BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Deskripsi Genus Cyanophyta .…
Berikut deskripsi morfologi dari 14 genus Cyanophyta tersebut : 1. Aphanocapsa
Aphanocapsa diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta, kelas Cyanophyceae, ordo Chroococcales, famili Merismopediaceae, dan genus
Aphanocapsa. Warna koloni biru kehijauan, merupakan koloni non-filamen,
bentuk koloni agak bulat dengan diameter koloni 20 µm Selubung gelatin (mucilago) tidak berwarna/tidak jelas, koloni terdiri dari beberapa sel kecil berbentuk bulat. Letak sel tidak beraturan, padat, tidak memiliki sel heterokis. Sel individu sangat kecil dengan diameter antara 1,5 – 3 µm.
Gambar 4. (Sumber foto: 2. Apanothece
Aphanothece diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyceae, ordo Chroococcales
Aphanothece. Warna koloni biru kehijauan atau biru pucat, dapat pula
(sel tunggal), merupakan koloni non
dengan diameter koloni lebih dari 100 µm. M
koloni terdiri dari beberapa sel kecil berbentuk oval, elips atau seperti batang, lurus atau sedikit melengkung dengan ujung bulat, kadang tampak terjadi pembelahan sel.
Dari beberapa pengamatan jenis ini hidup menempel pada spesies Cyanophyta lain (Gambar
beraturan bersama Oscillatoria
penelitian dan identifikasi yang dilakukan
A
N
Gambar 4. Aphanocapsa (A) dan Navicula (N). (Sumber foto: Wulan, 2009)
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta
Chroococcales, famili Synechococcaceae, dan genus . Warna koloni biru kehijauan atau biru pucat, dapat pula
(sel tunggal), merupakan koloni non-filamen, bentuk koloni bulat atau lonjong, meter koloni lebih dari 100 µm. Musilago tidak berwarna/tidak jelas, koloni terdiri dari beberapa sel kecil berbentuk oval, elips atau seperti batang, lurus atau sedikit melengkung dengan ujung bulat, kadang tampak terjadi
a pengamatan jenis ini hidup menempel pada spesies lain (Gambar 5). Aphanothece yang ditemukan tumbuh tidak Oscillatoria dan ciri-ciri pertumbuhan ini sama dengan hasil penelitian dan identifikasi yang dilakukan oleh Graham dan Wilcox (2000).
Cyanophyta, kelas
, dan genus . Warna koloni biru kehijauan atau biru pucat, dapat pula uniseluler bulat atau lonjong, usilago tidak berwarna/tidak jelas, koloni terdiri dari beberapa sel kecil berbentuk oval, elips atau seperti batang, lurus atau sedikit melengkung dengan ujung bulat, kadang tampak terjadi
a pengamatan jenis ini hidup menempel pada spesies yang ditemukan tumbuh tidak ciri pertumbuhan ini sama dengan hasil
Gambar 5. Aphanothece
pembelahan sel pada Aphanothece
3. Gloeocapsa
Gloeocapsa diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyceae, ordo
Gloeocapsa. Warna koloni hijau, spesies ini merupakan koloni non
bentuk koloni tidak beraturan, diameter koloni 50 µm Genus ini mempunyai musilago besar karena g
musilago induk tidak berwarna namun tampak jelas, begitu juga dengan musilago sel terkadang tampak jelas sehingga terlihat jarak antar sel dalam koloni berjauhan karena masing-masing sel diselubungi oleh musilago. Koloni terdiri
sel berbentuk bulat, oval atau elips, bentuk sel menjadi hemisperikal setiap setelah terjadi pembelahan sel, dan diameter sel 1 µm
Aphanothece. Koloni Aphanothece menempel pada Oscillatoria Aphanothece (b). (Sumber foto: Wulan, 2009)
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta
, ordo Chroococcales, famili Microcystaceae, dan genus . Warna koloni hijau, spesies ini merupakan koloni non
bentuk koloni tidak beraturan, diameter koloni 50 µm-100 µm.
Genus ini mempunyai musilago besar karena gabungan dari beberapa sel, musilago induk tidak berwarna namun tampak jelas, begitu juga dengan musilago sel terkadang tampak jelas sehingga terlihat jarak antar sel dalam koloni berjauhan masing sel diselubungi oleh musilago. Koloni terdiri dari beberapa sel berbentuk bulat, oval atau elips, bentuk sel menjadi hemisperikal setiap setelah terjadi pembelahan sel, dan diameter sel 1 µm-3 µm (Gambar 6).
