• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. (PELAKSANAAN, ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Hasil Penelitian

Subyek I merupakan seorang anak tuna netra total yang berusia 11

tahun. Subyek merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara. Orang tua

Subyek juga mempunyai kekurangan penglihatan yang sama dengan

Subyek. Penglihatan mereka kurang awas atau disebut dengan low

vision. Kakak Subyek yang pertama serta adik Subyek mempunyai

mata yang awas, sedangkan kakak kedua Subyek menderita low vision,

sama seperti orangtuanya. Kakak Subyek juga tinggal di asrama

bersama dengan Subyek. Sehari-harinya, hubungan Subyek dengan

kakak keduanya tersebut kurang dekat. Mereka tidak pernah bermain

bersama atau bertegur sapa. Subyek dan kakaknya bertemu jika sedang

dibutuhkan. Selebihnya mereka jarang sekali bertemu, walaupun

mereka tinggal dalam satu atap di asrama tersebut.

Hubungan Subyek dengan kakak sulungnya termasuk baik, hal ini

dikuatkan ketika wawancara crosscheck dengan Ketua Badan

Pengurus yang menyatakan Subyek cenderung dekat dengan kakak

sulungnya karena dia lebih bisa mengalah dari pada kakak Subyek

yang kedua. Hampir setiap hari Sabtu kakak sulungnya mengunjungi

Subyek untuk mencucikan pakaian Subyek. Hubungan Subyek dengan

orang tuanya tidak begitu dekat. Hal ini terjadi karena mereka jarang

sekali bertemu ataupun melakukan komunikasi menggunakan telepon.

Kedua orangtua Subyek tinggal di luar kota, ekonomi mereka

pas-42

pasan dan mereka juga mempunyai masalah dalam penglihatannya

sehingga sulit untuk melakukan komunikasi dengan Subyek. Orang tua

Subyek sudah memasrahkan Subyek kepada kakak Subyek yang

pertama sehingga kakak pertama Subyek menjadi orang tua kedua bagi

Subyek. Semua keperluan Subyek ditangani oleh kakak sulungnya

tersebut. Kakak sulung Subyek tinggal dan bekerja di kota Yogyakarta

sehingga memudahkannya untuk merawat dan melakukan komunikasi

dengan Subyek.

Subyek I sudah cukup lama bersekolah di SLB A dan tinggal di

asrama yang sama dengan sekolah tersebut. Menurut hasil wawancara,

Subyek sudah berada di asrama sejak 4 tahun yang lalu sehingga

diasumsikan Subyek sudah mengenal dengan baik lingkungan yang

menjadi tempat tinggalnya saat ini.

Hubungan Subyek dengan teman-temannya di sekolah dan di

asrama terlihat cukup dekat. Wawancara dengan guru dapat

memperlihatkan bahwa Subyek merupakan seorang yang berani,

mempunyai inisiatif, dan bisa membuka diri. Misalnya ketika guru

belum datang kedalam kelas, Subyek mau datang ke ruang guru untuk

menanyakan mengapa guru belum masuk kedalam kelas, bertanya

kepada guru jika ada pelajaran yang belum dimengerti, serta mau

mengikuti lomba-lomba untuk mewakili sekolah. Subyek belum dapat

mengatasi konflik dengan baik. Subyek sering dikatakan nakal oleh

beberapa orang, seperti bapak kepala sekolah, para guru, serta

beberapa temannya. Mereka semua beranggapan Subyek I terlalu

banyak iseng, suka bertindak sembrono, kurang bisa mengawasi

dirinya sendiri dan sering bertindak sesuka hati yang mengakibatkan

orang lain cedera atau merugikan orang lain. Misalnya ketika bercanda

dengan teman yang mengakibatkan jendela pecah, dan lain-lain.

b. Subyek II

Subyek II merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya

menderita low vision, ibunya seorang tuna netra total. Namun adiknya

mempunyai mata yang awas.

Subyek mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarganya.

