BAB III METODOLOGI PENELITIAN
G. Pengujian dan Keabsahan Data
Kriteria pokok hasil penelitian adalah data harus valid, reliabel dan objektif.
Oleh karena itu, penelitian ini perlu menerapkan keabsahan data untuk menghindari data yang tidak valid. Konsep validitas atau keabsahan data pada penelitian kualitatif yaitu apabila tidak berbeda antara data yang diperoleh oleh peneliti dengan data yang terjadi sesungguhnya pada obyek penelitian sehingga keabsahan data yang telah disajikan dapat dipertanggungjawabkan. Uji keabsahan data penelitian ini, dilakukan dengan melalui tahap pengecekan kredibilitas data dengan teknik triangulasi.22
Triangulasi (triangulation), yaitu melakukan pemeriksaan kembali data dengan berbagai sumber, berbagai cara dan berbagai waktu.23 Cara mengecek data dilakukan dengan mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.24 Dalam penelitian ini, peneliti akan membandingkan data yang ditemukan melalui observasi di tempat penelitian, wawancara dan dokumentasi sampai menemukan data yang lebih akurat.
22Sugiyono, Metode Penelitian (Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D), h.
363.
23Helakuddin dan Hengki Wijaya, Analisis Data Kualitatif: Sebuah Tinjauan Teori dan Praktik (Cet. I; Makassar: Sekolah Tinggi Theologia Jaffari, 2019), h. 22.
24Erwin Widiasworo, Mahir Penelitian Pendidikan Modern: Metode Praktis Penelitian Guru, Dosen dan Mahasiswa Keguruan, h. 164.
61 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Profil Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo
Yayasan Pesantren Mannilingi didirikan oleh Bapak Ir. Zainuddin Daeng Maupa dan H. Arifuddin Daeng Nuru pada tanggal 12 Juni 1993 yang berlokasi di Desa Bulo-Bulo Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto Profinsi Sulawesi Selatan di atas areal tanah wakaf seluas 15.853 M2.. Keluarga Mannilingi yang memberikan wakaf adalah :
a. Ir. Zainuddin Dg Maupa berupa Bangunan Ruang Belajar, b. Bapak H. Arifuddin Dg Nuru Tanah seluas 17. 705 M2, c. Bapak H. Bukhari Dg Nappu Tanah seluas 8. 000 M2 d. Bapak H. Abd. Latif Dg Lili Tanah seluas 6. 000 M2
Yayasan ini didirikan bertujuan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia serta memiliki wawasan yang luas terhadap perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang masyarakatnya beragama Islam secara keseluruhan, namun pemahaman terhadap ajaran agama Islam masih sangat kurang. Terutama masyarakat yang ada disekitar wilayah kec. Arungkeke desa Bulo-Bulo, Berdasarkan hal tersebut maka dibentuklah Yayasan Pesantren Mannilingi yang di dalamnya didirikan beberapa jenjang pendidikan yaitu:
a. Madrasah Aliyah
b. Madrasah Tsanawiyah c. Madrasah Diniyah.
Madrasah Aliyah didirikan pada tanggal 17 Juli 1994 dengan jumlah santri 25 orang, Guru 5 orang 1 orang staf administrasi. Dan Alhamdulillah dari tahun ke tahun Madrasah Aliyah semakin berkembang dan memperlihatkan prestasi yang cukup menggembirakan. Di mana selama 3 tahun terakhir ini Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional( UAMBN) lulus 100 %. Serta Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo menyandang predikat akreditasi B. Dan salah satu Madrasah Aliyah di Jeneponto yang menduduki urutan kedua terbanyak dari Jumlah peserta didik dari jenjang Madrasah Aliyah. Prestasi ini paling tidak, dapat dipertahankan.
Madrasah Aliyah diarahkan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan lulusan. Oleh karena itu Madrasah Aliyah Mannilingi secara umum menetapkan beberapa program utama yaitu :
Peningkatan kemampuan guru melalui pelatihan:
a. Pemahaman terhadap kurikulum ( KTSP/K13)
b. Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan (pengadaan perpustakaan dan pengadaan Laboratorium fisika, kimia, biologi Laboratorium Seni Budaya dan Lab. Komputer).