Oscillatoria (a) dan
Cyanophyta, kelas
, dan genus . Warna koloni hijau, spesies ini merupakan koloni non-filamen,
abungan dari beberapa sel, musilago induk tidak berwarna namun tampak jelas, begitu juga dengan musilago sel terkadang tampak jelas sehingga terlihat jarak antar sel dalam koloni berjauhan dari beberapa sel berbentuk bulat, oval atau elips, bentuk sel menjadi hemisperikal setiap setelah
Gambar 6. Gloeocapsa. Dua sel dalam satu musilago yang tampak jelas (tanda panah) (a), Gloeocapsa dengan musilago induk (tanda panah) (b), sampel 2aPs1 (c), sel berbentuk hemisperikal setelah pembelahan (tanda lingkaran) (d). (Sumber foto:
Wulan, 2009)
4. Chamaesiphon Chamaesiphon
Cyanophyceae, ordo Chroococcales
Chamaesiphon. Sel menempel pada substrat (ditemukan pada
bentuk sel heteropolar, yaitu agak memanjang denga
menempel pada subsrat agak menyempit dan ujung sel membulat. Genus ini merupakan spesies non
membulat merupakan eksospora, uniseluler, bentuk sel oval memanjang, warna sel biru-hijau pucat, sel diselu
pada ujungnya apabila terjadi pembelahan, musilago tidak berwarna, dan panjang
. Dua sel dalam satu musilago yang tampak jelas (tanda panah) dengan musilago induk (tanda panah) (b), sampel 2aPs1 (c), sel berbentuk hemisperikal setelah pembelahan (tanda lingkaran) (d). (Sumber foto:
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta
Chroococcales, famili Chamaesiphonaceae, dan genus
. Sel menempel pada substrat (ditemukan pada Oscillatoria bentuk sel heteropolar, yaitu agak memanjang dengan bagian pangkal yang menempel pada subsrat agak menyempit dan ujung sel membulat.
Genus ini merupakan spesies non-filamen dengan ujung sel yang membulat merupakan eksospora, uniseluler, bentuk sel oval memanjang, warna hijau pucat, sel diselubungi oleh musilago yang memanjang dan terbuka pada ujungnya apabila terjadi pembelahan, musilago tidak berwarna, dan panjang . Dua sel dalam satu musilago yang tampak jelas (tanda panah) dengan musilago induk (tanda panah) (b), sampel 2aPs1 (c), sel berbentuk hemisperikal setelah pembelahan (tanda lingkaran) (d). (Sumber foto:
Cyanophyta, kelas , dan genus Oscillatoria),
n bagian pangkal yang
filamen dengan ujung sel yang membulat merupakan eksospora, uniseluler, bentuk sel oval memanjang, warna bungi oleh musilago yang memanjang dan terbuka pada ujungnya apabila terjadi pembelahan, musilago tidak berwarna, dan panjang
sel tanpa musilago yaitu 15 µm (Gambar 7). Menurut Whitton dkk (2002), sel dewasa Chamaesiphon
terlihat dengan mata telanjang dalam satu koloni besar. 15 µm Gambar 7. Chamaesipho Wulan, 2009) 5. Chroococcus
Chroococcus diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyceae, ordo Chroococcales
Chroococcus termasuk ke dalam
hijau, hijau buah zaitun, hijau
(Gambar 8b). Bentuk sel tidak teratur. Pada sampel 6aDp3 sel ada yang berbentuk bola namun tidak bulat benar (Gambar 8e), musilago jelas dan tidak berwarna, dalam satu koloni terdapat 2
berjauhan. Diameter sel 5 µm
sel tanpa musilago yaitu 15 µm (Gambar 7). Menurut Whitton dkk (2002), sel pada beberapa spesies dapat berbentuk makroskopis atau terlihat dengan mata telanjang dalam satu koloni besar.
on. Sampel 5dPp3 (a) dan sampel 6bPp3 (b). (Sumber foto:
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta
Chroococcales, famili Chroococcaceae, genus Chroococcus
termasuk ke dalam Cyanophyta non-filamen, uniseluler, warna sel hijau, hijau buah zaitun, hijau-biru, atau kekuningan seperti pada sampel 2dDr1 (Gambar 8b). Bentuk sel tidak teratur. Pada sampel 6aDp3 sel ada yang berbentuk bola namun tidak bulat benar (Gambar 8e), musilago jelas dan tidak berwarna, dalam satu koloni terdapat 2-4 sel, jarak antar sel adalam satu koloni a berjauhan. Diameter sel 5 µm- 10 µm.
