BAB III METODE PENELITIAN
A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Kabupaten Takalar yang beribu Kota di Pattallassang terletak antara 5P˚ P3’
5P˚ P38’ Lintang Selatan dan 119˚ 022’ – 119˚ 039’ Bujur Timur. Di sebelah timur secara administrasi berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Jeneponto.
Kabupaten Gowa Disebelah utara berbatasan dengan. Sedangkan di sebelah barat dan selatan dibatasi oleh Selat Makassar dan Laut Flores. Luas wilayah Kabupaten Takalar tercatat 566,51 km2 terdiri dari 9 kecamatan dan 83 wilayah desa/kelurahan. Jarak ibu Kota Kabupaten Takalar dengan ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan mencapai 45 km yang melalui Kabupaten Gowa.
Tabel 4.1.1: Luas Wilayah Kabupaten Takalar Menurut Kecamatan NO Kecamatan Luas Area (Km²) Persentase Luas Kabupaten
1 Mangarabombang 100,50 17,74
2 Mappakasunggu 45,27 7,99
3 Sanrobone 29,36 5,18
4 Polobangkeng Selatan 88,07 15,54
5 Pattalassang 25,31 4,47
6 Polobangkeng Utara 212,25 37,47
7 Galesong Selatan 24,71 4,36
42
8 Galesong 25,93 4,58
9 Galesong Utara 15,11 2,67
10 Takalar 566,51 100,00
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Takalar 2015
Tabel 4.1.2 : Jarak Dari Ibu Kota Kabupaten Ke Ibu Kota Kecamatan
NO Kecamatan Ibu Kota Kecamatan Jarak/Km
1 Mangarabombang Mangadu 7
2 Mappakasunggu Cilallang 5
3 Sanrobone Sanrobone 7
4 Polobangkeng Selatan Bulukunyi 11
5 Pattalassang Pattalassang 0
6 Polobangkeng Utara Pallekko 9
7 Galesong Selatan Bonto Kassi 15
8 Galesong Galesong Kota 19
9 Galesong Utara Bonto Lebang 25
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Takalar 2015
Kabupaten Takalar yang keadaan alam memiliki potensi yang cukup bagus untuk dikembangkan baik dari sektor agraris maupun dari sektor perikanan, sektor peternekan dan sektor perkebunan didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan tanaman beberapa komoditi yang memiliki potensi untuk dikembangan adalah padi, jagung, tebu, semangka, jambu mete, kelapa, kacang kedelai, kajang hijau, kacang tanah, singkong, dan ubi jalar dan berbagai sayursayuran.
Dari sektor peternakan dapat dikembangkan seperti sapi, kerbau, kambing, ternak kuda, ayam buras, itik dan ayam ras.
Wilayah pesisir Kabupaten Takalar merupakan kawasan pantai dan pulau dengan potensi perikanan yang cukup besar. Dengan panjang pantai kurang lebih 28 km, potensi untuk pengembangan ikan tangkap, budi daya laut dan perairan umum sangan menjanjikan. Untuk perikanan tangkap sendiri, tingkat pemanfaatan baru mencapai 23.290,5 ton/tahun. Beberapa hasil tangkapan berupa ikan dengan nilai ekonomis tinggi seperti ikan terbang, ikan merah, cakalang, tuna dan tongkol. Untuk budi daya tambak, komoditi yang dapat dikembangkan antara lain udang windu, rumput laut dan ikan bandeng.
Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, memungkinkan munculnya industriindustri kecil dan industri rumah tangga. Beberapa industri yang sedang dikembangkan adalah industri makanan, industri minuman, industri kerajinan bambu, industri kerajinan lontara, serta industri kerajinan tangan lainnya.
Tabel 4.1.3 : Statistik daerah Kabupaten Takalar Tahun 2015
NO Kecamatan Penduduk
Luas
Wilayah Kepadatan
Rumah Tangga
1. Mangarabombang 37.428 100,50 372 9017
2. Mappakasunggu 15.444 45,27 341 3612
3. Sanrobone 13.543 29,36 461 3.089
4. Polobangkeng Selatan 27.293 88,07 310 7.172
5. Pattalassang 35.428 25,31 1.400 8.593
6. Polobangkeng Utara 46.748 212,25 220 11.958 7. Galesong Selatan 24.334 24,71 985 5.706
8. Galesong 38.125 25,93 1.470 9.041
9. Galesong Utara 36.691 15,11 2.428 8.460
Jumlah 275.034 566,51 485 66.648
Sumber : BPS Kabupaten Takalar 2015
Statistik Daerah Kabupaten Takalar Tahun 2015 pada penduduk usia 10 tahun ke atas yang tidak dapat membaca dan menulis sekitar 9,61 persen, lakilaki sekitar 8,05 persen dan perempuan sekitar 10,79 persen. Tingkat pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu ukuran kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan, semakin baik kualitas sumber daya manusianya. Sehingga potensi sumber daya manusia di suatu wilayah dapat dilihat dari jenjang pendidikan yang ditamatkan.
