• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden

Pada penelitian ini, diambil responden anak usia SMP dengan metode consecutive sampling yang telah ditentukan dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari keseluruhan responden, gambaran karakteristik responden yang diamati meliputi: umur murid, status berat badan murid, pendidikan terakhir orang tua, pendapatan per bulan orang tua, sumber informasi, dan tingkat pengetahuan.

Tabel 5.1 Karakteristik Responden

Karakteristik Sampel N = 55

Usia Dalam Tahun, n (%) Overweight, 33 (100) Obesitas, 22 (100)

11 1 (3) 1 (4.5) 12 4 (12.1) 11 (50) 13 14 (42.4) 6 (27.3) 14 7 (21.2) 2 (9.1) 15 6 (18.2) 1 (4.5) 16 1 (3) 1 (4.5) Menonton Iklan, n (%) Pernah 33 (100) 22 (100) Tidak pernah 0 (0) 0 (0)

Frekuensi Menonton Iklan, n (%)

1 kali 2 (6.1) 2 (9.1)

2 kali 5 (15.2) 3 (13.6)

3 kali 0 (0) 3 (13.6)

Lebih dari 3 kali 26 (78.8) 14 (63.6)

Lama Tidur, n (%)

Kurang dari 8 jam 10 (30.3) 7 (31.8)

8 jam 15 (45.5) 8 (36.4)

9 jam 4 (12.1) 5 (22.7)

Lebih dari 9 jam 4 (12.1) 2 (9.1)

Pendidikan Terakhir Ayah, n (%)

Non pendidikan Tinggi 28 (84.8) 20 (90.9)

Pendidikan Tinggi 5 (15.2) 2 (9.1)

Pendidikan Terakhir Ibu, n (%)

Pendapatan orang tua per bulan, n (%)

Tinggi UMP Sumatera Utara 17 (51.5) 11 (50)

Rendah UMP Sumatera Utara 16 (48.5) 11 (50)

Mengikuti Penyuluhan, n (%) Pernah 6 (18.2) 0 (0) Tidak Pernah 27 (81.8) 22 (100) Sumber Penyuluhan, n (%) Majalah 0 (0) 0 (0) Internet 2 (6.1) 0 (0) Seminar 2 (6.1) 0 (0)

Diskusi dalam grup 1 (3) 0 (0)

Lain-lain 1 (3) 0 (0)

Jumlah Anggota Keluarga, n (%)

Kurang dari 4 orang 10 (30.3) 9 (40.9)

4 orang 4 (12.1) 4 (18.2)

Lebih dari 4 orang 19 (57.6) 9 (40.9)

Berdasarkan umur, kelompok Overweight terbanyak terdapat pada kelompok umur 13 tahun sebanyak 14 responden yaitu sebesar 42.4 %, diikuti oleh kelompok umur 14 tahun sebanyak 7 responden yaitu sebesar 21.2 %, sedikit terdapat pada umur 11 dan 16 tahun sebanyak 1 responden yaitu sebesar 3 %. Sedangkan kelompok Obesitas terbanyak pada umur 12 sebanyak 11 responden yaitu sebesar 50 %, diikuti oleh umur 13 sebanyak 6 yaitu sebesar 27.3 %, sedikit terdapat pada umur 11,15,16 sebanyak masing-masing 1 responden yaitu sebesar 4.5 %

Ditinjau berdasarkan menonton iklan, terdapat kelompok Overweight sebanyak 33 responden pernah nonton iklan yaitu sebesar 100 % dan kelompok Obesitas sebanyak 22 responden pernah nonton iklan 100 %

Berdasarkan Frekuensi menonton iklan, Kelompok Overweight terbanyak menonton iklan lebih dari 3 kali sebanyak 26 responden yaitu sebesar 78.8 %, kelompok sedikit menonton iklan 1 kali sebanyak 2 responden yaitu sebesar 6.1 %. Sedangkan Kelompok Obesitas yang paling banyak menonton iklan terdapat pada lebih dari 3 kali sebanyak 14 responden yaitu sebesar 63.6 %, paling sedikit menonton iklan terdapat pada 1 kali sebanyak 2 yaitu sebesar 9.1 %.

