• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Hasil Penelitian

1. Gambaran Faktual Bacaan al-Qur’an Peserta Didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.

Berdasarkan hasil observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti dalam kelas melalui proses pembelajaran al-Qur’an hadis terhadap bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo, yang dimulai dari tingkatan kelas X, XI, dan XII maka gambaran faktual bacaan al-Qur’an terbagi dalam tiga kelompok yaitu:

a. Tingkatan Kelas X

1) Kelompok 1 Level mubtadi yaitu peserta didik yang dianggap masih rendah bacaan al-Qur’annya yang dikategorikan mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar sesuai dengan makh ̅rij al-h}ur ̅f, dan masih terbata-bata dalam menyambung huruf al-Qur’an serta mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini berjumlah 19 orang.

2) Kelompok 2 level mutawasith yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya, tetapi masih ada ditemukan kesalahan seperti kesalahan pada penerapan dalam cara wakaf/berhenti dan kesalahannya tidak dianggap sampai pada level mubtadi, peserta didik pada level ini yaitu berjumlah 60 orang.

3) Kelompok 3 level mahir yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya tidak ditemukan kesalahan baik penyebutan huruf hijaiahnya maupun penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini yaitu 34 orang.

b. Tingkatan kelas XI

1) Kelompok 1 Level mubtadi yaitu peserta didik yang dianggap masih rendah bacaan al-Qur’annya yang dikategorikan mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar sesuai dengan makh ̅rij al-h}ur ̅f, dan masih terbata-bata dalam menyambung huruf al-Qur’an serta mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini berjumlah 5 orang.

2) Kelompok 2 level mutawasith yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya, tetapi masih ada ditemukan kesalahan seperti kesalahan pada penerapan dalam cara wakaf/berhenti dan kesalahannya tidak dianggap sampai pada level mubtadi, peserta didik pada level ini yaitu berjumlah 49 orang.

3) Kelompok 3 level mahir yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya tidak ditemukan kesalahan baik penyebutan huruf hijaiahnya maupun penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini yaitu 34 orang.

c. Tingkatan Kelas XII

1) Kelompok 1 Level mubtadi yaitu peserta didik yang dianggap masih rendah bacaan al-Qur’annya yang dikategorikan mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar sesuai dengan makh ̅rij al-h}ur ̅f, dan masih terbata-bata dalam menyambung huruf al-Qur’an serta mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini berjumlah 6 orang.

2) Kelompok 2 level mutawasith yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya, tetapi masih ada ditemukan kesalahan seperti kesalahan pada penerapan dalam cara wakaf/berhenti\l dan kesalahannya tidak dianggap sampai pada level mubtadi, peserta didik pada level ini yaitu berjumlah 53 orang.

3) Kelompok 3 level mahir yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya tidak ditemukan kesalahan baik penyebutan huruf hijaiahnya maupun penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini yaitu 20 orang.

Berdasarkan penjelasan di atas dalam hal penentuan level-level bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo penulis memakai istilah mubtadi, mutawasith dan mahir dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan dan gambaran faktual bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap wakamad kurikulum tentang keadaan bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang termasuk kategori peserta didik tidak lancar membaca al-Qur’an dan peserta didik yang lancar bacaan al-Qur’annya baik makhraj maupun tajwidnya, Ibu A.

Sumiati mengatakan bahwa :

Peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo berdasarkan data yang ada, yang bersumber dari hasil tes masuk peserta didik baru dan informasi dari guru al-Qur’an hadis dan guru bahasa arab sebagai guru yang paling banyak bersentuhan dengan bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo pada tahun pelajaran 2019/2020 sekitar 35 orang peserta didik yang termasuk kategori tidak lancar mengaji baik menyebutkan huruf hijaiah tidak sesuai makh ̅rij al-hur ̅f, maupun dalam penerapan bacaan al-Qur’an tidak sesuai hukum tajwid dan 235 orang peserta didik yang dianggap

kategori lancar mengaji baik penyebutan huruf hijaiahnya sudah bagus maupun penerapan hukum tajwidnya.1

