BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian
Manajemen Laba (Earnings Management) adalah suatu tindakan managemen untuk memilih kebijakan akuntansi dari suatu standart tertentu dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan dan atau nilai pasar perusahaan. Variabel ini diukur berdasarkan proxy Discretionary Accrual (DA), yang merupakan kumpulan sejumlah dampak bersih atas kebijakan akuntansi yang mencakup portofolio penentu pendapatan (income).
Manajemen laba (Earning Management) dapat diformulasikan
sebagai berikut:
DA it = TA it - NDA it
(Dechow, 1996 dalam Widyaningdyah, 2001 : 95 ) Model ini dapat menggunakan ukuran tendensi sentral dalam
NDA t = Mean atau Median (TA t IND)
Untuk mencari Total Accrual (TA) digunakan model, yaitu sebagai
berikut: TA it = 1 -t ) Depr t t STD Cash t t CL -CA t ( A
Berikut ini rekapitulasi perhitungan Total Accruals pada perusahaan
pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2008 smapai dengan tahun 2010 :
Tabel 4.1 : Rekapitulasi Perhitungan Total Accruals Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2008 - Tahun 2010 TAHUN NO NAMA PERUSHAAAN 2008 2009 2010 1 PT.Timah,Tbk -0.0451 -0.5119 -0.3846 2 PT. INCO, Tbk -0.6583 -0.6320 -0.6177 3 PT. Aneka Tambang, Tbk 0.0280 -0.1801 -0.4240
4 PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk -0.0318 -0.0867 0.0985
5 PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk -0.0556 0.0881 -0.1198
6 PT. Resource Alam Indonesia, Tbk -0.3180 -0.2690 -0.1100
7 PT. Indo Tambangnya Megah, Tbk -0.2013 -0.2156 -0.1402
8 PT. Bayan Resources, Tbk -0.2178 -0.5306 -0.2636
Mean -0.1875 -0.2922 -0.2452
Sumber : Lampiran 1F
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa nilai Total Accruals pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 sebagian besar bernilai negatif, yaitu nilai Total Accruals terendah tahun 2008 sebesar -0,6583 (PT. INCO Tbk) dan tertinggi sebesar 0,0280 (PT. Aneka Tambang, Tbk).
Nilai Total Accruals terendah tahun 2009 sebesar -0,6320 yaitu PT.
INCO, Tbk dan tertinggi sebesar 0,0881 yaitu PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk. Sedangkan nilai Total Accruals terendah tahun 2010 sebesar -0,6177 yaitu PT. INCO, Tbk dan tertinggi sebesar 0,0985 yaitu PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk.
Berdasarkan perhitungan Total Accruals didapatkan nilai rata-rata dari Total Accruals atau disebut dengan Non Discretionary Accruals (NDA),
dimana nilai NDA tahun 2008 sebesar -0,187; tahun 2009 sebesar -0,2922 dan tahun 2010 sebesar -0,2452.
Tabel 4.2 : Rekapitulasi Perhitungan Discretionary Accruals Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2008 - Tahun 2010 TAHUN NO NAMA PERUSHAAAN 2008 2009 2010 1 PT.Timah,Tbk 0.1424 -0.2197 -0.1394 2 PT. INCO, Tbk -0.4708 -0.3397 -0.3725 3 PT. Aneka Tambang, Tbk 0.2155 0.1121 -0.1788
4 PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk 0.1557 0.2055 0.3436
5 PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk 0.1319 0.3803 0.1253
6 PT. Resource Alam Indonesia, Tbk -0.1305 0.0232 0.1352
7 PT. Indo Tambangnya Megah, Tbk -0.0138 0.0766 0.1050
8 PT. Bayan Resources, Tbk -0.0303 -0.2383 -0.0184
Sumber : Lampiran 1F
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa nilai Discretionary Accruals pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2008
sampai dengan tahun 2010 sebagian besar bernilai positif, yaitu nilai Discretionary Accruals terendah tahun 2008 sebesar -0,4708 (PT. INCO
Nilai Discretionary Accruals terendah tahun 2009 sebesar -0,3397
yaitu PT. INCO, Tbk dan tertinggi sebesar 0,3803 yaitu PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk. Sedangkan nilai Discretionary Accruals terendah tahun 2010 sebesar -0,3725 yaitu PT. INCO, Tbk dan tertinggi sebesar 0,3436 yaitu PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk.
