• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.4. Teknik Pengumpulan Data

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden

Sampel yang diperoleh dalam penelitian ini sebanyak 80 orang, 40 orang sebagai kelompok DM dan 40 orang sebagai kelompok pembanding. Distribusi frekuensi responden meliputi jenis kelamin, umur, distribusi gangguan pendengaran pada penderita DM, distribusi gangguan pendengaran pada kelompok pembanding, hubungan umur dan gangguan pendengaran pada penderita DM, hubungan jenis kelamin dan gangguan pendengaran pada penderita DM, hubungan lama sakit dan gangguan pendengaran pada penderita DM.

Tabel 5.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis kelamin Riwayat sakit

Total DM Non-DM

Laki-laki 20 20 40

Perempuan 20 20 40

Total 40 40 80

Data diatas menunjukkan jumlah laki-laki dan perempuan sebagai sampel kelompok DM dan kelompok pembanding sama besar, yaitu laki-laki DM

sebanyak 20 orang (25%) dan perempuan DM sebanyak 20 orang (25%), laki-laki non-DM sebanyak 20 orang (25%) dan perempuan non-DM sebanyak 20 orang (25%).

Tabel 5.2. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur

Umur sampel Riwayat sakit

% DM Non-DM Total 12 – 20 0 0 0 0 21 – 30 0 0 0 0 31 – 40 3 3 6 7,5 41 – 50 7 7 14 17,5 51 – 60 30 30 60 75 Total 40 40 80 100

Data diatas menunjukkan umur terbanyak sampel 51 – 60 tahun sebanyak 60 sampel (75%), kemudian disusul dengan kelompok umur 41 – 50 tahun sebanyak 14 sampel (17,5%), dan kelompok umur 31 – 40 tahun sebanyak 6 sampel (7,5%). Sedangkan pada kelompok umur 12 – 20 tahun dan 21 – 30 tahun tidak ada.

Tabel 5.3. Distribusi Gangguan Pendengaran

Gangguan Pendengaran Jumlah % Normal Sensorineural Konduktif 29 49 2 36,3 61,3 2,5 Total 80 100

Data diatas menunjukkan jenis gangguan pendengaran yang paling banyak terjadi adalah gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 49 sampel (61,3%), sedangkan yang normal sebanyak 29 sampel (36,3%) dan gangguan pendengaran konduktif sebanyak 1 sampel (2,5%).

5.1.3. Analisa Data

Tabel 5.4. Hubungan DM dengan Gangguan Pendengaran

Sakit Hasil Pemeriksaan THT

Total Normal Sensorineural Konduktif

DM Count 6 33 1 40

Non-DM Count 23 16 1 40

Total Count 29 49 2 80

X2 = 15,863, df = 2, p = 0,001

Dari tabel diatas didapatkan pada kelompok DM gangguan pendengaran terbanyak adalah gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 33 sampel dan yang mengalami gangguan pendengaran konduktif sebanyak 1 sampel. Sementara pada kelompok pembanding atau non-DM yang normal sebanyak 23 sampel, yang mengalamai gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 16 sampel dan yang mengalami gangguan pendengaran konduktif sebanyak 1 sampel.

Tabel ini dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai p < 0,001 (p< 0,05), sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan bermakna antara DM dengan gangguan pendengaran.

Tabel 5.5. Hubungan Umur dengan Gangguan Pendengaran pada Penderita DM

Umur Gangguan Pendengaran

Total Normal Sensorineural Konduktif

12 – 20 21 – 30 31 – 40 41 – 50 51 – 60 0 0 3 3 0 0 0 0 4 29 0 0 0 0 1 0 0 3 7 30 Total 6 33 1 40

Dari hasil penelitian didapatkan pada kelompok umur 31 – 40 tahun yang normal sebanyak 3 sampel, sedangkan yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural dan konduktif tidak ada. Pada kelompok umur 41 – 50 tahun yang normal sebanyak 3 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 4 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran konduktif tidak ada. Pada kelompok umur 51 – 60 tahun yang normal tidak ada, yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 29 sampel, yang mengalami gangguan pedengaran konduktif sebanyak 1 sampel.

