• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Deskripsi Fokus Penelitian

Sesuai dengan fokus penelitian, maka penulis akan mendeskripsikan fokus penelitian sebagai berikut:

1. Perencanaan Kebutuhan Pegawai.

Perencanaan Kebutuhan Pegawai adalah suatu proses sistematis yang secara berkala dilakukan oleh suatu organisasi dalam menganalisisi kebutuhan sumber daya manusia atau dalam hal ini ialah Pegawai. Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan mula-mula melakukannya dengan usulan dari masing-masing Satuan Perangkat Kerja Daerah dalam Lingkup Provinsi Sulawesi Selatan sebagai perhitungan Kebutuhan Pegawainya.

2. Analisis Jabatan

Analisis Jabatan merupakan Manajemen Pegawai Negeri Sipil yang dilakukan oleh Badan Kepegawaian Daerah yang diawali dengan melakukan analisis kebutuhan dengan catatan akan memprioritaskan

jabatan yang bersifat teknis atau strategis dengan memperhatikan jenis kualifikasi pendidikan yang disyaratkan untuk jabatan tersebut.

3. Formasi

Formasi menurut Peraturan Pemerintah Nomor. 54 Tahun 2003 adalah penentuan jumlah dan susunan pangkat PNS yang diperlukan dalam suatu satuan organisasi negara untuk mampu melaksanakan tugas pokok dalam jangka waktu tertentu. Tujuan penetapan formasi adalah agar satuan-satuan organisasi negara dapat mempunyai jumlah dan mutu pegawai yang cukup yang sesuai dengan beban kerja yang dipikul pada satuan satuan organisasi itu yang penetapannya telah ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab dalam menetapkan kebutuhan formasi Pegawai Negeri Sipil adalah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

4. Pengadaan Pegawai

Pengadaan PNS ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor.

11 Tahun 2017 yang kemudian menjelaskan bahwa Pengadaan PNS ini adalah tahapan yang dilakukan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara oleh usulan yang diambil berdasarkan rapat dari hasil keputusan Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) Instansi Pusat dan juga Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah (PPKD). Pada tahap inilah selanjutnya akan diadakan proses meliputi, pengumuman, tes, hingga sampai pada tahap pelantikan dan pengambilan sumpah sebagai abdi negara dan abdi masyarakat ( Pegawai Negeri Sipil).

36 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini direncanakan akan berlangsung selama kurang lebih 2 bulan.

Penelitian dan pengambilan data juga akan di lakukan di Kantor Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi ini berada Di Jalan Urip Sumoharjo No. 269, Panaikang, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Adapun alasan penulis untuk melakukan penelitian di kantor Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dan kantor Biro Organisasi Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan karena sumber informan terkait berkantor di tempat tersebut sekaligus juga memudahkan penulis untuk mengumpulkan data penelitian.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Jenis dan Tipe Penelitian yang digunakan dalam penelitian Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil Di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sugiyono (2018) menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, analisis data bersifat induktif/kualitatif, hasil penelitian

kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi, serta teknik pengumpulan data di lakukan secara triangulasi (gabungan).

Peneliti memilih penelitian kualitatif dikarenakan dengan melalaui penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pengamatan mengenai gejala-gejala atau kendala-kendala yang didapat dalam masalah penelitian yang berkaitan dengan Efektivitas Prosedur Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

2. Tipe penelitian

Tipe penelitian ini menggunakan tipe pendekatan deksriptif. Deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki, menggambarkan/menjelaskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang, berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana mestinya. Deskriptif ini sifatnya menggali, menyusuri, menemukan fakta-fakta, atau masalah yang dihadapi sekaligus dengan memberikan penjelasan berupa kata-kata tertulis atau ucapan lisan dari orang yang diamati (Hadrawi Nawawi, 1994). Sementara itu, tipe penelitian ini menurut Taylor dan Bugdon dalam Moleong (2017) adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang diamati.

Untuk lebih jelasnya tipe penelitian deksriptif adalah tipe yang digunakan dengan cara memaparkan, menafsirkan, menganalisa, serta menginterpretasikan data-data yang ada dari sebuah penelitian.

