• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Hasil Penelitian

Dalam dokumen REGISTER ANAK JALANAN KOTA SURAKARTA (Halaman 66-114)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Deskripsi Hasil Penelitian

Register merupakan bahasa yang digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu. Bahasa yang hanya dapat dipahami oleh komunitas di dalamnya, seperti register anak jalanan di Kota Surakarta. Berikut ini akan dipaparkan temuan register pada anak jalanan di kota Surakarta.

1. Deskripsi Register Anak Jalanan di Kota Surakarta

Analisis makna dilakukan untuk mengetahui makna kata atau kalimat sesuai dengan konteksnya. Analisis pada peristiwa tutur anak jalanan di Kota Surakarta didasarkan pada (a) setting and scene (keadaan), (b) participants (pihak yang terlibat dalam pertuturan), (c) ends (maksud dan tujuan pertuturan), (d) act (nada, cara dan semangat di mana suatu pesan disampaikan), (e) key (bentuk ujaran dan isi ujaran), (f) instrumentalities (pada jalur yang dipakai), (g) norms (norma atau aturan dalam berinteraksi), dan (h) genres (jenis bentuk penyampaian).

a. Kata klimis berantakan

Kata klimis arti sesuai dengan kamus adalah rapi dan mengilap, sedangkan dalam register kata klimis memiliki arti antonimnya yakni

commit to user

berantakan dan tidak rapi. Kata klimis dapat ditemukan pada perbincangan anak jalanan seperti pada kutipan di bawah ini.

Peristiwa tutur ini terjadi pada Sabtu, 27 Oktober 2012; pukul 20.00 WIB, tugu traffic-light Panggung dekat Asia Motor, Jebres, Surakarta. Keadaan sekitar sangat ramai oleh anak jalanan yang sedang bermain gitar dan bernyanyi. Beberapa mobil berlalu-lalang, dan keadaan jalan sangat ramai kendaraan. Ketika anak jalanan saling mengejek, anak jalanan 1 tertawa terbahak-bahak. Dalam peristiwa tersebut terdapat empat anak jalanan yang masing-masing terlihat memiliki jenjang usia yang berbeda-beda.

Empat anak jalanan tersebut antara lain anak jalanan 1 dan 4 dengan usia ± 10 tahun; anak jalanan 2 dan 3 berusia ± 7 tahun. Partisipan pada peristiwa tutur ini adalah dua anak jalanan aktif sebagai pembicara aktif, dan dua anak jalanan sebagai partisipan pasif. Dua anak sebagai partisipan pasif hanya tertawa terbahak-bahak. Dengan adanya dua partisipan pasif, membuktikan bahwa dua anak jalanan tersebut paham dengan komunikasi antara satu dengan yang lainnya. Register yang ada di dalamnya merupakan bukti, bahwa antaranak jalanan ada saling kesepahaman makna bahasa yang diutarakan satu dengan yang lainnya.

Anak jalanan 1 : Arep mblayang nangdi kowe Le? Mau pergi kemana kamu?

Anak jalanan 2 : Ngapa!

melainkan penegasan)

Anak jalanan 1 :Arep mblayang nangdi kowe ki? Nganti ujudmu Klimis1, kaya bar disetlika wae! Mau pergi kemana kamu? Sampai-sampai kelihatan rapi banget, seperti habis disetlika saja

(Anak jalanan 1 bermaksud untuk menyindir penampilan anak jalanan 2 yang kusut dan tidak rapi)

Anak jalanan 2 : diancuk! Ki arep ngalor kono golek pangan! Titip po? Who

mau ke warung makan, cari makanan! Mau titip? Anak jalanan 1 : Ra duwe det aku. Tidak punya uang aku! Anak jalanan 2 : Oke, aku dhisik ya! aku duluan ya

commit to user

Selain kesepahaman makna, ternyata perbedaan umur anak jalanan tidak berpengaruh pada ragam bahasa yang dipakai oleh anak jalanan. Anak jalanan tidak mengenal adanya gradasi diksi dengan siapa mereka berbicara dan tidak ada perilaku yang berbeda ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Setelah diamati lebih lanjut, dan ditanyakan pada ibu salah satu anak jalanan, ternyata anak jalanan sejak kecil tidak diajarkan cara bertutur dengan orang yang lebih tua, bagaimana mengaplikasikan undha-usuk basa dengan lawan tutur. Dari konteks di atas, dapat ditarik simpulan berkenaan dengan tujuan percakapan dengan penggunaan register klimis adalah untuk menunjukkan muka yang rapi seperti baju. Klimis dalam bahasa jawa berarti alus sarta gilap, atau halus dan mengkilap .

