(Studi Kualitatif Pendekatan Deskriptif Mengenai Konsep Diri Mahasiswa Penyandang Disabilitas di Kota Medan)
SKRIPSI
RISKA ROSALINDA SIMANJUNTAK 170904073
Public Relations
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI MEDAN
2021
(Studi Kualitatif Pendekatan Deskriptif Mengenai Konsep Diri Mahasiswa Penyandang Disabilitas di Kota Medan)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara
RISKA ROSALINDA SIMANJUNTAK 170904073
Public Relations
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat kasih karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Adapun penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata 1 (S1) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Judul penelitian ini adalah “Konsep Diri Mahasiswa Penyandang Disabilitas di Kota Medan”.
Peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik meskipun telah mengalami banyak rintangan. Peneliti mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga peneliti dapat melewati rintangan selama penulisan skripsi ini. Setiap proses dapat peneliti lalui berkat doa, kasih sayang, motivasi, dukungan semangat dari kedua orang tua peneliti. Maka dalam kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua peneliti, Bapak Ridwan Simanjuntak dan Ibu Rumanti Sitinjak yang telah memenuhi kebutuhan baik materiil maupun moril kepada peneliti selama menempuh pendidikan di bangku perkuliahan ini, serta selalu bersedia mendengarkan keluh kesah peneliti. Peneliti juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada adik tersayang, Ibran Jedi, atas penghiburan yang telah diberikan kepada peneliti selama masa perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini.
Tak lupa pula, peneliti menghaturkan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D selaku Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos., M.A selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dr. Nurbani, M.Si selaku dosen pembimbing yang selalu dengan sabar memberikan nasihat dan ilmu yang sangat berharga, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
5. Bapak Drs. Abdi Sitepu MSP selaku dosen penasihat akademik peneliti yang sudah membimbing peneliti dalam menjalani masa perkuliahan.
6. Seluruh dosen dan staf pengajar Prodi Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu hingga membuka mata dan wawasan peneliti terhadap berbagai macam sudut pandang baru.
7. Staf Prodi Ilmu Komunikasi, Kak Maya dan Kak Yanti yang dengan ramah dan sabar membantu peneliti dalam setiap proses permasalahan dan urusan perkuliahan.
8. Seluruh informan yang dengan sukarela membantu peneliti dengan menjadi informan dalam penelitian ini.
9. Para sahabat yang peneliti sayangi, Natasia Fergina, Johns Immanuel, Danu Winata, Thariq Umaeda, Josua Victor Butar-Butar, terima kasih telah hadir dalam keadaan senang dan susah, mendukung peneliti dari awal hingga akhir perkuliahan, serta memberikan semangat dan penghiburan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Teman-teman kuliah peneliti, Akbar Gading, Meilani Claudia, Dasmida, Hesmitha, dan teman-teman Ilmu Komunikasi 2017 yang tidak dapat peneliti sebutkan namanya satu per satu. Terima kasih telah berada di dekat peneliti dan hadir mewarnai masa perkuliahan peneliti.
11. Teman sepetualangan (DEKKE), yakni Josua Victor, Thariq Umaeda, Danu Winata, Johns Immanuel, Abraham Geraldo, dan Christian Yosua. Terima kasih untuk setiap momen petualangan yang kita lalui, olehnya peneliti mendapat pengalaman baru selama kuliah.
12. Kepada sahabat seperjuangan dari SMA hingga saat ini; Rekha, Dian, Silvina, dan Doni yang sama-sama berjuang untuk masa depan.
13. Pihak yang membuat TikTok, Instagram, dan Shopee yang telah menciptakan hiburan menyenangkan yang memberikan penghiburan kepada peneliti selama penyelesaian skripsi ini.
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Konsep Diri Mahasiswa Penyandang Disabilitas di Kota Medan. Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui konsep diri mahasiswa penyandang disabilitas di Kota Medan, untuk mengetahui hambatan yang dialami oleh mahasiswa penyandang disabilitas di Kota Medan, dan untuk mengetahui cara mahasiswa penyandang disabilitas mengatasi hambatan tersebut. Landasan teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini antara lain; Komunikasi, Komunikasi Antarpribadi, Disonansi Kognitif, Konsep Diri, dan Penyandang Disabilitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian deskriptif. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi yang melibatkan lima informan yang merupakan mahasiswa penyandang disabilitas (netra) di Kota Medan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri kelima informan adalah cenderung positif. Disamping itu, hambatan yang mereka hadapi berupa dalam berjalan (fasilitas umum), pendidikan, serta menggunakan ojek online atau angkutan umum. Seluruh hambatan yang dialami dapat diatasi dengan cara yang terlampir dalam penelitian ini.
Kata Kunci: Konsep Diri, Mahasiswa Penyandang Disabilitas, Hambatan
ABSTRACT
This research is entitled Self Concept of Students with Disabilities in Medan City.
The purposes are to find out the self-concept of students with disabilities in Medan City, to find out the obstacles experienced by students with disabilities in Medan City, also to find out how students with disabilities overcome these obstacles. The theoretical foundations that are considered relevant to this research include; Communication, Interpersonal Communication, Cognitive Dissonance, Self-Concept, and Persons with Disabilities. This research is a qualitative research using descriptive research methods. Researchers used in- depth interviews and observation techniques involving five informants who were students with disabilities (blind) in Medan City. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, conclusion drawing, and verification. The results showed that the self-concept of the five informants tended to be positive. In addition, the obstacles they face in the form of walking (public facilities), education, and using online motorcycle taxis or public transportation. All the obstacles experienced can be overcome in the way attached in this study.
Keywords: Self-concept, Students with disabilities, Obstacles
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv
KATA PENGANTAR ... v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii
ABSTRAK ...ix
ABSTRACT ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah ... 1
1.2 Fokus Masalah... 10
1.3 Tujuan Penelitian ... 11
1.4 Manfaat Penelitian ... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian ... 12
2.1.1 Kajian Penelitian Terdahulu ... 13
2.2 Kerangka Teori ... 15
2.2.1 Komunikasi ... 15
2.2.2 Komunikasi Antarpribadi ... 18
2.2.2.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi ... 18
2.2.2.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi ... 19
2.2.2.3 Fungsi Komunikasi Antarpribadi ... 21
2.2.2.4 Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan Komunikasi ... 21
2.2.2.5 Efektivitas Komunikasi Antarpribadi ... 22
2.2.3 Disonansi Kognitif ... 23
2.2.3.1 Pengertian... 23
2.2.3.2 Sumber Penyebab ... 25
2.2.3.3 Tingkat Disonansi ... 26
2.2.3.4 Disonansi Kognitif dan Persepsi ... 26
2.2.3.5 Mengatasi Disonansi Kognitif ... 27
2.2.4 Konsep Diri ... 27
2.2.4.1 Pengertian Konsep Diri ... 27
2.2.4.2 Faktor-Faktor Pembentukan Konsep Diri ... 30
2.2.4.3 Dimensi-Dimensi Dalam Konsep Diri ... 32
2.2.4.4 Ciri-Ciri Konsep Diri Positif dan Negatif ... 34
2.2.4.5 Pengaruh Konsep Diri dalam Komunikasi Antarpribadi ... 36
2.2.5 Penyandang Disabilitas ... 38
2.2.5.1 Pengertian Penyandang Disabilitas ... 38
2.2.5.2 Klasifikasi Penyandang Disabilitas ... 40
2.2.5.3 Hambatan Yang Dialami ... 42
2.2.5.4 Sebaran Penyandang Disabilitas di Kota Medan ... 43
2.3 Model Teoritik ... 48
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ... 49
3.2 Objek Penelitian ... 49
3.3 Subjek Penelitian ... 50
3.4 Kerangka Analisis ... 50
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 51
3.6 Penentuan Informan ... 53
3.7 Teknik Analisis Data ... 53
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 55
4.1.1 Proses Penelitian ... 55
4.1.2 Profil Informan ... 59
4.1.3 Deskripsi Hasil Temuan ... 61
4.2 Pembahasan ... 174
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ... 182
5.2 Saran ... 183 DAFTAR REFERENSI
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Data Rekapitulasi Jumlah Kaum Penyandang Disabilitas di 21
Kecamatan di Kota Medan ... 43
2.2 Data Rekapitulasi Jumlah Kaum Penyandang Disabilitas di Kota Medan Berdasarkan Jenis Kelamin... 45
3.1 Data Rekapitulasi Jumlah Kaum Penyandang Disabilitas di Kota Medan Berdasarkan Usia ... 46
3.2 Data Rekapitulasi Jumlah Kaum Penyandang Disabilitas di Kota Medan Bedasarkan Pendidikan ... 47
4.1 Reduksi Data Dimensi Internal ... 137
4.2 Reduksi Data Dimensi Eksternal ... 143
4.3 Reduksi Data Konsep Diri ... 152
4.4 Reduksi Data Hambatan dan Cara Mengatasi Hambatan ... 168
Nomor Judul Halaman 2.1 Elemen Komunikasi ... 17 2.2 Disonansi Kognitif ... 25 2.3 Johari Window ... 37
Pedoman Wawancara Transkrip Wawancara Dokumentasi Penelitian Biodata Peneliti
Lembar Catatan Bimbingan
PENDAHULUAN
1.1 Konteks Masalah
Sejatinya dalam kehidupan sosial bermasyarakat, hidup dan peran kita sebagai manusia tidak terlepas dari hubungan dengan manusia lain. Salah satu cara untuk mewujudkannya itu adalah dengan berkomunikasi. Komunikasi dapat dikatakan sebagai wadah untuk membangun dan memelihara suatu ikatan hubungan antara yang satu dengan lainnya, mengenal diri sendiri melalui orang lain sehingga sebagai cermin yang menampilkan bayangan sendiri (the looking- glass self theory) dan bertukar pikiran. Dalam kita berkomunikasi, terdapat beberapa unsur, yaitu komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek (Miftah, 2008).