Senada dengan penjelasan dari Bapak Saparuddin sebagai guru al-Qur’an hadis beliau mengatakan bahwa:

Gambaran faktual bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo, masih ada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf-huruf tertentu dari huruf hijaiah dan tidak sesuai makhraj dan kesulitan dalam penerapan hukum tajwid dalam bacaan al-Qur’an sehingga masih ada untuk kelas X, sekitar 20 orang dan untuk XI, XII sekitar 15 orang dari jumlah peserta didik yang ada, sedangkan bacaan al-Qur’an peserta didik yang sudah lancar baik penyebutan huruf hijaiah dan tajwidnya sekitar 235 orang dari seluruh jumlah peserta didik di Madrasah aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.2

Dari keterangan di atas yang bersumber dari hasil observasi dan wawancara Wakamad kurikulum serta guru Qur’an hadis menunjukkan bahwa bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo masih bervariasi dalam arti masih ada beberapa peserta didik yang belum lancar bacaan al-Qurannya baik penyebutan huruf hijaiah masih ada yang kesulitan dalam melafalkan sesuai makh ̅rij al-h}ur ̅f serta belum mampu menerapkan hukum tajwid pada saat membaca Qur’an dan sebagian besar peserta didik sudah lancar bacaan al-Qur’annya baik penyebutan huruf hijaiah sudah sesuai makh ̅rij al-h}ur ̅f maupun penerapan hukum tajwid, oleh karena itu sangat diharapkan keseriusan seorang guru untuk memberikan perhatian khusus kepada peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo dalam hal bacaan al-Qur’an terutama peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam bacaan al-Qur’an.

1 A.Sumiati (40 tahun), Wakamad Kurikulum, Wawancara ,Jeneponto, 8 Desember 2021

2 Saparuddin (45 tahun), Guru al-Qur’an Hadis, Wawancara, Jeneponto, 8 Desember 2021.

2. Metode yang Digunakan dalam Mendiagnosis Kesulitan Bacaan al-Qur’an Peserta Didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.

Berdasarkan hasil observasi bacaan al-Qur’an melalui pembelajaran al-Qur’an hadis peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo, masih bervariasi tingkat kemampuan bacaannya maka dibutuhkan suatu metode untuk mendiagnosis kesulitan bacaan al-Qur’an peserta didik sehingga dapat memudahkan peneliti mendapatkan suatu data dan informasi yang jelas terhadap siapa yang mengalami kesulitan pada bacaan al-Qur’an dari peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini dalam mendiagnosis kesulitan bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yaitu:

a. Meteode praktek membaca al-Qur’an secara langsung satu persatu peserta didik Metode ini dilakukan dengan cara praktik membaca al-Qur’an secara langsung terhadap peserta didik secara bergantian satu persatu setiap kelas masing-masing, mulai kelas X, kelas XI dan XII selama kurang lebih satu bulan lamanya dilakukan sebanyak dua kali pengulangan.

b. Metode pengelompokan berdasarkan kemampuan bacaan al-Qur’an pada peserta didik.

Metode pengelompokan ini terhadap peserta didik dapat dilakukan berdasarkan tingkat kemampuan bacaan al-Qur’an peserta didik dari setiap kelas masing-masing.

c. Metode Musyafahah

Merupakan suatu metode yang digunakan peneliti untuk ingin mengetahui siapa peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar sesuai makh ̅rij al-h}ur ̅f karena dengan mendengarkan bacaan al-Qur’an sambil memperhatikan kedua bibir dan lidah peserta didik saat melafalkan bunyi huruf al-Qur’an sehingga dengan mudah menemukan siapa peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar.

d. Metode Qira’ati

Metode Qira’ati adalah merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui bacaan al-Qur’an peserta didik dari sisi tajwidnya karena metode ini melalui bacaan al-Qur’an langsung secara tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Kelebihannya:

1. Praktis, mudah dipahami dan dilaksanakan oleh peserta didik.

2. Peserta didik aktif dalam belajar membaca, guru hanya menjelaskan pokok pembelajaran dan memberi contoh bacaan.

3. Peserta didik merasa tidak terbebani, materi diberikan secara bertahap, dari kata-kata yang mudah dan sederhana.

4. Efektif sekali baca langsung fasih dan tartil dengan ilmu tajwidnya.

5. Peserta didik menguasai bacaan-bacaan ghorib dalam al- Qur’an secara baik.

6. Peserta didik menguasai ilmu tajwid dengan praktis dan mudah.

7. Dalam waktu relatif tidak lama peserta didik mampu membaca al-Qur’an dengan fasih, tartil, menguasai bacaan- bacaan ghorib dan ilmu tajwid.

