• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: METODE PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.3 Deskripsi Informan

Peneliti memberikan gambaran secara umum mengenai kesembilan informan yang telah melakukan wawancara untuk penelitian ini. Kesembilan informan ini terdiri dari tujuh orang pengunjung kafe Bangi Kopi, pihak pengelola kafe Bangi Kopi, serta dua orang seniman mural kota Medan dan seorang Arsitek.

Informan I

Reza Arif Triputra atau yang suka dipanggil Tejok adalah informn pertama peneliti, Tejok merupakan seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Saat ini Tejok sedang menikmati masa liburanya setelah melakukan perjuangan keras sebagai mahasiswa UMSU. Peneliti menghampiri meja yang diduduki oleh Tejok dan beberapa temannya dan menanyakan apakah Tejok bersedia menjadi salah satu informan peneliti pada saat itu dan dengan santai Tejok sangat bersedia.

Saat bertemu dengan Tejok, peneliti melihat tampilan Tejok sebagai seorang mahasiswa bersama dengan beberapa temannya.

Terlihat dengan gaya nya yang Hypster dan potongan rambut yang pomade banget. Tejok sepertinya orang yang suka bercengkrama.

Tidak heran jika ia juga menanyakan informasi mengenai profil peneliti.

Pada saat melakukan wawancara, Tejok cukup menjawab pertanyaan peneliti dengan sangat sopan dan baik, sebagai informan pertama peneliti merasa cukup dengan jawaban dari pertanyaan yang peneliti ajukan kepada tejok sebagai informan pertama.

Informan II

Hardi Nurisfan atau yang akrab di panggil Hardoy, adalah salah seorang mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (Yogyakarta) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Jurusan Manajemen) yang sedang berlibur kembali ke kota asalnya yaitu kota Medan. Sambil membakar sebatang rokok hardi menyikapi pertanyaan dari peneliti dengan komunikasi yang baik pula.

Tidak ada logat Yogyakarta dalam pribahasanya. Medan yang sangat melekat pada dirinya tidak mengubah cara berbicaranya dengan peneliti.

Dengan gaya nya dapat dikatakan sangat rapi terlihat dari kacamatanya saja dia adalah anak yang santun dan pekerja keras.

Peneliti mencoba untuk menanyakan kepada Hardoy apakah ia bersedia untuk menjadi informan selanjutnya oleh peneliti. Hardoy pun menyetujui untuk menjadi informan kedua peneliti. Sebelum melakukan wawancara, peneliti memberikan gambaran singkat mengenai pertanyaan yang akan peneliti ajukan. Setelah cukup mengerti, wawancara pun dilanjutkan kepada Hardoy sebagai informan kedua peneliti.

Informan III

Yanda Khalisa Lubis atau yang akrab dipanggil Yeyen adalah seorang mahasiswi Fakultas Pertanian dan Agroteknologi di Universitas Andalas kota Padang. Saat ini Yanda telah menyelesaikan studinya dari Universitas Andalas. Yeyen yang berusia 22 tahun ini adalah salah seorang teman peneliti dimana yang peneliti ketahui, Yeyen cukup sering mengunjungi Bangi Kopidan salah satu. Sebelumnya, Yeyen telah menyetujui untuk menjadi salah satu informan peneliti.

Terlihat jelas dengan penampilan nya yang hijabers, Yeyen dengan baju kaos tangan panjangnya terlihat malu- malu dan jadi salah tingkah ketika diajak untuk diwawancara oleh peneliti, terlihat jelas dari wajahnya yang pemalu dan menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa menahan ejekan candaan dari teman- teman

disebelahnya. Sebelum melakukan wawancara, peneliti menjelaskan sedikit mengenai gambaran pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukaan oleh peneliti. Setelah informan cukup memahami, wawancara dengan informan kelima pun dilaksanakan. Yeyen adalah informan pertama peneliti perempuan dimana kedua informan peneliti sebelumnya baik informan pertama dan informan kedua adalah laki-laki.