Penggunaan register dalam konteks di atas, menyatakan bahwa orang tersebut berpenampilan menarik. Tujuan penggunaan kata klimis untuk mengejek anak jalanan 2, bahwa anak jalanan 2 berpenampilan sangat kucel dan tidak rapi. Dengan demikian topik pembicaraan dalam konteks ini adalah penampilan seorang anak jalanan yang kumal dan kurang terawatt yang akan pergi ke suatu tempat. Anak jalanan tersebut berbicara tentang penampilan yang seharusnya bisa lebih rapi. Anak jalanan 1 mengejek dan menertawakan anak jalanan 2.

Setelah dilakukan perbandingan makna kata klimis pada anak jalanan dengan komunitas di luar itu, terjadi pergeseran makna. Kata klimis dalam penelitian ini berarti berantakan, sedangkan bagi mahasiswa UNS, kata klimis digunakan untuk barang-barang seperti rambut, baju, atau sepatu. Barang-barang yang klimis tersebut berarti barang-barang tersebut berada dalam kondisi yang baik, rapi, dan indah. Sedangkan klimis pada anak anak jalanan berarti berantakan, tidak rapi, dan tidak sedap dipandang mata.

Bertumpu dari hasil analisis di atas, ternyata anak jalanan pun juga menggunakan perlawanan makna untuk mengejek dan mengingatkan seseorang. Secara tidak langsung, anak jalanan dalam percakapan ini menggunakan gaya bahasa sindiran, atau sering disebut majas ironi. Dalam

commit to user

majas ironi, seseorang dikatakan baik kadang kala, fakta adalah hal yang

antonim, yakni berantakan dan tidak rapi. Jadi diisyarakatkan oleh salah satu anak jalanan, bahwa lawan tuturnya tidak rapi atau berantakan.

Nada bicara pada anak jalanan 1 ketika menyebutkan penampilan anak jalanan 2 dengan nada mengejek. Sambil tertawa terbahak-bahak dan melirik anak jalanan 2. Nada bicara anak jalanan 2 ketika menanggapi anak jalanan 1 dengan nada memelas dan sedikit marah bercanda. Tapi dari pembicaran tidak ada kesan marah dan nilai rasa kasar. Keduanya terkesan berada di ragam akrab dan intim dalam bertutur, jadi benar-benar mengurangi esensi rasa marahnya.

Peristiwa tutur yang terjadi pada anak jalanan tersebut terkesan ragam santai dan akrab. Seakan satu dengan yang lain saling bersahabat dekat. Percakapan tersebut terjadi di tugu traffic-light di perempatan Panggung, dan percakapan terjadi secara langsung antara pembicara ssatu dengan yang lain. Percakapan tersebut tanpa menggunakan media tulis ataupun media yang lainnya. Meskipun anak jalanan berada di pinggir traffic light, di antara mereka seakan-akan tidak bising dengan lalu lalang mobil dan motor di sekitar mereka.

Dengan lokasi di pinggir jalan utama, tentunya partisipan percakapan tersebut adalah semuanya anak jalanan. Tidak ada partisipan dari luar anak jalanan. Oleh karena itu, peristiwa tutur tersebut tidak menggunakan norma ataupun aturan percakapan baik secara normatif maupun secara peradaban. Antara satu anak jalanan dengan yang lain, berbicara dengan apa adanya tanpa beban dan aturan yang membakukan percakapan. Ketika salah satu anak jalanan mengucapkan kata diancuk sebagai bentuk umpatan, tidak ada anak jalanan lain yang mengingatkan

Anak jalanan 1 : Arep mblayang nangdi kowe Le? Mau pergi kemana kamu?

(nada bertanya dengan mimik garang)? (

commit to user

atau menegur, hal ini berarti ucapan dan percakapan tiap anak jalanan tidak memiliki aturan norma yang merangkulnya. Hal tersebut membuktikan bahwa komunikasi anak jalanan berjalan dengan santai dan akrab, tanpa ada aturan yang mengikat. Jenis bentuk penyampaian percakapan dengan narasi dan saling mengejek satu dengan yang lain, tanpa adanya kalimat yang memiliki ciri penyampaian seperti pantun, puisi, dan lainnya tidak ada.