Berdasarkan status lama tidur, kelompok Overweight terbanyak adalah 8 jam sebanyak 15 responden yaitu sebesar 45.5 %, yang paling sedikit lama tidurnya terdapat pada lebih dari 9 jam dan 9 jam masing-masing sebanyak 4 responden yaitu sebesar 12.1 %. Kelompok Obesitas terbanyak adalah 8 jam sebanyak 8 yaitu sebesar 36.4 %, disusul kurang dari 8 jam sebanyak 7 responden yaitu sebanyak 31.8 %, paling sedikit lebih dari 9 jam sebanyak 2 yaitu sebanyak 9.1 %.

Berdasarkan Pendidikan Terakhir ayah, kelompok Overweight terbanyak adalah pada Non pendidikan tinggi sebanyak 30 responden yaitu sebesar 90.9 %, paling sedikit terdapat pada pendidikan tinggi sebanyak 3 responden yaitu sebesar 9.1 %. Kelompok Obesitas terbanyak adalah pada non pendidikan tinggi sebanyak 20 responden yaitu sebesar 9.1%, paling sedikit terdapat pada pendidikan tinggi sebanyak 2 responden yaitu sebesar 9.1 %.

Berdasarkan Pendidikan Terakhir ibu, kelompok Overweight terbanyak adalah pada Non Pendidikan Tinggi sebanyak 30 responden yaitu sebesar 90.9%, paling sedikit pada pendidikan tinggi hanya sebanyak 3 responden yaitu sebesar 9.1 %. Kelompok Obesitas terbanyak adalah pada Non Pendidikan Tinggi sebanyak 18 yaitu sebesar 18.2 %, paling sedikit pada pendidikan tinggi sebanyak 4 responden yaitu sebesar 18.2 %

Berdasarkan Pendapatan Orang Tua perbulan, kelompok Overweight terbanyak adalah pada Lebih Tinggi UMP Sumatera Utara sebanyak 17 responden yaitu sebesar 51.5 %, kelompok paling sedikit terdapat pada Lebih Rendah UMP Sumatera Utara

tua perbulan Tinggi dan rendah UMP Sumatera Utara seimbang masing-masing sebanyak 11 responden yaitu sebesar 50 %.

Berdasarkan penyuluhan pada orang tua, kelompok Overweight terbanyak adalah pada kelompok Tidak Pernah mengikuti penyuluhan sebanyak 27 responden yaitu sebesar 81.8 %, Kelompok paling sedikit terdapat pada Pernah mengikuti penyuluhan sebanyak 6 responden yaitu sebesar 18.2 %. Kelompok Obesitas tidak pernah mengikuti penyuluhan sebanyak 22 responden yaitu sebesar 100 %.

Berdasarkan tempat penyuluhan pada orang tua, kelompok Overweight mengikuti sebanyak 6 responden yaitu sebesar 18.2 %. Sumber penyuluhan terbanyak yaitu Internet dan Seminar masing masing sebanyak 2 responden sebesar 6.1%. paling sedikit terdapat pada Diskusi Dalam Grup dan lain-lain sebanyak 1 responden yaitu sebesar 3 %. Kelompok Obesitas tidak pernah mengikuti penyuluhan sebanyak 22 responden yaitu sebesar 100 %.

Berdasarkan jumlah anggota keluarga, kelompok Overweight terbanyak adalah pada Lebih Dari 4 orang sebanyak 19 responden yaitu sebesar 57.6 %, paling sedikit terdapat pada 4 orang sebanyak 4 responden yaitu sebesar 12.1 %. Kelompok Obesitas terbanyak adalah pada lebih dari 4 orang sebanyak 9 responden yaitu sebesar 40.9 %, paling sedikit 4 orang sebanyak 4 responden yaitu sebesar 18.2 %.

Tabel 5.2 Status Berat Badan dengan Frekuensi Menonton Iklan.