Informan IV

Auliya Haifz atau yang biasa dipanggil Londo ini merupakan informan keempat peneliti. Londo merupakan Mahasiswa di Universitas Islam Indonesia yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan S2 nya di Universitas Gajah Mada. Londo terlihat lebih santai duduk dengan coklat panasnya sambil mengobrol santai dengan teman perempuan nya mengenai oleh- oleh bolu meranti yang akan dibeli nya untuk dibawa pulang ke Yogyakarta sebagai buah tangan dari kota Medan sebelum kembali melanjutkan pendidikan nya di Universitas Gajah Mada.

Seperti informan lainnya, ini adalah kali kedua Londo singgah ke Bangi Kopitiam ketika balik ke kota Medan.

Londo terlihat santai dengan baju kaos nya. Sebelum meminta persetujuan Londo untuk menjadi informan selanjutnya sebagai informan keempat, peneliti menjelaskan sedikit poin-poin yang akan ditanyakan kepada Londo sebagai informan sebelum melakukan wawancara. Setelah mendapat persetujuan Londo untuk menjadi informan peneliti. Wawancara berlangsung tidak terlalu lama, londo sebagai informan keempat dapat memberikan jawaban yang baik dan berhasil menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

Dalam hal ini jawaban yang diberikan Londo hampir sama seperti jawaban yang diberikan oleh infrorman-informan sebelumnya baik informan pertama, informan kedua dan informan ketiga.

Informan V

Hamdan Azhari Harahap atau yang biasa dipanggil Hamdan, adalah seorang Driver Grab Car ini juga merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Namun dengan keterbatasan waktu dan biaya. Hamdan mencoba untuk menggambil cuti dalam jangka waktu setahun lamanya.Hamdan terlihat santai dengan mengenakan baju kaos. Hamdan terlihat sangat santai dan kocak pada saat berbicara, diman Hamdan merupakan orang yang sangat menghibur pada saat itu. Setiap ucapan nya sangat terlihat lucu dan menarik untuk didengar. Peneliti menanyakan persetujuan Hamdan untuk menjadi salah satu informan penelitiannya yaitu dalam hal ini informan kelima peneliti.

Hamdan dengan santai menyetujui untuk menjadi informan selanjutnya peneliti, yaitu informan kelima. Setelah menjelaskan sedikit tentang poin-poin yang akan ditanyakan, Hamdan pun bersedia untuk melakukan wawancara. Wawancara dengan Hamdan berlangsung cukup lama dikarenakan Hamdan lebih banyak bercandanya dalam wawancara ini. Bayangkan saja Hamdan sering menanyakan hal yang keluar dari konteks wawancara kepada peneliti. Namun pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dijawab dengan baik oleh Hamdan sebagai informan kelima. Dalam hal ini peneliti sudah cukup puas karena jawaban yang diberikan oleh informan kelima sama halnya dengan jawaban keempat informan sebelumnya baik itu informan pertama, informan kedua, informan ketiga dan informan keempat.

Informan VI

Informan keenam peneliti merupakan pihak pengelola Bangi Kopi di jalan Juanda ini bernama ibu Zaitun, ibu Zaitun yang ditemui pada tanggal 7 oktober 2018 ini sangat ramah kepada peneliti,

kesederhanaan nya menggunakan jilbab hitam dan baju lengan panjang bermotifkan garis garis dan pola penuh warna-warni ini mempersilahkan peneliti untuk berbicara mengenai hal apa yang dapat dibantu oleh nya dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah peneliti.

Ibu Zaitun sebagai pihak pengelola kedua setelah pergantian pengelola pada tahun 2017 lalu ini sedang melanjutkan pendidikan S3 nya di PSL sekolah pasca sarjana setelah menyelesaikan pendidikan S2 nya di FKM (Managemen Kesehatan Industri di Universitas Sumatera Utara, ibu Zaitun sangat ramah tamah terhadap peneliti, terlihat jelas bahwa ibu Zaitun menyempatkan diri untuk berbincang dan menceritakan gimana isi didalam Bangi Kopi ini.

Ibu Zaitun tidak keberatan jika Bangi Kopi dijadikan sebagai bahan penelitian yang bermanfaat untuk pendidikan.