Tabel ini tidak memenuhi syarat untuk diuji hipotesisnya dengan menggunakan Chi-Square, sehingga dilakukan penggabungan sel menjadi bentuk 2x3 dan didapatkan tabel sebagai berikut :

Tabel 5.6. Modifikasi Hubungan Umur dengan Gangguan Pendengaran pada Penderita DM

Umur Pemeriksaan THT DM

Total Normal Sensorineural Konduktif

12-20 dan 21-30 dan 31-40 Count 3 0 0 3 41-50 dan 51-60 Count 3 33 1 37 Total Count 6 33 1 40

Setelah dilakukan uji hipotesa dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai p = 0,158 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan bermakna antara umur dengan gangguan pendengaran pada penderita DM

Tabel 5.7. Hubungan Jenis Kelamin dengan Gangguan Pendengaran pada Penderita DM

Jenis Pemeriksaan THT DM

Total Kelamin Normal Sensorineural Konduktif

Laki-laki Count 6 14 0 20

perempuan Count 0 19 1 20

Total Count 6 33 1 40

Dari hasil penelitian didapatkan pada laki-laki yang normal sebanyak 6 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 14 sampel, dan yang mengalami gangguan pendengaran tidak ada. Sedangkan pada perempuan yang normal tidak ada, yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 19 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran konduktif sebanyak 1 sampel.

Tabel ini dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai p = 0,069 (p< 0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan gangguan pendengaran pada penderita DM.

Tabel 5.8. Hubungan Lama Sakit dengan Gangguan Pendengaran pada Penderita DM

Lama Pemeriksaan THT DM

Total Sakit Normal Sensorineural Konduktif

1 – 5 Count 4 18 0 22

6 – 10 Count 1 5 0 6

11 – 15 Count 1 4 1 6

>15 Count 0 6 0 6

Dari hasil penelitian didapatkan pada kelompok lama sakit 1 – 5 tahun yang normal sebanyak 4 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 18 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran konduktif tidak ada. Pada kelompok lama sakit 6 – 10 tahun yang normal sebanyak 1 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 5 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran konduktif tidak ada. Pada kelompok lama sakit 11 – 15 tahun yang normal 1 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 4 sampel, yang mengalami gangguan pendengaran konduktif sebanyak 1 sampel. Pada kelompok lama sakit diatas 15 tahun yang normal tidak ada, yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 6 orang, yang mengalami gangguan pendengaran konduktif tidak ada.

Tabel ini tidak memenuhi syarat untuk diuji hipotesisnya dengan menggunakan Chi-Square, sehingga dilakukan penggabungan sel menjadi bentuk 3x3 dan didapatkan tabel sebagai berikut :

Tabel 5.9. Modifikasi Hubungan Lama Sakit dengan Gangguan Pendengaran pada Penderita DM

Lama Pemeriksaan THT DM

Total Sakit Normal Sensorineural Konduktif

1-5 Count 4 17 0 21 6-10 Count 1 6 0 7 11-15 dan >15 Count 1 10 1 12 Total Count 6 33 1 40

Setelah dimodifikasi, tabel ini tidak memenuhi syarat untuk diuji hipotesisnya dengan menggunakan Chi-Square, sehingga dilakukan penggabungan sel menjadi bentuk 2x3 dan didapatkan tabel sebagai berikut :

Tabel 5.10. Modifikasi 2 Hubungan Lama Sakit dengan Gangguan Pendengaran pada Penderita DM

Lama Pemeriksaan THT DM

Total Sakit Normal Sensorineural Konduktif

1-5 dan 6-10 Count 5 23 0 28 11-15 dan >15 Count 1 10 1 12 Total Count 6 33 1 40

Setelah dimodifikasi, tabel ini dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai p = 1,000 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara lama sakit dengan gangguan pendengaran pada penderita DM.