Orangtuanya sering menengok Subyek di asrama. Hampir setiap hari

Sabtu mereka datang untuk melihat keadaan Subyek. Meskipun

kesulitan mendapatkan transportasi, mereka tetap akan mengusahakan

untuk datang menengok. Begitu juga dengan nenek Subyek. Beliau

akan berusaha menengok cucunya tersebut minimal 1 bulan sekali.

Adiknya juga sering diajak menengok Subyek di asrama. Menurut

hasil wawancara dengan orang terdekat Subyek, Subyek terlihat

sayang sekali pada adiknya. Subyek sering menggendong, menimang

dan mengajak adiknya bermain. Subyek mampu mengalah pada

adiknya dan tidak pernah terlihat iri atau mengeluh. Subyek juga

menyadari dan tidak pernah menanyakan mengapa dipisahkan dari

keluarga. Selain itu, Subyek mengatakan bahwa dia harus cukup

44

pengertian dengan keluarga. Hal tersebut dapat memperlihatkan bahwa

hubungan Subyek dengan keluarga akrab dan dekat.

Menurut hasil wawancara, sehari-harinya, Subyek merupakan

seorang anak yang berani dan suka iseng atau jahil, tetapi pemalu.

Inisiatifnya dirasa kurang karena Subyek cenderung terlihat pasif.

Subyek malu bertemu dengan orang baru, jarang untuk berkenalan

terlebih dahulu, tidak mau disuruh atau tidak mau melakukan sesuatu

karena malu. Subyek cenderung bersikap diam dan tidak banyak

tingkah, serta tidak akan bertanya jika tidak ditanya. Istilahnya, kalau

tidak ditabuh tidak akan bunyi. Subyek juga kurang dapat membuka

diri, bahkan dengan orang yang sudah lama dikenal, seperti guru,

misalnya. Namun, Subyek cenderung dapat memberikan dukungan

kepada teman dan cenderung tidak mempunyai konflik dengan

teman-temannya dikarenakan sikap kalemnya tersebut.

Hubungan Subyek dengan teman-teman di sekolah juga termasuk

baik. Subyek diceritakan tidak pernah menyakiti, cenderung diam dan

pemalu. Subyek juga belum mau mengikuti lomba-lomba untuk

mewakili sekolah seperti teman-temannya. Hanya sore hari ketika di

asrama dan bermain perang-perangan bersama teman-teman, Subyek

akan bersikap jahil dan iseng.

c. Subyek III

Subyek merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Orangtua

serta adik-adiknya mempunyai mata yang normal (awas). Mereka

semua tinggal di luar kota. Subyek pindah ke kota Yogyakarta sejak

masuk SD dan asrama. Kecacatan mata yang dimiliki Subyek terjadi

sejak bayi. Orangtua dan keluarga tidak menyadari dari awal sehingga

usaha untuk mengobati Subyek tidak membuahkan hasil dikarenakan

keterlambatan pemeriksaan. Dokter yang memeriksa Subyek

mengatakan bahwa selaput mata Subyek kering sehingga tidak dapat

mengeluarkan air mata ketika menangis. Dokter sudah angkat tangan

untuk mengobati Subyek, keluarga pun sudah merasa putus asa.

Dokter tidak berani melakukan operasi karena takut akan melukai atau

merusak mata Subyek. Perlu diketahui bahwa Subyek mempunyai

mata yang utuh walaupun tidak bisa melihat.

Subyek mempunyai riwayat keluarga tuna netra, yaitu nenek buyut

Subyek dari keluarga ayahnya. Keluarga ayahnya memang mempunyai

riwayat memiliki kecacatan mata. Hampir semua kecacatan ada di

daerah mata; ada yang bermata besar, sipit, dan tidak simetris. Namun

Subyek mempunyai kerusakan yang terparah, baik dari pihak bapak

maupun pihak ibu karena terlahir buta.