sel tanpa musilago yaitu 15 µm (Gambar 7). Menurut Whitton dkk (2002), sel uk makroskopis atau
(Sumber foto:
Cyanophyta, kelas Chroococcus.
filamen, uniseluler, warna sel seperti pada sampel 2dDr1 (Gambar 8b). Bentuk sel tidak teratur. Pada sampel 6aDp3 sel ada yang berbentuk bola namun tidak bulat benar (Gambar 8e), musilago jelas dan tidak berwarna, 4 sel, jarak antar sel adalam satu koloni agak
Gambar 8. Chroococcus. Sampel 1bDs1 (a), sampel 2dDr1 (b), sampel 6cPs3 (c), sampel 3dPp2 (d), sampel 6aDp3 (e), dan sampel 1cDs1 (f). (Sumber foto:
6. Pleurocapsa
Pleurocapsa diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyceae, ordo Chroococcales
Pleurocapsa merupakan jenis uniseluler non 10 µm 5 µm
Sampel 1bDs1 (a), sampel 2dDr1 (b), sampel 6cPs3 (c), sampel 3dPp2 (d), sampel 6aDp3 (e), dan sampel 1cDs1 (f). (Sumber foto: Wulan, 2009
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta
Chroococcales, famili Hyellaceae, dan genus Pleurocapsa
merupakan jenis uniseluler non-filamen, dalam penelitian jenis ini Sampel 1bDs1 (a), sampel 2dDr1 (b), sampel 6cPs3 (c), sampel
Wulan, 2009)
Cyanophyta, kelas Pleurocapsa.
ditemukan menempel pada
beberapa kelompok sel yang tumbuh membentuk baris yang
saling menempel. Selain itu ada pula beberapa sel yang ditemukan bercabang (ditemukan pada sampel 1cDs1 dan 6bDs3). Ukuran sel bervariasi, agak memanjang atau membulat dengan isi sel yang tampak jelas berupa butiran butiran berwarna hijau
musilago berwarna kecoklatan dan sangat tipis. Lebar sel 10 µm sedangkan diameter sel 3 µm
adalah adanya baeocytes
sel yang berada pada bagian ujung percabangan sel.
Gambar 9. Pleurocapsa. Sampel 1bDr1 (a), sampel 1cDs1 (b), dan panah) pada sampel 6bDs3 (c dan d). (Sumber foto:
ditemukan menempel pada Chlorophyta sebagai substratnya. Jenis ini terdiri dari beberapa kelompok sel yang tumbuh membentuk baris yang tidak teratur dan saling menempel. Selain itu ada pula beberapa sel yang ditemukan bercabang (ditemukan pada sampel 1cDs1 dan 6bDs3). Ukuran sel bervariasi, agak memanjang atau membulat dengan isi sel yang tampak jelas berupa butiran butiran berwarna hijau, kekuningan, atau kemerahan. Sel diselubungi oleh musilago berwarna kecoklatan dan sangat tipis. Lebar sel 10 µm
sedangkan diameter sel 3 µm-9 µm (Gambar 9). Ciri khas dari Pleurocapsa baeocytes, yaitu sel yang terbentuk pada saat terjadi pembesaran
sel yang berada pada bagian ujung percabangan sel.
20 µm
. Sampel 1bDr1 (a), sampel 1cDs1 (b), dan baeocytes panah) pada sampel 6bDs3 (c dan d). (Sumber foto: Wulan, 2009)
sebagai substratnya. Jenis ini terdiri dari tidak teratur dan saling menempel. Selain itu ada pula beberapa sel yang ditemukan bercabang (ditemukan pada sampel 1cDs1 dan 6bDs3). Ukuran sel bervariasi, agak memanjang atau membulat dengan isi sel yang tampak jelas berupa
butiran-, kekuninganbutiran-, atau kemerahan. Sel diselubungi oleh musilago berwarna kecoklatan dan sangat tipis. Lebar sel 10 µm-20 µm Pleurocapsa
terjadi pembesaran
7. Oscillatoria
Oscillatoria diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta, kelas Cyanophyceae, ordo Oscillatoriales, famili Oscillatoriaceae, dan genus
Oscillatoria. Oscillatoria memiliki bentuk tubuh berupa koloni filamen (trikom),
trikom lurus, berlapis-lapis, tidak bercabang, musilago tipis dan tidak berwarna. Pada beberapa sampel ditemukan Oscillatoria dengan musilago agak tebal, hal ini kemungkinan disebabkan kondisi lingkungan yang kurang baik sebagai tempat tumbuhnya, karena menurut Komarek (2005), musilago pada Oscillatoria pada umumnya sangat tipis bahkan tidak ada, namun musilago akan tampak apabila Oscillatoria berada pada kondisi lingkungan yang ekstrim.