Dari analisis di atas, maka kata klimis masuk ke dalam kriteria register. Selain itu setelah dilakukan komparasi penggunaan register klimis pada anak jalanan dan pada masyarakat secara umum yang diwakili oleh mahasiswa di Surakarta, ditemukan perbedaan makna. Klimis menurut sesama anak jalanan berarti berantakan dan tidak rapi, sedangkan menurut masyarakat secara umum berarti rapi dan enak dipandang mata.

b. Kata ngalor pergi ke warung makan

Kata berikutnya yang ditemukan pada percakapan anak jalanan adalah kata ngalor. Ngalor dengan kata dasar lor yang artinya utara memiliki arti yang berbeda dalam register anak jalanan. Dalam konteks ini, ngalor memiliki arti pergi ke warung makan, dapat dilihat dari konteks di bawah ini. Sedangkan ngalor dalam percakapan umum masyarakat bahasa berarti pergi ke arah utara dari posisi awal.

Peristiwa tutur ini terjadi pada Sabtu, 27 Oktober 2012; pukul 20.00 WIB, tugu traffic-light Panggung dekat Asia Motor, Jebres, Surakarta. Keadaan sekitar sangat ramai oleh anak jalanan yang sedang bermain gitar dan bernyanyi. Beberapa mobil berlalu-lalang, dan keadaan jalan sangat Anak jalanan 1:Arep mblayang nangdi kowe ki? Nganti ujudmu

Klimis, kaya bar disetlika wae! Mau pergi kemana kamu? Sampai-sampai kelihatan rapi banget, seperti habis disetlika saja

Anak jalanan 2: Ngalor kono golek pangan! Titip po? Who

ke warung makan, cari makanan! Kamu mau nitip? Anak jalanan 1: Ra duwe det aku. ak punya uang aku!

commit to user

ramai kendaraan. Ketika anak jalanan saling mengejek, anak jalanan 1 tertawa terbahak-bahak. Kata register yang kedua (ngalor) diambil ketika satu anak jalanan berjalan menjauh dari komunitas dan pergi ke satu arah, dan anak yang lain bertanya. Dalam keseharian masyarakat, apabila mengucapkan kata ngalor yang di benak pertama kali adalah pergi ke suatu tempat di arah utara, namun ketika melihat gerak-gerik anak jalanan yang menuju ke arah barat, pernyataan tadi ditangguhkan.

Seperti halnya pada register yang pertama, terdapat dua partisipan aktif dan dua partisipan pasif. Partisipan aktif yaitu anak jalanan 1 dan anak jalanan 2, sedangkan partisipan pasif dua anak jalanan 3, dan 4. Anak jalanan 1 dan 2 sebagai pemain utama yang saling berbincang satu dengan yang lain, sedangkan anak jalanan 3 sebagai pendukung, penyemangat dan tertawa sebagai partisipan pasif.

Dari empat partisipan di atas, setiap anak jalanan meski memiliki umur yang tidak sama ternyata juga tidak menerapkan undha usuk basa maupun mengubah ragam bahasanya. Anak jalanan dalam peristiwa tutur ini tidak menggunakan ragam bahasa khusus maupun menggunakan status sosial sebagai penggunaan ragam kebahasaannya. Namun, ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa santai atau intim dan bahasa Jawa yang dominan digunakan adalah bahasa Jawa Ngoko. Tujuan dan maksud peristiwa tutur terutama pada percakapan ketika seorang anak jalanan pergi menjauh dan menggunakan kata (ngalor) adalah sebagai jawaban dari pertanyaan anak jalanan 1 kepada anak jalanan 2. Jadi tujuan penggunaan kata register ngalor sekadar bentuk jawaban pertanyaan.