Tabel 4.1.4 : Indikator Pendidikan Kabupaten Takalar menurut jenjang Pendidikan
NO Indikator Ratarata
1. Angka Melek Huruf 83,10
2. Rata Lama Sekolah 6,99
3. Rasio Murid
SD sederajat
SLTP sederajat
SLTA/SMA
447 302 490
4. Rasio MuridGuru
SD sederajat
SLTP sederajat
SLTA/SMA
35 28 15
Sumber : Dinas Pendidikan dan Kementrian Agama
2. Letak Geografis Kecamatan Galesong Selatan
Kawasan Galesong Selatan, membentang dari wilayah Desa Aeng BatuBatu yang bersebelahan dengan Kelurahan Barombong, Kota Makassar hingga wilayah Desa Bontomarannu di pesisir selatan. Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Galesong. Ditimur berbatasan dengan kabupaten Gowa. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sanrobone dan Kabupaten Gowa. Dan sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar. Jika hendak menuju pusat daerah Galesong dari Makassar dapat ditempuh dari daerah Limbung, dari jalan raya MakassarTakalar 25 kilometer ke Barat. Atau dari kota Makassar melewati Barombong dan melewati jembatan di atas sungai Je’neberang yang terletak di Kabupaten Takalar dengan batasbatas Kecamatan Galesong.
Kecamatan Galesong Selatan adalah salahsatu dari 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Takalar dengan luas wilayah 24,71 Km2 dengan jumlah penduduk 24.334 jiwa, yang terdiri dari 12 desa yaitu: Mangindara, Bontomarannu, Barammamase, Bonto Kassi, Sawakong, Bentang, Bonto Kanang, Popo, Taroang, Kadatong, Kale Bentang, dan Kaluku Bodo. Terdiri dari 48 dusunserta 136 RK dan 136 RT.
Tabel 4.2.1 : Luas Desa di Kecamatan Galesong Selatan dan Jarak ke Ibukota Kecamatan dan Kabupaten Tahun 2015
NO Desa
Sumber : Berdasarkan SK mendagri dan SK Pemekaran dari Pemda
Penduduk kecamatan Galesong Selatan pada umunya bermata pencaharian di bidang pertanian dan perikanan serta industri kerajinan. Produksi utama di bidang pertanian adalah padi, dan jagung dan di bidang perikanan adalah penangkapan ikan, pengelolaan kepiting, serta Tambak, pengelolaan telur ikan
terbang. Sedangkan dibidang industri kerajian produksinya seperti songko guru, tikar, bakul, dan lain sebagainya.
Tabel: 4.2.2 Banyaknya penduduk, rumah tangga dan kepadatan penduduk di tiap desa di kecamatan Galesong Selatan.
Sumber:Registrasi penduduk tahun 2015
Catatan : Desa Kaluku Bodo masih bergabung Desa BT Marannu
3. Letak Geografis Desa Bontomarannu
Desa Bontomarannu sebagai wilayah penelitian, merupakan salah satu desa pesisir yang ada di Kecamatan Galesong Selatan. Luas desa 3,95 Km² Letaknya
NO Desa Penduduk Rumah Tangga Kepadatan
1. Mangindara 2.373 512 2.26
2. Bontomarannu 3.416 762 8,64
3. Barammamase 2.005 497 895
4. Bonto Kassi 1847 396 645
5. Sawakong 3.049 754 858
6. Bentang 1.116 227 814
7. Bonto Kanang 4.020 990 1,161
8. Popo 2265 542 1,034
9. Tarowang 1.931 495 1,109
10. Kadatong 1.151 274 1,096
11. Kale Bentang 1.161 161 257
12. Kaluku Bodo
jarak ke kecamatan 3,2 Km dan Jarak ke Kabupaten 19 Km dari wilayah ibu Kota Kabupaten Takalar.