Informan VII

Informan ketujuh peneliti adalah salah satu seniman mural di Kota Medan, Seniman mural bernama Rasoki Ramadhan yang ditemui dirumahnya dijalan Sei Mati Gang Alfajar ini sangat ramah dan baik, Oki menyempatkan diri untuk pergi ke daput dahulu untuk membuatkan peneliti minuman untuk teman berbicara pada saat itu. Oki telah menggeluti seni sejak ia mulai bisa mewarnai buku gambar sejak kelas 6 Sekolah Dasar. Kegemaran kepada seni beranjak dewasa hingga saat ini, Rasoki Ramadhan yang sering disapa Oki mempunyai hobi yang cukup menghabiskan waktu bermain nya. Dimasa remajanya dia habiskan untuk melakukan aktifitas yang postif menjadi seniman mural.

Rasoki Ramadhan yang merupakan tamatan bahasa Perancis di Universitas Negeri Medan ini memiliki keterbatasan waktu untuk berkarya lebih bebas lagi dikarenakan kontrak kerja nya pada perusahaan bank

swasta belum selesai, tidak adanya waktu luang untuk melakukan aktifitas mural dijalanan atau menerima permintaan mural membuat.

Informan VIII

Peneliti melakukan wawancara kepada seniman mural lainya yang masih aktif, Teguh Kharyanda yang merupakan seniman mural yang kedua selain Rasoki Ramadhan. Teguh Kharyanda yang sedang naik daun saat ini hanya bisa di wawancarai menggunakan media pesan Whatsapp, hal ini dikarenakan pria yang telah menyelesaikan pendidikan S1 nya di Seni Rupa Universitas Negeri Medan ini sedang sibuk untuk menyelesaikan project muralnya bersama perusahan swasta Wiraland Property Group.

Informan IX

Dewasa ini dekorasi pada suatu tempat singgah untuk menikmati hidangan seperti kafe dan restaurant banyak berlomba – lomba mengkonsepkan suatu ide gagasan terhadap tempat mereka yang suka berbisnis kuliner, konsep yang sedikit mewah dan mencolok sangat diminati ole kalangan masyarakat kota medan saat ini sebagai gaya hidup mereka dalam kehidupan sosial. Dalam penelitian ini, peneliti tidak lupa untuk melakukan wawancara terhadap seseorang pemerhati ruang arsitektur yaitu Kevin H Widjaja. Kevin yang telah menyelesaikan pendidikan S1 nya sebagai Arsitek di Universitas Sumatera Utara yang di temui pada studio foto nya di jalan Darat 101 ini menyempatkan diri dan bersedia untuk di wawancarai oleh peneliti mengenai komunikasi visual mural pada kafe Bangi Kopi.

Peneliti melakukan wawancara terhadap ke sembilan informan mengenai judul peneliti yaitu Penggunaan Komunikasi Visual Mural Pada

Kafe (Analisis Kualitatif Penggunaan Komunikasi Visual Mural Pada Kafe Bangi Kopi Medan).

4.1.4 Karakteristik Informan

Perempuan 22 Tahun Mahasiswa Jl Eka Surya 8

Perempuan 39 Tahun Pengelola kafe Bangi

Hasil Wawancara

4.1.5 Hasil Wawancara dan Observasi

Setelah data diperoleh dari hasil wawancara dengan para informan, peneliti akan mengolah data yang di dapat dengan cara mengklarifikasikan jawaban dari hasil wawancara dan pengamatan berdasarkan tujuan dan kebutuhan masing – masing penelitian ini.

4.1.5.1 Hasil wawancara dan observasi dengan pihak pengelola kafe Bangi Kopi Medan

Peneliti melakukan proses wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pihak pengelola Bangi Kopi yang merupakan informan yang berperan penting dalam penelitian ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut yaitu:

A. Penjelasan mengenai kafe Bangi Kopi

Berdasarkanhasil wawancara, pertama-tama peneliti menanyakan informasi mengenai Bangi Kopi kepada pihak pengelola Bangi Kopi yaitu ibu Zaitun. Ibu Zaitun menjelaskan sedikit informasi mengenai Bangi Kopi.

“Bangi Kopi di jalan Juanda ini merupakan franchise dari pusat yang ada di Jakarta, Bangi Kopi adalah kafe yang cukup besar dan memiliki nama yang cukup terkenal di Asia.

Konsep Bangi Kopi selalu sama seperti di tempat lainya.”

Ibu muda ini mengatakan bahwa Bangi Kopi yang dikelolanya hanya mengikuti aturan franchisedari pusat.

