• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN KASUS

B. Deskripsi Kasus

Penelitian yang dilakukan di ruang penyakit dalam pria melibatkan 2 partisipan yaitu Tn.K (partisipan 1), dan Tn.D (partisipan 2) yang memiliki diagnosis medis sama yaitu Choronic Kidney Disease (CKD) stage V on HD, dan anemia berat. Penelitian pada partisipan I dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2017 – 22 Mei 2017, sedangkan

partisipan II dilaksanakan pada tanggal 19 – Mei 217 – 23 – Mei 2017 .

1. Pengkajian

Hasil pengkajian yang didapatkan peneliti melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi pada kedua partisipan dicantumkan dalam tabel sebagai berikut.

42

Poltekkes Kemenkes Padang

Tabel 4.1 Hasil Pengkajian

Pengkajian Partisipan I Partisiapan II

Identitas Klien

Klien bernama Tn. K dengan No. RM 97 49 07 berusia 41 tahun lahir di Painan tanggal 08 – Juli –

1976. Klien beragama Islam, status sudah menikah. Alamat di Salido Kecil Tambang IV Jurai Pesisir Selatan. Klien sehari – hari bekerja

sebagai petani dengan pendidikan terakhir SD. Klien dirawat dengan diagnosis klinis Choronic Kidney Disease (CKD) stage V on HD dan anemia berat

Klien bernama Tn. D dengan No. RM 96 87 12 berusia 40 tahun, lahir di Muaro Labuah pada tanggal 09 – November – 1977. Klien beragama

Islam, status klien sudah menikah dan beralamat di Pasar Timur Pasar Muaro Labuh Sungai Pagu Solok selatan. Klien sehari – hari

bekerja sebagai pedagang dengan pendidikan terakhir SMP. Klien dirawat dengan diagnosis klinis Choronic Kidney Disease (CKD) stage V on HD, dan anemia berat.

Identitas Penanggung Jawab

Penanggung jawab klien Tn. B, pekerjaan sebagai petani, Alamat di Salido Kecil Tambang IV Jurai Pesisir Selatan, hubungan dengan klien yaitu ayah

Penanggung jawab Klien Ny. M, pekerjaan ibu rumah tangga, alamat di Pasar Timur Pasar Muaro Labuh Sungai Pagu Solok selatan, hubungan dengan klien yaitu istri.

Keluhan utama

Klien masuk melalui IGD RSUP DR. M. Djamil

Klien masuk melalui IGD RSUP DR. M. Djamil

43

Poltekkes Kemenkes Padang

padang pada tanggal 17 Mei 2017 Pukul 11.47 WIB dengan keluhan badan terasa lelah, nafas sesak, edema pada eksremitas, BAK sedikit sejak 3 bulan yang lalu. Sebelum kerumah sakit klien sempat mengalami kejang.

Padang pada tanggal 18 Mei 2017 Pukul 20.31 WIB dengan keluhan, edema pada ekremitas bawah, BAK sedikit, volume BAK 100 cc, dan nafas sesak, badan terasa lemah dan cepat lelah. muntah sejak 2 hari yang lalu, BAB berwarna hitam sejak 1 minggu yang lalu konsistensi encer. Klien merupakan rujukan dari RSUD Solok Selatan dengan CKD Stage V On HD.

Riwayat kesehatan sekarang

Pengkajian dilakukan pada

hari jum’at tanggal 18 Mei

2017 Pukul 10.00 WIB di ruang penyakit dalam pria RSUP. Dr. M. Djamil Padang ditemukan klien dalam keadaan umum tampak lemas, bibir tampak pucat dan kering. Klien mengatakan nafas nya sesak, sesak semakin meningkat apabila banyak beraktivitas dan nyeri muncul pada bagian perut. Klien mengeluh mual, badan terasa lemas dan mudah lelah. Klien

