BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Deskripsi Hasil penelitian
Kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara mulai dilaksanakan pada tahun 2009 untuk mewakili kota Yogyakarta dalam kegiatan Jumbara Daerah PMR DIY pada tahun tersebut. Hal ini sesuai dengan wawancara dengan bapak D selaku pelatih kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara dan dengan R selaku wali kelas V sebagai berikut:
D : “PMR di Bhayangkara sudah ada sejak 2009. 2009 itu sudah ikut
JUMDA (Jumbara Daerah) yang kebetulan kota tuan rumah, dari sana cikal bakal PMR SD Bhayangkara, kemudian 2010 ikut jumbara cabang, prosesnya kemarin juga sedikit lama karena anak-anak juga belum terlalu tertarik belum aktif di PMR, kemudian 2013 baru keluar SKnya. Saya sebagai salah satu pendiri yang merintis PMR di SD Bhayangkara sama mbak Yani dulu. Awalnya cuma ikut-ikutan, terus kita pikir PMR Mula kog hanya dibutuhkan waktu saat ada kegiatan. Kenapa enggak kontinyu? Akhirnya sama teman-teman sama mbak Yani ok kita kontinyu.
Kontinyu-kontinyu terus pembentukan”. (CW3,05/04/2016)
R : “Kegiatan PMR disini ada sejak 2013, 2012 apa 2011. Ada SK-nya. kita kalau ininya baru 2013, neg enggak salah itu waktu itu kita, Kalau pramuka itu ada gugus depan, kalau PMR itu unit, nomor unit di PMI baru
diserahkan tahun 2013”. (CW1,08/03/2016)
SD Negeri Bhayangkara mendapat Surat Keputusan dari PMI Kota Yogyakarta pada tahun 2013 dengan Nomor 037/02.05.01/KEP-PMI/PK/RLW/V-2013 tentang pendirian dan pengesahan pengurus unit PMR SD Negeri Bhayangkara (pada lampiran 9 halaman 119).
1). (BTQ) & BTA 7). Drumb Band
2). PRAMUKA 8). Seni Musik
3). Palang Merah Remaja 9). Olah Vokal 4). English Club 10). Seni Lukis 5). Pencak Silat 11). Seni Tari
56
Berdasarkan dokumen Surat Keputusan yang ditetapkan pada 8 Mei 2013 diatas dapat dianalisis secara jelas bahwa terdapat empat hal penting bagi PMR SD Negeri Bhayangkara. Empat hal pokok tersebut adalah 1) pengesahan PMR SD Negeri Bhayangkara dengan nama PMR Unit SD Negeri Bhayangkara Yogyakarta, 2) pengesahan kepengurusan PMR Unit SD Negeri Bhayangkara tahun 2013, 3) pelaksanaan kegiatan kepalangmerahan dibawah ketentuan sekolah dan PMI Kota Yogyakarta, dan 4) pelaksanaan tugas kepalangmerahan harus berkoordinasi dengan kepala sekolah SD Negeri Bhayangkara dan pengurus PMI Kota Yogyakarta (staf Diklat dan Relawan).
Berdasarkan hasil wawancara dan analisis dokumentasi dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara yogyakarta dilaksanakan mulai pada tahun 2009 dan resmi disahkan oleh PMI Kota Yogyakarta pada 8 Mei 2013.
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan data yang dihasilkan berupa hasil wawancara, tabel hasil observasi dan dokumentasi kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara. Adapun data-data yang diperoleh tersebut dapat disajikan sebagai berikut:
a. Perencanaan program ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara 1) Struktur organisasi PMR SD Negeri Bhayangkara
Ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara memiliki struktur organisasi. Struktur organisasi merupakan salah satu syarat pelengkap dalam pendirian unit PMR. Struktur organisasi dibentuk oleh pelatih yang disetujui oleh kepala sekolah dan Pembina PMR. Pada struktur organisasi, anak-anak sudah mendapat tugas dan
57
tanggung jawabnya masing-masing. Ekstrakurikuler PMR menjadi bagian dari kegiatan UKS. Berikut petikan wawancara yang dilakukan dengan R, N, dan D sebagai berikut:
R : “ada, strukturnya pun ada. Filenya ada di laptop, saya saya enggak hafal”.