Nama Sekolah : MAS Mannilingi Bulo-Bulo
NSM : 131273040034
NPSN : 60729371
NPWP : 00.788.283,0-807.000
ALAMAT SEKOLAH : Jl. Mannilingi Dg Jalling
DESA/KELURAHAN : Bulo-Bulo
KECAMATAN : Arungkeke
KABUPATEN/KOTA : Jeneponto TABEL 4.1 KEPALA MADRASAH TABEL 4.2 WAKIL KEPALA MADRASAH
NO N A M A ALAMAT
Muh Natsir Jafar, S Pd.i NIP -
TABEL 4.3 WALI KELAS
TABEL 4.4 GURU BIDANG STUDI
NO N A M A ALAMAT
3
TABEL 4.5 : GURU BIMBINGAN KONSELING
TABEL 4.8 STAF TATA USAHA
TABEL 4.10 DATA PENANGGUNG JAWAB LABORATORIUM
NO N A M A ALAMAT
TABEL 4.11 PUSTAKAWAN TABEL 4.13 CLEANING SERVICE/BUJAN MADRASAH
NO N A M A ALAMAT
TABEL 4.14 : DATA PESERTA DIDIK MA MANNILINGI BULO-BULO 2019/2020
NO KELAS JUMLAH SISWA JML PRIA JML
PR KET
1 X.IPA 36 Siswa 7 92
2 X.IPS>.1 35 Siswa 92 11
3 X.IPS.2 29 Siswa 99 11
4 XI.IPA 29 Siswa 15 12
5 XI.IPS.1 92 Siswa 11 12
6 XI.IPS.2 31 Siswa 16 11
7 XII.IPA 27 Siswa 11 96
8 XII.IPS.1 97 Siswa 12 12
9 XII.IPS.2 91 Siswa 19 12
VISI, MISI, DAN TUJUAN MAS MANNILINGI BULO-BULO VISI
Terwujudnya Santri-Santriwati dan Lulusan yang Berkarakter, Mandiri Berdasarkan lmtaq dan lptek
MISI
1. Menyiapkan santri-santriwati yang taat beribadah Kepada Allah swt.
2. Menanamkan nilai-nilai keimanan Kepada Allah swt.
3. Mengembangkan kegiatan keagamaan dalam membentuk pola pikir, zikir dan sikap yang positif bagi santri-santriwati.
4. Mengembangkan Kemampuan santri-santriwati dalam menyiarkan syiar islam kepada masyarakat
5. Mengembangkan minat santri-santriwati melalui kegiatan ekstra kurikuler, kegiatan olahraga dan apresiasi seni
6. Menjalin kerjasama dengan masyarakat, instansi terkait maupun instansi lainnya untuk meningkatkan mutu pendidikan umum, pendidikan agama dan keagamaan
7. Menyiapkan santri-santriwati yang dapat bersaing seiring dengan perkembangan teknologi.
TUJUAN
1. Meningkatkatkan kegiatan keagamaan dalam membentuk santri-santriwatii yang berkarakter, mandiri dan beriman kepada Allah swt.
2. Menanamkan kesadaran dan tanggung jawab kepada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugasnya
3. Meningkatkan kedisiplinan terhadap santri-santriwati 4. Melengkapi sarana dan prasarana belajar mengajar
5. Meningkatkan kemampuan akademik santri-santriwati dalam mencapai nilai rata-rata Ujian Nasional (UN)
6. Meningkatkan kemampuan lulusan untuk diterima di PTN dan PTS ternama
7. Menyiapkan santri-santriwati berjiwa wira usaha
B. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Gambaran Faktual Bacaan al-Qur’an Peserta Didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.
Berdasarkan hasil observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti dalam kelas melalui proses pembelajaran al-Qur’an hadis terhadap bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo, yang dimulai dari tingkatan kelas X, XI, dan XII maka gambaran faktual bacaan al-Qur’an terbagi dalam tiga kelompok yaitu:
a. Tingkatan Kelas X
1) Kelompok 1 Level mubtadi yaitu peserta didik yang dianggap masih rendah bacaan al-Qur’annya yang dikategorikan mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar sesuai dengan makh ̅rij al-h}ur ̅f, dan masih terbata-bata dalam menyambung huruf al-Qur’an serta mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini berjumlah 19 orang.