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Popo. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Barammamase, Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kaluku Bodo. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar. Secara geografis, kabupaten Takalar memiliki sembilang kecamatan potensi unggulan untuk di jadikan sebagai sumber penghidupan masyarakatnya.
1) Iklim
Keadaan iklim di kabupaten Takalar sama halnya dengan daerah lain di Sulawesi selatan khususnya di Kecamatan Galesong Selatan dikenal ada dua musim, musim kemarau dan musim hujan. Biasanya musim kemarau mulai pada bulan juni sampai September sedangkan musim hujan mulai bulan Desember hingga bulan Maret. Keadaan seperti itu berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan yaitu pada bulan april sampai mei dan Oktober sampai November.
Curah hujan di berbagai tempat di Kabupaten Takalar umumnya tidak merata kearena pngaruh oleh keadaan iklim, keadaan pada bulan Desember yang mencapai ratarata 676 mm, sedangkan curah hujan terendah pada bulan Juli sampai September yang biasa dikatakan hampir tidak ada hujan.
2) Keadaan Penduduk
Kecamatan Galesong Selatan terdiri dari 12 desa. Desa Bontomarannu, merupakan wilayah dataran rendah. Desa Bontomarannu merupakan desa mandiri
karena dulunya merupakan gabungan dari Desa Popo, Kaluku Bodo, dan Barammamase.
Keadaan Monografi atau data dinamis kependudukan desa Bontomarannu, sesuai dengan data terakhir yang dicatat kantor Desa Bontomarannu 3.416 jiwa, Kepala Keluarga 549 KK. Penduduk Desa Bontomarannu, Kecamatan Takalar pada umunya bermata pencaharian dibidang peternakan, pertanian dan perkebunan dan perikanan dengan produksi utama di bidang peternakan adalah sapi, kambing dan unggas, di bidang pertanian adalah padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kajang hijau, serta dibidang perkebunan adalah tebu, ubi Jalar singkong, dan di bidang perikanan seperti ikan terbang, ikan bandeng, udang dan kepiting.
Jika kita lihat sektor perumahan dan fasilitas kesehatan dikecamatan Galesong Selatan pada umumnya terdapat 5.706 bangunan tempat tinggal pada tahun 2015. Dari jumlah bangunan tempat tinggal 4.134 panggung, 1.886 rumah semi permanen dan 2.049 rumah permanen.
Fasilitas kesehatan di Kecamatan ini terdiri dari 2 unit puskesmas, postu 5 unit, dan pokesdes 3 unit serta 40 unit posyandu. Untuk memenuhi kebutuhan akan perawatan kesehatan bagi masyarakat Kecamatan Sinjai Barat maka pemerintah mengalokasikan 2 dokter umum, 2 dokter gigi, 32 orang perawat kesehatan, 14 bidan yang masingmasing tersebar hampir diseluruh desa/kelurahan di kecamatan Galesong Selatan termasuk Desa Bontomarannu.
Selain itu kecamatan Galesong Selatan sudah mulai dipengaruhi oleh arus modernisasi termasuk juga desa Bontomarannu merupakan desa swakarsa yang
sudah mulai menggunakan teknologi. Petani yang dulu menggarap sawah dengan menggunakan sapi atau kerbau sekarang sudah memakai traktor dan berbagai alat pertanian lainnya. Dalam aktivitas masyarakat sudah serba instan semua serba mesin yang mempermudah pekerjaan masyarakat.
Secara keseluruhan, luas daerah desa Bontomarannu adalah sebesar 3,95 Ha. Luas tersebut meliputi 4 dusun di dalamnya, yaitu dusun Balang, dusun Talisea, dusun Barua dan dusun Mandi. Bahasa seharihari penduduk desa Bontomarannu adalah Bahasa Makassar.