C. Informan Penelitian

Informan penelitian adalah semua pihak yang oleh penulis anggap tahu dan dapat dipercaya sebagai sumber data atau informasi dalam penelitian yang berkaitan dengan prosedur perekrutan PNS di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Teknik penentuan informan yang dilakukan oleh peneliti adalah teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2018) teknik purposive sampling adalah teknik untuk menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih representatif. Oleh karena itu, informan yang dimaksudkan dalam penelitian adalah seseorang yang bertanggung jawab atau memiliki informasi terkait dengan proses pelaksanaan Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Informan tersebut bisa dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1 Daftar Informan

No Nama Informan Inisial Jabatan Jumlah

1 Muh. Mabrur Istiqfari

Amiruddin, S.Sos MIA

Kasubbid Pengadaan dan

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur,yang dimana wawancara ini peneliti menggunakan pedoman wawancara yang telah tersistematika dan lengkap untuk memperoleh suatu data (Sugiyono, 2018). Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak antara pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (narasumber) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Adapun dalam penelitian Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan ini dilakukan dengan cara:

a) Wawancara secara langsung

Wawancara secara langsung yang dimaksud dalam penelitian ini adalah percakapan yang dilakukan secara tatap muka antara peneliti dan informan terkait yang memiliki tanggungjawab atau informasi tentang Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

b) Wawancara via online chatting whatsapp.

Wawancara via online chatting whatsapp yang dimaksud dalam penelitian ini adalah percakapan yang dilakukan melalui aplikasi chatting online whatsapp antara peneliti dan informan terkait yang

memiliki tanggungjawab atau informasi tentang Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Dengan menggunakan teknik wawancara diatas maka akan diperoleh suatu informasi dan gambaran jelas terkait dengan prosedur pelaksanaan rekrutmen pegawai negeri sipil dan hambatan-hambatan apa saja yang ditemui Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulsel dalam dalam pelaksanaan rekrutmen Pegawai Negeri Sipil.

2. Observasi

Observasi adalaah salah satu teknik yang dilakukan dengan cara mendatangi lokasi penelitian untuk dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang telah diketahui sebelumnya. Alasan peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan observasi dikarenakan observasi memungkinkan peneliti untuk mencatat, mengamati, dan memahami berbagai peristiwa dan kejadian dilapangan dalam situasi yang berkaitan dengan indikator dalam penelitian ini.

Dengan menggunakan teknik observasi peneliti akan memperoleh informasi dan gambaran jelas di lapangan terkait dengan prosedur pelaksanaan rekrutmen pegawai negeri sipil dan hambatan hambatan apa saja yang di hadapi pada saja yang dihadapi dilapangan oleh Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulsel dalam pelaksanaan rekrutmen Pegawai Negeri Sipil.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara akan lebih kredibel /dapat dipercaya jika didukung oleh sejarah pribadi dan autobiografi (Bogdan dan Biklen dalam Yusuf, 2014).

Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik (Sugiyono, 2018).

Dalam penelitian ini, dokumentasi yang dikumpulkan masuk kedalam bagian Lampiran untuk membuktikan bahwa benar peneliti telah melakukan wawancara dan observasi lapangan.

E. Teknik Analisis Data

Bogdan dalam Moleong dan J. lexy (2017) mengatakan bahwa Teknik analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Sementara itu teknik analisa data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa secara kualitatif dengan menggunakan model analisis interaktif. Dimana analisa data disajikan berdasarkan konsep tertentu dalam kerangka teori yang telah diuraikan sebelumnya. Data yang diperoleh dalam obyek penelitian ini ditemukan, diolah dan dikonfirmasikan dengan opini dari responden yang sedang diamati.

Berdasarkan paparan tersebut kemudian ditarik kesimpulan dan saran. Selain

itu juga bermanfaat untuk memecahkan masalah-masalah yang telah disebutkan dalam rumusan masalah.

Dengan demikian dalam penelitian ini terdapat model analisis interaktif yang meliputi: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

F. Teknik Pengabsahan Data

Yang dimaksud dengan keabsahan data adalah bahwa setiap keadaan harus memenuhi :

1. Mendemonstrasikan nilai yang benar,

2. Menyediakan dasar agar hal itu dapat diterapkan, dan

3. Memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat tentang konsistensi dari prosedurnya dan kenetralan dari temuan dan keputusan-keputusannya.

Willian Wiersma dalam Widjaja (1986) mengatakan triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, triangulasi waktu (Sugiyono, 2018).