Warna koloni biru-hijau atau hijau, tebal trikom berbeda-beda, diameter dapat mencapai 3 µm-10 µm, panjang trikom dapat lebih dari 100 µm, ujung trikom membulat (pada pengamatan tidak ditemukan adanya kaliptra), tidak memiliki sel heterokis, pada beberapa sampel ditemukan Oscillatoria dengan vakuola gas. Hasil pengamatan beberapa jenis ini dapat dilihat pada Gambar 10.
40 µm
H
N 3 µmGambar 10. Oscillatoria. (a-g). Sampel 1aDr1 (a), sampel 4dPp2 (b), sampel 1aDs1 (c), formasi pembentukan hormogonium (H) dan sel nekridium (N) pada sampel 4dPs2 (d), sampel 5dPs3 (e dan f), dan vakuola gas (lingkaran) pada sampel 4cDr2 (f). (Sumber foto:
>100 µm
5 µm 3 µm
g). Sampel 1aDr1 (a), sampel 4dPp2 (b), sampel 1aDs1 (c), formasi pembentukan hormogonium (H) dan sel nekridium (N) pada sampel 4dPs2 (d), sampel 5dPs3 (e dan f), dan vakuola gas (lingkaran) pada sampel 4cDr2 (f). (Sumber foto: Wulan, 2009
>100 µm
5 µm
6 µm
g). Sampel 1aDr1 (a), sampel 4dPp2 (b), sampel 1aDs1 (c), formasi pembentukan hormogonium (H) dan sel nekridium (N) pada sampel 4dPs2 (d), sampel 5dPs3 (e
8. Arthrospira
Arthrospira diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyceae, ordo
Arthrospira. Arthrospira
Ciri yang ditemukan selama pengamatan yaitu sel multiseluler, warna koloni biru kehijauan, trikom spiral dan tidak bercabang dengan rasio lebar lekukan 5 µm µm, bentuk trikom silindris, musilago tidak jelas, tidak memiliki heterokis, diameter trikom 1 µm- 10 µm.
Beberapa Arthrospira
dengan penelitian Whitton dkk (2002) dimana memiliki vakuola gas, sedangkan
ditemukan adanya vakuola gas. Vakuola gas kemungkinan akan dapat ditemukan apabila peneliti juga menggunakan mikroskop elektron. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Gambar 11 dan Gambar 12.
4 µm
Gambar 11 (Sumber foto:
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta
, ordo Oscillatoriales, famili Phormidiaceae, dan genus Arthrospira merupakan salah satu koloni Cyanophyta berfilamen.
Ciri yang ditemukan selama pengamatan yaitu sel multiseluler, warna koloni biru kehijauan, trikom spiral dan tidak bercabang dengan rasio lebar lekukan 5 µm µm, bentuk trikom silindris, musilago tidak jelas, tidak memiliki heterokis,
10 µm.
Arthrospira yang diamati tumbuh berpilin (melingkar). Berbeda
dengan penelitian Whitton dkk (2002) dimana Arthrospira yang ditemukan memiliki vakuola gas, sedangkan Arthrospira yang diidentifikasi peneliti tidak adanya vakuola gas. Vakuola gas kemungkinan akan dapat ditemukan apabila peneliti juga menggunakan mikroskop elektron. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Gambar 11 dan Gambar 12.