Kekurangannya adalah:

a Anak tidak bisa membaca dengan mengeja

b Anak kurang menguasai huruf hijaiah secara urut dan lengkap.

c Bagi anak yang tidak aktif akan semakin tertinggal.

Dari keempat metode di atas merupakan acuan dalam pelaksanaan diagnosis bacaan al-Qur’an peserta didik sehingga peneliti mendapatkan jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah sesuai makh ̅rij al-h}ur ̅f dan mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwid pada bacaan al-Qur’an yaitu berjumlah 30 orang dari jumlah 270 orang peserta didik secara keseluruhan yang ada di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.

Adapun nama-nama peserta didik yang didapatkan oleh peneliti yang menga-lami kesulitan dari bacaan al-Qur’an dari kelas X, XI dan XII yang digambarkan dalam tabel berikut:

TABEL 4.15: DAFTAR PESERTA DIDIK YANG MENGALAMI KESULITAN DALAM BACAAN AL-QUR’AN

NO NAMA PESERTA DIDIK KELAS 1 2 3 4

1 Nur Annisa Awalia Kelas X.IPA √ √ √

2 Wahyudi Kelas X.IPA √ √ √

3 M Idris Kelas X.IPA √ √ √

4 Suci Nurhalisa Kelas X.IPA √ √ √

5 Wahidin Kelas X.IPA √ √ √

6 Al-Pajri Ramadan Kelas X.IPS 1 √ √ √ √ 7 Ardiasyah Pradika Kelas X.IPS 1 √ √ √ √ 8 Buandi Al-Parabi Kelas X IPS 1 √ √ √ √

9 Nurhidayatulla Kelas X IPS 1 √ √ √

10 Pirda Kelas X IPS 1 √ √ √ √

11 Resky Kelas X IPS.1 √ √ √

12 Riska Purnamasari M Kelas X IPS. 1 √ √ √ √

13 Salmiati Kelas X IPS. 1 √ √ √

14 Adrian Hidayat Kelas X IPS. 2 √ √ √ √

15 Ashabul Kahfi Kelas X IPS. 2 √ √ √ √

16 Ikbal Kelas X IPS. 2 √ √ √ √

17 Kamiruddin Kelas X IPS. 2 √ √ √ √

18 Mildawati Kelas X IPS. 2 √ √ √ √

19 Safira Awalia Ramadan Kelas X IPS.2 √ √ √

20 Nurkaidah Kelas XI IPS 1 √ √ √ √

21 Dewi Sinta Kelas XI IPS.1 √ √ √

22 Eka Wahyuni Kelas XI IPS 2 √ √ √

23 Sunarteja Kelas XI IPS.2 √ √ √ √

24 Yahya Kelas XI IPS 2 √ √ √

25 Wahyu Pratama KelasXII.IPS 1 √ √ √ √

26 Perdiansyah KelasXII.IPS 1 √ √ √ √

27 Adrian KelasXII IPS 2 √ √

28 Dinul KelasXII IPS 2 √ √ √

29 Bahtiar KelasXII IPS 2 √ √ √

30 Zulkifal KelasXII IPS 2 √ √ √

Keterangan Tabel di atas:

 Kesulitan melafalkan huruf-huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan benar

 Kesulitan membedakan hukum bacaan al-Qur’an (hukum tajwid).

 Kesalahan membedakan panjang pendek bacaan.

 Kesalahan dalam cara berhenti

Tabel di atas menunjukkan bahwa yang mendapatkan tanda centang disesuaikan dengan kesulitan pada bacaan al-Qur’an peserta didik.

