Kondisi Geografis Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada dua kecamatan yang berada di kabupaten dan kota di Provinsi Jambi yaitu Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung. Lokasi penelitian di Kecamatan Maro Sebo Ulu meliputi 10 desa yaitu Sungai Lingkar, Tebing Tinggi, Simpang Sungai Rengas, Buluh Kasab, Kembang Seri, Rengas IX, Kampung Baru, Teluk Leban, Peninjauan dan Batu Sawar sedangkan di Kecamatan Jelutung meliputi lima desa yaitu Cempaka Putih, Jelutung, Kebun Handil, Payo Lebar dan Lebak Bandung. Desa tersebut dipilih berdasarkan sebaran Program Samisake pada kegiatan bedah rumah. Kedua kecamatan tersebut memiliki keadaan geografis yang berbeda dan dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini.
Tabel 9 Kondisi geografis lokasi Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung tahun 2013
Uraian Lokasi penelitian (Kecamatan)
Maro Sebo Ulu Jelutung Luas wilayah (Ha)
Batas wilayah Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Utara
Jarak ke Ibukota Kabupaten (km)
114.131 Mersam Lubuk Ruso Sungai Bengkal Mersam 70 792 Jambi Timur Kota Baru Jambi Selatan Pasar Jambi 10 Sumber : BPS Kecamatan Maro Sebo tahun 2012
BPS Kecamatan Jelutung tahun 2013
Kecamatan Maro Sebo Ulu memiliki luas 114.313 Ha ini dialiri oleh dua sungai besar yaitu Sungai Batanghari dan Sungai Tabir. Sebanyak 13 desa dan satu kelurahan yang ada di Kecamatan Maro Sebo Ulu, ada satu desa yang sampai saat ini masih sangat terisolir yaitu Desa Batu Sawar. Untuk mencapai desa tersebut hanya ada satu jalan yaitu melewati jalur Sungai Kejasung. Pusat pemerintahan Kecamatan Maro Sebo Ulu terletak di Kelurahan Simpang Sungai rengas. Jarak pusat pemerintahan ke ibukota Kabupaten kurang lebih 70 km. Batas wilayah Kecamatan Maro Sebo Ulu yaitu sebelah barat berbatasan dengan Sungai Bengkal, sebelah tikur berbatasan dengan Mersam, sebelah selatan berbatasan dengan Lubuk Ruso dan sebelah utara berbatasan dengan Mesam.
Kecamatan Jelutung merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kota Jambi memiliki luas 792 ha ini berbatasan dengan Kecamatan Pasar Jambi (sebelah utara), Kecamatan Kota baru (sebelah selatan), Kecamatan Jambi Timur (sebelah timur) dan Jambi Selatan (sebelah barat) dengan kelurahan paling luas yaitu Kelurahan Lebak Bandung seluas 2.01 Km2 atau 25.38 persen dari luas kecamatan. Sedangkan sebaran penduduk merata karena Kecamatan Jelutung berada di pusat provinsi yaitu di Kota Jambi dengan kemudahan akses dan fasilitas yang ada. Jarak ke Ibukota Kabupaten 10 km.
Berdasarkan Tabel 9 terlihat perbedaan keadaan wilayah Kecamatan Maro Sebo Ulu yang terletak di Kabupaten dan Kecamatan Jelutung yang terletak di
44
Kota Jambi. Hal ini memungkinkan perbedaan distribusi informasi dan bantuan Program Samisake khususnya bedah rumah yang akan dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya.
Kependudukan
Jumlah penduduk di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung sangat beragam berdasarkan jenis kelamin. Adanya penduduk asli dan pendatang juga menambah keberagaman penduduk yang ada di kedua kecamatan tersebut. Sebaran jumlah penduduk di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini.
Tabel 10 Jumlah Penduduk Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2013
Kecamatan Jumlah penduduk (jiwa)
Maro Sebo Ulu Jelutung
Laki-laki Perempuan 15.587 14.560 39.700 38.368 Total 30.147 78.068
Sumber : BPS Kecamatan Maro Sebo tahun 2012 BPS Kecamatan Jelutung tahun 2013
Berdasarkan Tabel 10 di atas jumlah penduduk Kecamatan Maro Sebo Ulu berdasarkan data BPS (2012) yaitu sebanyak 30.147 jiwa yang terdiri dari 15.587 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 14.560 jiwa berjenis kelamin perempuan. Sebaran penduduk di Kecamatan Maro Sebo Ulu dipengaruhi oleh faktor geografis seperti kesuburan tanah, sumber daya serta kemudahan akses ke tempat lalu lintas umum yang sering digunakan. Hal ini dapat dilihat dari tempat tinggal penduduk yang umumnya berada di pinggir sungai dan di pinggir dan di pinggir jalan raya, di samping itu juga faktor sosial ekonomi dan demografi sangat berpengaruh. Jumlah penduduk yang terbanyak berada di Kelurahan Simpang Sungai Rengas sebesar 3.927 jiwa.
Jumlah penduduk di Kecamatan Jelutung berdasarkan data BPS (2013) sebesar 78.068 jiwa yang terdiri dari 39.700 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 38.368 jiwa berjenis kelamin perempuan. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kelurahan Jelutung sebanyak 18.813 jiwa atau sebesar 24.09 persen dari total jumlah penduduk yang ada, hal ini dikarenakan Kelurahan Jelutung merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Jelutung itu sendiri.
Karakteristik Peserta Bedah Rumah
Gambaran umum yang diuraikan pada bagian ini adalah karakteristik peserta bedah rumah terdiri dari umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah tanggungan keluarga, status kepemilikan lahan, luas lahan, status kependudukan, lama tinggal, pengalaman menerima bantuan lain dan hubungan sosial dengan perangkat desa. Umur dibagi menjadi dua kategori yaitu 23 samapi 55 tahun dan lebih dari 55 tahun sesuai usia peserta bedah rumah. Tingkat pendidikan peserta
45
bedah rumah dibagi menjadi dua kategori yaitu tidak sekolah sampai SD/SR ) kategori rendah, SLTP kategori menengah dan SLTA kategori tinggi.
Tabel 11 Distribusi peserta bedah rumah dan nilai koefisien uji t berdasarkan karakteristik peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung tahun 2013
Karakteristik peserta bedah rumah
Peserta bedah rumah (%) Nilai koefisien
uji t
α
Maro Sebo Ulu (n=25) Jelutung (n=40) Total (n=65) Umur : 23-55 tahun >55 tahun Tingkat pendidikan : SD/SR SLTP SLTA Pekerjaan : Petani Wiraswasta Pensiunan Jumlah tanggungan : 0-2 3-5 6-8 Status kepemilikan rumah : Milik Sendiri Warisan Sewa Status kependudukan : Penduduk Asli Pendatang Bantuan lainnya: Menerima Tidak Menerima Hubungan sosial dengan perangkat desa: Saudara Interaksi sosial 80.00 20.00 92.00 8.00 - 64.00 36.00 - 31.00 64.00 4.00 96.00 4.00 - 88.00 12.00 60.00 40.00 24.00 76.00 42.50 32.50 57.59 20.00 22.50 5.50 92.50 1.50 35.00 52.50 12.50 85.00 5.00 10.00 55.00 45.00 35.00 65.00 5.00 95.00 71.67 33.85 70.80 12.30 16.90 34.20 64.30 1.50 33.90 56.90 9.20 89.20 4.60 6.20 67.70 32.30 63.10 36.90 12.30 87.70 1.914 4.127** 4.462** 0.913 -1.955 3.183** 0.187 2.023** 0.443 0.000 0.000 0.490 0.001 0.000 0.873 0.000 Keterangan : ** : nilai koefisien uji t signifikan pada α<0.01
α : derajat signifikan
Pekerjaan peserta bedah rumah dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu petani, wiraswasta dan Pensiunan. Jumlah tanggungan keluarga peserta bedah rumah dikategorikan menjadi tiga yaitu 0 sampai 2 kategori rendah, 3 sampai 5 kategori sedang dan 6 sampai 8 kategori tinggi. Status kepemilikan lahan peserta bedah rumah dikategorikan menjadi tiga yaitu milik sendiri, warisan dan sewa.
46
Status kependudukan peserta bedah rumah dikategorikan menjadi penduduk asli dan pendatang. Pengalaman menerima bantuan lain selain bantuan bedah rumah dikategorikan menjadi menerima bantuan dan tidak menerima bantuan.
Umur
Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur peserta bedah rumah yang memiliki presentasi umur tertinggi adalah pada umur rentang 23 sampai 55 tahun di Kecamatan Maro Sebo Ulu sebesar 80 persen dan di Kecamatan Jelutung sebesar 42.50 persen. Hal ini menunjukkan bahwa peserta bedah rumah yang mendapat bantuan kegiatan bedah rumah didominasi kategori umur dewasa dan tua, yang rata-rata mereka sudah kurang produktif dalam bekerja atau hanya bekerja seadanya saja cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.
Tingkat Pendidikan
Pengetahuan sangat menentukan pola berfikir manusia, pengetahuan bisa didapat dari mana saja, namun yang paling utama dari pendidikan yang diikuti, sehingga menentukan pola fikir dan tingkah laku manusia. Tingkat pendidikan peserta bedah rumah didominasi oleh peserta bedah rumah dengan kategori rendah yaitu sampai tamat SD/SR di kedua kecamatan sebanyak 92 persen di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan 57.5 persen di Kecamatan Jelutung. Sedangkan peserta bedah rumah yang memiliki tingkat pendidikan sedang yaitu SLTP sebanyak 8 persen di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan 20 persen di Kecamatan Jelutung. Tingkat pendidikan tinggi yaitu SLTA tidak ada di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan sebanyak 22.5 persen di Kecamatan Jelutung. Sedangkan untuk tingkat pendidikan Perguruan Tinggi tidak ada satupun di kedua kecamatan tersebut, hal ini disebabkan karena bantuan bedah rumah memiliki sasaran keluarga miskin, sedangkan bagi masyarakat yang sudah mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi maka dianggap telah memiliki kehidupan yang layak.
Pekerjaan
Pekerjaan peserta bedah rumah beraneka ragam, namun dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu petani, wiraswasta dan pensiun peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu memiliki jumlah peserta bedah rumah terbanyak bekerja sebagai petani sebesar 64 persen namun berbanding terbalik dengan Kecamatan Jelutung yang jumlah penduduk terbanyak bekerja sebagai wiraswasta sebesar 92.5 persen. Hal ini dapat diketahui dari letak dua kecamatan yang berbeda, dimana Kecamatan Maro Sebo Ulu terletak di kabupaten dengan masih luasnya wilayah pertanian dan perkebunan sehingga mayoritas masyarakatnya bertani dan berkebun, sedangkan Kecamatan Jelutung terletak di Kota Jambi yang tidak lagi memiliki lahan pertanian yang bisa diusahakan secara maksimal untuk pertanian maupun perkebunan.
Masyarakat di Kecamatan Maro Sebo Ulu umumnya bekerja disektor pertanian tanaman pangan dan perkebunan, kedua sektor ini menjadi andalan dan mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak. Berdasarkan hasil sensus penduduk pada Bulan Mei 2010 penduduk yang berusaha di sektor tanaman pangan sebesar 6 persen dan sektor perkebunan 73 persen dan 21 persen di sektor lain.
47
Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga peserta bedah rumah diketegorikan menjadi tiga kategori, yaitu 0 sampai 2 orang dengan kategori rendah, 3 sampai 5 orang dengan kategori sedang dan 6 sampai 8 orang dengan kategori tinggi. Kecamatan Maro Sebo Ulu rata-rata peserta bedah rumah memiliki jumlah tanggungan 3 sampai 5 orang sebanyak 64 persen, hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Jelutung rata-rata peserta bedah rumah memiliki jumlah tanggungan 3 sampai 5 orang sebesar 52.5 persen dari jumlah peserta bedah rumah yang ada. Artinya peserta bedah rumah kedua kecamatan menganut paham banyak anak banyak rezeki. Jumlah tanggungan yang tidak sedikit dan kebutuhan yang naik membuat peserta bedah rumah tidak memperhatikan keadaan rumah mereka, demi mencari pendapatan di luar rumah, yang pada akhirnya peserta bedah rumah mendapatkan bantuan bedah rumah.
Status kepemilikan Tanah
Status kepemilikan tanah peserta bedah rumah dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu milik sendiri, warisan dan sewa. Seharusnya peserta bedah rumah yang status kepemilikan tanahnya sewa tidak bisa menerima bantuan Samisake, namun karena kondisi rumah sewaan yang sangat memprihatinkan akhirnya dari pihak kecamatan meluluskan berkas yang telah diajukan, namun persentasenya hanya sedikit dan hanya ada di Kecamatan Jelutung yaitu sebesar 10 persen saja. Sedangkan jumlah peserta bedah rumah terbanyak dengan status kepemilikan tanah di Kecamatan Maro Sebo Ulu dengan status milik sendiri sebesar 96 persen dan di Kecamatan Jelutung dengan status milik sendiri sebesar 85 persen dari total peserta bedah rumah.
Status Kependudukan
Status kependudukan peserta bedah rumah di kedua kecamatan dikategorikan menjadi dua kategori yaitu penduduk asli dan pendatang. Kecamatan Maro Sebo Ulu didominasi dengan penduduk asli yaitu sebesar 88 persen dan Kecamatan Jelutung sebesar 55 persen. Adanya penduduk pendatang di kedua kecamatan rata-rata pendatang dari Jawa, dengan penduduk Jawa yang sudah sangat banyak menyebabkan mereka berpindah mencari penghidupan yang layak, salah satu sasarannya yaitu pulau Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya. Namun, masyarakatnya mudah berbaur antara penduduk asli dan pendatang. Penduduk pendatang yang berasal dari Jawa terkenal sangat ulet, namun masih banyak yang tercatat sebagai masyarakat miskin sehingga menjadi sasaran penerima bedah rumah.
Pengalaman Menerima Bantuan Lain
Banyaknya program-progran pembangunan dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, mengidentifikasi adanya masyarakat yang menerima bantuan dua kali. Kategori peserta bedah rumah yang menerima bantuan lain dan tidak menerima bantuan lain selain dari bedah rumah. Peserta bedah rumah dengan persentase terbanyak di Kecamatan Maro Sebo Ulu adalah 60 persen menerima bantuan lain dan di Kecamatan Jelutung sebesar 65 persen tidak menerima bantuan lain. Bantuan lain yang biasa diterima adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sekarang disebut Bantuan Langsung
48
Masyarakat (BLSM), Raskin (Beras Miskin), bantuan yang bersifat umum dari Pembangunan Masyarakat Pemberdayaan Nasional Mandiri (PNPM Mandiri) dan lain sebagainya.
Hubungan Sosial dengan Perangkat Desa
Hubungan sosial peserta bedah rumah dengan perangkat desa atau tingkat RT (Rukun Tetangga) dikategorikan menjadi dua yaitu hubungan saudara dan interaksi sosial. Kecamatan Maro Sebo Ulu sebanyak 76 persen adalah interkasi sosial biasa dan 95 persen di Kecamatan Jelutung juga interaksi sosial biasa. Adanya hubungan saudara akan menyebabkan nepotisme, namun tidak terindikasi dalam Program Samisake ini meskipun ada peserta bedah rumah yang bersaudara dengan perangkat desa di Kecamatan Maro Sebo Ulu sebesar 24 persen dan di Kecamatan Jelutung sebesar 5 persen.
Hasil uji beda (t-test) diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara karakteristik peserta bedah rumah antara peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung terutama pada aspek tingkat pendidikan, pekerjaan, status kependudukan, dan hubungan sosial dengan perangkat desa. Hasil penelitian membuktikan bahwa tingkat pendidikan peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu didominasi peserta bedah rumah yang tingkat pendidikannya SD/SR, sedangkan di Kecamatan Jelutung tingkat pendidikan peserta bedah rumah menyebar 57.60 persen pendidikan SD/SR, 20 persen SLTP dan 22.50 persen SLTA. Hal ini dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan peserta bedah rumah di Kecamatan Jelutung tergolong rendah, sedangkan di Kecamatan Jelutung tergolong tinggi. Hal lain yang ditemui bahwa pekerjaan peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu didominasi oleh petani sebesar 64 persen sedangkan di Kecamatan Jelutung didominasi oleh wiraswasta sebesar 92.50 persen. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan lahan pertanian di Kecamatan Maro Sebo Ulu masih sangat luas sedangkan di Kecamatan Jelutung sudah semakin sempit, sehingga tanah yang ada biasanya digunakan untuk pembangunan perumahan dan fasilitas-fasilitas umum lain yang telah direncanakan oleh pemerintah kota, hal ini juga didukung dengan banyaknya masyarakat kabupaten atau pun luar daerah yang urban ke Kota Jambi.
Perbedaan status kependudukan dapat dijelaskan bahwa di Kecamatan Maro Sebo Ulu didominasi penduduk asli sebesar 88 persen, hal ini karena kecamatan tersebut mayoritas masyarakat pribumi, meskipun ada pendatang persentasenya sangat sedikit. Namun, di Kecamatan Jelutung status kependudukan peserta bedah rumah menyebar, ada yang penduduk asli sebesar 55 persen dan pendatang sebesar 45 persen, hal ini dipengaruhi oleh arus urbanisasi penduduk dari desa ke kota, sehingga sampai saat ini penduduk di Kota Jambi semakin padat. Perbedaan hubungan sosial dengan perangkat desa di Kecamatan Maro Sebo Ulu meski didominasi oleh peserta bedah rumah yang hanya berinteraksi biasa dengan perangkat desa, namun sebesar 24 persen peserta bedah rumah memiliki hubungan saudara dengan perangkat desa. Namun, hal ini tidak menimbulkan kecurangan dalam pembagian bantuan bedah rumah Samisake. Hal yang serupa juga terjadi di Kecamatan Jelutung, 95 persen peserta bedah rumah hanya berinteraksi biasa dengan perangkan desa, namun persentase peserta bedah rumah memiliki hubungan saudara dengan perangkat desa hanya sebesar 5 persen.
49
Hipotesis penelitian yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan nyata antara karakteristik peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung diterima yaitu pada aspek tingkat pendidikan, pekerjaan, status kependudukan, dan hubungan sosial dengan perangkat desa.
Kredibilitas Fasilitator Kegiatan Bedah Rumah
Kredibilitas merupakan suatu tingkatan kepercayaan sampai sejauh mana fasilitator dapat dipercaya oleh peserta bedah rumah. Tingkat kepercayaan ini penting karena pada kenyataannya orang lebih dulu melihat siapa yang membawa pesan sebelum ia menerima pesan yang disampaikannya. Kredibilitas fasilitator meliputi kejujuran, keahlian, daya tarik dan keakraban. Kejujuran ketika fasilitator berbicara apa adanya, keahlian ketika fasilitator memiliki kemampuan dalam menyampaikan pesan pembangunan kegiatan bedah rumah, daya tarik ketika fasilitator memiliki fisik dan non fisik yang menarik serta keakraban ketika sejauh mana fasilitator memiliki hubungan yang dekat dengan peserta bedah rumah. Berikut ini adalah Tabel 12 yang menguraikan tentang persentase dan total kredibilitas fasilitator kedua kecamatan.
Tabel 12 Sebaran persentase peserta bedah rumah menurut penilaiannya terhadap kredibilitas fasilitator dan nilai koefisien uji t antara Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung tahun 2013
Kredibilitas fasilitator
Peserta bedah rumah (%) Nilai koefisien
uji t
α
Maro Sebo Ulu (n=25) Jelutung (n=40) Total (n=65) Kejujuran Tinggi Rendah Keahlian Tinggi Rendah Daya Tarik Tinggi Rendah Keakraban Tinggi Rendah 100 0 100 0 100 0 100 0 97.50 2.50 100 0 100 0 97.50 2.50 98.50 1.50 100 0 100 0 98.50 1.50 1.408 1.447 1.447 0.256 0.113 0.019 0.019 0.390 Keterangan = α : derajat signifikan
Kejujuran
Berdasarkan hasil penelitian, di Kecamatan Maro Sebo Ulu peserta bedah rumah menilai kredibilitas fasilitator mengenai kejujuran saat menyampaikan pesan bedah rumah adalah tinggi yaitu sebesar 100 persen, hal yang sama terjadi di Kecamatan Jelutung peserta bedah rumah menilai kejujuran fasilitator adalah tinggi yaitu sebesar 97.5 persen. Peserta bedah rumah menilai fasilitator berbicara apa adanya saat menyampaikan materi dan menjelaskan mengenai kegiatan bedah rumah, fasilitator dapat dipercaya dan tidak ada kepentingan pribadi dan tidak ada motif lain untuk mencari keuntungan materi dalam menangani pelaksanaan
50
kegiatan bedah rumah. Hal ini seperti yang telah diungkapkan oleh peserta bedah rumah KY (73 tahun) dari Kecamatan Jelutung.
“Kami tengok Bapak-Bapak dari Kecamatan tu jujur lah kalo ngomong, dak do rasonyo yang punyo maksud laen. Orangnyo baek- baek, apo yang diomongkan samo dengan apo yang mereka kasih ke kami. Kami pecayo dengan mereka dak bakalan nyelewengin dana dan dak ado maksud dan tujuan lain selain bantu kami.”
Namun masih ada peserta bedah rumah yang meragukan ketidakjujuran fasilitator, hal yang berbeda di ungkapkan oleh peserta bedah rumah Bapak KS (35 tahun) di Kecamatan Jelutung sebagai berikut.
”Kalo ditengok macam ini, rasonyo mereka tu dak do jujur. Cuma dikasih bahan, trus duit dak do dikasih lagi. Kerjaan mereka pun dak do beres, kami lah ni yang beresin dengan keluargo. Tapi yo kek mano
lagi, Kami dapat bantuan jadi yo bersyukur bae”
Berdasarkan pernyataan Bapak KS tersebut terlihat perbedaaan kredibilitas fasilitator antara Kecamatan Jelutung dengan Kecamatan Maro Sebo Ulu, dimana tingkat kejujuran kredibilitas fasilitator di Kecamatan Jelutung dirasa kurang oleh beberapa peserta bedah rumah, yang bisa di lihat pada Tabel 12.
Keahlian
Kecamatan Maro Sebo Ulu peserta bedah rumah menilai keahlian fasilitator dalam menguasai dan menyampaikan pesan pada pertemuan kegiatan bedah rumah adalah tinggi yaitu sebesar 100 persen, hal yang sama terjadi di Kecamatan Jelutung bahwa peserta bedah rumah menilai keahlian fasilitator dalam menyampaikan dan menguasai kegiatan bedah rumah adalah tinggi 100 persen. Peserta bedah rumah menilai fasilitator memiliki pengetahuan yang baik tentang pengadaan material dan bahan bangunan untuk kegiatan bedah rumah, penentuan tenaga kerja, pengetahuan tentang suplier bahan bangunan, macam- macam bahan bangunan, tentang desain rumah yang baik dan pengetahuan tentang syarat rumah layak huni. Hal ini merupakan kriteria dan standar dari kegiatan bedah rumah itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan peserta bedah rumah Bapak TN (33 tahun) sebagai berikut.
“Bapak dari Kecamatan bantu sayo nyari tukang, nyediain bahan- bahan yang nak dipakek, dio kadang ngusulin bahan-bahan apo be yang cocok di beli untuk bedah rumah sayo, modelnyo yo dari Bapak tu yang ngasih tahu, bahan yang masih biso dipake sayo sisihin biar nglengkapi lah. Bagus Bapak tu kerjonyo”
Daya Tarik
Peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu menilai daya tarik fasilitator dalam menyampaikan pesan kegiatan bedah rumah adalah tinggi yaitu sebesar 100 persen, hal yang sama terjadi di Kecamatan Jelutung dimana daya tarik fasilitator dinilai tinggi oleh peserta bedah rumah. Peserta bedah rumah
51
menilai fasilitator memiliki penampilan yang rapi dan menarik saat bertemu dengan peserta bedah rumah, fasilitator berpenampilan sangat sopan, menyampaikan materi dengan gaya bahasa yang menarik, sederhana dan mudah dimengerti serta bersikap ramah kepada peserta bedah rumah. Hal ini sesuai dengan pernyataan peserta bedah rumah Bapak UM (95 tahun) dari Kecamatan Maro Sebo Ulu sebagai berikut.
“Mereka tu orang nyo sopan-sopan dengan kami. Ramah, senang begurau jugo jadi kami tu dak segan nak nanyo apo be ke Bapak tu, jugo dak sombong biak pun mereka orang dari Kecamatan”
Keakraban
Peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu menilai keakraban fasilitator dengan peserta bedah rumah adalah tinggi sebesar 100 persen, sedangkan hal yang sama terjadi di Kecamatan Jelutung yang menilai keakraban fasilitator dengan peserta bedah rumah adalah tinggi sebesar 97.5 persen. Tingginya nilai keakraban fasilitator dengan peserta bedah rumah karena fasilitator mampu menjalin hubungan baik dengan peserta bedah rumah maupun masyarakat sekitar dalam pelaksanaan kegiatan bedah rumah, sehingga masyarakat tidak segan dalam mengemukakan pertanyaan kepada fasilitator. Fasilitator juga melakukan kunjungan untuk memantau keberlangsungan kegiatan bedah rumah ini secara rutin dan sesekali ikut membantu dalam pelaksanaannya. Keakraban ini terbangun karena fasilitator juga mampu menciptakan suasana santai saat berbicara dengan peserta bedah rumah, seperti yang dikemukakan peserta bedah rumah Bapak US (70 tahun) dari Kecamatan Maro Sebo Ulu sebagai berikut.
“Sayo senang nian kalau Bapak dari Kecamatan tu datang, mantau
bedah rumah ni, Orangnyo enak diajak ngobrol, sayo sering mintak saran kek mano bagusnyo rumah ni dibangun jadi lebih elok dan layak huni untuk kami sekeluarga. Bapak tu jugo akrab dengan tetanggo kami dan keluarga kami. Orangnyo senang cerito baguslah pokoknyo”