PENYAJIAN DATA
4.1 Deskripsi Hasil Wawancara
Setelah peneliti melakukan penelitian dan melakukan wawancara dengan beberapa informan, maka dapat diperoleh beberapa informasi terkait Implementasi kebijakan peralihan pajak bumi dan bangunan perdesaan perkotaan PBB-P2 menjadi pajak daerah studi pada Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Pematangsiantar, antara lain :
1. Komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi oleh si pemberi pesan melalui media tertentu kepada si penerima pesan dengan tujuan tertentu. Salah satu cara untuk menyampaikan informasi adalah melalui komunikasi.
Komunikasi merupakan salah satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik, komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Implementasi yang efektif akan terlaksana, jika para pembuat keputusan mengetahui mengenai apa yang akan mereka kerjakan. Informasi yang diketahui para pengambil keputusan hanya bisa didapat melalui komunikasi yang baik.
Transmisi merupakan tahap awal penyaluran komunikasi. Dalam tahap awal ini merupakan bagian yang tidak boleh diabaikan oleh para penyampai pesan. Penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. Seringkali terjadi masalah dalam penyaluran komunikasi yaitu adanya salah pengertian yang disebabkan banyaknya tingkatan birokrasi yang harus dilalui dalam proses komunikasi, sehingga apa yang diharapkan tidak dapat berjalan dengan baik.
Dalam pelaksanaan kebijakan peralihan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan menjadi pajak daerah di Kota pematangsiantar dapat terlaksana apabila penyampaian informasi yang dilakukan itu baik, dimulai dari implementor hingga masyarakat sebagai objek yang terkena kebijakan.
Kasi penetapan dan penagihan:
“Sudah dilakukan sosialisasi ke masyarakat dan dilakukan sejak tahun peralihan PBB P2 yaitu pada tahun 2013 melalui kelurahan-kelurahan di Kota Pematangsiantar”.
Namun pernyataan diatas bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh Bapak Ronny Sinaga sebagai Kabid Pendapatan, beliau menyatakan bahwa belum ada melakukan sosialisasi. Sosialisasi masih berdasarkan media spanduk. Berikut pernyataan beliau :
“kita masih miskin sosialisasi, Sosialisasi yang dilakukan ke masyarakat masih menggunakan spanduk, namun sudah di sebarkan di setiap kelurahan.”
Hal senada juga disampaikan oleh salah satu wajib pajak PBB Kota Pematangsiantar Ibu Kamsia Simbolon warga Kecamatan Siantar Martoba yang belum mengetahui adanya kebijakan peralihan PBB-P2, berikut pernyataan beliau:
“setau saya tidak ada sosialisasi, saya hanya dengar dari orang-orang saja kalau sekarang bayar PBB di BPKD saja”.
Metode sosialisasi yang digunakan tak berhenti sampai disitu saja, BPKD Kota Pematangsiantar berencana akan melakukan berbagai metode sosialisasi yang lain. Seperti pernyataan yang disampaikan oleh informan kepada peneliti melalui wawancara berikut ini :
“Kami juga berencana untuk melakukan metode sosialisasi yang lain yaitu melalui mobil keliling, melalui radio dan juga melalui koran.”
Upaya yang telah dilakukan oleh BPKD Kota Pematangsiantar dalam hal memberikan sosialisasi terkait kebijakan peralihan PBB-P2 dari pusat ke daerah nampaknya masih belum maksimal dilakukan.
b. Kejelasan Komunikasi
Jika kebijakan ingin diimplementasikan dengan sebagaimana mestinya, maka petunjuk dari pelaksanaan tersebut tidak hanya harus dipahami, melainkan juga petunjuk itu harus jelas. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap informan terkait kejelasan dan pemahaman akan kebijakan peralihan PBB-P2 menjadi pajak daerah sudah sangat jelas. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Hamdani Lubis selaku kasi penetapan dan penagihan terkait pemahaman kebijakan peralihan PBB-P2 menjadi pajak daerah:
“Karena memang sudah amanat undang-undang peralihan tersebut mau tidak mau harus diterima daerah.jadi untuk dasar-dasar hukum dan peraturan terkait kebijakan tersebut ya kita mengadopsi dari peraturan kementrian keuangan, serta undang-undang nomor 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah selanjutnya kita sesuaikan dengan kondisi daerah dengan mengeluarkan peraturan daerah kota Pematangsiantar nomor 6 tahun 2011 tentang pajak daerah. Perda tersebut juga menjadi acuan petugas dalam melaksanakan tugasnya dilapangan.”
Dalam pelaksanaan kebijakan peralihan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan komunikasi merupakan hal yang penting, para pelaksana kebijakan harus mengetahui apa yang mereka kerjakan dan apa yang harus dilakukan. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi tugas mereka, maka keputusan-keputusan maupun dasar hukum lainnya harus jelas.
Pada kebijakan peralihan PBB-P2 menjadi pajak daerah, secara internal Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Pematangsiantar yang mengelola PBB-P2 adalah bidang pendapatan berikut dengan seksi pendaftaran dan pendataan, seksi penetapan dan penagihan, serta seksi evaluasi dan pelaporan. Berikut pernyataan dari Bapak Ronny Sinaga sebagai Kepala bidang pendapatan :
“Kita di BPKD yang mengelola PBB-P2 mulai dari pendaftaran, pendataan hingga pelaporan yaa bidang pendapatan”.
c. Konsistensi
Segala aturan dari kebijakan peralihan PBB-P2 menjadi pajak daerah telah tertulis dengan jelas, dimana kesemua peraturan tersebut sudah jelas dan tidak ada
yang diubah-ubah dimulai dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 10 Tahun 2014 Tentang Tahapan Persiapan dan Pelaksanaan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai Pajak Daerah hingga Peraturan Daerah Kota Pematangsiantar Nomor 6 tahun 2011 Tentang Pajak daerah.
2. Sumber Daya
Sumber daya merupakan unsur terpenting dalam keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Karena sumber daya merupakan syarat berjalannya suatu organisasi. Sebuah implementasi akan sulit dilaksanakan apabila sumber daya yang ada di dalam organisasi tersebut tidak memadai dari segi kuantitas maupun kualitas. Sama halnya dengan keberhasilan kebijakan peralihan PBB-P2 menjadi pajak daerah tidak terlepas dari sumber daya yang ada. Sumber daya memiliki empat indikator dalam mempengaruhi implementasi kebijakan yaitu staf, informasi, wewenang dan fasilitas. Pada bagian berikut akan dibahas mengenai empat indikator sumber daya tersebut.
a. Staf
Staf merupakan sumber daya paling penting yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan dalam suatu implementasi kebijakan. Jumlah SDM/staf harus memadai secara jumlah sesuai kapasitas yang dibutuhkan serta memiliki kemampuan atau skill yang mumpuni di bidangnya.
Dalam pelaksanaan kebijakan peralihan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan menjadi pajak daerah tentunya membutuhkan sumber
daya manusia yang cukup memadai untuk mencapai keberhasilan peralihan PBB-P2.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap informan. Pemenuhan sumber daya manusia merupakan salah satu kendala yang dihadapi BPKD Kota Pematang siantar dalam proses peralihan PBB-P2. Karena untuk saat ini jumlah sumber daya manusia yang ada di BPKD Kota Pematangsiantar belum cukup, baik itu secara kualitas maupun kuantitas. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Ronny Sinaga selaku Kepala Bidang Pendapatan BPKD Kota Pematangsiantar
“Kendala yang dihadapi dalam proses peralihan PBB P2 ini yaitu kebutuhan Sumber Daya Manusia yang belum cukup. BPKD Kota Pematangsiantar masih membutuhkan beberapa tenaga seperti di bagian penilaian dan programmer untuk mengolah data PBB-P2”.
Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan ataupun skill pegawai, BPKD akan mengirimkan pegawainya untuk melakukan pelatihan dalam pengelolaan PBB-P2 sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak Ronny Sinaga sebagai berikut :
“Terkait SDM dalam kebijakan peralihan ini pastinya kami mengirimkan minimal dua orang untuk pelatihan dan itu tergantung dengan pelatihan yang kita butuhkan . biasanya yang kita butuhkan yaitu menambahi kualifikasi penilai dan memperdalam kemampuan admin komputer sampai dia kepada kemampuan programmer. Sehingga kita tidak perlu lagi mencari orang pihak ketiga. Karena pada saat ini kami masih menggunakan pihak ketiga sebagai programmer”.
Hal senada juga disampaikan oleh Bapak Leonard Oloan selaku staf bidang pendapatan :
“kita juga mempersiapkan SDM melalui kursus kursus yang dibuka oleh kementrian keuangan untuk pengelolaan PBB dan juga sedang kita persiapkan untuk operator dan programmernya”.
Berikut ini merupakan data yang diterima oleh peneliti terkait jumlah sumber daya manusia yang terdapat di BPKD Kota Pematangsiantar khususnya bidang pendapatan yang bertugas mengelola pemungutan PBB-P2 :
Tabel 4.1 Jumlah pegawai BPKD Kota Pematangsiantar Bidang Pendapatan
No. PANGKAT GOLONGAN JUMLAH
1. III/D Penata Tk. 1 1
2. III/B Penata Muda Tk. 1 4
3. III/A Penata Muda 3
4. II/C Pengatur 1
5. II/B Pengatur Muda Tk.1 3
6. Tenaga harian lepas - 6
JUMLAH 19
Sumber data : BPKD Kota Peamatangsiantar
b. Informasi
Informasi yang baik dan sesuai dengan semua pihak tentu akan mendukung keberhasilan implementasi kebijakan peralihan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) dari pusat ke daerah.
Kota pematangsiantar merupakan salah satu kota terbaik di sumatera utara terkait pelaksanaan implementasi kebijakan peralihan PBB-P2 dari pusat ke daerah. Sesuai dengan pernyataan yang diberikan oleh Bapak Hamdani Lubis sebagai Kasi penetapan dan penagihan:
“kalau tentang implementasi PBB P2 di kota Pematangsiantar dibandingkan kota-kota lain di Sumatera Utara kita lah yang terbaik. Dengan indikator secara administrasi dan secara pemungutan sudah berhasil dilaksanakan dengan perbandingan dilihat dari target yang telah ditetapkan. Dimana pada tahun 2016 realisasinya sudah mencapai 90%.”
Hal ini juga sesuai dengan data sekunder yang didapat oleh peneliti, yaitu data realisasi penerimaan PBB-P2 dari tahun 2013 hingga 2016 :
DATA REALISASI PENERIMAAN PBB-P2 KOTA PEMATANGSIANTAR SETELAH TAHUN PERALIHAN
Tabel 4.2 Data Realisasi Penerimaan PBB-P2 Kota Pematangsiantar
TAHUN Target PBB-P2 Realisasi PBB-P2 Persen (%)
2013 7.333.745.859 936.058.740 12%
2014 7.557.247.432 1.390.083.707 18%
2015 7.781.604.503 2.255.242.114 28%
2016 7.905.741.010 5.131.506.907 64%
JUMLAH 7.386.749.021 93%
Sumber data : Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Pematangsiantar
Apabila dilihat dari tabel diatas penerimaan PBB-P2 meningkat tajam pada tahun 2016. Sangat berbeda apabila dibandingkan dengan tahun pertama
mulai peralihan yaitu tahun 2013. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan oleh BPKD Kota Pematangsiantar dalam pemungutan PBB-P2 semakin membaik.
c. Wewenang
Segala tugas dan wewenang dari semua pihak yang terkait di dalam Implementasi Kebijakan Peralihan PBB-P2 Menjadi Pajak Daerah di Kota Pematangsiantar ini sudah jelas tercantum didalam dasar hukum :
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
2. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 10 Tahun 2014 Tentang Tahapan Persiapan dan Pelaksanaan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai Pajak Daerah
3. Peraturan Daerah Kota Pematangsiantar Nomor 6 tahun 2011 Tentang Pajak daerah
4. Peraturan walikota nomor 16 tahun 2013 tentang pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
d. Fasilitas
Fasilitas merupakan salah satu penunjang keberhasilan implementasi kebijakan. Sumber daya peralatan seperti gedung, tanah dan sarana semuanya akan memudahkan dalam memberikan pelayanan dalam implementasi kebijakan.