5.2. Pembahasan

5.2.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan tabel 5.1. menyatakan bahwa jenis kelamin sampel pada penelitian ini adalah laki-laki sebanyak 40 sampel (50%) dan perempuan sebanyak 40 sampel (50%). Jumlah tersebut telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti.

5.2.2. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur

Berdasarkan tabel 5.2. menyatakan bahwa umur sampel pada penelitian ini paling banyak pada kelompok umur 51 – 60 tahun yaitu sebanyak 60 sampel (75%), kemudian disusul pada kelompok umur 41 – 50 tahun yaitu sebanyak 14 sampel (17,5%), dan kelompok umur 31 – 40 tahun sebanyak 6 sampel (7,5%). Sedangkan pada kelompok umur 12 – 20 tahun dan 21 – 30 tahun tidak ada. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian Mohammad T.H dan Azad M.R. (2011) di Georgan Hospital Northern Iran. Semakin tinggi umur semakin banyak sampel yang menderita gangguan pendengaran sensorineural. Hal ini disebabkan semakin bertambah umur maka fungsi saraf vestibulokoklear semakin menurun

diakibatkan proses degeneratif sehingga menyebabkan gangguan pendengaran sensorineural.

5.2.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Gangguan Pendengaran

Pada tabel 5.5. dapat dilihat bahwa gangguan pendengaran yang paling banyak terjadi adalah gangguan pendengaran sensorineural sebanyak 49 sampel (61,3%), sedangkan yang normal sebanyak 29 sampel (36,3%) dan gangguan pendengaran konduktif sebanyak 2 sampel (2,5%). Hal ini dapat ditemukan juga dalam penelitian Kakarlapudi et. al (2003) di USA. Dalam penelitian Rajendran et.al (2011) di India juga mengatakan bahwa gangguan pendengaran yang paling sering terjadi pada DM adalah gangguan pendengaran sensorineural.

5.2.4. Hubungan Gangguan Pendengaran dengan DM

Tabel 5.8. menunjukkan adanya hubungan antara DM dengan gangguan pendengaran. Data tersebut dilakukan uji hipotesa dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov dengan nilai p < 0,001 (p=0,05). Hal tersebut juga didapatkan oleh Kakarlapudi et.al (2003) di University of Maryland School of Medicine, Baltimore, Maryland, U.S.A. Gangguan pendengaran yang sering terjadi pada penderita DM adalah gangguan pendengaran sensorineural.

Gangguan pendengaran tersebut tersebut terjadi akibat dari mikroangiopati pada saluran darah pada telinga dalam dan atropi stria vaskular serta kehilangan sel rambut. Perubahan patologi yang berlaku akibat diabetes dengan merusak vaskular atau sistem neural pada telinga dalam sehingga menyebabkan gangguan pendengaran. Pengontrolan DM dengan baik dapat memperlambat proses gangguan pendengaran tersebut (Hain, 2011). Namun sampai saat ini patofisiologi pasti tentang kejadian gangguan pendengaran pada pasien DM masih diperdebatkan (Fauci, 2008 dalam Jafar, 2010).

Studi oleh Makishima K dan Jorgensen MB menunjukkan adanya perubahan patologi tersebut terjadi karena sklerosis di arteri auditorik internal,

penebalan kapiler stria vaskuler, atropi ganglion spiral, dan demyelinisasi pada saraf kranial kedelapan.

5.2.5. Hubungan Umur dengan Gangguang Pendengaran pada Penderita DM Berdasarkan tabel 5.10. setelah dimodifikasi dari tabel 5.9. dan setelah diuji dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov, didapatkan bahwa tidak ada hubungan umur dengan gangguan pendengaran yang terjadi pada penderita DM dengan nilai p=0,158 ( p < 0,05). Hasil yang sama juga didapat oleh Mozaffari et. Al (2010) di Tehran University of Medical Sciences, Iran.