Carl I. Hovland percaya bahwa komunikasi adalah proses yang memungkinkan seorang komunikator menyampaikan rangsangan (biasanya tanda- tanda verbal) untuk mengubah perilaku orang lain. Sedangkan menurut pandangan De La Torre Zermeno komunikasi merupakan suatu proses mental dimana komunikator dan komunikan berinteraksi dan bertukar ide, pengetahuan, perasaan, pengalaman yang mereka sampaikan melalui pesan, kode, serta saluran yang akurat (dalam Liliweri, 2015: 3).
Apapun pekerjaan yang kita lakukan, dimanapun kita tinggal, seberapa lama pun kita hidup, kita akan selalu membutuhkan dan melakukan komunikasi dengan orang lain. Namun, berkomunikasi bukanlah kegiatan yang cukup mudah untuk dilakukan. Ketika melakukan komunikasi hendaknya dilakukan dengan baik dan benar sesuai norma dan aturan yang berlaku, serta menghindari kata-kata yang cenderung menyulut pertikaian. Dengan begitu, komunikasi dapat berjalan lancar dan kemudian akan menghantarkan kita untuk mencapai tujuan yang diinginkan, menentukan sebuah keputusan, hingga mampu mengendalikan atau mengubah tingkah laku orang lain sesuai keinginan kita (Aufirandra, 2018).
Dalam komunikasi pula terdapat tingkatan yang memiliki indikator utama untuk mengkategorikan komunikasi, yaitu jumlah peserta yang berpartisipasi dalam interaksi. Ruang lingkup komunikasi memiliki struktur komunikasi, yang dibedakan menjadi komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, dan komunikasi massa.
Komunikasi interpersonal atau lazimnya disebut dengan komunikasi antarpribadi pada hakikatnya merupakan satu proses sosial dimana tiap-tiap orang yang terlibat didalamnya saling memberi dan menerima pesan secara bergantian hingga kronologis saat pembicaraan itu berlangsung tidak lagi diketahui siapa sesungguhnya yang menjadi komunikator dan komunikan sebab perbincangan keduanya bergantian secara terus menerus, apabila tidak ingin terjadi demikian maka salah satu pihak harus memonopoli pembicaraan sehingga pihak lain hanya akan mendengarkan belaka. Inilah yang membedakan komunikasi antarpribadi dengan ruang lingkup komunikasi lainnya (Liliweri, 2015: 17).
Sebagaimana yang dikemukakan oleh De Vito (1876) komunikasi antarpribadi merupakan proses transmisi pesan dari komunikator dan diterima oleh individu atau kelompok lainnya dan mendapatkan umpan balik (feedback).
Berbeda dengan pendapat yang diutarakan oleh Dean C. Barnlud (1986) mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi umumnya terjadi oleh pertemuan antara dua atau lebih orang secara spontan dan tidak terstruktur (Liliweri, 2015:
12).
Selain dari beberapa definisi yang dipaparkan, komunikasi antarpribadi juga mengandung ciri-ciri yang menunjukkan perbedaan khas antara komunikasi antarpribadi dengan komunikasi lainnya. Menurut De Vito (1876) ciri-ciri komunikasi antarpribadi terdiri atas keterbukaan, empati (empathy), dukungan (supportiveness), rasa positif (positiveness), dan kesamaan (equality). Sedangkan Everett M. Rogers ciri-ciri dari komunikasi antarpribadi mencakup arus pesan yang cenderung dua arah, biasanya dilakukan secara tatap muka, tahap umpan balik yang tinggi, kemampuan mengendalikan selektivitas yang tinggi, ketangkasan jangkauan audiens yang besar cenderung lambat, serta efek yang akan timbul berupa perubahan sikap (Liliweri, 2015: 13).
Vardiansyah (2004: 30) secara teoritis mengemukakan bahwasannya komunikasi antarpribadi diklasifikasikan menjadi dua, yaitu komunikasi diadik dan komunikasi triadik. Komunikasi diadik adalah komunikasi yang berlangsung antara dua orang, seorang berperan sebagai komunikator yang memberikan informasi atau pesan, dan seorang lainnya menjadi komunikan yang menerima pesan. Sedangkan komunikasi triadik adalah kegiatan komunikasi yang terjadi antara tiga orang, dimana satu orang berperan sebagai komunikator dan dua orang lainnya adalah komunikan.
Efek yang timbul dari berlangsungnya kegiatan komunikasi interpersonal ini dikatakan paling kuat diantara tataran komunikasi lainnya. Pada interaksi personal ini komunikator dapat langsung mempengaruhi tingkah laku (efek konatif) dari komunikan, memanfaatkan setiap pesan verbal maupun nonverbal, dan mampu menyesuaikan bahkan mengubah pesan jika umpan balik yang diperoleh adalah negatif (Vardiansyah, 2004: 31).
Keberhasilan interaksi personal tidak hanya dilihat oleh kemampuan dan kecakapan komunikasi antarpribadi saja, melainkan pula didukung oleh mutu kepribadian orang yang terlibat saat komunikasi berlangsung. Hasil evaluasi dan penilaian akan berdampak pada tingkat kepercayaan diri dan pada akhirnya membentuk konsep diri individu. Hal ini didapatkan melalui informasi yang diberikan kepada individu oleh orang lain. Individu tahu dan memahami segala situasi mengenai dirinya sendiri, baik atau buruk, kuat dan lemah. Proses inilah membentuk konsep diri pribadi, mempengaruhi perkembangan kepribadian, dan berimbas pada tiang penghidupan individu.
Konsep diri adalah pandangan seseorang mengenai siapa dirinya dan itu hanya diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepadanya.
Pembentukan konsep diri yang paling dini galibnya dipengaruhi oleh keluarga atau siapapun disekitar yang memelihara individu tersebut pertama kalinya.
Tindakan dan ucapan yang mereka katakan bahwa individu itu baik, rajin, cerdas, tampan, menarik, bodoh, seluruh kata-kata pertama yang diberikan tersebut berdampak pada konsep dirinya. Misalnya, seorang anak mungkin sesungguhnya cerdas dan berbakat, tetapi karena dianggap bodoh, ia akan surut melakukan apa
akhirnya orang lain juga akan menganggapnya bodoh. Ini yang disebut “ramalan yang dipenuhi sendiri” (self-fulfilling prophecy) yaitu nubuat yang menjadi kenyataan, dengan sadar atau tidak, individu percaya dan mengatakan ramalan tersebut akan menjadi kenyataan (Mulyana, 2015: 9).