H N
4 µm
11. Sel hormogonium (H) dan sel nekridium (N). (Sumber foto: Wulan, 2009)
Cyanophyta, kelas
, dan genus berfilamen. Ciri yang ditemukan selama pengamatan yaitu sel multiseluler, warna koloni biru kehijauan, trikom spiral dan tidak bercabang dengan rasio lebar lekukan 5 µm-20 µm, bentuk trikom silindris, musilago tidak jelas, tidak memiliki heterokis,
yang diamati tumbuh berpilin (melingkar). Berbeda yang ditemukan yang diidentifikasi peneliti tidak adanya vakuola gas. Vakuola gas kemungkinan akan dapat ditemukan apabila peneliti juga menggunakan mikroskop elektron. Hasil pengamatan dapat
2 µm
Gambar 12. Arthrospira
sampel 5aDs3 (b), sampel 5cPp3 (c),
2009)
9. Microcoleus
Microcoleus diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyceae, ordo
Microcoleus. Dari hasil pengamatan
Microcoleus pada sampel 1dPs1 dan sampel 4aPs2 merupakan koloni yang tebal
seperti tikar dengan bentuk trikom lurus, silindris, tak bercabang, masing
sel trikom dilapisi oleh musilagonya sendiri, musilago jelas namun tidak berwarna dan tidak terlalu tebal, ti
yang tumbuh berpilin atau melingkar. Sampel 5dDs3 (a), sampel 5aDs3 (b), sampel 5cPp3 (c), dan sampel 1dPr1 (d). (Sumber foto:
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta
, ordo Oscillatoriales, famili Phormidiaceae, dan genus . Dari hasil pengamatan Microcoleus yang ditemukan lebih beragam. pada sampel 1dPs1 dan sampel 4aPs2 merupakan koloni yang tebal seperti tikar dengan bentuk trikom lurus, silindris, tak bercabang, masing
sel trikom dilapisi oleh musilagonya sendiri, musilago jelas namun tidak berwarna dan tidak terlalu tebal, tidak memiliki heterokis, dinding antar trikom sempit,
10 µm
yang tumbuh berpilin atau melingkar. Sampel 5dDs3 (a), . (Sumber foto: Wulan,
Cyanophyta, kelas
, dan genus yang ditemukan lebih beragam. pada sampel 1dPs1 dan sampel 4aPs2 merupakan koloni yang tebal seperti tikar dengan bentuk trikom lurus, silindris, tak bercabang, masing-masing sel trikom dilapisi oleh musilagonya sendiri, musilago jelas namun tidak berwarna dak memiliki heterokis, dinding antar trikom sempit,
warna koloni hijau-biru, diameter koloni 10 µm µm, dan ujung trikom berbentuk bulat kerucut.
Jika pada sampel 1dPs1 dan sampel 4aPs2
merupakan koloni dengan trikom lurus dan tak bercabang, lain halnya dengan Microcoleus yang ditemukan pada sampel 4cPs2 dimana trikom ada yang
berkoloni dan ada pula yang tak berkoloni. Pada sampel ini dalam satu koloni terdapat trikom yang bercabang, bentuk triko
sangat jelas, dan kecoklatan, warna koloni hijau gelap kecoklatan, dinding antar trikom tidak sempit, diameter koloni 7,5 µm
µm, dan lebar jarak musilago dengan trikom 1 µm
Gambar 13. Microcoleus. (Sumber foto: Wulan, 2009
biru, diameter koloni 10 µm-20 µm, diameter trikom 3 µm µm, dan ujung trikom berbentuk bulat kerucut.
Jika pada sampel 1dPs1 dan sampel 4aPs2 Microcoleus yang ditemukan n koloni dengan trikom lurus dan tak bercabang, lain halnya dengan yang ditemukan pada sampel 4cPs2 dimana trikom ada yang berkoloni dan ada pula yang tak berkoloni. Pada sampel ini dalam satu koloni terdapat trikom yang bercabang, bentuk trikom lurus dan silindris, musilago tebal, sangat jelas, dan kecoklatan, warna koloni hijau gelap kecoklatan, dinding antar trikom tidak sempit, diameter koloni 7,5 µm-18 µm, diameter trikom 1,5 µm µm, dan lebar jarak musilago dengan trikom 1 µm-1,5 µm (Gambar 13).
Sampel 1dPs1 (a & b), sampel 4aPs2 (c), dan sampel 4cPs2 (d).
Wulan, 2009)
20 µm, diameter trikom 3 µm-4
yang ditemukan n koloni dengan trikom lurus dan tak bercabang, lain halnya dengan yang ditemukan pada sampel 4cPs2 dimana trikom ada yang berkoloni dan ada pula yang tak berkoloni. Pada sampel ini dalam satu koloni m lurus dan silindris, musilago tebal, sangat jelas, dan kecoklatan, warna koloni hijau gelap kecoklatan, dinding antar 18 µm, diameter trikom 1,5 µm-2,5
mbar 13).