N : “Tetap ada, dari administrasi sudah ada, dari struktur organisasi terus
terang yang membuat pak D sendiri. jadi saya sendiri istilahnya jadi pembina PMR sebagai guru yang ditunjuk, yang mengetahui saja. Dulu saya aslinya juga buta sekali tentang PMR tetapi juga ikut belajar dari anak-anak kalau kegiatannya seperti ini.”
D : “Struktur organisasi PMR ada, di UKS letaknya. PMR bagian dari UKS.
Udah ada pembagian tugas untuk anak-anaknya”.
Struktur organisasi PMR SD Negeri Bhayangkara dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 8. Struktur Organisasi PMR
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Sesuai dengan struktur organisasi diatas, terdapat kepala sekolah sebagai penanggung jawab kegiatan ekstrakurikuler PMR. Kepala sekolah dalam
Penanggung jawab Dewi Partini, M.Pd. Seksi Keterampilan Hidup Sehat 1. Shelferrisha Putri Chiara 2. Zainal Rifqi Abidin
Seksi Berkarya dan Berbakti di Masyarakat
1. Hidayat Abdul Aziz 2. Made Ratih Resita
Kusuma D
Seksi Persahabatan
1. Olivia Jelita Putri 2 Riswanda Himawan.
Seksi Umum
1. Raka Dian Syahlevi 2.Yemima Amanda Sekar
Laksmi
Ketua 1. Seto Bagus W 2. Bima Ade Saputra
Sekretaris 1. Aprillya Anggraini 2. Athaya Riski D P. Bendahara 1. Anandia N R D. 2. Fariel Alfian F. Pembina PMR Nanik Mutaqwimah, S.Pd.
58
menjalankan peranannya melakukan koordinasi dengan PMI Kota Yogyakarta bidang Diklat dan Relawan. Kemudian dibawah kepala sekolah ada pembina PMR, pembina PMR ditunjuk dari guru Penjaskes karena guru penjaskes memiliki tanggung jawab dibidang kesehatan dan Usaha kesehatan Sekolah yang merupakan salah satu tujuan diadakannya ekstrakurikuler PMR.
Anggota ekstrakurikuler PMR pada tahun pelajaran 2015/2016 berjumlah 29 siswa (17 siswa dan 12 siswi). Adapun penjelasan rinci terdapat dalam lampiran. 11 pada halaman 124.
2) Tujuan kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara
PMR merupakan salah satu bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di SD Negeri Bhayangkara, sehingga tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR diselaraskan dengan tujuan SD Negeri Bhayangkara yang tertuang pada visi dan misi sekolah. Tujuan sekolah yang telah dirumuskan dalam visi dan misi sekolah tersebut dapat dijabarkan dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR. Hal ini dikemukakan oleh R selaku guru kelas yang mendampingi kegiatan ekstrakurikuler PMR yang mengatakan:
“Ada Tentunya. Untuk tujuan kegiatan PMR saya rasa sudah sesuai dengan visi dan misi SD Bhayangkara. Kalau kita lihat di visi dan misi sekolah itu ada butir ini: menjalin kerjasama dan hubungan dengan berbagai pihak sebagai jaringan usaha pengembangan pendidikan ini masuk, terus di tujuan sekolah di nomor satu; meningkatkan mutu akademis dan non akademis di atas kriteria ketuntasan minimal berdasarkan Standar Nasional Pendidikan masuk, terus ini terwujudnya hubungan harmonis dan dinamis yang dijiwai semangat nilai-nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat ini masuk. Terwujudnya lingkungan sekolah yang bersih, indah, dan nyaman ini juga iya. Pendidikan Lingkungan Hidup juga iya. Itu tadi kan sudah sejalan antara tujuan yang ingin dicapai sekolah
59
Tujuan SD Negeri Bhayangkara dalam meningkatkan mutu akademik dan nonakademik diatas kriteria ketuntasan minimal berdasarkan Standar Nasional Pendidikan yang lebih dispesifikkan dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR yaitu peningkatan pengetahuan siswa dalam bidang kepalangmerahan dan pembentukan karakter siswa seperti: pembelajaran cara berorganisasi, bersosial, melatih dan menambah pengalaman anak dalam memberikan pertolongan pertama. Tujuan sekolah ini didukung oleh N selaku pembina ekstrakurikuler PMR yang menyatakan:
“Pembelajaran cara berorganisasi, kemudian bersosial, kemudian mengerti
model-model seperti itu, menambah pengalaman di materi kan ada pertolongan pertama.” (CW2,10/03/2016)
Pendapat senada mengenai tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR ini juga dikemukakan oleh D selaku pelatih ekstrakurikuler PMR seperti berikut:
“Tujuan PMR secara umum dimana-mana itu sama, untuk pembentukan karakter anak. ... Salah satu tujuan diadakannya PMR itu untuk melatih anak-anak, terus sinkronisasi antara UKS dan kegiatan, kalau kita berharap UKS ini bisa dihandle oleh teman-teman anak-anak PMR”. (CW3,05/04/2016) Tujuan kegiatan ekstrakurikuler PMR diselaraskan dengan tujuan SD Negeri Bhayangkara yang tertuang pada visi dan misi sekolah. Tujuan kegiatan ekstrakurikuler PMR di SD Negeri Bhayangkara dibagi menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya yaitu untuk pembentukan karakter anak seperti : pembelajaran cara berorganisasi, bersosial, melatih dan menambah pengalaman anak dalam memberikan pertolongan pertama. Sedangkan tujuan khususnya yaitu menyinkronisasikan antara UKS dengan kegiatan ekstrakurikuler PMR agar anak-anak dapat mengurus dan mengelola UKS yang ada di sekolah dengan baik.