Pada tabel 4.16 dibawah merupakan hasil diagnosis pada kesulitan penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dan kesulitan pada penerapan hukum tajwid pada bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo sebagai berikut :

TABEL 4.16 : DAFTAR NAMA PESERTA DIDIK YANG KESULITAN DALAM PENYEBUTAN HURUF TERTENTU DARI HURUF HIJAIAH DAN HUKUM TAJWID

NO NAMA

PESERTA DIDIK

KELAS Kesulitan pada huruf hijaiah

Kesulitan pada penerapan hukum tajwid

1 Nur Annisa

Awalia

Kelas X.IPA

ش ث ظ ز

Bigunnah dan

ikhfa

2 Wahyudi Kelas X.IPA

ح خ

Ikhfa, bigunnah

3 M Idris Kelas X.IPA

ض ص

Bigunnah,

bilagunnah,ikhfa 4 Suci Nurhalisa Kelas X.IPA

ؾ ؽ

Izhar, iqlab

5 Wahidin Kelas X.IPA

ق خ ح

Izhar, bigunnah, ikhfa

6 Al-Pajri Ramadan Kelas X IPS 1

ش ث ز

Izhar, lqlab

7 Ardiansyah Pradika

Kelas X.IPS 1

ؽ خ غ

Bigunnah,

bilagunnah,

ikhfa

16 Ikbal Kelas X IPS

25 Wahyu Pratama Kelas XII IPS 1

ر

Bilagunnah

26 Perdiansyah Kelas XII IPS 1

ر

Bilagunnah

27 Adrian Kelas XII

IPS 2

ش ق غ خ

Ikhfa

28 Dinul Kelas XII

IPS 2

خ ح

Bigunnah,

bilagunnah

29 Bahtiar Kelas XII

IPS 2

ق ع

Izhar, Ikhfa

30 Zulkifal Kelas XII IPS 2

ش ز ث

Izhar, Bigunnah,

ikhfa.

Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang mengalami kesulitan pada bacaan al-Qur’an yaitu kesulitan pada penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dan kesulitan pada penerapan hukum tajwid adalah hasil diagnosis bacaan al-Qur’an yang dilakukan oleh peneliti.

Data di atas dari hasil diagnosis bacaan al-Qur’an peserta didik menunjukkan bahwa jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang mengalami kesulitan pada bacaan al-Qur’an, baik kesulitan pada penyebutan huruf tertentu pada huruf hijaiah maupun kesulitan pada penerapan hukum tajwid pada

saat membaca al-Qur’an berada dalam tahap kategori rendah. Artinya, kalau dibandingkan antara jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang sudah dikategorikan baik dan benar penyebutan huruf hijaiah dan mampu menerapkan hukum tajwid pada bacaan al-Qur’an, masih jauh lebih besar jumlahnya dari pada yang mengalami kesulitan pada penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dan kesulitan dalam penerapan hukum tajwid pada bacaan al-Qur’an.

3. Ragam Faktor Penyebab Peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo Mengalami Kesulitan dalam Membaca al-Qur’an.

Kemampuan membaca al-Qur’an merupakan pemahaman seorang peserta didik pada bacaan yang dibacanya serta tingkat kecepatan dan ketepatan membaca yang dimiliknya. Di samping itu, di dalam proses membaca al-Qur’an peserta didik Madrasah Aliayah Mannilingi terdapat faktor penyebab kesulitannya. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang telah peneliti lakukan, dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni:

a. Faktor Intern

Faktor ini timbul dari diri peserta didik sehingga memengaruhi terhadap kemampuan membaca al-Qur’annya. Faktor ini meliputi ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik peserta didik.

