• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

Adapun penelitian mengenai konsep diri ini mengacu pada hasil penelitian dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif, serta metode pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi kepustakaan.

Oleh karena itu, dalam bagian pembahasan ini akan diuraikan secara rinci agar dapat menjawab tujuan penelitian ini, yakni konsep diri mahasiswa penyandang disabilitas di Kota Medan, termasuk hambatan yang dialami serta cara mereka mengatasi hambatan tersebut.

Dalam upaya mencari informan bagi penelitian ini, ada lima (5) informan yang diantaranya tiga orang mahasiswa Universitas Sumatera Utara, satu orang mahasiswa Universitas Katolik, dan satu orang mahasiswa Universitas Prima

Indonesia. Kelima informan telah memenuhi kriteria mahasiswa Kota Medan dan merupakan penyandang disabilitas (netra).

Konsep diri adalah pemahaman seseorang tentang dirinya sendiri, yang dibentuk melalui pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan. Konsep diri individu juga bukan bawaan dari lahir tetapi timbul akibat adanya pengalaman, persepsi dan hasil belajar yang dialami oleh setiap individu. Konsep diri bukan sekadar gambaran deskriptif saja, tetapi juga penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itu, konsep diri meliputi apa yang seseorang pikirkan dan rasakan terhadap dirinya (Rakhmat, 2005: 100)

Mengacu pada pandangan yang diutarakan oleh D.E Hamachek (Rakhmat, 2005: 106) terdapat beberapa ciri-ciri seseorang yang memiliki konsep diri positif, dan akan peneliti uraikan sebagai berikut:

a. Tidak menghabiskan waktu untuk mencemaskan hari esok, masa lalu, dan saat ini.

Menghabiskan waktu seperti mencemaskan hal yang belum terjadi adalah hal yang tidak terlalu perlu. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar orang kerap melakukannya. Seperti informan pertama yang sering mencemaskan hal yang belum terjadi karena menurutnya ia adalah pribadi yang rasional; selalu mempertimbangkan segala sesuatunya, dan bahkan tindakannya ini akan membuat dirinya takut melakukan hal itu atau tidak melakukannya sama sekali. Informan kedua pun demikian, ia sering khawatir akan sulit mendapatkan pekerjaan karena terbatasnya lapangan pekerjaan bagi disabilitas. Informan ketiga sering mencemaskan sesuatu karena takut ucapannya menyinggung orang lain, takut salah menjawab, hingga takut tidak diterima oleh orang lain. Begitu halnya dengan informan keempat, sering mencemaskan sesuatu karena ia pribadi yang mudah cemas, kecemasannya terhadap skripsi cukup tinggi mengingat terbatasnya ruang gerak tuna netra dalam mencari sumber referensi nantinya. Tetapi berbeda dengan informan kelima, hanya ia yang tidak sering mencemaskan sesuatu hal yang belum terjadi.

b. Merasa sama dengan orang lain

Tidak dapat dielakkan bahwa keterbatasan diri yang dimiliki oleh para penyandang disabilitas terkadang membuat beberapa orang lain berpikir tidak mungkin mereka mampu menjalani hal yang umumnya dilakukan oleh orang biasa. Misalnya, melakukan aktivitas rumah, meraih prestasi, hingga menempuh pendidikan tinggi. Tetapi anggapan seperti itu dapat ditepis karena kelima informan seluruhnya mampu melakukan demikian.

Informan pertama membuktikan bahwa sejak SMP dirinya meraih prestasi gemilang. Ia adalah perwakilan sekolah dalam mengikuti lomba cerdas cermat undang-undang ataupun olimpiade yang diadakan di berbagai kota, dan saat ini ia sedang menjalani studi S2 hukum di Universitas Sumatera Utara. Dalam kesehariannya ia mampu mengerjakan pekerjaan rumah, mengoperasikan aplikasi belajar ataupun ojek online melalui handphone dengan baik. Tidak jauh berbeda dengan informan kedua yang sama-sama mengukir prestasi sejak ia duduk di bangku sekolah dulu hingga saat ini ia menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa studi S1 etnomusikologi di Universitas Sumatera Utara. Di asrama, ia mampu melakukan pekerjaan rumah, menggunakan handphone, dan berpergian menggunakan angkutan umum. Informan ketiga yang tertarik dalam mengarang juga telah mencetak prestasi pada bidang itu sejak duduk di bangku sekolah, dan saat ini ia sedang menempuh studi S1 pendidikan bahasa inggris di Universitas Katolik. Dalam kesehariannya ia mampu mengerjakan pekerjaan rumah, mengoperasikan handphone, dan berpergian dengan angkutan umum.