Terbatasnya fasilitas tidak dapat mendorong motivasi pelaku kebijakan dalam melaksanakan tugasnya.
Namun dalam menyiapkan dan menyediakan berbagai fasilitas yang akan mendukung BPKD dalam melakukan tahap peralihan PBB-P2 seperti kegiatan pendataan, penilaian, penagihan, penerimaan hingga pelayanan tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu Pemerintah Kota Pematangsiantar pada tahun 2013 telah menganggarkan ke dalam APBD untuk kebijakan peralihan PBB-P2 ini. Seperti yang dikatakan informan kepada peneliti : “jadi semua kegiatan proses peralihan PBB-P2 dari pusat ke daerah sudah ada biayanya, sudah kita anggarkan ke dalam APBD. Jadi akan kita gunakan semaksimal mungkin untuk berbagai kegiatan perencanaan hingga pelaksanaannya.”
Dalam mengoptimalkan potensi pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan terkait proses administrasi, maka komponen penting yang harus dipenuhi adalah sarana dan prasarana yang memadai. Sarana prasarana ini terdiri dari ruangan atau gedung yang digunakan sebagai tempat para pegawai yang menjalankan tugas pemungutan PBB P2 dan peralatan yang digunakan oleh pegawai untuk mengelolah PBB P2 ini.
BPKD memberikan salah satu ruangan yang ada dikantor BPKD kota Pematangsiantar untuk dijadikan tempat para pegawai dalam mengolah pemungutan PBB P2. Adapun peralatan yang dibutuhkan dalam pengelolaan PBB P2 yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang memadai. Untuk perangkat keras yang terdapat di BPKD untuk pengelolaan PBB
P2 sudah tersedia dan dimiliki oleh Bidang Pendapatan yang bertugas mengelola pemungutan PBB-P2.
Tabel 4.3. Daftar Perangkat keras Pengelolaan PBB-P2 yang dimiliki BPKD
No. Nama Perangkat Keras Jumlah
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.
Unit Power Supply Handy Cam Personal Computer (PC) Laptop Printer Server Kamera Network Scanner
GPS (Global Positioning System) Alat ukur
Mesin kas register
3 buah 1 buah 11 buah 5 buah 8 buah 1 buah 2 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah Sumber data : BPKD Kota Pematangsiantar
Dalam tahap peralihan PBB-P2 dari pusat ke daerah, BPKD tidak hanya menyiapkan perangkat keras (hardware) namun juga menyiapkan sistem perangkat lunak (software) berupa sebuah sistem yaitu aplikasi SISMIOP (Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak), berikut adalah pernyataan yang disampaikan oleh informan yaitu Bapak Leonard Oloan sebagai staf bidang pendapatan kepada peneliti terkait aplikasi SISMIOP tersebut :
”Selain itu kita juga sudah menyiapkan sistem dalam bentuk aplikasi yaitu SISMIOP namanya. Dimana aplikasi ini bisa melakukan pembayaran, pengelolaan data dan lain sebagainya. Kebetulah di Indonesia aplikasi ini sama”
Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) merupakan sistem pengelolaan pangkalan data PBB mulai dari identifikasi dan registrasi objek dan wajib pajak, penentuan nilai objek pajak, penghitungan pajak yang terhutang, pemungutan pajak dan pelayanan. Sistem tersebut dioperasikan melalui bantuan komputer.