4.2.2. Kepemilikan Manajerial (X1)
Kepemilikan manajerial adalah persentase kumulatif saham yang dimiliki secara langsung oleh manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (komisaris dan direksi). Semakin besar kepemilikan manajemen semakin kecil kecenderungan untuk melakukan manajemen laba karena adanya kesejajaran kepentingan dan tujuan. Proporsi kepemilikan manajerial dihitung melalui persentase saham yang dimiliki secara langsung oleh investor manajerial yang terdapat dalam laporan keuangan. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio, dengan satuan yang pengukuranya adalah persen (%),dan rumus yang digunakan (Isnanta, 2008):
Kepemilikan Manajerial = Jumlah saham yang dimiliki oleh manajerial
Total saham
Berikut ini rekapitulasi perhitungan kepemilikan manajerial pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2008 smapai dengan tahun 2010 :
Tabel 4.3 : Rekapitulasi Perhitungan Kepemilikan Manajerial Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2008 - Tahun 2010 TAHUN NO NAMA PERUSHAAAN 2008 2009 2010 1 PT.Timah,Tbk 0.0000 0.0000 0.0000 2 PT. INCO Tbk 0.0001 0.0000 0.0000 3 PT. Aneka Tambang, Tbk 0.0001 0.0001 0.0001
4 PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk 0.0000 0.0000 0.0000
5 PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk 0.0002 0.0002 0.0002
6 PT. Resource Alam Indonesia, Tbk 0.0000 0.0000 0.0000
7 PT. Indo Tambangnya Megah, Tbk 0.0002 0.0002 0.0000
8 PT. Bayan Resources, Tbk 0.8512 0.7112 0.7113
Mean 0.1065 0.0890 0.0889
Sumber : Lampiran 2A
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tertinggi pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 dimiliki oleh PT.Bayan Resources, Tbk dengan nilai 0,8512; 0,7112 dan 0,7113.
Kepemilikan manajerial terendah sebagian besar dimiliki oleh perusahaan pertambangan yaitu bernilai 0, dikarenakan manajerial tidak memiliki saham.
Kepemilikan manajerial selama periode pengamatan yaitu tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 cenderung mengalami penurunan, dilihat dari nilai rata-rata tahun 2008 sebesar 0,1065; tahun 2009 sebesar 0,0890 dan tahun 2010 sebesar 0,0889.
4.2.3. Komisaris Independen (X2)
Komisaris independen adalah perbandingan jumlah komisaris independen yang dimiliki suatu perusahaan terhadap jumlah seluruh anggota
dewan komisaris. Semakin tinggi proporsi komisaris independen maka semakin baik fungsi pengawasan terhadap manajemen, sehingga dapat menghambat praktek manajemen laba. Proporsi komisaris independen yang disyaratkan oleh peraturan yang dikeluarkan oleh Bapepam kep-05/PM/2002 tanggal 3 april minimal adalah 25% dari jumlah seluruh anggota atau proporsional dengan jumlah pemegang saham minoritas. Skala pengukuran yang digunakan adalahskala rasio dengan satuan pengukurannya adalah persen (%), untuk perhitungan komisaris independen melalui jumlah komisaris independen perusahaan yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan menggunakan rumus (Surya dan Yustiavananda, 2006:133):
Komisaris Independen = Jumlah komisaris independen perusahaan
Jumlah anggota dewan komisaris
Berikut ini rekapitulasi perhitungan komisaris independen pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2008 smapai dengan tahun 2010 :
Tabel 4.4 : Rekapitulasi Perhitungan Komisaris Independen Pada
Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2008 - Tahun 2010 TAHUN NO NAMA PERUSHAAAN 2008 2009 2010 1 PT.Timah,Tbk 0.2000 0.2000 0.1667 2 PT. INCO Tbk 0.1000 0.1000 0.1000 3 PT. Aneka Tambang, Tbk 0.6000 0.6000 0.7500
4 PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk 0.6000 0.6000 0.5000
5 PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk 0.6000 0.6000 0.6000
6 PT. Resource Alam Indonesia, Tbk 0.2500 0.5000 0.5000
7 PT. Indo Tambangnya Megah, Tbk 0.5000 0.1667 0.1667
8 PT. Bayan Resources, Tbk 0.6000 0.6000 0.6000
Mean 0.4313 0.4208 0.4229
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa komisaris independen tertinggi pada tahun 2008 dimiliki oleh PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk; PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk dan PT. Bayan Resources, Tbk yaitu sebesar 0,600.