Pengkajian dilakukan pada

hari Jum’at tanggal 19 Mei

2017 Pukul 09.00 WIB di ruang penyakit dalam pria RSUP. Dr. M. Djamil Padang tampak klien dalam keadaan umum tampak lemas, kesadaran composmentis, terpasang IVFD NaCl 0,9% drip Prosogan 2 ampul 20x tetes permenit, klien terpasang slang oksigen binasal canule 4 l/i, wajah pucat, bibir pecah – pecah,

edema pada eksremitas bawah, akral eksremitas dingin, perut asites. Klien

44

Poltekkes Kemenkes Padang

terpasang slang oksigen binasal canule 4 l/i Terdapat distensi abdomen, edema pada eksremitas bawah. Klien terpasang IVFD NaCl 0,9% per 24 jam, klien mengatakan BAK sedikit, dan tidak ada nyeri pada saat BAK. Volume BAK ±50 cc per 24 jam. Klien juga mengeluh nyeri pada bagian perut. Klien mengatakan skala nyeri 7-8 durasi 5-10 detik, klien tampak meringis. Saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah 190/100 mmHg, nadi 83 kali permenit, pernafasan 25 kali permenit, suhu 36,50C

juga mengatakan nafas terasa sesak, klien mengeluh mual, dan badan terasa lemas, letih, cepat lelah, sehingga akivitas dibantu oleh keluarga dan tenaga kesehatan. Klien juga mengeluhkan BAK sedikit, volume BAK ±100 cc per 24 jam. Klien mengeluh nyeri pada bagian perut dan mendesak ke ulu hati, klien mengatakan nyeri seperti di terkam, muncul secara tiba –

tiba, skala nyeri 6 durasi 5-10 detik, klien tampak meringis. Saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah 170/90 mmHg, nadi 72 kali permenit, pernafasan 28 kali permenit, suhu 36,70C.

Riwayat kesehatan dahulu

Klien mengatakan 3 bulan sebelumnya pernah dirawat di RSUP Dr. M. Djamil padang karena CKD dan pada bulan april klien kembali dirawat untuk pemasangan CDL. Selain itu klien memiliki riwayat hipertensi sejak 1

Klien mengatakan

sebelumnya pernah dirawat dua kali karena CKD. Klien pertama kali dirawat pada bulan januari di RSUP Dr. M Djamil padang selama 1 minggu karena BAK sedikit. Pada bulan Maret klien dirawat kembali untuk

45

Poltekkes Kemenkes Padang

tahun yang lalu tidak pernah di kontrol kepelayanan kesehatan.

pemasangan CDL. Klien memiliki riwayat hipertensi diketahui semenjak 5 bulan yang lalu tidak terkontrol. Klien mengatakan sebelum dirawat di RSUP Dr. M. Djamil, klien dirawat di RSUD Solok selatan selama 10 hari karena sesak nafas, badan lemas dan edema pada eksremitas.

Riwayat kesehatan keluarga

Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga dari klien yang memiliki riwayat penyakit keturunan seperti hipertensi dan diabetes, klien juga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit yang sama dengan klien.

Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga dari klien yang memiliki riwayat penyakit keturunan seperti hipertensi dan diabetes, klien juga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit yang sama dengan klien.

Pola Makan dan minum

Saat sehat klien makan 3 kali sehari porsi habis, dengan komposisi nasi, lauk pauk dan sayur. Klien jarang mengkonsumsi buah. Ketika sakit nafsu makan menurun, makan 3 x sehari diit RG II RP 40 gr, klien hanya

Saat sehat klien memiliki pola makan 5 kali sehari waktu tidak teratur dengan komposisi nasi, lauk pauk, sayur serta jarang mengkonsumsi buah –

buahan. Klien mengatakan suka mengkonsumsi makanan yang berminyak

46

Poltekkes Kemenkes Padang

menghabiskan ¼ porsi. dan bersantan. Klien mengatakan nafsu makan selama di rumah sakit menurun karena mual muntah, dari ahli gizi klien diberikan diit MC rendah protein yaitu jus pepaya 3x 300 cc + gula 100 gr, klien hanya menghabiskan 3-4 sendok diit yang diberikan. Pola

eleminasi

Ketika sakit klien mengalami perubahan pola eliminasi, klien BAK 5-7 kali perhari berwana kuning, bau khas, (1x BAK : 3-5 cc). Klien mengatakan BAK sedikit sejak 3 bulan yang lalu. Klien BAB 1-2 kali perhari konsistensi encer bau khas. Klien tidak terpasang kateter.