Dari hasil wawancara peserta didik kelas X IPA yang mengalami kesulitan membaca al-Qur’an sebagai informan pertama yaitu Nurannisa Awalia mereka mengatakan bahwa:

Saya masih mengalami kesulitan dalam bacaan al-Qur’an. Kesulitan yang saya hadapi, yaitu melafalkan huruf ‚ز‛ dengan baik dan benar sesuai dengan makhrajnya, saya juga kurang lancar membaca al-Qur’an dan menerapkan hukum tajwid disebabkan karena tidak pernah belajar tentang tata cara penyebutan huruf hijaiah dan tajwid sebelum masuk di Madrasah Aliyah

sehingga kurang memahami tentang cara membaca al-Qur’an yang benar sebagaimana yang telah diajarkan oleh guru al-Qur’an hadis.3

Seiring dengan hasil wawancara informan yang kedua dari peserta didik kelas X IPA yaitu Suci Nurhalisa mereka mengatakan bahwa:

Saya mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an, terutama kesulitan dalam penyebutan huruf hijaiah ‚ق ‚ masih belum tepat maupun penerapan hukum tajwid juga masih banyak yang tidak sesuai dengan tajwid karena saya suka lupa tentang tata cara penyebutan huruf hijaiah sesuai dengan tempat keluarnya bunyi huruf hijaiah pada rongga mulut serta kurang memahami kaidah-kaidah hukum tajwid pada waktu membaca al-Qur’an.4

Ungkapan yang sama telah disampaikan oleh peserta didik kelas X IPS.1 yaitu Ardiansyah Pradika mereka mengatakan bahwa :

Saya juga mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an termasuk penyebutan huruf hijaiah dengan benar yaitu huruf ‚ظ ز‛ dan menerapkan hukum tajwid dalam bacaan al-Qur’an karena selalu lupa tata cara penyebutan huruf hijaiah dan hukum tajwidnya sesuai dengan ketentuannya.5

Peserta didik dari kelas X IPS.1 yaitu Buandi Al-Parabi juga mengatakan bahwa:

Saya belum lancar membaca al-Qur’an, sulit membedakan cara penyebutan huruf hijaiah terutama huruf ‚ز‛ dan ‚ش ‚ sesuai makhraj dan belum bisa menerapakan hukum tajwid pada saat membaca al-Qur’an karena tidak bisa memahami tentang cara penyebutan huruf hijaiah dengan benar dan tidak bisa memahami tentang hukum-hukum tajwid.6

Dari hasil wawancara di atas dari beberapa peserta didik yang dianggap kategori mengalami kesulitan membaca al-Qur’an dengan baik dan benar disebabkan karena faktor intern yaitu dari ranah kognitif.

Hasil wawancara dari peserta didik yaitu Zulkifal kelas XII Ips 2 juga mengatakan bahwa:

3 Nurannisa (Siswa Kelas X IPA), Wawancara, Jeneponto, 9 Desember 2021

4 Suci Nurhalisa(Siswa Kelas X IPA),Wawancara, Jeneponto, 9 Desember 2021

5 Ardiansyah Pradika(Siswa Kelas X IPS 1),Wawancara, Jeneponto, 9 Desember 2021

6 Buandi Al-Farabi(Siswa Kelas X IPS 1),Wawancara ,Jeneponto, 10 Desember 2021

Saya masih mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an dengan lancar terutama penyebutan huruf hijaiah masih banyak yang tidak sesuai dengan cara penyebutan yang benar dan belum mampu menerapan hukum-hukum tajwid dalam bacaan al-Qur’an karena malas belajar memperbaiki bacaan al-Qur’an baik di sekolah maupun di rumah.7

Ungkapan yang sama yang disampaikan oleh peserta didik yaitu Dinul kelas XII IPS 2 juga mengatakan bahwa:

Saya masih belum lancar mengaji, belum bisa membedakan cara penyebutan huruf hijaiah dengan baik dan benar terutama huruf ‚ح‛ dan ‚خ‛ serta menerapkan hukum tajwid dalam bacaan al-Qur’an karena malas belajar membaca al-Qur’an baik di sekolah maupun di rumah.8

Hasil wawancara dari peserta didik yaitu Mildawati kelas X IPS 2 juga mengatakan bahwa:

‚Saya masih mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an dengan lancar terutama penyebutan huruf hijaiah pada huruf ‚ش ث‛masih salah tidak sesuai dengan cara penyebutan yang benar dan belum mampu menerapan hukum-hukum tajwid dalam bacaan al-Qur’an karena jenuh belajar memperbaiki bacaan al-Qur’an baik di sekolah maupun di rumah.9

Ungkapan yang sama yang disampaikan oleh peserta didik yaitu Nurkaidah kelas XI IPS 1 juga mengatakan bahwa:

‚Saya masih belum lancar mengaji, belum bisa membedakan cara penyebutan huruf hijaiah dengan baik dan benar terutama huruf ‚ط‛ dan ‚ق‛ serta menerapkan hukum tajwid idzar dan ikhfa dalam bacaan al-Qur’an karena jenuh belajar membaca al-Qur’an baik di sekolah maupun di rumah.10

Dari empat sumber informan di atas merupakan hasil wawancara peserta didik yang mengalami kesulitan membaca al-Qur’an dari faktor intern yaitu ranah afektif.