2) Kelompok 2 level mutawasith yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya, tetapi masih ada ditemukan kesalahan seperti kesalahan pada penerapan dalam cara wakaf/berhenti dan kesalahannya tidak dianggap sampai pada level mubtadi, peserta didik pada level ini yaitu berjumlah 60 orang.
3) Kelompok 3 level mahir yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya tidak ditemukan kesalahan baik penyebutan huruf hijaiahnya maupun penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini yaitu 34 orang.
b. Tingkatan kelas XI
1) Kelompok 1 Level mubtadi yaitu peserta didik yang dianggap masih rendah bacaan al-Qur’annya yang dikategorikan mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar sesuai dengan makh ̅rij al-h}ur ̅f, dan masih terbata-bata dalam menyambung huruf al-Qur’an serta mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini berjumlah 5 orang.
2) Kelompok 2 level mutawasith yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya, tetapi masih ada ditemukan kesalahan seperti kesalahan pada penerapan dalam cara wakaf/berhenti dan kesalahannya tidak dianggap sampai pada level mubtadi, peserta didik pada level ini yaitu berjumlah 49 orang.
3) Kelompok 3 level mahir yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya tidak ditemukan kesalahan baik penyebutan huruf hijaiahnya maupun penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini yaitu 34 orang.
c. Tingkatan Kelas XII
1) Kelompok 1 Level mubtadi yaitu peserta didik yang dianggap masih rendah bacaan al-Qur’annya yang dikategorikan mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar sesuai dengan makh ̅rij al-h}ur ̅f, dan masih terbata-bata dalam menyambung huruf al-Qur’an serta mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini berjumlah 6 orang.
2) Kelompok 2 level mutawasith yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya, tetapi masih ada ditemukan kesalahan seperti kesalahan pada penerapan dalam cara wakaf/berhenti\l dan kesalahannya tidak dianggap sampai pada level mubtadi, peserta didik pada level ini yaitu berjumlah 53 orang.
3) Kelompok 3 level mahir yaitu peserta didik yang sudah lancar bacaan al-Qur’annya tidak ditemukan kesalahan baik penyebutan huruf hijaiahnya maupun penerapan hukum tajwidnya, peserta didik pada level ini yaitu 20 orang.
Berdasarkan penjelasan di atas dalam hal penentuan level-level bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo penulis memakai istilah mubtadi, mutawasith dan mahir dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan dan gambaran faktual bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap wakamad kurikulum tentang keadaan bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang termasuk kategori peserta didik tidak lancar membaca al-Qur’an dan peserta didik yang lancar bacaan al-Qur’annya baik makhraj maupun tajwidnya, Ibu A.
Sumiati mengatakan bahwa :
Peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo berdasarkan data yang ada, yang bersumber dari hasil tes masuk peserta didik baru dan informasi dari guru al-Qur’an hadis dan guru bahasa arab sebagai guru yang paling banyak bersentuhan dengan bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo pada tahun pelajaran 2019/2020 sekitar 35 orang peserta didik yang termasuk kategori tidak lancar mengaji baik menyebutkan huruf hijaiah tidak sesuai makh ̅rij al-hur ̅f, maupun dalam penerapan bacaan al-Qur’an tidak sesuai hukum tajwid dan 235 orang peserta didik yang dianggap
kategori lancar mengaji baik penyebutan huruf hijaiahnya sudah bagus maupun penerapan hukum tajwidnya.1
Senada dengan penjelasan dari Bapak Saparuddin sebagai guru al-Qur’an hadis beliau mengatakan bahwa:
Gambaran faktual bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo, masih ada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf-huruf tertentu dari huruf hijaiah dan tidak sesuai makhraj dan kesulitan dalam penerapan hukum tajwid dalam bacaan al-Qur’an sehingga masih ada untuk kelas X, sekitar 20 orang dan untuk XI, XII sekitar 15 orang dari jumlah peserta didik yang ada, sedangkan bacaan al-Qur’an peserta didik yang sudah lancar baik penyebutan huruf hijaiah dan tajwidnya sekitar 235 orang dari seluruh jumlah peserta didik di Madrasah aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.2
Dari keterangan di atas yang bersumber dari hasil observasi dan wawancara Wakamad kurikulum serta guru Qur’an hadis menunjukkan bahwa bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo masih bervariasi dalam arti masih ada beberapa peserta didik yang belum lancar bacaan al-Qurannya baik penyebutan huruf hijaiah masih ada yang kesulitan dalam melafalkan sesuai makh ̅rij al-h}ur ̅f serta belum mampu menerapkan hukum tajwid pada saat membaca Qur’an dan sebagian besar peserta didik sudah lancar bacaan al-Qur’annya baik penyebutan huruf hijaiah sudah sesuai makh ̅rij al-h}ur ̅f maupun penerapan hukum tajwid, oleh karena itu sangat diharapkan keseriusan seorang guru untuk memberikan perhatian khusus kepada peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo dalam hal bacaan al-Qur’an terutama peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam bacaan al-Qur’an.