Umur yang paling banyak terjadi gangguan pendengaran adalah pada kelompok umur 51-60 tahun yaitu sebanyak 30 sampel (37,5%). Tetapi dalam rentan umur tersebut gangguan pendengaran juga dapat dipengaruhi oleh Presbikusis. Presbikusis terjadi akibat adanya perubahan patologik pada organ auditori akibat proses degenerasi pada usia lanjut. Jenis gangguan pendengaran yang umumnya terjadi adalah gangguan pendengaran sensorineural, namun dapat juga berupa gangguan pendengaran konduktif atau campuran. Biasa terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Progresifitas penurunan pendengaran dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. Proses degenerasi menyebabkan perubahan struktur koklea dan N. VII. Pada koklea perubaan yang mencolok ialah atrofi dan degenerasi sel sel rambut penunjang pada organ Corti. Proses atrofi disertai dengan perubahan vaskular juga terjadi pada stria vaskularis. Selain itu terdapat pula perubahan, berupa berkurangnya jumlah dan ukuran sel-sel ganglion dan saraf. Hal yang sama terjadi juga pada myelin akson saraf (Suwento, 2007).

5.2.6. Hubungan Jenis Kelamin dengan Gangguan Pendengaran pada Penderita DM

Pada tabel 5.11. didapati bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan gangguan pendengaran pada penderita DM. Data tersebut dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov didapat nilai p = 0,069 ( p < 0,05). Hasil yang sama juga didapatkan oleh Bener et.al (2008) di Hamad General Hospital, Qatar. Dan pada penelitian Mohammad T. (2011) di Iran yang

menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan gangguan pendengaran.

Dari data National Health Survey (1962) menyatakan, perempuan mempunyai pendengaran yang lebih baik dari lelaki. Menurut penelitian yang dilakukan Barbara di Karolinska Institute, Stockholm, Sweden (2008), gangguan pendengaran kurang terjadi pada perempuan karena adanya hormon estradiol yang bekerja melalui reseptor estrogen beta yang dapat memelihara sistem auditori dari trauma.

5.2.7. Hubungan Lama Sakit dengan Gangguan Pendengaran pada Penderita DM

Berdasarkan tabel 5.14 setelah dimodifikasi 2 kali dari tabel 5.13 dan tabel 5.12, dapat kita tarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara lama sakit dengan gangguan pendengaran pada penderita DM. Tetapi hal tersebut berlawanan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohammad T (2011) di Iran yang mendapatkan bahwa adanya hubungan lama sakit dengan gangguan pendengaran pada penderita DM. Menurut penelitian Okhovat et.al (2011) di Iran, lama sakit lebih dari 5 tahun dapat menyebabkan gangguan pendengaran di beberapa frekuensi tertentu.

Kelompok lama sakit yang paling banyak mengalami gangguan pendengaran adalah 1 – 5 tahun. Lama sakit DM berpengaruh terhadap gangguan pendengaran, semakin lama menderita DM maka resiko mengalami gangguan pendengaran semakin besar. Ketidaksesuaian antara teori dan hasil penelitian sebelumnya dengan penelitian yang sekarang ini mungkin terjadi oleh karena sampel yang diambil jumlahnya kurang banyak.

5.3. Kelemahan

Terdapat beberapa kelemahan dalam penelitian ini. Salah satunya adalah penelitian ini dilakukan dengan menggunakan garputala, dimana hasil pemeriksaannya kurang representatif dengan status pendengaran pasien. Hal ini

disebabkan karena ruangan pemeriksaan yang kurang memenuhi syarat sehingga suara ribut mempengaruhi pemeriksaan, tingkat kecerdasan sampel yang berbeda-beda, dan sampel berkemungkinan memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang didengarnya pada saat pemeriksaan. Selain itu kebanyakan responden berada pada rentan umur tinggi, sehingga gangguan pendengaran tidak dapat dipastikan disebabkan oleh DM atau faktor usia. Banyak faktor-faktor lain yang tidak dapat dikendalikan oleh peneliti karena keterbatasan dana dan sarana. Selain itu jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini masih sedikit.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. KESIMPULAN