“Jadi desain Bangi Kopi itu desain arsitekturnya yang heritage dan klasik serta natural , jadi pengunjung bisa lebih nyaman. Alasan Bangi Kopi mengusung konsep rumahan

agar pengunjung nyaman seperti dirumah, bisa menikmati makanan sederhana di kafe setara restaurant ini nyaman serta sajian menu yang rumahan juga.”,

Ibu Zaitun mengatakan bahwa membuat konsep rumahan pada menu agar pengunjung atau masyarakat luar tidak takut untuk berkunjung karena harga menu yang relatif murah, ibu Zaitun juga menjelaskan bahwa,

“Konsep sebelumnya pada menu membuat pengunjung menilai bahwa harga makanan dan minuman di Bangi Kopi cukup mahal. Sehingga saya mengkonsepkan kembali menu tambahan sebagai menu yang dapat mengubah pola pikir pengunjung terhadap harga menu.”

B. Perawatan terhadap mural yang ada di kafe Bangi Kopi

Selanjutnya peneliti bertanya mengenai perawatan terhadap seni kontemporer mural yang ada di kafe Bangi Kopi dan menayakan siapakah seniman mural yang bekerjasama dengan kafe Bangi Kopi.

“Untuk mural disini itu setiap 6 bulan sekali pasti ada perawatan, baikdari penambahan desain maupun mengubah gambar pada mural nya. Mural yang ditampilkan merupakan karya dari seniman mural dari Jakarta langsung untuk turun kemari, jadi seniman mural nya itu sudah lama bekerjasama dengan pihak pusat Bangi Kopi yang di Jakarta.”

C. Kafe Bangi Kopitiam lain di kota Medan selain di jalan Juanda Kemudian peneliti menanyakan pertanyaan mengenai outlet lain Bangi Kopi selain yang berada di simpang jalan Ir.Juanda simpang Polonia.

“Kalau untuk outlet Bangi Kopitiam di kota Medan ada juga yang berada di Medan Fair di jl. Gatot Subroto Medan serta di Airport Bandara Kualanamo.”

D. Alasan mengubah nama menjadi kafe Bangi Kopi yang sebelumnya kafe ini bernama kafe Bangi Kopitiam Juanda

Pada saat peneliti melakukan observasi pertama kali pada bulan juli tahun 2017 lalu, peneliti melihat bahwa nama awal bisnis kuliner ini adalah Bangi Kopitiam Juanda, ketika peneliti melakukan observasi kedua pada bulan oktober 2018 peneliti melihat adanya perubahan pada nama Bangi Kopitiam Juanda menjadi Bangi Kopi.

“Alasan nya jadi begini, Bangi Kopi merupakan nama yang sudah sedikit mengalami perubahan , dimana nama kafe pertama Bangi Kopi adalah Bangi Kopitiam Juanda.

Peraturan dari pusat sebagai franchise harus ditaati sebagai acuan untuk tetap menjalankan bisnis kuliner ini.

Jadi saya takut nantinya akan terjadi kesalahpahaman terhadap hukum atas penggunaan nama yang tidak bisa saya jelaskan lebih ini, dan akhirnya saya memutuskan untuk mengubah sedikit nama kafe yang dikelolanya menjadi Bangi Kopi. Tidak ada perubahan konsep dari Bangi Kopi baik dari menu, desain arstitektur maupun furniture maupun makanan dan minumanya. Bangi Kopi tetap seperti Bangi Kopi tiam lainya, hanya pengurangan kata Tiam nya saja yang saya hilangkan.”

4.1.5.2 Hasil wawancara dengan seniman mural kota Medan pertama

Selain melakukan proses wawancara dengan pihak pengelola Bangi Kopi, peneliti juga melakukan wawancara dengan seniman mural kota Medan mengenai

penggunaan seni kontemporer mural sebagai media komunikasi visual kafe Bangi Kopi.

A. Pandangan seniman mural mengenai kafe Bangi Kopi yang menggunakan komunikasi visual mural sebagai minat kunjung.

Dalam wawancara dengan seniman mural bernama Rasoki Ramadhan ini peneliti menanyakan sudut pandangnya terhadap kafe Bangi Kopi yang meggunakan mural sebagai media komunikasi visual untuk menarik minat pengunjung.