Status Berat Badan Frekuensi nonton iklan

Total P

.130 1

kali

2 kali 3 kali lebih

dari 3 kali overweight 2 5 0 27 34 % 5.9% 14.7% 0.0% 79.4% 100.0% obesitas 2 3 3 13 21 % 9.5% 14.3% 14.3% 61.9% 100.0% Total 4 8 3 40 55 7.3% 14.5% 5.5% 72.7% 100.0%

Dari tabel 5.2 memperlihatkan hubungan antara status berat badan dengan frekuensi menonton iklan. Pada kelompok yang overweight sebagian besar responden menonton iklan lebih dari tiga kali yaitu 79.4%, sedangkan pada anak yang termasuk obesitas frekuensi yang menonton iklan lebih dari tiga kali juga besar yaitu 61.9%.

Tabel 5.3 Status Gizi dengan Frekuensi Pendidikan Terakhir Ayah.

Status Gizi Pendidikan

Tinggi Non Pendidikan Tinggi P = 0.696 Overweight 5 29 % 14.7% 85.3% Obesitas 2 19 % 9.5% 90.5% Total 7 48 12.7% 87.3%

Baik pada kelompok overweight maupun obesitas frekuensi pendidikan terakhir ayah yang terbanyak adalah non pendidikan tinggi.

Tabel 5.4 Status Gizi dengan Frekuensi Pendidikan Terakhir Ibu.

Status Gizi Pendidikan

Tinggi Non Pendidikan Tinggi P = 0.408 Overweight 3 31 % 8.8% 91.2% Obesitas 4 17 % 19% 81% Total 7 48 12.7% 87.3%

Baik pada sampel yang overweight maupun yang obesitas pendidikan tertinggi ibu yang terbanyak adalah non pendidikan tinggi.

Tabel 5.5 Status Gizi dengan Frekuensi Pendapatan Orang Tua per Bulan

Status Gizi

Pendapatan Orang Tua per Bulan

P = 0.701 Tinggi UMP Sumatera

Utara

Rendah UMP Sumatera Utara Overweight 18 16 % 52.9% 47.1% Obesitas 10 11 % 47.6% 52.4% Total 28 27 50.9% 49.1

Pendapatan orang tua perbulan pada kelompok sampel yang overweight sebagian besar adalah Tinggi dari UMP Sumatera Utara, sementara pada kelompok sampel yang obesitas terbanyak berpenghasilan Rendah dari UMP.

Tabel 5.6 Status Gizi dengan Penyuluhan Overweight

Status Gizi

Penyuluhan Overweight

P = 0.041

Pernah Tidak Pernah

Overweight 6 16 % 17.6% 62.4% Obesitas 0 21 % 0% 100% Total 6 49 10.9% 89.1

Hanya 17.6% dari orang tua sampel yang overweight pernah mengikuti seminar, sebagian besar orang tua sampel yang overweight tidak pernah mengikuti penyuluhan. Tidak ada orang tua sampel yang obesitas yang pernah mengikuti penyuluhan.

Tabel 5.7 Status Gizi dengan Tempat Mengikuti Penyuluhan

Status Gizi

Tempat Mengikuti Penyuluhan

Tidak Pernah Internet Seminar

Diskusi dalam Grup Lain-Lain P= 0.385 Overweight 28 2 2 1 1 % 82.4 5.9% 5.9% 2.9% 2.9 Obesitas 21 0 0 0 0 % 100% 0% 0% 0% 0% Total 49 2 2 1 1 % 89.1 3.6% 3.6% 1.6% 1.6%

Orang tua sampel yang overweight mengikuti penyuluhan dari internet dan seminar ada 5.9%; sementara orang tua sampel yang obesitas tidak ada yang pernah mengikuti penyuluhan .

Tabel 5.8 Status Gizi dengan Jumlah Anggota Keluarga

Status Gizi Kurang dari 4

orang 4 orang Lebih dari 4 orang P = 0.598 Overweight 11 4 19 % 32.4% 11.8% 55.9% Obesitas 0 4 9 % 0% 19% 42.9% Total 19 8 40 34.5% 14.5% 83.6%

Sebagian besar sampel overweight jumlah anggota keluarganya lebih dari 4 orang, demikian pula sampel yang obesitas.

