• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROFIL KOTA RANTAUPRAPAT DAN KEBERADAAN

2.3 Deskripsi Keberadaan Pengusahaan Sarang Burung

Pada awalnya sarang burung walet tidak pernah diusahakan.Artinya, sarang burung walet merupakan hasil alami dari walet tersebut tanpa ada usaha ataupun upaya manusia untuk membuatnya. Burung walet sendiri secara alamiah tinggal pada gua-gua yang gelap dan lembab.Manusia awalnya hanya memanfaatkan sarang burung walet alami, dengan mencari di gua-gua walet. Air liur burung walet ini dipercaya berkhasiat positif bagi kesehatan. Air liur burung walet dipercaya dapat menyehatkan tubuh, meningkatkan stamina.

Burung walet merupakan burung dengan tubuh berukuran kecil, sekitar 9 cm. Berwarna hitam biru mengkilat. Ekor sedikit bertakik. Dagu abu-abu. Perut putih mencolok. Menukik untuk minum air sungai. Jarang sekali bertengger. Menggunakan ekholokasi. Habitatnya ialah semua tipe hutan. Frekuensi suara burung walet berkisar 7-16 kHz dengan energi utama 2-7 kHz. Burung walet atau dengan nama latin

Aerodramus fuciphagus merupakan kerajaan animalia, filum chordata, kelas aves,

ordo apodiformes dan famili apodidae.42

Manusia awalnya hanya memanfaatkan sarang burung walet alami saja. Namun, seiring meningkatnya jumlah penduduk dan permintaan akan sarang burung walet pun meningkat, barulah manusia menciptakan habitat non-alami untuk burung walet. Pengusahaan Sarang Burung Walet di Labuhan Batu sudah ada sejak tahun 1980-an dan terus mengalami peningkatan jumlah pengusahaan dari tahun ke tahun.

42

41

Ditambah lagi, permintaan terhadap sarang burung walet dari Rantauprapat oleh luar negeri cukup tinggi. Itulah sebabnya lama-kelamaan jumlah pengusahaan ini semakin banyak.

Habitat buatan ini selanjutnya dioperasikan pada ruko-ruko bertingkat, kemudian dibuat sedemikian rupa untuk membuat habitat asli burung walet. Pada ruko-ruko walet akan dijumpai sebuah ciri tertentu yaitu, ada semacam jendela pada bagian paling atas ruko. Jendela tersebut merupakan pintu masuk keluarnya walet yang diusahakan. Pada jendela itu juga, terdapat sebuah alat pemancing yang lazimnya disebut tweeter walet. Tweeteritulah yang berfungsi sebagai pemancing agar burung walet mau masuk ke dalam ruko tersebut.

Lokasi Pengusahaan Sarang Burung Walet di Kecamatan Rantau Utara dilakukan pada ruko-ruko bertingkat dua atau tiga. Ada ruko yang kosong dan juga yang dihuni oleh orang. Artinya, ada sebagian pengusaha yang dengan sengaja tinggal satu atap dengan burung walet yang diusahakannya. Bagi pengusahaan yang ditinggali pemiliknya, musik burung atau tweeter-nya dioperasikan secara manual. Pemilik usaha burung walet mengatur hidup matinya tweeter tersebut. Namun, bagi pengusahaan yang kosong, yang tidak ditinggali oleh orang, tweeter diatur sedemikian rupa dengan alat timer atau pengatur waktu otomatis.

Musik pemancing atau tweeter tersebut pun terdiri atas dua jenis. Pertama,

tweeter yang dipasang di dalam tempat walet bergantungan. Hanya saja musiknya

42

walet dapat betah di dalamnya. Tweeter ini tidak akan terdengar orang jika sedang melintas di depan ruko. Kedua, tweeter yang dipasang di luar ruko. Dipasang di bagian puncak ruko, dengan menggunakan speaker corong. Tweeter yang di luar inilah yang berfungsi untuk memanggil burung walet yang sedang berterbangan dari jauh. Tweeter ini beroperasi mulai pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB.

Pada dasarnya, pengusahaan sarang burung walet merupakan pengusahaan ruko saja. Burung walet merupakan jenis binatang liar dan tidak dibudidayakan. Pengusahaan sarang burung walet juga tidak memberikan pakan atau makanan kepada burung walet yang diusahakannya. Hanya menyediakan ruko sebagai tempat burung walet singgah. Burung walet secara alamiah dapat pergi semaunya. Disebabkan habitat alaminya di hutan, burung walet akan terbang jauh menuju hutan dan mencari makan di sana.

TABEL 2.3

NAMA-NAMA PENGUSAHA SARANG BURUNG WALET YANG MEMILIKI IZIN DI KECAMATAN RANTAU UTARA

No Nama Alamat Wajib Pajak Lokasi Penangkaran Izin

Diterbitkan Tahun

1. Hermanto Jl. Torpisang Mata No. 100 Rantauprapat

Jl. Torpisang Mata No. 100 Rantauprapat

2010

2. Wagimin Jl. Mardan No. 7 Kel. Cendana

Jl. Mardan No. 7 Kel. Cendana

2010

43

Suhani Cendana Cendana 4. Munir Jl. Imam Bonjol No. 58

Kel. Cendana

Jl. Imam Bonjol No. 58 Kel. Cendana

2011

5. Lok Siu Leng/ Suarti

Jl. Imam Bonjol No. 79 Kel. Cendana

Jl. Imam Bonjol No. 79 Kel. Cendana

2011

Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Labuhan Batu

Hanya ada lima pengusaha yang terdaftar mempunyai izin usaha sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara tetapi izin tersebut pun sudah tidak berlaku lagi. Izin terakhir yang terdaftar memiliki izin dikeluarkan pada tahun 2011, sementara izin hanya berlaku selama 4 tahun.Ini menjelaskan bahwa pengusahaan sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara berjalan secara tidak resmi.

Kecamatan Rantau Utara ternyata memiliki lebih dari 30 ruko pengusahaan sarang burung walet namun, tak satupun dari pengusahaan sarang burung walet tersebut yang memiliki izin resmi pengusahaan. Hal tersebut disinyalir terjadi akibat penurunan harga sarang burung walet yang sangat drastis. Pada tahun 2010, harga jual sarang burung walet dengan kualitas terbaik bisa mencapai 20 juta per kilogram-nya. Sementara sekarang, harga jual sarang burung walet dengan kualitas yang sama hanya sekitar 2 juta per kilogram-nya. Penyebab drastisnya penurunan harga jual sarang walet tersebut pun tidak jelas diketahui.

Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu pada tahun 2010 mewacanakan pelarangan menjalankan pengusahaan sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara dan Kecamatan Rantau Selatan. Hal tersebut dikarenakan Kecamatan Rantau Utara dan Rantau Selatan merupakan kawasan padat penduduk, dan merupakan pusat

44

perkotaan di Rantauprapat (lihat tabel 3.2). Pelarangan tersebut tidak berujung kepada penerbitan Peraturan Daerah. Alhasil, pengusahaan sarang burung walet masih saja beroperasi di Kecamatan Rantau Utara dan Rantau Selatan.

Adapun wacana pelarangan menjalankan pengusahaan sarang burung walet di kawasan perkotaan tersebut dinilai oleh pengusaha sarang burung walet merupakan kebijakan yang sangat tidak masuk akal. Hal tersebut dinilai dapat mengakibatkan puluhan pengusaha mengalami kerugian yang besar. Para pengusaha mengaku bahwa modal yang digelontorkan untuk pengusahaan ini tidaklah sedikit. Modal untuk membangun sebuah ruko dapat mencapai ratusan juta rupiah.

Wacana pelarangan tadipun pada akhirnya hanya sebatas hiasan saja. Pengusahaan sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara tetap berjalan dengan sebagaimana biasanya pada tahun-tahun yang lalu. Namun, pemerintah setempat pun terkesan tidak menunjukkan suatu reaksi atas hal tersebut. Aksi diamnya pemerintah Kabupaten Labuhan Batu pun mengakibatkan pengusahaan sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara tetap berjalan seperti biasa. Kondisi lingkungan perkotaan pada akhirnya tidak terkendali dari gangguan-gangguan yang disebabkan dari pengusahaan sarang burung walet.

Pengusahaan sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara pun terkesan halal, padahal sama sekali tidak satupun dari pengusaha sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara yang memiliki izin usaha. Dengan adanya izin usaha tersebutlah, pemungutan retribusi dapat dilakukan. Nyatanya, pengusahaan sarang

45

burung walet yang berdiri di lingkungan, sama sekali tidak memiliki peran untuk membayar pajak atas pengusahaannya. Bahkan, peran andil Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Labuhan Batu pun tidak tampak sama sekali. Padahal, BLH merupakan lembaga yang menaungi tentang lingkungan hidup.

Pengusahaan sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara didominasi oleh suku tionghoa, hanya ada satu atau dua saja yang dijalankan oleh masyarakat pribumi. Hal ini disebabkan bahwa kekuatan modal yang mereka punya dalam jumlah yang besar, sebagaimana pengusahaan ini memerlukan modal awal yang sangat besar. Ditambah lagi, pengalaman dan karakteristik mereka yang sangat giat dalam berbisnis.

Lokasi-lokasi pengusahaan sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara terdapat di jalan-jalan perkotaan. Antara lain, jalan Sanusi, Jalan Pattimura, Jalan Honein, Jalan Surau, Jalan Pelita, Jalan Mardan, Jalan Imam Bonjol, Jalan Air Bersih, Jalan Dahlan Hanafiah, Jalan Kopral Abdullah. Pada Jalan Pattimura (lihat gambar 1), yang merupakan kawasan pertokoan, pun tetap terdapat ruko sarang burung walet.Pada Jalan Honein (lihat gambar 2), pengusahaan juga berdiri berdampingan dengan rumah warga. Begitu juga, pada Jalan Cokroaminoto, Jalan Kopral Abdullah, dan Jalan Mardan (lihat gambar 3) yang berada dalam satu baris, ruko sarang burung walet beroperasi di kawasan perumahan warga. Kebersihan lingkungan pada jalan-jalan ini tidak terawat, banyak sampah menumpuk di pinggir jalan-jalan.Ruko-ruko ini rata-rata tidak ada yang menjaga. Artinya, ruko ini berjalan otomatis, yaitu dengan mengatur musik pemancing dengan alat timer.

46

Selanjutnya, pada lingkungan jalanan kota, di Jalan Ahmad Dahlan (lihat gambar 4), terdapat ruko sarang burung walet yang pada lantai dasarnya menjalankan toko apotik. Sama dengan di Jalan Ahmad Dahlan, pada Jalan Imam Bonjol (lihat gambar 5) pun yang merupakan jalanan perkotaan, masih tetap ada ruko sarang burung walet. Ruko ini juga menjalankan usaha-usaha dagangan di lantai dasarnya.Pada Jalan Sanusi (lihat gambar 6), terdapat 9 buah ruko sarang burung walet. Masing-masing bertingkat tiga. Pada Jalan Sanusi ini juga, ruko walet berdampingan dengan rumah masyarakat. Jalan Dahlan Hanafiah pun yang berdampingan dengan Jalan Sanusi, terdapat pengusahaan sarang burung walet. Namun, pada Jalan ini hanya ada empat ruko saja. Selanjutnya, di Jalan Air Bersih (lihat gambar 7), terdapat empat ruko sarang walet yang juga masih berdampingan dengan perumahan warga. Ruko ini berdiri di samping Sungai Bilah.

Kondisi pengusahaan burung walet yang berdampingan dengan perumahan warga layaknya rumah kosong tetapi, menghasilkan kebisingan sepanjang hari. Ditambah lagi, lingkungan-lingkungan yang terdapat pengusahaan sarang burung walet identik tidak bersih, banyak sampah berserakan, parit yang tersumbat, maupun kondisi jalan yang jelek. Ruko-ruko bertingkat tiga tersebut mengeluarkan suara musik pemancing dengan frekuensi yang sangat tinggi. Kondisi lingkungan yang tidak kondusif sudah menjadi konsekuensi atas berdirinya ruko pengusahaan sarang burung walet.

47

2.4 Kebijakan Pemerintah Kabupaten Tentang Pengusahaan Sarang Burung Walet

DPRD Kabupaten Labuhan Batu baru terpilih untuk periode 2014-2019. Pada bulan 10 tahun 2014 mereka dilantik, setelah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Labuhan Batu pada pemilihan legislatif. DPRD Kabupaten Labuhan Batu juga terbagi atas fraksi dan komisi.Komisi D DPRD Labuhan Batu merupakan Komisi yang menangani Bidang Pembangunan. Menjalin hubungan sebagai mitra kerja dengan dinas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Labuhan Batu. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tersebut meliputi, Bina Marga, Pengairan, Pertambangan dan Energi, Pasar, Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Perumahan Rakyat, Lingkungan Hidup, Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kesehatan, Cipta Karya dan Tata Ruang, Bappeda, dan Perpustakaan dan Dokumentasi.43

a. Rapat kerja dengan Pemerintah Daerah yang dihadiri oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang menjadi mitra kerjanya,

Komisi D DPRD Labuhan Batu dalam melakukan tugas dapat mengadakan:

b. Rapat dengar pendapat dengan pejabat Pemerintah Daerah yang diwakili oleh pimpinan SKPD yang menjadi mitra kerjanya,

c. Rapat dengar pendapat umum, baik atau permintaan komisi ataupun permintaan pihak lain,

43

48

d. Kunjungan kerja atau peninjauan lapangan atas persetujuan pimpinan DPRD44

TABEL 2.4

NAMA-NAMA ANGGOTA KOMISI D DPRD LABUHAN BATU PERIODE 2014-2019

No NAMA JABATAN PARTAI POLITIK

1. Suparji, SE Ketua Komisi D PDIP

2. Kamaluddin Rambe Wakil Ketua Komisi D Partai Demokrat 3. H. Ilham Sekretaris Komisi D PPP

4. Saurinah Pangaribuan Anggota Komisi D Hanura 5. Dipa Topan, SE Anggota Komisi D Gerindra 6. Sri Indra Jaya Anggota Komisi D Nasdem 7. Ahmad Saipul Sirait Anggota Komisi D PBB 8. Saut Daniel Tampubolon Anggota Komisi D PKPI 9. Ahmad Jais Anggota Komisi D PAN 10. Hj. Sofa Tanjung Anggota Komisi D Golkar Sumber: DPRD Kabupaten Labuhan Batu

DPRD Kabupaten Labuhan Batu dalam menyikapi peraturan pengusahaan sarang burung walet yang belum jelas, menyatakan sikap yang tegas untuk memperketat peraturan demi terwujudnya efektivitas dan efisiensi. Dalam Rapat Akhir Masa Jabatan bersama Bupati Labuhan Batu, Komisi D DPRD Labuhan Batu menyatakan hak legislasi mereka untuk dibuatnya perda baru atau memperbaiki perda tentang pengusahaan sarang burung walet. Memberikan saran kepada Satuan Kerja

44

49

Perangkat Daerah (SKPD) terkait, untuk bisa serius menjalankan tugas dan kewajibannya.

Di samping itu juga, DPRD Kabupaten Labuhan Batu mempertajam solusi untuk pengusahaan sarang burung walet di Kota Rantauprapat jika memang masih diperbolehkan untuk berjalan, dengan mengusulkan untuk mengadakan sistem double

lock. Artinya, ruko-ruko pengusahaan sarang burung walet yang ada di Kota

Rantauprapat, digembok oleh pemerintah. Dengan maksud, pengusaha sarang burung walet harus menghadap pemerintah dalam hal ini Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan ditentukan, untuk mengurus izin pengusahaannya. Dengan demikian, seluruh pengusahaan sarang burung walet dapat terjaring izin serta dapat memberikan peningkatan terhadap pendapatan daerah.

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu terhadap pengusahaan sarang burung walet di Kecamatan Rantau Utara sebenarnya sudah dimulai pada tahun 2010, namun hanya sebatas wacana saja.Wacana tersebut menyatakan pelarangan untuk mendirikan atau mengusahakan pengusahaan sarang burung walet di kawasan perkotaan.Kecamatan Rantau Utara dan Kecamatan Rantau Selatan merupakan kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi disertai dengan tingginya aktivitas perkotaan pada kecamatan ini.

Wacana pelarangan tersebut pada akhirnya tidak melahirkan suatu produk kebijakan. Sebagai implikasi akan hal tersebut, pengusahaan sarang burung walet pun masih banyak beroperasi di Kecamatan Rantau Utara dan Rantau Selatan juga. Sudah

50

menjelang lima tahun sejak wacana tersebut ada, nyatanya sampai saat ini belum ada langkah konkrit pemerintah untuk mengaturnya.

Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu tercatat hanya memiliki 6 pengusahaan sarang burung walet yang memiliki izin pengusahaan dari Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) di kota Rantauprapat. Terbagi dalam dua kecamatan, Rantau Utara dengan lima pengusahaan yang mempunyai izin dan satu pengusahaan di kecamatan Rantau Selatan. Izin pengusahaan itupun diterbitkan pada tahun 2010 dan 2011 sementara, waktu berlakunya izin pengusahaan sarang burung walet adalah 4 tahun.

Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu baru mengambil kebijakan pertama terhadap pengusahaan sarang burung walet pada tahun 2009, yaitu kebijakan tentang perizinan pengusahaan.Izin Pengelolaan dan Pengusahaan Sarang Burung Walet diatur dalam Perda No. 17 Tahun 2009. Kemunculan Perda ini dipelopori oleh tingginya harga sarang burung walet disertai maraknya pengusahaan sarang burung walet. Demi meningkatkan pendapatan daerah, pemerintah setempat kemudian menertibkan perizinan atas pengusahaan sarang burung walet tersebut.

Pada tahun 2011, pemerintah Labuhan Batu mengeluarkan sebuah peraturan daerah untuk mengatur tentang retribusi pengusahaan sarang burung walet. Melalui Peraturan Daerah No. 10 tahun 2011 Tentang Pajak Sarang Burung Walet, pemerintah mencoba menertibkan administrasi pengusahaan sarang burung walet demi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Realita yang terjadi malah

51

sebaliknya, perda tentang retribusi sarang burung walet tersebut tampaknya hanya sebatas pajangan saja. Terbukti, pengusahaan sarang burung walet yang ada di Kota Rantauprapat tidak mempunyai izin, terlebih membayar retribusi.

Perda perizinan ini pada kenyataannya tidak mampu menjaring keseluruhan pengusahaan sarang burung walet yang ada di Kota Rantauprapat.Tercatat hanya 25 pengusahaan yang mempunyai izin dari keseluruhan di Kota Rantauprapat. Terbagi ke dalam delapan kecamatan antara lain, lima perizinan di Kecamatan Rantau Utara, satu perizinan di Kecamatan Rantau Selatan, satu perizinan di Kecamatan Bilah Barat, delapan perizinan di Kecamatan Bilah Hilir, enam perizinan di Kecamatan Panai Hilir, satu perizinan di Kecamatan Panai Tengah, dan tiga perizinan pengusahaan di Kecamatan Pangkatan.

Melalui data dari Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) Kabupaten Labuhan Batu, perizinan pengusahaan walet tidak pernah ada lagi pembaharuan.Izin terakhir yang pernah diterbitkan yaitu pada tahun 2011. Padahal sampai tahun 2015 ini, pengusahaan sarang burung walet yang ada di Kecamatan Rantau Utara mencapai 60 ruko pengusahaan, tetapi tidak satupun dari antara pengusaha itu mempunyai izin pengusahaan.

Adapun persyaratan perizinan pengusahaan sarang burung walet sesuai dengan Perda No. 17 Tahun 2009 yaitu, dengan menyerahkan berkas permohonan di atas kertas bermaterai Rp 6.000,- yang ditujukan kepada Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) Kabupaten Labuhan Batu dengan

52

melampirkan: a) Fotocopy KTP pemohon yang masih berlaku sebanyak 1 (satu) lembar, b) Surat rekomendasi dari Camat setempat, c) Fotocopy Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), d) Fotocopy Surat Izin Gangguan (H.O) Usaha Pengelolaan dan Pengusahaan Sarang Burung Walet, dan e) Pas Photo ukuran 3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar.45

No

TABEL 2.5

TARGET DAN REALISASI PENERIMAAN RUTIN BERSUMBER DARI PAJAK DAERAH TAHUN 2013

JENIS PAJAK (Rp) TARGET (Rp) REALISASI (Rp) PERSENTASE

(%)

1. Pajak Hotel 1.100.000.000,00 657.469.942,00 59,77 2. Pajak Restoran dan

Rumah Makan 1.200.000.000,00 864.525.113,00 72,04 3. Pajak Hiburan 200.000.000,00 332.826.522,00 166,41 4. Pajak Reklame 750.000.000,00 541.533.000,00 72,20 5. Pajak Penerangan Jalan 10.000.000.000,00 11.165.128.074,00 111,65

6. Pajak Pengambilan & Pengolahan Bahan Galian C

2.000.000.000,00 659.215.500,00 32,96

7. Pajak Sarang Burung Walet

200.000.000,00 89.950.000,00 44,98

45

53 8. Pajak Perolehan Hak

Atas Tanah & Bangunan

5.619.600.000,00 13.767.020.905,00 244,98

9. Pajak Air Tanah 300.000.000,00 402.137.809,00 134,05

Jumlah 21.369.600.000,00 28.479.806.865,00 133,27

Sumber: Labuhan Batu Dalam Angka Tahun 2013

Sesuai tabel target dan realisasi penerimaan rutin bersumber dari pajak daerah tahun 2013, Pajak Sarang Burung Walet hanya dapat diserap sebesar 44,98 %. Dari target sebesar Rp 200.000.000,00 hanya mampu meraup Rp 89.950.00,00. Hal ini dapat terjadi di mana pada tahun 2011. Hal tersebut hampir senada dengan pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian C yang ada di Kota Rantauprapat yang hanya mampu meraup Rp 659.215.500,00 dari target penerimaan sebesar Rp 2.000.000.000,00. Diketahui keduanya merupakan jenis kegiatan yang memiliki dampak yang besar terhadap kesehatan bahkan kelestarian lingkungan.

54

Dokumen terkait