KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Siklus I
Suatu pokok pembahasan dianggap tuntas secara kelompok jika siswa yang mendapat nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85 %. Sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok bahasan tertentu jika mendapat nilai minimal 65
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus J dilaksanakan pada tanggal 14 April 2010 di ke.'as III SDN I Tuksongo dengan jumlah 14 siswa Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan pengamatan (observasi) dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan belajar mengajar. Sebagai pengamat adalah wali kelas III. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada model pembelajaran 1.
Pada akhir proses belajar mengajar pada siklus I diberi tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dapat digambarkan dalam histogram di bawah ini :
33
Berdasarkan histogram pada siklus I diketahui bahwa yang mencapai ketuntasan belajar 10 siswa dari 14 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar secara kelompok mencapai 71,42 % kurang dari presentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85,0 %.
Diantara ketidakberhasilan pembelajaran ini adalah siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang imaksudkan dan digunakan guru dalam pembelajaran ini. Di samping itu masih adanya kelemahan-kelemahan yang perlu diperbaiki diantaranya :
a. Guru belum maksimal dalam menggunakan alat peraga.
b. Bahasa yang digunakan guru tidak terfokus pada tema dan sasaran c. Guru masih terbatas dalam memberikan tugas.
d. Meskipun guru memberikan pertanyaan, tetapi jawaban siswa kurang logis.
e. Tidak banyak siswa yang mengajukan pertanyaan.
f. Keaktifan siswa dalam kelompok masih kurang, ada beberapa siswa yang belum pernah terlihat dalam kegiatan diskusi.
g. Ketuntasan belajar secara kelompok (klasikal) belum mencapai standar ketuntasan, sehingga belum sesuai dengan indikator penelitian dan kriteria ketuntasan belajar.
2. Siklus II
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 21 April 2010 di kelas III SDN I Tuksongo dengan jumlah 14 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan pengamatan (observasi) dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan belajar mengajar. Sebagai pengamat adalah wali kelas III. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada model pembelajaran II.
Pada akhir proses belajar mengajar pada siklus II diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes
formatif II. Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dapat digambarkan dalam histogram di bawah ini :
Gambar 4.2 Histogram Ketuntasan Belajar Siklus II
Berdasarkan histogram pada siklus II diketahui bahwa yang mencapai ketuntasan belajar 11 siswa dari 14 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar secara kelompok mencapai 72,8% lebih sedikit meningkat dari hasil pembelajaran siklus I yaitu 71.42 %. Peningkatan ini karena guru menginformasikan bahwa pada akhir pembelajarn akan diadakan tes, sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Meskipun pada siklus II mengalami peningkatan dari siklus I namun, perlu adanya perbaikan untuk tindak lanjut pada siklus berikutnya :
a. Guru belum maksimal dalam menggunakan alat peraga.
b. Bahasa yang digunakan guru tidak terfokus pada tema dan sasaran. c. Guru masih terbatas dalam memberikan tugas.
d. Meskipun guru memberikan pertanyaan, tetapi jawaban siswa kurang logis.
e. Tidak banyak siswa yang mengajukan pertanyaan.
f. Keaktifan siswa dalam kelompok masih kurang, ada beberapa siswa yang belum pernah terlihat dalam kegiatan diskusi.
35
g. Ketuntasan belajar secara kelompok (klasikal) belum mencapai standar ketuntasan, sehingga belum sesuai dengan indikator penelitian dan kriteria ketuntasan belajar.
3. Siklus III
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 28 April 2010 di kelas III SDN I Tuksongo dengan jumlah 14 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar, sedangkan pengamatan (observasi) dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan belajar mengajar. Sebagai pengamat adalah wali kelas III. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada model pembelajaran III.
Pada akhir proses belajar mengajar pada siklus III diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dapat digambarkan dalam histogram di bawah ini :
100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%
■ Siswa yang sudah tuntas belajar □ Siswa yang belum tuntas belajar
Gambar 4.3 Histogram Ketuntasan Belajar Siklus III
Berdasarkan histogram pada siklus III diketahui bahwa yang mencapai ketuntasan belajar 13 siswa dan 14 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar secara kelompok mencapai 93 % di atas 85 % dari presentase yang dikehendaki. Adanya peningkatan hasil belajar mengajar ini,
menunjukkan bahwa model pembelajaran kelompok sangat dapat diterapkan dalam pembelajaran Baca Tulis al-Qur’an, sehingga siswa yang belum mampu akan termotifasi dari siswa yang sudah mampu. Di samping adanya peningkatan hasil belajar, kelemahan-kelemahan yang ada perlu tindak lanjut demi proses belajar mengajar selanjutnya adalah :
a. Keberanian siswa dalam bertanya.
b. Keberanian siswa menanggapi pertanyaan guru ataupun sesama siswa. c. Keaktifan siswa dalam belajar kelompok dan berdiskusi.
d. Kesesuaian guru dalam memberi tugas kepada siswa.
B. Pembahasan
1. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa
Dalam hasil Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Rescorch) dengan penerapan model pembelajaran kelompok, menunjukkan peningkatan prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi Baca Tulis al-Qur’an dan khususnya tentang bacaan mad. Di samping meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran siswa yang penakut dan pemalu timbul rasa keberanian berkelompok dengan siswa lain. Sehingga keaktifan siswa dalam pembelajaran tidak hanya didominasi oleh siswa yang mempunyai sifat pemberani saja.
Melalui hasil penelitian yang dilaksanakan pada siklus 1 sampai siklus III menunjukkan peningkatan yang signifikan. Yaitu siklus 1 ketuntasan
i
belajar mencapai 71,42 % siklus II mencapai 72.8 % dan siklus III mencapai 93 %. Pada siklus ketuntasn belajar secara kelompok (klasikal) telah mencapai 95 % dari target yang dikehendaki. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kelompok terhadap pelajaran baca tulis al-Qur’an memiliki dampak positif dalam peningkatan prestasi siswa dan perlu diterapkan dalam pelajaran Baca Tulis al-Qur’an pada pokok bahasan yang lain.
37
2. Keaktifan Siswa dalam Proses Pembelajaran
Berdasarkan analisis data pada siklus I, keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran sangat pasif. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang kurang memperhatikan pelajaran guru, setiap guru memberikan pertanyaan jawaban siswa tidak logis, keberhasilan siswa dalam bertanya belum muncul dan siswa kurang aktif dalam berdiskusi. Ketuntasan belajar juga belum mencapai target yang dikehendaki, yaitu hanya 71,42 %.
Pada siklus II ada peningkatan, dimana siswa mulai memperhatikan penjelasan guru, keberanian siswa dalam bertanya dan menjawab sudah muncul meskipun pertanyaan dan jawaban siswa berdiskusi sudah ada. Hal ini ditandai dengan peningkatan presentase ketuntasan belajar yang meningkat 72,8 %.
Pada siklus III diperoleh data yang menunjukkan peningkatan. Siswa sudah aktif dalam proses pembelajaran dan mampu belajar kelompok dengan baik, pertanyan dari guru dan siswa sudah ditanggapi oleh siswa yang lain dengan jawaban yang logis, dalam berdiskusi siswa juga menunjukkan keaktifan. Dan pada akhir pembelajaran siswa mampu menyelesaikan tugas guru dengan ketuntasan belajar mencapai 93 %.
3. Kemampuan Guru dalam Mengolah Pembelajaran
Berdasarkan analisis data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, guru mendapat sebuah pembelajaran yang cukup berarti, dimana guru dapat mengetahui kelemahan dan kekurangannya dalam mengolah sebuah pembelajaran. Sehingga dapat diketahui sepenuhnya tiadak hanya yang dikatakan oleh guru saja, namun profesionalitas guru dalam mengolah pembelajaran turut menentukan sebuah ketuntasan belajar.
Pada siklus I kelemahan guru masih sangat tampak diantaranya belum memaksimalkan dalam menggunakan alat peraga, masih minim dalam memberikan tugas kepada siswa, dalam memantau keaktifan siswa ketika
berdiskusi belum maksimal, sehingga ketuntasan belajar pada siklus I hanya mencapai 71,42 %.
Berdasarkan hasil pada siklus I, dalam pelaksanaan siklus II guru berusaha melengkapi kekurangan yang terjadi pada siklus I. diantaranya, memaksimalkan dalam menggunakan alat peraga, lebih rinci dalam menjelaskan materi pembelajaran, lebih memotivasi siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan serta mengarahkan siswa dalam berdiskusi dengan baik. Dengan adanya perubahan yang dilakukan, ketuntasan belajar pada siklus II sedikit meningkat menjadi 72,8 %.
Pada siklus II ini di samping penyempurnaan dan revisi dari siklus sebelumnya perlu adanya perhatian untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pembelajaran kelompok dapat meningkatkan proses belajar mengajar.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan dalam tiga siklus, hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Model pembelajaran kelompok dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Baca Tulis al-Qur’an.
2. Model pembelajaran kelompok memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus yaitu siklus I (71,42 %), siklus II (72,8 %) dan siklus III (92,85 %)
B. Saran
Dari hasil penelitian yang telah diperoleh dan uraian sebelumnya, agar proses belajar mengajar Baca Tulis al-Qur’an lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka dapat disampaikan saran-saran sebagi berikut
1. Dalam melaksanakan model pembelajaran kelompok memerlukan persiapan yang matang, sehingga guru dituntut untuk lebih mampu dalam menentukan atau memilih topik yang benar-benar dapat diterapkan dengan model pembelajaran kelompok dalam proses belajar mengajar agar diperoleh hasil yang optimal.
2. Dalam rangka meningkatkan ketuntasan belajar siswa, guru hendaknya selalu memantau setiap kelompok atau individu yang kurang aktif agar ikut berpartisipasi dan pro aktif.
4U
4. Untuk penelitian serupa, hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan dan tindak lanjut, sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Armani, Arief. 2002. Pengamat Ilmu Metodologi Islam. Jakarta : Ciputat Raya.
Daradjat, Zakiyah. 2001. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
Departemen Agama RI. 2000. al Qur'an al Karim dan Terjemahnya. Semarang Toha Putra.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Mardiyo. 2002. Pengajaran al Qur'an. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung Remaja Rosdakarya.
Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta . Ciputat Raya.
Wardani, Igak. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas terbuka.
Yulaelawati, ella. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Filosofi Teori dan Aplikasi. Bandung : Pakar Raya.
42