1 A.Sumiati (40 tahun), Wakamad Kurikulum, Wawancara ,Jeneponto, 8 Desember 2021
2 Saparuddin (45 tahun), Guru al-Qur’an Hadis, Wawancara, Jeneponto, 8 Desember 2021.
2. Metode yang Digunakan dalam Mendiagnosis Kesulitan Bacaan al-Qur’an Peserta Didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.
Berdasarkan hasil observasi bacaan al-Qur’an melalui pembelajaran al-Qur’an hadis peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo, masih bervariasi tingkat kemampuan bacaannya maka dibutuhkan suatu metode untuk mendiagnosis kesulitan bacaan al-Qur’an peserta didik sehingga dapat memudahkan peneliti mendapatkan suatu data dan informasi yang jelas terhadap siapa yang mengalami kesulitan pada bacaan al-Qur’an dari peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini dalam mendiagnosis kesulitan bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yaitu:
a. Meteode praktek membaca al-Qur’an secara langsung satu persatu peserta didik Metode ini dilakukan dengan cara praktik membaca al-Qur’an secara langsung terhadap peserta didik secara bergantian satu persatu setiap kelas masing-masing, mulai kelas X, kelas XI dan XII selama kurang lebih satu bulan lamanya dilakukan sebanyak dua kali pengulangan.
b. Metode pengelompokan berdasarkan kemampuan bacaan al-Qur’an pada peserta didik.
Metode pengelompokan ini terhadap peserta didik dapat dilakukan berdasarkan tingkat kemampuan bacaan al-Qur’an peserta didik dari setiap kelas masing-masing.
c. Metode Musyafahah
Merupakan suatu metode yang digunakan peneliti untuk ingin mengetahui siapa peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar sesuai makh ̅rij al-h}ur ̅f karena dengan mendengarkan bacaan al-Qur’an sambil memperhatikan kedua bibir dan lidah peserta didik saat melafalkan bunyi huruf al-Qur’an sehingga dengan mudah menemukan siapa peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan baik dan benar.
d. Metode Qira’ati
Metode Qira’ati adalah merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui bacaan al-Qur’an peserta didik dari sisi tajwidnya karena metode ini melalui bacaan al-Qur’an langsung secara tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.
Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Kelebihannya:
1. Praktis, mudah dipahami dan dilaksanakan oleh peserta didik.
2. Peserta didik aktif dalam belajar membaca, guru hanya menjelaskan pokok pembelajaran dan memberi contoh bacaan.
3. Peserta didik merasa tidak terbebani, materi diberikan secara bertahap, dari kata-kata yang mudah dan sederhana.
4. Efektif sekali baca langsung fasih dan tartil dengan ilmu tajwidnya.
5. Peserta didik menguasai bacaan-bacaan ghorib dalam al- Qur’an secara baik.
6. Peserta didik menguasai ilmu tajwid dengan praktis dan mudah.
7. Dalam waktu relatif tidak lama peserta didik mampu membaca al-Qur’an dengan fasih, tartil, menguasai bacaan- bacaan ghorib dan ilmu tajwid.
Kekurangannya adalah:
a Anak tidak bisa membaca dengan mengeja
b Anak kurang menguasai huruf hijaiah secara urut dan lengkap.
c Bagi anak yang tidak aktif akan semakin tertinggal.
Dari keempat metode di atas merupakan acuan dalam pelaksanaan diagnosis bacaan al-Qur’an peserta didik sehingga peneliti mendapatkan jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang mengalami kesulitan dalam penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah sesuai makh ̅rij al-h}ur ̅f dan mengalami kesulitan dalam penerapan hukum tajwid pada bacaan al-Qur’an yaitu berjumlah 30 orang dari jumlah 270 orang peserta didik secara keseluruhan yang ada di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo.