1. Triangulasi Sumber

Yaitu melakukan pengecekan data yang diperoleh dari beberapa sumber.

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis sehingga menghasilkan suatu kesimpulan lalu diminta kesepakatan (member check) dari 3 (tiga) sumber data (Sugiyono,2018)

.

2. Triangulasi Teknik

Yaitu melakukan pengecekan data kepada sumber yang sama tetapi teknik yang berbeda. Misalnya untuk mengecek data bisa melalui wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi. Bila menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan diskusi lebih dalam kepada sumber data yang bersangkutan untuk memastikan mana data yang benar (Sugiyono, 2007).

3. Triangulasi Waktu

Data yang diperoleh dengan teknik wawancara pada pagi hari ketika narasumber masih segar, maka akan memberikan data lebih valid dan lebih kredibel. Selanjutnya dapat dilakukan pengecekan dengan observasi, wawancara dalam waktu serta situasi yang berbeda. Bila masih menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sampai ditemukan kepastian datanya.

44 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian

Dalam bab ini akan dideskripsikan data hasil penelitian dan pembahasan lebih lanjut mengenai hal yang menyangkut fokus penelitian pada saat peneliti telah meengumpulkan sejumlah data. Sebelum itu, peneliti terlebih dahulu akan menguraikan secara singkat tentang gambaran umum dan kondisi geografis provinsi Sulawesi Selatan yang menjadi lokasi penelitian.

1. Kondisi Geografi Provinsi Sulawesi Selatan

Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki luas wilayah mencapai 46.717,48 km² secara astronomis terletak di 0°12’-8° Lintang Selatan dan 116°48’-122°36’ Bujur Timur. Provinsi Sulawesi Selatan berbatasan langsung dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Sulawesi Tenggara dan Teluk Bone di timur, Selat Makassar di Barat dan Laut Flores di selatan. Secara geografis, Sulawesi Selatan terletak pada posisi yang sangat strategis karena berada pada persimpangan jalur lalu lintas penumpang, perdagangan baran dan jasadari kawasan barat Indonesia ke kawasan timur Indonesia. Provinsi Sulawesi Selatan juga mempunyai dua kabupaten kepulauan yaitu Kab. Kepulauan Selayar dan Kab. Pangkajene dan Kepulauan. Kabupaten Luwu Utara juga menjadi kabupaten dengan wilayah terluas dengan wilayah mencakup 7.502,58 km² atau sekitar 16,06% dari luas wilayah provinsi Sulawesi Selatan dan Kota Pare-pare

dengan wilayah terkecil mencakup 99,33 km² atau hanya sekitar 0,21%

dari luas wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Adapun rincian Kondisi Geografi Provinsi Sulawesi Selatan sebagai berikut:

Tabel 4.1

Kondisi Geografis Provinsi Sulawesi Selatan

Uraian Satuan 2019

Luas Wilayah km² 46.717,48

Jumlah Kabupaten Kab. 21

Jumlah Kota Kota 3

Jumlah Kecamatan Kec. 307

Jumlah Desa/Kelurahan Desa/Kel. 3.049

Kecepatan Angin m/detik 3,25

Tekanan Udara Mb 1.010,31

Suhu Udara °C 23, 10-33,02

Penyinaran % 74,5

*Stasiun Meteorologi Hasanuddin Makassar Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka 2020

2. Kondisi Demografi Provinsi Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data Sensus Penduduk pada bulan september 2020 Provinsi Sulawesi Selatan tercatat memiliki jumlah penduduk mencapai 9,07 juta jiwa sekaligus menjadikan provinsi Sulawesi Selatan sebagai Provinsi ke tujuh dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Jumlah tersebut meningkat dari 8,85 juta jiwa pada tahun 2019. Hasil Sensus Penduduk provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2020 mencatat bahwa Generasi Z mencapai angka 30,84% dan Generasi Millenial sebanyak 24,31% dari total Populasi provinsi Sulawesi Selatan yang di mana kedua

generasi tersebut masuk kedalam usia produktif sehingga menjadi peluang dalam mempercepat laju pertumbuhan ekonomis provinsi Sulawesi Selatan.