Menurut Ketua Badan Pengurus asrama, ketika pertama kali

datang, Subyek tidak mau bertemu dengan orang lain, cengeng karena

sedikit-sedikit menangis, suka ngambek dan tidak mau disentuh

siapapun. Badannya sangat kurus, tidak mau makan nasi dan yang

dimakan adalah busa kasur. Hal itu terjadi sekitar 3-4 tahun yang lalu

ketika Subyek datang untuk pertama kalinya.

46

Orangtua Subyek jarang sekali menengok karena berada jauh di

luar kota. Mereka hanya menengok 1 kali setahun ketika liburan

sekolah. Namun bibinya tinggal di asrama tersebut untuk mengurusi

semua keperluan Subyek. Neneknya sering datang minimal 1 bulan

sekali untuk menengok Subyek. Komunikasi Subyek dengan orangtua

dilakukan dengan menggunakan telepon. Subyek pernah menanyakan

mengapa dia dipisahkan dari keluarganya, dari orang tua serta adiknya.

Bibinya menjawab bahwa itu semua demi masa depan Subyek. Semua

berharap Subyek bisa hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang

lain, serta mendapatkan pendidikan yang terbaik, mengingat

kekurangan yang dimiliki Subyek.

Interaksi Subyek dengan lingkungan dapat dikatakan baik. Subyek

jarang membuat ulah, cenderung diam, tetapi menarik diri dari

teman-temannya. Subyek lebih suka bermain dengan anak perempuan,

cenderung menyendiri, tidak mau diganggu atau dinakali, dan lebih

suka bermain dengan anak yang umurnya lebih tua dari pada anak

yang sebaya. Subyek seringkali mengadu kepada bibinya jika ada salah

seorang teman yang nakal dan meminta bibinya untuk membalas

temannya tersebut karena Subyek tidak berani membalasnya sendiri.

Namun Subyek dapat langsung dekat dengan orang baru, siapapun itu.

Subyek langsung bisa mengajakya berkenalan. Subyek mempunyai

rasa ingin tahu yang cukup tinggi sehingga sering mengejar apa yang

ingin dia ketahui. Subyek sering ingin ikut mengobrol bersama dengan

bibinya walaupun teman-temannya sedang bermain. Subyek jarang

sekali bergabung bersama teman-teman di sekolahnya.

Hasil wawancara crosscheck memperlihatkan bahwa Subyek

cenderung mempunyai inisiatif, dapat membuka diri pada orang lain,

tetapi kurang dapat mengatasi konflik dengan orang lain karena

sikapnya yang suka menarik diri dari orang lain.

2. Analisis Hasil Penelitian Utama

Perlu diingat kembali bahwa peneliti hanya meneliti kondisi alamiah

subyek. Peneliti tidak memberikan perlakuan khusus kepada subyek

penelitian dan tidak mengkondisikan subyek untuk memunculkan perilaku

atau kemampuan tertentu. Dengan demikian, kemampuan yang muncul

adalah kemampuan yang benar-benar dimiliki subyek dalam kondisi

alamiahnya.

a. Subyek I

1). Kemampuan untuk melakukan inisiatif

Percakapan dalam observasi partisipatoris menunjukkan bahwa

Subyek I mempunyai kemampuan melakukan inisiatif. Subyek I

dapat berkata-kata atau memberi saran kepada orang lain untuk

melakukan sesuatu bersama-sama. Misalnya ketika saya bertanya

boleh atau tidak saya datang ke sekolahnya untuk mengobrol, dia

berkata :

“Boleh kok, Mbak…Datang aja kesini, nanti kita ngobrol bareng-bareng.” (S.1.H.1, IN 1)

48

Subyek I juga dapat mencari atau menyarankan melakukan

sesuatu yang dianggap menarik. Seperti tampak dalam

perkataannya berikut ini :

Gilang kemudian berkata, “Mbak, Mbak, nek Mbak Tyas isa nyanyi ra? Kowe wae ya sing nyanyi, gelem ra? Mengko tak iringi nganggo keyboard. Kowe seneng lagu apa, Mbak? Ayat-ayat cinta seneng po ra?” (dia menanyai saya lagu apa yang saya hafal dan saya suka. Dia ingin beryanyi bersama, hanya meminta saya yang menyanyikannya). (S.1.H.2, IN 2)

Terjemahan : ”Mbak, Mbak, kalau Mbak Tyas nyanyi bisa atau tidak?