“Mural sebagai strategi bisnis sekarang sudah menjadi hal yg umum, karena banyak orang yg berkunjung ke kafe, pada umumnya cuma menikmati makanan atau ngopi-ngopi saja, namun pemilik kafe atau tempat usaha lainnya berusaha membuat suatu hal menarik bukan hanya untuk makan dan minum.”

B. Pengaruh mural terhadap minat kunjung Bangi Kopi.

Peneliti juga menanyakan efektivitas dan pengatuh yang ditimbulkan oleh seni kontemporer mural sebagai media komunikasi visual kafe Bangi Kopi dalam mendapatkan minat kunjung.

“Cukup besar untuk saat ini , Awalnya mural di aplikasikan di suatu tempat usaha supaya lebih menarik itu pada tahun 2014, dia mengatakan bahwa muralnya Teguh Kharyanda (seniman mural) di kafe Thirty Six di Jalan Multatuli nomor 36 itu jadi yg paling terkenal. Sehingga hal itu pula saya sebagai pemural kota Medan mendapatkan imbas positif saat itu, saya sering mendapatkan project – project mural pada kafe – kafe lain yang berada di kota Medan. Selain itu mural juga tidak

digunakan hanya pada dinding – dinding yang ada di kafe – kafe lain, melainkan penggunaan mural ini juga sering digunakan pada event – event kreatif lainya, bahkan event intenasional”.

Rasoki Ramadhan menambahkan bahwa strateginya disini yg digunakan adalah komunikasi visual mural dijadikan sebagai media untuk menampilkan pesan yang bersifat seni pada kafe Bangi Kopi. Rasoki sebagai pemerhati mural saat ini mengatakan,

“Mural yang dulunya dibuat dijalanan oleh orang- orang seni seperti saya ini untuk menyampaikan pesan- pesan tertentu, namun sekarang mural udah bisa digunakan sebagai daya tarik client juga, terutama untuk media berkomunikasi secara visual lewat berfoto. Intinya adanya sentuhan seni kontemporer mural ini agar bisa menjadi daya tarik tersendiri.”

C. Komunikasi visual pada mural – mural yang ada di kafe Bangi Kopi Peneliti juga memberikan pertanyaan mengenai komunikasi visual yang ada pada mural – mural yang ada di kafe Bangi Kopi.

“Untuk saat ini saya melihat ada beberapa komunikasi visual di dalam mural yang ada di kafe Bangi Kopi, sebenernya komunikasi nya terlihat jelas, jadi Bangi Kopi menggunakan mural sebagai media nya mereka untuk menyampaikan pesan bahwa tempat mereka lah yang memiliki mural dan sangat mempersilahkan orang – orang untuk datang langsung dan melihat seni mural ini, dan Bangi Kopi sendiri juga memberikan kebebasan kepada pengunjung untuk berfoto dengan mural dan property yang mereka sediakan dan dipersilahkan untuk digunakan pihak pengunjung. Dan itu berhasil, saya melihat di intagramnya

mereka juga bahwa banyak pengunjung yang tidak tahu bahwa kafe Bangi Kopi ini telah menggunakan komunikasi visual mural sebagai daya tarik minat kunjung.”

Rasoki Ramadhan yang merupakan tamatan bahasa Perancis di Universitas Negeri Medan ini juga melihat keberhasilan pada kafe Bangi Kopi di pinggir jalan simpang empat Juanda – Polonia ini yang menggunakan strategi komunikasi visual mural untuk mendapatkan minat kunjung. Selain desain arstketur yang mendukung penempatan posisi mural pada kafe Bangi Kopi, Oki juga menambahkan bahwa mural sekarang dapat di terima sebagai hal yang istimewa.

“Sekarang mural menjadi trend ya kalau saya lihat, untuk saya sendiri pun masih bingung, saya melihat banyak peluang disini. Dari segi pekerjaan dan sebuah nama. Saya pribadi sering mendapatkan tawaran untuk ngemural kafe atau restaurant di kota Medan sendiri, tapi karena saya ada keterikatan sama pekerjaan saya sebagai pegawai Bank swasta jadi saya sering alihkan permintaan mural ke seniman mural lainya, sebenarnya keberhasilan mural sebagai komunikasi visual itu dikarenakan oleh pihak – pihak yang sedikit nyeni dan sangat menghargai seni sebagai gaya hidup, tapi gak semua kafe menggunakan mural sebagai strategi mereka untuk mendapatkan perhatian pengunjung, karena dari segi budgeting mural cukup mahal untuk saat ini.”