1. Terdapat hubungan yang bermakna antara DM dengan gangguan pendengaran.

2. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan gangguan pendengaran pada penderita DM

3. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan gangguan pendengaran pada penderita DM

4. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama sakit dengan gangguan pendengaran pada penderita DM

6.2. SARAN

Dari seluruh proses penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam menyelesaikan penelitian ini maka dapat diajukan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat. Adapun saran tersebut, yaitu :

1. Dari hasil penelitian ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara DM dengan gangguan pendengaran. Disarankan agar pada setiap pasien DM dilakukan pemeriksaan pendengaran untuk mengetahui status pendengaran, sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan lebih awal agar gangguan pendengaran tersebut tidak semakin memburuk.

2. Diharapkan agar pada penelitian berikutnya menggunakan sampel yang lebih banyak.

3. Diharapkan agar pada penelitian berikutnya dapat melakukan tes pendengaran dengan mengguanakan alat yang lebih baik yaitu audiometri nada murni.

DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association, 2011. Standanrds of Medical Carae in Diabetes-2011. In : Diabetes Care 34 : 511 – 561. Available from : http://carae. diabetesjournals.org/content/34/Supplement_1/S11.full.pdf+html?sid=4bad333b-9f56-4b2b-9e97-a1abe0b23c75

American Diabetes Association, 2012. Definition and Description of Diabetes

Melitus. Available from :

. [Accessed 15 April 20]

Mei 2012].

Arts, H. A., 2005. Sensorineural Hearing Loss : Evaluation and Management in Adults. In : Cummings Otolaryngology – Head & Neck Surgery. 4th edition. Volume 4. Philadeplhia, USA : Elsevier Mosby, 3535 – 3561.

Backous, D.D., Niparko, J.N., 2005. Evaluation and Surgical Management of Conductive Hearing Loss. In : Cummings Otolaryngology – Head & Neck Surgery. 4th edition. Volume 4. Philadeplhia, USA : Elsevier Mosby, 3522 – 3534.

Bainbridge, K.E., Hoffman, H.J., Cowie, C.C., 2008. Diabetes and Hearing Impairment in the United States: Audiometric Evidence from the National Health and Nutrition Examination Survey. In : Annals of Internal Medicine . Available from April 2012]

Bener, A., et. al., 2008. Association between hearing loss and Type 2 Diabetes Mellitus in elderly people in a newley developed society.

Gustaviani, R., 2006. Diagnosis dan klasifikasi Diabetes Melitus. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th edition. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1857-1859.

Hain, C.T., 2011. Sensorineural Hearing Loss. Available from :

Inzucchi, S. E., 2005. Classification and Diagnosis of Diabetes Melitus. In : Inzuchhi, S. E. The Diabetes Melitus Manual : A Primary Carae Companion to Ellenberg & Rifkin’s Sixth edition. Singapore : Mc Graw Hill, 1-14.

Jafar, N. R., 2010. Prevalensi Gangguan Pendengaran pada Penderita Diabetes Melitus yang Berobat di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP H. Adam Malik Tahun 2010 Medan, Universitas Sumatera Utara. Available from : 2012]

Kakarlapudi, V., Sawyer, R., Staecker, H., 2003. The Effect of Diabetes on Sensorineural Hearing Loss. In : Otology & Neurotology Inc., Vol. 24, No.3.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2009. Tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang. Available from:

Lalwani, A. K., 2008. Sensorineural Hearing Loss. In : Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head & Neck Surgery. 2nd edition. USA : McGraw-Hill Companies, Lange, 683 – 688.

Lassman, F. M., Levine, S. C., Greenfield, D. G., 1997. Audiologi. In : Higler, A. B., Boies Buku Ajar Penyakit THT. 6th edition. Jakarta: ECG, 46-74.