5.2. Pembahasan

Dari tabel Karakteristik Responden dapat dilihat bahwa dari 55 responden

sebagian besar Berdasarkan umur, kelompok Overweight terbanyak terdapat pada kelompok umur 13 tahun sebanyak 14 responden yaitu sebesar 42.4 %, dan sebagian

kelompok Obesitas terbanyak pada umur 12 sebanyak 11 responden yaitu sebesar 50 %, sebagian kecil umur 11,15,16 sebanyak masing-masing 1 responden yaitu sebesar 4.5 %.

Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa, prevalensi gizi lebih secara nasional pada remaja umur 13-15 tahun di Indonesia sebesar 10.8%. Pada umur 16-18 tahun mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2007 sebesar 1.4% menjadi 7.3%.19 Dari uraian ini, maka dapat kita simpulkan bahwa umur 13 tahun adalah rentang mulainya terjadi overweight dan obesitas .

Dari 55 responden yang diteliti sebagian besar pernah menonton iklan (100 %). Merek makanan yang sering dibeli anak anak yang menonton iklan tersebut yaitu Lays Potato Chips, Chitato, es krim Paddle Pop dan minuman Teh Botol Sosro. Dari penelusuran yang peneliti dapatkan ternyata satu kemasan 1 oz Lays Pottato Chips mengandung 160 kcal dan 90 kcal nya adalah dari lemak.20 Jumlah kalori yang disumbangkan oleh Lays ini ternyata cukup besar sementara kegiatan yang dapat membakar 160 kcal adalah dengan berjalan kaki selama 42 menit atau dengan jogging selama 18 menit atau 13 menit berenang ataupun 22 menit bersepeda.21 Chitato Pottato Chips dalam satu kemasannya mengandung 100 kcal, es krim Paddle Pop 79-107 kcal ( 79 kcal Paddle Pop chocolate; 107 pada Paddle Pop Rainbow) dan minuman Teh Botol Sosro 125 ml mengandung 85 kcal.22. 23. 24. 25

Pada Pottato Chips selain dari kalori yang disumbangkannya cukup tinggi, lemak yang terkandung di dalamnya juga membahayakan kesehatan.26 Tidak banyak anak sekolah dan para orang tua yang paham bahwa lemak dalam Pottato Chips itu sebagian besar adalah trans fat (trans fatty acid), yaitu suatu zat yang terbentuk secara kimia dari proses hidrogenasi vegetable shortening (lemak padat yang memiliki sifat plastis dan kestabilan tertentu, dan pada umumnya berwarna putih dan sering disebut ‘mentega putih’.28 Shortening ini merupakan lemak atau minyak yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti membuat adonan roti/melembutkan roti dan juga untuk menggoreng).28 Trans-fat meningkatkan LDL (Low Density

Lipoprotein) yaitu ‘lemak jahat” yang mengangkut kolesterol dari hati ke seluruh jaringan tubuh.27

Diet yang mengandung trans-fat yang tinggi memicu terjadinya obesitas, penyakit jantung, kanker , penyakit Alzheimer's dan diabetes – jika kita beranggapan bahwa masalah-masalah tersebut terjadinya nanti pada usia yang lebih lanjut, ternyata tidak benar. Sudah terlihat bahwa orang-orang yang mengkonsumsi tran-fat dalam jumlah banyak sudah mengalami masalah berat-badan, gangguan hati, infertilitas pada wanita dan resiko tinggi menderita depresi pada usia yang relatif muda.28

Dari 55 responden yang diteliti Frekuensi menonton iklan, Kelompok Overweight terbanyak menonton iklan lebih dari 3 kali sebanyak 26 responden yaitu sebesar 78.8 %, kelompok sedikit menonton iklan 1 kali sebanyak 2 responden yaitu sebesar 6.1 %. Sedangkan Kelompok Obesitas yang paling banyak menonton iklan terdapat pada lebih dari 3 kali sebanyak 14 responden yaitu sebesar 63.6 %, paling sedikit menonton iklan terdapat pada 1 kali sebanyak 2 yaitu sebesar 9.1 %. Menurut hasil penelitian yang dilakukan di New Zealand dengan melibatkan sebanyak 1000 anak, didapatkan bahwa kebiasaan menonton TV yang terlalu sering menyebabkan mereka menjadi lebih gemuk dibandingkan dengan anak-anak seusianya yang tidak menonton TV.29 Kajian Persatuan Pulau Pinang (CAP) mendapatkan 62% anak-anak telah meminta ibu bapa mereka membeli makanan ringan dan makanan cepat saji yang dipaparkan di layar televisi.30 Jika dibandingkan antara yang obesitas dengan yang

overweight ternyata baik yang overweight maupun yang obesitas keduanya lebih

banyak menonton iklan lebih dari tiga kali; tidak ada perbedaan antara yang obesitas dengan yang overweight (P 0.130)