60
Keberhasilan tujuan kegiatan ekstrakurikuler tidak terlepas dari adanya perencanaan program kegiatan, sehingga tujuan yang akan ditetapkan dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR dapat dicapai dengan efektif dan efisien. Penyusunan program kegiatan dibuat oleh pelatih PMR dengan menyertakan daftar kegiatan dan anggaran dana yang dibutuhkan kemudian dikonsultasikan pada kepala sekolah. Rancangan rencana program kegiatan tersebut kemudian dirapatkan dan diseleksi dalam rapat intern sekolah untuk pengalokasian dana yang diperlukan dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti yang dikemukakan oleh R selaku wali kelas VB berikut.
“ada, itu mas dedi bagus sekali, kan yang merencanakan, daftar kegiatan,
program kegiatan yang praktik yang membuat mas Dedi, itu ada”.
Peneliti : Berarti yang membuat perencanaan itu mas Dedi sendiri atau sekolah juga ikut?
“Tetap sekolah juga iya kan disitu kepala sekolah menyetujui. Dari program yang diajukan nanti yang masuk mana yang tidak masuk tidak serta merta semuanya diterima tapi tetap dirapatkan tho, program yang cocok. Terus selain itu, kita kan juga perlu anggaran, nah itu juga disesuaikan dengan anggaran sekolah. Itu biasanya kita yang sifatnya kembali ke anak itu direncanakan karena anggaran dari sekolah itu terbatas kan sekian persen masih dibagi-bagi untuk sekian ekstra disini banyak sekali ekstranya”.
(CW1,08/03/2016)
Hasil dari perencanaan program kegiatan yang telah dibahas dalam rapat sekolah didokumentasikan dalam program kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara tahun pelajaran 2015-2016 yang ditandatangani oleh kepala sekolah pada tanggal 10 Juli 2015. Program kerja tersebut memuat sepuluh program kegiatan dilengkapi dengan tujuan kegiatan, waktu pelaksanaan, anggaran dana, dan penanggung jawab kegiatan (lampiran 12 hal. 126).
61
b. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara
1. Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara.
Kelancaran pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler tidak terlepas dari partisipasi semua pihak yang ada dalam lingkungan sekolah. Pihak-pihak tersebut sudah memiliki perannya masing-masing dalam upaya kelancaran pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR. Hal ini disampaikan langsung oleh R pada wawancara yang dilakukan peneliti. Argumen tersebut sebagai berikut:
”Semua. Yang telibat utama pembina, kalau kegiatan ini yang terlibat pihak sekolah terutama guru-guru, kepala sekolah yang memberikan keputusan, terus keuangan ketika mau mengeluarkan dana tetap ada koordinasi, ini bisanya hanya segini jatahnya bagaimana caranya harus cukup. Inikan istilah semua pihak terlibat, ada dari guru, kepala sekolah, keuangan. Kalau guru
kelas kaitannya komunikasi dengan jadwal mengajar.” (CW1,08/03/2016)
Hal ini juga didukung oleh pendapat N yang mengatakan bahwa:
“Disini semua. siswa kan disuruh memilih, kegiatan dihari sabtu kebetulan
ada Takraw, ada pencak silat, ada PMR. Jadi anak-anak memilih ekstra yang disukainya. Kemudian nanti untuk guru itu pelatih itu kan sudah ada izin dari kepala sekolah, guru juga sudah mengizinkan kemudian ada beberapa guru yang ditunjuk. Kalau peserta ekstra Cuma siswa yang memilih ekstra disitu. Peneliti : Pihak-pihak lain seperti dari Dinas dan PMI juga termasuk?
Iya dari PMI jelas, kita kan juga harus ada izin dari PMI, istilahnya koordinasi jelas harus ada. ... Jadi kalau misalnya kalau yang hubungannya sama musik
kita juga sama pak guru musiknya kita koordinasi dengan pak S”.
(CW2,10/03/2016)
Sedangkan pendapat D tentang pihak yang terlibat dalam upaya kelancaran ekstrakurikuler PMR adalah sebagai berikut:
“Yang terlibat pasti semua. Cuma yang bertanggung jawab penuh itu pembina PMR yang saat ini adalah guru bagian olahraga. Karena guru yang membidangi olahraga itu secara tidak langsung itu dia mengampu UKS. Jadi guru olahraga itu bertanggung jawab penuh terhadap UKS. PMR karena banyak menangani tentang kesehatan juga, pembinanya jadi dari guru
62
olahraga. wali kelasnya juga sangat mendukung, kalau ada kegiatan-kegiatan PMR juga mau turun tangan. Orang tua siswa juga aktif banget, banyak itu foto-foto kegiatan termasuk kemarin kita mengadakan pelantikan di Bonbin, tahun kemarin 2015 kita mengadakan donor darah yang pertama tempatnya di UIN kan setelah selesai kan kita dapat voucher masuk gratis Bonbin itu orang tua mendukung sekali. Jadi selama ini apa yang dibutuhkan anak-anak PMR, orang tua sangat welcome enggak ada masalah sama orang tua malahan mereka sangat mendukung. Apalagi saat anaknya dijadikan kepanitiaan waktu itu. Anggaran sama orang tua gampang. Malahan kalau anaknya
enggak ikut, “kog ada kegiatan PMR anak kami kog enggak dilibatkan, kog
anak kami enggak diajak?” (CW3,05/04/2016)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diperoleh kesimpulan dengan menggunakan trianggulasi sumber bahwa Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR di SD Negeri Bhayangkara adalah semua dewan sekolah. Dewan sekolah tersebut yaitu;
a) Kepala Sekolah, kepala sekolah adalah orang yang memberi keputusan dan kebijakan tentang semua kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. b) guru, guru kelas dan pelatih ekstrkurikuler berkoordinasi tentang jadwal
pelaksanaan kegiatan.
c) Keuangan Sekolah, keuangan sekolah memberikan anggaran dana yang dibutuhkan dalam setiap pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler.
d) Pembina PMR, pembina PMR diambil dari guru yang membidangi kesehatan yaitu guru olahraga.
e) Wali murid, wali murid sangat mendukung anak-anaknya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PMR.
f) PMI Kota Yogyakarta, PMI Kota Yogyakarta terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR di SD Bhayangkara secara insidental ketika sekolah mengadakan kegiatan donor darah pihak PMI membantu menyediakan sarana untuk kegiatan tersebut.
63
2. Jadwal pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara Kegiatan ekstrakurikuler PMR dilaksanakan sesuai dengan rencana program kegiatan yang telah dibuat. Rencana program dibuat oleh pelatih dengan menyertakan daftar kegiatan lengkap beserta anggaran dana yang dibutuhkan kemudian diserahkan kepada kepala sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler PMR pada tahun ajaran 2015/2016 dimulai pada bulan agustus 2015. Kegiatan dilaksanakan rutin setiap hari sabtu. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan pada tiga orang narasumber sebagai berikut:
R : “Kegiatannya setiap hari sabtu jam 09.30 sampai 10.30”.
N : “Iya, ekstranya setiap hari sabtu thok, hari sabtu thok pagi”.
D : “Setiap hari sabtu, sabtu jam 10. Kenapa kita ngambil hari sabtu? Karena hari sabtu, pertama jam pulang anak-anak cepat, kedua karena hari akhir.
hari akhir minggu ya, jadi kegiatan lebih enjoy di lapangan”
Hasil observasi kegiatan pelatihan PMR yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 12 Maret 2016 dan 2 April 2016 menunjukkan bahwa pelaksanaan pelatihan dimulai pada pukul 10.00 sampai dengan pukul 11.30 WIB seusai kegiatan belajar mengajar intrakurikuler. Jeda waktu diberikan oleh pelatih untuk mengkondisikan siswa kelas V dimana salah satu kelas selesai jam pelajaran olah raga.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada tiga narasumber dan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara dilaksanakan setiap hari sabtu pukul 10.00 sampai dengan 11.30 WIB.
3. Program Kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara
Kegiatan ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara dilaksanakan sesuai dengan program kegiatan yang telah disusun. Program kegiatan tersebut disusun
64
untuk mencapai tujuan ekstrakurikuler PMR yang diselaraskan dengan tujuan yang dirumuskan oleh SD Negeri Bhayangkara. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam ekstrakurikuler PMR SD Negeri Bhayangkara adalah sebagai berikut.
a) Pendaftaran anggota baru
Pendaftaran anggota baru PMR dimulai pada awal semester ganjil tahun pelajaran 2015. PMR merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang sifatnya pilihan untuk siswa kelas V. Siswa kelas V memilih ekstrakurikuler yang diminati dengan mengisi angket yang telah disediakan dari sekolah. Hal ini dijelaskan oleh
R dalam petikan wawancara “anak-anak memilih kegiatan yang disukai melalui
angket kemudian disitu orangtua menandatangani” (CW1,08/03/2016). Hal senada
juga diungkapkan oleh N “siswa disuruh memilih, kegiatan di hari sabtu ada takraw,
ada pencak silat, ada PMR. Jadi anak-anak memilih ekstra yang disukainya”
(CW2,10/03/2016).
b) Pemilihan pengurus PMR yang baru
Pemilihan pengurus baru PMR dilakukan untuk meregenarasi pengurus. Pemilihan pengurus baru dibentuk oleh pelatih PMR mengingat siswa SD masih memerlukan bimbingan dan arahan dari orang yang lebih dewasa. Anggota PMR yang ditunjuk sebagai pengurus ini berkewajiban untuk melaksanakan tugas sesuai dengan bidang kepengurusannya. Daftar nama siswa yang menjadi pengurus organisasi PMR telah dijelaskan pada tabel 8. struktur organisasi PMR.
65
c) Orientasi anggota, pelantikan pengurus, dan keakraban anggota PMR
Tiga kegiatan ini merupakan satu rangkaian kegiatan yang dilakukan di luar lingkungan SD Negeri Bhayangkara. Proses orientasi, pelantikan pengurus dan keakraban anggota PMR dilaksanakan bersama dengan 13 unit PMR baik itu tingkat Mula, Madya, dan Wira binaan dari KSR PMI Unit 7 UIN Yogyakarta. Tujuan dari kegiatan gabungan ini yaitu untuk mengenal dan memperdalam materi kepalangmerahan serta mengenalkan anggota pada sahabat-sahabatnya yang ikut pula menjadi anggota PMR.
Gambar 3. Anggota PMR SD Negeri Bhayangkara (kaos olahraga warna jingga) dalam kegiatan orientasi, pengukuhan pengurus, dan keakraban anggota PMR di bumi perkemahan Babarsari.
Sumber : dokumentasi sekolah
Berdasarkan dokumentasi foto diatas menunjukkan anggota PMR SD Negeri Bhayangkara sedang mengikuti persiapan upacara pembukaan kegiatan latihan gabungan bersama PMR dari Unit sekolah lainnya yang digagas oleh KSR PMI Unit 7 UIN Yogyakarta.
66 d) Pelatihan PMR
Kegiatan pelatihan PMR merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap minggu dalam satu tahun ajaran. Latihan rutin dilaksanakan setiap hari sabtu pukul 10.00 – 11.30 WIB seusai kegiatan belajar mengajar intrakurikuler. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan kemampuan siswa tentang pemberian pertolongan pertama, organisasi Palang Merah Internasional dan Palang Merah Indonesia, serta peran serta anggota PMR dalam masyarakat.