Anak jalanan 1 bertanya pada anak jalanan 2, anak jalanan 2 hendak pergi ke mana ia. Kemudian anak jalanan 2 menjawab ngalor yang artinya menuju kiblat arah utara (lor) atau menuju ke arah utara. Sedangkan ketika diamati, anak jalanan itu pergi ke warung makan, seperti pada percakapan berikutnya anak jalanan 2 bertanya pada anak jalanan titip po?

ikut pesan sesuatu, yang menunjukkan kepergiannya ke warung makan. Ketika diamati, setelah anak itu pergi, ia pergi arah barat (menuju SMP

commit to user

Kristen 4 Surakarta). Penggunaan kata-kata seperti kepergiannya, kemudian setiap pertanyaan dijawab sesuai dengan pertanyaannya, sesuai dengan proporsi kebahasaan. Dalam percakapan dan konteks di atas, yang menjadi titik poin adalah kata ngalor yang berarti pergi ke warung makan, sehingga pemilihan topik pembicaraannya adalah kepergian seorang anak jalanan dari tempat berkumpulnya dan makan malam (mencari makanan) ke arah barat (SMP Kristen 4 Surakarta). Setelah dilakukan triangulasi data pada anak jalanan yang berbeda, ternyata munculnya kata register ngalor dari lokasi tempat makan yang ada di utara Panggung Motor, tetapi sekarang sudah digusur.

Penggunaan kata register ngalor juga ditriangulasikan pada anak-anak secara umum di Kota Surakarta. Ketika responden berjalan ke warung

arep ngalor koe Tidak, saya

makna antara penggunaan kata ngalor untuk anak jalanan dan kata ngalor untuk anak SD yang berdomisili di Kota Surakarta.

Uraian di atas menunjukkan pergeseran makna ngalor. Menurut kajian register dalam penelitian ini, ngalor memiliki makna pergi ke warung makan. Meskipun secara harfiah ngalor berarti ke arah utara dan hal ini pun sudah dikomparasikan dengan anak pada umumnya. Secara umum, dapat ditarik simpulan bahwa makna ngalor terjadi pergeseran makna.

Pada peristiwa tutur anak jalanan, berkenaan dengan kata ngalor mereka menggunakan nada tanya (naik) seperti halnya pengguna bahasa pada umumnya. Anak jalanan (anak jalanan (2) tersenyum datar dan menanggapi dengan bertanya dan adanya keselarasan antara pertanyaan dan jawaban. Tidak ada nada tinggi yang serius yang disampaikan anak jalanan satu dengan yang lainnya. Cara menyampaikannya dengan datar dan rileks, dengan ragam santai. Jalur bahasa yang digunakan untuk bercakap satu dengan yang lainnya, ketika anak jalanan bercakap dengan anak jalanan lain, mereka berada di tugu traffic-light dengan jalur lisan.

commit to user

Jalur lisan di konteks ini berarti anak jalanan tidak menggunakan alat peraga lain. Percakapan tersebut dalam bentuk tuturan lisan. Penggunaan bahasa Jawa pada konteks tuturan di atas adalah bahasa Jawa ngoko.

Termasuk kata register pada konteks ini termasuk dalam bahasa Jawa ngoko pula, yakni ngalor apabila bahasa yang lebih halus adalah ngaler (ler) yang memiliki sama arti yakni pergi ke arah utara. Dalam konteks di atas, percakapan anak jalanan sama sekali tidak ada penaikkan nada bicara. Meskipun dengan nada datar tanpa ada menaikkan nada tinggi, dalam tengah percakapan ternyata ada sisipan penggunaan istilah diancuk oleh anak jalanan 2. Meskipun begitu istilah/kata diancuk menunjukkan bahwa setiap anak jalanan tidak memiliki norma yang mengatur percakapannya. Setiap penyimak anak jalanan pun tidak ada itikad untuk membenarkan ataupun mengkritisi kesalahan norma berbahasa pada lawan bicaranya. Anak jalanan dalam konteks tuturan di atas tidak memiliki norma atau aturan yang membatasinya percakapannya.

Jenis percakapan tersebut adalah narasi dan menjelaskan atau menjawab pertanyaan dari apa yang telah diajukan oleh temannya. Anak jalanan satu dengan yang lain tidak ada tanda adanya jenis percakapan lainnya. pada percakapan ini masih terkesan datar dan tidak memiliki intonasi maupun ciri tertentu. Dengan demikian kata register ngalor dapat dikatagorikan sebagai register karena kepemilikan makna yang berbeda dengan makna pada kamus dan tujuan penggunaan kata tersebut agar tidak bersifat umum atau diketahui publik.

c. Kata ahai dengan makna sesuatu (versi Syahrini)

Ahai merupakan sebuah ungkapan yang memiliki makna sempurna. Seorang anak jalanan mengungkapkan betapa sempurnanya Dardi (nama anak jalanan) dan menggunakan kata ahai untuk mengungkapkan kegembiraannya tersebut. Kata ahai tidak terdapat dalam kamus, namun apabila disesuaikan dengan konteks yang ada, maka kata tersebut

commit to user

mendekati kepemilikan makna sempurna. Kata ahai ditemukan pada percakapan di kartu data berikut.