Kamu saja yang nyanyi, mau atau tidak? Nanti tak iringi memakai keyboard. Kamu senang lagu apa, Mbak? Ayat-ayat cinta senang atau tidak?”

Inisiatif untuk memperkenalkan diri pada orang yang ingin

dikenal juga dimiliki oleh Subyek I. Seperti terlihat pada

perkataannya berikut :

Gilang langsung mengajak saya untuk bersalaman sambil memperkenalkan diri, “Saya Gilang Riski, Mbak siapa? Namanya siapa?” (Dia mengatakan hal tersebut sambil mengulurkan tangannya, mimik mukanya serius dan tidak tersenyum. Gilang tidak menunggu saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Dia langsung mengulurkan tangannya begitu saya datang).(S.1.H.1, IN 4)

Adanya inisiatif untuk membuat janji melakukan sesuatu

bersama-sama juga dimiliki oleh Subyek I.

“Besok Mbak mau kesini jam berapa? Kita mau ketemuan jam berapa?”

(Gilang bertanya kepada saya dan membuat janji untuk bertemu esok hari. Tangannya memegang tangan saya dan kepalanya menoleh kearah saya). (S.1.H.1, IN 5)

“Ya nggak pa-pa. Oke. Besok Mbak kesini aja jam 9.30. Nanti kita

ngobrol-ngobrol bareng.” (Gilang membuat janji untuk bertemu dan ngobrol

bareng. Dia menyampaikannya secara langsung. Kepalanya melihat kearah saya, sambil tersenyum dan sesekali menolehkan kepalanya, terutama telinganya kearah teman-temannya yang berada di halaman).

(S.1.H.1, IN 5)

Subyek I mempunyai usaha dan berani untuk mengajak

melakukan sesuatu. Hal ini tampak sebagai berikut :

“Mbak, kita ngobrol disana aja, yuk...” (sambil mengajak berpindah tempat ke tempat yang lebih sepi dan tidak ada gangguan dari teman-temannya.

Dia menggandeng tangan saya dan mengajak saya ke sebelah kantor kepala yayasan dimana kantor tersebut agak sepi dan jarang dilalui anak-anak). (S.1.H.1, IN 6)

Gilang mengiyakan dan mengajak saya untuk kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain kemudian memperkenalkan teman-temannya satu persatu kepada saya, kemudian kita mengobrol bersama. (Gilang menggandeng tangan saya dan mendekati teman-temannya yang sedang bercerita bersama-sama di bangku di dekat kantor guru. Gilang memperkenalkan sambil menunjuk dengan tepat dimana teman-temannya berada, walaupun dia tidak bisa melihat). (S.1.H.1, IN 6)

2). Kemampuan untuk membuka diri

Secara umum, observasi partisipatoris memperlihatkan bahwa

Subyek I mempunyai kemampuan untuk membuka diri. Subyek I

memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengerti dirinya dan

keluarganya. Misalnya Subyek mau menjawab ketika ditanya

tentang orang tuanya. Subyek menjawab seperti berikut ini :

“Nggak… dulu iya, tapi sekarang nggak pernah.” (Gilang menyebutkan bahwa dia tidak pernah ditengok kedua orangtuanya. Mimik mukanya serius, seperti orang marah. Tangannya dikepalkan di atas celananya).