Gambar 4.1. Anggota PMR sedang melakukan permainan ular tangga siaga bencana dalam pelatihan PMR
Gambar 4.2. Pelatih sedang mengamati dan mengarahkan permainan ular tangga siaga bencana dalam pelatihan PMR
67
Dokumentasi foto diatas sedang menunjukkan proses latihan rutin PMR yang dilakukan dengan metode permainan. Anggota PMR sedang melakukan permainan ular tangga siaga bencana. permainan dibentuk dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 orang anak. Anak yang mendapat giliran main menjalankan pionnya sesuai dengan jumlah angka yang ditunjukkan oleh dadu kemudian melakukan perintah yang sesuai dengan titik keberadaan pionnya. Pelatih mengamati kegiatan yang dilakukan oleh anak dan memberikan arahan pada setiap kelompok.
e) Apotik hidup
Program ini memiliki tujuan untuk mengenalkan tanaman yang dapat digunakan sebagai obat yang biasa siswa temukan disekitar lingkungannya. Program kegiatan apotek hidup ini merupakan program kegiatan yang sasarannya tidak hanya diperuntukkan untuk siswa yang mengikuti ekstrakurikuler PMR tetapi juga untuk semua warga SD Negeri Bhayangkara baik itu siswa kelas I – VI, guru-guru dan karyawan sekolah. Program kerja ini diwujudkan dengan membentuk tanaman obat keluarga (TOGA) di halaman sekolah.
68
Gambar 5. Tanaman TOGA yang terletak di halaman samping SD Negeri Bhayangkara.
Sumber : Dokumentasi pribadi
Berdasarkan gambar diatas, dapat diketahui program apotek hidup dapat berjalan dengan baik. Penanaman TOGA menggunakan media pot tertata dengan rapi. Tanaman yang terlihat diantaranya kunyit, jahe, lempuyang, jeruk nipis, jarak, dan pandan. Beberapa tanaman telah diberi label nama tanaman beserta dengan kegunaan tanaman dalam mengobati penyakit.
f) Pembuatan seragam, slayer dan bed anggota PMR
Tujuan kegiatan pengadaan seragam, slayer dan bed anggota PMR adalah menambah minat belajar dan berlatih siswa. Atribut ini juga secara tersirat menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti ekstrakurikuler PMR merupakan anggota perhimpunan Palang Merah Indonesia juga Palang Merah Internasional. Hal ini akan menambah kemantapan dan percaya diri siswa untuk bersungguh-sungguh dalam mengikuti setiap kegiatan PMR.
69
Gambar 6. Slayer, seragam dan bed anggota PMR SD Negeri Bhayangkara Sumber: dokumentasi sekolah
Gambar diatas menunjukkan seragam harian, bed, dan slayer anggota PMR tingkat Mula. Seragam harian warna putih dengan baju berkantong, celana panjang dan rok berwarna biru dongker, ukuran lambang PMI yang sesuai standar, serta slayer berwarna hijau yang menandakan anggota PMR tingkat Mula. Atribut PMR SD Negeri Bhayangkara telah sesuai dengan standar aturan penggunaan atribut yang dibuat oleh PMI Pusat.
g) Aksi donor darah
Pada tahun pelajaran 2015/2016 kegiatan aksi donor darah dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2016. Kegiatan ini diselenggarakan bersamaan dengan hari ulang tahun SD Negeri Bhayangkara. Kegiatannya berupa donor darah untuk guru-guru, karyawan, wali murid dan tamu undangan serta pemeriksaan golongan darah bagi semua siswa SD Negeri Bhayangkara. Dalam aksi donor darah ini, peneliti mengamati secara langsung kegiatan dan mendapatkan temuan anggota PMR dilibatkan langsung dalam kegiatan. Anggota PMR dilatih menjadi panitia penyelenggara kegiatan dengan diberi tanggung jawab agar kegiatan donor dapat berjalan tertib dan lancar. Ada pembagian tugas seperti memanggil pendonor,
70
memberikan kenang-kenangan pada pendonor, serta mengajak semua orang yang ada dalam acara tersebut untuk mendonorkan darahnya. Hal ini dapat dilihat melalui beberapa dokumentasi dibawah ini.
Gambar 7.1. Anggota PMR menggunakan Co-card panitia dalam kegiatan pemeriksaan golongan darah
Gambar 7.2. Pelatih memberikan arahan pada anggota PMR yang sedang bertugas memanggil peserta aksi donor darah
71
Gambar 7.3. Anggota PMR sedang duduk menunggu pendonor yang telah
selesai mendonorkan darahnya untuk diberi cenderamata
Gambar 7.4. Walikota Yogyakarta sedang berbincang-bincang dengan petugas UPTD PMI Kota Yogyakarta dalam aksi donor darah yang dilaksanakan oleh PMR SD Negeri Bhayangkara.