William D. Brooks (Rakhmat, 2005: 99) mendefinisikan konsep diri sebagai “those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interactions with others”. Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial, dan fisis. Konsep diri bukan hanya sekadar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian anda tentang diri anda. Maka, konsep diri meliputi apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan tentang diri anda.
Begitu halnya pandangan oleh George Herbert Mead bahwa setiap manusia mengembangkan konsep dirinya melalui jalinan interaksi dengan orang lain dalam masyarakat yang tentu dilakukan lewat komunikasi. Sederhananya, individu mengenal dirinya lewat orang lain, yang menjadi cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Charles H. Cooley menganggap konsep diri itu sebagai the looking glass-self, yang secara signifikan ditentukan oleh apa yang dipikirkan mengenai pikiran orang lain terhadapnya, jadi menekankan pentingnya respons orang lain yang diiterpretasikan secara subjektif sebagai sumber primer data mengenai diri (Mulyana, 2015: 11).
Komponen konsep diri meliputi citra tubuh (body image), ideal diri (self- ideal), harga diri, penampilan karakter dan identitas pribadi. Oleh karena itu, konsep diri merupakan konsep kompleks yang mempengaruhi pemikiran, perkataan, tindakan, atau kemampuan individu untuk mempersepsikan dan memperlakukan orang lain (Andriani, 2018).
Disadari atau tidak, kerap kali kita menguji diri sendiri dalam masa pembentukan konsep diri ini. Beragam respon seperti dukungan, perubahan, bahkan penolakan dari lawan bicara akan diperoleh saat kita berniat untuk menciptakan konsep diri. Interpretasi semacam itu akan membantu kita menentukan akan menjadi seperti apa diri kita. Umumnya kita mungkin menjadi apa yang diharapkan oleh orang lain. Namun, kadang kala kita menampilkan diri sebagai “sosok lain” untuk menunjukkan konsep diri palsu yang tidak sepenuhnya
diinginkan oleh kita, sehingga karena konformitas itu, kita menjadi tertekan (Mulyana, 2015: 13).
Mulyana juga berpendapat (2015: 10) bahwa meskipun kita berupaya berperilaku sebagaimana yang diharapkan oleh orang lain, kita tidak pernah sepenuhnya akan menaati pengharapan orang lain. Melainkan saat kita berinteraksi dengan mereka, segala pengharapan, citra, dan kesan mereka mengenai kita amat mempengaruhi konsep diri kita, perilaku kita, serta apa yang kita inginkan. Dengan kata lain, orang lain itu “mencetak” kita dan setidaknya sedikit banyak kita turut mengansumsikan apa yang menjadi asumsi orang lain tentang kita.
Oleh adanya asumsi-asumsi tersebut, maka kita mulai melakukan
“permainan peran” dimana kita menanamkan peran-peran itu dalam diri kita sendiri sebagai acuan untuk berperilaku. Kita menjadikan peran-peran itu sebagai bagian dari konsep diri kita. Sederhananya, kita adalah cermin bagi satu sama lainnya. Kita dapat melihat pantulan diri pada cermin untuk menunjukkan apakah rambut kita telah rapi atau belum. Permainan peran inilah yang membawa kita pada keyakinan bahwa kita benar-benar seperti yang diasumsikan atau tidak.
George Herbert Mead menuturkan bahwa konsep diri dibedakan menjadi dua kategori yakni, generalized others dan significant others. Generalized others sendiri merupakan masyarakat secara umum. Senyuman, pujian, dan penghargaan akan mempengaruhi penilaian positif diri kita, tetapi sebaliknya cemoohan dan hardikan membuat penilaian negatif bagi diri kita. Significant others (orang lain yang sangat penting) untuk orang-orang di sekitar kita yang mempunyai peranan penting dalam membentuk konsep diri kita. Mereka adalah orang-orang yang perlahan membentuk konsep diri kita, sehingga kita menyadari bagaimana pandangan orang lain terhadap kita dan membentuk sebuah kepercayaan diri (Andriani, 2018).
Interaksi personal yang pada akhirnya mengarah pada pembentukan konsep diri individu sesungguhnya dapat terhambat bila salah satu pihak memiliki hambatan. Hambatan yang dimaksud ialah hambatan fisiologis. Somantri (dikutip dari Jannah, 2020) mengutarakan bahwa ada sejumlah individu yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial ini, yakni individu
dengan keadaan yang dibawa sejak lahir. Secara jelas, individu yang dimaksud adalah penyandang disabilitas.
Selain hambatan fisiologis, hambatan dapat berupa anggapan yang diterima penyandang disabilitas dari lingkungan sekitarnya. Anggapan atau penilaian yang diberikan tidak jarang adalah penyandang disabilitas merupakan sosok yang harus dijauhi atau dikucilkan. Sejalan dengan yang dilansir dari berita surat kabar Analisa Medan (Desember 2016) bahwa di Sumatera Utara khususnya Kota Medan belum bisa disebut sebagai kota yang ramah untuk para penyandang disabilitas dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Menurut penuturan Koordinator Yayasan ISADD (Intervention Services for Autism and Developmental Delayed), Melly Yusri, kepada Analisa (Jumat, 9/12) hal ini terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang memandang mereka dengan sebelah mata, dan banyak dari masyarakat yang tidak menerima keberadaan mereka karena kekurangan yang dimiliki.
Sementara itu bila ditelisik dari sisi penyandang disabilitas, terutama mahasiswa disabilitas yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, hal ini bertolak belakang dengan anggapan “negatif” yang selama ini tertanam di masyarakat, sehingga penyandang disabilitas dihadapkan pada posisi yang “tidak sejalan” dengan sekitarnya. Hal inilah yang akan menimbulkan sebuah disonansi.
Disonansi kognitif karya Leon Festinger adalah teori yang menggambarkan perasaan yang tidak seimbang atau tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu. Dalam usaha mereka untuk menghindari perasaan disonansi, orang akan tidak menghiraukan pandangan yang berlawanan dengan pandangan yang mengubah keyakinan mereka agar sesuai dengan tindakan mereka (atau sebaliknya), dan/atau mencari hal yang dapat meyakinkan mereka kembali setelah membuat sebuah keputusan sulit.
Menurut UU No. 4 Tahun 1997, penyandang disabilitas atau berbagai istilah lain yang mengiringi seperti penderita cacat, berkebutuhan khusus, dan sebagainya adalah setiap orang yang menderita kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan untuk melakukan kehidupan secara selayaknya.
Kementerian Kesehatan RI (dikutip dari INFODATIN KemenKes RI, 2018) memberi definisi penyandang disabilitas merupakan setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Penyandang disabilitas sendiri dapat dikategorikan sebagai berikut: 1) Penyandang cacat fisik 2) Penyandang cacat mental 3) Penyandang cacat fisik dan mental.
Penyandang cacat fisik ialah seseorang yang mengalami kelainan pada tulang atau sendi anggota gerak dan tubuh, adanya kelumpuhan pada anggota tubuh, tidak lengkapnya anggota tubuh atas ataupun tubuh bawah, sehingga menimbulkan suatu gangguan yang membuat individu menjadi lambat dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara layak (Widjopranoto & Sumarno dalam Satyaningtyas, 2005). Berbeda dengan penyandang cacat mental, dimana fungsi saraf organ tubuh dalam diri mengalami penurunan organ saraf yang kemudian berakibat pada lambat dan terhambatnya pertumbuhan serta perkembangan seseorang itu. Umumnya, seseorang dengan cacat mental cenderung lambat dalam berpikir, kurang aktif, dan kurang mampu memecahkan masalah (Balqiyah, 2018). Sedangkan penyandang cacat fisik dan mental yang dibahasakan dengan istilah tunaganda (disabilitas ganda) adalah seseorang yang menderita lebih dari satu kecacatan, yaitu cacat fisik dan mental.
Dilansir dari laman INFODATIN Kementerian Kesehatan RI (2018), sebanyak 15 dari setiap 100 orang di dunia memiliki disabilitas. Dalam rentang 2- 4 dari setiap 100 orang mengalami disabilitas berat (World Report Disability, World Health Organization 2011). Dengan bertambahnya usia harapan hidup, jumlah penyandang disabilitas cenderung meningkat, terutama bila pelayanan kesehatan belum memadai. Terjadinya kecacatan juga dapat disebabkan oleh penyakit dan kondisi kesehatan tertentu, bencana alam, kecelakaan, serta alasan lainnya.
Menurut Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan (PUSDATIN) dari Kementerian Sosial, pada tahun 2010, penyandang disabilitas di Indonesia berjumlah sebanyak 11.580.117 orang, dengan di antaranya 3.474.035
(penyandang disabilitas penglihatan), 3.010.830 (penyandang disabilitas fisik atau tubuh), 2.547.626 (penyandang disabilitas pendengaran), 1.389.614 (penyandang disabilitas mental) dan 1.158.012 (penyandang disabilitas kronis). Sementara menurut data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, pada tahun 2010 penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 7.126.409 orang (PUSDATIN, 2010).
Beralih pada tahun selanjutnya, catatan Kementerian Kesejahteraan Sosial menunjukkan di tahun 2012 jumlah populasi penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 2.126.000 jiwa, dengan klasifikasi jenis kecacatan berbeda-beda.
Sejalan dengan data penyandang disabilitas Indonesia yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik melalui kegiatan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015, diperoleh adanya data delapan kesulitan fungsional yaitu kesulitan mendengar, kesulitan melihat, kesulitan berjalan atau naik tangga, kesulitan menggunakan atau menggerakkan tangan atau jari, kesulitan mengingat atau berkonsentrasi, gangguan perilaku dan/atau gangguan emosional, kesulitan atau gangguan berbicara dan/atau memahami atau berkomunikasi dengan orang lain, dan kesulitan mengurus diri sendiri.
Dari delapan kesulitan fungsional diatas, salah satunya akan menjadi komponen pendukung dalam penelitian ini, yakni kesulitan dalam penglihatan (tuna netra). Kesulitan dalam penglihatan seringkali berujung pada masalah sosial, seperti penolakan oleh lingkungan sosial, kesulitan dalam menjalin hubungan sosial, kasih sayang dan terlalu melindungi diri dari orang lain, serta kesulitan dalam mencari pekerjaan. Selain itu, kompetensi penyesuaian diri seorang difable netra akan lebih lama dibandingkan dengan orang yang melihat dengan normal, karena penyesuaian diri seseorang mungkin membutuhkan waktu atau proses yang panjang, dan mungkin harus dilakukan melalui berbagai macam cara.
Hambatan utama bagi individu difable netra bukan ke-difable-annya itu sendiri, melainkan sikap orang-orang yang melihat terhadap difable netra tersebut (Wifaqul, 2021).
Di Kota Medan sendiri sebagian besar kaum disabilitas didominasi oleh laki-laki dan rata-rata merupakan penduduk usia produktif yaitu berusia diantara 15 sampai 65 tahun, dengan jumlah keseluruhan adalah sebanyak 2.011 orang.
Data ini mencakup atas 6 kategori disabilitas, yakni gangguan pada penglihatan atau tunanetra (Low Vision, Light Perception dan Totally Blind) sebanyak 293 orang, gangguan pada pendengaran atau tunarungu sebanyak 26 orang, gangguan untuk berbicara atau tunawicara sebanyak 352 orang, gangguan pada bagian tubuh atau tunadaksa (penggunaan pada lengan dan jari, penggunaan kaki dan kelainan bentuk tubuh) sebanyak 782 orang, gangguan pada mental atau tunagrahita sebanyak 527 orang dan eks penyakit jiwa sebanyak 31 orang (Sausan, 2014).
Berdasarkan data penyandang disabilitas yang telah dipaparkan, individu dengan disabilitas kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat atau publik sebagai individu yang memiliki kekurangan. Asumsi yang sering muncul di masyarakat seperti ini tidak sepenuhnya benar. Dalam lingkungan sosial, penyandang disabilitas sesungguhnya dapat melakukan kegiatan sehari-hari layaknya sebagaimana manusia, meski tidak akan sebaik pada umumnya karena keterbatasan yang dimiliki.
Eksistensi penyandang disabilitas tidak hanya berhenti sampai disitu, beberapa individu dengan disabilitas turut andil dalam mengukir prestasi membanggakan layaknya individu normal lainnya. Dean Pintauli Siringo-ringo salah satunya. Dean merupakan mahasiswa disabilitas tuna netra dari jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2013. Dean dikenal sebagai atlet cabang olahraga renang dan pernah mengikuti ajang Pekan Paralympic Nasional (PEPARNAS) XV di Jawa Barat pada tahun 2016 (Gowasa, 2017).
Indonesia juga memiliki atlet gemilang bernama Ni Nengah Widiasih. Ni Nengah adalah atlet Para Powerlifting asal bali yang menderita kelumpuhan sedari ia berumur 3 tahun. Namun, Ni Nengah membuktikan bahwa keterbatasan yang ia miliki tidak mampu menghambat dirinya untuk berlomba di kancah internasional, terbukti lewat Asean Para Games 2018 yang diselenggarakan di negeri jiran, Malaysia, ia berhasil membawa pulang perunggu perak (https://www.liputan6.com).
Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki oleh kaum penyandang disabilitas, tidak dapat dipungkiri bahwa disisi lain terdapat perasaan kurang percaya diri yang pada akhirnya mengarah pada cara pandang bahwa hidup akan
lebih baik apabila dirinya tidak menderita suatu kekurangan. Hal ini bisa jadi dipicu oleh adanya stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas, dimana tidak mampu beradaptasi atau bahkan melakukan pekerjaan sehari-hari karena keterbatasan diri.
Seperti hasil wawancara yang ditulis oleh Rahayu Satyaningtyas (2012) dalam jurnal yang berjudul “Penerimaan Diri dan Kebermaknaan Hidup Penyandang Cacat Fisik” menyatakan bahwasannya permasalahan mendasar bagi penyandang disabilitas dalam mencapai kebermaknaan hidup terletak bagaimana individu penyandang disabilitas itu sendiri memandang dirinya.
Terciptanya cara pandang individu penyandang disabilitas terhadap diri sendiri tidak lepas dari hasil interaksi individu dengan orang lain. Baik dukungan, bantuan, atau sebaliknya, yang diberikan oleh orang lain akan menentukan bagaimana konsep diri individu penyandang disabilitas tersebut. Apakah individu memandang dirinya dari sisi negatif, tidak percaya diri bahwa akan sukses karena kekurangan yang menghalangi, atau sebaliknya, individu menganggap positif bahwa terlepas dari keterbatasan yang dimiliki, dirinya mempunyai potensi luar biasa untuk diasah dan menjadi teladan bagi orang disekitarnya, seluruhnya berdasarkan interaksi dengan lingkungan sekitar. Terutama jika penyandang disabilitas tersebut merupakan seorang mahasiswa, dimana tekanan dalam lingkungan perkuliahan dapat dikatakan cukup besar, tekanan yang dimaksud dapat berasal dari dalam diri maupun hasil interaksi dari lingkungan sekitar, sehingga ingin dilihat apakah kedua hal tersebut akan berpengaruh pada konsep diri mahasiswa itu sendiri.
Oleh karena itu, berdasarkan uraian yang telah dirincikan pada konteks masalah diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
“Konsep Diri Mahasiswa Penyandang Disabilitas di Kota Medan.”
1.2 Fokus Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang telah dijabarkan di atas, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana konsep diri mahasiswa penyandang disabilitas di Kota Medan?
2. Bagaimana hambatan yang dialami mahasiswa penyandang disabilitas dalam komunikasi, pendidikan, berjalan, dan menggunakan ojek online atau angkutan umum?
3. Bagaimana cara mahasiswa penyandang disabilitas di Kota Medan mengatasi hambatan-hambatan tersebut?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian yang telah dipaparkan, serta agar penelitian ini memiliki arah yang lebih jelas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui konsep diri mahasiswa penyandang disabilitas di Kota Medan.
2. Untuk mengetahui hambatan dalam komunikasi, pendidikan, berjalan, dan menggunakan ojek online atau angkutan umum yang dialami oleh mahasiswa penyandang disabilitas di Kota Medan.
3. Untuk mengetahui cara mengatasi hambatan-hambatan yang dialami oleh mahasiswa penyandang disabilitas di Kota Medan.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan memperdalam pemahaman, serta menambah sumber bacaan dan referensi bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU) di masa yang akan datang.
2. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memperluas dan memperdalam pengetahuan peneliti, sivitas akademika baik pengajar maupun mahasiswa yang berada dalam lingkup kajian komunikasi.
3. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menyadarkan pembaca dan masyarakat bahwa penyandang disabilitas mampu melakukan apa yang kita bisa
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Kajian
Berbagai definisi mengenai paradigma dapat diciptakan berdasarkan sudut pandang yang digunakan. Bila dilihat dari sudut pandang peneliti, paradigma merupakan sebuah pandangan seseorang terhadap suatu permasalahan utama yang sifatnya fundamental, dengan tujuan untuk memahami ilmu maupun keyakinan dasar yang memandu tindakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Vardiansyah (2008:27) dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Ilmu Komunikasi”
menyatakan bahwa paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhi dirinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Sedangkan menurut Kuhn (1962) dalam bukunya “The Structure of Scientific Revolution” menyatakan bahwa paradigma adalah gabungan hasil kajian yang terdiri dari seperangkat konsep, nilai, teknik dll yang digunakan secara bersama dalam suatu komunitas untuk menentukan keabsahan suatu masalah berserta solusinya (Diamastuti, 2015).
Dalam menentukan paradigma yang akan digunakan dalam penelitian ini, peneliti memiliki beberapa alasan yang melatarbelakangi, diantaranya adalah:
1. Paradigma penelitian menggambarkan pilihan keyakinan yang akan menjadi dasar dan pedoman dari keseluruhan proses penelitian.
2. Paradigma penelitian menetapkan rumusan masalah, tujuan penelitian, dan jenis penjelasan yang digunakan.
3. Pemilihan paradigma terdiri atas implikasi terhadap pemilihan metode, teknik penentuan subyek penelitian atau sampling, teknik pengumpulan, teknik uji keabsahan data, dan analisis data (Pujileksono, 2015: 26).
Adapun paradigma yang dipilih dan akan digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis. Dalam paradigma konstruktivis ini, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivis justru
menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi, serta hubungan-hubungan sosialnya (Andriani, 2018).
Bila dikaitkan dengan penelitian ini, paradigma konstruktivis memiliki fungsi untuk mengetahui proses pembentukan konsep diri pada kaum penyandang disabilitas di Kota Medan. Setelahnya, hasil dari penemuan di lapangan akan ditarik kesimpulan berupa hambatan apa yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasi hambatan tersebut oleh kaum penyandang disabilitas dalam pembentukan konsep diri. Hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan dikarenakan setiap informan memiliki latar belakang dan pengalaman yang melekat pada diri masing-masing.
2.1.1 Kajian Penelitian Terdahulu
Penelitian yang sejalan dengan konsep diri penyandang disabilitas secara spesifik sudah pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya, tetapi penelitian yang mengangkat topik mengenai konsep diri penyandang disabilitas secara umum (general)di Kota Medan masih belum dilakukan. Maka dari itu, berikut beberapa literatur yang bisa dijadikan sebagai pedoman :
1. Komunikasi Antarpribadi dalam Pembentukan Konsep Diri pada Kaum Tuli (Studi Deskriptif – Kualitatif Mengenai Komunikasi Antarpribadi dalam Pembentukan Konsep Diri Pada Kaum Tuli di Komunitas Gerkatin Kota Medan)”, milik Dita Andriani mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara 2018.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal, faktor-faktor pendukung, serta faktor-faktor penghambat yang terjalin antar komunitas Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) di Kota Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif menggunakan teknik wawancara mendalamdan observasi non-partisipan yang melibatkan tiga informan. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterbatasan mendengar dan berbicara menjadi faktor penghambat ketiga informan dalam melakukan komunikasi antarpribadi. Disamping itu
terdapat faktor latar belakang pendidikan yang membuat informan sulit dalam memaknai bahasa. Namun kemiskinan bahasa yang dialami oleh ketiga informan tidak membuat mereka menyerah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ketiga informan justru mempelajari bahasa isyarat BISINDO agar dapat berkomunikasi dengan seluruh kaum Tuli.
2. “Hubungan Konsep Diri dengan Penerimaan Diri Penyandang DisabilitasTunarungu di Kota Medan (Studi Korelasi Antara Konsep Diri dengan Penerimaan Diri Penyandang Disabilitas Tunarungu di Komunitas Gerkatin Medan)”, milik Raudhatul Jannah mahasiswi Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara 2020.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan penerimaan diri penyandang disabilitas tunarungu di Komunitas Gerkatin Medan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Adapun hasil penelitian yang diperoleh adalah anggota Komunitas Gerkatin Medan sebagai penyandang disabilitas tunarungu memiliki konsep diri yang positif. Proses pembentukan konsep diri yang dimiliki oleh anggota Komunitas Gerkatin Medan tidak didapat secara instan. Lingkungan sosial dan peran keluarga sangat berpengaruh bagi proses pembentukan konsep diri anggota Komunitas Gerkatin Medan. Hal itu juga dapat dilihat dari tingkat kepercayaan diri yang mereka miliki, dari hal penampilan hingga kepercayaan terhadap kemampuan yang mereka miliki. Dengan keterbatasan fisik yang mereka miliki saat ini juga tidak mempengaruhi mereka untuk menggapai cita cita yang mereka miliki.
3. “Konsep Diri Wanita Pekerja Pijat Plus Plus di Deli Serdang”, milik Ayu Mustika Asih mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara 2020.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana konsep diri wanita pekerja pijat plus plus. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui observasi dan teknik snow ball,
serta metode penelitian yang dilakukan adalah metode wawancara mendalam. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah dari lima informan yang diwawancarai, terdapat informan pertama, kedua, ketiga, dan keempat memiliki konsep diri yang dominan negatif berdasarkan jawaban-jawaban informan, cara informan menilai diri sendiri, dan menanggapi penilaian orang lain terhadap dirinya. Sementara itu, informan kelima memiliki konsep diri yang positif, yang dilihat berdasarkan jawaban-jawaban informan, cara informan menilai diri sendiri, menanggapi penilaian orang lain terhadap dirinya, dan menghargai dirinya sendiri.
2.2 Kerangka Teori
Kerangka teori penelitian ini menjelaskan sumber masalah. Secara formal, teori diartikan sebagai sekumpulan pernyataan yang menjelaskan hubungan antara dua atau lebih fenomena komunikasi. Adapun teori-teori yang relevan dalam penelitian ini adalah komunikasi, komunikasi antarpribadi, konsep diri, dan penyandang disabilitas.
2.2.1 Komunikasi
Dalam kehidupan manusia, komunikasi memainkan peran yang penting.
Hampir disegala hal maupun setiap saat kita berperilaku, bertindak, belajar adalah dengan dan melalui komunikasi. Sederhananya, komunikasi merupakan dasar interaksi antar manusia. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai manusia untuk terampil dalam berkomunikasi. Kegiatan komunikasi sejatinya adalah aktivitas pertukaran sebuah ide, gagasan, pesan, dari satu individu ke individu lainnya, atau satu kelompok ke kelompok lainnya.
Istilah komunikasi atau communication pada mulanya berasal dari bahasa latin yaitu communicates yang memiliki arti berbagi atau menjadi milik bersama.