(S.1.H.1, PD 1)

“Iya, dulu 2 bulan sekali nengokin, sekarang nggak pernah.” (S.1.H.1, PD 1)

Subyek juga dapat membuka diri jika ditanya mengenai

keluarga, khususnya mengenai kakaknya. Subyek menjawab

pertanyaan yang diajukan sebagai berikut :

“Kakak punya, adik nggak punya…” (S.1.H.1, PD 1) “Ya di asrama ini.” (S.1.H.1, PD 1)

“Iya, kakakku juga di asrama ini.” (S.1.H.1, PD 1)

“Misalnya cerita-cerita gitu? Nggak pernah tuh, Mbak…” (Ketika

menjawab, kepalanya ditolehkan ke samping kanan dan kiri, sepertinya Gilang tidak mau ditanya tentang kakaknya). (S.1.H.1, PD 1)

50

Subyek sempat tidak mau menjawab ataupun mengungkapkan

diri kepada orang lain. Subyek berusaha menghindar seperti

tampak pada observasi berikut :

Saya beberapa kali menyapa Gilang, tetapi dia tidak mau menjawab, hanya menggeleng dan mengangguk saja. (Setiap saya tanya, dia selalu berusaha menghindar dengan tidak mau menjawab dan berlari-lari kesana kemari. Gilang terlihat 3 kali berlari dan bersembunyi di samping lemari yang ada di halaman. Saya tidak tahu apa yang dilakukanya disamping lemari itu. Dia hanya berdiri disitu, mengepalkan tangannya di depan dada, dan berdiri dengan diam. Setiap ada guru yang lewat dan menanyainya, dia berlari dan bermain lagi bersama dengan teman-temannya. Namun ketika saya tanyai lagi, dia bersembunyi lagi disamping lemari. Hal itu ia lakukan jika saya menanyainya suatu hal). (S.1.H.1, PD 1(-))

Subyek I cenderung lebih terbuka dengan teman-temannya,

terutama teman kepercayaan atau teman yang paling akrab

dengannya. Subyek I mampu membuka dirinya pada teman

terdekatnya dan bisa bercerita tentang dirinya atau

masalah-masalahnya. Hal tersebut tampak seperti pada observasi berikut

ini :

Di dalam terdengar Gilang sedang bercakap-cakap dengan Hepi, salah satu teman dekatnya di sekolah. Mereka berbicara kegiatan sehari-hari mereka seperti pelajaran apa yang mereka senangi dan pelajaran yang menyenangkan hari itu. Gilang sedang mencurahkan isi hati dan mengungkapkan dirinya kepada Hepi. (S.1.H.2, PD 2)

Observasi memperlihatkan Subyek I berani dan dapat

mengungkapkan bahwa dirinya merasa malu. Subyek berkata :

“(sambil tertawa) Malu ah, Mbak…. “ (Gilang bersikap salah tingkah dan malu, mukanya terlihat tersenyum, sesekali menepuk temannya karena diejek). (S.1.H.1, PD 3)

“Ya cerita-cerita tentang apa ya….. apa aja… aku malu…” (sambil tertawa. Mimik mukanya tersipu-sipu. Kepalanya agak ditarik ke belakang. Tangan kanannya diletakkan di dekat bahu kirinya, sementara itu bibirnya ditempelkan di tangan kanan tersebut). (S.1.H.1, PD 3)

“Aku kan malu, Pak… masak aku terus yang nyanyi...” (Dia berkata seperti itu sambil meletakkan kepalanya di meja. Tangannya mencoba mencolek Heni, teman yang berada di sebelahnya. Gilang melakukan hal tersebut

berkali-kali. Mencoba membujuk Heni untuk maju kedepan kelas dan berganti menyanyi). (S.1.H.1, PD 3)

3). Kemampuan untuk bersikap asertif

Observasi memperlihatkan bahwa Subyek I mempunyai

kemampuan untuk bersikap asertif. Subyek I dapat mengatakan

“tidak” untuk hal-hal yang tidak mau dilakukan. Seperti tampak

dalam perkataan subyek berikut ini :

“Iya, aku emoh, suaraku kan nggak bagus, Pak…Mbak Heni aja yang maju, suaranya kan lebih bagus…!” (Tangannya tetap mencolek-colek tangan Heni walaupun Heni marah-marah karena dia tidak amu maju kedepan untuk menyanyi).