Begitu halnya dengan informan keempat yang juga kerap meraih prestasi dalam ajang kontes menyanyi, hingga saat ini ia berstatus sebagai mahasiswa studi S1 pendidikan bahasa inggris di Universitas Prima Indonesia. Di asrama, ia mampu melakukan aktivitas rumahan, mengoperasikan gadget, hingga berpergian menggunakan angkutan umum.

Informan kelima berprestasi dalam bidang musik, yang kemudian membuat dirinya memilih untuk mengambil studi S1 etnomusikologi di Universitas Sumatera Utara. Sama seperti informan sebelumnya, ia mampu melakukan hal-hal demikian.

c. Menerima dirinya sendiri sebagai orang bernilai tinggi

Pada poin ini peneliti menemukan kecocokan jawaban pada kelima informan, yaitu mereka masing-masing telah menerima dirinya dengan keterbatasan yang mereka miliki, percaya pada dirinya, meyakini bahwa dirinya berharga, menyadari potensi yang ada dalam diri dan berupaya mengembangkan serta menggunakan potensi tersebut dengan baik.

d. Peka akan kebutuhan orang lain

Peka terhadap kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang lebih diterima, dan terutama sekali pada gagasan tidak akan bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain. Dalam poin ini, informan pertama, kedua, dan kelima memiliki jawaban yang serasi, dimana mereka tidak hanya menerima bantuan saja melainkan turut mengusahakan untuk memberi bantuan, solusi, dan lainnya kepada orang lain agar hubungan pertemanan tidak timpang sebelah (feedback). Sementara itu, informan ketiga dan keempat peka dengan melibatkan kebiasaan sosial seperti memilih untuk mengalah agar terhindar dari pertengkaran dan berpikir bahwa banyak orang lain yang memikul beban penderitaan lebih berat daripada dirinya.

e. Menerima pujian tanpa melibatkan keraguan

Pada bagian ini seseorang dapat dikatakan memiliki konsep diri positif apabila mampu menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati atau bisa dikatakan melibatkan perasaan ragu. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, informan pertama dan kedua memiliki jawaban serupa, dimana mereka percaya bahwa pujian dari seseorang tersebut tulus, meskipun begitu sejatinya informan pertama tidak suka dipuji karena takut menjadi terlena, dan informan kedua lebih mengistimewakan pujian dari orang yang ahli dalam bidang tersebut. Disisi lain, informan keempat dan kelima memiliki kesamaan jawaban, yakni mereka terkadang percaya pujian tersebut tulus, dan mereka tidak mudah mempercayai pujian tersebut karena harus melihat dari segi siapakah yang melontarkan pujian dan bagaimanakah nada suara orang tersebut saat memuji, maka dapat

dipertimbangkan akan percaya atau tidak. Berbeda dengan informan ketiga, ia sama sekali tidak percaya bahwa pujian yang diberikan itu tulus, menurutnya pujian tersebut dilontarkan hanya untuk menyenangkan hatinya saja. Ia lebih menyukai dikritik yang membangun.

f. Memiliki nilai dan prinsip yang kuat

Memiliki nilai dan prinsip yang kuat dalam hal ini peneliti kaitkan dengan respon informan terhadap sebuah penolakan dan kegagalan saat mengerjakan sesuatu. Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh bahwa saat mengalami penolakan dari orang lain, informan pertama akan bersikap pesimis, sementara informan kedua, ketiga, keempat, dan kelima memiliki jawaban serupa, yakni lebih memilih untuk bersikap tegar saat ditolak oleh orang lain. Dari segi respon terhadap kegagalan saat mengerjakan sesuatu, informan pertama, kedua, dan keempat memiliki jawaban yang cocok yakni tidak putus asa melainkan berusaha menganalisis kesalahan yang terjadi sehingga kedepannya dapat lebih baik. Berbeda dengan informan ketiga dan kelima yang akan merasa putus asa saat kegagalan menghampiri mereka.

Sebaliknya, menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (Rakhmat, 2005: 105) konsep diri seseorang yang negatif dapat dilihat dari lima ciri-ciri berikut:

a. Tidak menerima kritikan, bersikeras mempertahankan pendapat

Dalam poin ini peneliti ingin melihat dari bagaimana respon informan jika pendapatnya tidak diterima saat berada dalam sebuah forum diskusi. Hasil yang diperoleh adalah informan pertama akan memaksakan pendapatnya lewat bertanya secara terus menerus mengapa pendapatnya tidak diterima.