Dari sisi demografi, seluruh Generasi Millenial dan Generasi X merupakan penduduk yang berada pada kelompok usia produktif pada tahun 2020. Sedangkan untuk Generasi Z sendiri terdiri dari usia produktif dan juga usia belum produktif sehingga harus menunggu 6 sampai 7 tahun lagi untuk masuk kedalam kelompok usia produktif. Berikut adalah keterangan lebih lanjut mengenai populasi penduduk provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan kelompok usia:

Gambar 4.1

Populasi penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan kelompok usia pada tahun 2020

*berita resmi statistik No. 06/01/73.Th. I, 21 Januari 2021

Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa komposisi penduduk Sulawesi Selatan menurut generasi pada Tahun 2020 adalah sebagai berikut:

a. Post Generasi Z yang lahir pada tahun 2013 dst berjumlah 11,13% atau sekitar 1 juta jiwa.

b. Generasi Z yang lahir pada tahun 1997-2012 berjumlah 30,84% atau sekitar 2,77 juta jiwa.

c. Generasi Milenial yang lahir pada tahun 1981-1996 berjumlah 24,31%

atau sekitar 2,19 juta jiwa.

d. Generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980 berjumlah 20,63% atau sekitar 1,86 juta jiwa.

e. Generasi Baby Boomer yang lahir pada tahun 1946-1964 berjumlah 10,84% atau sekitar 0,97 juta jiwa.

f. Generasi Pre-Boomer yang lahir sebelum tahun 1945 berjumlah 2,26%

atau sekitar 0,20 juta jiwa.

Selain hal tersebut penulis juga akan memberikan keterangan Jumlah populasi Provinsi Sulawesi Selatan menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin tahun 2020. Adapun rinciannya sebagai berikut:

Tabel 4.2

Jumlah populasi Provinsi Sulawesi Selatan menurut Kabupaten/Kota dan Jenis kelamin Tahun 2020

Kabupaten Kota Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Total

(1) (2) (3) (4)

Kepulauan Selayar 67.262 69.809 137.071

Bulukumba 213.443 224.164 437.607

Bantaeng 97.292 99.424 196.716

Jeneponto 198.526 203.084 401.610

Takalar 146.969 153.884 300.853

Gowa 379.874 385.962 765.836

Sinjai 128.384 131.094 259.478

Maros 196.499 195.275 391.774

Pangkajene dan kepulauan 169.454 176.321 345.775

Barru 90.230 94.222 184.452

Bone 391.682 410.093 801.775

Soppeng 113.243 121.924 235.167

Wajo 184.047 195.032 379.079

Sidenreng rappang 158.403 161.587 319.990

Pinrang 199.469 204.525 403.994

Enrekang 114.627 110.545 225.172

Luwu 184.162 181.446 365.608

Tana toraja 145.315 135.479 280.794 Luwu utara 163.168 159.751 322.919 Luwu timur 152.668 144.073 296.741 Toraja utara 133.335 127.751 261.086 Kota Makassar 709.060 714.817 1.423.877 Kota Pare-pare 75.085 76.369 151.454

Kota Palopo 92.444 92.237 184.681

Sulawesi Selatan 4.504.641 4.568.868 9.073.509

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka 2020

3. Kondisi Pegawai Negeri Sipil di Provinsi Sulawesi Selatan

Pada tahun 2019 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 47 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam setiap pelaksanaan kegiatan pemerintahan di tingkat provinsi berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. 11 Tahun 2019. Sementara untuk pemerintah di tingkat Kabupaten/Kota memiliki wewenang dalam menentukan unit organisasi/badan/dinas sesuai dengan kebutuhan disetiap daerah karena kebijakan otonomi daerah.

Statistik Daerah Provinsi Sulawesi Selatan 2020 sendiri mencatat total Pegawai Negeri Sipil daerah Provinsi Sulawesi Selatan di tahun 2019 sebanyak 24.838 orang. Sedangkan pada tingkat Kabupaten/Kota tercatat memiliki sebanyak 134.023 orang dengan konsentrasi PNS terpusat di Kota Makassar sebanyak 11.067 orang yang berarti jumlah Pegawai Negeri Sipil Sulawesi Selatan berjumlah 158.861 orang pada tahun 2019.

Berikut penulis akan memberikan rincian terkait Komposisi Pegawai Negeri Sipil Sulawesi Selatan.

Tabel 4.3

Jumlah Pegawai Negeri Sipil menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan.

Kabupaten/Kota 2019

Laki-Laki Perempuan Jumlah Kepulauan Selayar 1.603 2.167 3.770

Bulukumba 2.742 3.601 6.343

Sulawesi Selatan 55.341 78.682 134.023

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka 2020

Adapun Jumlah Pegawai Negeri Sipil menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai berikut.

Tabel 4.4

Jumlah Pegawai Negeri Sipil Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan

Tingkat Pendidikan 2019

Laki-Laki Perempuan Jumlah

Sampai dengan SD 122 20 142

SMP/Sederajat 178 46 224

SMA/Sederajat 1.695 1.101 2.796

Diploma I, II/Akta I, II 65 115 180 Diploma III/Akta III/Sarjana Muda 468 925 1393 TingkatSarjana/Doktor/Ph.D 9.119 10.984 20.103

Jumlah 11.647 13.191 24.838

Sumber data: Badan Kepegawaian Daerah Sulawesi Selatan Regional Official Administration Board of Sulawesi Selatan Province.

B. Profil Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan

1. Selayang Pandang Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Sebagai Salah satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan merupakan sebuah pengembangan lembaga kepegawaian yang telah ada sebelumnya.

Sebagai implikasi atas ditetapkannya Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah maka kemudian Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melakukan restrukturisasi organisasi pada tahun 2001 dengan mengubah desain organisasi Biro Kepegawaian Sekretariat Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan menjadi Badan Kepegawaian Daerah Pemeerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan berdasar kepada ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Pembentukan Badan Kepegawaian Daerah dan

Peraturan Pemerintah RI Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.

Berdasarkan Perda Provinsi Sulsel Nomor 29 Tahun 2001 maka secara resmi Kelembagaan Biro Kepegawaian berubah menjadi Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dengan Drs. Supomo Guntur yang menjadi Kepala Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang Pertama.

Sejalan dengan perkembangan otonomi daerah dan dinamika organisasi, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan kembali merestrukturisasi organisasinya sebagai implikasi atas ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.

Struktur Organisasi yang baru ditetapkan dalam Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 100 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, serta Tata Kerja Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Selama dinamika kelembagaan berlangsung, tercata bahwa Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan beberapa kali melalui proses restrukturisasi dan pergantian nama yang berawal-mula dari Biro Personalia, Biro Kepegawaian dan Diklat, Biro Kepegawaian dan terakhir menjadi Badan Kepegawaian Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut daftar beberapa Pimpinan yang telah berganti:

a. Kepala Biro Personalia

1) Abd. Salam Wahab, LC (1969-1975)

2) Abd. Rauf Hasan, LC (1975) 3) A. Tampubolon (1975-1976) b. Kepala Biro Kepegawaian dan Diklat

1) Abdurrazak Haruna, SH (1978-1980) 2) A. Arifuddin Mattotorang, SH (1980-1983) c. Kepala Biro Kepegawaian

1) A. Panawan, BA (1983-1984) 2) A. Abdullah Saiby (1984-1985) 3) H. Mirdin Kasim,SH (1987)

4) H. Syamsul Ridjal, SH (1990-1991) 5) Drs. Smit Pabola (1989-1990) 6) H. Syamsul Ridjal, SH (1990-1991) 7) Drs. H. Jenie A. Tanjong (1992-1996) 8) Drs. H. Mappigau Samma (1996-1998) 9) Drs. Supomo Guntur (1998-2001)

d. Kepala Badan Kepegawaian Daerah Prov SulSel 1) Drs. Supomo Guntur (2001-2002)

2) Drs. H. Muh Arsyad Kale, M.Si (2002-2004) 3) Drs. H. Tadjuddin Noer, MM (2004-2005) 4) Drs. H. Tandeng Tugi, M.Si (2005-2007)

5) Dra. Hj. Andi Murni Amien Situru, M.Si (2007-2012) 6) Drs. H. Tautoto T.R., M.Si (2012-2013)

7) H. Mustari Soba, SH, M.Si (2013-2015)

8) Ir. H. Muhammad Tamzil, MP (2015-2017)

9) Dr. H. Ashari Fakhsirie Radjamilo, M.Si (2017-2019) 10) Drs. H. Asri Sahrun Said (2019-2020)

11) Ir.H. Imran Jausi, M.Pd (2020-sekarang)