Kemudian peneliti melanjutkan kegiatan wawancara dengan peserta didik yang mengalami kasus yang berbeda dengan informan sebelumnya adalah

7 Zulkifal(Siswa Kelas XII IPS 2),Wawancara, Jeneponto, 9 Desember 2021

8 Dinul(Siswa Kelas XII IPS 2),Wawancara, Jeneponto, 10 Desember 2021

9 Mildawati(Siswa Kelas X IPS 2),Wawancara, Jeneponto, 10 Desember 2021

10 Nurkaidah(Siswa Kelas XI IPS 1),Wawancara, Jeneponto, 10 Desember 2021

wawancara peserta didik kelas X IPS 1 yaitu Kamiruddin mereka mengatakan bahwa:

Saya mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an terutama dalam penyebutan huruf ‚ر ‚karena lidah saya kaku menyebutkan huruf tersebut dan itu sejak saya masih kecil sampai sekarang dan juga kesulitan dalam penerapan hukum tajwid yaitu hukum bilagunnah.11

Senada dengan ungkapan peserta didik kelas XII Ips 1 yaitu Wahyu Pratama juga mengatakan bahwa:

Saya mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an dengan baik dan benar terutama dalam menyebutkan huruf ‚ر‛ karena saya cadel dan mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwid yaitu hukum bilagunnah.12

Kemudian kegiatan wawancara dengan peserta didik yang mengalami kasus yang sama dengan informan yang berbeda adalah wawancara peserta didik kelas XII IPS 1 yaitu Perdiansyah juga mengatakan bahwa:

‚Saya mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an terutama dalam penyebutan huruf ‚ر ‚karena lidah saya cadel menyebutkan huruf tersebut dan itu sejak saya masih kecil sampai sekarang dan juga kesulitan dalam penerapan hukum tajwid yaitu hukum bilagunnah,bigunnah dan ikhfa.13

Senada dengan ungkapan peserta didik kelas X IPS 1 yaitu Firda mereka mengatakan bahwa:

‚Saya mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an dengan baik dan benar terutama dalam menyebutkan huruf hijaiah ‚ ذ ‛ dan ‚ ز ‛karena lidah saya terasa kaku dan mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwid yaitu hukum bigunnah dan ikhfa.14

Dari empat informan hasil wawancara peserta didik di atas yang mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an disebabkan dari faktor intern yaitu Ranah psikomotorik.

11 Kamiruddin(Siswa Kelas X IPS 2),Wawancara,Jeneponto,10 Desember 2021

12 Wahyu Pratama(Siswa Kelas XII IPS 2),Wawancara,Jeneoponto, 10 Desember 2021

13 Perdiansyah(Siswa Kelas XII IPS 1),Wawancara,Jeneoponto, 11 Desember 2021

14 Pirda(Siswa Kelas X IPS 1),Wawancara,Jeneoponto, 11 Desember 2021

Berdasarkan uraian di atas, ketiga ranah dari faktor intern kesulitan membaca al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo, baik ranah kognitif, ranah efektif dan ranah psikomotorik masih mengkhawatirkan, dikarenakan peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo sudah dibiasakan dengan nuansa ‚qira’atul Qur’an‛ setiap harinya namun tetap saja masih

Berdasarkan uraian di atas, ketiga ranah dari faktor intern kesulitan membaca al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo, baik ranah kognitif, ranah efektif dan ranah psikomotorik masih mengkhawatirkan, dikarenakan peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo sudah dibiasakan dengan nuansa ‚qira’atul Qur’an‛ setiap harinya namun tetap saja masih

Dokumen terkait