lingkungan Kota Tidore Kepulauan yang kondusif oleh karenanya, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan telah merumuskan strategi penghentian konflik dengan melibatkan segenap unsur masyarakat terutama kelompok pemuda yang memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat.Selain itu, adapula upaya Pemerintah untuk mengembalikan nilai-nilai sosial yang sejak lama tumbuh sebagai norma pergaulan masyarakat Tidore.Kedua hal ini sangat substantif bagi Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melakukan pencegahan, penghentian, dan pemulihan konflik. Strategi dan upaya Pemerintah Kota Tidore Kepulauan disimpulkan sebagai berikut :
1. Strategi Pemerintah Daerah dalam pembinaan Organisasi Kepemudaan di Kota Tidore Kepulauan.
Pemerintah Tidore melakukan pembinaan terhadap organisasi-organisasi kepemudaan sebagai perekat masyarakat untuk menghentikan dan memulihkan
69
konflik di Kota Tidore Kepulauan.Sasaran strategi pembinaan oraganisasi kepemudaan di Tidore untuk menangani konflik adalah:
a. Pengembangan nilai-nilai "adat se atoran" dalam lingkup kehidupan kehidupan individu dan kemasyarakatan;
b. Peningkatan peran lembaga/tokoh adat dan agama sebagai perekat masyarakat;
c. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai pluralitas, toleransi dan demokratisasi;
d. Peningkatan kesadaran hukum dalam lingkup individu dan sosial kemasyarakatan;
e. Revitalisasi nilai dan norma dasar "adat se atoran" sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial;
f. Membina dan melihara kesenian daerah sebagai bagian dari kesenian nasional;
g. Meningkatkan motivasi masyarakat untuk lebihmempelajari, meningkatkan wawasan budaya sertapraktek nyatanya dalam kehidupan sehari-hari dalamrangka meningkatkan kerekatan sosial tanpa memandang perbedaan.
Pemerintah Daerah juga menyelesaikan konflik berdasarkan amanat UU no.
7 tahun 2012 tentang penanganan konflik yaitu pertama melakukan pencegahan konflik, maksudnya adalah upaya menghindari diri dari proses konflik sebelum terjadinya konflik. Kedua, melakukan penghentian konflik yaitu tindakan meyelesaikan konflik dengan cara mendamaikan pihak yang terlibat konflik agar tidak terus berlangsung lama, dan yang ketiga Pemerintah melakukan upaya
pemulihan konflik yaitu memulihkan korban agar tidak mengalami trauma dan sebagainyaserta agar konflik yang telah terjadi tidak kembali pecah.
2. Revitalisasi nilai-nilai sosial masyarakat pasca konflik di Kota Tidore Kepulauan.
Upaya Pemerintah Daerah menguatkan kembali nilai-nilai sosial masyarakat Tidore yang terkandung dalam “adat se atorang” sangat perlu demi terbinanya kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan beradab.Konflik sosial yang selama ini menjamur di masyarakat Tidore telah merusak karakter aslinya.Untuk mengembalikan nilai yang baik itu Pemerintah melakukan penguatan kesadaran terahadap nilai adat dan se atorang. Nilai-nilai sosial yang terkandung dalam adat se atorang merupakan ruh dan jantung bagi sifat dan karakter masyarakat Tidore sehingga Pemerintah Tidore Kepualaun melakukan 3 langkah penting sebagai program nyata yaitu:
1. Revitalisasi nilai “Adat Se Atorang”
2. Revitalisasi nilai Budaya
3. Pengelolaan dan Penguatan Keragaman Budaya
“Adat Se Atorang” adalah sebuah filosofi etika pergaulan masyarakat Tidore yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Konflik itu sendiri sudah akrab dengan keseharian masyarakat. Adat se atorang adalah tata nilai yang insya Allah mampu mengembalikan tatanan sosial masyarakat di Tidore. Dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan ini keharmonisan masyarakat akan kembali terjaga dan masyarakat dapat hidup dalam kedamaian.