(S.1.H.2, AS 2)

“Nggak mau ah, aku arep nggo mengko wae kok. Saiki aku durung ngelih. Nek kowe wis ngelih ya kana nggonmu dipangan wae. Nggonku mengko wae.” (S.1.H.2, AS 2)

Terjemahan : ”Nggak mau ah, punyaku untuk nanti saja kok. Sekarang aku belum lapar. Kalau kamu sudah lapar, kamu makan dulu saja. Punyaku untuk nanti saja.”

“Wah, aku ki ra isa nyanyi ki, Mbak..suaraku elek.” (Dia berkata seperti itu sambil memainkan pensil yang ia ambil dari tangan saya yang biasa saya gunakan untuk menulis. Pensil itu dimainkannya, diputar-putar dan dicoba untuk menulis). (S.1.H.2, AS 2)

Terjemahan : “Wah, aku itu tidak bisa menyanyi, Mbak…suaraku jelek.”

4). Kemampuan untuk memberikan dukungan emosional

Secara umum, Subyek I dianggap kurang mampu memberikan

dukungan emosional, khususnya menenangkan dan memberikan

rasa nyaman kepada orang lain ketika orang lain mempunyai

masalah karena tidak ditemukan adanya perbuatan atau perkataan

yang menggambarkan hal tersebut.

52

5). Kemampuan dalam mengatasi konflik

Observasi memperlihatkan bahwa Subyek I kurang mempunyai

kemampuan dalam mengatasi konflik. Subyek tidak mau

mendengarkan keluhan dari teman dan melakukan pembenaran diri

meskipun tahu bahwa perbuatannya tersebut salah. Seperti tampak

pada perkataannya dalam observasi partisipatoris berikut ini :

Gilang memukul kepala Heni setelah berusaha merebut buku dan Heni tidak memberikan dan setelah beberapa saat terjadi perebutan. Heni mengaduh

kesakitan karena pukulan yang dilakukan Gilang (sambil memegang

kepalanya yang sakit karena pukulan Gilang. Heni juga marah dan berkata kepada Gilang, “Lang, lara ki..”). Sementara itu Gilang tertawa senang sambil bertepuk tangan, sesekali dia berdiri untuk menangkis pukulan Heni yang mencoba membalas.

(S.1.H.2, MK 3 (-))

tetapi Gilang terus memukul dan berkata, “Ra pa-pa, aku ra tenanan kok.”

(Tetapi tetap saja sambil memukul Arif dan melakukannya berulang-ulang) (S.1.H.2, MK 3 (-))

Terjemahan : tetapi Gilang terus memukul dan berkata, ”Nggak apa-apa, aku tidak beneran kok.”

b. Subyek II

1). Kemampuan untuk melakukan inisiatif

Observasi memperlihatkan bahwa Subyek II mempunyai

kemampuan dalam melakukan inisiatif. Subyek II mempunyai

inisiatif untuk menyarankan melakukan sesuatu bersama-sama.

Seperti tampak pada perkataannya berikut :

Arif mengajak Yusuf untuk melanjutkan bermain bola, ”Ayo, Sup, dolanan ro aku..ki bale wis ana..”. (S.2.H.5, IN 1)

Terjemahan : ”Ayo, Sup, main sama aku..ini sudah ada bolanya.”

Subyek II pun dapat mencari atau menyarankan melakukan

sesuatu yang dianggap menarik. Subyek menyarankan bermain

recorder yang biasa digunakan untuk merekan suara. Subyek ingin

suaranya direkam dan meminta temannya untuk merekam.

Arif mengetahui hal itu, kemudian dia berkata, “Mas, mbok dolanan.. Kowe ngrekam, aku tak ngomong ya. Ngko dirungokke bareng ya? Gelem ra?” (Arif berbicara sambil menggelendot ke Hepi, dia berusaha membujuk Hepi agar mau merekam suaranya). (S.2.H.3, IN 2)

Terjemahan : Arif mengetahui hal itu, kemudian dia berkata, ”Mas, ayo bermain... Kamu merekam, aku yang berbicara. Nanti kita dengarkan bersama-sama ya? Mau atau tidak?”

Subyek II mempunyai inisiatif untuk memulai percakapan atau

berbincang dengan orang yang baru dikenal atau ingin dikenal. Hal

tersebut tampak sebagai berikut :

Arif datang menghampiri saya ketika kami semua tertawa. Dia bertanya kami sedang membicarakan apa. Katanya, “Ngapa e, Lang?”

(S.2.H.1, IN 3)

Terjemahan : Arif datang menghampiri saya ketika kami semua tertawa. Dia bertanya kami sedang membicarakan apa. Katanya, ”Ada apa, Lang?”

Subyek II juga dapat menampilkan kesan yang baik dengan

cara mengenalkan diri kepada orang yang ingin dikenal. Subyek

mau mengulurkan tangannya terlebih dahulu untuk bersalaman.

Gilang lalu memperkenalkan saya dan kemudian Arif pun memberanikan diri berkenalan dengan saya. (Dia mengulurkan tangannya terlebih dahulu dan saya pun menyambutnya. Dia menyebutkan namanya dengan malu-malu. Mimik mukanya tersipu dan suaranya ketika memperkenalkan diri tidak terlalu keras). (S.2.H.1, IN 4)

Subyek II mempunyai keberanian dan usaha untuk mengajak

melakukan sesuatu. Seperti perkataannya berikut ini :

Arif memanggil Yusuf dan mengajak bermain bola, katanya, “Sup, ayo dolanan bal...”. (S.2.H.5, IN 6)

Terjemahan : Arif memanggil Yusuf dan mengajak bermain bola, katanya, ”Sup, ayo bermain bola...”.

54

2). Kemampuan untuk membuka diri

Hasil observasi partisipatoris yang telah dilakukan

memperlihatkan bahwa Subyek II mempunyai kemampuan dalam

membuka diri. Namun subyek kurang berani dan kurang memberi

kesempatan kepada orang lain untuk mengerti dirinya. Subyek

cenderung bersikap diam dan kurang mau berkomunikasi dengan

oang baru.

Hepi mempersilakan saya duduk dan mendengarkan Arif. Saat itu juga Arif menjadi diam dan tidak mau berbicara lagi. Saya tawarkan roti yang saya bawa tetapi Arif tidak mau menerimanya. Saya tanya apapun dia tidak mau menjawab dan hanya tersenyum-senyum saja. (S.2.H.3, PD 1 (-))

Subyek II dapat mengungkapkan bahwa dirinya merasa malu,

dapat dilihat juga dari gerakan tubuh dan mimik mukanya yang

dapat diinterpretasikan bahwa Subyek merasa malu, terutama

dengan orang yang baru dikenal atau dengan orang yang ingin

dikenal. Observasi partisipan yang dilakukan mendapatkan hasil

sebagai berikut :

Arif terlihat bermain sambil tersenyum, sesekali dia terlihat bernyanyi dan menyenandungkan suatu lagu, tetapi ketika saya tanyai, dia tidak mau menjawab. Dia tersipu- sipu malu, mukanya sering ditolehkan kearah yang berlawanan dengan saya. Arif menjawab, “Malu ah, mbak…” (Dia sering mengatakan bahwa dia merasa malu). (S.2.H.4, PD 3)

3). Kemampuan untuk bersikap asertif

Subyek II mampu bersikap asertif. Subyek dapat mengatakan

kepada teman cara atau perlakuan mereka yang tidak disenanginya.

Seperti tampak sebagaimana berikut :

Arif berteriak kesakitan, katanya, “Lang, aja tenanan ta..lara tenan ki…” (S.2.H.2, AS 1)

Terjemahan : Arif berteriak kesakitan, katanya, ”Lang, jangan sungguh-sungguh ya... aku benar-benar sakit”.

4). Kemampuan untuk memberikan dukungan emosional

Subyek II dianggap mampu memberikan dukungan emosional.

Dokumen terkait