10.Scytonema
Scytonema diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyceae, ordo Nostocales
Genus Scytonema merupakan
percabangan semu. Disebut percabangan semu dikarenakan cabang yang terbentuk berasal dari pembengkokkan sel vegetatif yang telah mati dan bukan dari sel aksis (Gambar 14 dan Gambar 15).
Scytonema yang telah diamati memilik
hijau-biru pucat. Sel heterokis tidak tampak karena kemungkinan masih merupakan sel muda, musilago tidak jelas, ujung sel membulat, sekat antar filamen tampak jelas, dan diameter filamen 2 µm
2 µm
Gambar 14. Scytonema. Sampel 3cPp2 (a) salah satu trikom memulai percabangan (bentuk melengkung), dan
2009)
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta
Nostocales, famili Scytonemataceae, dan genus Scytonema
merupakan Cyanophyta yang memiliki filamen dengan percabangan semu. Disebut percabangan semu dikarenakan cabang yang terbentuk berasal dari pembengkokkan sel vegetatif yang telah mati dan bukan dari sel aksis (Gambar 14 dan Gambar 15).
yang telah diamati memiliki bentuk trikom silindris, berwarna biru pucat. Sel heterokis tidak tampak karena kemungkinan masih merupakan sel muda, musilago tidak jelas, ujung sel membulat, sekat antar filamen tampak jelas, dan diameter filamen 2 µm-2,5 µm.
. Sampel 3cPp2 (a) salah satu trikom memulai percabangan (bentuk melengkung), dan double branch pada sampel 5bPp3 (b). (Sumber foto:
Cyanophyta, kelas
Scytonema.
yang memiliki filamen dengan percabangan semu. Disebut percabangan semu dikarenakan cabang yang terbentuk berasal dari pembengkokkan sel vegetatif yang telah mati dan bukan
i bentuk trikom silindris, berwarna biru pucat. Sel heterokis tidak tampak karena kemungkinan masih merupakan sel muda, musilago tidak jelas, ujung sel membulat, sekat antar
. Sampel 3cPp2 (a) salah satu trikom memulai percabangan pada sampel 5bPp3 (b). (Sumber foto: Wulan,
Gambar 15. Percabangan
berkembang pada sampel 6dPs3 (a),
sampel 2dDs1, 4cDr2, dan 4dDr2 (b, c, & d). (Sumber foto:
11.Anabaena
Anabaena diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyceae, ordo Nostocales
Anabaena merupakan
filamen dapat soliter atau berkoloni, warna koloni hijau atau sangat tipis dan tidak berwarna, trikom keban
yang agak melengkung, agregasi antar sel vegetatif tidak kuat, sel vegetatif berbentuk seperti tong dan beberapa agak lonjong atau silinder. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa diameter sel vegetatif
Percabangan Scytonema. Salah satu percabangan yang t berkembang pada sampel 6dPs3 (a), double branch telah berkembang luas pada sampel 2dDs1, 4cDr2, dan 4dDr2 (b, c, & d). (Sumber foto: Wulan, 2009)
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta Nostocales, famili Nostocaceae, dan genus
merupakan Cyanophyta dengan bentuk filamen, tidak bercabang, filamen dapat soliter atau berkoloni, warna koloni hijau-biru, musilago tidak jelas atau sangat tipis dan tidak berwarna, trikom kebanyakan lurus atau ada beberapa yang agak melengkung, agregasi antar sel vegetatif tidak kuat, sel vegetatif berbentuk seperti tong dan beberapa agak lonjong atau silinder. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa diameter sel vegetatif Anabaena 3-4 µm dengan
yang telah telah berkembang luas pada
Cyanophyta, kelas , dan genus Anabaena. dengan bentuk filamen, tidak bercabang, biru, musilago tidak jelas yakan lurus atau ada beberapa yang agak melengkung, agregasi antar sel vegetatif tidak kuat, sel vegetatif berbentuk seperti tong dan beberapa agak lonjong atau silinder. Dari hasil 4 µm dengan
panjang 3-4µm, sedangkan diameter sel heterokisnya 5 µm dengan panjang 5-6 µm. Sel heterokis yang ditemukan pada umumnya interkalar dengan warna hijau kekuningan atau hijau muda transparan, selain itu pada salah satu sampel juga ditemukan adanya akinet, yaitu sampel 2aDr1 (Gambar 16).