Dalam proses peralihan PBB-P2 ke daerah, BPKD Kota Pematangsiantar tidak hanya menyiapkan hardware dan softwareuntuk mengelola PBB-P2. Namun BPKD memberikan fasilitas tambahan dalam proses pemungutan PBB-P2 di Kota Pematangsiantar untuk mengoptimalkan pemungutan PBB-P2. Fasilitas yang disiapkan oleh BPKD Kota Pematangsiantar yaitu mobil keliling pelayanan pembayaran PBB-P2.
Berikut pernyataan Kasi Penetapan dan Penagihan Bapak Hamdani Lubis :
“jadi kita sudah sediakan dua unit mobil keliling untuk meningkatkan pelayanan PBB-P2 yang sudah ada sejak tahun 2016”.
Gambar 4.1 Mobil Layanan Keliling Pembayaran PBB-P2
Gambar 4.2 Mobil Keliling berada di Kecamatan Siantar Marihat
Sejak dilakukannya peralihan PBB-P2 menjadi pajak daerah pemerintah daerah Kota Pematangsiantar gencar dalam melakukan proses pemungutan agar dapat mengoptimalkan penerimaan PBB-P2. Mengingat PBB-P2 merupakan pajak daerah dimana pendapatan yang diterima dari pemungutan PBB-P2 sepenuhnya
akan masuk ke kas daerah. Tentunya hal ini merupakan suatu potensi yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh Pemerintah Kota Pematangsiantar. Oleh karena itu dalam meningkatkan pelayanan dalam pemungutan PBB-P2, BPKD Kota Pematangsiantar telah menyediakan dua unit mobil keliling pelayanan PBB-P2 yang telah diluncurkan sejak 2016 lalu.
3. Struktur Birokrasi
Birokrasi menjadi salah satu organisasi yang paling sering menjadi pelaksana kebijakan. Menurut Edward ada dua karakteristik utama dari birokrasi, yaitu prosedur-prosedur kerja atau Standar Operasional Prosedur(SOP) dan fragmentasi. SOP merupakan pedoman pelaksanaan kebijakan bagi setiap implementor. SOP mampu menyeragamkan tindakan-tindakan dari organisasi yang kompleks dan tersebar luas.
a. Standar Operasional Prosedur (SOP)
SOP merupakan peraturan dan petunjuk yang ada di organisasi dan menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. Dalam mengimplementasikan kebijakan peralihan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan menjadi pajak daerah, BPKD Kota Pematangsiantar sudah mempunyai standar operasional prosedur secara resmi. Maka dari itu segala bentuk pelayanan pengurusan PBB-P2 di BPKD kota Pematangsiantar sudah diatur terkait apa saja yang menjadi syarat administratif dalam pengurusan PBB-P2. Didalam SOP tersebut juga sudah jelas dicantumkan berapa waktu yang seharusnya diperlukan pada setiap penyelesaian urusan pelayanan. Selain itu juga
tercantum pihak-pihak mana saja yang ikut terlibat dan bertanggung jawab pada setiap pelayanan masing-masing.
Seperti kutipan wawancara dengan Pak Hamdani Lubis Selaku Kasi Penetapan dan Penagihan berikut ini :
“Karena pegawai disini bekerja berdasarkan SOP yang berlaku, dimana SOP ini diangkat dari perda No 6 2011 tentang pajak daerah. Karena dilapangan juga masyarakat ataupun wajib pajak menanyakan apa ini pajak dan untuk apa gunanya pajak ini”.
Sejak tahun peralihan PBB-P2 menjadi pajak daerah, BPKD telah melakukan berbagai bentuk pelayanan yang meliputi sebagai berikut :
1. Penerbitan SPPT PBB-P2 2. Pemecahan SPPT PBB-P2 3. Mutasi objek pajak PBB-P2 4. Pembetulan SPPT PBB-P2 5. Keberatan PBB-P2
6. Pengurangan PBB-P2 terutang 7. Pembatalan SPPT
b. Fragmentasi
fragmentasi merupakan penyebaran tanggung jawab suatu kebijakan kepada beberapa badan yang berbeda sehingga memerlukan koordinasi. Pada umumnya, semakin besar koordinasi yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan, semakin berkurang kemungkinan keberhasilan program atau kebijakan. Dalam hal ini BPKD Kota Pematangsiantar telah bekerjasama dengan beberapa
lembaga/instansi dalam proses peralihan PBB-P2, berikut adalah pernyataan dari informan terkait kerjasama yang dilakukan oleh BPKD dengan instansi/lembaga lain:
“kita sudah melakukan kerjasama dengan KPP Pratama, untuk KPP Pratama kita melakukan bimbingan terkait pengolahan data PBB-P2. Seperti peta PBB-P2 dalam bentuk soft copy, data objek dan subjek PBB-P2, data piutang dan pendampingan proses pelaksanaan PBB-P2. Karena masih ada data yang diadopsi dari KPP-Pratama dimana objek/subjek pajak yang tidak sesuai dengan fakta dilapangan. Oleh karena itu BPKD melakukan updating data yang didampingi oleh KPP Pratama.”
Tak hanya dengan KPP Pratama, BPKD Kota Pematangsiantar juga melakukan kerjasama dengan kantor pertanahan dan Notaris :
“dalam hal pengurusan sertifikat kita menjalin kerja sama dengan kantor pertanahan dan notaris”.
Meskipun dalam proses peralihan PBB-P2 dari pusat ke daerah sudah dilaksanakan dengan melakukan kerjasama ke beberapa instansi/lembaga terkait. Namun dalam proses memudahkan pemungutan PBB-P2 yang dilakukan BPKD belum sepenuhnya optimal, karena BPKD Kota Pematangsiantar belum melakukan kerjasama dengan Bank Daerah yang ada di Kota Pematangsiantar, berikut pernyataan informan :
“untuk memudahkan proses pemungutan kita belum menjalin kerja sama dengan pihak Bank Daerah. Rencana awal memang sepert itui, kita telah
mengajukan proses pemungutan ke Bank Sumut, tapi sampai sekarang belum ada tangapan. Padahal sudah dari tahun lalu kita ajukan itu.”
Tidak berhenti sampai disitu saja, BPKD akan mencari jalan lain untuk memudahkan proses pemungutan PBB-P2. Berikut pernyataan informan :
“kalau tidak ada tanggapan lagi kami rencana akan beralih ke kantor pos ataupun indomaret untuk melaksanakan kemudahan pemungutan PBB-P2 ini”.
4. Disposisi Implementor
Disposisi merupakan sikap dan kepribadian para implementor dalam menjalankan tugasnya. Jika para pelaksana mempunyai kecenderungan atau sikap positif atau adanya dukungan terhadap implementasi kebijakan maka terdapat kemungkinan yang besar implementasi kebijakan akan terlaksana sesuai dengan keputusan awal. Demikian sebaliknya, jika para pelaksana bersikap negatif atau menolak terhadap implementasi kebijakan karena konflik kepentingan maka implementasi kebijakan akan menghadapi kendala yang serius.
Dalam pelaksanaan kebijakan peralihan PBB-P2 menjadi pajak daerah di kota pematangsiantar tentunya harus ada pengawasan yang dilakukan oleh implementor. Berikut adalah pernyataan yang disampaikan oleh informan yitu Bapak Ronny Sinaga sebagai Kabid Pendapatan BPKD yang menanggungjawabi pengelolaan PBB-P2 terkait sikap implementor dalam menyikapi kebijakan tersebut :
“bagaimana kepedulian walikota terhadap PBB tentunya peduli. Karena sekali tiga bulan kami melakukan evaluasi yang mana kelurahan yang masih belum bagus realisasinya pasti akan ditanyakan oleh walikota”
Hasil wawancara dengan Bapak Hamdani Lubis sebagai Kasi Penetapan dan penagihan juga memperkuat pernyataan dari Bapak Kabid Pendapatan:
“Pengecekan rutin juga dilakukan namun hanya bersifat administratif, maksudnya walikota mengontrol melalui surat surat yang disampaikan BPKD ke kelurahan dan kecamatan”.
BAB V