Adapun nama-nama peserta didik yang didapatkan oleh peneliti yang menga-lami kesulitan dari bacaan al-Qur’an dari kelas X, XI dan XII yang digambarkan dalam tabel berikut:
TABEL 4.15: DAFTAR PESERTA DIDIK YANG MENGALAMI KESULITAN DALAM BACAAN AL-QUR’AN
NO NAMA PESERTA DIDIK KELAS 1 2 3 4
1 Nur Annisa Awalia Kelas X.IPA √ √ √
2 Wahyudi Kelas X.IPA √ √ √
3 M Idris Kelas X.IPA √ √ √
4 Suci Nurhalisa Kelas X.IPA √ √ √
5 Wahidin Kelas X.IPA √ √ √
6 Al-Pajri Ramadan Kelas X.IPS 1 √ √ √ √ 7 Ardiasyah Pradika Kelas X.IPS 1 √ √ √ √ 8 Buandi Al-Parabi Kelas X IPS 1 √ √ √ √
9 Nurhidayatulla Kelas X IPS 1 √ √ √
10 Pirda Kelas X IPS 1 √ √ √ √
11 Resky Kelas X IPS.1 √ √ √
12 Riska Purnamasari M Kelas X IPS. 1 √ √ √ √
13 Salmiati Kelas X IPS. 1 √ √ √
14 Adrian Hidayat Kelas X IPS. 2 √ √ √ √
15 Ashabul Kahfi Kelas X IPS. 2 √ √ √ √
16 Ikbal Kelas X IPS. 2 √ √ √ √
17 Kamiruddin Kelas X IPS. 2 √ √ √ √
18 Mildawati Kelas X IPS. 2 √ √ √ √
19 Safira Awalia Ramadan Kelas X IPS.2 √ √ √
20 Nurkaidah Kelas XI IPS 1 √ √ √ √
21 Dewi Sinta Kelas XI IPS.1 √ √ √
22 Eka Wahyuni Kelas XI IPS 2 √ √ √
23 Sunarteja Kelas XI IPS.2 √ √ √ √
24 Yahya Kelas XI IPS 2 √ √ √
25 Wahyu Pratama KelasXII.IPS 1 √ √ √ √
26 Perdiansyah KelasXII.IPS 1 √ √ √ √
27 Adrian KelasXII IPS 2 √ √
28 Dinul KelasXII IPS 2 √ √ √
29 Bahtiar KelasXII IPS 2 √ √ √
30 Zulkifal KelasXII IPS 2 √ √ √
Keterangan Tabel di atas:
Kesulitan melafalkan huruf-huruf tertentu dari huruf hijaiah dengan benar
Kesulitan membedakan hukum bacaan al-Qur’an (hukum tajwid).
Kesalahan membedakan panjang pendek bacaan.
Kesalahan dalam cara berhenti
Tabel di atas menunjukkan bahwa yang mendapatkan tanda centang disesuaikan dengan kesulitan pada bacaan al-Qur’an peserta didik.
Pada tabel 4.16 dibawah merupakan hasil diagnosis pada kesulitan penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dan kesulitan pada penerapan hukum tajwid pada bacaan al-Qur’an peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo sebagai berikut :
TABEL 4.16 : DAFTAR NAMA PESERTA DIDIK YANG KESULITAN DALAM PENYEBUTAN HURUF TERTENTU DARI HURUF HIJAIAH DAN HUKUM TAJWID
NO NAMA
PESERTA DIDIK
KELAS Kesulitan pada huruf hijaiah
Kesulitan pada penerapan hukum tajwid
1 Nur Annisa
Awalia
Kelas X.IPA
ش ث ظ ز
Bigunnah danikhfa
2 Wahyudi Kelas X.IPA
ح خ
Ikhfa, bigunnah3 M Idris Kelas X.IPA
ض ص
Bigunnah,bilagunnah,ikhfa 4 Suci Nurhalisa Kelas X.IPA
ؾ ؽ
Izhar, iqlab5 Wahidin Kelas X.IPA
ق خ ح
Izhar, bigunnah, ikhfa6 Al-Pajri Ramadan Kelas X IPS 1
ش ث ز
Izhar, lqlab7 Ardiansyah Pradika
Kelas X.IPS 1
ؽ خ غ
Bigunnah,bilagunnah,
ikhfa
16 Ikbal Kelas X IPS
25 Wahyu Pratama Kelas XII IPS 1
ر
Bilagunnah26 Perdiansyah Kelas XII IPS 1
ر
Bilagunnah27 Adrian Kelas XII
IPS 2
ش ق غ خ
Ikhfa28 Dinul Kelas XII
IPS 2
خ ح
Bigunnah,bilagunnah
29 Bahtiar Kelas XII
IPS 2
ق ع
Izhar, Ikhfa30 Zulkifal Kelas XII IPS 2
ش ز ث
Izhar, Bigunnah,ikhfa.
Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang mengalami kesulitan pada bacaan al-Qur’an yaitu kesulitan pada penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dan kesulitan pada penerapan hukum tajwid adalah hasil diagnosis bacaan al-Qur’an yang dilakukan oleh peneliti.
Data di atas dari hasil diagnosis bacaan al-Qur’an peserta didik menunjukkan bahwa jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang mengalami kesulitan pada bacaan al-Qur’an, baik kesulitan pada penyebutan huruf tertentu pada huruf hijaiah maupun kesulitan pada penerapan hukum tajwid pada
saat membaca al-Qur’an berada dalam tahap kategori rendah. Artinya, kalau dibandingkan antara jumlah peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo yang sudah dikategorikan baik dan benar penyebutan huruf hijaiah dan mampu menerapkan hukum tajwid pada bacaan al-Qur’an, masih jauh lebih besar jumlahnya dari pada yang mengalami kesulitan pada penyebutan huruf tertentu dari huruf hijaiah dan kesulitan dalam penerapan hukum tajwid pada bacaan al-Qur’an.
3. Ragam Faktor Penyebab Peserta didik di Madrasah Aliyah Mannilingi Bulo-Bulo Mengalami Kesulitan dalam Membaca al-Qur’an.
Kemampuan membaca al-Qur’an merupakan pemahaman seorang peserta didik pada bacaan yang dibacanya serta tingkat kecepatan dan ketepatan membaca yang dimiliknya. Di samping itu, di dalam proses membaca al-Qur’an peserta didik Madrasah Aliayah Mannilingi terdapat faktor penyebab kesulitannya. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang telah peneliti lakukan, dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni:
a. Faktor Intern
Faktor ini timbul dari diri peserta didik sehingga memengaruhi terhadap kemampuan membaca al-Qur’annya. Faktor ini meliputi ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik peserta didik.
Dari hasil wawancara peserta didik kelas X IPA yang mengalami kesulitan membaca al-Qur’an sebagai informan pertama yaitu Nurannisa Awalia mereka mengatakan bahwa:
Saya masih mengalami kesulitan dalam bacaan al-Qur’an. Kesulitan yang saya hadapi, yaitu melafalkan huruf ‚ز‛ dengan baik dan benar sesuai dengan makhrajnya, saya juga kurang lancar membaca al-Qur’an dan menerapkan hukum tajwid disebabkan karena tidak pernah belajar tentang tata cara penyebutan huruf hijaiah dan tajwid sebelum masuk di Madrasah Aliyah
sehingga kurang memahami tentang cara membaca al-Qur’an yang benar sebagaimana yang telah diajarkan oleh guru al-Qur’an hadis.3
Seiring dengan hasil wawancara informan yang kedua dari peserta didik kelas X IPA yaitu Suci Nurhalisa mereka mengatakan bahwa:
Saya mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an, terutama kesulitan dalam penyebutan huruf hijaiah ‚ق ‚ masih belum tepat maupun penerapan hukum tajwid juga masih banyak yang tidak sesuai dengan tajwid karena saya suka lupa tentang tata cara penyebutan huruf hijaiah sesuai dengan tempat keluarnya bunyi huruf hijaiah pada rongga mulut serta kurang memahami kaidah-kaidah hukum tajwid pada waktu membaca al-Qur’an.4
Ungkapan yang sama telah disampaikan oleh peserta didik kelas X IPS.1 yaitu Ardiansyah Pradika mereka mengatakan bahwa :
Saya juga mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an termasuk
Saya juga mengalami kesulitan dalam membaca al-Qur’an termasuk