Beberapa ciri khas dari Anabaena yaitu letak heterokis yang selalu interkalar, koloni tidak terikat dalam satu musilago besar, musilago yang dimiliki oleh satu filamen sangat tipis bahkan hampir tidak terlihat, agregasi atau pemisahan antar sel vegetatif tidak terlalu kuat atau dapat dikatakan terdapat jarak yang sangat jelas terlihat jika diamati dengan seksama, vakuola gas tampak jelas, bentuk filament yang tidak meruncing, dan memiliki sel akinet.
Sel akinet merupakan sel yang dibentuk pada saat Anabaena kekurangan zat nitrogen. Sel akinet berbentuk lebih besar dan lebih lonjong daripada sel vegetatif dan sel heterokis. Warna sel akinet lebih gelap, hijau tua atau cokelat. Keberadaan sel akinet sangat penting untuk membedakan Anabaena dengan Nostoc. Perbedaan tersebut terletak pada letak sel akinet. Pada Anabaena sel
akinet terletak bersebelahan dengan sel heterokis sedangkan pada Nostoc letak sel akinet yaitu diantara sel heterokis atau mengapit sel heterokis. Walaupun begitu, sel akinet hanya akan terbentuk apabila Anabaena atau Nostoc berada pada kondisi ekstrim sehingga apabila sel akinet ini tidak tampak pada identifikasi, maka alternatif lain untuk membedakan kedua genus ini yaitu dengan memperhatikan morfologi musilago dan habitatnya.
Gambar 16. Anabaena. Sampel 2aDr1 (b). (Sumber foto:
12.Nostoc
Nostoc diklasifikasikan ke dalam divisi ordo Nostocales, famili
Nostoc yang ditemukan memiliki bentuk filamen, trikom mengular, tidak tumbuh
lurus dan tidak bercabang, berkoloni, berpencar
warna koloni hijau-biru atau kelabu dengan sel heterokis kuning atau seperti zaitun, koloni berada dalam satu musilago yang besar, musilago sangat jelas telihat, tebal dan agak keruh. Beberapa sampel menunjukkan bentuk sel yang sangat jelas, namun ada juga beberapa sampel yang kurang jelas karena dari hasil pengamatan diketahui bahwa sel
oleh musilago yang cukup tebal (Gambar 17).
Bentuk sel vegetatif bulat, dalam beberapa sampel cawan petri koloni Nostoc dapat terlihat jelas walau tanpa menggunakan mikroskop. Koloni yang
tampak tersebut tebal, kelabu atau kehitaman, warna dan bentuk koloni berbeda dengan sekelilingnya, mengkilap, dan musilago tampak seperti gel atau lendir.
Sampel 1aPp1 (a) dan sel akinet (tanda panah) pada sampel ). (Sumber foto: Wulan, 2009)
diklasifikasikan ke dalam divisi Cyanophyta, kelas Cyanophyceae , famili Nostocaceae, dan genus Nostoc. Dari hasil pengamatan yang ditemukan memiliki bentuk filamen, trikom mengular, tidak tumbuh lurus dan tidak bercabang, berkoloni, berpencar-pencar membentuk koloni kecil,
biru atau kelabu dengan sel heterokis kuning atau seperti zaitun, koloni berada dalam satu musilago yang besar, musilago sangat jelas telihat, tebal dan agak keruh. Beberapa sampel menunjukkan bentuk sel yang sangat jelas, namun ada juga beberapa sampel yang kurang jelas karena dari hasil ui bahwa sel Nostoc yang terbentuk masih muda dan tetutup oleh musilago yang cukup tebal (Gambar 17).
Bentuk sel vegetatif bulat, dalam beberapa sampel cawan petri koloni dapat terlihat jelas walau tanpa menggunakan mikroskop. Koloni yang tersebut tebal, kelabu atau kehitaman, warna dan bentuk koloni berbeda dengan sekelilingnya, mengkilap, dan musilago tampak seperti gel atau lendir.
1aPp1 (a) dan sel akinet (tanda panah) pada sampel
Cyanophyceae,
. Dari hasil pengamatan yang ditemukan memiliki bentuk filamen, trikom mengular, tidak tumbuh pencar membentuk koloni kecil, biru atau kelabu dengan sel heterokis kuning atau seperti buah zaitun, koloni berada dalam satu musilago yang besar, musilago sangat jelas