Teras panggung motor (Yamaha), Jebres, Surakarta sebelah utara, berdampingan dengan jalan utama Panggung. Jumat, 28 Oktober 2012; pukul 16.00 WIB. Anak jalanan dalam ragam santai, situasi tuturan tidak ada masalah, hanya percakapan keseharian saja yang terlihat. Kondisi di pinggiran jalan banyak pejalanan kaki, dan sebagian besar yang lain para pekerja yang pulang dari kantor sedang menunggu bis atau sedang berpindah dari bis satu ke bis yang lain.

Kondisi jalan utama ramai oleh kendaraan, beberapa anak jalanan sedang mengamen dan meminta-minta di jalanan, namun ada dua anak jalanan perempuan dan satu anak jalanan laki-laki yang sedang mengobrol di depan/teras Panggung Motor Yamaha, Jebres, Surakarta.

(1) Anak Jalanan Perempuan; (2) Anak Jalanan perempuan; (3) Anak Jalanan laki-laki. Ada tiga anak jalanan sedang bermain gitar saling bercakap-cakap, dua anak jalanan perempuan diantaranya sedang berbincang akrab. Anak jalanan pertama menyebutkan dia (sebagai kata

Anak jalanan 1 :

ndhredheg aku mben ketemu dheke orangnya itu nggak nahan banget.. Berdebar aku kalau di dekatnya

Anak jalanan 2 : Kowe ijik ngesir manungsa kae ta? Opo ta apikke dheke ki? Kamu masih suka sama manusia yang satu itu? Apa sih bagusnya dia sampai kamu tergila-gila padanya

Anak jalanan 1 : dheke ki ahai3 banget lho, nggantheng, pinter golek det, kerep njajakake aku barang, kurang opo ta Len! Dia itu sesuatu banget lho, tampan, pintar cari uang, sering traktir aku juga! Kurangnya apa sih?

Anak jalanan 2 ih ahai3 Dardi noh Len! Pinter banget sisan! Halah, lebih sesuatu Dardi ku dong! Pintar sekali juga!

Anak jalanan 2 : halah, cangkemmu! halah, omonganmu itu lho

commit to user

ganti orang ketiga) yang ditanggapi oleh anak jalanan 2 yang menyebut secara terang-terangan namanya Dardi. Disamping kedua anak tersebut terdapat satu anak jalanan yang menjadi pemirsa pasif, dan tidak mengikuti perbincangan. Kedua anak jalanan tersebut memiliki rentang umur yang hampir sama, dan memiliki kedekatan yang akrab, dilihat dari penyebutan kata ganti orang ketiga, dan ditanggapi orang tersebut adalah Dardi.

Ketiga anak jalanan terlihat sangat akrab, selain itu ketiganya pula memiliki reverensi sama dalam pemaknaan tuturannya. Dengan pemaknaan yang sama itulah, tujuan dari peristiwa tutur tersebut adalah sebagai interaksi dua anak jalanaan ketika salah seorang mengucapkan ahai dalam konteks tersebut ternyata memiliki makna yang belum tentu dapat diketahui referensinya bila berdiri sendiri. Tujuan secara umum percakapan tersebut adalah interaksi anak jalanan 1 yang menceritakan pujaannya (Dardi) kepada anak jalanan 2, namun anak jalanan 2 tidak memerdulikannya dan terlihat mengejeknya. Namun tujuan dari peristiwa tutur itu tersampaikan.

Ketika kata ahai mencoba ditriangulasikan dengan masyarakat di luar anak jalanan, ada perbedaan makna dan kebutaan informasi. Perubahan penafsiran tersebut menilik pada kebingungan dan ketidakpahaman dari makna kata ahai. Karena ketika kata tersebut diungkapan dalam suatu Koe ki ahai tenan kok bro

seluruh responden dari kalangan mahasiswa menjawab dengan pertayaan ahai merupakan register, karena penggunaannya menimbulkan efek yang berbeda ketika diterapkan pada anak jalanan dan ketika diterapkan pada mahasiswa, sebagai anggota komunitas di luar anak jalanan.