Mathur, R., Shiel, W.C., 2012. Diabetes Melitus-What are the chronic chronic

complication of diabetes. Available from :

Mei 2012].

Mohammad, T. H., Azad, M. R., 2011. The Comparison of Hearing Loss Among Diabetic and Non-Diabetic Patients. In : Journal of Clinical and

Diagnostic Research.. Available from :

Mozaffari, M., et. al., 2010. Diabetes mellitus and sensorineural hearing loss among non-elderly people. In : Eastern Mediterraean Health Journal.

Netter, F. H., 2011. Atlas of Human Anatomy. 5th edition. Philadelphia, USA : Saunders Elsevier.

Oghalai, J.S., Brownell, W.E., 2008. Anatomy & Phisiology of the Ear. In : Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology-Head & Neck Surgery. 2nd edition. USA: McGraw-Hill-Lange, 577-595.

Okhovat, S.A., et. al, 2011. Evaluation of hearing loss in Juvenile Insulin Dependent patients with diabetes mellitus. In : Journal of Research in

Medical Sciences. Available from : 26 March 2012]

Onerci, T. M., 2009. Diagnosis in Otorhinolaryngology. Springer-Verlag Berlin Heidelberg : London.

Porth, C.M., 2006. Essentials of Patophysiology. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.

Power, A. C., 2005. Diabetes Melitus. In : Harrison’s Principal of Internal Medicine. 16th edition. USA : McGraw-Hill company, 2152 – 2179.

Rajendran, S., et. al, 2011. Evaluation of the Incidence of Sensorineural hearing loss in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus. In : International Journal of Biological & Medical Research. Available from :

Roglic, G., Green, A., Sicree, R., King, H., 2004. Global Prevalence of Diabetes, Estimates for the year 2000 and projection for 2030. In : Diabetes Care 27

: 1047-1053. Available from :

April 2012]

Sastroasmoro, S. & Ismael, S., 2011. Dansar-dansar Metodologi Penelitian Klinis.4th Edition. Jakarta: Sagung Seto.

Sherwood, L., 2001. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi 2. Jakarta : ECG.

Soegondo, S., 2006. Farmakoterapi pada Pengendanlian Glikemia Diabetes Melitus Tipe 2. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th edition. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1860 – 1863.

Soetirto, I., Hendanrmin, H., Bashiruddin, J., 2007. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. In : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 6th edition. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 10-22.

Suryono, S., 2006. Diabetes Melitus di Indonesia. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th edition. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1852- 1856.

Suwento, R., Hendarmin, H., 2007. Gangguan Pendengarean pada Geriatri. In : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 6th edition. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 43-45.

Sweetow, R. W., Sabes, J.H., 2008. Audiologic Testing. In : Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head & Neck Surgery. 2nd edition. USA : McGraw-Hill Companies, Lange, 596 – 606.

UMMC, University of Maryland Medical Center, 2012. Hearing and Balance

Centre. Available from :

Vorvick, L. J., 2011. Hearing loss. University of Maryland Medical Center (UMMC). Available from [Accessed 11 Mei 2012].

Waspadaji, S., 2006. Komplikasi Kronik Diabetes : Mekanisme Terjadinya Diagnosis dan Strategi Pengelolaan. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th edition. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1884 – 1888.

WHO, 2012. Grades of Hearing Impairment. Available from :

Yunir, E., Soebardi, S., 2006. Terapi Non Farmakologis pada Diabetes Melitus. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th edition. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1864 – 1867.