Dengan kata sifatnya yakni communis yang memiliki makna umum atau bersama- sama (Fajar, 2009: 31). Menurut Everett M. Rogers & Lawrence Kincaid (1981), sebagaimana dikutip oleh Fajar (2009: 31) menyatakan bahwa komunikasi merupakan suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk dan melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling pengertian yang mendalam. Sedangkan pandangan oleh Thomas M. Scheidel
menyatakan bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan serta mendukung identitas diri, membangun kontak sosial dengan orang di sekitar kita, mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan. Sementara itu, Gordon I. Zimmerman mengemukakan bahwa tujuan komunikasi terbagi atas dua kategori, pertama, kita berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi kebutuhan kita, kedua, kita berkomunikasi untuk menciptakan dan membangun hubungan dengan orang lain.
Maka dari itu dapat dikatakan komunikasi memiliki fungsi isi, yang melibatkan pertukaran informasi yang kita perlukan untuk menyelesaikan tugas, serta fungsi hubungan, yang melibatkan pertukaran informasi mengenai bagaimana hubungan kita dengan orang lain (Mulyana, 2015: 4).
Dalam proses kegiatan komunikasi terdapat elemen-elemen yang disajikan.
Panuju (2018: 39) menerangkan beberapa elemen tersebut, diantaranya yakni:
1. Komunikator. Komunikator merupakan si pengirim atau penyampai pesan.
2. Pesan. Pesan adalah sesuatu dalam bentuk ide, atau hal yang bersifat ekspektasi (harapan) yang disampaikan oleh komunikator kepada penerima.
3. Saluran. Saluran merupakan media atau sarana yang digunakan oleh komunikator kepada komunikan.
4. Komunikan. Komunikan adalah si penerima pesan, baik individu, kelompok, massa, ataupun anggota organisasi.
5. Hambatan atau gangguan. Gangguan ini bisa berasal dari komunikator, isi pesan, media atau saluran, maupun komunikan itu sendiri.
6. Umpan balik. Umpan balik (feedback) adalah respons, tanggapan, atau reaksi terhadap sebuah pesan. Umpan balik bisa dalam bentuk yang netral, mendukung (positif), dan menolak (negatif).
7. Efek. Efek merupakan akibat yang timbul dari komunikasi, baik berupa pikiran, emosi, dan perilaku.
Ide
Encoding
Pengiriman
Decoding
Balikan
8. Situasi. Situasi berupa keadaan seperti cuaca, suhu, tata ruang, sikap peserta komunikasi, dan tujuan-tujuan berkomunikasi yang ada atau terjadi saat komunkasi berlangsung.
9. Selektivitas. Selektivitas merupakan filter yang digunakan peseta komunikasi untuk menyaring pesan. Seperti nilai-nilai budaya, mitos, prasangka, dan lainnya.
10. Lingkungan. Lingkungan berupa pihak lain yang ikut campur atau intervensi dalam komunikasi.
Elemen-elemen komunikasi diatas tersebut bekerja dengan alur seperti berikut:
Gambar 2.1
Sumber: Panuju (2018: 40)
Dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Langkah pertama, ide atau gagasan dibuat oleh sumber atau komunikator.
2. Ide dialihrupakan dalam bentuk lambang-lambang yang mempunyai makna (encode) dan dapat dikirimkan.
3. Pesan yang telah di-encode selanjutnya dikirimkan melalui saluran atau media yang sesuai dengan karakteristik lambang-lambang komunikasi.
4. Komunikan menafsirkan isi pesan sesuai dengan persepsinya untuk mengartikan arti isi pesan.
5. Bila isi pesan tersebut telah berhasil di-decoding, khalayak akan mengirim kembali isi pesan tersebut ke komunikator.
2.2.2 Komunikasi Antarpribadi
2.2.2.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) merupakan komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi antarpribadi juga memiliki bentuk khusus yang dinamakan komunikasi diadik (dyadic communication) yang melibatkan hanya dua orang, seperti suami-istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid, dan sebagainya (Mulyana, 2015: 81). Berbeda halnya menurut pandangan Joseph A.
Devito dalam bukunya “The Interpersonal Communication Book” mendefinisikan komunikasi antarpribadi sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek, dan beberapa umpan balik seketika. Sejalan dengan definisi tersebut, maka komunikasi antarpribadi dapat berlangsung diantara dua orang yang sesungguhnya sedang berdua-duaan atau dua orang dalam satu pertemuan (Fajar, 2009: 78).
Dari pengertian yang telah paparkan diatas maka peneliti dapat menarik esensinya, bahwa komunikasi antarpribadi adalah sebuah proses terjadinya penyampaian pesan dari komunikator kepada pihak lain, dalam hal ini adalah komunikan, dimana dalam komunikasi ini terjadi pertukaran informasi diantara keduanya, dan pada akhirnya akan timbul respons.
Adapun pesan-pesan yang diimplementasi dalam kegiatan komunikasi antarpribadi harus ditingkatkan kualitasnya agar tidak sekadar menjadi sebuah pesan yang mengambang, tidak jelas. Oleh karena itu, ada beberapa cara untuk membuat komunikasi antarpribadi bermanfaat menurut Redi Panuju (2018: 62), yakni sebagai berikut:
1. Subjek-subjek dalam komunikasi antarpribadi harus berani mengeluarkan stimulus yang cenderung mengajak pikiran
berprasangka mengeluarkan stimulus yang cenderung mengajak pikiran berprasangka buruk. Prasangka buruk menjadikan komunikasi keluar dari tujuan komunikasi untuk membuat orang bahagia.
2. Subjek-subjek dalam komunikasi antarpribadi harus berani menuju ruang kompromi dalam memaknai stimulus. Sehingga makna yang disepakati adalah makna yang bergerak dari titik ekstrem kiri dan kanan menuju ke tengah. Itulah wilayah yang disebut wilayah saling pengertian (mutual of understanding).
3. Makna-makna yang terajut perlu didokumentasikan agar dapat dicek kembali pada waktu yang berbeda.
4. Dokumentasi hasil komunikasi antarpribadi bisa menjadi karya yang berguna bagi orang lain, misalnya ditulis dalam bentuk catatan ataupun puisi. Banyak pengalaman seseorang yang ditulis dalam catatn harian menjadi sebuah cerita yang menarik, sehingga menjadi buku ataupun film. Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”
yang ditulis RA Kartini merupakan contoh, sebuah catatan yang kemudian membuat pemiliknya termasyur diseluruh dunia.
2.2.2.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi
Menurut Fajar hal yang perlu diperhatikan dalam tujuan komunikasi antarpribadi yaitu komunikasi antarpribadi ini memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbincangkan diri kita sendiri. Dengan memperbincangkan diri kita sendiri pada orang lain, kita akan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita, dan mendapat perspektif baru tentang diri kita sendiri. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dirumuskan beberapa tujuan dari komunikasi antarpribadi adalah sebagai berikut (Fajar, 2009: 78):
1. Mengenal diri sendiri dan orang lain. Salah satu cara mengenal diri kita sendiri ialah melalui komunikasi antarpribadi. Komunikasi ini memberikan kesempatan bagi kita untuk membicarakan diri kita sendiri. Melalui komunikasi antarpribadi kita juga belajar tentang bagaimana dan sejauhmana kita harus membuka diri pada orang lain. Komunikasi antarpribadi juga akan membuat kita mengetahui
nilai, sikap, perilaku orang lain, menanggapi, dan memprediksi tindakan orang lain.
2. Mengetahui dunia luar. Dalam komunikasi antarpribadi kita dapat memahami lingkungan kita secara baik, yaitu tentang objek dan kejadian-kejadian orang lain. Informasi-informasi yang kita miliki saat ini banyak yang berasal dari interaksi antarpribadi. Meskipun ada yang berpendapat bahwa sebagian besar informasi yang ada tersebut berasal dari media massa, tetapi informasi dari media massa itu sering dibicarakan dan diinternalisasi melalui komunikasi antarpribadi.
3. Menciptakan dan memelihara hubungan menjadi bermakna.
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, sehingga dalam kesehariannya, orang ingin menciptakan dan memelihara hubungan dekat dengan orang lain. Kita juga tidak ingin hidup sendiri terisolasi dari masyarakat dan kita ingin merasakan dicintai dan disukai serta menyayangi dan menyukai orang lain. Oleh karenanya, sebagian besar waktu saat berkomunikasi antarpribadi digunakan dengan tujuan untuk menciptakan dan memelihara hubungan sosial dengan orang lain.
Hubungan ini membantu mengurangi kesepian dan ketegangan serta membuat kita merasa lebih positif tentang diri kita sendiri.
4. Mengubah sikap dan perilaku. Dalam komunikasi antarpribadi sering kita berupaya mengubah sikap dan perilaku orang lain.
Singkatnya kita banyak mempergunakan waktu untuk mempersuasi orang lain melalui komunikasi antarpribadi.
5. Bermain dan mencari hiburan. Bermain mencakup semua kegiatan untuk memperoleh kesenangan. Seringkali tujuan dianggap tidak penting, tetapi sebenernya komunikasi yang demikian perlu dilakukan, karena bisa memberi suasana yang lepas.
6. Membantu. Dalam hal ini dapat dilakukan oleh profesi yang memiliki fungsi menolong orang lain, seperti psikiater, psikolog
klinik, dan ahli terapi. Sebagian besar dalam tugas dan pekerjaan mereka melakukannya melalui komunikasi antarpribadi.
2.2.2.3 Fungsi Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi tidak hanya memiliki tujuan, akan tetapi juga mempunyai fungsi didalamnya. Sebagaimana yang dituturkan oleh Yuliana &
Utami (2018: 3) fungsi dari komunikasi antarpribadi adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi antarpribadi dilakukan untuk mendapatkan respon atau umpan balik.
2. Komunikasi antarpribadi dapat digunakan sebagai evaluasi respon atau umpan balik dari lawan bicara kita.
3. Komunikasi antarpribadi dilakukan sebagai kontrol terhadap lingkungan.
2.2.2.4 Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan Komunikasi Antarpribadi Untuk mencapai suatu keberhasilan kegiatan komunikasi antarpribadi, terdapat beberapa faktor pendukung didalamnya, menurut Panuju (2018: 67) seperti:
1. Faktor bahasa. Semakin homogen bahasa yang digunakan oleh masing- masing maka semakin mudah membentuk saling pengertian (mutual of understanding).
2. Faktor fisik. Komunikasi antarpribadi cenderung berjalan baik bila masing-masing dalam kondisi sehat. Gerak tubuh (gesture), gerak mata, dan paralinguistic yang disebabkan keadaan tidak sehat cenderung membuat lawan bicara merasa tidak nyaman, sehingga komunikasi pun berjalan tidak lepas.
3. Faktor psikis. Kecenderungan dapat berjalan dengan baik sebuah komunikasi antarpribadi terjadi bila pada masing-masing memiliki gairah yang positif. Misal, tidak ada praduga, kebencian, dendam, ataupun predisposisi negatif (seperti menyimpulkan lawan bicara yang bersumber dari keyakinannya akan mitos, stereotip).
4. Faktor lingkungan. Komunikasi antarpribadi dapat berjalan baik jika lingkungan tempat berkomunikasi dalam suasana yang kondusif. Seperti contoh, tidak ada gangguan dari suara bising kendaraan, suara pengeras
suara, musik yang keras, bahkan bau-bauan yang tersebar dari selokan depan rumah yang menyengat akan menganggu proses komunikasi antarpribadi. Demikian bau-bauan yang harum, dalam kadar yang wajar, dapat menciptakan suasana yang menyenangkan.
2.2.2.5 Efektivitas Komunikasi Antarpribadi
Berdasarkan pandangan oleh Yuliana & Utami (2018: 7) komunikasi antar individu dapat dilakukan secara efektif apabila antara individu yang satu dengan individu yang lain sebagai pelaku komunikasi terjadi:
1. Keterbukaan (Openness)
a. Komunikator yang efektif harus terbuka terhadap orang yang diajak berkomunikasi. Adanya pembukaan diri terhadap lawan bicaranya. Komunikan yang berkonsep diri positif adalah yang terbuka terhadap orang lain.
b. Kesediaan komunikator bereaksi secara jujur.
c. Perasaan dan pikiran yang diakui dan dikemukakan harus dapat dipertanggungjawabkan.
2. Empati (Emphaty)
Empati merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu dari sudut pandang orang lain. Dalam bereaksi dengan orang lain empati diperlukan diantara komunikator dan komunikan untuk turut merasakan secara psikologis dari masing-masing pihak. Empati dapat dipengaruhi oleh kondisi:
a. Homophily
Kondisi hubungan antara dua belah pihak yang mempunyai berbagai kesamaan.
b. Heterophily
Kondisi hubungan antara dua belah pihak yang mempunyai berbagai perbedaan, hal ini dapat diatasi melalui empati.
3. Sikap Mendukung (Supportiveness)
Sikap mendukung memberi dorongan atau mengobarkan semangat kepada orang lain dalam hubungan komunikasi antar individu. Sikap mendukung dapat berupa:
a. Sikap deskriptif
Penyampaian perasaan dan tanggapan kepada orang lain tanpa menilai atau mengevaluasi. Tidak memberikan tekanan dan pujian.
b. Spontanitas
Dukungan yang diberikan secara jujur dan spontan, tidak ada motif terpendam atau mengandung maksud tertentu yang menguntungkan diri sendiri.
c. Bersifat profesional
Dukungan yang diberikan bersifat sementara bukan menetap atau selamanya dan bersedia melihat kembali pendapatnya.
d. Berorientasi pada masalah
Bersama-sama berusaha mencari solusi atas masalah yang dihadapi, tidak mengatur orang lain tetapi bersama-sama menentukan dan memutuskan pencapaian tujuan yang dimaksud.
4. Sikap Positif (Positiveness)
Berpikir positif adalah kecenderungan bertindak pada diri komunikator untuk memberikan penilaian positif pada diri komunikan. Hal ini dapat dilihat pada:
a. Sikap positif terhadap diri sendiri dan situasi komunikasi.
b. Memberikan dorongan positif bukan negatif.
5. Kesetaraan (Equality)
Kesetaraan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis, tidak menunjukkan diri sendiri lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan, dan kecantikan. Dalam komunikasi individu melihat bahwa pelaku komunikasi mempunyai nilai yang sama dan berharga, sehingga masing- masing pihak harus saling menghargai dan memberikan kesempatan yang sama dalam proses komunikasi.
2.2.3 Disonansi Kognitif 2.2.3.1 Pengertian
Richard West & Lynn H. Turner (2013) dalam bukunya yang berjudul
“Introducing Communication Theory: Analysis and Application” merincikan
bahwa teori disonansi kognitif adalah penjelasan mengenai bagaimana keyakinan dan perilaku mengubah sikap. Teori ini berpusat pada efek inkonsistensi yang berada dalam kognisi-kognisi.
Teori disonansi kognitif karya Leon Festinger ini dapat dikatakan bahwa disonansi adalah suatu perasaan yang tidak seimbang yang dimiliki oleh orang saat mereka menemukan diri mereka sendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang (Ardiyani, 2012). Sebagaimana Roger Brown (1965) menyebutkan bahwa dasar dari teori ini mengikuti sebuah prinsip yang cukup sederhana, yakni keadaan disonansi kognitif dikatakan sebagai keadaan ketidaknyamanan psikologis atau ketegangan yang memotivasi usaha- usaha untuk mencapai konsonansi (keseimbangan). Selanjutnya Brown menyatakan bahwa teori ini memungkinkan dua elemen untuk memiliki tiga hubungan yang berbeda satu sama lain: mungkin saja konsonan, disonan, atau tidak relevan.
Hubungan konsonan (consonant relationship) ada antara dua elemen ketika dua elemen tersebut ada pada posisi seimbang satu sama lain. Misalnya, jika anda meyakini bahwa kesehatan dan kebugaran adalah tujuan yang penting dan anda berolahraga sebanyak tiga sampai lima kali dalam seminggu, maka keyakinan anda mengenai kesehatan dan perilaku anda sendiri akan memiliki hubungan yang konsonan antara satu sama lain. Hubungan disonan (dissonant relationship) berarti bahwa elemen-elemennya tidak seimbang satu dengan lainnya. Misal, seorang penganut agama Katolik yang mendukung hak perempuan untuk memiliki melakukan aborsi. Dalam kasus ini, keyakinan keagamaan orang itu berkonflik dengan keyakinan politiknya mengenai aborsi. Hubungan tidak relevan (irrelevant relationship) ada ketika elemen-elemen tidak mengimplikasikan apapun mengenai satu sama lain.
Pentingnya disonansi kognitif bagi peneliti komunikasi ditujukkan dalam pernyataan Festinger bahwa ketidaknyamanan yang disebabkan oleh disonansi akan mendorong terjadinya perubahan. Pengalamanan disonansi – keyakinan- keyakinan dan tindakan yang tidak sesuai atau dua keyakinan yang tidak cocok – adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, dan orang mempunyai motivasi tinggi
sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten
berakibat pada
mulainya disonansi
perubahan yang menghilangkan inkonsistensi
untuk menghindari hal tersebut. Dalam usaha mereka untuk menghindari perasaan disonansi, orang akan tidak menghiraukan pandangan yang berlawanan dengan pandangan yang mengubah keyakinan mereka agar sesuai dengan tindakan mereka (atau sebaliknya), dan/atau mencari hal yang dapat meyakinkan mereka kembali setelah membuat sebuah keputusan sulit (West & Turner, 2013: 139- 140).
Gambar 2.2
berakibat pada
dikurangi dengan
(Sumber: Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, Richard West & Lynn H. Turner, 2013)
2.2.3.2 Sumber Penyebab
Festinger (Ardiyani, 2012) menyebutkan dua situasi umum yang menyebabkan munculnya disonansi, yaitu ketika terjadi peristiwa atau informasi baru dan ketika sebuah opini atau keputusan harus dibuat, dimana kognisi dari tindakan yang dilakukan berbeda dengan opini atau pengetahuan yang
ransangan yang tidak menyenangkan
mengarahkan ke tindakan lain. Terdapat empat sumber penyebab munculnya disonansi, yaitu:
1. Inkonsistensi logika, yaitu logika berpikir yang mengingkari logika berpikir yang lain.
2. Nilai budaya, yaitu kognisi yang dimiliki seseorang di suatu budaya, kemungkinan akan berbeda di budaya lainnya.
3. Opini umum, yaitu disonansi mungkin muncul karena sebuah pendapat yang berbeda dengan yang menjadi pendapat umum.
4. Pengalaman masa lalu, yaitu disonansi akan muncul bila sebuah kognisi tidak konsisten dengan pengalaman masa lalunya.
2.2.3.3 Tingkat Disonansi
Terdapat tiga faktor yang mampu memengaruhi tingkat disonansi yang dirasakan seseorang menurut Zimbardo, Ebbesen, & Maslach (1977):
Kepentingan (importance), atau seberapa signifikan suatu masalah, berpengaruh terhadap tingkat disonansi yang dirasakan.
1. Rasio disonansi (dissonance ratio), atau jumlah kognisi disonan berbanding dengan jumlah kognisi yang konsonan.
2. Rasionalitas (rationale), rasionalitas yang digunakan individu untuk menjustifikasi inkonsistensi. Rasionalitas merujuk kepada alasan yang dikemukakan untuk menjelaskan mengapa sebuah inkonsistensi muncul. Makin banyak alasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesenjangan yang ada, maka makin sedikit disonansi yang seseorang rasakan.
2.2.3.4 Disonansi Kognitif dan Persepsi
Teori disonansi kognitif (West & Turner, 2013: 142) berkaitan dengan proses pemilihan terpaan (selective exposure), pemilihan perhatian (selective attention), pemilihan interpretasi (selective interpretation), dan pemilihan retensi (selective retention) karena teori ini memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi. Proses perseptual ini merupakan dasar dari penghindaran ini.
1. Terpaan selektif (selective exposure), metode untuk mengurangi disonansi dengan mencari informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
2. Perhatian selektif (selective attention), metode untuk mengurangi disonansi dengan memberikan perhatian pada informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
3. Interpretasi selektif (selective interpretation), metode untuk mengurangi disonansi dengan menginterpretasikan informasi yang ambigu sehingga informasi ini menjadi konsisten dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
4. Retensi selektif (selective retention), metode untuk mengurangi disonansi dengan mengingat informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
2.2.3.5 Mengatasi Disonansi Kognitif
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemui keadaan tidak nyaman ketika menghadapi situasi dimana kita harus berperilaku berbeda dengan sikap yang kita miliki. Biasanya kita akan berusaha megurangi ketidaknyaman tersebut dengan mengubah sikap atau perilaku kita untuk mencapai keseimbangan dalam diri kita (Ardiyani, 2012).
Tiga jenis mekanisme untuk mengurangi disonansi kognitif adalah sebagai berikut (Aronson, 1968; Festinger, 1957):
a. Mengubah sikap atau perilaku kita menjadi konsisten satu sama lain.
b. Mencari informasi baru yang mendukung sikap atau perilaku untuk menyeimbangkan elemen kognitif yang bertentangan.
c. Trivilization, mengabaikan atau menganggap ketidaksesuaian antara sikap atau perilaku yang menimbulkan disonansi sebagai suatu yang tidak penting.
2.2.4 Konsep Diri
2.2.4.1 Pengertian Konsep Diri
Kegiatan berkomunikasi tidak hanya dapat membentuk pandangan orang lain, tetapi juga membentuk pandangan diri sendiri melalui observasi penilaian dan gambaran diri. Konsep diri adalah pemahaman seseorang tentang dirinya sendiri, yang dibentuk melalui pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan. Konsep diri individu juga bukan bawaan dari lahir tetapi timbul akibat adanya pengalaman, persepsi dan hasil belajar yang dialami oleh setiap individu. Konsep diri seseorang terbentuk dari proses belajar.
Fitts (dalam Agustiani 2009: 138-139) menyatakan bahwa konsep diri adalah aspek penting dalam diri seseorang. Konsep diri seseorang merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Fitts menjelaskan konsep diri dalam fenomenologis, dan mengatakan bahwa ketika individu mempersepsikan dirinya, berinteraksi dan bereaksi terhadap dirinya, memberikan arti dan penilaian abstraksi tentang dirinya, maka ia menunjukkan suatu kesadaran diri (self awareness) dan kemampuan untuk keluar dari dirinya sendiri untuk melihat dirinya seperti yang ia lakukan terhadap dunia luar dirinya. Selain itu, Fitts juga mengatakan bahwa konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan mengetahui konsep diri seseorang, kita akan lebih mudah meramalkan tingkah laku individu berkaitan dengan gagasan-gagasan tentang dirinya sendiri.
Menurut Fitts, konsep diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:
1. Pengalaman, terutama pengalaman interpersonal, yang memunculkan perasaan positif dan perasaan berharga.
2. Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain.
3. Aktualisasi diri, atau implementasi dan realisasi dari potensi pribadi yang sebenarnya.
Disisi lain, Hurlock mengemukakan bahwa konsep diri adalah dari siapa dan apa dia itu. Konsep ini merupakan bayangan cermin, ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungan orang lain, apa yang kiranya reaksi orang terhadapnya. Konsep diri ideal adalah gambaran mengenai penampilan dan kepribadian yang didambakannya (Najwa, 2014).
Selanjutnya Rakhmat (2008) mengungkapkan bahwasannya konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antarpribadi, karena setiap orang bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya. Keberhasilan komunikasi antarpribadi banyak bergantung pada kualitas konsep diri seseorang dan konsep diri yang positif lahir pola perilaku komunikasi antarpribadi yang positif pula, yakni melakukan persepsi yang lebih cermat dan mengungkapkan petunjuk-petunjuk yang membuat orang lain menafsirkan seseorang dengan cermat pula. Komunikan yang memiliki konsep diri yang positif adalah orang-