Pola eliminasi klien di rumah sakit yaitu BAK 6-8 kali perhari, bau khas berwarna bening, banyak BAK selama sakit ±100 cc per 24 jam, (1x BAK : 5-10 cc). BAB 1-2 kali perhari berbau pepaya, berwarna hitam dengan konsitensi lembek. Klien tidak tepasang kateter, klien menggunakan pampers.

Pola

istirahat dan tidur

Klien mengatakan selama dirumah sakit pola tidur klien sedikit terganggu karna sering terbangun akibat nyeri yang dirasakan pada bagian perut.

Klien mengatakan selama dirumah sakit pola tidur klien sedikit terganggu karna sering terbangun akibat nafas sesak dan nyeri yang dirasakan pada bagian perut.

47

Poltekkes Kemenkes Padang

Pola

aktivitas dan latihan

Ketika sakit, klien merasa badan nya cepat lelah dan nafas sesak apabila banyak beraktifitas. Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari klien

membutuhkan bantuan dari keluarga dan tenaga kesehatan.

Saat sakit klien mengatakan badan terasa lemas dan cepat lelah apabila banyak beraktifitas. Untuk memenuhi kebutuhan sehari

– hari klien membutuhkan

bantuan dari keluarga dan tenaga kesehatan.

Pemeriksaan fisik

Saat dilakukan

pemeriksaan pada Tn. K, klien tampak lemas, pucat dengan kesadaran composmentis. Hasil pengukuran tekanan darah 190/100 mmHg, nadi 83 kali permenit, pernafasan 25 kali permenit, suhu 36,50C. Pada hasil pemeriksaan didapatkan rambut klien berwarna hitam kering dan kusam, konjungtiva anemis, mukosa bibir kering, pecah-pecah, perut membuncit, terdapat nyeri tekan pada bagian perut, dan terdapat bekas luka operasi laparatomi berwarna kecoklatan, panjang 16 cm. akral

Saat dilakukan pemeriksaan pada Tn. D, klien tampak lemas, dengan kesadaran composmentis. Hasil pengukuran tekanan darah 170/90 mmHg, , nadi 72 kali permenit, pernafasan 28 kali permenit, suhu 36,70C. Pada hasil pemeriksaan didapatkan rambut klien berwarna hitam kering dan kusam, wajah pucat, konjungtiva anemis, mukosa bibir kering, pecah-pecah, perut tampak membuncit, akral dingin, capillary refill time >3 detik eksremitas bawah pitting edema derajat III.

Klien tidak ada pemasangan kateter, klien memakai pempers.

48

Poltekkes Kemenkes Padang

dingin, capillary refill time kembali time >3 detik, pitting edema pada eksremitas bawah derjat IV. Klien tidak menggunkan kateter, klien memakai pempers.

Pemeriksaan penunjang

Hasil pemeriksaan hematologi Tn. K pada tanggal 17 Mei 2017 yaitu hemoglobin 5,0 g/dl (14-16 g/dl), leukosit 9.600/mm3 (5.000-10.000/mm3), trombosit 264.000 /mm3 (150.000-400.000/ mm3), hematokrit 16% (40-48%), ureum darah 151 mg/dl (10 – 50 mg/dl), kreatinin darah 9,7 mg/dl (0,6-1,1 mg/dl), albumin 2,7 g/dl (3,8-5,0 g/dl). Berdasarkan hasil pemeriksaan labor Tn.D pada tanggal 18 Mei 2017, didapatkan hemoglobin Tn. D 3,2 g/dl (14-16 g/dl), luekosit 16.410/mm3 (5.000-10.000/mm3), trombosit 1.15.000/mm3 (150.000-400.000/ mm3), ureum darah 345mg/dl (10 – 50 mg/dl), kreatinin darah 11,5 mg/dl (0,6-1,1 mg/dl), PO2 73 mmHg, PCO2 38 mmHg, HCO3 21,5 mmol/l. Program pengobatan

Terapi yang diberikan dokter kepada Tn. K yaitu Bicnat 3x50 mg, asam folat 1x5 mg, Amlodipin 1 x 10 mg, Condensertan 1 x 16 m transfusi PRC pre lasix 1 ampul, Nacl 0,9%.

Terapi yang diberikan dokter kepada Tn.D yaitu ceftazidiem 2x 1 gr, levofloxocim 1x 500 mg, bicnat 1x 5 mg, asam folat 1x5 mg, transamin 3 x 500 mg, Vitamin K 3 X 1 gr, transfusi PRC pre lasix 1 ampul, Nacl 0,9% drip

49

Poltekkes Kemenkes Padang

prosogan 2 ampul.

2. Diagnosis Keperawatan

Setelah dilakukan pengkajian kemudian mengelompokkan data, memvalidasi data dan menganalisa data, maka ditemukan beberapa masalah keperawatan pada partisipan kedua partisipan. Berikut ini merupakan diagnosis keperawatan yang muncul terhadap kedua partisispan

Tabel 4.2

Diagnosis Keperawatan

Partisipan I Partisipan II

Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan uremia ditandai dengan data subjektifnya yaitu klien sempat mengalami kejang sebelum dibawa kerumah sakit. Untuk data objektifnya yaitu dari hasil pemeriksaan tekanan darah 190/100 mmHg, pernafasan 25x/menit dan hasil pemeriksaan ureum darah 151 mg/dl, kreatinin darah 9,7 mg/dl.

Risiko cidera berhubungan dengan profil darah yang abnormal (uremia) ditandai dengan data objektifnya yaitu terjadinya penurunan hemoglobin yaitu 5,0 g/dl, ureum darah 151 mg/dl.

Ketidakefektifan perfusi jaringan

Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan uremia ditandai data objektifnya yaitu hasil pemeriksaan tekanan darah 170/90 mmHg, pernafasan 28x/menit dan hasil pemeriksaan ureum darah 345 mg/dl, kreatinin darah 11,5 mg/dl.

Risiko cidera berhubungan dengan profil darah yang abnormal (uremia) ditandai dengan data objektifnya yaitu terjadinya penurunan hemoglobin yaitu 3,2 g/dl, ureum darah 345 mg/dl.

Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan denganberkurangnya suplai

50

Poltekkes Kemenkes Padang

perifer berhubungan dengan berkurangnya suplai oksigen ke jaringan ditandai dengan data subjektif klien mengatakan nafasnya sesak, sesak meningkat saat beraktivitas, data objektifnya yaitu pernafasan klien 25 kali permenit, terpasang slang oksigen binasal canule 4l/I, dengan hasil pemeriksaan laborlatorium yaitu hemoglobin 5,0 g/dl, akral dingin, capillary refill time > 3 detik.

Masalah keperawatan

ketidakefektifan pola nafas

berhubungan dengan

hiperventilasi. Berdasarkan dengan data subjektif yang ditemukan yaitu klien mengatakan nafasnya sesak ketika banyak beraktivitas dan nyeri pada bagian perut muncul. Data objektif yang didapatkan frekuensi pernafasan klien 25x/i, ,terpasang slang oksigen binasak canule 4l/i, hemoglobin 5,0 g/dl.