Nilai tertinggi komisaris independen tahun 2009 sebesar 0,600 dimiliki oleh PT. Aneka Tambang, Tbk; PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk; PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk dan PT. Bayan Resources, Tbk. Nilai tertinggi komisaris independen tahun 2010 juga sebesar 0,600 hanya saja dimiliki oleh PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk dan PT. Bayan Resources, Tbk.
Nilai komisaris independen terendah pada tahun 2008 sampai dengan 2010, berturut-turut dimiliki oleh PT. INCO, Tbk yaitu sebesar 0,1000. Komisaris independen selama periode pengamatan yaitu tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 cenderung berfluktuasi, dilihat dari nilai rata-rata tahun 2008 sebesar 0,4313; tahun 2009 sebesar 0,4208 dan tahun 2010 sebesar 0,4229.
4.2.4. Komite Audit (X3)
Komite audit ditentukan dari ada atau tidaknya komite audit dalam perusahaan. Sehubungan dengan fungsi yang dimiliki komite audit, diindikasikan bahwa perusahaan yang memiliki komite audit mempunyai aktivitas manajemen laba yang lebih rendah intensitasnya dari pada perusahaan yang tidak mempunyai komite audit. Variabel ini merupakan
memiliki komite audit dan skala 0 untuk perusahaan yang tidak memiliki komite audit (Effendi, 2008:25).
Berikut ini rekapitulasi data komite audit pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2008 smapai dengan tahun 2010 :
Tabel 4.5 : Rekapitulasi Data Komite Audit Pada Perusahaan
Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2008 - Tahun 2010 TAHUN NO NAMA PERUSHAAAN 2008 2009 2010 1 PT.Timah,Tbk 1 1 1 2 PT. INCO Tbk 1 1 1 3 PT. Aneka Tambang, Tbk 1 1 1
4 PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk 1 1 1
5 PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk 1 1 1
6 PT. Resource Alam Indonesia, Tbk 0 0 0
7 PT. Indo Tambangnya Megah, Tbk 1 1 1
8 PT. Bayan Resources, Tbk 1 1 1
Sumber : Lampiran 2C
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa hampir seluruh perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 memiliki komite audit, kecuali PT. Resource Alam Indonesia, Tbk tidak memiliki komite audit.
4.2.5. Kepemilikan Institusional (X4)
Kepemilikan institusional merupakan jumlah kumulatif dari persentase saham yang dimiliki oleh investor institusional yang dimiliki paling sedikit 5% saham perusahaan. Semakin besar kepemilikan investor institusional pada perusahaan, maka semakin rendah kecenderungan
manajer melakukan aktivitas manajemen laba karena adanya fungsi pengawasan yang lebih baik dari investor. Untuk menghitung kepemilikan institusional dengan cara persentase saham yang dimiliki oleh investor institusional yang terdapat dalam laporan keuangan.
Kepemilikan Institusional =Jumlah saham dimiliki investor institusional Total saham
Berikut ini rekapitulasi perhitungan kepemilikan institusional pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2008 smapai dengan tahun 2010 :
Tabel 4.6 : Rekapitulasi Perhitungan Kepemilikan Institusional Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2008 - Tahun 2010 TAHUN NO NAMA PERUSHAAAN 2008 2009 2010 1 PT.Timah,Tbk 0.3500 0.3500 0.3500 2 PT. INCO Tbk 0.1792 0.2014 0.2014 3 PT. Aneka Tambang, Tbk 0.3483 0.3483 0.3483
4 PT. Medco Energy Iternasonal, Tbk 0.5384 0.5458 0.5471
5 PT. Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk 0.1267 0.1077 0.0983
6 PT. Resource Alam Indonesia, Tbk 0.3317 0.3309 0.3310
7 PT. Indo Tambangnya Megah, Tbk 0.2626 0.2626 0.3500
8 PT. Bayan Resources, Tbk 0.1488 0.0493 0.1460
Mean 0.2857 0.2745 0.2965
Sumber : Lampiran 2D
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa kepemilikan institusional terendah pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 dimiliki oleh PT.Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk sebesar 0,1267 di tahun 2008, PT. Bayan Resources, Tbk sebesar 0,0493 di tahun 2009 dan PT.Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk sebesar 0,0983 di tahun 2010.
Kepemilikan institusional tertinggi pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 dimiliki oleh PT.Timah,Tbk dan PT. Indo Tambangnya Megah, Tbk sebesar 0,3500.
Komisaris independen selama periode pengamatan yaitu tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 cenderung berfluktuasi, dilihat dari nilai rata-rata tahun 2008 sebesar 0,2857; tahun 2009 sebesar 0,2745 dan tahun 2010 sebesar 0,2965.
4.3. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda