BAB III METODE PENELITIAN
B. Deskripsi Hasil Penelitian
1. Pandangan Pemerintah Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf
Pada sektor pendidikan di Kabupaten Takalar memegang peranan penting dalam peningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Agar sumber daya manusia di kabupaten Takalar dapat bersaing dengan kabupaten lainnya dan memegang peranan minimal di Kabupatennya sendiri maka diperlukan suatu perencanaan untuk meningkatkan pendidikan di Kabupaten Takalar, termasuk Pendidikan Non Formal dan Informal. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak sekali sumber daya manusia di Kabupaten Takalar yang tidak berkompeten, hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang rendah bahkan banyak masyarakat terutama di desa yang berada di daerah pesisir pantai kurang mengenyam pendidikan, sehingga mengalami buta huruf, kalau pun ada cuma orangorang yang mampu yang bisa sekolah.
Seperti halnya yang diungkapkan oleh Kepala Desa (Abdul Wahab), Bahwa:
“Buta huruf adalah bagian dari beban pemerintah, artinya orang buta huruf tidak bisa maju kalau tidak mau belajar untuk membaca dan menulis. Sehingga kalau Negara mau maju maka semua orang harus belajar, apalagi menggunakan bahasa Indonesia. Ratarata pesan pemerintah diharuskan berbahasa Indonesia. Pemerintah menganggarkan banyak anggaran untuk pemberdayaan masyarakat dan pemberantasan buta huruf utamanya usiausia yang sudah tua diatas 30 tahun, bahkan setiap tahunnya dilakukan pendataan karena itu sangat berpengaruh pada indeks prestasi manusia khususnya di Kabupaten Takalar, sehingga pada
pengentasan buta huruf dibentuklah kelompokkelompok dari beberapa dusun di setiap desa. Ada beberapa programprogram yang dibuat oleh pemerintah seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) pemberdayaan masyarakat petani, nelayan, keterampilan, dan usaha
usaha kecil. Pemberdayaan masyarakat artinya bagaimana masyarakat mampu dan bisa mandiri, Dan pemberdayaan masyarakat yang buta huruf pemerintah memberikan bantuan modal usaha melalui program desa seperti PNPM. Dengan adanya program pengentasan buta huruf dan pemberdayaan masyarakat ini sangat membantu warga saya terkhusus di desa Bontomarannu, harapan saya kedepannya semoga tidak ada lagi masyarakat yang buta huruf.” (Wawancara 24 Juli 2015).
Selain itu hal serupa juga di ungkapkan pengawai Dinas Pendidikan Kecamatan Galesong Selatan (A. Jupri Sangaji), bahwa:
“Pemerintah tidak hanya sematamata melakukan pendekatan baca tulis dan berhitung tetapi pendekatan yang akan dilakukan adalah mengaitkan kebuta hurufan itu dengan aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial sehingga mereka jadi tertarik untuk belajar. Pemerintah memberikan mereka bantuan modal usaha melalui program desa Prima atau desa perempuan Indonesia maju mandiri, serta PNPM dimana setiap desa di Kabupaten Takalar, kata pak Jupri untuk proses pengentasan buta huruf dana yang dipakai adalah anggaran dana dari APBD. Di setiap Desa yang dibentuk dari beberapa kelompok belajar.”(Wawancara, 29 Juli 2015).
Jaharuddin S.Pd sebagai ketua PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Satria Galesong mengungkapkan bahwa:
“Peran pemerintah dalam memberdayakan masyarakat desa yang buta huruf ada tiga tingkatan pemerintah yang mendukung diantaranya APBD I dalam hal ini Provinsi, APBD II dalam hal ini Kabupaten dan APBD III dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta masih ada lagi instansi yang mendukung diantaranya Direktorat Pembinaan dan Pendidikan anak Usia Dini serta pendidikan masyarakat. Didalam Dirjen PAUD dan Dikmas ada lagi program Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan kesetaraan. Programprogram yang kami bentuk di PKBM diantarannya: PAUD Terpadu, Kelompok Bermain, TBM (Taman Baca Masyarakat), Keaksaraan Dasar, Pendidikan Kesetaraan Paket A,B,C, Pendidikan Kepemudaan dan Perempuan, Pendidikan Kecakapan Hidup/
Kursus. Upaya pemerintah menuntaskan buta huruf merupakan investasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut saya pemerintah sudah cukup membantu masyarakat dalam menuntaskan buta huruf, tetapi kembali lagi pada kesadaran masyarakat bahwa begitu
pentingnya pendidikan dalam kehidupan kita.”(Wawancara, 08 Agustus 2015).
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf benarbenar sudah membantu masyarakat dalam hal membaca, menulis dan berhitung serta mampu mengembangkan keterampilan yang mereka miliki dengan diberikannya bantuan modal usaha oleh pemerintah sehingga mereka mampu meningkatkan kesejahteran keluargannya.
2. Faktor-faktor yang Menyebabkan Masyarakat Buta Huruf
Kemiskinan merupakan masalah yang sangat serius dan masalah yang kompleks yang disebabkan faktor internal dan eksternal.
Seperti yang diungkapkan kepala desa Abdul Wahab, bahwa:
“Faktor yang menyebabkan masyarakat buta huruf adalah faktor kemiskinan dan ekonomi keluarga yang tidak cukup sehingga masyarakat susah untuk mengenyang pendidikan, masalah biaya untuk membeli perlengkapan sekolah. Selanjutnya karena orang tua selalu beranggapan bahwa orang pendidikan itu tidak penting lebih baik membantu orang tua mencari nafkah”(Wawancara, 24 agustus 2015)
Hal yang serupa juga disampaikan Ketua PKBM Jaharuddin S.Pd, bahwa:
“Faktor yang menyebabkan masyarakat buta huruf terutama usia diatas 3059 tahun dikarenakan jauhnya sekolah, pemahamannya tentang pendidikan kurang ia merasa bahwa pendidikan itu bukan bagian dari kebutuhan hidup, faktor kemiskinan, banyaknya orang yang lebih condong membantu mencari nafkah dari pada sekolah, Adanya beberapa golongan mengatakan bahwa yang berpendidikan hanyalah keturunan yang berada atau bangsawan dan yang merasa kehidupannya biasabiasa saja seperti petani dan nelayan kurang begitu berharap karena katanya kalaupun sekolah tetap saja jadi petani dan nelayan.”(Wawancara, 08 Agustus 2015)
Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan masyarakat buta huruf adalah kemiskinan, ekonomi, putus sekolah kondisi sosial masyarakat, dan gender
3. Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf Dalam rangka pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberantasan Buta huruf ini, perlu dilakukan beberapa langkah agar dicapai pelaksanaan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penyelenggara.
Langkahlangkah tersebut adalah sebagai berikut : langkah persiapan, pendataan calon warga belajar, dan langkah pelaksanaan.
a. Langkah Persiapan 1) Sosialisasi
Sosialisasi program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberantasan Buta Huruf yang dilakukan oleh ketua PKBM pada perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat untuk dipublikasikan kepada masyarakatnya. Namun terdapat hambatan dalam proses sosialisasi yaitu sulitnya meyakinkan masyarakat untuk mengikuti program ini, karena memang masyarakat merasa tidak membutuhkannya. Selain itu, sosialisasi juga untuk menentukan pihak siapa yang bisa menjadi penyelenggara dan tutor. Penyelenggara adalah orang atau lembaga yang menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat dan pemberantasan Buta Huruf, sedangkan tutor adalah guru atau orang yang mengajar pada proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf.
Bentuk penyelenggara bisa berupa perorangan maupun kelompok. Untuk perorangan adalah setiap orang yang mempunyai keinginan mengabdi dalam
dunia pendidikan dan bersedia menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf ini. Sedangkan apabila penyelenggaranya lembaga adalah organisasi kemasyarakatan. Keagamaan, LSM, yayasan, PKK dan lainlain yang mempunyai kemauan untuk menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf.
Untuk program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf penyelenggaranya adalah perorangan semua. Dalam melakukan sosialisasi dan penentuan identifikasi penyelenggara dan tutor dilaksanakan secara intensif oleh Ketua PKBM Satria Galesong yang melibatkan perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat seperti Kepala Desa, Sekertaris. Hal ini karena mereka yang lebih mengetahui karakteristik desanya dan bisa mengidentifikasi kirakira siapa yang bisa menjadi penyelenggara.
Jadi untuk pemilihannya lebih menekankan pada yang memiliki kepedulian pada masyarakat dan mau mengabdi. Hal ini seperti yang disampaikan Ketua PKBM Jaharuddin S.Pd berikut ini :
“Pemilihan dan perekrutan tutor kami percayakan pada Kepala Desa disana, karena kepala desa yang lebih mengetahui karakteristik desanya masingmasing. Selain itu juga memang tidak mudah mencari tutor yang mau mengajar bapakbapak maupun ibuibu dengan honor yang kecil Rp.300.000 seperti itu. Jadwal pelaksanaannya 3 kali satu minggu. Jadi disini kami memilih sesuai kriteria yang ada namun tidak terpaku pada kriteria tersebut, pokoknya yang penting dia mau mengabdi untuk masyarakat. Mengajar bapakbapak dan ibuibu itu tidak mudah mbak, bahkan kadang yang datang cuma sedikit jadi memang dibutuhkan kesabaran. Hanya orangorang yang terpanggil hatinya untuk mau menolong sesamanya yang bersedia menjadi tutor.” (Wawancara, 08 Agustus 2015).
Bapak Jaharuddin S.Pd juga ketua PKBM Satria Galesong menambahkan sebagai berikut :
“Sebagian besar tutor yang mau membantu dalam pelaksanaan penyelenggara tidak harus mutlak sesuai kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pemilihannya lebih diutamakan yang memiliki jiwa sosial yang tinggi dan mau mengabdi untuk masyarakat, hal ini berkenaan dengan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf bersifat non formal.
Dalam proses perekrutan penyelenggara dan tutor program Pemberdayaan Masyarakat yang Buta Huruf ini, maka terjaring sebanyak 26 orang penyelenggara dan 26 orang tutor yang bersedia membantu pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf. Seperti yang dijelaskan oleh Bapak Jaharuddin S.Pd. Ketua PKBM Satria Galesong Kabupaten Takalar:
“Perekrutan penyelenggara dan juga tutor yang hanya memakan waktu 1 bulan itu sudah mampu terjaring 26 tutor dan 26 orang penyelenggara mbak di 12 desa Kecamatan galesong Selatan. Saya kira dengan jumlah tersebut sudah cukuplah. untuk melaksanakan program ini. Yang penting kerelaan dan juga kemauan mereka dalam mengemban amanah ini.
Karena tidak mudah jadi seorang tutor dan juga penyelenggara pada program pemerintah ini mbak.” (Wawancara 08 Agustus 2015)
Setelah terpilih tutor dan penyelenggara, maka tutor dan penyelenggara dipanggil ke kantor PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) untuk diberi pengarahan dan pelatihan tentang pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf serta diberikan Silabus, Modul yang menjadi kurikulum pembelajaran. Modul tersebut dari Pemerintah Kabupaten Takalar
dengan bahan ajarnya adalah bahan ajar tematik yaitu bahan ajar yang digunakan untuk membelajarkan warga masyarakat penyandang buta huruf agar memiliki kemampuan menulis, membaca, berhitung, dan menganalisis tematik, yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan kehidupan seharihari dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya.
Hal serupa juga disampaikan ibu Hj.Nursiah, bahwa:
“Dalam proses belajar, para tutor menggunakan tema yang disukai para penyandang buta huruf. Jadi prinsipnya harus menggunakan pendekatan pembelajaran tematik sesuai dengan tematema pembelajaran apa yang digemari oleh para penyandang buta huruf. Contohnya kalau dia di lingkungan keagamaan kita mengembangkan tematema agama tapi kalau basisnya di lingkungan pertanian kita mengembangkan materi pembelajaran dengan pertanian,”(Wawancara, 13 Agustus 2015)
b. Pendataan calon warga belajar
Setelah ditentukan siapa yang akan menjadi penyelenggara dan tutor maka dilakukan pendataan awal untuk mengidentifikasi calon warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf pada setiap desa. Pendataan merupakan kewenangan masingmasing desa yang bisa dilakukan oleh Kepala Desanya langsung atau Kepala Desa menunjuk tokohtokoh masyarakat setempat seperti PKK, Aisyiyah, atau pihakpihak yang memahami karakteristik desanya untuk melakukan pendataan secara langsung. Data yang diperoleh digunakan sebagai data dasar desa mana saja yang perlu diselenggarakan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. Kepala desa diberi waktu maksimal 1 bulan dalam melakukan pendataan calon warga belajar yang ada di daerahnya masingmasing.
Ibu Hj. Nursiah, mengungkapkan bahwa:
“Tutor yang di bentuk di desa Bontomarannu sebanyak 4 orang, di antaranya Salawati, Israwati, Dg.Minne, dan Dg. Tarring. Masingmasing tutor diberi amanah memegang 1 kelompok belajar di setiap dusun.
Salawati di dusun Talisea, Israwati di dusun Balang, Dg.Minne di dusun Mandi, dan Dg. Tarring di dusun Barua, (Wawancara, 13 Agustus 2015)
Salawati tutor warga belajar menuturkan tentang pendataan yang beliau lakukan dimana beliau harus terjun langsung bersamasama tutor yang lain untuk membujuk masyarakat agar memiliki kesadaran mengikuti program pemberdayaan masyarakat dan pemberantasan buta huruf. Beliau juga harus melakukan pendekatan langsung terhadap masyarakat agar mereka respon terhadap pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang buta huruf di Bontomarannu Kabupaten Takalar. Berikut ini penuturan beliau :
“Dulu itu saya membuat pengumuman ke masyarakat desa melalui Bu Nia dan Bu Nia menyampaikannya lewat PKK, kemudian ditawarkan kepada siapasiapa saja yang mau ikut. Tadinya banyak yang takut untuk ikut tapi saya dan teman melakukan pendekatan pada warga dan saya temui satu persatu orang yang kirakira pantas untuk mengikuti program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf ini. Saya bilang tidak apaapa Bu, ini cuma belajar bersama, dan saya beri pengertian pada mereka kalau bisa membaca menulis itu penting. Alhamdulillah warga desa Bontomarannu disini banyak yang mau ikut, pada awal pendataan calon warga belajar program Pemberdayaan Masyarakat desa yang buta huruf saya dan temanteman lakukan berhasil memperoleh 70 orang calon warga belajar yang 11 orang lakilaki dan 59 orang perempuan.”
(Wawancara, 12 Agustus 2015 )
Pendataan dilakukan oleh pengawai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan dibantu oleh perangkat desa, tokoh masyarakat serta tutor maupun penyelenggara program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf dengan terjun langsung ke masyarakat dan memberikan sosialisasi tentang program Pemberdayaan masyarakat Pemberantasan Buta Aksara serta memberi pemahaman tentang pentingnya program ini. Mereka memberikan penawaran
kepada masyarakat untuk mengikuti program Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Buta Huruf secara gratis. Mereka juga berusaha memberi pengertian kepada penyandang buta huruf agar mau mengikuti program ini. Dari pendataan calon warga belajar periode tahun 2014/2015, terjaring 70 orang penyandang buta huruf diBontomarannu Kabupaten Takalar. Calon warga belajar sejumlah 70 orang tersebut terdiri dari 4 dusun. Yaitu Dusun Talisea, Dusun Balang, Dusun Mandi dan Dusun Barua.
Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa pendataan calon warga belajar di Bontomarannu telah dilakukan oleh berbagai pihak yaitu dari PKBM, PKK, Aisiyah, Dinas Pendidikan Kecamatan, tutor dan penyelenggara program Pemberdayaan masyarakat desa Yang buta huruf, perangkat desa, serta tokoh masyarakat. Dalam proses pendataan calon warga belajar hanya terdapat sedikit hambatan, yaitu rendahnya responsivitas perangkat desa dan tokohtokoh masyarakat setempat dalam mensosialisasikan dan juga mendata calon warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. Pemilihan orangorang yang tepat, dapat menjadi solusinya.
c. Langkah Pelaksanaan
Proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf dapat dilaksanakan setelah adanya akad kerja sama antara penyelenggara program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamaan Galesong Selatan Kabupaten Takalar.
Pelaksanaan proses pembelajaran meliputi 3 tahapan : 1) Tahap Pemberian Materi Dasar (Tahap I)
Pada tahap pemberian materi dasar, materi yang diberikan adalah membaca, menulis dan berhitung. Tutor memberikan materi awal dengan mengenalkan huruf abjad kemudian membantu warga belajarnya untuk dapat menghafal hurufhuruf.
Maka tutor akan menambah tingkat kesulitan dalam proses pembelajaran tahap I ini, yaitu dengan mengajari warga belajar mengeja dan berlatih membaca kata sederhana. Untuk materi berhitung di tahap I ini, tutor memberi materi dengan menggunakan angkaangka yang sangat sederhana.
2) Tahap Pembinaan Keterampilan (Tahap II) dilaksanakan
Setelah melalui tahap I, maka pada tahap II ini warga belajar akan diberi materi pembelajaran keterampilan.
3) Tahap Pembinaan berkesenambungan (Tahap III) dilaksanakan
Pada tahap III ini warga dibina dan diberikan dana untuk mengembangkan keterampilannya.
Proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di rumah tutor dengan jadwal pembelajaran 3 kali dalam 1 minggu. Setiap kelompok belajar memiliki jadwal yang berbeda dengan kelompok belajar yang lain. Tahap I hingga tahap III, warga belajar juga diberi keterampilan fungsional, misalnya : cara memjahit, membuat kerajinan dari anyaman bambu, membuat song’ko guru dan kerajian dari anyaman lontar lainnya serta membuat tikar dari daun pandan. Serta pembentukan kelompok tani dengan berbagai hal yang dia ajarkan seperti cara membuat pupuk kandang, cara menanam padi dengan menggunakan alat, cara menanam jagung yang baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk mensejahterakan masyarakat.
Seperti halnya yang dipaparkan Bapak Jaharuddin S.Pd. Ketua PKBM, mengungkapkan bahwa
“Keterampilan yang diajarkan mulai dari menjahit, perbengkelan, anyaman buh yang terbuat dari bambu, berbagai macam anyaman lontar, anyaman daun pandang, dan membentuk usahausaha kecil serta membentuk kelompokkelompok tani dan nelayan. Setiap kelompok masingmasing memiliki 10 orang anggota. Masingmasing kelompok diberikan dana bantuan 30 juta setiap kelompok, (Wawancara, 08 Agustus 2015).
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat betul
betul diberdayaakan dengan diberikan bekal ketampilan dan modal usaha untuk membantu keluarga dalam meningkatkan pendapatan. Serta memandirikan masyarakat untuk berusaha untuk maju.
d. Dana Pelaksanaan Program
Pendanaan pelaksanaan program Pemberantasan Buta Aksara adalah dari APBD I (Pemerintah Provinsi) dan dari APBD II (Pemerintah Kabupaten). Pihak PKBM mengajukan proposal pada masingmasing sumber dana tersebut dalam rangka pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat. Hal ini seperti yang disampaikan bapak Jaharuddin S. Pd selaku ketua PKBM Satria galesong berikut ini :
“Dana yang kami peroleh yaitu dari APBD I, dan APBD II, dan Insya Allah tidak ada yang ditahan, sudah dicairkan semua. Besarnya macammacam, saya lupa mbak, pada intinya dana yang paling besar berasal dari APBD I.” (Wawancara 08 Agustus 2015)
Pada prakteknya dana dengan jumlah tersebut masih sangat kurang dan sangat terbatas, baik yang berkenaan dengan biaya belajar mengajar ataupun honor tutor dan penyelenggara. Namun sistem pendidikan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf adalah dengan misi kemanusiaan yaitu untuk
membantu saudarasaudara kita agar melek huruf sehingga tutor dan penyelenggara harus memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi karena dana yang tersedia sangat tidak sebanding dengan beban kerja yang didapat.