LAMPIRAN I

RIWAYAT HIDUP PENELITI

Nama : Annisa Dwi Andriani Tempat/ tanggal lahir : Jakarta/ 7 Mei 1991 Pekerjaan : Mahasiswa

Agama : Islam

Alamat : Komplek Taman Setia Budi Indah Blok YY No. 128, Medan

Nomor Telepon : 085270763688 / 08994906991 Orang Tua :

- Ayah : Ardiono

- Ibu : dr. Suliarni, Sp.PK

Riwayat Pendidikan : TK Mandiri Medan ( 1994 – 1997 ) SD Harapan 2 Medan ( 1997 – 2003 ) SMP Negeri 1 Medan ( 2003 – 2006 ) SMA Negeri 1 Medan ( 2006 – 2009 ) Universitas Sumatera Utara (2009 – sekarang) Riwayat Organisasi : OSIS SMA Negeri 1 Medan

BAKMISS SMA Negeri 1 Medan

Tim Bantuan Medis FK Universitas Sumatera Utara PHBI Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN II

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) (INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama :

Umur : Jenis Kelamin :

Setelah mendapat penjelasan dari peneliti tentang penelitian “Hubungan Diabetes Melitus dengan Gangguan Pendengaran di RSUP H. Adam Malik Medan”, maka dengan ini saya mengatakan bahwa saya memahami penjelasan secara lengkap. Saya secara sukarela dan tanpa paksaan bersedia ikut serta dalam penelitian ini.

Demikian surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Medan, ...2012

( )

LEMBAR PENJELASAN Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya, Annisa Dwi Andriani, mahasiswa semester VI dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, saat ini sedang melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Diabetes Melitus dengan Gangguan Pendengaran”.

Diabetes Melitus atau yang lebih dikenal sebagai sakit gula atau kencing manis merupakan salah satu penyakit metabolik yang sering dijumpai di Indonesia. Penyakit ini menyebabkan mikroangiopati pada pembuluh darah pada telinga dalam serta kehilangan sel rambut. Perubahan patologi yang berlaku akibat diabetes dengan merusak pembuluh darah atau sistem neural pada telinga dalam dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Penelitian saya ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Diabetes Melitus dengan gangguan pendengaran.

Untuk mendapatkan data penelitian ini, saya memohon kesediaan Bapak/Ibu untuk diperiksa pendengarannya dengan alat Audiometri. Pemeriksaan ini tidak akan menimbulkan rasa nyeri atau rasa tidak menyenangkan lainnya. Data-data yang didapatkan hanya akan digunakan dalam penelitian ini dan tidak akan disebar untuk tujuan lain.

Tidak ada biaya apa pun yang akan dikenakan pada penelitian ini. Partisipasi penelitian ini bersifat bebas dan tanpa ada paksaan. Anda berhak untuk menolak berpartisipasi tanpa dikenakan sanksi apapun.

Demikian penjelasan ini saya sampaikan. Setelah memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini, diharapkan Anda mengisi lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP) yang telah saya persiapkan. Atas partisipasi dan kesediaan Anda, saya ucapkan terima kasih.

Medan, ...2012

LAMPIRAN IV

DATA PASIEN

Nomor :

Nama :

Alamat :

Umur :

Jenis kelamin :

Pendidikan terakhir :

Pekerjaan :

Nomor tlpn./HP :

Riwayat penyakit :

Lama sakit :

Riwayat Konsumsi obat :

1 Ansyah perempuan 52 DM 1 Tuli Sensorineural 2 Nippon Ginting laki-laki 60 DM 3 Tuli Sensorineural

3 Iriani perempuan 50 DM 1 Tuli Sensorineural

4 Gunawan Ginting laki-laki 60 DM 12 Tuli Sensorineural

5 Mastika perempuan 57 DM 8 Tuli Sensorineural

6 Astrijar Pane perempuan 39 DM 1 Tuli Sensorineural 7 R. Anting Suryaningsih perempuan 60 DM 5 Tuli Sensorineural

8 L. Purbangun laki-laki 55 DM 3 Tuli Sensorineural

9 Suria Idawati perempuan 55 DM 1 Normal

10 Sartin Br. Sembiring perempuan 60 DM 4 Tuli Sensorineural

11 Amir Hasan laki-laki 58 DM 17 Tuli Sensorineural

Dokumen terkait