Kelebihan volume airan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi. Berdasarkan data subjektifnya, klien mengatakan kaki semakin membengkak, dan

oksigen ke jaringan. Berdasarkan data subjektif yang didapat yaitu klien mengatakan telapak kaki terasa berat. Data objektifnya ditandai dengan akral teraba dingin, capillary refill time > 3 detik, tekanan darah 170/90 mmHg, nadi 72 kali permenit, pernafasan 28 kali permenit, hemoglobin 3,2 g/dl PO2 73 mmHg.

Masalah keperawatan

ketidakefektifan pola nafas

berhubungan dengan

hiperventilasi. Berdasarakan dengan data subjektif yang ditemukan yaitu Tn.D mengatakan nafasnya sesak dan terasa berat. Untuk data objektif pada diagnosis ini yaitu pada saat pengkajian RR Tn.D 28x/i, hemoglobin 3,2 g/dl terpasang slang binasal canule 4 l/i.

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi. Berdasarkan data subjektifnya, klien mengatakan kaki semakin membengkak, dan urine yang keluar sedikit. Data Objektifnya

51

Poltekkes Kemenkes Padang

urine yang keluar sedikit. Data objektifnya ditandai dengan pitting edema derajat IV, tekanan darah 190/100 mmHg dan hasil pemeriksaan ureum darah 151 mg/dl, kreatinin darah 9,7 mg/dl.

Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisiologis . Berdasarkan data subjektif nya yaitu klien mengatakan nyeri pada bagian perut mendesak ke ulu hati, klien mengatakan skala nyeri 7-8 durasi 5-10 detik. Data objektifnya ditandai dengan klien tampak meringis.

Mual berhubungan dengan uremia data subjektif yang ditemukan, klien mengeluh mual, tidak nafsu makan. Data objektif yang didapatkan yaitu klien tidak menghabiskan diit yang diberikan, ureum darah 151 mg/dl.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dengan penyebab intake nutrisi tidak adekuat. Berdasarkan data subjektif yang ditemukan yaitu, klien mengeluh mual dan nyeri pada bagian perut, dari data objektif di

ditandai dengan pitting edema derajat III, tekanan darah 170/90 mmHg dan hasil pemeriksaan ureum darah 345 mg/dl, kreatinin darah 11,5 mg/dl.

Masalah keperawatan selanjutnya yang muncul yaitu nyeri berhubungan dengan agen cedera fisiologis . Berdasarkan data subjektif nya yaitu klien mengatakan nyeri pada bagian perut mendesak ke ulu hati, klien mengatakan skala nyeri 6 durasi 5-10 detik. Data objektifnya ditandai dengan klien tampak meringis.

Mual berhubungan dengan uremia data subjektif yang ditemukan, klien mengeluh mual, tidak nafsu makan. Data objektif yang didapatkan yaitu klien tidak menghabiskan diit yang diberikan, ureum darah 345 mg/dl.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dengan penyebab intake nutrisi tidak adekuat. Berdasarkan data subjektif yang ditemukan yaitu, klien mengeluh mual dan nyeri

52

Poltekkes Kemenkes Padang

dapatkan klien hanya menghabiskan ¼ diit yang diberika, klien tampak pucat, konjungtiva anemis, hemoglobin 5,0 g/dl, albumin 2,7 g/dl.

Masalah keperawatan intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Berdasarakan data subjektif yang ditemukan yaitu klien mengatakan badan terasa cepat lelah dan tubuh terasa lemas, nafas terasa sesak apabila banyak beraktivitas. Data objektif ditandai dengan klien tampak lemas, pucat, Hemoglobin 5,0 g/dl, aktivitas dibantu keluarga dan tenaga kesehatan.

pada bagian perut, dari data objektif di dapatkan klien hanya menghabiskan 3-4 sendok diit yang diberika, klien tampak pucat, konjungtiva anemis, hemoglobin 3,2 g/dl. g/dl.