Salawati dan tutortutor lainnya mengatakan bahwa :
“Kami honornya kecil mbak akan tetapi tidak mengapa, ini demi saudara kita supaya mereka mampu membaca dan menulis, kasihan mbak kalau mereka tidak bisa membaca dan menulis, mudah dibohongi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.” (Wawancara12 Agustus 2015)
Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya dana dari pemerintah kurang mencukupi untuk pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini, akan tetapi kebesaran hati dan kerelaan para tutornya dalam berupaya mensukseskan program pemerintah dalam hal pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di kalangan masyarakat, mampu menetralisir hambatan tersebut
e. Sarana dan prasaran Warga belajar
Kegiatan pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini sudah mendapat dukungan dari Pemerintah yang berupa penyediaan sarana dan prasarana bagi warga belajar sehingga para warga belajar tidak dituntut untuk membayar sedikitpun. Sarana dan prasarana tersebut sangat standar berupa alat tulismenulis, namun sudah bisa mendukung berjalannya proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf. Seperti yang diungkapkan Bapak Jaharuddin S.Pd selaku ketua PKBM Satria Galesong berikut ini :
“Peralatan tulismenulis sudah disediakan dana dari Pemerintah mbak..sehingga warga belajar mengikuti kegiatan pembelajaran ini secara gratis dan tidak perlu membeli peralatan karena sudah menerima buku, pensil, penghapus, bolpoin. Kemudian untuk tempat pembelajaran
dapat digunakan rumah warga, sedangkan papan tulispun juga sudah ada biaya penyelenggaraannya. Sebenarnya dari Pemerintah sudah lengkap, walau baru berupa peralatan yang standar dan sederhana namun itu sudah mendukung dilaksanakannya PBA tadi karena materi pembelajarannya juga sangat sederhana.” (Wawancara 08 Agustus 2015)
Dari penuturan di atas, dapat diketahui bahwa warga belajar sudah dipenuhi dalam hal sarana dan prasarananya, dalam artian sudah tersedia sarana dan prasarana yang memadai untuk warga belajar di di kabupaten Takalar. Walaupun sarana dan prasarana masih bersifat sederhana namun sudah mampu mendukung proses pembelajaran pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf.
Seperti yang diungkapkan Bapak Jaharuddin S.Pd selaku ketua PKBM Satria Galesong berikut ini :
“Untuk alat tulismenulis memang sudah ada dana dari Pemerintah mbak..sehingga warga belajar mengikuti kegiatan pembelajaran ini secara gratis dan tidak perlu membeli peralatan karena sudah menerima buku, pensil, penghapus, bolpoin. Kemudian untuk papan tulispun juga sudah ada biaya penyelenggaraannya. Sebenarnya dari Pemerintah sudah lengkap, walau baru berupa peralatan yang standar dan sederhana namun itu sudah mendukung dilaksanakannya PBA tadi karena materi pembelajarannya juga sangat sederhana.” (Wawancara 08 Agustus 2015)
Begitu juga dengan pengakuan Masurung , sebagai salah satu warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf ini :
Tena ja na le’baki na pa’palaki doe pa’bayara untuk appilajara, kabusu anjo pakakasa ni pakai annulisi kammaya tong: bo’bo, po’tolo, siagang penghapus nasareang ki guru anggajaraki.
Artinya:
“Saya sama sekali tidak dimintai uang pembayaran untuk proses pembelajaran, semua peralatan tulismenulis seperti : buku tulis, pensil, penghapus seperti itu diberi sama guru yang mengajar.” (Wawancara 22 Agustus 2015)
Dari penuturan di atas, dapat diketahui bahwa kebutuhan warga belajar sudah dipenuhi dalam hal sarana dan prasarananya. Dalam artian sudah tersedia sarana dan prasarana yang memadai untuk warga belajar program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf di Bontomarannu. Walaupun sarana dan prasarana masih bersifat sederhana namun sudah mampu mendukung proses pembelajaran program pemberdayaan masyarakat desa yang buta huruf.
f. Hambatan selama proses pembelajaran
Dalam proses pembelajaran masih sering terjadi penundaan jadwal belajar,
Dalam proses pembelajaran masih sering terjadi penundaan jadwal belajar,