Bentuk ujaran yang digunakan oleh anak jalanan 1 terlihat lebih ekspresif dan menggunakan kata-kata yang lugas, tanpa adanya sindirian. Sedangkan anak jalanan 2 terkesan mengejek dengan menjelek-jelekkan sosok Dardi, di depan anak jalanan 1, namun anak jalanan 1 tidak sakit hati, karena paham dengan sikap anak jalanan 2 yang hanya bercanda.

commit to user

Kedua belah pihak telah mengetahui konteks pembicaraan, jadi tidak ada pihak yang sakit hati atau tidak terima. Dengan adanya pembicaraan mengenai Dardi dan ejekan-ejekan kecil mengenainya, maka konteks di atas ditarik simpulan topik pembicaraan tersebut adalah seorang lelaki yang dikagumi anak jalanan 1, namanya Dardi. Kedua anak jalanan tersebut menyampaikan positif dan negatifnya Dardi kemudian saling meledek. Penggunaan ragam pada peristiwa tutur diatas terdengar akrab dan santai. Tidak ada hentakan tanda marah, meskipun diantara mereka saling mengejek. Intonasi biasa saja, tidak ada intonasi tinggi, namun layaknya sahabat bersenda-gurau.

Dengan intonasi yang santai dan akrab, hal tersebut menunjukkan ketika anak jalanan 2 menyebutkan kejelekan dari Dardi, anak jalanan 1 mencubit anak jalanan 2 dan saling tertawa. Hal ini membuktikan bahwa kedua anak jalanan saling akrab dan tidak ada beban atau rasa marah, kecewa dan benci satu dengan lainnya. Namun pada ujaran cangkemmu terdapat sedikit nada naik dan menghentak. Pada ujaran dheke ki ahai3 banget lho, nggantheng, pinter golek det, kerep njajakake aku barang terdapat nada mendayu dan manja.

Peristiwa tutur ini terjadi di teras sebuah toko di perempatan jalan, meskipun perbincangan mereka dirasa cukup rahasisa, namun keduanya biasa saja, dan menggunakan jalur lisan dalam berkomunikasi satu dengan lainnya. Pada percakapan ini ditemukan register untuk kata ahai, kata ini meruapakan ekspresi yang memiliki perannya sebagai kata. Kata ini untuk menunjukkan betapa luar biasanya Dardi, lelaki yang diperbincangkan oleh anak jalanan 1. Register tersebut merupakan penggunaan bahasa untuk menunjukkan ungkapan yang menandakan sifat-sifat yang dimiliki oleh Dardi.

Dengan tuturan yang dipaparkan sesuai dengan konteks di atas, tidak ditemukan satu aturan atau norma tertentu. Oleh karena itu, dalam peristiwa tutur ini tidak adanya norma yang mengatur percakapan antara anak jalanan dan mengikat cara berinteraksi anak jalanan. Dibaca dari kata

commit to user

ganti yang dipakai untuk mengungkapkan Dardi dengan manungsa kae atau manusia itu. Selain itu, hal yang cukup ironis, ketika salah satu anak jalanan (perempuan di Kota Surakarta (Solo) yang terkenal santun dan ramah) mengatakan cangkemmu atau mulutmu dengan nada menghentak dan keras.

Jenis bentuk penyampaian dengan cerita narasi, tanpa adanya ungkapan estetis. Bentuk ini didukung dengan medekripsikan seseorang, kemudian melanjutkan cerita satu ke cerita yang lain, ketika seorang perempuan menyukai seorang lelaki, kemudian teman yang lain menimpali bahwa Dardi lebih baik segalanya daripada orang yang dikagumi anak jalanan 1. Jenis cerita deskriptif juga merupakan serangkaian dengan cerita narasi dalam cuplikan konteks di atas.

Analisis data di atas membuktikan bahwa ahai merupakan bagian dari register anak jalanan. Selain bertumpu dari analisis speaking, juga berdasar pada komparasi yang telah dilakukan pada masyarakat umum di luar anak jalanan. Dari komparasi tersebut didapatkan simpulan yang menunjukkan bahwa munculnya makna baru dari kata ahai yang digunakan

Dalam dokumen REGISTER ANAK JALANAN KOTA SURAKARTA (Halaman 66-114)

Dokumen terkait