Dari 55 responden yang diteliti status lama tidur, kelompok Overweight terbanyak adalah 8 jam sebanyak 15 responden yaitu sebesar 45.5 %, yang paling sedikit lama tidurnya terdapat pada lebih dari 9 jam dan 9 jam masing-masing sebanyak 4

sebanyak 8 yaitu sebesar 36.4 %, disusul kurang dari 8 jam sebanyak 7 responden yaitu sebanyak 31.8 %, paling sedikit lebih dari 9 jam sebanyak 2 yaitu sebanyak 9.1 %.

Walaupun dari penelitian ini responden yang tidurnya kurang dari 8 jam tidak merupakan jumlah terbanyak, namun angkanya cukup tinggi, yaitu lebih dari tigapuluh persen. Hasil dari sebuah studi besar menunjukkan bahwa jumlah jam tidur yang sedikit dapat mempengaruhi fungsi sel-sel lemak dan meningkatkan risiko penambahan berat badan.9

Berdasarkan tabel karakteristik dapat dilihat bahwa dari 55 responden sebagian besar Pendidikan Terakhir ayah, kelompok Overweight terbanyak adalah pada Non pendidikan tinggi sebanyak 30 responden yaitu sebesar 90.9 %. Kelompok Obesitas terbanyak adalah pada non pendidikan tinggi sebanyak 20 responden yaitu sebesar 9.1%. Pendidikan Terakhir ibu, kelompok Overweight terbanyak adalah pada Non Pendidikan Tinggi sebanyak 30 responden yaitu sebesar 90.9%. Kelompok Obesitas terbanyak adalah pada Non Pendidikan Tinggi sebanyak 18 yaitu sebesar 18.2 %. Studi lain yang khusus meneliti hubungan antara keadaan keluarga dan status berat badan, menunjukkan anak-anak dengan orang tua yang kurang berpendidikan cenderung memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) yang lebih tinggi dan lebih mungkin untuk terjadi kegemukan.10

Dari tabel karekteristik dapat dilihat bahwa dari 55 responden Pendapatan Orang Tua perbulan, kelompok Overweight terbanyak adalah pada Lebih Tinggi UMP Sumatera Utara sebanyak 17 responden yaitu sebesar 51.5 %. Kelompok Obesitas, pendapatan orang tua perbulan Tinggi dan rendah UMP Sumatera Utara seimbang masing-masing sebanyak 11 responden yaitu sebesar 50 %. Maka dapat kita simpulkan bahwa di pinggiran kota Medan pendapatan orang tua perbulan sudah mulai meningkat sesuai dengan UMP Sumatera Utara tahun 2016.16 Daerah penelitian memang tidak termasuk dalam daerah kantong kemiskinan seperti Medan bagian Utara (Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Medan Belawan)

yang merupakan kantong kemiskinan terbesar (37.19%) dari keseluruhan penduduk miskin di Medan.31

Dari tabel karekteristik dapat dilihat bahwa dari 55 orang tua responden kelompok Overweight Pernah mengikuti penyuluhan sebanyak 6 responden yaitu sebesar 18.2 %. Kelompok Obesitas tidak pernah mengikuti penyuluhan sebanyak 22 responden yaitu sebesar 100 %.