D. Mural dapat berkembang

Diakhir wawancara peneliti menanyakan sejauh manakah seni kontemporer mural dapat berkembang.

“Mural dapat berkembang jika saling adanya keterikatan antara penyedia jasa mural dari seniman mural nya sendiri, dan apresiasi masyarakat umum untuk lebih menghargai dan tidak memandang mural sebagai lukisan dinding besar saja, tetapi ada hal yang istimewa dan ketertarikan sendiri bagi mural untuk dijadikan sebagai media penyampaian pesan.”

4.1.4.5 Hasil wawancara dengan seniman mural kota Medan kedua.

Peneliti melakukan wawancara kepada informan Teguh Kharyanda selaku seniman mural kedua peneliti, pertanyaan dan jumlah nya tidak berbeda dengan beberapa pertanyaan yang diberikan kepada seniman mural pertama yaitu Rasoki Ramadhan, hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil wawancara yang cukup bagi peneliti.

A. Pandangan seniman mural mengenai Bangi Kopi yang menggunakan komunikasi visual mural sebagai minat kunjung.

Dalam wawancara dengan seniman mural kedua bernama Teguh Kharyanda ini peneliti menanyakan hal yang sama perihal sudut pandangnya terhadap kafe Bangi Kopi yang meggunakan mural sebagai media komunikasi visual untuk menarik minat pengunjung.

“Kalau menurut pandanganku begini, mural tidak bisa dilihat sebagai pengisi ruang kosong, karena kalau sebagai pengisi ruang kosong, ngapain client bayar mahal untuk hal itu, pastinya ada interaksi yang ingin disampaikan sama kafe yang menggunakan mural. Jadi selain sebagai penambah nilai estetis pada sudut ruang kafe, mural juga sebagai media interaksi terhadap pelanggan pada tempat tersebut yang menggunakanya.”

Teguh Kharyanda yang sering disapa Teguh ini juga menambahkan bahwa,

“Mural juga sering dijadikan sebagai branding suatu lokasi dan media promosi bagi tempat yang memiliki mural, baik dijadikan spot untuk berfoto maupun hal lainya yang bersifat menandai.”

A. Pengaruh mural terhadap minat kunjung Bangi Kopi.

Peneliti juga menanyakan efektivitas dan pengatuh yang ditimbulkan oleh seni kontemporer mural sebagai media komunikasi visual kafe Bangi Kopi dalam mendapatkan minat kunjung, peneliti mendapatkan hasil wawancara yang sama dengan informasi yang diberikan oleh seniman mural pertama informan yaitu Rasoki Ramadhan.

“Pengaruh lumayan besar sih, karena mural kan sebagai media komunikasi visual yang berupa branding dan media promosi bagi tempat yang memiliki mural sebagai media penyampaian pesan.”

Teguh Kharyanda juga menambahkan bahwa mural bukan sebagai desain arsitektur,

“Jadi mural itu bukan bagian dari arsitektur, lebih tepatnya mural sebagai media interaksi dan media komunikasi yang di aplikasikan pada dinding atau media besar lainya sebagai sarana.”

B. Komunikasi visual pada mural – mural yang ada di kafe Bangi Kopi Peneliti juga memberikan pertanyaan yang sama mengenai komunikasi visual yang ada pada mural – mural yang ada di kafe Bangi Kopi kepada seniman mural kedua.

“Kalau untuk komunikasi visual pada mural kafe Bangi Kopi pasti ada, namun pesan nya hanya berupa tampilan gambar – gambar mural, bukan berupan pesan yang mengarah ke strategi untuk menarik perhatian dan menjadikan mural sebagai minat kunjung.”.

C. Mural dapat berkembang

Diakhir wawancara peneliti menanyakan sejauh manakah seni kontemporer mural dapat berkembang menurut seniman mural kedua

Diakhir wawancara peneliti menanyakan sejauh manakah seni kontemporer mural dapat berkembang menurut seniman mural kedua