Sementara itu, informan kedua, ketiga, keempat, dan kelima memiliki kesamaan jawaban yakni mereka tidak masalah jika pendapatnya tidak diterima karena dalam sebuah diskusi lazim ada pendapat yang diterima maupun tidak.

b. Responsif terhadap pujian

Responsif terhadap pujian yang dimaksud adalah seseorang yang mungkin berpura-pura menghindari pujian, tetapi ia tetap tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Dalam hal ini, peneliti tidak menemukan adanya jawaban dari seluruh informan yang responsif terhadap pujian.

c. Hiperkritis

Hiperkritis merupakan sikap seseorang berupa mengeluh, mencela, atau meremehkan apapun atau siapapun. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, peneliti menemukan bahwa informan kedua medapatkan rasa bangga akan dirinya sendiri melalui perbandingan antara dirinya dengan orang lain. Ia menganggap bahwa jika dibandingkan oleh tuna netra lainnya yang tidak dapat bersekolah, ia justru merasa bangga bahwa dirinya bisa menempuh pendidikan. Selebihnya, peneliti tidak menemukan adanya jawaban seperti itu pada informan lain.

d. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain

Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain sehingga bereaksi menganggap orang lain itu musuh. Ia tidak akan pernah mempermasalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti tidak menemukan jawaban yang sama antara kelima informan mengenai hal ini, karena meskipun para informan merupakan penyandang disabilitas, mereka tidak menjadi korban dari sistem sosial yang tidak beres.

e. Bersikap pesimis terhadap kompetensi

Dalam kompetensi tak dapat dipungkiri muncul rasa pesimis bagi sebagian orang. Tetapi berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti tidak menemukan adanya indikasi jawaban dari kelima informan yang menunjukkan rasa pesimis saat dalam kompetensi. Sebaliknya, kelima

informan memilih untuk fokus terhadap diri sendiri agar dapat melakukan yang terbaik.

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kelima informan memiliki konsep diri dominan positif, meskipun ada negatif dalam masing-masing analisis individu, tetapi tetap dominan positif.

Selain itu, dari segi hambatan yang dihadapi oleh masing-masing informan yang merupakan penyandang disabilitas (netra), dari wawancara yang telah dilakukan dapat diperoleh bahwasannya kelima informan sama-sama mengalami hambatan dalam pendidikan, seperti pengerjaan tugas atau skripsi yang membutuhkan penglihatan (meng-edit, membuat gambar, skema) serta penyajian tugas dalam format pdf-image. Dalam berjalan (fasilitas umum) juga mereka mengalami kendala apabila suasana dijalan terlalu ramai karena menyulitkan mereka dalam berjalan, dan kurangnya kapasitas tongkat tuna netra dalam meraba jalan yang memiliki akses buruk (berlubang-lubang, dsb), serta dari segi penggunaan ojek online atau angkutan umum, mereka mengalami kendala berupa cara pembayaran ojek online yang dirasa menyita waktu, sulitnya menemukan nomor angkutan umum/kota yang diinginkan, supir angkot menurunkan mereka tidak sesuai titik yang diinginkan atau terlewat. Selain itu, tiga dari lima informan merasa adanya hambatan saat komunikasi, yakni jika lawan bicaranya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang penyandang disabilitas netra mampu menggunakan alat komunikasi (handphone) sehingga berakibat pada pengabaian pesan, sulit mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicara jika berhubungan dengan penglihatan, serta timbul perasaan takut mengalami penolakan dari orang lain.

Meskipun begitu, hambatan-hambatan diatas dapat mereka atasi sebisa mungkin. Misalnya, dalam pendidikan, pengerjaan tugas atau skripsi yang membutuhkan penglihatan (seperti meng-edit, membuat gambar, skema) biasanya mereka meminta bantuan dari teman sejawat, persoalan penyajian tugas dalam format pdf-image oleh dosen dapat mereka atasi dengan meminta dosen untuk mengirimkan kembali dalam bentuk format dokumen agar dapat dibaca oleh screen reader handphone atau laptop. Dalam berjalan (fasilitas umum), jika

suasana ramai dan kapasitas tongkat tuna netra yang kurang dalam meraba akses jalan tersebut dapat mereka atasi dengan menghubungi teman agar berjalan bersama-sama sehingga memudahkan mereka. Hambatan dalam penggunaan ojek online atau angkutan umum/kota seperti cara pembayaran tersebut diatasi dengan menyiapkan uang lebih, meminta bantuan kepada orang sekitar untuk mencari nomor angkot yang diinginkan, serta menghubungi teman apabila mereka turun dari angkot di titik yang berbeda agar dijemput. Dan yang terakhir, hambatan dalam berkomunikasi dapat mereka atasi dengan menjelaskan kembali bahwa penyandang disabilitas tuna netra mampu menggunakan handphone dalam kegiatan sehari-hari, meminta orang tersebut lebih detail dalam menjelaskan apa yang sedang dibicarakan, serta tetap mengupayakan diri untuk berbicara dengan orang lain (dalam hal ini meminta bantuan) agar tujuannya bisa tercapai.