3) Bidang Pendidikan
Desa Bontomarannu berada pada daerah daratan rendah yang merupakan kawasan desa swakarsa. Masyarakat Bontomarannu telah menikmati pendidikan gratis yang telah dicanangkan pemerintah Kabupaten Takalar, peningkatan mutu pendidikan yang menjadi pilar pembangunan kabupaten Takalar telah terlaksana dan telah dirasakan Masyarakat Desa Bontomarannu. Hingga saat ini, perkembangan dunia pendidikan di Desa Bontomarannu kecamatan Takalar selama 5 tahun terakhir (20102015) telah mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan fasilitas pendidikan seperti pembangunan dan perbaikan sekolah, penambahan kualitas dan kuantitas guru yang mengajar serta fasilitas pendukung pendidikan lainnya (bukubuku, alat peraga, dan lainlain) ini dapat dilihat adanya lima bangunan sekolah di dalamnya yang terdiri atas 5 PAUD, 4 sekolah dasar, dan 1 SMP. Tetapi ternya masih banyak juga masyarakat desa bontomarannu yang mengalami buta huruf berjumlah 11 lakilaki dan 59
perempuan dan total secara keseluruhan adalah 70 orang yang mengalami buta huruf
4) Stratifikasi Sosial dan Adat
Sejak dahulu, Bontomarannu dikenal dengan stratifikasi sosial atau pelapisan dalam masyarakatnya. Hal tersebut dianggap sebagai hal yang penting dalam menilai latar belakang kehidupan, watak dan sifatsifat yang mendasar pada masyarakat. Di desa ini terdapat tiga lapisan masyarakat yang berbeda secara adat, yaitu lapisan karaeng, lapisan te’ta dan lapisan bawah. Strata ini ada sejak dulu
Pada lapisan sosial tersebut strata sosial yang paling tinggi adalah lapisan karaeng, karena strata sosial tersebut diakui oleh masyarakat sebagai orang bangsawan seperti yang bergelar pemerintah atau raja pada saat itu yang sangat dihargai, dihormati dan ditakuti oleh masyarakatnya.
Pada lapisan kedua yaitu lapisan te’ta. Pada lapisan te’ta masih ada hubungan darah bangsawan, bahkan ada yang mengatakan bahwa te’ta merupakan saudara sepupu dari karaeng. Pada lapisan terakhir yaitu lapisan bawah yang menurut sejarah pada masyarakat adalah masyarakat biasa.
5) Agama dan Kepercayaan
Menurut data statistik pemerintah Desa Bontomarannu menunjukkan bahwa mayoritas (100%) penduduknya beragama Islam. Kesadaran masyarakat yang kuat akan pentingnya shalat lima waktu, sifat relegius itu terlihat dari keseharian masyarakat ketika waktu shalat tiba mereka terlihat antusias melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam terutama masyarakat yang berdomisili di sekitar mesjid yang datang dengan berjalan kaki. Namun ada juga
yang shalat di mesjid yang jauh dari rumahnya datang dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Selain itu juga masyarakat sering melakukan pengajian setiap malam jumat yaitu setelah selesai sholat magrib sampai waktu sholat isyah dimulai yang didominasi oleh bapakbapak dan ibuibu yang sudah naik haji walaupun ada sebagian remaja yang ikut serta dalam pengajian tersebut.
Namun pada hari Jumat masyarakat Bontomarannu tidak pernah meninggalkan sholat jumat walupun tugas atau pekerjaan yang sementara mereka kerjakan itu ada, masyarakat yang bekerja sebagai petani, dan peternak pada pukul 11 mereka sudah ada dirumah masingmasing. Jadi sebelum adzan berkumandang mereka sudah di mesjid menunggu shalat jumat tiba. Mesjid yang biasanya dua sampai tiga baris sekarang hampir penuh dengan jamaah Jumat.dari anakanak sampai orang tua hadir di mesjid.
Namun di sisi lain masih ada sebagian masyarakat desa Bontomarannu yang masih percaya terhadap halhal gaib atau animisme dan dinamisme. Itu bisa dilihat ketika ada masyarakat yang melakukan ritual atau memberi sesembahan ketika sudah melakukan pesta atau selamatan. Pergi makanmakan di air panas pulau sanrobengi, boe. Atau membawa makanan turun ke sungai, melepaskan kambing di hutan tergantung hajatnya. Hal ini dilakukan secara turun temurung oleh masyarakat desa Bontomarannu yang masih kental terhadap halhal gaib dan tidak bisa ditinggalkan karena sudah menjadi tradisi masyarakat.
Dalam kenyataannya dewasa ini, kepercayaan animisme dan dinamisme dalam implikasi pelaksanaannya sudah berkurang, bahkan sudah hampir tidak tampak. Hal ini disebabkan karena dakwah islamiah yang dilancarkan oleh para
ulama, utadz dan para da’i, sangat berperan besar mengikis dan melunturkan kepercayaan yang bisa membawa orang kepada ke syirikan atau pada kegiatan yang membawa seseorang menjadi musyrik yakni menyerikatkan Allah