Masalah keperawatan intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Berdasarakan data subjektif yang ditemukan yaitu klien mengatakan badan terasa cepat lelah dan tubuh terasa lemas, nafas teraa sesak apabila banyak beraktivitas. Data objektif ditandai dengan klien tampak lemas, pucat, Hemoglobin 3,2 g/dl, aktivitas dibantu keluarga dan tenaga kesehatan.

3. Rencana Asuhan Keperawatan

Berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan pada klien, maka diperlukan rencana keperawatan yang didalamnya terdapat tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan dapat mengatasi masalah keperawatan. Berikut adalah rencana asuhan keperawatan pada kedua partisipan.

Tabel 4.3

Rencana Asuhan Keperawatan

Partisipan I Partisipan II

Pada masalah risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral

Pada masalah risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral

53

Poltekkes Kemenkes Padang

berhubungan dengan uremia diharapkan status neurologi baik dengan criteria hasil kesadaran tidak terganggu, pola istirahat dan tidur tidak terganggu, pola pernafasan tidak terganggu, orientasi kognitif tidak terganggu dengan rencana keperawatan yang dilakukan yaitu dengan manajemen edema serebral seperti monitar tanda-tanda vital, monitor status pernafasan : frekuensi, irama kedalaman pernapasan, PaO2, PCO2, PH, bikarbonat, posisikan tinggi kepala tempat tidur 30 derajat atau lebih, batasi cairan, berikan diuretik osmotic. monitor neurologi dengan pantau ukuran pupil memonitor tingkat kesadaran, memonitor tingkat orientasi.

Untuk masalah risiko cidera berhubungan dengan uremia rencana keperawatan yang dilakukan yaitu manajemen edema serebral, manajemen energi. Pencegahan jatuh: identifikasi kekurangan baik kognitif atau fisik dari pasien, identifikasi karakteristik dari lingkungan, kaji ulang riwayat jatuh, monitor kemampuan berpindah, sediakan pencahayaan yang cukup, sediakan pengawasan yang ketat, gunakan tempat tidur yang dapat

berhubungan dengan uremia diharapkan status neurologi baik dengan criteria hasil kesadaran tidak terganggu, pola istirahat dan tidur tidak terganggu, pola pernafasan tidak terganggu, orientasi kognitif tidak terganggu dengan rencana keperawatan yang dilakukan yaitu dengan manajemen edema serebral seperti monitar tanda-tanda vital, monitor status pernafasan : frekuensi, irama kedalaman pernapasan, PaO2, PCO2, PH, bikarbonat, posisikan tinggi kepala tempat tidur 30 derajat atau lebih, batasi cairan, berikan diuretik osmotic. monitor neurologi dengan pantau ukuran pupil memonitor tingkat kesadaran, memonitor tingkat orientasi.

Untuk masalah risiko cidera berhubungan dengan uremia rencana keperawatan yang dilakukan yaitu manajemen edema serebral, manajemen energi. Pencegahan jatuh: identifikasi kekurangan baik kognitif atau fisik dari pasien, identifikasi karakteristik dari lingkungan, kaji ulang riwayat jatuh, monitor kemampuan berpindah, sediakan pencahayaan yang cukup, sediakan pengawasan yang ketat, gunakan tempat tidur yang dapat

54

Poltekkes Kemenkes Padang

membatasi gerakan.

Pada masalah ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan berkurangnya suplai oksigen ke jaringan diharapakan perfusi jaringan perifer kembali efektif dengan kriteria hasilsuhu kulit, ujung kaki dan tangan dalam kisaran normal,tekanan darah sistolik dalam rentang normal, tekanan darah diastolik dalam kisaran normal , tidak ada muka pucat ,tidak ada kelemahan otot. Rencana keperawatan yang dilakukan adalah manajemen hipovelemi : monitor adanya tanda-tanda dehidrasi (misalnya, turgor kulit buruk, capillary refill terlambat, nadi lemah, sangat haus, membran mukosa kering, dan penurunan urin output monitor adanya sumber-sumber kehilangan cairan (misalnya., perdarahan, muntah, diare, keringat yang berlebihan, dan takpnea) posisikan untuk perfusi perifer. Monitor vital sign monitor TD, Nadi, Suhu, dan RR, catat adanya fluktuasi tekanan darah, monitor kualitas nadi, monitor pola pernapasan yang abnormal, monitor suhu, warna, dan kelembapan kulit.

membatasi gerakan.

Pada masalah ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan berkurangnya suplai oksigen ke jaringan diharapakan perfusi jaringan perifer kembali efektif dengan criteria hasilsuhu kulit ujung kaki dan tangan dalam kisaran normaltekanan darah sistolik dalam rentang normal, tekanan darah diastolik dalam kisaran normal , tidak ada muka pucat ,tidak ada kelemahan otot. Rencana keperawatan yang dilakukan adalah manajemen hipovelemi : monitor adanya tanda-tanda dehidrasi (misalnya, turgor kulit buruk, capillary refill terlambat, nadi lemah, sangat haus, membran mukosa kering, dan penurunan urin output monitor adanya sumber-sumber kehilangan cairan (misalnya., perdarahan, muntah, diare, keringat yang berlebihan, dan takpnea) posisikan untuk perfusi perifer. Monitor vital sign monitor TD, Nadi, Suhu, dan RR, catat adanya fluktuasi tekanan darah, monitor kualitas nadi, monitor pola pernapasan yang abnormal, monitor suhu, warna, dan kelembapan kulit.

55

Poltekkes Kemenkes Padang

Masalah keperawatan ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi tujuan yang diharapkan adalah pernafasan pasien kembali nomal dengan kriteria hasil tidak ada deviasi frekuensi Pernafasan, irama pernafasan dalam rentang normal, tidak ada penggunaan otot bantu nafas, tidak ada peningkatan frekuensi pernafasan, dan tidak ada nyeri kepala. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan adalah manajemen jalan nafas : posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, auskultasi suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan, monitor respirasi monitoring pernafasan yaitumonitor pola nafas (bradipneu, takiepneu, hiperventilasi, kusmaul), monitoring vital sign : monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafsan. Terapi oksigen : pertahankan jalan nafas yang paten, atur peralatan oksigenisasi, monitor aliran oksigen, pertahankan posisi pasien, observasi adanyan tanda – tanda hipoventilasi.

Pada masalah keperawatan kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi tujuan yang diharapkan adalah terjadi keseimbangan cairan dan elektrolit

Masalah keperawatan ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi tujuan yang diharapkan adalah pernafasan pasien kembali nomal dengan kriteria hasil tidak ada deviasi frekuensi Pernafasan, irama pernafasan dalam rentang normal, tidak ada penggunaan otot bantu nafas, tidak ada peningkatan frekuensi pernafasan, dan tidak ada nyeri kepala. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan adalah manajemen jalan nafas : posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, auskultasi suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan, monitor respirasi monitoring pernafasan yaitumonitor pola nafas (bradipneu, takiepneu, hiperventilasi, kusmaul), monitoring vital sign : monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafsan. Terapi oksigen : pertahankan jalan nafas yang paten, atur peralatan oksigenisasi, monitor aliran oksigen, pertahankan posisi pasien, observasi adanyan tanda – tanda hipoventilasi.

Pada masalah keperawatan kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi tujuan yang diharapkan adalah terjadi

56

Poltekkes Kemenkes Padang

dalam tubuh dengan criteria hasil tekanan darah dalam batas normal, keseimbangan intake dan output, kestabilan berat badan, tidak ada edema perifer, elektrolit serum dalam batas normal, berat jenis urin tidak terganggu. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan pada diagnosis keperawatan ini adalah manajemen elektrolit/ cairan yaitu pantau kadar serum elektrolit, anjurkan klien batasi cairan, berikan resep diet yang tepat untuk cairan tertentu atau

Dokumen terkait