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif yang mendeskripsikan mengenai Konsep Diri Mahasiswa Penyandang Disabilitas di Kota Medan, dan hambatan yang mereka alami serta bagaimana cara mereka mengatasi hambatan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari kelima informan dapat disimpulkan bahwa konsep diri mereka adalah dominan positif, meskipun pada tiap-tiap individu masih terdapat komponen negatif, tetapi tetap hasil yang didapatkan adalah dominan positif. Jika diurutkan dari konsep diri individu paling positif hinga negatif, maka informan empat menempati posisi teratas, disusul oleh informan lima, informan dua, informan satu, dan yang terakhir adalah informan tiga. Dari wawancara yang telah dilakukan, seluruh informan menyatakan bahwa konsep diri mereka saat ini sudah lebih baik dari yang dulu, karena didukung oleh beberapa faktor seperti keluarga, lingkungan perkuliahan, pertemanan, yang kemudian mengubah pola pikir mereka menjadi baik. Tetapi tidak dapat dipungkiri pula faktor internal yang berasal dari dalam diri juga turut mendukung membaiknya konsep diri masing-masing individu.

2. Keterbatasan penglihatan yang dimiliki oleh kelima informan membuat mereka mengalami hambatan dalam pendidikan, berjalan (fasilitas umum), dan menggunakan ojek online atau angkutan umum/kota (angkot).

3. Hambatan yang sekiranya tidak dapat diatasi dengan diri sendiri, maka akan dilakukan dengan meminta pertolongan orang lain untuk memudahkan mereka. Misalnya, menghubungi teman agar jalan bersama-sama, meminta tolong kepada orang disekitar agar

mencari angkot yang mereka inginkan, dan menghubungi teman untuk menjemput jika sekiranya mereka turun di titik yang tidak seharusnya.

5.2 Saran

Dari hasil penelitian yang telah diuraikan, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Saran kepada mahasiswa penyandang disabilitas netra

a. Hambatan yang ada sekiranya tidak menjadi alasan untuk patah semangat dan berhenti melanjutkan hidup. Tetaplah kuat dan bersinar, karena mungkin orang lain akan terinspirasi oleh energi positif yang kamu pancarkan.

b. Keterbatasan dalam melihat hendaknya tidak menjadi alasan untuk merasa takut tidak mendapatkan tempat di lingkungan pekerjaan nantinya. Tingkatkan kemampuan diri dan buktikan kepada dirimu sendiri dan orang lain bahwa dirimu mampu dan layak mendapatkannya.

2. Saran kepada peneliti selanjutnya

a. Peneliti selanjutnya disarankan lebih mendalami referensi- referensi terkait untuk memperkaya referensi-referensi yang telah ada.

b. Diharapkan peneliti selanjutnya menggunakan hasil penelitian ini sebagai rujukan jika melakukan penelitian lanjutan, dan menggunakan wawancara lebih mendalam, memperluas ruang lingkup subjek penelitian seperti penyandang disabilitas lainnya yang telah bekerja, dan sebagainya.

DAFTAR REFERENSI

Agustin, Hendriati. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Refika Aditama.

Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Liliweri, Alo. 2015. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: Penerbit Citra Aditya Bakti.

Mulyana, Deddy. 2015. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Panuju, Redi. 2018. Pengantar Studi (Ilmu) Komunikasi: Komunikasi Sebagai Kegiatan, Komunikasi Sebagai Ilmu. Jakarta: Penerbit Prenadamedia Group.

Pujileksono, Sugeng. 2015. Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif. Malang:

Intrans Publishing.

Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Vardiansyah, Dani. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bogor: PT. Ghalia Indonesia.

West, Richard & Turner. 2013. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Yuliana, Margaretha & Utami. 2018. Komunikasi Antar Individu. Yogyakarta:

Suluh Media.

Jurnal:

Aufirandra, Firsty, dkk. 2017. Komunikasi Mempengaruhi Tingkah Laku Individu.

Jurnal Penelitian Guru Indonesia, Vol.2, No.2.

Diamastuti, Erlina. 2015. Paradigma Ilmu Pengetahuan Sebuah Telaah Kritis.

Jurnal Akuntansi Universitas Jember. Jember: Fakultas Ekonomi, Universitas Jember.

Miftah, M. 2008. Srategi Komunikasi Efektif Dalam Pembelajaran. Jurnal Teknodik, Vol.XII, No.2. Semarang: Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan.

Dokumen terkait