2. Visi Misi Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan selaku Organisasi Perangkat Daerah yang membantu Gubernur dalam melaksanakan fungsi penunjang urusan Pemerintahan di bidang Kepegawaian merumuskan Visi dan Misinya sebagai berikut:

Visi:

“Terwujudnya Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang Profesional, Berkinerja dan Sejahtera”

Misi:

1) Meningkatkan kualitas profenionalisme Pegawai Negeri Sipil;

2) Menyelenggarakan manajemen Pegawai Negeri Sipil berbasis Kompetensi dan Kinerja;

3) Penguatan kapasistas Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan untuk mendorong profesionalisme;

4) Melakukan pembinaan, pengawasan, dan koordinasi dalam menyelenggarakan manajemen Pegawai Negeri Sipil;

5) Meningkatkan kualitas layanan administrasi kepegawaian yang didukung oleh sistem informasi kepegawaian berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

3. Struktur Organisasi Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dapat di lihat pada bagian lampiran.

Berdasarkan struktur organisasi tersebut maka tugas pokok dari Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan adalah menyelenggarakan urusan di bidang kepegawaian berdasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Sehubungan dengan tugas pokok tersebut, maka BKD menjalankan fungsi sebagai berikut :

1. Perumusan kebijakan teknis di bidang kepegawaian daerah yang meliputi perencanaan dan pengembangan karier, mutasi dan informasi kepegawaian, kinerja dan kesejahteraan pegawai, informasi dan pengendalian kepegawaian;

2. Pengoordinasian penyusunan perencanaan di bidang kepegawaian daerah yang meliputi perencanaan dan pengembangan karier, mutasi dan informasi kepegawaian, kinerja dan kesejahteraan pegawai, informasi dan pengendalian kepegawaian;

3. Pembinaan dan penyelenggaraan tugas di bidang kepegawaian daerah yang meliputi perencanaan dan pengembangan karier, mutasi dan informasi kepegawaian, kinerja dan kesejahteraan pegawai, informasi dan pengendalian kepegawaian;

Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.

4. Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil Di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di awali dengan melakukan pengusulan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil pada aplikasi e-formasi dengan berdasarkam pada hasil Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja. Usulan kebutuhan kemudian akan disetujui atau ditetapkan oleh Menpan-RB dengan memperhatikan Pendapat Menkeu dan Pertimbangan Teknis Kepala BKN. Setelah penetapan kebutuhan mengenai Formasi Kepegawaian Maka BKN dan BKD Provinsi Sulawesi Selatan kemudian akan melakukan koordinasi terkait rencana pengumuman seleksi CPNS dan jadwal pelaksanaan seleksi administrasi serta seleksi kompetensi dasar dan bidang. Panselnas atau Panitia Seleksi Nasional kemudian bertugas untuk melakukan penetapan hasil akhir seleksi CPNS. Setelah pelamar dinyatakan lulus oleh Panselnas, maka Badan Kepegawaian Negara kemudian akan menetapkan nomor induk pada tiap tiap Pegawai Negeri Sipil. Peserta yang lulus tersebut berarti secarah sah akan diangkat oleh Instansi Pemerintah dalam hal ini diangkat oleh Gubernur Provinsi

Rekrutmen Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di awali dengan melakukan pengusulan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil pada aplikasi e-formasi dengan berdasarkam pada hasil Analisis Jabatan dan Analisis Beban Kerja. Usulan kebutuhan kemudian akan disetujui atau ditetapkan oleh Menpan-RB dengan memperhatikan Pendapat Menkeu dan Pertimbangan Teknis Kepala BKN. Setelah penetapan kebutuhan mengenai Formasi Kepegawaian Maka BKN dan BKD Provinsi Sulawesi Selatan kemudian akan melakukan koordinasi terkait rencana pengumuman seleksi CPNS dan jadwal pelaksanaan seleksi administrasi serta seleksi kompetensi dasar dan bidang. Panselnas atau Panitia Seleksi Nasional kemudian bertugas untuk melakukan penetapan hasil akhir seleksi CPNS. Setelah pelamar dinyatakan lulus oleh Panselnas, maka Badan Kepegawaian Negara kemudian akan menetapkan nomor induk pada tiap tiap Pegawai Negeri Sipil. Peserta yang lulus tersebut berarti secarah sah akan diangkat oleh Instansi Pemerintah dalam hal ini diangkat oleh Gubernur Provinsi

Dokumen terkait