Penyuluhan gizi menurut Suharjo (2003) adalah pendekatan edukatif yang menghasilkan perilaku individu atau masyarakat yang diperlukan dalam peningkatan atau mempertahankan gizi baik.31 Beberapa penelitian yang sudah dilakukan di beberapa tempat memperlihatkan bahwa penyuluhan adalah cara yang cukup baik dalam memperbaiki status gizi masyarakat; seperti misalnya penelitian yang dilakukan oleh Paramastri.I, dkk (2007) mengatakan bahwa intervensi penyuluhan dapat dilakukan sebagai upaya untuk merangsang masyarakat terutama keluarga (yaitu ibu rumah tangga) agar mampu menjadi motivator dilingkungan rumah tangganya.33 Penelitian yang dilakukan oleh Manalu HL tentang: Efektifitas Penyuluhan Dengan Metode Ceramah Dan Media Leaflet Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu Yang Memiliki Balita Tentang Gizi Balita di Dusun VII Desa Bangun Rejo Kec.Tanjung Morawa Provinsi Sumatera Utara mendapatkan bahwa ada perbedaan yang bermakna pada pengetahuan dan sikap ibu tentang gizi balita pada pretest dan posttest berbeda secara signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu sebelum dilakukan penyuluhan dengan setelah dilakukan penyuluhan dan media leaflet.34 Dari tabel karekteristik dapat dilihat bahwa dari 55 responden walaupun pernah mengikuti penyuluhan overweight sebagian besar bersumber dari internet dan seminar masing masing yaitu sebanyak 2 responden (6.1 %) dan sebagian kecil sumber dari diskusi dalam grup dan lain lain (bidan) masing masing yaitu sebanyak 1 responden (3 %). Ternyata bidan ada yang ikut berpartisipasi dalam memberikan penyuluhan tentang overweight untuk orang tua walaupun itu hanya dilaporkan oleh satu orang

Hasil penelitian ini bisa kita jadikan sebagai suatu analisa kebutuhan akan pentingnya penyuluhan dan pendidikan gizi pada anak sekolah dan orang tuanya, karena sebagian besar murid bergizi lebih di kedua sekolah ini tidak pernah mengikuti penyuluhan dan tidak paham akan gizi lebih dan dampaknya. Kita lihat bahwa pemberian pendidikan gizi sangat diperlukan untuk anak Sekolah Menengah dan keluarganya agar terciptanya sikap positif terhadap gizi, terbentuknya pengetahuan dan kecakapan memilih dan menggunakan sumber-sumber pangan, timbulnya kebiasaan makan yang baik dan adanya motivasi mengetahui lebih lanjut tentang hal-hal yangg berhubungan dengan gizi. Pendidikan gizi yang bisa kita pakai mungkin adalah penyuluhan dalam kelompok di sekolah dan karena penyuluhan merupakan suatu proses merupakan suatu rangkaian kegiatan maka perlu direncanakan satu kegiatan yang kemudian disusul oleh kegiatan lain. Yang berarti juga agar tercapai tujuan pendidikan gizi perlu direncanakan suatu serial kegiatan lebih dari satu kegiatan dengan menggunakan kombinasi pengalaman belajar yang berarti bukan hanya satu metode saja, agar dia menjadi menarik, kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari anak.

Berdasarkan tabel karekteristik dapat dilihat bahwa dari 55 responden jumlah anggota keluarga, kelompok Overweight terbanyak adalah pada Lebih Dari 4 orang sebanyak 19 responden yaitu sebesar 57.6 %, paling sedikit terdapat pada 4 orang sebanyak 4 responden yaitu sebesar 12.1 %. Kelompok Obesitas terbanyak adalah pada lebih dari 4 orang sebanyak 9 responden yaitu sebesar 40.9 %, paling sedikit 4 orang sebanyak 4 responden yaitu sebesar 18.2 %.

Pada penelitian Mazarina Devi (2010), jumlah anggota keluarga turut serta mempengaruhi status gizi. Mazarina menyatakan bahwa dalam suatu keluarga yang berjumlah kurang dari 4 orang, mempunyai status gizi yang lebih baik daripada keluarga yang mempunyai jumlah anggota keluarga lebih dari 4 orang.35 Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dalam keluarga responden yang menjadi sampel penelitian ini masih ada yang memiliki anak lebih dari dua orang, dan ada yang hidup dalam keluarga besar yaitu bersama kakek dan nenek responden.

Dari beberapa factor resiko yang ditanyakan pada penelitian ini ternyata factor pernah mengikuti penyuluhan lah yang paling mempengaruhi status gizi sampel dengan nilai signifikasi <0.05 seperti yang terlihat pada table 5.6

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait